LOVERSHIP/ YUNJAE/ CHAPTER 2


LOVERSHIP
created by Amee

Chapter 2

.

Note : maaf karena fic ini terlalu lama diabaikan, dan maaf karena banyak typos

.

.

Hal yang selalu terjadi setiap malam—bahkan setiap saat, adalah fakta bahwa Yunho selalu merasa terusik akan kehadiran Jaejoong. Ia selalu bertanya-tanya mengapa Tuhan sangat tidak adil menempatkannya dalam satu ruangan yang sama dengan makhluk yang tidak jelas apa gendernya.

Malam ini, dibatasi oleh garis merah yang Yunho buat, Yunho dan Jaejoong tenggelam dalam aktivitasnya masing-masing. Sebagai siswa cerdas, Yunho berusaha tenang dan fokus mempelajari sebuah buku di atas meja belajarnya, namun ia tidak bisa.

Dalam benaknya, Jaejoong adalah pembuat masalah,membuatnya hampir gila. Setelah melempar bukunya dengan kasar,Yunho beranjak, lantas mematikan televisi dengan angkuhnya, mengintrupsi kegiatan Jaejoong dengan playstationnya.

Dengan enggan, Jaejoong menatap Yunho, dibukanya earphone yang ia pasang. Apalagi salahnya? Pikir Jaejoong, bukankah ia sudah memakai earphone untuk meredam suara. Kenapa Yunho masih saja mengibarkan bendera permusuhan.

“Ada apa? Aku tidak membuat suara yang bising,” kata Jaejoong.

Yunho menatapnya malas. “Gambar tidak jelas, membuatku pusing,” tunjuknya pada televisi, lantas menirukan gaya jaejoong memainkan stik ps dengan geram. “Lantas cara kau memainkannya, apa bedanya dengan membuat suara? Itu sangat menggangguku, kau tahu?”

Jaejoong berdiri, lantas ditatapnya Yunho lekat, ujung bibirnya menarik sebuah senyuman. “Kalau begitu, mau bertukar tempat?”

Untuk beberapa detik yang magis, tidak ada percakapan di antara keduanya, hanya saling bertatap sejenak penuh kecanggungan. Mereka bahkan tidak menyadari jika pada saat itu Changmin masuk ke dalam kamar.

“Hyung, apa ada makanan di sini? Aku lapar sekali,” kata Changmin. Dan langkahnya segera terhenti begitu kdua matanya menangkap Jaejoong berdiri di hadapannya.

Dengan gerakan seperti robot, Changmin berjalan mundur untuk keluar melewati pintu, berteriak-teriak kegirangan seperti seorang anak SD yang baru saja di belikan permen. Ia meninju-ninju udara lantas mencengkram dadanya dengan gerakan yang dramatis. Betapa ia tidak menyangka akan kembali bertemu dengan Jaejoong. Setelah memastikan diri tenang dan memasang wajah manly, Changmin kembali masuk ke dalam, dengan sebuah senyuman yang enggan luput dari bibirnya.

“Ikut aku sebentar,” kata Changmin, lantas ditariknya tangan Yunho keluar. Sementara Jaejoong masih berdiri, merasa bingung pada apa yang sebenarnya terjadi. “Siapa itu? Teman sekamarmu?” tanya Changmin setelah mereka berada di luar kamar, dicengkramnya pundak Yunho keras-keras.

“Jangan bilang dia…” sela Yunho.

Changmin mengangguk mantap dengan antusias. “Ya, ya, dia orang yang kumaksud. Bagaimana? Dia cantikkan?” serunya.

Yunho mendengus keras, lantas digelengkan kepalanya beberapa kali.  “Kau gila,”

“Kenapa? Kalau begitu, mau bertukar kamar denganku? Mau tidak? Kau tahu hyung, teman sekamarku sangat tenang, tenang sekali,” Changmin tersenyum lebar.

Ditimbang-timbang beberapa saat. Benarkah seperti itu? Yunho memikirkannya berkali-kali. Saat itu, Siwon—teman sekamar Changmin—keluar dari kamarnya. Aura disekitarnya terasa kelam dan menusuk, hampir membuat Yunho menggigil. Siwon melirik ke arahnya sebentar dengan pandangan kosong lantas berbalik. Choi Siwon, dia terlalu diam, dan… mengerikan.

