Yunjae :: Crazy Love Chap. 1


Yunjae :: Crazy Love

Yunjae :: Crazy Love

CRAZY LOVE

Author: Me a.k.a Jaehan Kim Yunjae

Pairing: Yunjae

Length: 1

Rating: T

Genre: Romance / Incest / M-preg / Age gap

Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Others

 

DISCLAIMER:

I don’t own Yunjae. They own each other but I hope I can own them. The plot, story and poster are mine.

WARNING!!!

This is YAOI fanfic means boy x boy story, so if you can’t take it just leaves already. I don’t wanna hear bad comments and I don’t care with your comments.

 

A/N:

Cuman short ff aja sebagai selingan

Tiba-tiba dapet ide ini, dan Jaehan emang udah ngebet banget pengen bikin ff incest

Inilah hasilnya…

 

Happy Reading ^^

Suasana pagi ini berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, pria muda bertubuh mungil dan berwajah sangat manis itu berdiri di depan washtafel putih, termenung menatap bayangan dirinya yang berada di cermin tepat dihadapannya. Kulit wajahnya yang memang sudah putih terlihat semakin pucat, sebelah tangannya menutup mulutnya yang baru saja mengeluarkan seluruh isi perutnya yang mual. Ada apa dengannya pagi ini?

 

Pria manis itu mengusap mulutnya yang basah dengan sebelah tangannya dan kembali menatap pantulan dirinya di cermin yang cukup besar yang menampakan hampir seluruh bagian atas tubuhnya

 

“Ada apa denganku?” ucapnya pelan

“Kenapa tubuhku terasa tidak enak?” lajutnya mengusap perlahan perutnya yang masih terasa mual

“Perutku juga sangat mual sejak tadi”

“Dan…” pria itu terus menggumam dan termenung menatap pantulan dirinya sendiri

 

Semalam tubuhnya masih biasa saja, tidak ada yang berbeda. Tapi, sejak pagi tadi, sejak ia bangun dari tidurnya… rasa tubuhnya sangat aneh dan ia selalu saja ingin memuntahkan seluruh isi perutnya

 

“Jae…” panggilan hangat dari balik pintu kamar mandi membuat pria muda yang dipanggil Jae itu berbalik menatap pria yang lebih dewasa darinya yang masuk kedalam kamar mandi dan menghampirinya

“Yunho Hyung…” balasnya lemah

“Kau kenapa Jaejoong-ah?” Tanya pria bernama Yunho itu

“Entahlah Hyung” balas Jaejoong lagi dan kembali menatap dirinya di cermin

“Wajahmu pucat” ucap Yunho melingkarkan kedua tangannya di pinggang kecil milik pria yang kini berada di depannya dan mengusap pipinya perlahan

“Umm… badanku tidak enak sejak tadi pagi, mungkin masuk angin” angguk Jaejoong menwajab pertanyaan Yunho

“Kau yakin? Tidak ingin coba periksa ke dokter saja?” saran Yunho

“Tidak usah Hyung” Jaejoong menjawab dengan enggan

“Benar? Aku bisa mengantarmu, kebetulan hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak” pinta Yunho

“Tidak usah, Hyung. Aku baik-baik saja” senyum Jaejoong meyakinkan pria yang berada di belakangnya itu

“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi kau harus makan lagi, semua makananmu sudah kau muntahkan” Yunho membalas senyum Jaejoong dan mengecup perlahan puncak kepala Jaejoong di bagian belakang sambil meghirup aroma segar dari rambut hitam itu

“Baik, Hyung-ah” Jaejoong menaruh kedua tangannya di atas tangan Yunho yang berada di perutnya, Jaejoong merasakan kehangatan yang diberikan Yunho padanya, mereka tetap bertahan diposisi itu selama beberapa menit

“Sudah lebih baik?” Tanya Yunho kali ini

“Umm…” angguk Jaejoong mantap

“Ayo” Yunho mengajak Jaejoong manuju meja makan

“Hyung” panggil Jaejoong menarik tangan Yunho untuk berhenti

“Eumm…” Yunho berbalik menatap adiknya itu

“Jangan beritahukan ini pada Umma dan Appa, aku tidak ingin mereka kuatir” pinta Jaejoong

