[FF] Raining part 13-With You


Annyeong~~

Author mau minta maaf kalo ff ini aneh bin sedih bin ngawur bin kejam😦

Gomawoyo juga buat yang udah baca ff author ampe sejauh ini *terharu

Cekidot aja lanjutan ceritanya

Happy Reading ^^

==================================================

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 13- With You

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi, little bit NC😀

Rate         : (bingung)

Chapter 13-With You

My last time I spend with you…

(Yunho POV’s)

Waktu terus bergulir. Hari demi hari terus berlalu. Tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah. Sebuah senyuman. Senyuman dari wajah bagai malaikat dengan mata bulatnya, hidung mungilnya serta bibir cherrynya. Jejungku… senyum Jejungku yang aku butuhkan sebelum waktu mengambil alih tubuhku. Sebelum penglihatanku berpindah kepadanya. Aku ingin melihat wajah dan senyumannya yang indah untuk terakhir kali. Setelah itu aku akan bertukar kegelapan dengannya. Akan kuberikan cahaya seutuhnya pada laki-laki cantik itu. Tidak sedikit, tapi semuanya. Semua cahaya yang dirindukannya akan kuberikan padanya. Tidak lama lagi Jejungku, bersabarlah. Walau mungkin nanti akan terasa lebih menyakitkan. Tapi aku yakin kau akan bahagia. Jejung teruslah tersenyum padaku. Aku akan terus mencintaimu…

“Yunho-kun?” Aku tersadar dari lamunanku yang terenggut wajah malaikat di hadapanku. Mata bulatnya yang tidak berfungsi seakan ‘menatap’ku.

“Ya?” Jawabku.

“Daijobu ka? Daritadi kau melamun terus.” Tanyanya saat kami tengah makan siang bersama. Hari ini aku meminta agar Jejung diizinkan untuk tidak bekerja selama dua hari. Agar aku bisa terus bersamanya. Menatapnya sepuasnya selama dua hari itu. Karena aku tidak tahu kapan penyakit yang bersarang di tubuhku akan datang menyerang. Selama beberapa hari ini aku hanya mengalami dua kali pendarahan di hidung. Setelah itu normal kembali. Untunglah saat itu terjadi Jejung sedang tidak berada di dekatku.

“Ya aku baik-baik saja Jejung-chan.” Kataku kembali memakan makananku.

“Kau memanggilku chan lagi.” Jejung mengerucutkan bibirnya lagi. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Tingkah yang akan sangat aku rindukan.

“Yunho-kun kau melamun lagi ya!?” Seru Jejung lagi padaku. Kembali menarikku ke dunia nyata. Setelah divonis mengidap penyakit leukemia stadium akhir. Aku jadi sering melamun. Memikirkan mengapa penyakit mengerikan itu bisa hinggap di tubuhku. Mengapa waktuku sangat sempit untuk bersama mahluk indah yang ada di hadapanku ini.

“Gomen Jejung.” Ucapku mengulurkan tanganku untuk menjawil hidung mungilnya. Dia memegang hidungnya sambil memajukan bibirnya kesal.

“Hei kau mau ke suatu tempat yang indah?” Tanyaku kemudian. Dia menoleh kearahku.

“Kemana?” Tanyanya bingung.

“Rahasia. Kau mau kan?” Tanyaku lagi sedikit memaksa. Akhirnya dia mengangguk dengan wajah polosnya.

“Baiklah. Kita pergi sekarang. Karena tempatnya cukup jauh.” Lanjutku.

“He sekarang?” Ucapnya kaget sembari membulatkan matanya yang sudah bulat. Aku menepuk kepalanya lembut.

“Iya sekarang. Dan harus sekarang.” Jawabku menekankan kata ‘sekarang’. Dia mengerutkan keningnya bingung lalu aku mengecup keningnya sekilas membuat rona merah muncul di pipinya yang putih mulus.

Setelah makan siang akupun menyiapkan barang bawaan yang harus dibawa. Aku menyuruh Jejung untuk menungguku di ruang tivi. Setelah selesai aku keluar dari kamarku.

“Ayo pergi!” Ajakku mendekati Jejung dan menggandeng tangannya. Laki-laki cantik itu berdiri dari duduknya dan mengikuti langkahku berjalan keluar apartemen.

“Kita mau kemana sih?” Tanyanya penasaran. Aku hanya menepuk punggung tangannya yang dilingkarkan di lenganku, memberi tanda agar bersabar. Kami pergi menggunakan kereta api karena di daerah tersebut hanya bisa dijangkau dengan mobil dan kereta api. Tempat yang akan kami tuju adalah tempat dimana paman dan bibiku sering mengajakku liburan. Sebuah tempat dengan pemandangan pantai yang sangat indah. Aku ingin menghabiskan hariku di sana bersama Jejung. Jejungku, milikku.