Yunho mengusap-usap kedua tangannya yang terasa dingin lantas menatap Changmin. “Dia tidak tampak seperti seorang siswa yang normal,” katanya sambil menggeleng.

Changmin terdiam sejenak, lantas kembali pada fokus utamanya. Dicengkramnya tangan Yunho, setengah berteriak ia berkata, “Siapa namanya?”

“Entahlah. Aku tidak tahu,”

“Astaga, Hyung, kau tidak tahu? Sekarang ayo cepat masuk dan tanyakan!”

Dengan penuh antusias, didorongnya tubuh Yunho masuk ke dalam kamar, yang lantas terhenti ketika Changmin mendapati Jaejoong duduk menghadap meja belajarnya sambil menata sebuah pot tanaman. Dalam benak Changmin, terpahat wajah Jaejoong yang cantik, bersih, dan memesona.

“A.. Hai, apa kabar?” Changmin tergagap.

Jaejoong menoleh ke arahnya lantas tersenyum dengan sangat manis, Changmin hampir terjatuh lemas jika kedua tangannya tidak menengkram pundak Yunho kuat-kuat. Sementara Yunho, hanya memerhatikannya dengan malas.

“Kejadian kemarin… terimakasih,” kata Changmin akhirnya. “Aku merasa bersalah,”

“Kau sudah memakannya?” tanya Jaejoong.

“Aku tidak akan memakannya, itu akan kusimpan. Tapi aku akan membelikan yang baru sebagai gantinya,” jawab Changmin, Jaejoong mengangguk. “Aku Shim Changmin,”

Jaejoong tersenyum. “Kim Jaejoong,”

“Jung Yunho,” sela Yunho jengah. “Aku bukan mak comblang yang membantu sepasang manusia yang dilanda cinta untuk bersatu,” pekik Yunho, lantas kembali pada meja belajarnya. Jaejoong meliriknya lantas tersenyum kecil.

“Jadi, kau mengambil apa? Departemen pertanian benar?” tanya Changmin berusa menarik perhatian. Changmin memekik keras dalam hati, mengapa Jaejoong selalu tersenyum, itu mengakibatkan serangan listrik di jantungnya, dan ia hampir mati.

Jaejoong mengangguk. “Ya, aku ini anak seorang petani,” katanya. Diambilnya pot di hadapannya lantas diserahkannya pada Changmin.

“Untukku? Ini sangat indah,” tanya Changmin, dan Jaejoong menjawabnya dengan anggukan, saat itu Yunho melirik pada keduanya.

“Cinta pada pandangan pertama,” kata Jaejoong. Yunho membuang muka dengan gerakan jijik, sementara Changmin hampir terjatuh ke lantai karena merasa lemas di semua persendiannya.

“Jadi ini tanda cinta?” tanya Changmin. Senyuman tak bisa luput dari wajahnya. Ia merasa girang yang teramat, hingga ingin memeluk Jaejoong dengan eratnya.

“Bukan. Itu nama tanamannya,” jawab Jaejoong.

Dan Changmin merasa harapannya terbakar seketika, sementara di sisi kamar yang lain, Yunho terkikik puas tanpa suara.

“Kau tahu jalan untuk kembali ke kamarmu, benar? Atau aku perlu mengantarmu, Shim Changmin?” ujar Yunho dengan penekanan di setiap katanya. Lantas membuat gerakan selamat tinggal dengan tangannya.

Changmin berbalik lantas keluat dengan langkah canggung, meskipun cengiran masih menghiasi wajahnya, sementara Jaejoong hanya menatapnya bingung.

XXX

 

Pagi kembali tiba. Jam sudah menunjukan pukul tujuh lewat. Yunho masih bergelut dengan mimpi dalam selimutnya, sementara Jaejoong sudah berseragam lengkap. Ketika Yunho membuka matanya, dilihatnya Jaejoong tengah memasak sesuatu menggunakan rice cooker mungil miliknya.

Jaejoong menyuapkan sesuap besar bubur buatannya ke dalam mulut dengan gerakan menggoda, seolah ingin menunjukkan pada Yunho betapa enak rasanya. Diulanginya gerakan itu berkali-kali, hingga Yunho merasa jengah di buatnya. Sesekali, ketika Jaejoong akan menyuapkan makanan, sudut matanya dengan sengaja akan menatap Yunho terlebih dahulu.

