[FF] Raining Part. 10- Forgiven


Anneyong…

*deep bow

lha author sopan banget yaa hahaha

Dari judulnya siapa yaa yang memaafkan??? daripada author banyak bacot di sini langsung aja readers😀

Happy reading ^^

======================================

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 10- Forgiven

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi

Rate         : (bingung)

CHAPTER 10-Forgiven

What about now?

(Jejung Pov’s)

Aku berjalan sambil tersenyum-senyum. Tanganku tak henti-hentinya menyentuh bibirku. Aish Jung Yunho baka! Teriakku dalam hati. Tapi wajah ini tetap saja mengembangkan senyum.

“Tadaima..” Kataku saat membuka pintu apartemen. Seketika itu kurasakan suasana menegang di ruangan apartemen yang kecil ini.

“Okaeri.” Jawab sebuah suara dingin nan datar. Aku hendak melepas sepatuku saat kudengar langkah kaki mendekat.

“Jadi dia alasanmu pulang selarut ini?” Tanya Yoochun dengan nada dinginnya. Aku menoleh kearah suaranya..

“Apa maksudmu?” Tanyaku bingung. Kudengar Yoochun melengos kasar.

“Sudah berapa kali kukatakan agar kau tidak menemui laki-laki itu!?” Kini nada suara Yoochun meninggi. Baru kali ini dia menggunakan kata ‘kau’ padaku.

“Nii-chan jangan kasar!” Kini suara Changmin ikut terdengar bersamaan dengan langkah kakinya yang mendekat.

“Kau juga Chang! Tidak usah ikut campur!” Bentak Yoochun pada Changmin.

“Apa sebenarnya masalahmu Chun?” Tanyaku mulai tidak tahan dengan suasana tegang dan panas ini.

“Masalahku…!”

“Yoochun-nii!” Teriak Changmin membuat kata-kata Yoochun terhenti.

“Chang sudah kukatakan kau tidak usah ikut campur!” Bentak Yoochun.

“Tapi nii-chan akan melukai Jejung-nii!” Suara Changmin tak kalah kerasnya.

“Melukai!? Jika dia tidak berhubungan dengan laki-laki bernama Jung Yunho itu dia tidak akan pernah terluka!” Suara Yoochun semakin meninggi membuatku sakit setiap mendengar teriakan mereka.

“Kalian cukup..” Kataku dengan suara serak karena menahan tangis. Tapi kedua adikku terus berteriak.

“Tapi itu bukan sepenuhnya salah Yunho senpai!” Bela Changmin.

“Tau apa kau!? Kau masih kecil Chang!” Yoochun semakin berteriak.

“Yoochun.. Chang cukup..” kataku lagi tapi suaraku sepertinya kalah keras dengan suara mereka.

“Kau jahat Yoochun-nii!”  Bentak Changmin.

Plak!! Suara tamparan mengagetkanku. Kini airmataku meleleh mendengarnya. Aku yakin Yoochun yang menampar Changmin.

“Yoochun! Kau apa-apaan!?” Kini giliranku yang berteriak. Airmata sudah membasahi pipiku. Hening diantara kami bertiga.

“Daijobu Jejung-nii.” Kata Changmin dengan suara serak. Aku yakin dia ingin menangis. Aku mencoba meraih adik terkecilku saat sebuah tangan menarik lenganku kasar.

“Jejung-nii dengarkan aku, Jung Yunho lah yang membuat kau buta dan kita hidup dalam keadaan seperti ini!” Kata-kata Yoochun seketika menghancurkan hatiku.

“Apa kau bilang!? Kau tidak bisa menuduh Yunho seperti itu!” Teriakku menghempaskan cengkraman tangannya. Aku merasakan airmata terus tumpah dari mataku.

“Yoochun-nii hentikan!” Kurasakan tangan Changmin menjauhkanku dari Yoochun.

“Kalian berdua tidak pernah mengerti bagaimana bekerja sepertiku!” Suara Yoochun bergetar marah.

“Aku bekerja demi menyekolahkan Changmin dan biaya donor matamu Jejung-nii! Tapi kalian tidak mau mendengarkanku!” Lanjut Yoochun.

“Yoochun-nii..” Panggil Changmin. Aku memegang tangan adik terkecilku itu. Kuakui Yoochun lah alasan kami masih bisa makan sampai saat ini. Tapi alasannya tentang Yunho masih tidak bisa aku terima. Aku sudah jauh menerima takdirku tentang ini semua dan tidak rela jika Yunho yang disalahkan. Karena aku mencintai laki-laki itu..