“Aku tahu, kau memang paling tidak suka menyusahkan orang lain” senyum Yunho membalas ucapan adiknya itu

“Sekarang kita harus makan dan setelah itu aku akan mengantarmu ke sekolah” lanjut Yunho

 

Mungkin semua orang akan memiliki pemikiran yang sama ketika mendapati dirinya merasakan ada yang janggal pada tubuhnya dan keinginan untuk memuntahakan apa yang telah dimakannya, setiap orang akan menyangka bahawa mereka sedang sakit atau masuk angin. Tapi lupakah kita akan satu hal yang juga memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan hal itu, sesuatu yang akan mengubah nasib orang yang merasakannya

 

Mobil ferari hitam itu berhenti tepat didepan gerbang Cheongshim International Academy. Jaejoong melihat teman-temannya berlari tergesa-gesa menuju ke dalam gerbang, memang jika mereka tidak bersegera mereka pasti akan terlambat, karena bel tanda kelas akan dimulai berbunyi sekitar lima menit lagi. Jaejoong mengalihkan pandangannya menatap pria tampan yang sangat disayanginya yang berada disisinya

 

“Hyung aku masuk dulu” ucap Jaejoong menatap Yunho dan tersenyum lembut

“Ya, belajarlah yang rajin” balas Yunho mengacak-acak rambut Jaejoong perlahan

“Eumm…” Jaejoong hanya mengangguk dan mulai beranjak

“Oh ya…” tahan Yunho menggenggam satu lengan Jaejoong

“Ada apa Hyung?” Tanya Jaejoong bingung berbalik menatap Yunho

“Tadi Umma menelepon saat kau sedang bersiap, Umma menitipkan salam untukmu, beliau bilang sangat menyayangimu” ucap Yunho

“Kenapa hanya untukmu saja? Padalah aku juga anaknya, mereka terlalu memanjakanmu” lanjutnya sidikit mengomel

“Tapi Hyung juga terlalu memanjakanku” ejek Jaejoong

“Itu berbeda… dan…” potong Yunho

“Itu karena aku mencintaimu dengan cara yang berbeda” tambahnya setelah mengecup perlahan bibir mungil Jaejoong

“Hyung! Nanti ada yang melihat” kaget Jaejoong membesarkan kedua matanya

“Tidak akan, karena gerbangnya sudah mau di tutup” ucap Yunho menunjuk gerbang depan sekolah itu yang memang sudah akan ditutup

“Yah! Tunggu aku” langsung saja Jaejoong belari masuk ke dalam sekolahnya dengan perasaan kesal karena ulah hyungnya sedangkan Yunho hanya mampu menahan tawa melihat adiknya yang sangat manis itu

 

Jaejoong melangkah masuk menuju kelasnya dan duduk disisi temannya yang memiliki suara yang sangat tinggi, tempat ia duduk memang cukup strategis untuk mendengarkan semua penjelasan guru dengan jelas

 

“Wajahmu sepertinya agak pucat, Jaejoong?” Tanya pria bersuara tinggi itu menatap Jaejoong

“Tidak Junsu-ah, kulit wajahku memang sudah pucat kan” jawab Jaejoong menutupi

“Tapi sepertinya kali ini berbeda” yakin Junsu

“Hanya perasaanmu saja, Junsu. Sudah, gurunya sudah datang” balas Jaejoong menghentikan pembicaraan itu dan berbalik menatap ke depan

 

Jaejoong tidak terlalu memperhatikan pelajarannya hari ini, walaupun ia berjanji pada hyungnya bahwa dia akan rajin belajar, tapi sepertinya janji itu harus ia langgar kali ini. Pikiran Jaejoong masih saja menerawang mengingat kejadian tadi pagi dan beberapa minggu yang lalu, kejadian yang melibatkan dirinya dan hyungnya itu

 

