Yunjae :: Love Spell Chap. 3


LOVE SPELL

Author: Me a.k.a Jaehan KimYunjae – @yunjaehan

Pairing: Yunjae

Length: 3/?

Rating: T

Genre: Romance / Fluff / Humor / Drama

Cast:  

Kim Jaejoong

Jung Yunho 

others

 

DISCLAIMER:

I don’t own Yunjae. They own each other but I hope I can own them. ©Hakusensha, Inc., Tokyo, by. Matsuri Hino

WARNING!!!

This is YAOI fanfic means boy x boy story, so if you can’t take it just leaves already. I don’t wanna hear bad comments.I don’t care with your comments

 

a/n:

Minna… gomen na

Ini pertama kalinya Jaehan bikin f adaptasi dari manga, dan teryata susah banget… bener-bener ga banget hasilnya

Dan yang chap 2 kemaren ada kesalahan, nagpai coba Jaejoong di toilet wanita?? Lolololol

Udah Jaehan benerin, kalo mau baca ulang silahkan^^

 

Chapter 3

The Order

Happy Reading^^

 

Suatu permohonan dan suatu perintah adalah dua hal yang berbeda, permintaan tolong tidak memberikan ketegasan untuk melakukan bagi orang yang mendapatkan permintaan itu, namun perintah memiliki arti yang sangat tegas untuk melaksanakannya

 

Inilah yang menjadi takdir bagi keluarga Jung, sebagai seorang pelayan yang setia. Maka demi menjaga kesetiaan pada majikan, saat keluarga Kim memberikan perintah padanya, seorang Jung harus menjalankannya walaupun harus mati karenanya. Sebab itu, sejak kecil Jaejoong selalu diingatkan oleh Ayahnya untuk jangan pernah sekali pun memberikan perintah pada seorang Jung, inilah yang selalu Jaejoong ingat hingga saat ini

 

“Tuan muda, suruh saja pelayan yang bekerja” pinta Yang Hyun pada Jaejoong yang sejak pagi tadi sibuk membersihkan rumah

 

Hari ini adalah hari libur bagi Jaejoong dan Yunho, tidak ada sekolah dan kuliah. Sejak bangun pagi tadi Jaejoong tanpa henti membersihkan seluruh bagian dari kediaman keluarga Jung untuk menghabiskan waktu, ia merasa bosan tidak melakukan apapun di rumah besar ini, hanya duduk diam dan melamun. Karena itulah, Jaejoong akhirnya menyibukkan dirinya membersihkan seluruh rumah, tidak satu pun pelayan yang dibiarkan membantunya mengerjakan apapun

 

“Saat aku di Jepang, aku sering melakukannya. Tidak masalah, Paman tenang saja” jawab Jaejoong tersenyum sambil membesihkan beberapa perabot dengan pembersih debu di kamarnya

“Saat Tuan besar masih hidup, ada sepuluh pelayan, sekarang semua pelayan dan tukang kebun hanya datang sekali dalam seminggu. Hamba juga tidak berdaya” sesal Yang Hyun mengingat permintaan Tuan mudanya itu

“Paman Jung jangan bicara seperti itu, baiklah kalau begitu bagaimana kalau Paman membersihkan perpustakaan?” saran Jaejoong untuk menyenangkan hati pria tua itu

 

Yang Hyun segera berlari menuju perpustakaan keluarga Jung dengan sangat cepat untuk melakukan keinginan Jaejoong dengan wajah ceria dan senyum merekah. Tampaknya masa kanak-kanak Jaejoong yang ia habiskan di Jepang dalam sebuah kedai sederhana telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri. Ia bukanlah Tuan muda yang manja dan sesuka hati dalam melakukan apapun, Jaejoong tumbuh menjadi pria muda yang dewasa dan berhati mulia, sangat berbeda dengan Jung Yunho.