“Aku tau kau marah pada keadaan tapi kenapa kau harus menyalahkan Yunho?” Tanyaku serak.

“Karena dia penyebab semua ini.” Jawab Yoochun ketus. Hatiku seketika hancur dan terluka. Mengapa dia begitu marah? Yunho.. Yunho apa salahmu?

“Dan kau mencintainya..” Lanjut Yoochun semakin menambah sakit dihatiku. Jadi hakku sudah hilang bersama dengan penglihatanku? Tidak bolehkah aku jatuh cinta pada orang yang mungkin menghancurkan hidup kami? Tapi itu tidak benar kan!? Jeritku dalam hati.

“Yoochun, jaga Changmin untukku. Aku tidak akan merepotkanmu lagi.” Seruku dengan seluruh tenaga yang tersisa lalu berjalan keluar pintu. Changmin berusaha mencegahku tapi aku menghempaskannya. Aku berlari sebisaku di tengah kegelapan penglihatanku hingga aku nyaris terjungkal di tangga tapi aku berhasil menuruninya walaupun membuatku terpeleset beberapa kali. Kudengar masih suara Changmin memanggilku tapi aku tidak mau tergoda untuk kembali. Aku tau akulah yang paling merepotkan dari beban yang dipanggul Yoochun. Dan sekarang aku menambah masalah karena jatuh cinta pada orang yang dibenci adikku. Aku berlari keluar apartemen, meraba pagar tanaman di pinggir jalan. Beberapa kali aku tersandung dan terjatuh tapi aku tidak peduli. Aku ingin ke tempat Yunho tapi aku tidak tahu jalannya. Aku merutuki diriku yang buta ini. Aku terus berjalan sampai kurasakan titik-titik air jatuh membasahi kepalaku. Aku mendongak dan kurasakan hujan yang kian melebat mulai membasahi sekujur tubuhku. Mengingatkanku pada malam itu, malam dimana aku menjadi buta sampai sekarang. Aku menangis dalam hujan, badanku sudah mulai menggigil kedinginan tapi aku memaksakan tubuhku untuk terus berjalan tak tentu arah hingga aku menyandung sesuatu yang membuatku jatuh terjerembab di aspal trotoar. Kurasakan sesuatu yang hangat membasahi keningku. Setelah itu aku lupa apa yang terjadi selanjutnya.

(Author POV’s)

Aroma alcohol dan pembersih menjadi satu di dalam ruangan yang berwarna putih itu. Jejung tersadar dari tidurnya yang cukup panjang. Dia menghirup aroma yang dikenalnya dan dibencinya. Rumah sakit.

“Ahh senpai kau sudah sadar?” Suara cempreng nan bising menyambutnya. Dia kenal suara cempreng ini, suara yang menyerupai dolphin.

“Junsu-kun kaukah itu?” Tanya Jejung berusaha bangkit. Junsu segera membantunya duduk.

“Hai senpai!” Jawab Junsu sambil memperbaiki letak kacamatanya. Jejung menoleh kearahnya dengan bingung.

“Senpai di rumah sakit. Kemarin aku melihat Jejung senpai pingsan di pinggir jalan di tengah hujan.” Jelas Junsu. Jejung hanya terdiam berusaha mencerna kata-kata Junsu.

“Oh souka. Aku  ingat.” Jawab Jejung pendek. Akhirnya dia mengingat kejadian semalam dimana laki-laki cantik ini mendengar berita yang sangat menyakiti hatinya.

“Yunho?” Tanya Jejung kemudian. Junsu menarik nafasnya sambil mengecek ponselnya. Dia sudah menghubungi Yunho semalaman tapi ponselnya tidak aktif.

“Aku sudah menghubunginya tapi…” Kata-kata Junsu terputus dengan suara dobrakan pintu. Tampak Yunho berdiri disana dengan wajah panic dan piyama yang masih melekat di badannya. Sepertinya dia langsung berlari ke rumah sakit saat mengetahui pesan dari Junsu.

“Jejung daijobu ka? Tidak apa-apa? Terluka? Dimana yang sakit?” Sembur Yunho dengan rentetan pertanyaan yang menggambarkan kepanikan dirinya sambil memegang pipi Jejung, melihat kepalanya, memalingkan wajah Jejung ke kiri dan kanan untuk memastikan.

“Keningmu terluka apa yang terjadi? Kau kan sudah ku bilang..” Ocehan Yunho terhenti saat tangan Jejung memegang pipinya dan ibu jarinya diletakkan di bibir Yunho.

