[FF] Raining Part.11-Last Wish


Anneyong,🙂

Chapter ini mungkin bakal sedih😦

Author aja yang nulis nyesek *hiks

Happy Reading aja deh chingu ^^

=======================================

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 11- Last Wish

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi

Rate         : (bingung)

CHAPTER 11- LAST WISH

Can I always stand by you?

(Author POV’s)

-Malam hari-

“Jejung kau sudah mau tidur?” Tanya Yunho sesaat setelah membereskan piring bekas makan mereka berdua. Jejung menggeleng sambil mengelap meja.

“Aku ingin duduk di depan tivi saja.” Jawab Jejung masih sambil mengelap meja.

“Baiklah, apa tivinya mau dinyalakan?” Tanya Yunho lagi sekembali dari meletakkan piring ke bak cucian.

“Boleh.” Sahut Jejung mencoba berjalan kearah dapur. Seperti biasa Yunho dengan sigap menangkap tangan Jejung untuk membantunya berjalan kearah dapur.

“Yunho, aku ingin menghapal seluk beluk apartemenmu ini agar tidak merepotkan.” Kata Jejung saat meraba meja dapur.

“Sekarang?” Tanya Yunho melipat lap bekas meja. Jejung mengangguk.

“Apa tidak merepotkan?” Tanya Jejung lagi sambil berjalan meraba untuk mencari bak cuci piring.

“Hei Jejung, hati-hati!” Seru Yunho lagi saat Jejung mendekati kompor. Yunho menangkap tangan mungil itu lagi.

“Eh gomen, aku merepotkan.” Kata Jejung tertunduk. Yunho tersenyum lalu menepuk lembut kepala laki-laki cantik itu.

“Daijobu, ayo kuantar kau berjalan-jalan di apartemenku yang kecil ini. Akhirnya Yunho mengantar Jejung memutari kamar apartemennya. Dimana kamar mandi, dimana kamar Yunho dimana tempat telepon dan dimana bak cuci piring dan meja makan serta sofa yang terletak di depan tivi.

“Bagaimana kau bisa mengingatnya?” Tanya Yunho. Jejung mengangguk ragu.

“Yakin?” Tanya Yunho lagi meyakinkan.

“Iya,” Jawab Jejung singkat. Yunho mengantar Jejung duduk di sofa dan menyalakan tivi.

“Apa yang mau kau dengar?” Tanya Yunho sambil memindah-mindahkan channel dengan remote.

“Wakaranai. Yang bagus untuk di dengar?” Jawab Jejung. Yunho akhirnya menghentikan pada channel yang menampilkan acara music.

“Ini bagaimana?” Tanya Yunho menoleh kearah Jejung. Laki-laki mungil itu mengangguk.

“Kalau begitu aku akan mengerjakan tugas sekolahku dulu. Jika sudah mau tidur panggil aku ya?” Kata Yunho kembali menepuk kepala Jejung pelan. Jejung hanya mengangguk.

Yunho berjalan menuju kamarnya untuk mengerjakan tugas akhir sekolahnya sebelum libur musim dingin. Walaupun sedang mengerjakan tugas Yunho tetap waspada dengan pendengarannya.

Di luar Jejung asik mendengar alunan music dari tivi sambil ikut bersenandung kecil tetapi lama-lama dia bosan dan memilih untuk ke kamar Yunho. Jejung berjalan perlahan sambil merentangkan tangannya ke depan agar dia tidak menabrak sesuatu. Tapi Jejung menabrak lemari buku milik Yunho. Jejung mengelus keningnya yang sakit karena terbentur lalu melanjutkan kegiatan ‘meraba’nya untuk sampai ke kamar Yunho. Jejung meraba lemari buku milik Yunho dan berhasil menggapai meja telepon sambil mengingat-ngingat tempatnya. Tapi Jejung tersandung sepatu Yunho yang lupa diletakkan di lemari. Laki-laki cantik itu seketika jatuh terjerembab dan secara spontan sempat menarik taplak meja yang diatasnya terdapat gelas air minum.

Pranggg! Suara gelas yang jatuh seketika mengangetkan Yunho. Yunho berlari keluar kamar dan mendapati Jejung yang jatuh dengan posisi merangkak dan di sampingnya terdapat pecahan gelas yang berserakan.

“Jejung kau tidak apa-apa?” Yunho berlari dengan panik kearah Jejung dan membantu laki-laki itu berdiri.