 

“Yunnie” panggil Jaejoong dari dalam kamarnya saat melihat Yunho yang menumpu lengannya pasrah didepan pintu kamar

“Tuan muda…” jawab Yunho berbalik menatap Jaejoong yang memegang alat pembersih lantai

“Mhmm… Itu…” bingung Jaejoong menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal

“Maaf kemarin aku terlalu berlebihan” ucapanya kuat menundukkan tubuhnya meminta maaf dihadapan Yunho

“Habisnya aku tidak tahu harus berkata apa lagi…” lanjut Jaejoong tertawa kaku

“Jauh seperti ini tidak enak bicaranya” tambahnya mengakhiri ucapannnya

“Karena kemarin kau berpesan tidak boleh mendekati… Aku tidak bisa menolak perintahmu” balas Yunho menggangguk membenarkan ucapannya sendiri

“Bukan! Kemarin itu bukan perintah” teriak Jaejoong cepat mencoba mendekati Yunho

“Ah…” namun seperti biasa Jaejoong yang ceroboh menyandung ember kecil dikamarnya dan terjatuh dengan wajahnya terlebih dahulu

“Hampir saja” dengan sigap Yunho menahan tubuh Jaejoong yang hampr terjatuh hingga akhirnya keduanya berakhir diatas lantai marbel hitam itu dengan Jaejoong berada diatas tubuh Yunho, Yunho mencoba mengangkat tubuhnya yang tertimpa tubuh Jaejoong dan melihat wajah pria manis itu

“Wajahmu sakit?” Tanya Yunho mencoba mengangkat wajah Jaejoong

“Tidak apa-apa” jawab Jaejoong pelan

“Kau yakin, Tuan muda?” Tanya Yunho lagi menyentuh wajah yang menghangat itu dengan lengan kanannya

“Kemarin…” Yunho bernicara dengan suara rendah, dan debaran jatung Jaejoong mulai tak beraturan, napasnya tertahan

“Yang ku katakan kemarin, tidak akan ku tarik kembali” ujar Yunho membawa Jaejoong dalam dekapannya, mengambil kesempatan atas keadaan saat ini

 

Debaran itu kembali, debaran aneh di hati Jaejoong yang hanya ia rasakan saat Yunho memberikan perlakuan yang berbeda padanya. Perasaan hangat yang muncul dalam hatinya saat Yunho menyentuhnya, bahkan saat ia tak melihat wajah pria tampan itu, Jaejoong akan selalu mengingat wajah Yunho yang selalu bersamanya

 

“Kau pasti sangat membenciku sekarang, aku telah membuatmu bingung” lirih Yunho yang tidak mendapatkan balasan apapun dari Tuan mudanya itu

 

Jaejoong hanya diam tanpa membalas ucapan Yunho, ia bingung, entah perasaan apa yang dirasakannya saat ini. Namun sebuah kepastian, ia merasakan kebahagiaan yang berbeda saat Yunho bersikap seperti saat ini. Ia terdiam dalam dekapan hangat itu beberapa lama hingga Jaejoong mulai mengatakan maksudnya

 

“Yunnie! Aku tidak membencimu, aku malah sangat menyukaimu! Aku sangat menyukaimu, Yunnie! Sangat suka” balas Jaejoong berulang-ulang dan mencoba melonggarkan dekapan Yunho ditubuhnya

“Jadi… Aku…” lanjutnya terbata menatap Yunho yang tidak percaya mendengar ucapannya, wajahnya sudah sangat memerah setelah mengucapkan kata suka itu

“Syukurlah… Ternyata kau tidak membenciku… Syukurlah…” balas Yunho menarik napas lega

 

Walaupun perasaan yang sesungguhnya itu telah diutarakan, namun kekhawatiran Jaejoong tetap tidak sirna sama sekali. Apakah Yunho tulus mengatakan semuanya, atau itu semua hanya pengaruh dari mantra? Suatu hari nanti, saat mantra itu telah benar-benar hilang, apakah Yunho akan tetap menerimanya? Kekhawatiran akan ditinggalkan, menjadikan keyakinan untuk menerima semua perasaan itu sirna

 

“Maaf Jae, ku mohon… Jangan menatapku seperti itu. Sifat ‘hamba’ bisa kambuh lagi…” pinta Yunho terbata setelah cukup lama menahan mantra itu untuk tidak keluar, tubuhnya bergetar hebat

“Yunnie…”

“Hamba sangat bahagia! Hamba akan melayani Anda seumur hidup!” pertahannya runtuh, Yunho berikrar sambil menggenggam kedua lengan Jaejoong

“Yunnie! Tidak boleh mendekat! Terlalu berbahaya. Kumohon kembalilah seperti biasa” ucap Jaejoong sambil memukul-mukul kepala Yunho untuk mengembalikan kesadarannya

