WE AREN’T REAL, JUST DREAM/ YUNJAE/ CHAPTER 2


WE AREN’T REAL, JUST DREAM

Created by Amee

Chapter-2

.

.

Summary:

Aku memeluk pinggang ramping Jaejoong dan menariknya untuk semakin dekat denganku di tengah lautan merah yang menyerukan kata “Yunjae” dengan liarnya, sementara Jaejoong menatapku lembut dengan doe eyes nya, sesekali bersandar di bahu bidangku. Sayangnya itu hanya sekadar fanservice.

.

.

CHAPTER 1 – FANSERVICE WAR

Aku tidak tahu, apakah ini ide yang baik atau buruk.

Saat ini kami sudah berada di Seoul Olympic Park, dan aku merasa jantungku berdebar seribu kali lebih cepat dari debaran normal. Ini gila. Aku benar-benar gugup.

Di sudut kamar ganti, aku melihat Jaejoong dan Changmin duduk bersebelahan namun tampak canggung. Yang kuamati, tidak ada pembicaraan seikitpun di antara mereka, hanya diam, dan sesekali saling pandang dengan kaku.

Aku tahu, bagaimana perasaan Jaejoong, karena aku bisa merasakannya dengan sangat baik, tentu saja, karenaaku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Jaejoong adalah tipe pencemburu, dan akan diam jika kesal, seharusnya kau memulai pembicaraan lebih dulu Shim Changmin, atau aku yang harus memulai. Aku menggeram kesal.

Kutatap Jaejoong dalam balutan v-neck nya, betapa ia sangat cantik, dan kuit putih susu yang mulus itu, betapa aku ingin membelainya. Aku memukul-mukul kepalaku sendiri ketika pikiran naif itu muncul. Sadarlah Jung Yunho, Kim Jaejoong itu milik Shim Changmin.

“Ya Hyung, apa yang kau lakukan?” tanya Junsu.

“Eh?” aku tak menjawab apapun, hanya berhenti memukul kepalaku dengan canggung, lantas kurasakan tatapan Yoochun yang terasa begitu menusuk.

“Sudah kubilang, ceritakan padaku apa masalahmu, atau perlu aku yang mencari tahunya sendiri?” kata Yoochun.

Aku menyeringai lebar, lantas memukul keningnya. “Berhentilah sok tahu seperti itu, Mr. Park. Lebih baik kita menemui menejer Hyung sekarang. Changmin, Jae, selesaikanlah urusan kalian dengan cepat, setelah itu kalian bisa menyusul kami. Jangan menghancurkan konser dengan wajah masam seperti itu,” aku tersenyum, dan Changmin melemparku dengan sebungkus keripik kentang di atas meja.

“Kami tetap memesona sekalipun wajah kami masam,” katanya. Dan semuanya tertawa, bahkan kulihat Jaejoong ikut tersenyum. Tenang Jung Yunho kendalikan detak jantungmu.

Aku keluar dari kamar ganti bersama Yoochun dan Junsu, aku takut, sangat takut, astaga aku tidak tahu sejak kapan aku bertransformasi menjadi Drama King yang melankolis seperti dalam opera sabun yang sering eomma-ku tonton seperti ini.

Apa yang akan mereka bicarakan, apa yang akan mereka lakukan di dalam, dadaku terasa penuh sesak memikirkannya, meski aku tahu, Changmin tidak akan melakukan sesuatu yang berlebihan pada Jaejoong, karena kami akan pentas dalam setengah jam lagi.

“Ada apa Hyung?” tanya Junsu ketika kami telah melewati setengah koridor.

Yoochun menatapku dengan tajam, aku lupa bahwa instingnya sangat tajam, kau bodoh Jung Yunho, berhentlah bersikap seperti ini, atau seluruh dunia akan tahu bahwa kau mencintai Hero Jaejoong.

“Sepertinya aku butuh toilet, perutku sakit,” kataku dan segera berlalu sebelum Yoochun ataupun Junsu sempat menjawab.