Yunho beranjak turun dari ranjangnya, melewati Jaejong yang tengah makan sambil bersimpuh di lantai. Diperhatikannya sebentar lantas beranjak menuju kamar mandi. Setelah memastikan bahwa Yunho benar-benar berada di dalam kamar mandi, Jaejoong melempar sendok yang ia pegang lantas mengipas-ngipasi mulut dengan telapak tangannya. “Pedas.. pedas,” katanya. Dan matanya berkaca-kaca.

Lima belas menit kemudian, ketika Yunho keluar dari kamar mandi, didapatanya kamar telah kosong. Yang ia temukan hanya semangkuk bubur, segelas air putih, dan secarik kertas memo bertuliskan : Makanlah, ini sangat enak (^^)

XXX

Yunho merutuki harinya, ia tidak mengerti mengapa malam selalu hadir dengan cepat untuk menggantikan siang. Ia tidak pernah membenci malam sebelumnya, hanya saja kali ini ia tidak bisa untuk tidak membencinya. Bagaimanapu, setiap malam ia harus berada di dalam kamar asrama dengan Jaejoong yang membuatnya hampir gila, begitupun dengan malam ini.

Seperti biasanya Yunho duduk menghadap meja belajarnya dengan sebuah buku, sementara Jaejong duduk di lantai bersandar pada ranjang miliknya sambil membaca sebuah novel. Keheningan mwarnai malam mereka, hingga keduanya mendengar bunyi ‘gas’ yang cukup keras. Yunho mendongak, menatap Jaejoong sekilas lantas kembali berbalik untuk tertawa. Sementara Jaejoong menundukan kepalanya semakin dalam.

“Aku sangat menyesal. Aku… Aku sudah berusaha menahannya, tapi suaranya tetap terdengar,” kata Jaejoong. Ia menggembungkan pipinya, malu.

Yunho membalikkan tubuhnya menghadap Jaejoong, lantas tersenyum dengan gaya aristokrat. “tidak apa-apa, tidak ada yang memalukan. Menurutku itu wajar,” katanya. Yunho kembali berbalik menghadap meja belajarnya, lantas melanjutkan tawanya tanpa suara.

“Kau lapar?” tanya Jaejoong. “Aku memasak hidangan terbaik malam ini,”

Dengan gerakan angkuh, Yunho beranjak untuk. melihat apa yang dimasak Jaejoong, lantas berjongkok di tepi garis merah yang ia buat.

“Rice cooker? Kau memasak dengan ini? Apa yang bisa kau buat? Apa ini sudah matang?” tanya Yunho.

“Ya,” Jaejoong mengangguk.”Aku membuat soto ayam. Aku memasukan banyak bahan di dalamnya, sayuran, jamur, dan masih ada lima macam lagi. Cobalah,”

Jaejoong menyodorkan sebuah sendok yang diambil Yunho engan malas. Jaejoong menggeser rice cooker dan meletakkannya tepat di garis merah agar Yunho dapat meraihnya dengan mudah, sementara Yunho justru memandangnya penuh selidik dan curiga.

Yunho mengambil satu sendok dan memasukannya pada mulutnya. Pada kunyahan pertama, ekspresinya berubah.

“Bagaimana?enak bukan?” tanya Jaejoong.

“Kau hebat juga,” balas Yunho lantas kembali menyendok makanan di depannya, sementara Jaejoong tersenyum penuh kesenangan. “Apa kau pandai  memasak?”

“Hanya senang memasak, kadang-kadang enak, kadang-kadang tidak bisa dimakan,” jawab Jaejoong.

“Tanaman yang kau tanam di beranda sana, apa itu?”

“Hanya beberepa peterseli, agar aku bisa menggunakannya ketika memasak, jadi tidak perlu membeli,”

“Antara tanaman dan memasak, mana yang lebih kau suka?”

“Ak suka keduanya,” jawab Jaejoong mantap. “Bagaimana denganmu, apa kau suka ikan?”

“Ya,” kata Yunho singkat.

“Apanya namanya?” tanya Jaejoong lagi sambil menunjuk akuarium milik Yunho.

“Ikan,”

“Hah?”