“Maaf… Kambuh lagi. Memang lebih baik kita tidak berdekatan” ucap Yunho lemah, perlakuan Jaejoong memang berhasil menyadarkannya

“Maaf, aku telah memukulmu” pinta Jaejoong mengepalkan kedua lengannya menunduk sedih menyesal telah memukul Yunho dan meminta maaf padanya

“Lebih baik aku pergi saja, sampai jumpa” ucap Yunho tersenyum pada Jaejoong dan berjalan keluar dari kamar Jaejoong

“Tunggu Yunnie!” Jaejoong menahannya dan melepaskan anting hitam kecil yang berada di telinga kanannya

“Ini, ambilah. Saat kau kambuh, lihatlah anting ini dan ingatlah aku. Mungkin bisa membantu” ucap Jaejoong tulus, tersenyum pada Yunho

“Aku akan sangat senang jika kau mau menerimanya” tambahnya sambil menyerahkan anting itu pada Yunho

“Terima kasih Jaejoong” jawab Yunho mengambil anting hitam itu dan meninggalkan kamar besar milik Jaejoong

 

Yunho berjalan perlahan menjauhi kamar Jaejoong, setelah cukup jauh dari kamar Jaejoong, Yunho berhenti sejenak dan terdiam, lengannya menggenggam erat anting hitam pemberian Jaejoong, ia merasakan benar ketulusan yang Jaejoong berikan, namun wajahnya tertunduk lesu

 

“Kenapa harus anting kanan?!” sesalnya tetap menggenggam erat anting itu

“Padahal di anting kanan ini aku telah menaruh alat penyadap untuk melindungi majikan!” erangnya

“Tapi… Rasanya senang sekali” Yunho menyentuhkan anting hitam itu diwajahnya dengan penuh keharuan

“Tuan muda, ketulusan hatimu akan ku jaga baik-baik” tekadnya pada diri sendiri mengingat kepolosan Jaejoong saat menyatakan suka padanya

“Padahal aku seorang yang egois dan selalu mementingkan diri sendiri…” Yunho sadar kejahatan dirinya

“Jaejoong-ah… yang mengendalikanku bukanlah mantra, melainkan dirimu…” gumam Yunho

“Uugh… Bagaimana aku harus bersikap untuk menghadapinya? Besok adalah hari senin, menyusup masuk ke sekolah saja? Tidak, tidak, tidak baik! Tapi aku sangat khawatir” ia kembali berperang dengan dirinya sendiri

“Tidak bisa mengambil keputusan?! Memalukan!” ejek Yang Hyung yang melintas sambil membawa tumpukan buku dari perpustakaan

“Bukan urusan mu!” teriak Yunho kesal mendengar hinaan Ayahnya itu

“Tetap tenang, jenius, dan punya kepandaian. Itu adalah prinsip dasar pengurus rumah tangga” lanjut sang Ayah yang terus berjalan

“Kepandaian… Benar juga, lebih baik aku kembali ke kampus” gumam Yunho mendengar ucapan Ayahnya

 

Setelah kehadiran Jaejoong, pikiran Yunho hanya terpusat pada pria muda itu tanpa mencoba untuk memikirkan hal lain. Ia melupakan semua hal dan hanya mengingat Jaejoong. Namun ucapan Ayahnya telah menyadarakannya kembali dan memulai aktivitasnnya dulu yang sempat tertunda

 

“Jaejoong, apa kau sudah mengerti? Pegang janji mu” tegas Yunho yang berjalan dibelakang Jaejoong, mengikutinya

 

Yunho tetap mengantar Jaejoong menuju sekolah. Sesuai ucapannya, mulai hari ini Yunho kembali melanjutkan kuliahnya namun tetap tidak dengan membiarkan Jaejoong pergi seorang diri ke sekolahnya

 

“Kalau ada apa-apa segera hubungi aku” pinta Yunho tegas, Jaejoong berbalik untuk menatapnya yang berada cukup jauh dibelakangnya

“Iya, aku mengerti” jawab Jaejoong untuk menenangkan hati pria tampan itu

“Selamat belajar ya” lanjutnya tersenyum pada Yunho dan berjalan menuju kelasnya

“Tentu saja, kau juga Jae…” teriak Yunho dan tersenyum melihat kepergian Jaejoong dan berbalik menuju kampusnya