(Author POV’s)

Perjalanan cukup jauh yang memakan waktu hingga tiga jam lamanya sehingga matahari sudah siap menuju tempat istirahatnya karena hari yang sudah mulai sore.  Akhirnya mereka berdua sampai di sebuah tempat yang cukup jauh dari keramaian dengan pemandangan yang masih asri. Begitu keluar dari kereta api. Jejung menghirup udara segar. Tampak pipinya menjadi lebih merona.

“Dimana ini? Bukan di Tokyo kan?” Tanya Jejung sudah sangat penasaran. Matanya seperti menyapu keadaaan yang ada di sana. Diangkat tangannya setinggi bahu untuk merasakan hembusan angin yang menabrak wajah dan tangannya.

“Sejuk sekali.” Sahutnya. Aku tersenyum melihat wajah bahagianya.

“Yunho-kun kau belum menjawabnya ini dimana?” Tanya Jejung lagi menunggu suara orang yang diajak bicara.

“Ini tempat yang biasanya aku datangi bersama paman dan bibiku. Tapi sejak pamanku meninggal dan aku mulai sibuk dengan basketku. Bibi sudah tidak pernah mengajakku ke sini lagi. Tapi aku rindu tempat ini jadi aku mengajakmu.” Jelas Yunho panjang lebar. Jejung mengangguk ngangguk mengerti.

“Lalu kita akan kemana?” Tanya Jejung lagi masih penasaran karena Yunho mengajaknya berjalan daritadi.

“Sssttt.. sebentar lagi sampai.” Ucapnya sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir pink Jejung. Yunho mengajak Jejung ke sebuah pondok kayu di pinggir pantai. Pondok kayu yang biasa dia tinggali bersama paman dan bibinya.

“Pantai?” Seru Jejung. Mata kosongnya berbinar memancarkan bahagia mendengar alunan desir ombak yang seperti music indah di telinganya.

“Iya Jejung-chan.” Ucap Yunho masih senang menggoda Jejung dengan panggilan ‘chan’nya. Jejung menatapnya kesal seperti biasa.

“Gomen gomen.” Ucap Yunho tertawa kecil. Jejung mempoutkan bibirnya.

“Sudah jangan marah. Aku akan menaruh tas ini di dalam dan kita akan jalan-jalan di pantai. Tunggu disini ok?” Lanjut Yunho sambil beranjak pergi. Jejung mengangguk. Yunho meninggalkan Jejung di balkon kayu yang menghadap kearah pantai. Laki-laki cantik itu memejamkan matanya. Merasakan lambaian halus dari angin pantai yang hangat. Memainkan tiap helai rambutnya.

“Ayo.” Ajak Yunho yang sudah berada di belakang Jejung. Memperhatikan tubuh mungilnya.

“Eh ayo!” Ucap Jejung terkejut tidak menyangka Yunho berdiri di belakangnya karena terlalu menikmati hembusan angin  pantai yang menerpa wajahnya.

Mereka menuruni tangga pondok kayu yang berbentuk seperti panggung itu menuju pasir putih yang halus dan hangat. Jejung melepas alas kakinya dan membiarkan kakinya merasakan setiap butir pasir yang ada di pantai itu. Begitu juga dengan Yunho. Mereka berjalan di pinggir pantai sambil bergandengan dan menikmati air laut yang kadang membasahi kaki mereka. Yunho memperhatikan wajah Jejung yang terlihat bahagia. Tersenyum melihat orang yang dicintainya bahagia. Sungguh Yunho tidak ingin kehilangan orang yang sedang berjalan di sampingnya. Walaupun Jejung memiliki keterbatasan tapi cinta Yunho padanya tidak memiliki batas. Ingin rasanya Ia berada di samping Jejung tapi sepertinya waktunya kian menipis dan Yunho tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk terus berada di samping Jejung. Selagi Ia bisa, selagi Ia masih mampu.

Mereka kemudian duduk di pinggir pantai. Menunggu matahari kembali ke peraduannya dan menyambut malam. Perlahan cahaya kekuningan itu mulai meredup meninggalkan langit gelap diatas kepala dua orang manusia yang tengah dilanda kasmaran. Menikmati setiap getar kasih sayang diantara mereka.

“Jejung..” Panggil Yunho.

“Hmm?” Sahut Jejung menoleh kearah Yunho yang duduk di sampingnya. Yunho menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Jejung.

“Aku mencintaimu.” Bisik Yunho di telinga kanan Jejung. Membuat bulu kuduk Jejung berdiri karena geli. Di bawah sinar rembulan yang redup Yunho masih bisa melihat semburat merah Jejung.

