[FF] Missing You When I’m Already Lost You (Save It Sequel)


Title : Missing You When I’m Already Lost You
Author : n4ok0
Pairing : YunJae, a little bit Sibum and Yunwook
Disclaimer : all casts are belong to their self and God
Inspired : An Indonesian Song, Aku Kehilanganmu by D’Masiv
Warning : Un-betaed, Genderswitch
Summary : There is always a first time for everything. This is the first time I realize that I miss you so much when you’re already gone.

 

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Yunho P.O.V

Menjadi kekasih seorang Kim Jaejoong itu memang seindah yang dibilang orang-orang. Gadis itu memberikan kenyamanan yang luar biasa, kebaikan hati seperti seorang malaikat, dan membuatmu serasa kau adalah pria paling bahagia diseluruh dunia. Seorang pria layaknya pangeran dengan kuda putih yang siap untuk menyelamatkan tuan putrinya yang cantik. Dilihat dari sisi mana pun, Kim Jaejoong adalah definisi seorang wanita sempurna, dengan wajah yang rupawan, tubuh yang indah, suara yang merdu, mandiri karena memiliki usaha sendiri, dan teman-teman yang selalu loyal padanya. Hanya satu kekurangan dari Jaejoong, gadis itu sudah tidak memiliki keluarga lagi. Orang tua dan kakak laki-laki satu-satunya tewas karena kecelakaan pesawat. Namun, hal itu tidak membuat para laki-laki yang mengejarnya menjadi ciut. Sebaliknya, mereka malah semakin ingin memiliki Jeajoong sebagai kekasih karena mereka ingin melindunginya dan membahagiakannya. Itulah perasaan setiap lelaki yang mengenal Jaejoong dengan baik. Semua lelaki, tidak terkecuali aku. Sahabatnya sejak SMA dan kekasihnya sejak kuliah sampai peristiwa itu terjadi.

Namaku Jung Yunho. Orang selalu bilang kami pasangan yang serasi karena dia cantik dan aku tampan. Dia rembulan yang tenang, diam dan terkadang misterius, sedangkan aku seperti matahari yang selalu terang dan ceria (I know that for sure). Dan satu hal lagi, mereka juga bilang bahwa aku beruntung memiliki kekasih seperti Kim Jaejoong. Untuk hal terakhir itu aku sepenuhnya setuju.

Kim Jaejoong sangat pengertian sebagai seorang kekasih. Dia tidak marah padaku ketika aku menyampaikan padanya bahwa aku tidak bisa hadir dalam acara pembukaan toko kuenya karena aku harus menepati janji dengan salah seorang teman priaku untuk berlibur merayakan ulang tahunnya. Aku sempat ragu untuk pergi dengan teman-temanku itu karena aku sudah berjanji juga kepada Jaejoong terlebih dahulu. Aku paham betul betapa berartinya acara itu bagi Jaejoong. Namun, mungkin karena egoku atau karena aku memang sudah rindu untuk berkumpul dengan teman-teman lamaku, aku terpaksa membatalkan janjiku kepada Jaejoong, berharap dia tidak akan marah dan menjauhiku beberapa waktu karena ini. Maka saat Jaejoong mau mengerti bahwa aku tidak bisa hadir diacaranya itu, aku sangat senang. Aku tidak menyadari raut wajah Jaejoong yang terlihat sedih dan menahan tangisnya. Aku terlalu terbuai dengan kebaikan dan pengertian dari kekasihku yang cantik ini.

Jaejoong juga jarang cemburu. Ini terbukti dari wajah tanpa ekspresinya ketika melihat aku menjamu beberapa teman wanitaku didepannya pada saat salah satu acara peluncuran produk baru dari perusahaanku. Waktu itu aku benar-benar tidak bisa membaca raut wajahnya. Dia selalu terlihat percaya diri dan tenang. Entah itu karena dia percaya padaku atau karena sebenarnya dia memang cemburu hanya saja dia tahu bagaimana menyembunyikan rasa cemburu itu. Dulu aku selalu berpikir, bahwa jawaban pertama yang benar, tetapi sekarang aku tahu bahwa jawabannya yang benar adalah jawaban yang kedua.

Jaejoong tidak pernah mengeluh atau menunjukkan kekecewaannya saat aku membatalkan kencan kami berdua karena urusan kantorku atau hal lainnya. Dia selalu berkata “Tidak apa-apa Yunnie. Tapi lain kali kita kencan ya.” dengan senyum manisnya walau dipaksakan. Tentu saja aku tidak pernah memperhatikan hal-hal tersebut, karena seperti yang sudah kusampaikan, aku terlalu terbuai dengan kesempurnaan Jaejoong sebagai seorang kekasih. Baik hati, pengertian dan tidak banyak menuntut.

Aku tahu bahwa orang menyukaiku karena aku memiliki segala sesuatu yang selalu diinginkan pria lain. Wajah yang tampan, karir yang menjulang, serta kelurga yang terhormat. Dan dengan adanya Kim Jaejoong sebagai kekasihku, maka lengkaplah image pria sempurna yang selalu aku sandang. Oleh karena itu, walaupun aku terkadang bersikap tidak adil kepada Jaejoong dan kelihatan seperti menomorduakan dia, aku tetap memberikan perhatianku yang berlimpah hanya padanya. Aku selalu mengirimkan hadiah-hadiah dengan kualitas nomor satu kepada Jaejoong jika aku membatalkan janji dengannya. Aku mengajaknya ketempat-tempat mewah untuk menggantikan ketidakhadiranku diacara pentingnya sekaligus beramah tamah dan mengenalkan Jaejoong pada lingkaran sosialku.

Aku selalu memberikan Jaejoong barang-barang yang terbaik dan mengajaknya mengenal kehidupanku karena suatu saat dia akan berada ditempat yang sama, begitu pikirku pada saat itu. Semua itu kulakukan karena aku ingin menunjukkan pada Jaejoong bahwa dia sangat berarti untukku. Dia cintaku. Dia hidupku.