“Kau cerewet sekali Yunho!~” Pekik Jejung sembari terkikik kecil. Entah mengapa mendengar suara laki-laki itu justru membuatnya tenang. Yunho langsung mencium bibir Jejung tanpa menghiraukan wajah Junsu yang terbengong-bengong melihat adegan itu.

“Kau membuatku sangat kawatir, gomen.” Lanjut Yunho tersenyum. Jejungpun tersenyum malu.

“Su tutup mulutmu yang terbuka itu!” Suruh Yunho melihat Junsu masih ternganga. Junsu langsung menutup mulutnya dengan tangan dan wajah yang memerah.

“Aku.. pamit senpai.” Pamitnya sembari keluar, wajahnya sudah benar-benar memerah karena malu melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.

“Su..” Panggil Yunho. Junsu berbalik dan menatap laki-laki yang sudah dia anggap kakak sendiri itu.

“Arigatou ne.” Kata Yunho tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi. Junsu hanya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya lalu beranjak pergi meninggalkan Jejung dan Yunho berdua di ruangan itu.

“Kau tidak sekolah?” Tanya Jejung. Yunho memegang tangan Jejung yang terinfus dan mengusapnya pelan.

“Tidak. Ujian sudah selesai dan tunggu liburan musim dingin.” Jawabnya sambil terus memegang tangan Jejung dan duduk di samping laki-laki cantik itu.

“Jejung apa yang terjadi?” Tanya Yunho akhirnya. Penasaran dengan apa yang terjadi pada Jejung. Seingatnya dia mengantarkan laki-laki mungil ini dalam keadaan sehat. Jejung terdiam, berpikir apa yang harus dia katakan. Takut akan kebenaran yang dia dengar dan membuat Yunho jauh darinya. Jejung memang terpukul dengan keadaannya yang sekarang tapi dia sudah menerima takdirnya jauh sebelum dia bertemu Yunho. Jauh sebelum dia mulai jatuh cinta pada Yunho.

“Aku tau semuanya..” Akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibir mungil Jejung. Yunho menoleh cepat memperhatikan mata bulat Jejung  yang mulai berkaca-kaca.

“Tau..” Yunho menggantung kata-katanya. Hal inilah yang dia takutkan. Saat dimana Jejung tau rahasia besar yang sebenarnya Yunho pun baru mengetahuinya dari Changmin kemarin.

“Aku tau apa yang terjadi sebenarnya. Aku tau kejadian yang membuatku buta. Yang aku tidak ingin percaya adalah kau yang melakukannya.” Sambung Jejung kini airmata mulai membasahi pipi mulusnya yang kemerahan.

“Jejung…” Begitu berat mengatakan hal yang sebenarnya seperti memuntahkan kembali batu yang sudah mengeras sekian lamanya.

“Gomen ne tapi itu benar.” Kata Yunho melepas genggaman tangannya dari tangan Jejung. Wajah Jejung terlihat kaget mendengarnya.

“Jadi?” Tanya Jejung dengan suara serak. Yunho kembali terdiam memikirkan rangkaian kata apa yang harus dia gunakan.

“Yunho?” Panggil Jejung sambil menggapai kearah Yunho. Yunho menangkap tangan laki-laki cantik itu dan mengecupnya sekilas.

“Oto-sanku yang saat itu membawa mobil. Andai aku tidak memaksanya mungkin semua tidak akan terjadi.”  Yunho akhirnya membuka suara. Jejung menggenggam tangan Yunho erat.

“Jejung gomen, aku akan coba memperbaikinya.” Lanjut Yunho menggenggam kembali tangan Jejung. Wajahnya tertunduk.

“Daijobu Yunho, aku sudah menerima takdirku jauh sebelum aku mengetahui semua ini dan bertemu denganmu.” Jawab Jejung. Yunho menoleh kearah Jejung, menatap mata bulatnya yang tidak berfungsi. Terkejut dengan apa yang baru dia dengar. Jejung memaafkannya dengan begitu mudah padahal dia sudah merenggut cahaya dari mata indah Jejung.

“Tapi aku sudah membuatmu terjebak di dalam kegelapan lebih dari sepuluh tahun.” Kata Yunho dengan nada bersalah. Jejung menarik tangan Yunho dan meletakkan di pipinya.

“Kau sudah membuatnya terang walaupun sedikit.” Ucapan Jejung membuat Yunho tidak bisa menahan airmatanya.