Mungkin memang dari luar dia hanya terlihat seperti orang sakit karena berwajah sangat pucat, tapi Jaejoong sangat mengerti dengan kondisi tubuhnya… dan saat ini kemungkinan itu mungkin saja terjadi padanya, apalagi dia sudah melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan

 

Pikirannya terus saja menerawang, hingga tanpa ia sadari pelajaran hari ini sudah selesai, bahkan istirahat siang pun Jaejoong menghabiskannya di dalam kelas dan mengacuhkan ajakan Junsu untuk makan siang bersama di kantin seperti biasa. Hanya satu hal yang berkecamuk di dalam pikirannya dan hal itu pasti akan mengubah segalanya, dirinya, hyungnya dan kedua orang tuanya

 

Jaejoong berjalan keluar gerbang bercat hitam itu dan bergerak perlahan menuju toko obat-obatan yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Dengan langkah ragu Jaejoong memasuki toko itu dan melihat-lihat sekelilingnya untuk mencari sesuatu yang dibutuhkannya, hingga sebuah suara membuyarkan pikirannya

 

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita muda penjaga toko tersenyum padanya

“Anu… aku… itu… noona” Jaejoong bingung untuk menjelaskan apa yang dicarinya

“Iya, kau ingin membeli obat apa adik manis?” Tanya wanita itu lagi masih tersenyum

“Itu… kakakku muntah-muntah setiap pagi dan dia memintaku membeli…” Jaejoong memotong pembicaraannya, ia berbohong sedikit pada wanita itu

“Maksudmu alat tes kehamilan?” Tanya wanita itu memastikan

“Apa ada yang seperti itu?” Tanya Jaejoong polos

“Kau ini polos sekali, tentu saja yang seperti itu ada, jika kakakmu selalu muntah-muntah setiap pagi mungkin saja memang sedang hamil” jawab wanita itu berjalan menjauhi Jaejoong dan mengambil sesuatu dari lemari kaca dibelakangnya

“Ini dia” ucap wanita itu lagi berjalan kembali kearah Jaejoong dan menunjukkan alat itu padanya

“Ini?” Tanya Jaejoong ragu

“Ya, ini dia. Kakakmu cukup membaca cara pemakaiannya dan hasilnya pasti akan keluar” jelas wanita itu

“Tapi alat ini belum pasti benar 100%, setelah mencobanya kakakmu juga harus mengunjungi dokter untuk hasil yang lebih pasti”

“Umm… Terima kasih noona” angguk Jaejoong memasukan alat itu kedalam tasnya dan membayarnya lalu berjalan pulang

“Kalau orang-orang melihatnya memegang benda itu pasti mereka akan mengira dia telah menghamili pacarnya” gumam wanita tadi melihat kepergian Jaejoong

 

Jaejoong menaiki bus kecil untuk pulang ke rumahnya, setelah tiba di perhentian kedua Jaejoong segera turun dari bus kecil itu dan berjalan menuju rumahnya yang memang sudah dekat. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perasaan apapun, tidak ada yang bisa menebak apa isi pikirannya saat ini

 

Setelah tiba di depan rumah, Jaejoong melihat ferari hyungnya sudah terparkir di depan rumah, tumben hyungnya pulang lebih awal hari ini. Jaejoong membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk

 

“Kenapa baru pulang sekarang, Jae?” suara Yunho mengagetkannya

“Ah Hyung, tadi aku mampir sebentar untuk membeli sesuatu” jawab Jaejoong

“Syukurlah, aku pikir terjadi apa-apa denganmu” ucap Yunho memeluk adik yang dicintainya itu

“Kenapa Hyung juga sudah pulang?” Tanya Jaejoong balik menatap Yunho

“Tadi Appa menelepon dan mengatakan akan pulang besok, jadi pekerjaan di kantor bisa di tunda dulu”

“Umma juga ikut kan?”