Hubunganku dengan Jaejoong sudah terjalin cukup lama. Kami memulai hubungan ini tujuh tahun yang lalu. Sampai detik ini aku masih tidak percaya bahwa Jaejoong mau menerimaku sebagai kekasihnya disaat aku mengutarakan rasa cintaku. Saat itu aku berjanji tidak akan membuatnya sedih. Aku akan menjaganya dan memberikan perhatianku sepenuhnya untuk Jaejoong.

Namun, tanpa aku sadari, tujuh tahun, dengan kebaikan dan pengertian yang diberikan oleh Jaejoong kepadaku, telah membuatku terlena dan melupakan semua janji yang kuucapkan padanya. Membuatku melakukan hal teramat bodoh, saat Jaejoong datang kekantor dan mengabarkan bahwa dia telah hamil 2 bulan. Masih teringat jelas ucapanku padanya yang aku yakini telah membuatku menjadi pria paling hina di dunia.

 

Flashback

“Aku hamil Yun.” Lirihnya saat dia berdiri didepanku dengan terus memegangi perut datarnya dengan tangan kiri.

“Apa Boo? Maaf sayang, aku sedang melihat dokumen ini. Lima menit lagi ya. Kau duduk saja di sofa itu.”

“Yun! Aku hamil!” teriak Jaejoong kesal karena aku tidak memperdulikannya. Mendengar Jajeoong berteriak seperti itu membuatku tersentak juga. Jaejoong tidak pernah berteriak seperti itu apalagi terhadapku. Aku menatapnya heran.

“Kau hamil Boo? Jangan bercanda. Kita selalu berhati-hati jika berhubungan. Kau ini lucu sekali.”

“Tapi aku serius Yun. Aku hamil 2 bulan. Mungkin kau pernah lupa memakai pengaman. Yang pasti sekarang aku hamil Yun, ini anak kita.”

“Ah Boojae. Mana mungkin aku lupa pakai pengaman. Kau pasti bercanda. Apa kau ingin meminta sesuatu makanya kau bertingkah seperti ini? Lagipula Boo, jika kau hamil pun, anak itu belum tentu anakku, ah tidak, anak itu pasti bukan anakku. Aku selalu berhati-hati kok.” Candaku, berusaha membalas Jaejoong karena dia membuat lelucon seperti ini.

“Apa katamu Yunho, kalau pun aku hamil, ini sudah pasti bukan anakmu?” tanyanya pelan dan tanpa peringatan apa-apa, aku melihat Jaejoong menitikkan airmata.

“Boojae?!” Tanyaku mulai khawatir. Aku berdiri dari kursiku dan berjalan kearah Jaejoong, mencoba mendekatinya tapi Jaejoong malah memundurkan tubuhnya, tidak mau bersentuhan denganku. Dia menatapku dengan mata bulatnya yang penuh dengan airmata.

“Kita putus Yun.”

“Apa?! Putus?!”

“Kita putus.” Tegas Jaejoong sambil beranjak pergi dari ruanganku tanpa menoleh sedikitpun padaku. Aku yang masih kaget dengan keputusan sepihak Jaejoong tidak bisa mengerakkan tubuhku untuk mengejar Jaejoong. Aku mencoba bersandar pada meja dibelakangku untuk menjaga keseimbanganku. Aku masih bertanya pada diriku apa yang sudah terjadi sampai Jaejoong tega memutuskan hubungan kami berdua.

End Flashback

 

Waktu itu, aku selalu dilanda kebingungan karena tidak tahu kenapa Jaejoong memutuskanku. Aku selalu berkunjung ke toko kuenya agar aku dapat bicara dengannya dan menanyakan alasan dia mengambilkeputusan sepihak seperti itu. Namun, yang aku dapatkan adalah penolakan dari Jaejoong yang dia sampaikan melalui salah satu pegawai prianya, Choi Kyuhyun, dilihat dari name tagnya.

Selama 3 hari aku mencoba terus dan terus, tapi tetap saja aku tidak bisa bertemu dengan Jaejoong. Merasa Jaejoong telah mempermainkan perasaanku, aku menjadi kesal dan tidak mendatanginya lagi. Sebaliknya, aku malah mencari kekasih baru dan mendapatkan seorang gadis manis bernama Kim Ryeowook. Aku juga tidak mengetahui jika Jaejoong benar-benar hamil anakku sampai aku bertemu dengan Jaejoong dengan perut buncitnya dirumah sakit 5 bulan setelah kami berpisah.

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Flashback

“Yunho-shi, terima kasih sudah menjengukku. Anda tidak perlu melakukan ini. Anda kan sangat sibuk.” Ucap ahjumma Lee, salah satu pelayan setia dirumahku yang sekarang sedang dirawat dirumah sakit. Aku tersenyum kecil menanggapi ucapan ahjumma Lee.

“Tidak bisa begitu ahjumma. Kau itu sudah merawatku sejak aku bayi. Masa aku tidak menjengukmu.”

“Itu betul ahjumma. Yunho oppa justru harus sering-sering menjenguk ahjumma, supaya ahjumma cepat sembuh. Dia makin tidak karuan setelah ahjumma masuk rumah sakit.” Ujar gadis disebelahku. Dia adalah Kim Ryeowook, kekasih baruku. Yeoja yang aku kenal dari salah satu pesta perusahaan yang sering aku kunjungi dulu. Saat itu aku tidak begitu memperhatikannya karena perhatianku selalu pada Jaejoong, jika dia ikut menemaniku, dan teman-temanku. Namun aku jadi mengenalnya secara dekat saat aku bertemu dengannya lagi disebuah pesta perayaan sehabis acara peragaan busana.