“Aku juga..” Jawab Jejung malu-malu. Yunho tersenyum dan mengecup sekilas pipi mulus milik kekasihnya itu lalu menggandengnya lagi kembali ke pondok.

“Sudah malam. Ayo pulang nanti kau masuk angin.” Ucap Yunho menggandeng hangat tangan mungil milik Jejung. Jejung mengikutinya.

Setelah sampai di pondok mereka kembali melihat langit di beranda pondok. Duduk diatas ayunan kayu yang panjang sambil menikmati hangatnya secangkir teh. Walapun lama ditinggalkan pondok itu masih tetap terawat sehingga masih nyaman ditinggali.

“Nyaman sekali ayunan ini.” Seru Jejung sambil bersandar ke sandaran ayunan yang mempunyai sandaran yang empuk.

“Tapi ini lebih nyaman.” Sahut Yunho menidurkan dirinya di paha Jejung. Jejung terkesiap. Tapi Yunho tidak menggubrisnya malah sangat menikmati paha Jejung yang lebih empuk dari bantal manapun. Jejung meletakkan cangkir tehnya di meja samping ayunan dan membelai kepala Yunho. Merasakan rambut Yunho. Membelai pipinya. Yunho menikmati setiap sentuhan dari kekasihnya itu. Dia merubah posisinya sehingga menatap Jejung dari bawah. Menatap wajah cantik yang juga menunduk menghadap kearahnya.

“Jejung..” Panggil Yunho lagi.

“Hmm?” Jawab Jejung sambil mengusap kepala Yunho dan tangan sebelahnya di letakkan di dada bidang laki-laki tampan itu. Mata bening bulat tapi tidak berfungsi itu seakan bisa menatap Yunho sampai titik terdalam.

“Sini mendekat aku ingin mengatakan sesuatu.” Panggil Yunho. Jejung semakin menunduk.

“Lebih dekat bisa?” Ucap Yunho lagi. Jejung hanya menurutinya dan menunduk bertambah dekat hingga sedikit jarak diantara mereka. Yunho langsung mengecup bibir pink itu dengan cepat membuat Jejung memundurkan wajahnya dengan kaget.

“Dasar menyebalkan!” Gerutu Jejung mendorong tubuh besar Yunho hingga terjatuh.

“Itai!” Pekiknya mengelus-ngelus punggungnya yang membentur lantai kayu. Jejung tidak menggubris malah terkiki kecil mendengar bunyi kedebum keras yang dihasilkan benturan lantai kayu dan punggung Yunho.

“Mouuu… kau menertawakanku! Terimalah balasanku!” Ucap Yunho menggendong Jejung di pundaknya.

“Hei hei apa yang kau lakukan!? Cepat turunkan aku!” Teriak Jejung memberontak memukul-mukul punggung laki-laki jangkung itu. Lalu Yunho menjatuhkan Jejung diatas ranjang.

“Eh chotto apa yang mau kau lakukan!?” Teriak Jejung masih histeris. Yunho tertawa keras melihat wajah panic Jejung.

“Hahahaha wajahmu itu lucu sekali!” Yunho tertawa melihat wajah Jejung yang bingung dan ketakutan.

“Dasar kau Jung Yunho baka! Menyebalkan!” Jejung melempar bantal kearah Yunho yang dengan sigap di tangkis oleh laki-laki itu dengan tangan besarnya. Jejung mempoutkan kembali bibirnya. Kesal sangat kesal.

“Aku benci padamu!” Teriak Jejung berbalik sambil melipat tangannya di dada. Yunho jadi merasa bersalah karena menjahilinya berlebihan.

“Mou… Jejung gomen ne. Maafkan aku?” Yunho mendekati Jejung tapi  Jejung terus bergeser hingga menabrak papan ranjang.

“Jejung maafkan aku ya?” Rayu Yunho menyentuh pundak kekasihnya. Tapi Jejung menepisnya.

“Ayolah Jejung maafkan aku… Jejung-chan?” Yunho berusaha merayunya tapi malah timpukan bantal yang di dapatnya. Yunho jadi benar-benar merasa bersalah.

“Jejung gomennasai aku keterlaluan..” Mohon Yunho tapi Jejung tetap terdiam seribu bahasa. Yunho terdiam sedih. Lalu dia mendengar kikikan kecil dari Jejung yang ternyata tengah menertawakan dirinya.

“Mouu!!” Sahut Yunho. Ternyata dia terjebak kejahilan Jejung lagi. Laki-laki cantik itu masih tertawa kecil membayangkan wajah memohon Yunho.