“Tentu saja”

“Kalau begitu aku ganti pakaian dulu, Hyung” ucap Jaejoong melepaskan pelukan Yunho

“Sebelum itu… Selamat datang” sahut Yunho mengecup perlahan bibir Jaejoong

“Aku pulang” balas Jaejoong tersenyum dan berlari menuju kamarnya

 

Dengan segera Jaejoong berlari menuju kamar mandi yang berada di kamarnya sambil meleparkan tasnya keatas ranjangnya, tidak lupa ia mengambil alat yang dibelinya di toko tadi lalu menutup pintu kamar mandi. Jaejoong membaca cara pakai alat itu dan mulai melakukan apa yang diperintahkan

 

Setelah menunggu beberapa lama, dengan gugup Jaejoong mulai membuka alat itu lagi dan melihat hasilnya

 

“Jika garisnya satu berarti tidak, jika garisnya dua berarti iya” gumamnya menutup mata dan mulai mengeluarkan alat itu dari plastiknya. Jaejoong melihat garis merah yang terlihat di alat itu dan…

“Hyungggggg…!” Teriaknya berlari kebawah dan langsung memeluk Yunho yang berada di ruang tengah lalu membenamkan wajahnya di dada Yunho

“Ada apa, Jae?” Yunho merasakan pakaian atasnya mulai basah

“Jae, ada apa denganmu? Kenapa menangis?” Tanya Yunho merasa kuatir pada adiknya itu

“Hyung…” Jaejoong mangangkat wajahnya dari dada Yunho dan menatapnya

“Jae” Yunho sangat terkejut melihat mata Jaejoong yang sembab dan penuh dengan air mata

“Ada apa, Jae-ah?” tanyanya dengan nada lemah mengangkat wajah Jaejoong dengan sebelah tangannya

“Hyung… ini…” jawab Jaejoong menunjukkan alat tes kehamilan itu pada Yunho

“Ini…” Yunho mengambil alat itu dengan wajah terkejut

“Dulu Umma pernah bilang saat Bibi sering muntah-muntah di pagi hari dan menyuruh beliau mencoba memakai ini… dan aku… Hyung” Jaejoong bingung bagaimana mengatakannya

“Jadi, Jae kau positif?” Tanya Yunho memastikan

“Aku sudah mencobanya berkali-kali dan hasilnya sama Hyung, selalu ada dua garis”

“Jae…” Yunho langsung memeluk erat tubuh Jaejoong yang gemetaran

“Aku akan bertanggungjawab Jae, karena dia pasti anakku” ucap Yunho meyakinkan Jaejoong

“Tapi bagaimana dengan Umma dan Appa, Hyung. Mereka pasti akan tahu dengan hubungan kita selama ini” takut Jaejoong

“Aku yang akan memikirkan itu, sekarang kau harus istirahat, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan bayiku” senyum Yunho

“Tapi Hyung, aku masih sekolah. Bagaimana kalau sampai ketahuan?” Jaejoong tetap tidak mampu menghilangkan rasa takutnya

“Kau kan sudah kelas tiga saat ini dan sebentar lagi kau akan ujian akhir, jadi saat perutmu membesar kau sudah tidak ada di sekolah itu lagi”

“Eumm…” angguk Jaejoong masih dalam dekapan Yunho

“Tidak ku sangka aku akan memiliki anak di usia muda seperti ini” gumam Yunho

“Aku yang seharusnya berkata seperti itu Hyung-ah. Hyung sudah cukup dewasa untuk memiliki anak, usia Hyung kan sudah 23 tahun, sedangkan aku baru saja masuk 18 tahun tapi sudah hamil”

“Itu anugrah untukmu Jae-ah. Ternyata apa yang Umma ketakan benar, kau memiliki rahim didalam tubuhmu. Hahh- harusnya kita tidak melakukannya malam itu, semua salahku” sesal Yunho

“Tidak, itu bukan salah Hyung, aku juga ingin melakukannya” jawab Jaejoong langsung

“Sepertinya aku telah meracuni pikiran polosmu, Jae” sesal Yunho lagi

“Tapi aku menyukai sikap terbuka Hyung” senyum Jaejoong

 

Sikap terbuka dan saling percaya adalah dua hal yang sangat dibutuhkan untuk menjalankan sebuah hubungan dan mempertahankan hubungan itu, apapun yang berada dalam hati dan pikiran seharusnya tetap diungkapakan dan jika mendapatkan masalah dalam perjalanannya, bukankah bisa diselesaikan bersama