Yunho tersenyum singkat. “Nama aslinya ikan, tapi dia berasal dai jenis Lumba-lumba kecil,”

“Benarkah? Sangat lucu. Jadi dia itu lumba-lumba,”

“Bukan berarti dia lumba-lumba, hanya saja, karena bentuknya yang mirip lumba-luma maka dinamakan lumba-lumba kecil. Para ilmuan menyebutnya si rahang panjang, dia adalah jenis impor,”

“Kenapa kau hanya memeliharanya satu? Bukankah dia akan kesepian karena terus sendirian?”

“Ikan buat dan ikan jenis lainnya tidak dapat ditempatkan bersama, karena mereka akan terluka dan mati. Dia jenis ikan yang ganas,” terang Yunho.

“Begitu pula dengan pemiliknya? “Hey!” Yunho melemparkan sendoknya, sementara Jaejoong hanya terkikik.

“Apakah ada jenis ikan yang tomboi?” tanya Jaejoong.

Yunho menatapnya sekilas lantas kembali okus pada makanannya. “Aku tidak tahu. Tapi ada jenis ikan yang memiliki beberapa kelamin,”

“Apa jenis ikan yang normal bisa menyukai ikan yang tomboi?” tanya Jaejoong lagi.

Yunho menghentikan gerakannya lantas menatap Jaejoong. “Itu bukan urusanku,” katanya tepat ketika ponselnya berdering.

Yunho meraih ponselnya lantas masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan sambil mengangkat telepon, sementara Jaejoong kembali pada aktivitas rutinnya bermain playstation.

“… dia pandai memasak, dan dia juga memasak sendiri, masakannya sangat lezat”

Jaejoong membuka earphone yang dikenakannya ketika telinganya mendengar Yunho mengatakannya. Dia tersenyum, namun kemudian memudar ketika mendengar Yunho mengatakan kalimat berikutnya.

“Ahra Noona, tapi jangan katakan ini pada Eomma, aku sangat tau bahwa ia tidak suka dengan seseorang yang tomboi dan tidak jelas bagaimana gendernya. Pertama kali melihatnya aku pikir dia anak perempuan, aku tidak tahu berapa lama bisa bertahan satu kamar dengannya. Eomma pasti akan sangat membencinya…”

Kata-kata Yunho kembali terdengar samar ditelinga Jaejoong ketika ia sadar bahwa Changmin telah berada di hadapannya, tersenyum sambil menyodorkan sebungkus roti.

“Makanlah,” kata Changmin. Dan pada saat itu, Yunho keluar dari kamar mandi, melewati keduanya, dan kembali duduk menghadap meja belajarnya.

“Mau bermain game?” tanya Jaejoong.

“Tentu,” jawab Changmin.

Dan keduanya asik hanyut dalam permainan, sesekali jaejoong bersandar pada pundak Changmin lantas mereka akan tertawa, sementara Yunho memerhatikan mereka untuk beberapa saat, lantas kembali okus pada buku dihadapannya

TBC

7 thoughts on “LOVERSHIP/ YUNJAE/ CHAPTER 2

  1. hmpfh…lucu di part siwon di bilang mengerikan…

    n dibagian changmin meleleh liat jae hahhaha…

    tp mgkn kalo alur n cerita agak dirubah bakal lbh seru….*soryyyy gak maksud protes*

    cuma terll mirip dgn YON bakal buat boring…

  2. Klo Yunpa gak suka sekamar ma Jaema knp gak tuker tmpt sam̶̲̅α̇ Minnie, kan Minnie nawarin, biar Minnie berduaan terus bareng Jaema…hahahaha…palagi Jaema pinter masak, pasti makin jatuuh cinta deh😀
    Eomma’a Yunpa gak suka sam̶̲̅α̇ org ýanƍ gak jelas gender’a…gimana nanti klo Yunpa jatuh cinta sam̶̲̅α̇ Jaema? Pasti gak bakalan di setujuin…kasian…sabar Jae #elus2 jeje, ehh ada uchun lwt..peluk uchun dl aaahhh😀

  3. changminne ska ma jaemma yaaa
    ya ampun appa bru tau klo siwon tu mengerikan #plak
    sbenrnya jae udh ska sma appa ya ???

  4. mwo?? mimin suka ma jaema??? andwe min ah…itu ummamu…#triak bareng jiji#
    yunpa sih..sok jual mahal…diembat tuh sama mimin…
    keren thor…update cepet duonkk..pnasaran neh…ya..ya ya…jeball..hm??..#reader pemaksa#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s