[FF] Raining Part.12-Regrets


Anneyong chingu *lambai2

Hmm ternyata ini penyebab Yoochun membenci Yunpa.. Apa yaa??

Yukk cekidot😀

Happy Reading ^^

 

=====================================

 

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 12- Regret

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi

Rate         : (bingung)

CHAPTER 12-REGRET

 

Onii-chan, I’m very sorry, I just angry…

(Yoochun POV’s)

Sudah berapa hari ini aku tidak bertemu Jejung setelah dia pergi hari itu. Jujur aku merasa bersalah telah memperlakukannya seperti itu. Telah memperlakukan Changmin begitu kasarnya hingga aku tega memukul adikku sendiri. Aku hanya menghabiskan waktuku sekarang dengan mabuk-mabukkan karena Changmin melarangku bertemu Jejung, dia bilang Jejung tidak bersama laki-laki brengsek itu. Aku tahu dia bohong. Aku tahu Jejung pasti bersama Jung Yunho. Tapi dengan keadaanku yang seperti ini aku lupa dimana tempat tinggal Yunho. Aku sungguh frustasi memikirkan Jejung. Apa dia baik-baik saja bersama laki-laki yang jelas-jelas sudah membuat hidup kami hancur seperti ini. Atau aku saja yang terlalu marah?

Malam ini seperti biasa aku pulang ke apartemen dalam keadaan mabuk. Aku berjalan sempoyongan di sebuah jalan yang sangat sepi. Terang saja ini sudah hampir jam sepuluh malam dan ini jalan perumahan. Dalam penglihatan yang remang-remang aku melihat dua tiga orang di ujung gang ini. Dan firasatku mengatakan ini tidak baik tapi aku tetap berjalan kearah sana tanpa peduli apapun.

“Hei kau mau kemana!?” Panggil seorang dari gerombolan itu. Aku tidak mempedulikan panggilan itu karena cukup pusing untuk meladeni sesuatu seperti itu. Tapi tiba-tiba kerah bajuku ditarik olehnya.

“Hei kau dengar tidak!?” Teriaknya padaku. Bau alcohol dan nikotin langsung menyeruak dari mulutnya. Pandanganku sudah mulai membayang karena aku pun mabuk. Tapi masih cukup sadar untuk mengingat dimana rumahku. Tapi sekarang mungkin aku tidak akan sampai rumah dalam keadaan baik-baik saja.

“Dia mabuk.” Sahut suara lain dari salah seorang gerombolan tadi.

“Iya. Sudah kita geledah saja.” Sahut yang lainnya. Mereka kemudian merogoh saku celanaku dan mengeluarkan beberapa lembar yen yang tidak terlalu banyak.

“Dasar miskin! Cuma segini!” Sahut si bau itu. Kemudian aku merasakan sebuah pukulan keras di rahangku. Aku jatuh tersungkur tanpa mampu berdiri karena terlalu pusing. Kemudian pukulan bertubi-tubi kembali kurasakan di seluruh tubuhku beserta makian mereka karena uang yang didapat dariku hanya sedikit. Tidak hanya di perut dan punggungku mereka juga menghajar wajahku. Aku merasakan sakit dimana-mana tapi aku tidak bisa membela diriku kali ini. Setelah puas memukuliku mereka meninggalkanku begitu saja di jalan itu. Aku berusaha bangun dengan berpegangan pada sisi bak sampah yang ada disana tapi badanku terasa lemas dan akhirnya aku melihat kegelapan.

 

(Junsu POV’s)

Akhir-akhir  ini pikiranku benar-benar tidak karuan. Aku juga kesal. Pertama Yunho, kedua kursusku yang tiba-tiba jamnya ditambah. Argh! Kujambak jambak rambutku sambil berjalan pulang dari tempat kursus. Hari dimana Yunho menyatakan hidupnya tidak lama lagi sudah lewat beberapa hari yang lalu tapi dampaknya masih terasa sampai sekarang olehku. Biasanya jika pulang larut aku akan ditemani oleh laki-laki jangkung nan kuat itu. Tapi semenjak hari itu dia berhenti datang ke tempat kursus karena ingin menghabiskan waktu dengan Jejung senpai. Dan aku yang penakut ini harus pulang sendiri di jalan yang terkenal banyak premannya. Aish Tuhan tolonglah aku! Teriakku dalam hati. Aku menggenggam erat-erat tali ranselku saat sampai di sebuah pengkolan yang terkenal banyak berandalannya. Aku mengintip dari balik tiang listrik yang ada di situ untuk melihat keadaan. Aku benar-benar takut sekali. Tapi yang kulihat hanya jalanan yang sepi dan lengang. Aku menarik nafas lalu mulai berjalan dengan tetap waspada. Aku melewati sebuah bak sampah besar dan kulihat sesuatu yang mengganggu penglihatanku. Tempat itu memang gelap tapi cahaya remang-remang dari lampu jalan di seberang gang agak memperjelas apa yang kulihat. Aku mencoba mendekati sosok yang ganjil itu.