“Tapi aku masih khawatir” gumamnya kembali berbalik untuk menyusul Jaejoong

“Yunho! Tidak boleh. Kau harus berjalan kearah sini” seru seorang wanita menarik lengan kiri Yunho

“Tuan mudamu minta tolong padaku untuk menjagamu” senyum wanita itu

“Rella, kau…” geram Yunho melihat sahabatnya itu

“Baiklah, ayo kita pergi” tegas Rella dan menarik Yunho menuju kelas mereka

“Tuan Putri jaga dirimu!” teriak Yunho lagi pada Jaejoong yang sudah tidak terlihat olehnya

.

.

.

 

Kelas sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu, dan selama itu pula Yunho sama sekali tidak dapat berkonsentrasi menerima semua penjelasan yang didengarnya, otaknya hanya dapat memikirkan satu hal saat ini, Jaejoong. Bagaimana Jaejoong di kelas? Apa yang akan terjadi jika Jaejoong tidak memiliki teman di kelasnya? Adakah yang mencoba mengganggunya? Dan semua pemikiran buruk lainnya

 

Tanpa Yunho sadari, Jaejoongnya itu justru tidaklah selugu yang ia pikirkan, saat ini pria cantik itu justru yang bergantian menguntit Yunho dan melihat dirinya diam-diam yang sedang berada di kelasnya. Jaejoong menyelinap menuju komplek kampus dan melihat Yunho yang sedang belajar melalui jendela samping yang menghadap taman

 

“Jadi penasaran… sepertinya biasa saja…” gumam Jaejoong memperhatikan tingkah Yunho yang sepertinya sedang serius

“Biasa? Iya… Aku hampir tidak pernah melihat Yunho yang normal, inilah Yunho yang sesungguhnya” lanjutnya memperhatikan pria tampan itu

 

Tentu saja, Yunho yang saat ini dilihatnya sangat jauh berbeda dengan Yunho yang sedang berada dalam kendali mantra saat bersama dirinya. Yuho terlihat sangat normal dan seperti orang kebanyakan yang itu jarang sekali ia lihat ketika keduanya sedang bersama. Kadang Jaejoong sangat merindukan kehidupan normal itu saat bersama Yunho.

 

Jaejoong terus saja memperhatikan pria tampan yang sedang beropang dagu itu, pandangan Yunho sepertinya sedang tidak focus kali ini, ia terus menggelengkan kepalanya atau kadang memukul-mukul kepalanya lalu menopangnya di meja, Jaejoong tersenyum melihat tingkah pria berwajah kecil itu hingga sebuah dering ponsel menyadarkannya

 

“Tekan tombol yang mana?” bingungnya melihat banyak tombol di benda itu

 

Dengan segala kecemasan dalam dirinya, Yunho tanpa merasa takut pada dosen yang sibuk menjelaskan tugas dihadapannya segera menghubungi Jaejoong untuk memastikan keadaanya, dan tanpa mengetahui apapun Jaejoong berhasil menekan sebuah tombol berwarna hijau yang menyambungkan hubungan itu

 

“Yunho… Apa yang sedang kau lakukan? Dengarkan dengan baik” Rella yang duduk disisnya melihat tingkah aneh pria itu

“Tidak… Tidak ada…” gugup Yunho mencoba menyembunyikan ponselnya

“Hei… Kembali ke tempat mu, aku mau belajar” lanjut Yunho sedikit terbata saat Rella mencoba menghampirinya

“Hei Yunho, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Aku kan sahabatmu” pinta gadis itu menatap Yunho penuh selidik, sedangkan Yunho tertunduk ragu

“Akan kuceritakan garis besarnya saja…” jawab Yunho setelah berpikir cukup panjang untuk menceritakannya atau tidak, tanpa menyadari sambungan ponselnya dengan Jaejoong yang masih terhubung

“Leluhur kami terkena kutukan” yunho mulai menjelaskan pada sahabatnya itu

“Apa? Kutukan?” kaget Rella mendengar hal yang biasa ada dalam cerita dongeng ada didepan matanya saat ini

 

