[FF] Raining – Part.15 How could this happen!?


Annyeong readers ^^

Balik lagi sama author gaje secetar *halah

Kali ini Author update FF yg ceritanya rada-rada gimana gitu yaa –”

tapi selamat membaca aja ^^

========================================

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 15 – How could this happen!?

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi

Rate         : (bingung)

Please don’t do this to me.. I begging you!

(Jejung POV’s)

Aku bahagia kembali berkumpul dengan adik-adikku lagi tapi ada satu hal yang membuatku lebih bahagia. Jika Yoochun benar-benar bisa memaafkan Yunho dan berhenti menyalahkannya. Aku tidak bias membahas apa yang dikatakan Junsu padaku. Aku takut justru itu akan merusak hubungan kami saja. Aku percaya suatu saat Yoochun bias berhenti memiliki dendam di hatinya.

Hari ini seperti hari yang sudah-sudah aku kembali melanjutkan pekerjaanku di toko bunga. Kembali merangkai buket-buket yang menurut para pelanggan adalah buket yang indah. Mereka memujiku karena keahlianku merangkai buket, menurut mereka Hana-san benar. Orang yang mempunyai kekurangan sepertiku justru mempunyai sensitifitas lebih tinggi mengenai keindahan. Kadang aku tersipu malu mendengar pujian-pujian yang berdatangan.

“Jejung-kun kerjamu sangat bagus sekali!” Seru Hana-san puas setelah aku selesai merangkai sebuah buket untuk pernikahan. Aku tersenyum mendengar nada puas yang terdengar dari suara Hana-san.

Krinngg!

“Irasshaimase!” Ucapku saat mendengar bel toko.

“Jejung-nii! Hana-san konnichiwa!” Sapa sebuah suara. Aku mengenal suara ini. Suara lembut agak kekanakan.

“Konnichiwa” Jawabku dan Hana-san serempak. Tidak salah lagi ini suara anak itu, batinku.

“Kai?” Tanyaku kemudian.

“Haik! Genki desu ka nii-chan? Aku mencarimu dari kemarin tapi kata Hana-san kau libur kerja.” Ocehnya. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.

“Genki desu, Kai.” Jawabku singkat kemudian.

“Kai kau kelihatan bersemangat sekali hari ini. Ada apa?” Giliran suara Hana-san angkat bicara.

“Karena akhirnya aku bertemu Jejung-nii, Hana-san.” Jawabnya dengan penuh keceriaan. Aku menoleh kearah suaranya. Bingung dengan ucapannya. Tapi sebuah perasaan tidak enak tiba-tiba menyergapku.

“Baiklah. Aku tinggal sebentar ya Jejung-kun. Ada bunga yang harus aku ambil.” Pamit Hana-san lalu melangkah pergi. Aku hanya mengangguk lalu meneruskan pekerjaanku tanpa mempedulikan Kai yang berada di sekitarku.

“Apa aku bisa membantumu, nii-chan?” Tanyanya lagi.

“Tidak usah. Aku bisa sendiri. Arigatou.” Ucapku sesingkat mungkin. Entahlah aku hanya merasa ada yang aneh dengan Kai. Apa hanya perasaanku saja. Aku melanjutkan pekerjaanku merangkai buket bunga dan sekali lagi tidak mempedulikan Kai yang sedari tadi menatapku. Tentu saja aku tahu. Aku buta tapi aku bisa merasakan tatapannya.

“Ada apa? Kau menatapku terus?” Tanyaku tiba-tiba. Aku yakin Kai pasti terkejut.

“Eh.. Tidak ada.. Aku..” Ucapnya gagap. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku sambil tersenyum kecil.

“Nii-chan kau tau senyummu indah?”  Aku menoleh kearahnya dengan cepat. Tapi apa yang kuarasakan adalah sebuah benda berpermukaan halus, lembut dan juga basah.

