WE AREN’T REAL, JUST DREAM/ YUNJAE/ CHAPTER 3


WE AREN’T REAL, JUST DREAM

Created by Amee

Chapter-3

.

.

Summary:

Aku memeluk pinggang ramping Jaejoong dan menariknya untuk semakin dekat denganku di tengah lautan merah yang menyerukan kata “Yunjae” dengan liarnya, sementara Jaejoong menatapku lembut dengan doe eyes nya, sesekali bersandar di bahu bidangku. Sayangnya itu hanya sekadar fanservice.

.

.

CHAPTER 3 – PLEASE MAKE IT REAL

Hari ini kami mendapat waktu bersantai sedikit lebih banyak dari hari kemarin, maksudku hari ini kami tidak terjerat kegiatan apa pun, dengan kerendahan hatinya menejer hyung membiarkan kami beristirahat sejenak.

Aku tengah berada di ruang tamu bersama Changmin yang tengah memainkan psp kesayangannya. “Jae sangat lama jika berdandan,” katanya berulang-ulang.

Melihatnya membuat jantungku berdenyut. Aku tidak mengerti mengapa ia selalu tampak bahagia dan bersemangat, mengapa aku selalu merasa iri padanya, aku tidak mengerti. Bukankah seharusnya kesakitan dan rasa iri itu memiliki waktu kadaluarsa?

Aku mengamati Changmin, bertolak dengan rasa sesak yang kudapati setiap melihatnya. Pada beberapa detik terakhir setelah ia membuka pesan masuk di ponselnya, air wajahnya berubah. Changmin menyambar jaketnya dan berjalan ke arahku, tepat ketika kulihat Jaejoong tengah masuk ke dalam ruang tamu.

“Aku harus pergi, Hyung,” kata Changmin padaku, hampir bersamaan dengan kata-kata Jaejoong yang kemudian terpotong.

“Aku sudah si—. Kau mau ke mana, Min?” tanya Jaejoong, aku bisa melihat raut tak senang di wajah cantiknya.

“Maafkan aku, tapi sepertinya kencan kita malam ini harus ditunda,” jawab Changmin, suaranya sangat pelan seperti tertiup angin.

“Kenapa? Kemana?”

“Dorm Super Junior. Kyuhyun sakit, ini gara-gara aku, seharusnya kemarin aku menemaninya mencari games. Dia sangat tidak sabaran,” kata Changmin lagi setelah ia mengenakan jaketnya.

Kulihat Jaejoong tersenyum, sangat manis namun terkesan menyakitkan.”Aku mengerti,” katanya lantas berbalik. “Minnie, bisakah suatu hari nanti kau hanya melihat ke depan, ke arahku. Bisakah suatu hari nanti kau tidak tergoda untuk menoleh pada Kyuhyun,” kata Jaejoong pelan, kemudian ia melanjutkan kata-katanya ketika kulihat Changmin sudah membuka mulutnya. “Berhenti membuat alibi dengan mengatakan kau menganggap Kyu sebagai kembaranmu. Kau tahu aku cemburu, kau tahu aku tidak senang, tidak bisakah kau memedulikanku. Kau tahu, aku lebih peka dari yang kau pikirkan. Dengarkan aku, Kyu menyukaimu, aku bisa merasakannya!”

Jaejoong berjalan cepat meninggalkan Changmin, sementara aku hanya bisa mematung di tempat memerhatikan lakon drama yang seolah mereka mainkan. Aku ingin berlari mengejar Jaejoong lantas membawanya ke dalam dekapanku.

Aku tidak menyadari kapan Changmin menghilang dari hadapanku, dan kini tengah memeluk Jaejoong dengan sangat eratnya. Aku merasa hatiku terkoyak menjadi seribu bagian ketika melihat Changmin menjatuhkan kepalanya di bahu Jaejoong dan mengatakan, “Jangan pernah berbalik dari pandanganku. Jangan pernah berlari dari genggamanku. Aku takut tidak bisa menggapaimu untuk kedua kalinya,”

Shim Changmin, magnaeku. Anak polos yang selalu bersikap ceroboh bisa berubah menjadi sangat manly di hadapan Jaejoong. Cinta merubahnya, dan aku merasa bahwa diriku terlalu picik dengan mengharapkan Jaejoong sebagai milikku. Aku tidak mungkin menghancurkan adikku sendiri. Cukup satu pihak yang tersakiti, aku, tidak perlu ada pihak-pihak yang lain.

“Pergilah, temui Kyu,” kata Jaejoong pada akhirnya,dan Changmin pergi. Kenapa kau begitu bodoh Shim Changmin! Tidak tahukan kau bahwa itu dapat menyakiti Jaejoong?

XXX

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kurasakan. Aku hanya butuh sedikit ketenangan, itu saja. Apa yang kuharapkan itu terlalu berlebihan?

Kupandangi wajahku di cermin, aku tidak tahu apa, tapi aku bisa merasakan sesuatu yanfg berbeda, ada yang salah dengan diriku.