“Jejung..” Panggil Yunho terisak. Jejung meraba wajah tegas itu dan mengusap airmatanya.

“Apa sekarang kau akan meninggalkanku?” Tanya Jejung masih memegang pipi Yunho. Yunho bangun dari duduknya dan langsung memeluk Jejung. Memeluknya sangat erat. Menghirup seluruh wangi tubuh Jejung yang khas.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Yakusoku.” Bisik Yunho. Jejung membalas pelukannya.

-sore hari-

Jejung sudah di perbolehkan pulang karena luka yang dialaminya tidak terlalu parah. Setelah selesai mengurus administrasi. Yunho menggandeng Jejung keluar rumah sakit.

“Jejung kuantar pulang?” Tanya Yunho saat berjalan di taman rumah sakit menuju gerbang.

“Ano..” Jejung menggantungkan kata-katanya. Yunho menatap wajah Jejung yang kemerahan dan sebuah plester bergambar hati di keningnya. Plester itu Yunho yang memasangnya tanpa sepengetahuan Jejung. Yunho hanya berpikir itu sebagai stempel bahwa Jejung miliknya.

“Jejung?” Panggil Yunho. Jejung menoleh kearah Yunho.

“Boleh aku tinggal beberapa hari di tempatmu? Tapi jika kau tidak keberatan.” Lanjut Jejung menunduk. Yunho mengangkat dagu Jejung . menatapnya sebentar.

“Tentu saja Jejung-chan.” Jawab Yunho dengan seulas senyum yang tidak bisa dilihat Jejung. Jejung tersenyum dengan matanya yang membulat.

“Nande? Kau suka sekali memanggilku Jejung-chan.” Protes Jejung yang selalu dirindukan Yunho. Yunho tertawa.

“Aku suka saja melihatmu menggembungkan pipi seperti itu.” Kata Yunho sambil menusuk-nusuk pipi Jejung. Jejung semakin mengerucutkan bibirnya.

“Hahahaha ayoo kita pulang.” Ajak Yunho sambil menggandeng hangat tangan Jejung.

TBC

Mian readers kalo author ini makin lama makin gaje bwt FFnya T^T

Tapi jangan lupa tinggalkan comment kalian ne? Sangat berarti bwt author *hiks

Gomawoyo atas waktunya *bow again bareng Yunjaeyoosumin

14 thoughts on “[FF] Raining Part. 10- Forgiven

  1. Jaema baik banget ya….jadi terharu hik…hik…hik Yunpa jangan tinggalin Jaema yaaaaa,,,,, Selamanya harus di sisi Jaema terus

  2. trnyta cnta jae gak brubah meski tw yunho penyebab jae buta.. jae mang bnr” brhti mulia..

    skrg tnggal yochun nih yg lum bsa trima jae ma yunho..

  3. dimaafkan begitu saja
    hohoho
    tuh kan bener Yoochun serem
    kalo udah marah
    ckckckck
    kok ga dikejar sih Jaenya
    terlalu marahkah Yoochun sampe Jae dibiarin lari gitu aja

    kassssiaaaan Jae .
    hiks

  4. Ciye, ciyee…
    Makin lengket nih crita.a stlh jujur satu sama lain?
    Nah, gt dong.. Jgn libatkn masa lalu dg msa skrg. Ckup jdikn msa lalu sbg guru utk brkmbg d msa skrg *popo Changmin

  5. ya ampunnn…jongie tuh bukan cuma wajahnya yang cantik seperti malaikat..tp hatinya pun bagai malaikat…#hug JJ#
    uchun ama changmin gmn? rasanya disini changmin sayang bgt ya ma jongie..dongsaeng yg manis..O:-)

  6. Jejung kebaikan hatimu sungguh mengagumkan.. T.T
    Yunho sungguh beruntung bis mengenal sie jejung.. T.T
    Jejung yg semangat ya..
    Yunho juga, yg semangat ya… T^T

  7. Dimaafkan dgn mudah??aaahhh jaeumma emang kaya malaikat, baik bangeettt…sedih nya liat kakak adik berantem gitu, apalagi waktu adegan jaejae blg dia mo pergi dan rawat changmin, huuaaaa *meler

  8. Baca part ini sambil dengerin lagu don’t cry my lover iya lah nangis… *BAKA!*
    *soundtracknya salah*
    Aish beneran nangis…
    YunJae… makin cinta dengan kalian berdua…
    *FFnya daebak!!!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s