 

Jaejoong terbangun dari tidurnya merasakan gerakan pelan disisi tubuhnya, walalupun pagi ini cahaya Sang Surya tak terlihat sama sekali karena tertutup awan kelabu yang masih menitikkan butiran air bening. Namun kelam alam diluar sana tidak menyurutkan senyum yang masih terpancar di wajahnya sejak kemarin, senyum kebahagiaan mengingat bahwa saat ini ia memiliki sesuatu yang dalam tubuhnya, sesuatu yang menjadi bukti rasa cinta hyungnya pada dirinya

 

Walaupun sebenarnya, tetap pikiran menakutkan tentamg bagaimana sikap orangtua mereka ketika mengetahui hubungannya dengan hyungnya yang jelas-jelas salah, selain karena mereka berdua sama-sama laki-laki… ditambah dengan keadaan mereka yang merupakan saudara sedarah. Tapi siapa yang bisa menolak hadirnya cinta, cinta bukanlah sesuatu yang bisa diatur dan ditentukan… namun apakah kehadirannya akan tetap dipertahankan ataukah dibiarkan, itulah yang menjadi pilihan

 

Jaejoong merasakan sentuhan ditubuhnya semakin menguat dan ia merasa tertarik menuju tubuh kekar disisinya, dengan perlahan Jaejoong memperhatikan wajah pria yang masih menutup matanya namun dengan senyum diwajahnya

 

“Hyung, kau sudah bangun kan?” ucapnya mengusap perlahan rambut kecoklatan milik Yunho

“Mhmm… aku masih ingin bermalas-malasan, Jae, ini kan hari libur” gumam Yunho pelan dengan suaranya yang masih seperti tertidur

“Tapi bukankah Umma dan Appa akan pulang hari ini dan kita harus menjemput mereka”

“Kau benar…” sahut Yunho membuka matanya

“Tapi Umma dan Appa akan sampai nanti sore, kita masih bisa istirahat sebentar” tambahnya kembali memejamkan kedua matanya

“Hyung… kita harus membersihkan rumah dulu, nanti Umma marah jika melihat rumah berantakan seperti itu” paksa Jaejoong

“Umm… baiklah, aku sudah bangun” ucap Yunho terpaksa dan kembali membuka kedua matanya lalu duduk bersandar di kepala ranjang

“Bersihkan dirimu Jae” titah Yunho

“Eumm…” Jaejoong mengangguk dan beranjak menuju kamar mandi di kamarnya

“Ah- kenapa hari ini rasanya malas sekali untuk melakukan apapun” gumam Yunho dan kembali membaringkan dirinya di ranjang namun tetap membuka matanya

“Sepertinya aku melupakan sesuatu…” pikir Yunho pada dirinya sendiri

“Ah… Benar! Bukankah Jaejoong sedang hamil? Bodoh! Kenapa aku malah membiarkannya berjalan sendiri” marahnya pada diri sendiri sambil memukul dirinya

“Hyung, kenapa masih berbaring?” Tanya Jaejoong yang sudah selesai membersihkan dirinya

“Jae… Kau tidak apa-apa?” Tanya Yunho menatap Jaejoong panik

“Memang aku kenapa, Hyung?” bingung Jaejoong berjalan mendekati Yunho

“Kau kan sedang hamil, harus lebih hati-hati” balas Yunho memeluk Jaejoong yang sudah duduk disisi ranjang

“Aku tidak apa-apa Hyung, lagi pula kata kakak penjaga toko obat-obatan itu kita harus memeriksanya ke dokter dulu baru mendapatkan hasil yang pasti”

“Tapi aku yakin kau memang sedang hamil, Jae, karena menurut pengalaman orang yang sedang hamil itu wajahnya semakin berseri dan menarik” ucap Yunho menghirup aroma vanilla dari lekuk leher adiknya

“Kau ingin menggodaku, Hyung” senyum Jaejoong merasakan panas diwajahnya

“Tidak, aku hanya berkata jujur”