“Aku tidak apa-apa Yunho, gomen.” Kata Jejung dengan nada menyesal. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Daijobu daijobu sudah Jejung jangan menangis. Kau mau ke kamar?” Tanya Yunho sambil memeluk kepala Jejung. Jejung mengangguk dalam dekapan Yunho. Yunho memapah Jejung dengan hati-hati menuju kamar agar kakinya tidak terkena pecahan gelas yang berserakan.

“Jejung tidurlah duluan, aku akan membereskan pecahan gelas dan menyelesaikan tugasku. Wakarimasu ka?” Tanya Yunho mendudukkan Jejung di tepi ranjang.

“Hai, gomennasai.” Ucap Jejung tertunduk merasa bersalah. Yunho tersenyum dan mengecup kepala Jejung.

“Aku sudah bilang tidak apa-apa.” Jawab Yunho memegang kedua pipi Jejung lalu beranjak pergi untuk membereskan pecahan gelas. Sekembalinya Yunho dilihatnya Jejung sudah tertidur dengan pulasnya. Yunho tersenyum dan kembali duduk di meja belajarnya melanjutkan kegiatannya tadi.

“Hoaaammmm..” Yunho menguap sambil merentangkan tangannya. Meregangkan otot badannya yang kaku karena menulis tugas akhir yang cukup banyak. Menatap sebentar kearah bukunya lalu merapikannya dan memasukkannya kedalam tas sekolah. Yunho berjalan kea rah ranjang dimana Jejung sudah lebih dulu meninggalkannya kealam mimpi. Sebelum tidur Yunho menatap wajah bak malaikat di sampingnya, mendengar dengkur halusnya dan suara nafasnya yang teratur berharap Ia akan bisa terus seperti ini.

“Aishiteru Jejung-chan.” Bisik Yunho lalu menyusulnya kealam mimpi.

-Pagi hari-

(Yunho POV’s)

Suara burung berkicau mulai terdengar yang artinya pagi sudah datang menjelang. Kupaksakan mataku terbuka karena semalam begadang untuk mengerjakan tugas yang lumayan menumpuk. Hari ini hari terakhir sekolah sebelum liburan musim dingin dan aku merasa bersemangat karena setelah itu aku punya banyak waktu untuk kuhabiskan bersama Jejungku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku karena sinar matahari yang berhasil menerobos korden kamar. Aku bangun terduduk dan merasakan sesuatu yang hangat juga lengket di wajah dan tanganku. Aku melihat kearah tanganku dan memfokuskan penglihatanku yang masih setengah tidur. Tapi setelah kusadari itu apa kesadaranku langsung melonjak seratus persen.

“Darah…!” Pekikku tertahan agar tidak membangunkan Jejung yang masih tertidur lelap. Aku meraba wajahku merasakan pipiku yang terkena darah. Aku spontan melihat bantalku yang ternyata sudah berlumuran darah.

“Nande!?” Tanyaku tertahan. Aku segera bangkit perlahan mengambil bantalku dan berlari ke kamar mandi. Membuka sarung bantal yang berlumuran darah dan membuangnya. Aku melihat diriku di cermin washtafel.

“Apa yang terjadi?” Kataku shock melihat wajahku seperti vampire yang habis menghisap korbannya. Aku segera mencuci mukaku hingga noda darah di wajah dan tanganku menghilang. lalu aku kembali terdiam menatap cermin. Semalam hidungku berdarah parah dan aku tidak menyadarinya. Apa yang salah denganku?

Ting tong! Aku terlonjak kaget mendengar suara bel. Aku mengelap wajahku dengan handuk dan segera membukakan pintu. Kulihat sesosok jangkung yang tak asing bagiku berada di depan pintu.

“Chang? Nandesu ka?” Tanyaku cukup terkejut dengan kedatangannya. Changmin menatapku dengan tatapan penuh tanya. Aku menatapnya lagi dengan bingung.

“Senpai daijobu ka? Kau terlihat sangat pucat.” Jawab Changmin dengan wajah kawatir. Aku terkejut mendengarnya.

“Ahh benarkah?” Kataku gugup. Jelas saja aku pucat, semalam aku hampir kehabisan darah. Changmin menatapku masih dengan tatapan kawatir.

“Chang kau ada perlu apa? Mau menjemput Jejung?” Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“ah iie aku justru mau menitipkan Jejung jika senpai tidak keberatan.” Kata Changmin. Raut wajahnya kembali normal.

“Tentu saja aku tidak keberatan Chang.” Jawabku sumringah. Changmin tersenyum lega.

“Changmin?” Tiba-tiba suara Jejung muncul dari belakangku. Kulihat dia mengucek matanya.