Kriingg!! Aku mendorong tubuh Kai bertepatan dengan bunyi bel toko. Dan aku mendengar tubuhnya menabrak sesuatu

“Ahh Gomen..” Ucap orang yang baru saja memasuki toko. Suara itu. Benarkah suara itu yang kudengar. Kudengar pintu toko ditutup kembali dan aku masih saja mematung duduk dengan wajah pucat. Suara itu suara Yunho..

“Apa-apaan kau Kai! Bodoh!” Teriakku bangkit dari kursiku dan mencoba mengejar Yunho yang pasti belum jauh dari toko. Tapi tangan Kai menarik lenganku.

“Lepaskan aku Kai!” Kataku berusaha melepaskan diri dari cengkraman Kai yang cukup kuat.

“Nii-chan nande? Itu kan hanya tamu.” Ucapnya tanpa rasa bersalah. Andai aku tidak buta aku pasti sudah memukulnya.

“Bukan! Bukan urusanmu!” Kataku masih berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya. Tapi tangan Kai semakin memegangiku dengan keras hingga terasa sakit.

“Lepaskan!” Aku masih berontak tidak menyerah. Kai melepaskanku secara tiba-tiba hingga aku jatuh terjerembab. Kurasakan tubuhnya menindihku dengan cepat dan mulai menciumiku secara kasar. Aku meronta-ronta hingga tak sadar aku telah menangis.

“Kai hentikan apa yang kau lakukan!?” Teriakku mencoba mendorongnya dan mengalihkan wajahku dari ciumannya yang semakin brutal. Tapi kekuatan Kai terlalu besar untukku. Dia malah menahan kedua tanganku di atas kepalaku dengan satu tangannya.

“Nii-chan kau tahu aku sangat menyukaimu dari sejak awal. Aku melihat fotomu di ponsel Changmin.” Racaunya lalu merobek kancing kemejaku. Kurasakan tangannya mulai menjamahi tubuhku. Aku menangis. Mencoba meronta walaupun tanganku menjadi terasa sakit.

“Kai!! Tolong!! Hmm..” Aku berusaha meminta tolong tapi tangan Kai berhasil membekap mulutku dengan bibirnya. Kurasakan airmataku mengalir deras. Yunho!! Teriakku dalam hati berharap dirinya datang. Kai mulai meraba bagian bawah celanaku. Aku kembali meronta. Aku tidak akan menyerah.

“Kau tau Jejung-nii? Kau cantik sekali saat seperti ini. Untuk seorang buta kau sangat menggoda.” Ucapnya kemudian menjilat telingaku. Aku merasa jijik dengan ucapannya. Aku mencoba menendang-nendang tapi hasilnya nihil. Kai terlalu kuat untukku. Yang aku bisa lakukan hanya menangis. Kai mulai menggesek-gesekkan juniornya pada juniorku  dan tangannya yang bebas mulai meraba-raba dadaku dan mempermainkannya.

“Hentikan! Kumohon kau menjijikkan!” Teriakku. Plakk! Kurasakan perih di pipiku akibat tamparan keras yang kuterima.

“Jangan biarkan aku melukai wajah mulusmu Jejung.” Ucapnya sembari menjilat sudut bibirku dan melumatnya lagi bahkan menggigitnya sampai terasa sangat perih. Aku kembali meronta-ronta. Airmataku tak henti-hentinya mengalir membuat tawa licik Kai terdengar.

“Kau sakit!” Teriakku lagi tapi sebuah tamparan lagi yang kudapatkan dan kali ini lebih keras. Membuat kepalaku pusing. Aku benci apa yang kurasakan sekarang. Aku seakan melihatnya melakukan hal itu padaku. Aku menangis di dalam gelap mataku. Harga diriku hancur sudah.

“Kai kumohon hentikan..” Pintaku mulai melemah saat dia mulai menurunkan retsleting celananku. Aku hanya mendengarnya berdecak puas.

Kriingg!!