Ryeowook begitu menggemaskan saat dia hanya berdiri disudut ruangan, memegang segelas sampange, dengan raut wajahnya yang terlihat bosan, dan terkadang mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Aku merasa Ryeowook berbeda dengan semua teman wanitaku yang suka pesta, berlebihan, dan terkadang menyebalkan. Saat itu aku berada dalam keadaan marah karena Jaejoong memutuskanku, sehingga tanpa pikir panjang, aku mendekati Ryeowook, sampai akhirnya dia mau menjadi kekasihku. Namun, meskipun aku bersama dengan Ryeowook, aku masih belum bisa melupakan Jaejoong. Bahkan, sampai sekarang, aku masih penasaran dengan keputusan sepihak dari Jaejoong. Kenapa dia begitu tega. Aku berusaha mengalihkan perhatianku dari memikirkan Jaejoong kepada Ryeowook yang masih dengan ceria menyemangati ahjumma Lee agar segera sembuh. Aku merangkul pinggang mungil Ryeowook dan seketika saja, wajahnya memerah.

“Yunho oppa, apaan sih. Malu ah.”

“Lho kenapa? Kamu kan kekasihku.”

“Ya sih. Tapi aku malu dilihat sama ahjumma Lee.”

“Kenapa harus malu? Ahjumma Lee saja tidak keberatan.”

“Oppa mesum!!”

“Hahaha… Iya…Iya… Oppa minta maaf. Ya sudah ayo pulang, aku masih ada urusan lagi. Ahjumma, cepat sembuh ya.” Ucapku dan setelah memastikan bahwa ahjumma Lee bisa ditinggal, aku dan Ryeowook berjalan keluar. Namun saat kami sampai di depan apotik rumah sakit, aku menyadari bahwa ponselku tertinggal dikamar ahjumma Lee. Aku menyuruh Ryeowook untuk ke parkiran mobil duluan karena aku harus mengambil ponselku dulu. Ryeowook hanya mengangguk dan pergi menuju ke parkiran mobil.

Tidak lama setelah aku kembali ketempat Ryeowook, aku melihat dia sedang berbincang dengan seorang wanita. Berarti dia belum pergi juga ke parkiran mobil. Aish! Gadis itu. Dia terlihat seru sekali berbicara dengan wanita yang punggungnya berhadapan denganku.

“Ryeowook bicara dengan siapa?” gumamku pada diri sendiri. Aku lalu menghampiri kedua wanita yang terlibat pembicaraan seru itu. Aku sempat melirik kearah jam tanganku dan ternyata aku sudah terlalu lama dirumah sakit ini. Aku masih ada acara yang harus kuhadiri. Maka aku segera memanggil Ryeowook agar kami berdua bisa pergi dari sini.

“Wookie-ah. Sedang apa kau disitu? Ayo pergi, aku buru-buru, ada acara peragaan busana musim ini. Aku harus menghadirinya.” Ucapku kepada Ryeowook sambil berjalan kearahnya dan wanita yang masih membelakangiku itu. Aku tidak bisa melihat tubuh bagian depannya namun aku bisa melihat punggungnya yang agak menegak ketika mendengar suaraku. Tubuh wanita ini kelihatan agak gemuk. Mungkin dia memang gemuk atau mungkin sedang hamil.

“Sebentar Yunho oppa. Aku sedang menyapa Jaejoong eonnie.” Kata Ryeowook sambil tersenyum padaku. Namun aku tidak mendengar semua perkatannya. Aku hanya menangkap kata terakhirnya. Jaejoong. Jantungku serasa berhenti mendengar Ryeowook mengucapkan kalimat itu.

“Jaejoong?” Tanya ku masih tidak percaya bahwa aku bisa bertemu dengan Jaejoong lagi. Aku sudah benar-benar tidak berkomunikasi lagi dengan Jaejoong semenjak dia pergi dari hidupku. Jaejoong tidak pernah mau menemuiku bahkan dia mengganti nomor teleponnya dan sempat tidak pulang ke apartemennya waktu aku mencoba menhubungi atau menemuinya.

“Iya oppa. Jaejoong eonnie. Kim Jaejoong. Sudah lama aku tidak melihatnya. Sebentar ya oppa.” Sahut Ryeowook sambil kembali memusatkan perhatiannya pada Jaejoong. Mungkin dia ingin berpamitan pada Jaejoong.

Aku merasa sedikit gugup saat Ryeowook berbicara dengan akrab dengan Jaejoong. Ada sedikit kekhawatiran pada diriku tentang bagaimana reaksi Jaejoong mengetahui aku telah memiliki Ryeowook sebagai kekasih baru. Apa dia akan cemburu atau bersikap biasa-biasa saja. Aku tahu bahwa Jaejoong tidak mungkin tidak mengetahui bahwa aku telah mempunyai kekasih baru, karena Ryeowook merupakan pelanggan setia di toko kue Jaejoong. Aku juga baru mengetahui hal itu ketika suatu hari aku mematung di depan toko kue Jaejoong saat Ryeowook mengajakku ke tempat favoritnya. Lamunan ku buyar saat mendengar Ryeowook berbicara lagi dengan Jaejoong.

“Eonni, sebenarnya aku masih ingin berbincang-bincang denganmu. Aku kan penggemar berat kue buatanmu. Nanti aku akan sering mampir ke toko eonnie, boleh ya.” Rajuk Ryeowook membuat aku gemas. Ryeowook memang gadis yang polos dan sedikit manja. Mungkin sifatnya yang seperti itu yang membuat aku tertarik padanya. Namun tidak bisa aku pungkiri, setertariknya aku kepada seorang wanita, aku tidak pernah bisa mencintai mereka seperti aku mencintai Jaejoong.

“Nanti aku akan berikan diskon.” Ucap wanita itu, membuat ku yakin bahwa wanita didepanku ini adalah Jaejoong mantan kekasihku. Aku masih sangat mengenal suara merdunya. Sesaat aku ingin sekali memeluk tubuh hangatnya, mencium bibirnya, merasakan bahwa dia pernah menjadi milikku. Namun, aku teringat bahwa ada Ryeowook sekarang.

“Wah senangnya! Terima kasih eonnie.” Sahut Ryewook riang sambil memeluk Jaejoong singkat lalu beranjak kearahku. Saat Ryeowook mengelayut di lenganku, aku bisa melihat Jaejoong yang tergesa-gesa meninggalkan tempat kami sekarang. Aku harus mengejarnya. Aku harus mencari tahu alasan sebenarya dia meninggalkan aku. Namun aku harus membuat Ryeowook tidak ikut bersamaku.