“Jejung-nii!” Seru Changmin menghampiri. Aku bergeser agar kedua adik-kakak ini bisa bertemu. Changmin langsung memeluk Jejung dengan erat. Aku memperhatikan mereka berdua.

“Kau baik-baik saja kan Chang?” Tanya Jejung sambil meraba wajah Changmin.

“Iya nii-chan kau tenang saja. Jejung-nii aku harap Jejung-nii tidak pulang dulu untuk beberapa hari ini.” Kata Changmin. Kulihat raut terkejut di wajah Jejung. Akupun ikut memperhatikan pembicaraan mereka. Apa ini semua salahku?

“He? Doushite?” Tanya Jejung terkejut. Changmin menghela nafas dan memegang tangan Jejung erat.

“Aku hanya tidak ingin Jejung-nii diperlakukan seperti kemarin lagi oleh Yoochun-nii. Jadi aku mohon tinggallah di sini. Yunho senpai sudah mengizinkan. Wakarimasu ka nii-chan?” Jelas Changmin. Jejung hanya mengangguk sedih. Kemudian Changmin pun pamit untuk pergi ke sekolah.

“Jejung?” Panggilku melihatnya dengan wajah sedih. Jejung menoleh kearahku.

“Yunho.. Gomennasai.” Seru Jejung dengan suara serak. Aku mengusap kepalanya lembut. Membelai pipinya yang kemerahan dan memegangnya.

“Semua akan baik-baik saja.” Kataku lalu menggandengnya masuk kembali ke kamar.

(Jejung POV’s)

Hari ini pikiranku benar-benar kacau tidak karuan. Merasakan pelukan Changmin pagi tadi sudah membuatku ingin menangis. Aku rindu adik kecilku itu, aku hanya merasa takut jika Ia terluka. Sepuluh tahun ternyata mampu merubah Yoochun menjadi pribadi yang berbeda. Dendam di hatinya tak pernah kunjung padam. Aku sangat menyayangi adik-adikku, aku tidak ingin mereka terluka bahkan sekarang bertambah satu orang yang aku sayangi, Jung Yunho. Hari ini dia mengantarku bekerja, setidaknya dia menganggap tempat ini lebih aman daripada di apartemen sendiri sedangkan Yunho harus pergi sekolah. Aku berjalan dengan langkah gontai sambil membawa tangkai-tangkai bunga yang cukup banyak jumlahnya ke dalam toko tapi sepertinya aku kurang konsentrasi saat berjalan hingga aku menyandung sesuatu yang membuatku terjungkal. Aku terjerembab, kurasakan aspal di bawah tanganku. Sepertinya aku jatuh keluar trotoar, kuraba aspal kasar itu untuk mencari tangkai bunga yang pasti berserakan. Tapi tiba-tiba suara klakson mobil terdengar nyaring ditelingaku. Ah apa akan terjadi lagi!? Pikirku. Tapi seketika itu sebuah tangan menarikku hingga terjatuh diatas badannya. Aku merasakan dada bidang tapi ini bukan milik Yunho. Lalu siapa?

“Kau baik-baik saja?” Tanya sebuah suara laki-laki yang lembut seperti anak kecil. Aku mengangguk pelan. Jantungku masih berdegup kencang karena kejadian tadi.  Laki-laki itu membantuku berdiri.

“Yakin kau baik-baik saja?” Tanya suara itu sekali lagi. Aku menoleh kearah suaranya.

“Aku tidak yakin, apa bunga yang kubawa masih bisa selamat?” Tanyaku mulai panic. Keringat mulai menetes dari pelipisku. Pertanda masalah akan mendatangiku.

“Ada beberapa, aku bantu ambil ok? Kau diam di sini saja.” Katanya. Aku hanya berdiri diam di depan toko.

“Jejung-kun kau baik-baik saja? Tidak terluka?” Suara panic Hana-san beserta langkah kakinya yang cepat.

“Daijobu Hana-san. Gomen mungkin beberapa bunganya rusak.” Kataku menunduk. Hana-san menepuk bahuku lembut.

“Tidak usah dipikirkan Jejung-kun. Yang terpenting kau selamat.” Ucapnya lembut. Aku menyeka airmata yang mulai menetes dari sudut mataku. Betapa baiknya Hana-san mau mempekerjakan aku yang buta ini. Hana-san mengatakan orang seperti ku memiliki rasa yang dalam tentang keindahan saat Ia menerimaku sebagai pegawainya.