“Nii-chan!!” Tiba-tiba kudengar suara Changmin berteriak tepat pada waktunya. Kudengar langkah kakinya juga yang berlari kearahku.  Kai segera melepaskan pegangannya di tanganku.

“Kai! Kau benar-benar brengsek!”  Bukk!! Kemudian kudengar sebuah suara pukulan yang cukup keras. Aku segera bangun dan mundur hingga punggungku mengenai rak bunga yang ada di belakangku. Tubuhku bergetar hebat hingga aku tak mampu berdiri. Tapi aku harus bertemu Yunho aku harus menjelaskan segalanya. Dengan sekuat tenaga aku bangkit. Menahan berat tubuhku di rak-rak bunga. Meraba pinggirannya agar aku bisa sampai di pintu keluar. Dengan susah payah aku melangkahkan kakiku ke pintu keluar. Konsentrasiku buyar dan aku tidak dapat focus dengan apa yang kulakukan. Akhirnya aku menggapai gagang pintu itu dan mendorongnya keluar.

Dukk!! Aku menabrak seseorang saat aku hendak keluar dari toko.

“Jejung-kun doushite?” Suara Hana-san mengagetkanku. Tapi aku tidak mampu berkata-kata. aku terdiam dengan isakan yang tersisa tanpa menjawab pertanyaan Hana-san. Kemudian aku mencoba berlari dari sana. Aku mencari pegangan yang bisa membawa jalanku tetap lurus. Rasa perih di wajah dan tubuhku tidak kupedulikan. Entah kemana aku berjalan yang pasti aku harus menemukan Yunho walaupun kegelapan menghalangiku. Aku terus meraba pagar taman dan pohon yang ada di sekitarku. Tidak peduli tatapan orang-orang yang melihatku. Aku merasakan setiap tatapan orang yang kulalui memandangiku dengan bingung. Aku terjatuh berkali-kali. Bahkan kurasa aku menabrak lampu jalan hingga keningku terasa berdenyut-denyut. Semua tubuhku terasa perih dan lelah. Tapi aku harus bisa sampai di apartemen Yunho bagaimanapun caranya. Aku sudah bertekad. Langkahku mulai sempoyongan dan sudah tidak mampu berdiri. Aku terjatuh di pinggiran jalan. Nafasku tersengal. Airmatakupun masih saja mengalir. Aku ingin bertemu Yunho! Teriakku dalam hati.

“Jejung-kun!?” Pekik seseorang. Aku mencari arah suara itu. Aku seperti mengenalnya. Suara lembut seorang gadis.

“Jejung-kun nan desu ka? Kau baik-baik saja!?” Tanyanya panic menyentuh bahuku. Aku tidak bisa berkata-kata seakan semua suaraku terhenti di tenggorokan. Aku tahu suara ini. Suara Mizuni, recepsionist apartemen Yunho. Aku menggenggam tangannya.

“Antar.. aku.. kepada.. Yunho..” Ucapku sekuat tenaga.

“Baiklah!” Ucapnya cepat dan segera membopongku berjalan sampai apartemen Yunho.  Kurasakan kami sudah memasuki sebuah lift untuk mengantarku ke lantai apartemen Yunho.

“Jejung-kun kau masih bisa berdiri?” Tanyanya kawatir. Aku mengangguk lemas. Sesaat bunyi ‘ting’ terdengar menandakan kami sudah sampai lantai yang dituju. Mizuni masih membopongku dengan langkah terseok kemudian dia berhenti.

Ting tong! Suara bel terdengar dari dalam sebuah kamar. Aku yakin kini aku telah berdiri di pintu apartemen Yunho. Mizuni kembali menekan belnya. Aku mulai was-was jika Yunho tidak di dalam. Tidak lama kudengar pintu terbuka saat Mizuni menekan bel untuk keenam kalinya.

“Jejung!?” Pekik suara itu. Suara Yunhoku.