Aku tidak benar-benar pergi ke toilet seperti yang kukatakan, hanya berputar-putar tanpa tujuan. Mengapa rasanya aku sudah berjalan sangat jauh, dan tanpa kusadari aku sudah berada di depan ruang ganti TVXQ.

Aku merasa jantungku berdebar sangat cepat,benarkah apa yang sedang kulakukan ini? Haruskah aku melakukannya? Dan tanpa memperoleh jawaban itu, ternyata tanganku sudah bergerak lebih dulu membuka pintu, tanpa meninggalkan suara sedikit pun.

Pemandangan pertama yang kulihat sangat menyakitkan, aku merutuki kebodohanku. Di hadapanku, Jaejoong tengah duduk di atas pangkuan Changmin, menyandarkan kepalanya di atas pundak Changmin.

“Jangan terlalu dekat Kyu, aku merasa sakit, di dalam sini,” kata Jaejoong, aku merasa sengatan listrik menjalar di tulang punggungku lantas naik hingga leher.

Changmin menyentuh punggung Jaejoong seduktif dan menyelipkan tangannya ke dalam kaos Jaejoong, lantas menciumi leher dan pundaknya yang terbuka. “Dan jangan biarkan Yunho hyung menyentuhmu terlalu banyak,” katanya, dan itu sungguh menohokku.

Aku menjatuhkan tubuhku di atas lantai, mencengkram dadaku dengan kuat, ini sangat menyakitkan, sungguh. Dan yang terdengar setelah itu hanya bunyi-bunyi kecapan yang timbul ketika mereka bertukar saliva. Suara desah tertahan Jaejoong terasa seperti hujaman pisau berkarat dalam dadaku—perih, pedih, menyakitkan.

Aku ingin menangis, sayangnya aku tidak bisa. Aku bangun perlahan,lantas berjalan dengan lunglai. Saat itu aku merasakan seseorang berjalan dibelakangku, lantas menutup pintu ruang ganti yang belum sempat kututup, aku tidak tahu itu siapa, aku terlalu lelah hanya untuk menoleh sekalipun, dan aku tidak peduli siapa itu.

XXX

Aku tidak tahu, apakah Tuhan mencintaiku atau justru sedang menyindirku. Setelah dua lagu pembuka, kini hanya ada aku dan Jaejoong di atas panggung untuk menyanyikan lagu May I Love You. Kau bisa melihatnya bukan kami hany berdua di atas panggung.

Jarakku dan Jaejoong terpisah sekitar dua meter, kami sama sama melihat pada 3000 penontong yang menatap kami dengan antusiasme tinggi. Tidak hanya Cassie di sana, namun berbaur juga para Elf di antara mereka mengingat Super Junior akan berbagi panggung dengan kami. Para shipper sudah mulai berteriak-teriak keras, sambil mengangkat banner yang mereka bawa, ah, itu fotoku dan Jaejoong, bagaimana mungkin mereka bisa membuat foto kami dalam pose yang begitu erotis. Aku merasa wajahku memanas, ketika aku menatap Jaejoong, pikiranku bertualang menggapai segala hal, imajinasi-imajinasi mustahil mulai berkelebatan di pikiranku. Ini gila.

Moon ee yul ne yo geu dae ga deul udjyo

Chu noon e nan nae saram in gul al ajyo

Musik mulai dimainkan, dan kami—aku dan Jaejoong—saling berpandangan, semua penonton berteriak histeris, dan aku merasa inilah duniaku.

Nae apedaga wa go gae sook e myu

Bi chin ul gool chung mal

Jaejoong berjalan ke arahku, dengan senyuman yang tak pernah terlepas dari wajahnya. Betapa dia sangat cantik dan menbuatku jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi. Aku benar-benar hampir gila karenanya, jantungku berdetak dengan sangat cepat, hingga tak bisa lagi kukontrol.