“Ini nyonya bunga yang masih bagus tidak terlindas.” Seru suara laki-laki yang menolongku.

“Oh arigatou. Kau baik sekali tampan pula.” Jawab Hana-san senang. Aku ikut tersenyum kikuk. Kudengar langkah Hana-san masuk ke dalam toko.

“Arigatou kau sudah menolongku.” Kataku pada orang yang menolongku sembari membungkuk tapi dia menahanku agar tidak melakukannya.

“Ah Douita. Bukan masalah. Ano kau Jejung kan?” Tanyanya. Aku terkejut saat dia menyebut namaku. Darimana dia tahu?

“Ah aku Kai, Kim Jong In. Tapi panggil saja Kai.” Lanjutnya sambil memegang tanganku untuk bersalaman.

“Oh Aku Kim Jaejoong. Jejung, panggilannya.” Kataku Kikuk. Aku melepaskan tanganku yang di genggamnya cukup lama.

“Aku juga teman adikmu, Changmin.” Katanya lagi.

“Oh souka..” Kataku mulai bingung dengan situasi yang agak aneh ini.

“Ah Gomen Jejung-nii. Aku kebetulan lewat dan melihatmu saat terjatuh jadi aku cepat-cepat. Hmm douzo yoroshiku..” Ucapnya mulai terdengar kikuk. Aku hanya tersenyum.

“Arigatou Kai, tapi aku harus kembali bekerja.” Kataku mengakhiri pembicaraan yang aneh ini. Mengapa perasaanku aneh di dekatnya?
“Oh haik, gomen. Jya Jejung-nii. Lain kali aku mampir lagi.” Ucapnya. Aku mengangguk dan berjalan kearah toko. Laki-laki yang aneh, suara lembut yang ceria. Akan kutanyakan Changmin mengenainya nanti. Lalu aku melanjutkan pekerjaanku.

(Author POV’s)

Lorong putih sepanjang mata memandang serta lalu lalang orang-orang berpakaian putih juga. Terlihat seorang laki-laki memakai seragam sekolah terduduk lemas di depan sebuah ruang pemeriksaan. Wajahnya pucat pasi seperti tidak ada darah yang mengalirinya tengah memegang secarik kertas yang bertuliskan sesuatu. Matanya mulai berkaca-kaca setiap Ia melihat kertas yang dipegangnya.

“Nande!?” Bisiknya lirih menahan airmata. Berkali-kali Ia membaca surat itu dan berkali-kali pula berharap bahwa tulisan yang di bacanya salah.

“Bagaimana aku bisa tetap berada di sisimu, Jejung chan?” Tanyanya lirih kepada diri sendiri. Pagi ini dia sudah membohongi Jejung untuk pergi ke sekolah. Jika Ia akan ke rumah sakit laki-laki cantik itu akan panic. Akhirnya Yunho berdiri dari duduknya berjalan lunglai kearah pintu keluar rumah sakit sambil tetap menggenggam surat itu, memikirkan kebohongan selanjutnya untuk merahasiakan keadaan dirinya.  Laki-laki itu menatap langit, melihat awan yang bearak dan hilang seperti itukah dia nanti? Berjalan dan menghilang? Terlupakan.. Yunho merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya lalu menekan beberapa angka yang sudah di hafalnya di luar kepala.

“Moshi moshi? Su bisa aku bertemu denganmu sekarang? Penting. Di café. Kutunggu sekarang.” Ucap Yunho lalu menutup teleponnya sebelum Junsu sempat menjawab. Yunho berjalan ke luar rumah sakit menuju sebuah café yang jaraknya tidak jauh dari sana.

“Irasshaimase! Untuk berapa orang?” Sambut pelayan café saat Yunho masuk.

“Hmm Dua.” Jawabnya lalu pelayan itu mengantar ke sebuah meja di sudut ruangan. Yunho duduk dan memesan segelas kopi untuknya dan segelas milkshake coklat. Tidak lama muncul orang yang sedang ditunggu Yunho bersamaan dengan pesanan Yunho.

“Senpai ada apa?” Tanya Junsu terengah-engah lalu duduk di bersebrangan dengan Yunho. Yunho terdiam.

“Senpai? Kau baik-baik saja?” Tanya Junsu mulai bingung dengan sikap sahabatnya yang sangat aneh hari ini. Yunho masih terdiam dan mengeluarkan surat yang sedari tadi ditangisinya. Junsu melihat isi surat itu, membacanya sekilas.

“Senpai..” Hanya itu yang muncul dari mulut Junsu.  Yunho kembali tertunduk menatap kosong kearah cangkir kopi yang masih mengepul.