(Yunho POV’s)

Baru sehari dan aku sudah merindukan sosok mungil nan cantik itu. Aku ingin bertemu dengannya. Tiba-tiba muncullah ide untuk memberinya kejutan dengan datang tiba-tiba ke toko bunga tempat Ia bekerja. Aku tersenyum sendiri membayangkan bagaimana wajah polosnya akan terkejut jika aku tiba-tiba di sana serta senyum malu-malunya yang aku rindukan. Jejung, Jejung aku merindukanmu.

Aku kemudian bersiap untuk memberinya kejutan. Sekalian ada sesuatu yang ingin kuberikan padanya. Kumasukkan kalung berinisial Y&J itu di sebuah kotak merah kecil lalu kumasukkan ke dalam kantong jaketku. Aku mulai mengayuh sepedaku dengan riang melewati pepohonan yang daunnya mulai meranggas. Akhirnya sampai juga aku di sebuah toko bunga kecil berwarna putih. Dengan hati berbunga-bunga kubuka pintu toko itu.

Tapi apa yang kulihat. Sebuah pemandangan yang tidak pernah sekalipun aku membayangkannya. Jejungku. Jejung milikku berciuman dengan orang lain. Seketika hatiku hancur berkeping-keping.

“Ahh Gomen..” Hanya itu yang mampu terucap dari bibirku. Aku menatap wajah kaget Jejung. Aku menutup kembali pintu toko itu dan segera enyah dari tempat itu bersama hatiku yang hancur. Aku mengayuh sepedaku kembali pulang ke apartemen. Mengunci diriku di dalam kamar. Terdiam hingga kurasakan hangat di hidungku. Aku menyentuhnya dan melihat darah kental menempel di jariku. Aku mengelapnya seadanya tidak peduli bahkan jika aku akan mati sekarang. Tidak sadar akupun menangis. Betapa hancur hatiku, di ujung nyawaku aku harus melihat sesuatu seperti itu. Perih rasanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Airmataku sudah bercampur dengan darah yang mengucur dari hidungku dan aku tidak peduli. Kemudian akupun tersadar bahwa mungkin Jejung akan lebih bahagia bersama laki-laki itu. Mungkin laki-laki itu bisa memberi Jejung lebih cinta daripada dirinya. Mungkin Jejung jadi tidak akan merasa sedih jika aku pergi nanti. Setidaknya mereka akan lebih bahagia karena Jejung bisa melihat. Aku tersenyum lirih pada diriku sendiri. Jika aku bersikap egois aku akan menyakitinya. Maka aku akan menitipkan Jejung pada orang yang akan menyanyanginya lebih daripada diriku.

Ting tong!! Sesaat suara bel apartemenku berbunyi. Tapi aku tidak beranjak dari tempatku duduk. Biarkan saja aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa. Kemudian bunyi bel kembali berbunyi dan aku masih tetap pada posisi yang sama. Terbesit di pikiranku bahwa itu adalah Jejung. Tapi kubuang jauh-jauh pikiran itu. Tidak mungkin dia mencariku, pikirku. Tapi bunyi bel tetap saja terdengar sehingga aku memaksakan tubuhku bergerak untuk membuka pintu dan siap untuk memaki siapa saja yang ada di depan pintuku dan mengganggu waktu berdukaku. Sebelum membuka pintu aku mengelap mukamu terlebih dahulu karena berlumuran darah. Aku membuka pintu dan apa yang kulihat di depan pintu mengurungkan niatku untuk memaki. Pemandangan yang sangat menyedihkan terpampang di depan mukaku. Tubuh lunglai laki-laki yang sempat menghancurkan hatiku berdiri lemah di depanku dengan bantuan Mizuni. Selama beberapa detik aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Jejung!?” Pekikku. Dan hanya itu yang mampu aku keluarkan dari mulutku melihat tubuhnya penampilannya yang sangat menyedihkan.