Yong gi nae bol rae yo

Na o neul boo tu geu dae rul

Jaejoong sudah berada di sampingku, aku merangkul pinggang rampingnya, yang kutahu ia sangat tak suka jika seseorang menyentuhnya—kecuali Changmin, dan ia tak banyak berkomentar ketika aku merangkulnya. Teriakan-teriakan histeris para fans membuatku semakin percaya bahwa Jaejoong memang diciptakan untukku. Dan ketika jaejoong bersandar dipundakku—meski hanya sekilas—aku merasa waktu berhenti. Saranghae do dwel gga yo, lirik terakhir yang kami nyanyikan, dan aku membuat gerakan seolah berbisik pada Jaejoong, dan teriakan teriakan histeris itu semakin menggila, rasa senang menjalar di seluruh tubuhku. Kim Jaejoong, aku sangat mencintaimu, tak bisakah kau melihatnya? Aku tersenyum, dan ketika aku menarik wajahku, kulihat bercak merah dilehernya, sebuah kissmark yang memudarkan senyumanku hingga lambat laun menghilang. Aku membenci ketika aku merasa menjadi pecundang. Aku benci ketika aku tersadar bahwa Jaejoong bukan milikku. Ini menyakitkan.

XXX

 

Kami sedang berada di belakang panggung, untuk membicarakan konsep penampilan kami setelah ini. Saat ini panggung sedang diisi oleh Kyuhyun, Ryewook, dan Yesung. Mereka bernyanyi dengan sangat indah kurasa. Aku berusaha untuk fokus pada lagu yang mereka bawakan sambil berbicara dengan menejer hyung.

Aku tidak naif, dan aku sadar jika sejak aku dan Jaejoong kembali ke back stage, Changmin menatapku dengan pandangan tidak bersahabat, namun aku berusaha mengabaikannya dan berusaha terlihat profesional.

“Setelah ini kalian akan tampil bersama membawakan Show Me Your Love, kuharap kalian menunjukan fanservice setiap kali ada kesempatan, mengerti?” kata menejer Hyung.

Aku mengangguk paham, namun aku tidak bisa mebayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.

Anggota Super Junior sedang erundingkan beberapa hal, Yochun tampak sedang bersandar santai di atas sofa, sementara Junsu ikut bergabung dalam perbincangan dengan Jaejoong dan Changmin. Dan semua aktivitas itu segera buyar ketika menejer hyung memberi kami aba-aba untuk segera naik ke atas panggung.

“Seharusnyakau melakukan tindakan hyung,” bisik Yoochun padaku sebelum kami naik ke atas stage.

“Apa?” tanyaku.

Dia melirik pada Jaejoong, lantas kembali menatapku. “Aku tahu rahasiamu, aku mendukungmu, bersemangatlah,” katanya.

Yoochun menepuk pundakku, lantas mendahuluiku naik ke ata stage. Astaga, Park Yoochun mengetahui sesuatu. Aku tidak tahu, apakah ini menguntungkan atau justru merugikanku.

Stage terasa penuh diisi oleh delapan belas member seperti saat ini, sebenarnya tidak juga, hanya saja aku merasa sesak dengan perasaanku sendiri. Aku melirik Jaejoong yang berdiri tidak jauh dariku, sementara Changmin berjarak beberapa meter dari kami dan berdiri lebih dekat dengan Kyuhyun, bukan hal yang aneh, karena menejer hyung telang mensettingnya seperti itu.

Semuanya berjalan dengan lancar, ketika kami bernyanyi dengan nyaan, ketika para penggemar ikut bernyanyi dan sesekali berteriak memanggil biasnya, hingga akhirnya hampir semua penonton yang memadati Seoul Olympic Park berteriak histeris bersamaan, dan saat itu kulihat mata Jaejoong membelalak sempurna. Aku mengikuti kemana garis pandangnya. Dan di sana Kyuhyun tengah memeluk Changmin dan mencium pipinya, meski kemudian kembali di lepaskan.