“Wookie-ah. Tiba-tiba aku merasa haus. Bisakah kau membelikan aku minum di kantin rumah sakit ini? Aku mau ke mobil dulu untuk memeriksa sesuatu. Aku akan menunggumu disana, okay?” sahutku perlahan agar Ryeowook tidak curiga. Syukurlah dia menerima alasanku begitu saja dan pergi kearah kantin rumah sakit untuk membelikanku minuman. Setelah yakin Ryeowook sudah cukup jauh, aku segera berlari untuk mengejar Jaejoong. Semoga dia belum terlalu jauh.

Aku sempat mencari Jaejoong diparkiran mobil sampai mataku melihat Jaejoong yang sedang mencoba mengeluarkan kunci mobilnya dari tas yang dibawanya. Saat itu aku melihat sekilas perut Jaejoong yang sudah membuncit. Bagai disambar petir, aku menyadari bahwa Jaejoong hamil. Ternyata dia hamil dan dia menyembunyikan hal itu dariku. Tidak mau sampai Jaejoong terlepas lagi, aku segera berlari kearahnya dan ketika aku sudah dekat, aku memegang lengannya dengan kuat agar dia tidak mencoba lari lagi dariku. Tapi saat aku melihat dia meringis menahan sakit, aku melonggarkan peganganku. Mungkin aku terlalu kuat tadi. Walaupun aku longgarkan tapi pegangganku cukup untuk membuat Jaejoong tidak kabur kemana-mana.

“Boo.” Panggilku dengan nama kesayanganku untuknya. Dia terlihat tidak suka aku memanggilnya seperti itu.

“Namaku bukan Boo, Jung Yunho-shi.” Ujarnya sinis ketika dia berhadapan denganku. Dia menatapku tajam sambil sesekali meronta agar aku lepaskan. Namun aku tidak peduli dengan itu. Hanya ada satu yang ada diotakku. Penjelasan dari Jaejoong.

“Kenapa kau menyembunyikan kalau kau hamil Boo?” tanyaku langsung.

“Sudah kubilang, namaku bukan Boo. Kau ini tuli ya?!”

“Baiklah Jaejoong. Lantas kenapa kau sembunyikan kehamilanmu dariku?!” tanyaku sekali lagi agar dia mau menjelaskan semuanya padaku. Namun yang tidak aku sangka adalah airmata yang keluar dari matanya. Dengan segala kekuatan yang dia punya, dia meneriakkan kata-kata yang selanjutnya membuat aku ingin membunuh diriku sendiri.

“Sembunyikan?! Apa kau menabrak dinding hingga lupa ingatan hah?!! Aku sudah bilang padamu pada hari yang sama saat kita putus 5 bulan yang lalu! Lalu apa reaksimu? Kau menertawakan aku Yun!! Kau bilang aku bergurau denganmu. Kau bilang aku tidak serius. Kau bahkan bilang kalaupun aku hamil, bayi itu pasti bukan milikmu. Secara tidak langsung kau menyebutku pelacur Jung Yunho!” teriaknya seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Aku melihat Jaejoong yang terus menangis, tak kuasa membendung airmatanya karena pertanyaan yang kulontarkan tentang kehamilannya.

Aku merasa seperti orang paling bodoh dan jahat sekarang. Kenapa waktu itu aku berkata seperti itu. Kenapa waktu itu aku tidak serius menanggapi Jaejoong. Kenapa waktu itu aku terlalu yakin dengan segala tindakanku terhadap hubungan kami. Padahal semua bisa saja terjadi walau aku selalu berhati-hati. Kenapa aku bisa membuat Jaejoong merasa seperti pelacur padahal aku tahu dia hanya berhubungan dengan aku seorang. Jaejoong tidak pernah tidak setia kepadaku. Ketika aku lengah karena mendengar semua perkataannya, Jaejoong berhasil menepis tanganku. Jaejoong dengan kasar menghapus airmata dari pipinya. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapanku.

“Kau tidak usah khawatir Jung Yunho yang terhormat. Aku akan menyimpan rapat kenyataan bahwa kau appa bayi ini. Toh kau tidak akan mengakuinya juga.” Tukasnya benar-benar marah padaku. Aku terpaku dihadapannya. Aku tidak mau seperti ini. Aku ingin bertanggung jawab karena itu anakku dan aku sangat mencintai Jaejoong. Dia segalanya untukku, apalagi dia sekarang sedang mengandung.

“Jae. Dengarkan aku dulu. Aku tidak ber…” aku berusaha untuk menjelaskan atau membujuknya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya ingin Jajeoong mendengarkan aku sekali saja. Aku ingin agar dia memaafkanku dan memberiku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahanku.

“Kau tidak apa?! Tidak bermaksud berbicara seperti itu padaku?! Tidak bermaksud menyakiti hatiku?! Well, sorry to say Jung Yunho-shi. It’s already too late. You just successfully tore my heart apart.” Jaejoong memotong ucapanku dengan nada yang sinis. Dan sebelum aku sempat bereaksi, Jaejoong sudah membuka pintu mobilnya. Reflek aku melingkarkan kedua tanganku pada pundaknya. Memeluknya, mencoba merasakan kehangatannya. Aku membenamkan wajahku pada belakang lehernya.

“Kumohon Jae. Dengarkan aku dulu.”

“Lepas Yunho.”

“Tidak, sebelum kau mau mendengarku.”

“Mendengar apalagi?! Aku lelah mendengar alasanmu Yun. Dulu aku selalu mengerti dan memaafkanmu jika kau meminta maaf karena kau tidak bisa bersamaku disaat-saat penting bagiku. Tapi kau selalu saja mengulang hal yang sama berkali-kali. Kau selalu membuatku kecewa.” Ujarnya pelan. Dari nada suaranya aku tahu dia sangat kecewa padaku selama ini. Oh Jae. Kumohon berilah aku kesempatan sekali lagi. Aku sangat menyesal.