(Author POV’s)

Dengan segera Yunho mengambil alih tubuh Jejung dan menggendongnya ala bridal style lalu menidurkannya di sofa. Menatap mata beningnya sejenak yang sudah membengkak karena menangis secara terus menerus sebelum akhirnya sadar Mizuni menunggunya di luar.

“Ahh Mizuni arigatou! Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?” Ucap Yunho saat berada di depan pintu kamar apartemennya.

“Douita Yunho-kun. Aku tidak sengaja bertemu dia saat pulang dari supermarket. Dia terduduk lemas di pinggiran pagar taman. Aku penasaran dan mendekatinya yang ternyata adalah Jejung-kun.” Jelas Mizuni. Yunho mengangguk mendengar penjelasannya.

“Sekali lagi arigatou!” Ucap Yunho lagi. Mizuni hanya tersenyum dan segera pamit undur diri. Setelah Mizuni pergi, Yunho kembali masuk dengan paniknya.

“Jejung Jejung kau kenapa!?” Tanyanya kawatir sambil memegangi pipi laki-laki itu. Melupakan semua rasa sakit hatinya yang tadi. Jejung memaksakan senyumnya. Tubuhnya sudah sangat sakit.

“Yun.. Gomennasai ne..” Ucapnya lirih. Yunho segera memeluk tubuh lemah Jejung yang masih bergetar hebat.

“Daijobu daijobu Jejung!” Ucap Yunho mendekap Jejung.

“Aku.. mencintaimu..” Lanjut Jejung lemah. Yunho semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa airmatanya kini jatuh.

“Jejung berbaringlah aku akan mengambilkanmu obat dan air hangat. Lukamu harus di bersihkan.” Ucap Yunho melepas pelukannya dan segera berlari ke dapur membawa kotak obat dan sebaskom air hangat. Yunho secara perlahan mengelap kotoran dan debu-debu yang menempel di dahi Jejung. Lalu mengelap lehernya yang tampak memiliki bekas-bekas berwarna merah. Tapi Yunho baru sadar bahwa kemeja Jejung terkoyak menampilkan dada putih Jejung yang bidang. Semua kancingnya terlepas. Tiba-tiba pikiran buruk melandanya. Ada firasat yang mengatakan Jejung baru saja menghadapi fase paling menakutkan.

“Jejung..” Ucapan Yunho tertunda dengan bunyi ponselnya yang nyaring.

“Moshi moshi?” Jawabnya tanpa melihat si penelepon.

“Senpai apa nii-chanku di sana!?” Tanya suara panic di seberang.

“Iya Chang. Kau dimana?” Tanya Yunho.

“Aku akan segera ke sana senpai!” Putus Changmin sebelum menjawab pertanyaan Yunho. Laki-laki itu hanya menatap ponselnya aneh lalu kembali memasukkannya ke dalam kantong dan melanjutkan membersihkan luka Jejung.

“Kau kenapa? Apa yang terjadi?” Tanya Yunho menatap wajah lemah yang terbaring diatas sofa. Jejung menggeleng lemah. Bulir-bulir airmata masih jatuh secara perlahan di pipinya. Yunho kembali menarik tubuh renta itu dalam pelukannya. Tubuh Jejung kembali bergetar. Dia menangis. Yunho menjauhkan tubuhnya dan menatap mata bulan Jejung yang tidak berfungsi tapi menyiratkan semua ketakutan dan kesedihan. Tidak lama terdengar kembali suara bel. Yunho segera membukakan pintu dan mendapati sosok jangkung yang mengenakan seragam dengan berantakan. Changmin segera menerobos masuk sebelum di persilahkan. Wajahnya menampakan kekawatiran yang berlebihan.

“Nii-chan!” Seru Changmin memeluk tubuh Jejung.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Changmin melepas pelukannya. Jejung menggeleng dan airmatanya bertambah deras. Yunho mendekati mereka dan berdiri di samping Changmin yang berlutut di samping sofa.

