[FF] Raining Part.7-Love is Blind


Anneyong anneyong para readers😀

Makin hari author makin gaje *pletak

Ya udah daripada author banyak bacot lebih baik langsung cekidot aja bagaimana kelanjutan kisah Yunpa n Jaema😉

Happy Reading ^^

==========================================

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 7- Love is Blind

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi

Rate         : (bingung)

CHAPTER 7-Love is Blind

 

Kimi ga suki dakara…

(Yunho POV’s)

Sinar matahari menerobos masuk dari celah-celah gorden. Membuatku kembali terjaga. Aku menatap wajah seperti malaikat tengah tertidur di sampingku, wajahnya damai tanpa beban tenggelam di balik selimut dan kemeja yang kebesaran. Nafasnya yang teratur membuatku tidak tega untuk membangunkannya. Aku hanya diam dan menatapnya saja. Perlahan mata Jejung terbuka.

“Ohayou Jejung-chan.” Seruku lembut membuatnya terlonjak kaget. Dia mengucek matanya sambil tersenyum lalu kembali beringsut mendekat kearahku seperti anak kucing.

“Kukira kau belum bangun.” Jawab Jejung sambil  menyembunyikan wajahnya di lenganku dan menarik selimut sampai menutupi mulutnya kemudian memejamkan matanya lagi.

“Dasar kucing malas.” Kataku sambil menjawil hidung Jejung. Jejung kembali membuka matanya.

“Tidak peduli!” Jawabnya sambil mencibir lalu memejamkan matanya lagi dan membelakangiku.

“Jejung-chan kau marah ya?” Tanyaku manja sambil memeluk Jejung dari belakang dan menariknya ke dada. Jejung tidak bergeming.

“Jejung-chan!?” Rengekku akhirnya. Jejung berbalik sehingga wajahnya tepat berada di depan wajahku.

“Aku masih ngantuk Yunho!” Seru Jejung. Aku langsung membungkamnya dengan ciuman sekilas. Membuat pipinya kembali memerah. Aku tidak tahu mengapa tapi aku sangat senang melihatnya tersipu.

“Kau mulai lagi Yunho.” Jawab Jejung memasang wajah poutnya. Aku terkikik kecil lalu memeluknya sebelum dia mengubah posisinya kembali membelakangiku.

“Ya sudah kutemani kau tidur lagi.” Kataku akhirnya sambil terus memeluknya dan mengelus kepalanya. Kudengar suara nafasnya yang teratur.

“Dasar, secepat itu kau tidur!” Gerutuku sambil tersenyum geli. Aku membiarkan dia tertidur di dalam pelukanku. Mengingat kembali kejadian semalam.

 

-Flashback-

“Aku akan mengantarmu pulang.” Seruku merasa bersalah telah membuat Jejung menangis dengan tindakan konyolku diatas bianglala.

“Aku tidak mau pulang.” Jawab Jejung dengan suara tertahan. Aku menoleh kearahnya dengan bingung.

“Lalu?” Tanyaku. Airmata Jejung masih mengalir dengan perlahan.

“Aku akan menginap di tempatmu.” Jawabnya membuat keterkejutanku menjadi berlipat ganda.

“Kau serius?” Tanyaku. Jejung mengelap airmatanya dengan punggung tangan lalu menoleh kearahku dan mengangguk.  Akhirnya kami pulang ke apartemenku. Sesampainya di apartemen Jejung kembali terdiam. Aku mendudukkannya di sofa.

“Gomen ne, kau marah padaku? Katakan saja.” Kataku tidak tahan dengan kebisuannya. Jejung terdiam.

“Jejung..” Tiba-tiba Jejung menyentuh wajahkku. Dia menghadapku.

“Aku ingin tau akhir pembicaraanmu.” Katanya. Aku terdiam menatap mata beningnya yang menatap kosong.

“Jejung, aku.. kau pasti akan menganggapku konyol dan tidak mau bertemu denganku lagi.” Kataku. Dia mengerutkan keningnya.

“Maksudmu?” Tanyanya. Aku menarik nafas dan menghembuskannya keras.

“Aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu Jejung.” Akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibirku. Jejung terkejut mendengar pernyataanku. Dia terdiam beberapa saat.

“Kau tahu aku buta.” Hanya itu jawaban yang kudengar dari Jejung. Aku langsung memegang wajahnya.

“Karena itu aku mencintaimu!” Seruku. Jejung melepaskan tanganku dari wajahnya.

“Aku tidak mau di kasihani.” Jawabnya kali ini dengan nada dingin. Aku merutuki diriku dalam hati.