Namun sepertinya, perasaanku tidak sampai ke hati Jaejoong karena dia dengan perlahan melepaskan kedua tanganku dari tubuhnya. Dan aku tidak mau memaksa kali ini. Aku takut jika aku terlalu memaksa Jaejoong malah akan semakin membenciku.

Jaejoong kemudian membuka pintu mobilnya lalu naik ke kursi pengemudi. Dia menyalakan mesin mobil dan memasang sabuk pengaman. Jaejoong akan pergi lagi dari sisiku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terus memperhatikan mobil sedan itu berharap pengemudinya keluar dan mau memberikan aku kesempatan untuk membahagiakannya dan menerimaku kembali. Setitik harapan muncul dihatiku ketika kaca jendela mobil tersebut turun dan menampakkan wajah cantik pemiliknya. Harapanku makin memuncak kala Jaejoong dengan sedikit terpaksa memberikan senyumannya pertama kali sejak perpisahan kami. Namun, harapan tinggal harapan, saat Jaejoong mulai membuka mulutnya.

“Jika kau ingin meminta maaf, aku terima maafmu. Aku tidak mungkin akan membencimu Yunho, karena sampai sekarangpun aku masih mencintaimu. Namun jika kau ingin memperbaiki hubungan kita, aku rasa aku tidak bisa sekarang ini. Aku terlalu kecewa denganmu Yun.” Aku termanggu saat Jaejoong berucap seperti itu. Di satu sisi, aku bahagia karena Jaejoong masih mencintaiku, namun disisi lain, hatiku perih saat Jaejoong menyatakan bahwa dia merasa dia tidak bisa bersama dengaku sekarang ini. Aku diam saja sambil berdiri disamping mobilnya mencoba menerima hasil dari perbuatanku sendiri. Aku terus menatap Jaejoong dengan kesedihan terpancar jelas dimataku. Hatiku makin sakit ketika Jaejoong memalingkan wajahnya agar tidak bertemu sapa denganku. Dia seperti menguatkan dirinya untuk menghadapi semua ini.

“Kalau kau masih memiliki rasa cinta padaku, lebih baik kau simpan saja untuk dirimu sendiri atau untuk wanita lain yang lebih baik dari aku Yun.” Ucapnya lagi padaku dengan nada yang sedikit lembut. Mendengar Jaejoong berucap seperti itu membuat aku yakin bahwa dia benar-benar tidak mau berurusan denganku lagi. Semua kenangan indah kami saat bersama terlintas dibenakku membuat aku semakin menyesal dengan perbuatanku terhadap wanita yang selalu sabar dengan keinginan egoisku, yang selalu mengerti akan kesibukkanku dan tidak pernah mengeluh, yang selalu mencintaiku dengan tulus.

Ah Jaejoong. Maafkan aku. Maafkan aku. Selagi aku terus berkutat dengan pikiranku, Jaejoong mengeluarkan sesuatu, seperti foto, dan menyerahkan kepadaku. Aku mengambilnya dan memandang foto itu dengan bingung. Jaejoong menyadari kebingunganku dan menjelaskan bahwa ini adalah foto usg atas kehamilannya. Aku heran kenapa Jaejoong memberikan ini padaku.

“Itu adalah foto anakku. Walau kau tidak mengakuinya, kau tetap appa dari bayi ini. Itu hadiah terakhir untukmu. Simpan kalau kau mau.” Aku makin tidak bisa merasakan apa-apa lagi ketika dia mengatakan bahwa ini adalah foto anakku. Airmataku mulai terkumpul di pelupuk mataku. Ini foto anakku. Anakku. Namun aku miris mendengar Jaejoong beranggapan aku tidak mau mengakui darah dagingku sendiri. Dan lebih menyakitkan lagi karena ini merupakan hadiah terakhir Jaejoong padaku. Itu artinya aku tidak bisa menemui anakku sendiri.

Setelah menyerahkan foto itu, Jaejoong memundurkan dan memposisikan mobilnya siap melaju ke jalan raya. Tepat sebelum dia pergi, dia mengatakan hal yang membuatku semakin terpuruk.

“Oh iya Yun. Jenis kelaminnya laki-laki.” Dengan itu, Jaejoong memacu mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit menuju ke jalan raya. Aku masih tetap berdiri ditempat awalku tadi sambil melihat kepergiannya. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Jaejoong dan anak laki-lakiku pergi dari sisiku karena kesalahanku sendiri. Aku hanya meratapi semua hal yang sudah aku lakukan dan hanya dapat menyesalinya. Airmata yang sudah menggenang akhirnya tumpah juga. Sambil terus menggenggam foto usg itu aku terduduk di parkiran mobil itu. Tidak peduli dengan sekitarku. Yang aku tahu hanya aku sudah tidak bisa lagi merasakan apa-apa kecuali penyesalan dan rasa bersalah terhadap orang yang paling aku cintai. Aku sudah kehilangan Jaejoong dan anakku.

“Jaejoong… Jae… Hiks.. hiks.. Maafkan aku. Maafkan aku Jae.” Isakku seorang diri sambil memeluk kedua kakiku dan memandang foto anakku. Aku membelai lembut foto itu.

“Maafkan appa aegya. Maafkan appa. Hiks.. hiks..” aku terus menangis, meminta maaf walau orang yang kuminta maaf tidak bisa mendengarku lagi. Aku terus menangis dan menangis, meluapkan rasa sesalku, rasa sakitku, dan rasa rinduku pada Jaejoong. Aku sangat merindukannya walau aku tahu aku telah kehilangan dia. Aku kehilangan dia.

End Flashback

 

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Namaku Jung Yunho, appa dari seorang bayi laki-laki sehat yang dilahirkan dari rahim wanita yang sangat aku cintai. Kim Changmin, nama bayi mungil nan tampan itu, baru saja terlahir kedunia dan sekarang sedang ada dalam box bayi diruangan bagi bayi yang baru lahir. Ummanya, Kim Jaejoong sedang istirahat pasca melahirkan Changmin dikamar rawatnya. Aku tersenyum bahagia melihat geliat anakku dalam kepompong selimutnya. Dia masih menutup matanya menandakan dia masih tertidur walau dia seperti tidak tenang. Aku terus menatap dari balik kaca sambil menempelkan telapak tanganku dikaca itu, berharap Changmin bangun dan melihat kearahku, walau kemungkinannya kecil.