“Kali ini aku serius Jejung!” Seru Yunho menarik kaki Jejung hingga jatuh terlentang di ranjang. Yunho bergerak naik keatas Jejung dan memperhatikan wajah cantik di hadapannya yang terlihat sangat terkejut.

“A… ap.. apa?” Jejung tergagap. Mata bulatnya kian melebar. Jantungnya mulai berdetak dengan cepat. Menebak-nebak apa yang akan dilakukan Yunho padanya. Yunho menatap sepasang mata bulat yang tidak berfungsi itu. Mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir pink milik Jejung yang sedari tadi sudah menggodanya. Jantung Jejung berdetak semakin cepat ketika benda kenyal, lembut, basah dan hangat itu menyentuh bibirnya dan kali ini jauh lebih lama. Yunho memain-mainkan bibirnya. Mengulumnya seperti permen, menghisapnya, memangutnya hingga memainkan lidahnya di rongga mulut Jejung. Tapi Jejung tidak mampu bergerak. Kedua tangannya ditahan oleh tangan besar milik Yunho. Tapi entah bagaimana Jejung mulai mengikuti permainan Yunho dan membalas ciumannya yang semakin liar. Perlahan Yunho mulai melonggarkan tangannya dan beralih ke kemeja Jejung. Membuka kancingnya satu persatu hingga semua kancingnya tidak terpasang lagi. Dari bibir, Yunho mulai mengalihkan ciumannya ke leher putih Jejung. Membuat tanda-tanda cinta di sana. Jejung mendesah pelan merasakan bibir hangat Yunho mengecup dan menggigit lehernya. Tangan Yunho yang bebas mulai menyusuri tubuh mulus Jejung. Menyusupkan tangannya ke balik kemeja laki-laki cantik itu dan memainkan bagian paling sensitive di dada laki-laki cantik itu. Jejung semakin mendesah saat Yunho memainkan nipple-nya.  Yunho melanjutkan ciuman liarnya turun ke dada Jejung kembali meninggalkan jejak-jejak berwarna merah di sana. Tapi kemudian Yunho berhenti. Menatap kembali ke wajah Jejung yang memerah. Menatap sepasang mata bulannya yang tidak berfungsi disertai pancaran kebingungan. Yunho menatap wajah polos di depannya. Merutuki dirinya yang telah melakukan sesuatu yang mungkin akan menyakiti wajah cantik di depannya. Tidak dengan keadaan Jejung kali ini.

“Gomen Jejung. Aku tidak bisa. Tidak dalam keadaanmu.” Ucap Yunho tiba-tiba sambil memeluk tubuh Jejung. Jejung terkejut mendengar apa yang dikatakan Yunho. Tapi kemudian dia mengerti bahwa Yunho tidak tega melakukan hal itu padanya karena dirinya buta.

“Maafkan aku…” Ucap Yunho lagi dengan rasa penyesalan.

“Sudahlah Yunho-kun. Aku tidak apa-apa. Aku mengerti.” Ucap Jejung masih mengelus punggung Yunho. Mereka pun terus berpelukan hingga jatuh tertidur. Sepanjang malam Yunho terus mendekap Jejung di dalam pelukannya. Tidak sedikitpun kesempatan agar tubuh kecil itu lolos dari tangannya. Yunho memeluknya. Memeluknya seakan itulah pelukan terakhirnya.

TBC

Gomawoyo *deep bow

Udah mau baca ff gaje ini, mian NCnya dikit sekali >,<

Jangan lupa tinggalkan jejak chingu semua😀

9 thoughts on “[FF] Raining part 13-With You

  1. fiuuhhh …
    terasa berat diakhir.. diawal2 terbawa suasana pemikiran Yunho yang lambat dan damai🙂 , ditengah2 ketawa2 karena suasana yang cute dan lucu😀 ..diakhir jadi sediiiiih😦

    but, this is just GREAT!!❤

  2. gak rela kalo yunjae mesti pisah. pa yunho gak bsa smbuh.?? yunjae moment’y sweet bgt pi skaligus sdih..

  3. Hiks, hiks.. Tak jd NC tak apalah. Yg pntg YunJae bhagia.
    Oh, Yunho rela memberikan mata.a asal Jejung bahagia..

  4. Yah yah yah
    Nc an nya kok d potong???
    *jeder *ketahuan yadongnya
    Yunho, sepertinya kamu udah nyerah ya.. T.T
    Jgan nyerah gitu ajja gmna.., kan kasiand jejung kalo kamu tinggal ia seorng diri.. T.T

  5. Udah heeeey YunJae jangan sampe kebablasan…
    Dipertengahan YunJae momen nya udah manis bgt…
    makin bawah adegannya udh mau NC tp nggak jadi…

    Yunho jangan pasrah begitu…
    *nyesek*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s