“Aku tidak mengasihani dirimu. Aku memang jatuh cinta padamu Jejung. Akan kulakukan apa saja untuk membuatmu percaya.” Jelasku padanya.

“Bahkan memberikan mataku pun aku rela.” Lanjutku membuat wajah Jejung terkejut.

“Kau berkata apa sih!? Kau baka ya!?” Sembur Jejung menggapai wajahku dan memukul pipiku. Aku merasakan pipiku yang memanas karena tamparannya yang cukup keras. Airmata kembali membasahi pipi Jejung. Aku tak kuasa untuk tidak memeluknya. Jejung menangis dalam pelukanku.

“Aku juga tapi aku takut.” Ucap Jejung di sela tangisnya. Aku terlonjak mendengar perkataanya.

“Hontou?” Tanyaku sambil memegang pundaknya. Menatapnya. Jejung hanya mengangguk sambil menyeka airmatanya. Aku kembali memeluknya dengan perasaan yang sulit digambarkan.

“Tapi kau tidak berkata hal-hal baka lagi!” Serunya kemudian. Aku terkekeh kecil mendengarnya.

“Ne, yakusoku.” Kataku sambil terus memeluknya. Aku tersenyum bahagia. Menutup malam yang dingin ini sambil terus memeluk seseorang yang aku cintai.

 

-flashback end-

 

Bunyi dering ponsel membuyarkan lamunanku. Dengan panic aku mencari ponsel sehingga membuat Jejung terbangun dengan kagetnya.

“Moshi moshi!” Aku menjawab telepon dengan kesal tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Yunho senpai! Kau tidak datang ke sekolah?” Ternyata si baka Junsu yang meneleponku.

“Aish kau ini! Ini kan hari Sabtu…” Omelanku terputus. Mengingat sesuatu penting yang terjadi hari ini.

“Gawat!! Junsu kau dimana!?” Tanyaku panic. Aku menepuk sekilas kepala Jejung untuk mengatakan maaf karena membuatnya terbangun.

“Sekolah senpai, pelatih Donghae mencarimu seperti orang gila. Aku jadi sasaran kemarahannya juga.” Jawab Junsu di seberang. Aku langsung meraih tas olahragaku yang tergeletak di samping ranjang sambil tetap memegang ponsel.

“Aku segera ke sana! Arigatou Su!” Jawabku langsung menutup ponsel.

“Jejung gomen ne aku lupa hari ini ada pertandingan. Dan aish sepuluh menit lagi!” Aku mulai histeris ketika melihat jam dinding. Jejung masih bingung dengan keadaan karena belum sepenuhnya sadar. Aku memegang pipinya dan mencium keningnya.

“Kembalilah tidur ne, aku tidak akan lama.” Pamitku akhirnya meninggalkan Jejung yang masih duduk bingung diatas kasur. Aku berlari menuju sekolah dengan pakaian tidur dan menenteng tas olahraga tanpa peduli tatapan orang di jalan. Aku berlari secepat aku bisa. Untunglah aku sampai di sekolah tapat pada waktunya. Tepat juga saat pelatih Donghae sedang berdiri dengan wajah merah menahan marah di gerbang sekolah.

“Gomennasai!” Kataku sambil membungkuk sedalam-dalamnya. Pelatih Donghae tidak berkata apa-apa hanya menepuk bahuku lalu pergi. Aku segera mengganti baju di ruang ganti.

“Aish baka! Ponselku tertinggal!” Kataku merutuki diri sendiri menyadari sepertinya aku menjatuhkan ponselku di ruang tamu. Aku mencari keberadaan Junsu di lapangan tapi aku tidak menemukannya.

“Kyu, kapan giliran kita?” Tanyaku pada rekan se-timku, Kyuhyun.

“Kira-kira lima menit lagi. Doushite?” Tanyanya. Aku tidak menjawab dan segera pergi ke lorong kelas. Mencari Junsu, pikiranku tidak tenang meninggalkan Jejung di apartemen sendirian. Tapi aku tetap tidak menemukan sosok Junsu. Akhirnya aku kembali ke ruang ganti karena sebentar lagi pertandingan akan dimulai.