Karena aku terlalu serius menyaksikan anakku yang sedang tertidur, aku tidak menyadari ada seseorang menghampiriku. Aku baru tersadar dengan keberadaannya pada saat dia menepuk pundakku. Aku menoleh dan melihat seorang pria dengan memakai jas putih tersenyum kearahku. Aku mengenali pria ini sebagai dokter yang menangani kehamilan Jaejoong dan kelahiran Changmin. Aku tersenyum balik kearahnya.

“Masih terus disini Yun?” Tanya Siwon pelan. Aku hanya mengangguk. Dan kembali menatap kearah box bayi yang Changmin tempati sekarang. Mungkin orang-orang akan heran kenapa aku sepertinya mengenal dekat Siwon, dokter kandungan Jaejoong. Tak ada seorangpun yang tahu bahwa Siwon adalah teman dekatku saat aku masih kecil. Kami memang jarang berhubungan saat aku memilih bersekolah di SMA yang berbeda dengannya. Namun setelah aku bertemu secara kebetulan dengannya dirumah sakit waktu itu, saat aku secara diam-diam memperhatikan Jaejoong di sisa bulan kehamilannya, aku mulai menghubunginya lagi. Dan saat aku tahu Siwon yang menangani kehamilan Jaejoong, aku meminta bantuannya untuk terus mengabarkan perkembangan Jaejoong kepadaku.

Tadinya dia menolak untuk terlalu ikut campur dengan urusan pribadi pasiennya, tapi aku tidak putus asa. Aku sampai berlutut dihadapannya untuk membantuku. Mungkin karena kasihan padaku atau juga mungkin karena alasan lainnya, akhirnya dia bersedia membantuku. Dengan bantuan Siwon, aku bisa mengetahui kondisi Jaejoong dan bayinya. Aku sangat senang ketika tahu Jaejoong dan bayinya sehat dan jika tidak ada kekurangan apapun, dia akan siap melahirkan jika sudah waktunya.

Saat itu, yang menjadi prioritas utamaku hanya Jaejoong dan bayinya. Aku tidak peduli dengan hal lain. Dan ini dirasakan oleh Ryeowook. Dia memang tidak pernah menanyakan alasan kenapa aku selalu pergi kerumah sakit padahal ahjumma Lee sudah sembuh dan sudah kembali bekerja dirumahku. Ryeowook hanya tersenyum ketika aku sering membatalkan janji karena aku kerumah sakit setelah Siwon menghubungiku kala Jaejoong panik dengan sakit diperutnya yang sering dia rasakan pada bulan terakhir kehamilan ini, walaupun sebenarnya itu hanya tendangan dari pangeran kecil yang terlalu aktif.

Sampai suatu hari, Ryeowook menungguku di depan rumah dan memberikan gelang yang pernah aku berikan sebagai hadiah saat pertama kali aku memintanya sebagai kekasihku. Ryeowook mengatakan bahwa dia tidak bisa meneruskan hubungan denganku bukan karena aku akhir-akhir ini tidak peduli lagi padanya. Namun karena dia tahu bahwa aku adalah mantan kekasih dari Jaejoong dan ayah dari bayi yang sedang dikandungnya saat ini. Dia mengetahuinya dari peristiwa di parkiran rumah sakit. Saat itu aku tidak menyadari bahwa dia sudah ada disana, melihat aku beragumen dengan Jaejoong, dan saat Jaejoong meneriakkan bahwa anak yang dikandungnya adalah anakku.

Aku terkejut sekali waktu itu karena Ryeowook sama sekali tidak mengatakan apa-apa kalau dia sudah tahu semuanya. Ryeowook hanya tersenyum sedih dan mengatakan bahwa dia ingin melihat reaksiku terlebih dulu dengan masalah ini. Apakah aku akan diam saja begitu tahu Jaejoong mengandung anakku atau aku akan berusaha untuk memenangkan hatinya kembali. Apapun keputusanku, Ryeowook memang sudah memutuskan untuk tidak akan meneruskan hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Bedanya adalah, dia akan langsung memutuskanku jika aku memilih pilihan yang pertama. Namun jika aku memilih pilihan yang kedua, dia akan terus disisiku sampai Jaejoong melahirkan, sebagai seorang adik. Dia akan terus disisiku untuk memastikan bahwa aku tidak akan putus asa dalam mengejar Jaejoong kembali. Karena jika dia melihat satu kali saja aku tidak bereaksi terhadap keadaan Jaejoong, dia akan langsung menghajarku dan akan mengkebiriku.

Jika mengingat hal itu, aku jadi tertawa sendiri. Aku tidak menyangka bahwa Ryeowook yang polos, Ryeowook yang manis akan menjadi segalak itu. Namun aku sangat berterima kasih padanya karena dia selalu menyemangatiku untuk tidak menyerah dalam mengejar cintaku. Dan sekarang saat Changmin sudah lahir, Ryeowook menyarankan agar aku mulai bertemu dengan Jaejoong lagi, mencoba memperbaiki cinta kami yang sempat hancur.

Terkadang aku merasa aku sangat disayang oleh Tuhan, karena walau aku melakukan kesalahan fatal yang tidak mungkin bisa dimaafkan, selalu ada orang-orang yang membantuku agar bisa memperbaiki ini semua. Siwon yang kemungkinan akan dimarahi habis-habisan oleh istrinya dan Jaejoong, saat mereka tahu kalau dia membantuku dan Ryeowook yang walaupun sudah aku sakiti hatinya dengan kebohonganku bahwa aku tidak pernah mempunyai kekasih selain dirinya, tetap berada disampingku dan memberikan semangat padaku. Aku benar-benar bersyukur memiliki teman dan adik seperti mereka. Terlebih lagi aku sekarang merasa lega karena Ryeowook telah menemukan penggantiku yang walaupun sedikit kurang ajar tapi sangat menyayangi dan mencintai Ryeowook.