“Erhh..” Erang sosok itu membuatku mundur hingga terjatuh terduduk. Sungguh aku kaget sekali. Ternyata sosok itu manusia. Aku beranikan diri mendekatinya lagi. Wajahnya ditutupi rambut hitamnya yang acak-acakan. Dengan gemetar aku menyibakkan rambutnya dan melihat wajah yang kukenal.

“He!? Ini kan adiknya Jejung senpai!?” Pekikku sendiri mengingat wajah marahnya saat memukul Yunho senpai sempat membuatku bergidik. Aku bertanya-tanya mengapa dia bisa ditempat seperti ini dan keadaannya benar-benar babak belur. Jangan-jangan dia dirampok. Pikiran-pikiran buruk berkecamuk di dalam otakku. Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke rumahku daripada disini bisa-bisa dia malah mati, walaupun sebenarnya aku takut saat Ia sadar nanti. Aku mencoba mengangkat tubuhnya yang agak lebih besar dariku dengan susah payah. Kusampirkan tangannya di bahuku dan mencoba memapahnya dengan perlahan. Bau alcohol langsung merebak setelah kuangkat tubuhnya. Aku sudah sesak nafas saja menghirupnya.

“Aduh berat sekali!” Gerutuku. Aku sudah mulai ngos-ngosan tapi tetap bertekad membawanya pulang. Akhirnya aku sampai juga di rumahku. Aku memasuki pekarangan dengan masih terseok-seok membawa laki-laki ini di bahuku. Aku berusaha merogoh kantong celanaku untuk mencari kunci rumah tanpa menjatuhkannya di teras. Aku berhasil menemukan kunci rumahku dan segera kubuka pintu besar itu dan menutupnya dengan kaki saat sampai di dalam. Ruang tamu dan suasana sepi langsung menyergap kedatanganku seperti biasa. Maklum lah aku anak tunggal dan orang tuaku sering bepergian keluar negri untuk bisnis. Biasanya Yunho senpai yang akan menemaniku tapi sejak ada Jejung perhatiannya menjadi teralih. Tak apalah aku sudah biasa sendiri dan aku mengerti keadaannya sekarang. Aku membaringkan laki-laki itu di sofa ruang tamu dengan perlahan. Kulempar tasku ke pojok ruangan dan bergegas mengambil bantal dan selimut serta kotak obat. Aku memberinya bantal dan menyelimutinya. Lalu aku mengambil air hangat untuk mengompres lukanya yang cukup parah. Dia benar-benar babak belur. Aku langsung bergidik membayangkan rasanya dipukuli sampai seperti ini. Sambil mengompresnya kuperhatikan wajahnya. Garis wajah yang tegas tapi terkesan sedih. Matanya tertutup dan tertidur seperti bayi dengan bibir pink yang penuh. Aish Junsu jangan baka! Gerutuku dalam hati. Aku mulai mengobati lukanya dengan alcohol agar tidak infeksi secara perlahan. Kudengar erangan lirih dari bibirnya tapi dia tidak terbangun. Setelah selesai memberi obat aku pergi ke kamarku untuk ganti baju dengan piyama. Setelah itu aku kembali ke ruang tamu dan mengompresnya kembali. Menungguinya hingga aku jatuh tertidur.

(Yoochun POV’s)

Aku terbangun dan merasakan pusing yang teramat sangat di kepalaku. Serta sakit di sekujur tubuhku. Perih di seluruh wajahku. Apa yang terjadi? Aku hampir tidak mengingat kejadiannya. Aku duduk terbangun sambil memegangi kepalaku yang pening. Mencoba mengenali dimana aku sebenarnya. Aku terkejut saat melihat sosok tertidur di pinggir sofa. Wajahnya di telungkupkan di antara tangannya. Sosok dengan rambut hitam seperti jamur dan kacamata yang sudah tidak terletak di tempatnya karena posisi tidurnya. Sosok itu bergerak bangun.

“Kau sudah bangun senpai?” Tanyanya sambil mengucek mata di balik kacamatanya. Aku mengenali laki-laki ini. Dia kan yang datang bersama Yunho? Benarkah?

“Kau siapa!?” Tanyaku keras padanya membuatnya terlonjak mundur dan menatapku dengan tatapan polos. Aku jadi merasa tidak enak membentaknya.