Yunho menceritakan semuanya, asal muasal kutukan, kenapa seluruh keluarga Jung yang mendapatkan kutukan itu, sampai hal-hal yang dapat memunculkan kutukan, juga Jaejoong yang selalu berusaha membantunya untuk menghilangkannya, namun kutukan itu tidak ada yang tahu bagaimana menghilangkannya

 

“Ini bisa dibilang menguping, walaupun tidak baik… Yunho-ah, aku pikir ini rahasia kita berdua…” gumam Jaejoong lemah setelah mendengar percakapan Yunho dengan Rella di ponselnya

“Jadi… kena kutukan?” lanjut Rella memastikan

“Iya, begitulah. Selama ini aku menginginkan harta keluarga Kim, menunggu sampai kabar kematian mereka tersiar” ujar Yunho penuh penyesalan

“Ah…” Jaejoong tersentak dibalik ponselnya mendengar ucapan Yunho

“Yunho, yang kau katakan barusan… Apakah itu benar?” lirih Jaejoong melalui ponselnya pada Yunho

“Yunho…” tambahnya lemah

“Jaejoong!” Yunho tersadar dengan kecerobohannya dan mencari keberadaan Jaejoong, hingga ia melihat Jaejoong yang berlari dari balik jendela kelasnya

“Jaejoong!” Yunho berlari keluar kelas untuk mengejar pria cantik itu tanpa memperdulikan kemarahan dosennya

 

Jaejoong berlari sejauh mungkin, saat ini perasaanya sangat kacau, semua kenyataan itu terlalu tiba-tiba, Yunho menginginkan harta keluargannya, Yunho bukanlah orang seperti itu?.. Sedangkan Yunho berlari cepat mengejar Jaejoong, untuk masalah ini, kemampuan berlari Jaejoong sangat jauh jika dibandingkan dengan dirinya, dengan mudah Yunho dapat mengejar pria muda itu dan menahannya

 

“Dengarkan aku, kau salah paham, cerita itu belum selesai” paksa Yunho cepat sebelum Jaejoong salah paham

“Aku tidak perduli dengan itu semua, hanya saja… perasaanku sangat kacau” Jaejoong tertunduk menggenggam kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit dengan kedua tangannya

“Aku sungguh tidak mengerti, sebenarnya apa yang kau inginkan?” Jaejoong tersentak dengan pemikirannya

“Jika aku memerintahkanmu, apakah kau mau menceritakan yang sebenarnya padaku?” titah Jaejoong hingga ia tersadar bahwa ia telah memberikan perintah pada seorang Jung

 

Jaejoong terdiam mendengar ucapannya sendiri, sejak ia kecil Ayahnya selalu mengingatkan untuk tidak pernah sekalipun memerintah seorang Jung, walaupun kelarga Jung adalah pelayan tetapi mereka lebih seperti keluarga sendiri. Yunho tersentak mendengar permintaan Jaejoong, kedua mata kecilnya membesar dan ia terdiam

 

“Aku…” gumam Yunho tertunduk mencoba menghentikan gejolak dalam dirinya

“Batalkan saja yang kukatakan barusan! Aku menarik kembali semuanya!” ucap Jaejoong kasar mengenggam erat kedua lengan Yunho

“Tidak bisa… Tidak bisa dibatalkan… Hamba menurut perintah” ucapanya akhirnya, mantra memperngaruhinya

“Hamba akan menceritakan yang seenarnya” lanjut Yunho mengenggam erat kedua pundak Jaejoong

“Ku mohon jangan katakan! Lupakan saja…” pinta Jaejoong pasrah

 

Sekali perintah telah diucapkan, maka harus dilakukan walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Itulah janji setia seorang Jung

 

To be continued

*bows

Sankyuu…

Buat yang sudah mampir dan baca ff ini

Silahkan tunjukan diri kamu, karena Jaehan cuman mau tahu berapa orang yang sudah baca ff ini

Sampai ketemu di fanfic selanjutnya

Ja Na^^

cr. inside

Yunjae :: Love Spell

Yunjae :: Love Spell

3 thoughts on “Yunjae :: Love Spell Chap. 3

  1. omo…joongie salah pahamkah?? yunnie ngapain pake crita2 sihh?? tuh kn joongienya jd sedih…apa nanti joongie jd marah sm yunnie?? andwee…
    author…buruan update yaaa…#puppy eyes# penasaran bgt sm next chapnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s