“Sudah Hyung, sekarang Hyung juga bersihkan diri dan kita sama-sama membersihkan rumah” titah Jaejoong

“Sebelum itu…” Yunho membalikan wajah Jaejoong menatapnya

“Aku ingin ciuman selamat pagi dulu” lanjutnya mengecup cepat bibir Jaejoong dan Jaejoong hanya tersenyum lalu beranjak keluar kamar

 

Yunho membawa dirinya menuju kamar mandi dan segera membersihkan dirinya, tubuhnya terasa sedikit lengket karena hal yang dilakukannya semalaman penuh dengan adiknya tersayang. Yunho sangat menyadari kesalahan besar yang dilakukannya, namun ia juga tidak bisa melepaskan diri dari kebahagiaan yang lebih besar yang diberikan Jaejoong baginya

 

Setelah selesai dengan semua urusannya, Yunho berjalan ke bawah untuk membantu adiknya membersihkan rumah yang sudah dirusaknya selama orang tua mereka tidak ada. Yunho melihat Jaejoong mencoba menyeimbangkan bingkai foto keluarga mereka yang sedikit miring dengan naik diatas kursi kayu

 

“Jae! Apa yang kau lakukan?” Tanya Yunho langsung berlari menuju Jaejoong dan memegang pinggang Jaejoong kemudian membawanya turun dari kursi itu

“Aku hanya ingin membenarkan letak foto keluarga kita Hyung” jawab Jaejoong polos mengedip-ngedipkan kedua matanya bingung

“Kau ini, kau kan sedang hamil, jangan lakukan perkerjaan yang berat, biar aku yang lakukan ini, kau hanya cukup membersihkan beberapa perabot saja dengan kain itu” ucap Yunho cepat sambil menunjuk kain kuning yang terletak diatas meja kecil di depan televisi

“Hyung…” melas Jaejoong

“Oh ya, nanti setelah menyelesaikan ini semua kita ke rumah sakit ya” tambah Yunho melihat Jaejoong yang berjalan menuju ruang tengah

“Untuk apa Hyung?” bingung Jaejoong yang sudah memegang kain kuning itu menatap Yunho

“Memeriksa kehamilanmu tentu saja” jawab Yunho

“Baiklah, aku juga ingin tahu” balas Jaejoong antusias

 

Mungkin saat ini semuanya terlihat baik-baik saja. Siapa yang akan percaya melihat kehidupan sempurna dari keluarga ini, Tuan Jung yang sangat berwibawa juga istrinya yang sangat memahami kebutuhan keluarga juga ditambah dua orang anak laki-laki yang sangat tampan dan baik hati. Jung Yunho berusia 23 tahun yang kini meneruskan perusahan ayahnya dan megawasi perusaan di tempat mereka tinggal sekarang dan anak kedua Jung Jaejoong walaupun usianya yang masih 18  tahun, namun ia sudah memberikan banyak kebanggaan bagi keluarga dan sekolahnya dengan prestasinya

 

Namun tidak ada yang tahu keakraban apa yang dijalin oleh dua saudara ini, setiap orang akan melihat Yunho sebagai kakak yang sangat melindungin adiknya yang manis tanpa tahu arti dari semua perhatian dan perlindungan yang diberikan Yunho padanya. Jaejoong, kepolosannya dan sifatnya yang masih belum dewasa membuat siapa saja akan percaya dengan ketergantungannya pada sang kakak. Tapi, justru itulah yang menjadi tali pengikat yang lebih kuat bagi keduanya dari hanya sekedar saudara sedarah

 

Seperti apa yang dikatakan Yunho, setelah selesai membersihkan seluruh rumah yang cukup besar itu, Yunho dan Jaejoong pergi menuju rumah sakit yang bukan biasa dikunjungi oleh keluarga mereka, tentu saja untuk menutupi apa yang terjadi. Setelah tiba di Sejong General Hospital, Yunho membawa Jaejoong menemui dokter kandungan yang memang ada disana

 

“Selamat pagi Dok” sapa Yunho yang sudah masuk kedalam ruangan khusus itu dan duduk mengahadap pria yang masih terbilang cukup muda