“Aku Xia Junsu, senpai. Kau adiknya Jejung senpai kan?” Tanyanya dengan suara cempreng. Aku mengangguk.

“Dimana aku?” Tanyaku masih dengan nada ketus.

“Aku menemukanmu di ujung jalan tadi malam. Sepertiny kau dipukuli jadi aku membawa mu ke rumahku.” Jawabnya sambil membersihkan kacamatanya dengan piyama yang dia kenakan. Seketika itu aku langsung mengingat apa yang terjadi. Aku di rampok lalu dipukuli karena tidak memberikan uang pada gerombolan brengsek itu.

“Aku mau pulang!” Bentakku lagi. Aku berusaha bangkit tapi sakit di kakiku tidak bisa membuatku berdiri hingga aku terjatuh menabrak Junsu yang tengah duduk di hadapanku. Kami jatuh dan kepala Junsu terantuk kaki meja.

“Itai!” Pekiknya. Aku melihatnya yang tepat berada di bawahku meringis memegangi kepalanya.

“Senpai bisa kau berdiri?” Tanyanya masih meringis. Aku terkejut dan langsung bangun dari posisiku. Entah mengapa jantungku jadi berdegup keras seperti ini. Baka!
“Senpai, lebih baik kau istirahat dulu.” Ucapnya bangkit masih memegangi kepalanya yang terantuk.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyaku tanpa menggubrisnya. Suaraku melunak. Dia menggeleng dengan tampang polos bak bocah laki-laki mengingatkan ku pada Changmin.

“Gomen ne…” Kataku pelan merasa bersalah. Aku sudah membentaknya dan membuatnya terantuk kaki meja tapi dia masih bersikap baik padaku.

“Daijobu, senpai. Oh ya nama senpai siapa?” Tanyanya. Aku menoleh kearahnya memperhatikan wajah kekanak-kanakannya yang tengah menatapku.

“Yoochun.” Ucapku singkat. Dia mengangguk-ngangguk.

“Kalau boleh tau senpai umurnya berapa?” Tanya Junsu lagi dengan wajah yang tetap sama polosnya.

“Tujuhbelas. Nande?” Tanyaku bingung dengan pertanyaannya yang agak aneh.

“Nani? Sama seperti ku dong?” Katanya riang. Laki-laki yang aneh, pikirku.

“Eh?” Kataku bingung. Dia hanya tersenyum konyol. Senyum konyol yang lucu nan manis. Aish! Apa sih pikiranku ini!

“Kau sekolah dimana??” Tanyanya lagi ingin tahu.

“Aku tidak sekolah.” Jawabku. Dia hanya ber-oh- ria tanpa suara.

“Yoochun-kun kau mau di buatkan sarapan?” Tanyanya kemudian sambil beranjak berdiri.

“Arigatou kalau tidak merepotkan.” Ucapku. Dia hanya mengacungkan jempolnya dan beranjak ke dapur. Aku duduk di sofa menunggunya selesai membuat sarapan.

 

(Author POV’s)

Setelah selesai membuat roti bakar dan dua gelas susu coklat untuk sarapan mereka berdua. Junsu kembali ke ruang tamu membawa sarapannya.

“Silahkan dimakan. Itadekemasu!” Sahutnya. Yoochun terdiam saat Junsu mulai mencomot roti bakar yang ada di piring.

“Hei ayo!” Seru Junsu lagi. Akhirnya Yoochun mengambil roti bakar itu dengan kikuk.

“Gomen ne Yoochun-kun aku hanya punya ini. Maklumlah orang tuaku jarang di rumah. Biasanya yang menemaniku itu Yunho senpai tapi sekarang dia..” Junsu langsung menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Sepertinya dia sudah terlalu banyak bicara. Dia tau walaupun tidak terlalu jelas bahwa Yoochun sangat membenci Yunho entah mengapa. Yoochun menatap Junsu dengan kening berkerut. Junsu masih membekap mulutnya.

“Sudahlah Junsu. Aku sudah tau.” Jawab Yoochun akhirnya. Ada perasaan bersalah berkecamuk dalam dirinya.

“Ehm Gomen tapi boleh aku bertanya sesuatu? Aku harap kau tidak memukulku.” Tanya Junsu. Yoochun menoleh dan menatapnya aneh.

“Tanya saja.” Ucapnya kemudian. Junsu terdiam beberapa saat sebelum bertanya sesuatu yang mungkin membuatnya kena semprot nantinya.

“Ano.. mengapa kau sangat membenci Yunho senpai?” Tanya Junsu takut-takut tangannya sudah siap menangkis jika Ia dipukul. Tapi Yoochun tidak bereaksi, dia hanya terdiam dan menatap roti bakar yang ada di tangannya.