“Chang ada apa sebenarnya?” Tanya Yunho mulai penasaran. Sudah banyak pikiran buruk berkecamuk di dalam otaknya.

“Jejung-nii..”

“Jangan Chang!” Potong Jejung terisak. Changmin menatap wajah memelas onii-channya. Tapi Changmin tidak bisa diam saja dengan yang sudah terjadi.

“Jejung-nii diperkosa orang, senpai.. Untung saja aku datang tepat waktu untuk menjemput Nii-chan..” Ucapan Changmin bagai kilat yang menyambar di atas kepala Yunho. Kemarahan saat itu naik dan mendidihkandarah di kepalanya.

“Jangan katakan kalau laki-laki yang kulihat di toko bunga itu yang melakukannya!!?” Teriak Yunho geram. Changmin menatap Yunho bingung.

“Senpai darimana kau tahu?” Tanyanya.

“Aku datang untuk memberi kejutan tapi aku melihat Jejung tengah berciuman dengan laki-laki itu. Seandainya aku tahu hal buruk akan terjadi aku tidak akan meninggalkannya.” Ucap Yunho dengan nada penyesalan. Tangannya mengepal menahan marah.  Hatinya ikut sakit mendengar kejadian yang menimpa Jejung. Bodohnya dia saat itu.

“Aku akan mencarinya!” Ucap Yunho beranjak pergi.

“Jangan Yun.. kumohon..” Tahan Jejung. Yunho berbalik dan menatap wajah itu.

“Tapi..”

“Aku sudah memberinya pelajaran senpai.” Potong Changmin. Yunho menatap Changmin. Tidak heran seragamnya menjadi berantakan. Akhirnya Yunho mengurungkan niatnya dan  kembali berjalan kearah Jejung dan duduk di sebelahnya. Mengusap lembut rambut laki-laki cantik itu dengan tatapan terluka.

“Gomen Jejung.. Maafkan aku..” Ucapnya penuh penyesalan. Menyalahkan dirinya yang tidak bisa melindungi Jejung.

“Aku yang harusnya minta maaf.” Ucap Changmin lirih. Yunho menatap wajah adik laki-laki yang di cintainya dengan bingung.

“Aku tidak tahu bahwa akhirnya akan seperti ini. Laki-laki itu adalah temanku. Teman baikku. Dia memang murid pindahan tapi dia orang yang nyaman di ajak bicara. Mungkin aku terlalu mudah percaya pada orang. Maafkan aku Jejung-nii, Yunho senpai..” Isak Changmin menunduk. Jejung menggapai wajah adiknya mengusap pipinya pelan.

“Aku tidak apa-apa.” Ucapnya dengan senyum lirih. Yunho menepuk pundak Changmin menyatakan bahwa dirinya juga tidak marah. Tidak ada yang tau bahwa kejadian seperti ini akan terjadi.

“Yunho senpai bisakah aku merepotkanmu lagi?” Tanya Changmin dengan wajah memelas. Yunho mengangguk.

“Doushite?” Tanyanya.

“Aku tidak akan membawa Jejung-nii malam ini dengan keadaan seperti ini. Jika Yoochun melihatnya aku kawatir masalah yang akan datang lebih besar lagi. Aku mohon senpai.” Ucap Changmin memohon.

“Tenanglah Chang. Aku akan menjaga onii-chanmu. Lebih baik kau pulang sekarang sebelum Yoochun mencarimu.” Ucap Yunho tersenyum. akhirnya Changmin pun pamit pulang setelah memeluk onii-channya sekali lagi.

Yunho kembali duduk  di sofa bersama Jejung. Mengusap wajahnya dengan ibu jarinya. Menatap nanar wajah orang yang dicintainya.

“Jejung, maafkan aku.” Gumam Yunho. Jejung menyentuh tangan Yunho yang berada di wajahnya.