“Selamat pagi” sapa pria itu pada Yunho

“Saya Jung Yunho yang tadi membuat janji dengan Anda” ucap Yunho sambil membawa Jaejoong untuk duduk disisinya

“Ah- iya, ada yang bisa saya bantu?” Tanya pria itu

“Tentu saja, saya ingin Anda memeriksa Jaejoong” jawab Yunho mengajak Jaejoong untuk menatap pria itu

“Emm… Maaf Tuan, sebelumnya Anda tahu ini tempat apa bukan?” Tanya pria itu lagi yang bingung menatap Yunho dan Jaejoong bergantian

“Tentu saja saya tahu, justru karena itu saya kemari” jawab Yunho mantap

“Tapi, bukankah…” balas Pria itu ragu

“Oh…” akhirnya Yunho mengerti apa maksud dokter muda itu

“Kami tahu itu Dokter… dan kedatangan kami kemari memang untuk hal yang Anda pikirkan, juga soal Jaejoong, ini adalah hal istimewa darinya” Jaejoong terlihat tersenyum mendengar ucapannya hyungnya yang menyatakan dirinya istimewa bukan aneh atau berbeda

“Maksud Anda?”

“Ya, Jaejoong bisa mengandung dan melahirkan seperti wanita pada umumnya, menurut dokter keluarga kami Jaejoong memiliki rahim dalam tubuhnya”

“Benarkah?!” takjub dokter itu

“Anda tidak percaya?” Tanya Yunho dengan nada ketus

“Bukan tidak percaya. Saya memang pernah mendengar tentang kasus seperti ini, tapi jika melihatnya secara langsung, baru saat ini dan… ini mengagumkan” senang dokter itu

“Kami juga belum terlalu yakin dengan kehamilannya, karena kami baru memeriksanya dengan alat periksa kehamilan, karena itu kami ingin Anda memeriksanya kembali”

“Baiklah, kalau begitu Anda bisa berbaring di ranjang itu” ucap dokter itu membawa Jaejoong untuk berbaring di ranjang putih disisi ruangan itu

“Hyung…” ucap Jaejoong yang terlihat agak takut lalu membaringkan dirinya diatas ranjang itu

“Tenang Jae, aku selalu disisimu” balas Yunho tersenyum sambil menggenggam erat lengan adiknya itu

 

Dokter muda itu memeriksa hampir seluruh tubuh Jaejoong, ia memgang lengan Jaejoong untuk memriksa detak nadinya disana lalu mendengarkan detak jantung Jaejoong tentu saja, juga beberapa hal yang hanya orang-orang seperti dirinya yang mengetahui apa maksud dari semuanya

 

Setelah ia siap memeriksa seluruhnya, ia kembali meminta Jaejoong untuk turun dari ranjang dan mereka kembali ke meja dokter itu

 

“Bagaimana hasilnya?” Tanya Yunho antusias

“Saya harus memeriksanya kembali sekitar 30 menit, jika tidak keberatan Anda berdua bisa menunggu disini” jawab dokter itu

“Kami akan menunggu” balas Yunho yang merasakan sentuhan lembut di jemarinya dan melihat dokter itu berjalan keluar ruangannya

“Bagaimana menurutmu, Hyung?” Tanya Jaejoong setelah memastikan dokter itu sudah benar-benar keluar

“Bagaimana apanya Jae?” bingung Yunho

“Bagaimana jika hasilnya aku benar-benar hamil?” Tanya Jaejoong lagi

“Bukankah itu bagus” balas Yunho

“Tapi… Bagaimana dengan Umma dan Appa? Bagaimana jika mereka tahu? Mereka pasti akan melihat perutku yang akan membesar”

“Itu bisa kita pikirkan nanti Jae, yang penting saat ini kau mengandung anakku dan itu adalah kabar bahagia” ucap Yunho memeluk Jaejoong untuk meyakinkannya

“Hyung senang?” ucap Jaejoong memeluk Yunho erat

“Apa maksudmu? Tentu saja aku senang. Di dalam perut ini ada bagian diriku” sahut Yunho mengusap perlahan perut Jaejoong yang masih rata