 

(Jejung POV’s)

Aku masih tetap terduduk diam di atas ranjang milik Yunho. Aku bingung kenapa aku di tinggal sendirian. Aku turun dari ranjang dan berjalan dengan hati-hati sambil meraba tembok kamar Yunho mencari kamar mandi. Aku mencari kamar mandi milik Yunho cukup lama karena aku sama sekali tidak mengenali apartemennya. Akhirnya aku merasakan tembok keramik yang memungkinkan itu kamar mandi, aku melangkahkan kaki memasuki kamar mandi dengan hati-hati. Lantai kamar mandi yang dingin dan basah menusuk kakiku. Aku menabrak pinggiran bak lalu membuka keran. Aku nyaris terjungkal ke dalam bak karena licinnya, tapi aku berhasil menahannya. Setelah selesai memcuci muka aku kembali k kamar Yunho. Tapi bunyi bel menghentikan langkahku. Aku berjalan perlahan kea rah pintu.

“Tunggu sebentar!” Teriakku dari dalam. Akhirnya aku bisa mencapai pintu, kuraba pegangan pintu dan kuncinya yang menandakan itu adalah pintu keluar. Aku melongokkan kepalaku.

“Iya?” Sapaku kepada orang yang ada di depan pintu. Tapi rasa-rasanya aku mengenali orang yang berada di depanku ini.

“Onii-chan ayo pulang.” Ajak orang yang ternyata adalah Changmin. Dan aku tahu dia tidak sendirian. Di sampingnya ada Yoochun.

“Jejung-nii buka pintunya.” Kata Yoochun ketus. Aku membuka pintu dan keluar. Yoochun segera menarik tanganku dengan kasar.

“Yoochun-nii jangan seperti itu!” Kudengar Changmin mencegah langkah Yoochun yang sudah menyeretku hingga kakiku terantuk-antuk. Tapi Yoochun tidak menggubrisnya dan terus menyeretku. Aku yang kewalahan hampir saja terjungkal saat tidak sengaja menyandung batu. Untung saja Changmin dengan sigap menahanku.

“Yoochun-nii!!” Teriak Changmin sambil menahanku agar tidak jatuh. Yoochun berhenti.

“Kau tega sekali! Aku saja yang membantunya, jangan menyentuh Jejung-nii!” Bentak Changmin.

“Kalau begitu urus lah dia!” Bentak Yoochun tidak kalah keras. Aku merasakan ketakutan Changmin. Aku mencoba berdiri di bantu Changmin.

“Yoochun, kalau kau sudah tidak ingin mengurusku tidak usah memaksakan diri.” Kataku. Kurasakan tatapan mata Yoochun yang tajam.

“Chang, bawa Jejung-nii pulang.” Jawab Yoochun akhirnya. Changmin menggandengku sampai rumah. Changmin juga membersihkan kakiku yang terluka karena saat di seret dari apartemen Yunho, aku hanya menggunakan kaos kaki saja. Aku hanya diam tidak bersuara, entah apa yang begitu mengganggu Yoochun sampai memperlakukanku sekasar itu. Apa karena Yunho? Tapi apa salah Jung Yunho pada Yoochun? Aku masih belum bisa mengerti.

 

TBC

Mianheyo yaa kalo agak gaje -__-“

maklum authornya juga gaje.. tapi jangan lupa commentnya.. Sangat membantu loh😀

Gomawoyo sudah meluangkan waktu *deep bow

11 thoughts on “[FF] Raining Part.7-Love is Blind

  1. aduh yunho gmn sih maen ninggalin jae jah..

    Yoochun knp sih kasar bgt ma jae? Mang sbnr’y pa sih pnyebab yoochun bnci bgt ma yunho??

  2. Aish pendek sekali.dah lucu sekali saat yunho tau lo tanding basket.sampek ninggalin jae umma sendirian di ranjang.hehehehe.

  3. jadi Yunjae udah jadian ni ??
    syukuran dah ^^
    yunppa ke sekolah cma pake baju tdur jga ttep klhtan ckepnya kok haha
    aish chunnie nyeret jae kya nyeret gajah(?) ,ksihan jaemma

  4. eh rupanya mereka jadian toh
    aku pikir Jae bakalan nolak
    hahaha

    ada apa dengan Yoochun sebenernya ?
    apa dia beneran tau soal kecelakaan itu
    tapi klo dy tau
    tau dari mana ya
    perasaan pas kecelakaan ntuh mobil langsung ngebut pergi kan

    penasaran euy
    lanjut baca yaa

  5. Jiaahhh Yunho Pabbo, baka oneng…ngapaen seh, maen tinggal aja, bukannya di bawa si jaejoong *gigit yunho
    Aisshh tuh si jidat masalahnya apa seh??kok makin kasar ma jaejoong, ya ampun demi apa ga tega liat jaejoong ditarik2 kasar begitu..#peluk erat umma, jitak jidat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s