“Yun.. Kumohon jangan tinggalkan aku..” Ucap Jejung lirih. Yunho kembali mendekap tubuh Jejung. Membiarkan Jejung kembali terisak. Laki-laki itu bisa merasakan ketakutan yang dialami Jejung. Betapa teganya orang yang telah melakukan ini semua pada orang seperti Jejung.

Yunhopun menggendong Jejung ke kamarnya dan menggantikan bajunya yang sudah kotor dan tidak berkancing. Kemudian menyelimutinya.

“Yun jangan pergi..” Ucapnya lagi menahan tangan Yunho yang hendak pergi.

“Temani aku..” Lanjutnya lagi. Mata kosongnya memancarkan ketakutan yang teramat sangat serta rasa trauma. Yunho membaringkan tubuhnya di samping Jejung. Menatap wajah penuh lebam di depannya. Hatinya hancur melihat pemandangan ini. Bagaimana bisa Ia membiarkan hal buruk terjadi di depan matanya. Yunho lalu mendekap tubuh mungil Jejung hingga tertidur. Mencium pucuk kepala laki-laki cantik itu. Ada rasa bersalah yang mendalam karena Ia tidak bisa menjaga malaikatnya. Kali ini dia bertekad. Selama dia masih bernafas tidak akan membiarkan Jejung kembali terluka seperti sekarang.

“Jejung gomennasai.. aku mencintaimu..” Gumamnya sembari memeluk Jejung di dalam tidurnya.

TBC

Jangan lupa tinggalkan jejak yaa readers ^^

mian kalo FFnya gaje bin ancur😦

mian juga klo dr para chingudeul ada yang ngefans ama Kai x) *bow

Ini hanya fiktif belaka ne ^^

8 thoughts on “[FF] Raining – Part.15 How could this happen!?

  1. kai brani skali drimu ingin perkaos jaema.. lum tw ja klo yunbear ngamuk kya gmn.. haha
    untung yunho gak lama slah paham’y.. gak mungkin jae brpaling k’org lain.. yunho mdh”an smbuh dr pnyakit’y.. gak rela klo yunjae pisah.

  2. aigooo..kasian jeje😦 gemes-gemes ngga tega pas baca awal-awalnya..
    tapi endingnya sweet🙂
    yunho jangan mati yaaa…
    jeje lebih tegar yaaa menerima banyak cobaan *duh bahasanyaa..
    changmin awas tuh Kai, awasin baik2 #eh??
    yuChun lapangkan hatimu untuk yunho ya *abis nonton ulang JYJ’s Come On Over bagian YuChun: aduuuhh sweet banget deh dia jadi sosok anak laki-laki dan kakak😀 kamu pasti bisa ChunNie!
    Su-ie, kamu kemana? kangeeenn… #laahhh, ngaco..

    ayo author, semangat ya😀

  3. ieeeeeee jj mw diperkosa ><
    yunppa bukanny nolongin jaemma mlah prgi lgi
    untung minnie dteng , keperawanan (?) umma terselamatkan

  4. huwaa… oppa siy knapa main tinggal ajah jd hampir ajah jaema di rape sm kai untung changmin tepat wkt ya udah deh ditunggu klanjutanny klo boleh jujur siy pgn yg happy ending
    #ngarep.com

  5. yaa ampyuuuunnn..jaema dilecehkan…gak terimaaa…#ambil golok buat ngebantai kai#
    kasian amat jongie, mana ntar yunnie bisa2 ninggalin jongie lagi…aigooo..otthoke??

  6. Kaiiiii…, apa yg kau lakukan pada jejung, hahhh!!
    Jejung chan, kasiannya dirimu.., tapi kenapa musti yunho pergi lagi.., tapi…
    Kasian yunho juga..
    Untung changmin dateng tepat waktu kalo engga,., apa dikata dong ya…

  7. Aduh Kai… ==”
    Perusak hubungan YunJae… ==”
    Berani”nya cium Jejung… untung blom diapa”in…

    Agak menyesakkan wkt Jejung bilang jangan pergi… *sobs*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s