Kulihat Jaejoong mengeram, ia mengepaklan tangannya hingga buku buku jarinya memutih. Dia mendekat ke arahku, lantas menyentuh dadaku dengan telapak tanganya, lantas berbisik di telingaku, hingga semua meneriakan kata yunjae hampir bersamaan, dan aku menikmatinya.

“Yun, ikuti permainanku,” katanya.

“Baik,” kataku datar, meski sebenarnya ini yang kuharapkan. Biarkan aku menjadi sosok yang jahat untuk kali ini saja, Changmin maafkan aku.

Ketika Changkyu melakukan satu gerakan, maka Jaejoong akan membalasnya dengan dua gerakan seduktif, hingga penonton menggila, dan aku merasa lebih gila dari itu. Aku benar benar jahat ketika aku enikmati setiap pelukan Jaejoong, dan dengan kejamnya sesekali aku memeluknya erat dari belakang. Untuk beberapa kesempatan, Changmin berada di dekatku atau menatapku sekadar menunjukan ketidaksukaannya, tapi aku benar-benar tak peduli. Jaejoong milikku seutuhnya, setidaknya untuk kali ini.

Ketika kami telah selesai dan kembali ke belakang stage, sementara Jaejoong akan bernyanyi solo, Changmin mendekatiku lantas merangkul pundakku.

“Hari ini kau menyentuh Jaejoongieku terlalu banyak, Hyung,” katanya. Dan itu berhasil menyadarkanku bahwa Jaejoong memang bukan milikku.

XXX

 

Kami sudah kembali ke dorm, dan aku tidak melihat Jaejoong. Ada dua kemungkinan dalam benakku. Yang pertama dia berada di dalam kamarnya karena kelelahan, dan kedua dia berada di  kamarnya karena tidak ingin bertemu Changmin.

“Hari ini sangat melelahkan,” kata Junsu, dia menyesap coke miliknya.

“Kau benar, hari ini melelahkan, tapi sangat menyenangkan,” kataku.

Changmin baru saja muncul, namun lantas segera menyela. “Kau meang tampak sangat menikmatinya hyung,” selanya.

“Aku juga sangat menikmatinya,” Junsu menimpali.

“Ya, kita semua menikmatinya. Aku lapar,” kata Changmin lagi, setelah bergabung dan mengambil segenggam besar pop corn dari mangkuk.

Aku tahu apa maksud kata-katamu, Min. Maafkan aku. Aku tahu kau kecewa.

“Sebaiknya kalian lihat ini, kurasa para yunjae shipper sangat menarik,” kata Yoochun kemudian.

Baik aku, Changmin, maupun Junsu segera meringsut untuk melihat laptop yang disodorkan Yoochun. Di sana kulihat fotoku dan Jaejoong saat konser tadi siang, di sebelahnya ada sebuah gambar yang kuyakin merupakan gambar leher Jaejoong yang diperbesar. Sebuah judul besar menghiasinya ‘Jaejoong’s kissmark, Yunho sangat pandai membuatnya.’

“Aku mengantuk, sepertinya aku akan tidur lebih dulu, selamat malam,” kata Changmin lantas beranjak meninggalkan kamu.

Melihat foto itu aku merasa sakit karena bukan aku yang membuatnya, dan aku tahu Changmin juga merasa sakit, karena fans tidak pernah tahu bahwa dia adalah bagian hidup Jaejoong yang sebenarnya. Dalam hal ini, kami sama-sama tersakiti.

TBC

Next chap : President of Yunjaeshipper X Malam Kesalahan X Penyesalan

(warn : rate for next chap)

12 thoughts on “WE AREN’T REAL, JUST DREAM/ YUNJAE/ CHAPTER 2

  1. Miris amat Yunho Oppa… cup cup cup setidaknya Yoochun Oppa dukung ne.. ^^

    Jae sebenernya sadar g sih klo Yunho suka?