“Yun?!” panggil Siwon menyadarkan aku dari lamunanku. Aku menoleh kearahnya dan tersenyum meminta maaf karena aku tidak memperhatikannya.

“Maaf Siwon, aku melamun.”

“Tidak apa-apa.” Sahutnya lagi. Sekilas aku melihat kegelisahannya diraut wajahnya.

“Ada apa Siwon-ah? Kau terlihat gelisah.”

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku penasaran dengan apa yang akan kau lakukan setelah ini. Mengingat bahwa aku baru diberitahu oleh Bummie mengenai keputusan Jaejoong.”

“Memangnya Jaejoong memutuskan apa?” tanyaku was-was. Oh Tuhan. Jangan buat aku semakin sulit untuk mendapatkan Jaejoong dan anakku kembali. Siwon terlihat ragu untuk mengucapkannya. Namun aku tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja.

“Siwon-ah! Jaejoong memutuskan apa?!”

“Jaejoong-shi akan pergi ke Amerika bersama Changmin.” Begitu Siwon selesai bicara, tanpa pikir panjang lagi, aku berlari kearah kamar Jaejoong. Tidak kugubris teriakan suster maupun dokter saat aku berlari tadi. Tujuanku hanya satu, Jaejoong.

Ketika sampai, kulihat Jaejoong sedang berbaring dengan sedikit bersandar pada kasurnya yang diangkat sedikit, memandang kearah jendela rumah sakit. Dia menoleh kearah pintu kamarnya dan membulatkan matanya yang indah itu, saat tahu aku sudah berdiri didepan kamarnya. Jaejoong masih tidak mengucapkan sepatah katapun meskipun aku sudah berjalan dan sekarang berdiri didepannya. Kami terus berpandangan mencoba menyelami perasaan masing-masing. Namun,sedetik kemudian dia kembali mengalihkan matanya untuk memandang kearah jendela rumah sakit. Aku memilih tidak menggangunya dan duduk dikursi disebelah ranjang rumah sakit yang ditempati oleh Jaejoong. Aku menunggunya untuk bicara padaku dan harapanku dikabulkan karena Jaejoong mulai mengeluarkan suara merdunya itu.

“Mau apa kau kesini Yun?” tanyanya datar seakan aku ini orang lain. Aku menghela nafas. Ini kesempatan terakhirku untuk bisa meyakinkan Jaejoong bahwa aku menyesal dan aku ingin agar dia mau bersama denganku lagi. Aku bahkan bersiap diri untuk melamarnya dengan cincin yang sudah aku beli, jika seandainya dia mau memaafkanku.

“Jae, tatap aku.” Pintaku lirih, berharap Jaejoong mau melihatku. Dan ternyata dia masih mau menatapku walau masih terpancar kesedihan yang mendalam dari sorot matanya.

“Aku tahu bahwa aku tak berhak mengatakan ini, tapi aku mencintaimu Jaejoong. Sangat mencintaimu. Aku tak bisa mencintai wanita lain, seperti aku mencintaimu. Aku sedih tanpamu Jae, aku serasa mati saat kau tidak ada disisiku. Aku merindukanmu Jae. A.. ak…” sesaat aku tak bisa meneruskan ucapanku karena aku sibuk menghapus airmataku yang tanpa aku sadari sudah membasahi pipiku. Aku melihat raut wajah Jaejoong sedih menyaksikan aku hancur seperti ini. Aku sekali lagi menghela nafas, mengatur emosiku agar aku bisa mengatakan apa yang harus aku katakan sejak dulu kepada Jaejoong.

“Aku mohon Jae, maafkan aku. Maafkan aku yang bodoh ini karena tidak mengerti kepedihan hatimu selama ini. Aku mohon, berikan aku kesempatan kedua. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku. Aku akan berubah Jae. Aku akan menyayangimu lebih dari sebelumnya. Aku akan menyayangi Changmin dan memanjakan dia layaknya seorang pangeran. Aku mohon Jae.” Lanjutku memohon dengan sangat agar Jaejoong mau menerimaku kembali.

Jaejoong terdiam sesaat lalu dia mengelengkan kepalanya. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi ketika Jaejoong seperti menolak kehadiranku sekali lagi. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menunjukkan wajah kekalahanku pada Jaejoong. Disaat aku terlalu berkutat pada kegagalanku, aku tidak menyadari bahwa ada sebuah tangan yang membelai rambutku lembut. Belaian lembut tangan itu membuat aku mengangkat wajahku yang penuh dengan airmata dan menatap Jaejoong bingung. Jaejoong masih membelai rambutku lembut, dan hal selanjutnya membuat aku serasa melayang ke langit ketujuh.

Jaejoong membentangkan tangannya, mengisyaratkan aku untuk memeluknya. Tanpa perlu disuruh dua kali, aku langsung memeluk Jaejoong dengan erat. Menghirup aroma khas milik Jaejoong, merasakan lagi kedua tangannya yang memeluk pinggangku lembut, menikmatinya desah nafasnya dileherku. Setelah beberapa menit, Jaejoong melepaskan pelukannya, dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. Menyapu jari-jarinya diwajahku. Merasakan pipiku, hidungku, mataku dan terakhir bibirku. Aku tak tahu siapa yang memulai lebih dulu, namun yang aku tahu bibirku telah menempel di bibirnya. Hanya menempel. Merasakan lembut bibirnya tanpa ada nafsu. Menyalurkan segala perasaan yang terpendam selama ini.

Setelah kami melepaskan ciuman kami, aku duduk diranjang Jaejoong sambil membelai pipinya. Dia menikmati belaian tanganku dan sekilas mencium telapak tanganku, lalu menatapku kembali.

“Yunnie.” Oh betapa aku merindukannya memanggilku seperti itu. Aku tersenyum lebar menanggapinya.

“Hm?”