“Apa ini tidak salah?” Tanya Junsu lagi tidak percaya. Yunho menggeleng lemah.

“Hidupku tidak lama lagi Su.” Ucap Yunho kemudian.

“Senpai tidak boleh bicara seperti itu!” Bentak Junsu. Airmatanya sudah mulai menggenang.

“Su jangan cengeng… aku juga tidak ingin.” Seru Yunho. Junsu terdiam menahan tangisnya.

“Aku ingin minta bantuanmu untuk terakhir kali.” Sambung Yunho dengan nada serius. Junsu menatapnya dengan tatapan memprotes.

“Su cukup dengarkan aku.” Ucap Yunho sebelum suara dolphin Junsu kembali terdengar. Junsu terdiam dan mulai mendengarkan.

“Saat waktunya nanti. Entah kapan. Aku ingin kau memberikan formulir ini.” Yunho mengeluarkan lagi secarik kertas dan menyodorkannya. Junsu membacanya lagi dan benar-benar kaget.

“Senpai kau serius!?” Tanyanya terkejut. Yunho mengangguk pasti.

“Tapi bagaimana jika…” Kata-kata Junsu terputus.

“Aku sudah tidak mungkin selamat Su. Tapi setidaknya aku bisa menyelamatkannya.” Senyum mulai terkembang di wajah pucat Yunho. Junsu sudah benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, sekali memutuskan Yunho tidak mungkin mundur. Junsu kembali terpekur melihat sederetan tulisan di formulir itu.

“Atas nama pendonor Jung Yunho mendonorkan kornea mata kepada penerima donor atas nama Kim Jaejoong…”

Tidak ada yang bisa dilakukan Junsu selain menyanggupi permintaan sahabat sekaligus orang yang sudah Ia anggap sebagai kakaknya sendiri.

“Tolong jangan beritahu siapapun termasuk Jejung.” Ucap Yunho.

TBC

Gomawoyo sudah menyempatkan membaca FF author yang gaje ini *deep bow

mianhe kalo cerita sedih yaa *digebuk jaema

Jangan lupa commentnya yaa readers *lambai-lambai bareng Junsu*😀

17 thoughts on “[FF] Raining Part.11-Last Wish

  1. mmma-makssuuddnyyaa *gemeteran , ntar jae “melihat” pake matanya yunho?? kayak apa rasa sedihnya jae bisa melihat lagi tanpa kehadiran yunho?😦
    bikin yunho tetep hidup, pleaaseee.. tapi ngga bisa yaa, kan kayaknya udah ada diagnosis dari dokter, jadi yunho pasti ________ (ngga sanggup bilangnya!)😦
    aaahhhhh!!!!😦

  2. huaaappppaaaa???yunho sakit terus mau mati???terus ngedonorin matanya ke jae.
    ini sadending yah thor?
    hikshiks.

  3. Napa angst beneran.napa harus mati,g rela ah.nanti jae ma sapa bisa lihat pi g bs lihat orang yg di cinta buat apa.

  4. huaaaa
    apa apaa. ini
    hiks
    kok jadi gini sih
    *fruatasi sendiri

    Yun sakit apa ?
    ga bisa diselamatkan ? separah itu kah ?
    ya ampun Jae kamu malanng banget ssssihhh
    ottokhae ?
    hiks

  5. Appaaaa…waeyo?? (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) author sshi Appa Yun ko umur’a gak lama lagi siiih…nanti kasian Umma Jae sendirian alias jadi janda #plak di tabok YunJae

    Aq gak mau Appa meninggaaaaaal (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) !!

  6. Hei, Yunpa sakit apa? Knp hrus mninggalkn Jaema? Sakit.a separah apa? Hiks, Eonnie bkin aq sdih…

  7. Yunho sakit apa???
    Kanker kah???
    Jgan buat yunho mati author san….
    Hwaaaaa..
    Yunho… Hukshukshuks
    Kasiannya dirimu nak.. T.T

  8. ternyata bener…
    Yunho sakit… *udh rada ketebak wkt ada darah yg keluar dari idung Yunho*
    Yunho memberikan kornea matanya untuk Jejung agar dia bisa melihat kembali…
    Please, Jejung pengen liat senyuman Yunho…
    *Nyesek*

  9. authorsan ada 2 kesalahan di part ini : pertama, kenapa uri appa umurnya pendek. hiks. umma~ T_T
    kedua, ada penampakan setan kkam-jong “jong in”, knpa gak pake chara lain aja -_-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s