“Entahlah Su, yang aku tahu ayahnya menabrak Jejung dan melarikan diri.” Ucap Yoochun. Wajahnya mengeras. Junsu terdiam.

“Aku tau kisah itu.” Ucap Junsu. Akhirnya dia membeberkan bagaimana kehidupan keluarga Yunho setelah itu. Yoochun kaget bukan main mendengarnya.

“Hontou?” Ucapnya saat Junsu selesai bercerita. Junsu mengangguk sembari meletakkan gelas susu coklatnya yang sudah kosong.

“Aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu tapi aku harap berhentilah membencinya. Kau pasti tau Yunho dan Jejung..”

“Iya aku juga tau itu.” Ucap Yoochun memutus perkataan Junsu. Yoochun menghela nafasnya dalam. Entah mengapa dia seperti bisa berbicara apa saja dengan Junsu padahal mereka baru bertemu kurang dari duapuluhempat jam.

“Aku hanya membenci ayah kami.” Lanjut Yoochun. Junsu terkejut mendengarnya.

“Doushite?” Tanyanya penasaran. Yoochun menceritakan kisah hidupnya yang sangat menyakitkan. Bagaimana dia menjadi penopang hidup kakak dan adiknya. Junsu mendengarnya dengan hati terenyuh. Baru kali ini dia mendengar cerita yang begitu menyedihkan.

“Wajah Jejung sangat mirip ayah kami. Makanya terkadang aku membencinya. Bukan Jejung tapi wajahnya yang selalu mengingatkanku pada pria brengsek itu. Setelah Jejung buta aku tidak tahu siapa yang harus kusalahkan. Kupikir aku hanya marah.” Ucap Yoochun menutup ceritanya. Junsu terdiam tidak mampu berkata. Hanya menepuk pundak laki-laki berwajah cantik sama seperti Jejung di sampingnya.

“Tetapi semenjak aku memperlakukan Jejung dengan kasar dan dia pergi dari rumah. Aku sadar aku selama ini salah. Dan sebenarnya aku tidak seharusnya menyalahkan Yunho. Seandainya ayah kami tidak melakukan hal itu mungkin semua ini tidak terjadi. Aku merasa buruk memisahkan cinta pertama Jejung hanya karena kemarahanku pada keadaan.” Ucap Yoochun dengan nada lirih. Airmata mulai membasahi pipinya yang masih memar. Junsu spontan mengelap tetesan airmata Yoochun membuat laki-laki itu terkejut dan memundurkan wajahnya.

“Eh gomen..” Ucap Junsu menurunkan tangannya. Yoochun menunduk malu.

“Ehm Yoochun-kun kalau sudah merasa baikan aku akan mengantarmu pulang.” Lanjut Junsu. Yoochun mengangguk.

“Arigatou Junsu.” Ucapnya.

 

TBC

Gomawoyo gomawoyo *deep bow

Gimana chingu?? Udah gak penasaran lagi kan??😀

Jangan lupa commentnya chingu *lambai2 lagi*

 

11 thoughts on “[FF] Raining Part.12-Regrets

  1. Kok pendek bgt g da yunjae momenty to alasany ucun benci ma yunpa to.Pi bsk loo bakal nyesel deh yunpa kan g lama lg idupy to thorr.kejem bgt

  2. akhirnyaaa…seenggaknya, inilah the right time buat yoochun menyadari sikap ngga sukanya sama yunpa just has come to an end, dan -errrr,…. mulai deket niihh sama Junsu😀 asik, asiiikk… yaahhh, walopun ngga rela hidup Yunpa tengah krisis -_-

  3. hah? hah? apaaa? kata Junsu umur yunho gak lama lagi? yunho sakit apa? -___- full angst banget

  4. Aq msh sedih sih tapi dikit…
    Oho! Ada YooSu moment’a #lanjuuuut neeeeng😀
    Ya udahlah Chun restuin aja..la Wong Yunpa hidup’a gak lama lagi

  5. jd sbnr’y yochun gak bnci yunho ya.. ky’y sih yochun dah sdar.. jd jln wat yunjae b1 lbih mudah kan.. pi knp umur yunho tggal sbntar.. T.T

  6. Kuharap stelah mendengar penjelasan junsu tentang yunho ke yuchun, buat yuchun sadar bahwa yunho ttu engga salah apa-apa..
    Junsu bener” baik kepada siapapun..

  7. Di part ini YooSu moment…
    Chun jangan marah lagi ne… ntar jidatnya tambah lebar…
    My Baby Suie disini polos banget sih…
    *kawaii*

    *angst nya berasa banget*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s