“Kau tahu, bahkan sejak kecil saat aku pertama kali tahu bahwa kau memilki kemungkinan untuk hamil, aku sudah berjanji pada diri sendiri bahwa aku yang harus menjadi orang tua yang satunya lagi untuk anak itu selain dirimu” tambah Yunho merengangkan pelukannya dan menatap Jaejoong

“Bukankah itu sepuluh tahun yang lalu Hyung, dan usia Hyung saat itu masih 13 tahun”

“Kau masih ingat, Jae”

“Berarti Hyung sudah menyukaiku sejak dulu?” Tanya Jaejoong takjub

“Sebenarnya bahkan sejak kau dilahirkan aku sudah menyukaimu Jae, salahkan wajahmu yang terlalu manis. Hanya kau saja yang baru menyukaiku sejak kau masuk sekolah menengah, kan” sedih Yunho sedikit memajukan bibirnya seperti anak kecil

“Engg… Sebenarnya… Hyung… aku menyukai Hyung sejak Hyung membantuku memukul orang-orang yang mencoba mencuri uangku saat itu”

“Mhmm…” Yunho mencoba menyatukan ingatannya untuk mengingat kejadian yang diucapkan adiknya tadi

“Ah- bukankah itu saat kau masih kelas satu Jae?” Tanya Yunho meyakinkan dan Jaejoong hanya mengangguk malu

“Ternyata kau juga sudah menyukaiku sejak lama dan kita baru menjalin hubungan ini saat kau sudah masuk sekolah menengah atas” sesal Yunho

“Saat itu aku masih takut dengan pandangan Umma dan Appa” sesal Jaejoong

“Dan aku terlalu takut untuk menyakiti hatimu yang terlalu baik” tambah Yunho

“Tapi yang penting saat ini kita sudah bersama dan aku akan mendapatkan seorang anak darimu sesuai dengan mimpiku selama ini” lanjut Yunho dengan wajah berseri

“Eumm…”

 

Tanpa mereka sadari waktu setengah jam telah berlalu dan dokter muda tadi telah kembali ke ruangannya lalu duduk di kursi depan Yunho dan Jaejoong, menatap keduanya

 

“Bagaimana hasilnya Dokter?” Tanya Yunho langsung

“Saya sudah melakukan beberapa pemeriksaan… dan hasilnya positif, Tuan Jung Jaejoong sedang mengandung satu bulan”

“Benarkah” kaget Jaejoong yang dari tadi hanya diam

“Ya, selamat Tuan Jung” balas dokter itu tersenyum

“Hyung…” ucap Jaejoong lembut menatap Yunho disisinya”

“Ya Jae, aku mendengar semuanya” sahut Yunho yang langsung memeluk tubuh indah itu yang langsung dibalas Jaejoong

“Terimakasih” ucap keduanya dalam pelukkan mereka

 

To be Continued

*bows

Sankyuu… Arigatou na

Buat yang udah mampir n baca ff ini

Jaehan sangat menantikan comments dan like dari para reader sekalian, biar Jaehan tau berapa orang yang udah baca ff ini

Sampai ketemu di ff selanjutnya ^^

11 thoughts on “Yunjae :: Crazy Love Chap. 1

  1. speechless…keeerenn deh ide ny…

    gimana nih tar tanggapan umma-appa jung???

    bukan sad ending kan???

  2. Itu yunjae beneran saudara sedarah 1org tua.ya gmn tuh reaksi umpa yunjae pst marah besar yg ptg jgn pisahin yunjae aja.

  3. haduh gimana nich Jae bnr” hamil, seneng sih tp juga takut mikir apa yg bakal dilakukan ortu mrk kl tahu anaknya punya hubungan terlarang.
    apa Jae ma Yun bnr” saudara kandung? kl bnr brarti ada kemungkinan nanti bayinya bakal cacat donk.
    ah please jgn sad ending y?

  4. seneng klo yunjae mau punya anak
    tapi gmn ama umma appa nya?
    author penasaran niyyy
    next chapt!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s