    • kasiannnn bgt ya sm yunho…hmpfh moga2 di chap2 depan tuh uda yunjae..

      n changmin…soryyyyy ya…lbh cocok ny sm evil kyu aja hehhehee

  2. huhuuuuu ikut stress bareng yunnie…galau bayangi jae bareng pairing laen…

    ayooo donk jae cepat2 tuh suka n balas perasaan yunnie bear^^

  3. wah yoochun dah tw.. untung dy dkung yunho.. w plg gak bsa byangin jae mesra”an ma changmin..

    ayo yunho rebut jae dr changmin.. *d’lmpar kulkas*

  4. kalau dari judulnya kayaknya ga mungkin Yunjae jadian, tapi siapa tau….
    ff yang beda banget and keren juga sih, tapi dasar gw Yunjae Shipper akut, agak ga tega juga sama daddy yang bertepuk sebelah tangan,.

  5. Ya apa2 an ni..! Seenak jidat yoochun ngrubah couple sembarangan.di rape lagi.tega amat misahin umppa.tuh minnie anak durhaka masak umma sendiRi di makan.pokoky ending harus berakhir dgn couple yunjae yg bahagian.minie sama kyu aja.

  6. Kenapa aq jga merasakan sakit yg Yunpa rasakan!
    Utk fic ni, aq benci karakter jaemin. Aq gak suka! Fic ni seolah mmpu mmbuat.q bnci pd bias.q sndri, Minnie. Huweee.. Bgmn cra kami, yjs, mmbntu yunjae brsatu?

    Oh, ayolah.. Ni cma fic. Just FIC??

    Mf, thor, aye trsulut erosi (?)

  7. Tenang Yunpa banyak YJs, palagi president of Yunjae shipper’a suamiku..#digetok suie Uchun kamu hebat dweh, makin cinta ma kamu
    Min kamu bagusan sam̶̲̅α̇ kyu, ​​​;)°•°§ą♍å~§ą♍å°•°;) évil’a…
    Jaema milik Yunpa…Jaema milik Yunpa…Jaema milik Yunpa

  8. Huwaaa . . Ksian yunpa, yg udh bwt kissmark kn bkn yunpa, tp aegya’ny sndri, . Knp minnie gk mesra2an aj sma kyu, biar yunpa bs dpt bnusan dr jaema yg lg cmburu _plak_ *d.gmpar.minnie* , . Huwaaa ‘malam kesalahan’ ?? Yunpa nc’an ma jaema kah? , . Huwee gk sbar mnanti.

  9. *jerit2 dlm bak mandi*
    Author-saaaaaaaaannn!!! Sungguh, aku punya pemikiran semacam ini saat pertma kali mengenal yunjae Щ(ºДºщ)
    Maksudku, hampir smua shipper sadar klo changmin selalu Ada d tengah2 yunjae dan bnyak d antra cassie/shipper mkir posisi min cma baby yunjae aja, smntara aku mati2an nahan pemikiran diri sndiri “gmn klo seandainya min suka sma jae!”.
    Ada bnyak fto bukan ( hasil editan) min meluk jae mesra2 gmnaaa gitu..
    Tadinya mau kubkin FF jg, tp kduluan T^T sudlah.. Lgian hasil authorsan tdk mengecewakan! (•̀_•́)ง

    Satu lagi..
    Bnyak typo (‾▿‾”)
    Aku harap authorsan memperhatikan ini krna lumayan mengganggu. Pdhal narasinya sudah bagus.
    Trimkasih sdh membuat FF ini (♥▿♥)
    Cepat apdet~ cepat apdet~
    Sangatsangat ditunggu! ♥

  10. aigooo…minnie ah…bukan “jaejongieku”, tapi “ummaku” dan yunnie,hanya yunnie, yg boleh blg “jaejongieku”…#reader pemaksa#
    ..penasaran ama next chap…:-P

  11. hiks hiks kasihan yunpa, ayolah jaema buka hatimu untuk yunpa~~~
    kyaaaaaa *tariknafas* chun ngedukung yunpa *jingkrak2* ohhhh chun emang the best deh (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s