“Apakah kau mencintaiku?”

“Kau tak perlu ragu Boo, Hanya kau yang aku cintai.”

“Jika aku pergi, maukah kau menungguku?” mendengar pertanyaannya, aku menjadi teringat bahwa Jaejoong akan pergi ke Amerika. Aku terdiam, karena aku tidak tahu harus mengatakan apa.

“Memang kau mau pergi kemana Boo? Apa kau masih tidak mau melihatku? Apa kau masih membenciku?” tanyaku. Jaejoong hanya tersenyum dan mengambil tanganku yang masih ada dipipinya. Dia lalu menciumnya dan menggenggamnya erat.

“Yunnie, aku tidak mungkin bisa membencimu. Aku sudah sering bilang kan?! Aku hanya butuh waktu Yun, karena seberapa besarnya cinta yang aku miliki untukmu, aku tidak bisa bersamamu sekarang. Maukah kau menungguku sampai aku kembali?” aku terdiam menanggapi permintaan Jaejoong. Dalam hati aku tak ingin Jaejoong pergi lagi meninggalkanku. Namun aku harus percaya padanya. Percaya pada cintanya bahwa dia akan bisa memaafkanku kelak. Percaya pada cintaku yang sanggup untuk menunggunya sampai dia kembali.

Sekarang adalah giliranku yang mengerti keinginanya. Giliranku yang memahami bahwa hati Jaejoong masih sangat terluka karenaku. Aku menatap wajah Jaejoong dan mencondongkan badanku untuk memberikannya ciumanku, mungkin bisa yang terakhir, mungkin juga tidak.

“Aku akan menunggumu Jae. Menunggumu dan anak kita kembali. Lalu saat kau sudah siap untuk bersamaku, aku akan melamarmu dan menikah denganmu. Aku akan menjadi appa yang terbaik bagi Changmin dan suami yang bisa kau banggakan.” Jawabku mantap, karena aku yakin kali ini, aku masih bisa bertemu lagi dengannya. Jaejoong tersenyum manis dan memelukku kembali. Aku akan sangat merindukanmu Jaejoong. Tapi aku sudah siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi nantinya. Karena aku percaya pada cinta kita.

 

( 。・_・。)人(。・_・。 )

 

Jika orang bilang aku bodoh karena tidak mau menahan cinta sejatiku untuk terus berada disisiku, mereka ada benarnya. Aku memang bodoh. Namun aku akan semakin bodoh jika aku terus menahannya dengan ketidaksiapan hati dari pihakku maupun dari pihaknya. Aku tidak mau kekasih hatiku terpaksa bersamaku disaat hatinya masih menyimpan luka yang mendalam. Aku ingin dia siap ketika dia kembali kepelukanku bersama buah hati kami. Aku ingin dia siap saat aku melamarnya dan membawanya untuk mengikat janji sehidup semati. Aku ingin dia nanti akan bangga mengatakan ke semua orang bahwa dia memiliki suami sepertiku.

Aku merasa keputusanku membiarkan orang yang aku sayangi pergi untuk menata hatinya kembali adalah keputusan yang benar. Walaupun aku akan kehilanganmu sekali lagi, tapi aku yakin kali ini aku akan dapat menghadapinya. Dan saat kau bertemu lagi denganku, aku akan menjadi orang yang berbeda. Orang yang pertama kali membuatmu jatuh cinta kepadaku. Semua hal akan kulakukan karena aku ingin menjadi seorang ayah yang baik bagi Changmin dan suami yang tercinta dari seorang Kim Jaejoong.

 

END

 

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Note : Sebenarnya Save It dirancang untuk tuntas tanpa ada lanjutan. Namun berhubung ada permintaan yang tidak mungkin untuk tidak direalisasikan, maka terlahirlah FF ini dengan sudut pandang dari Yunho appa tersayang.

Semoga tidak aneh (because, to be honest, I think it is). Lalu, sangat berharap sequel ini juga memenuhi permintaan tersebut. Jika tidak, I’m the one who will be jump of a cliff and life #ups…salah.

Sankyu and Peace all

^^ n4oK0 ^^

15 thoughts on “[FF] Missing You When I’m Already Lost You (Save It Sequel)

  1. untung pacar yunho yg bru tu ryeowook yg baik hti.. jd yunpa bsa balikan gi dh ma jaema.. hehe

  2. Tadinya shock,aku kira yunho gk bakalan jadian sama jae,ehh untung aja ada ryewook yg baik hati.hehe

  3. Awalnya benci bgt ma yunho.katanya sayang pengertian ma jae umma.e anak sendiri dan kekecewaan umma g paham.ndah gt py pacar baru ngeselin g tuh.tp ternyata reader umma g bs lepas juga dari yunpa.hehe daebak

  4. Yunpa kau memang beruntung jaema mau menerimamu kembali…jgn kau sia2kan kesempatan ini ýanƍ Yunpa dapatkan dgn susah payah…
    Yunpa harus berubah demi Jaema dan Mimin semoga Jaema dan Mimin gak lama2 di amrik sana..cepetan pulang!!
    Chukkae YunJaeMin
    Thank to author sshi for this sequel… Good job and keep writing!!

  5. huaaahhh sukseeess….
    sukses bikin saya nangis T_T tapi kereen *angkat 2 jempol*
    appa pabo nih ahh….untung umma cinta mati sama appa jadi bisa back together again dehh….❤

  6. Nah kan yunho nyesel wkwkwkwkw *tertawa bahagia* #loh
    Yah nanggung nih author gmn slnjtnya, ayo sequel lg lg lg!! Kekeke

  7. Truuuus??? Jeje kapan balik dn membina “RT” yg bahagia brsma uno lgi??
    Haduh Jung!! Ppabo bgt sih jdi laki.. Kesel sma karakter appa Jung.. -____-
    Untung wookie pengertian orgnya.. Dan untungnya lagi appa Jung dipasangin ama wookie.. Ga kbayang deh klo msalnya pasangannya pengganti umma Jung *jae* itu si yeoja plastik ato sebangsanya… >///<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s