Dorm sudah sepi sejak satu jam lyang lalu. Tak lama setelah Changmin pergi, Jaejoong juga pergi, aku tak tahu kemana, sejujurnya saat itu aku sangat ingin menghentikannya namun aku tak mampu. Dan disinilah aku sekarang, duduk sendiri di dorm dengan penuh penyesalan.

Aku duduk dengan gelisah, berkali-kali kuganti posisi, namun tak juga kutemukan posisi terbaikku. Pada detik terakhir yang kuingat, ponselku berdering lantas segera aku menyambarnya.

“Kau dimana Hyung?” tanya Yoochun setengah berteriak hingga aku harus menjauhkan ponsel dari telinga.

“Tidak bisakah untuk tidak berteriak? Aku di dorm,” jawabku.

“Datanglah ke mirotic cafe, kamar vip 3 atas nama Park Yoochun, aku menunggumu,”

“Aku sedang dalam kondisi tidak baik. Bersenang-senanglah sendiri,”

“Tidak ada penolakan atau kau menyesal. Aku menunggumu,” katanya, dan telepon terputus.

Aku menghela nafas dalam-dalam. Lantas kembali kujatuhkan tubuhku di atas sofa. Aku tidak yakin harus pergi, tapi kemudian sisi lainku mengatakan bahwa aku harus pergi. Setelah cukup lama kupikirkan, akhirnya kuputuskan untuk pergi. Mungkin Yoochun memiliki sesuatu yang menyenangkan.

XXX

Dan di sinilah aku berada sekarang, di tengah –tengah hingar bingar Mirotic Cafe. Tempat ini tidak asing bagiku yang sering mengunjunginya. Kau tahu, meskipun dinamakan cafe sebenarnya ini adalah bar.

Aku menarik nafas dalam sebelum menarik slot pintu kamar vip 3. Dan betapa terkejutnya aku karena yang kudapati bukanlah Park Yoochun, melainkan Jaejoong yang tengah melumat pundak seorang wanita di atas pangkuannya.

Aku mencoba untuk menenangkan diri dan menekan bara amarahku, berpura-pura bersikap bahwa ini adalah keadaan normal. Kuputuskan untuk masuk ke dalam dan duduk di sebrang Jaejoong. “Dimana Yoochun?” tanyaku.

“Entahlah,” kata Jaejoong.

Jaejoong terus menciumi pundak wanita itu, sesekali meremas-remas payudaranya, hingga wanita itu menjerit dan bergelinjangan. Rasanya aku sangat mual. Kuamati wanita itu, di mana Jaejoong menemukan wanita seperti itu. Wanita dengan pakaian kekurangan bahan seperti itu. Bayangkan saja. Bahkan aku bisa melihat celana dalamnya dengan jelas ketika ia duduk di pangkuan Jaejoong, betapa roknya tidak bisa menutupi apapun. Bahkan, karena bentuk pakaian yang terlalu melekat di tubuh, nipplenya yang telah mengeras menyembul begitu saja. Menjijikan.

“Sedang apa kau di sini? Aku pikir Yoochun yang menyewa kamar ini,” kataku lagi.

“Sedang melakukan ini,” jawab Jaejoong. Jaejoong menyentuh bagian sensitif wanita itu, menarik celana dalam yang telah basah oleh cairan lantas menggosok-gosokkannya. Aku hanya memperhatikan bagaimana tubuhnya tanpa minat, hanya kemarahan yang kurasakan dalam diriku. Sejujurnya ingin kudepak wanita itu. “Tadi Yoochun memang disini, kemudian ia pergi,” kata Jaejoong.

“Kau,” kataku pada wanita itu. “Rapikan pakaianmu, dan tolong carikan Park Yoochun,” kataku. Dan Jaejoong melepaskannya dengan mudah. Aku tahu bahwa sesungguhnya Jaejoong tidak benar-benar berminat pada wanita itu.

Dengan gerakan enggan wanita itu turun dari pangkuan Jaejoong, merapikan pakaianya, lantas meninggalkan ruangan. Kuamati Jaejoong yang terus meminum bir nya, entah sudah sloki keberapa ketika aku menghentikannya. Wajahnya sudah memerah sempurna, yang kuyakin kesadarannya telah menurun karena ia mulai meracau.

“Kau tahu Yun, aku memang tidak semuda Kyuhyun, tapi aku tetap cantik benar?”

Sangat benar.

“Aku memang tidak pandai bermain game seperti Kyuhyun sehingga Changmin merasa senang. Tapi aku sangat pandai memasak, benar kan?”

Itu juga benar.

Dan pada detik berikutnya, Jaejoong telah terisak. Dan kuberanikan untuk memeluknya. Posisi ini bertahan selama lima belas menit dan tidak ada tanda-tanga kemunculan Yoochun. Melihat kondisi Jaejoong yang seperti ini, akhirnya kuputuskan untuk pulang.

XXX

Ketika sampai di depan dorm, Jaejoong telah terlelap. Dengan hati-hati aku membanya dalam pelukanku menuju kamarnya. Saat itu dorm masih sepi, tidak ada tanda-tanda bahwa member yang lain telah pulang, termasuk Changmin. Apa mungkin mereka lupa bahwa ini adalah rumah mereka? Aku mendesah.

Aku menjatuhkan tubuh Jaejoong di atas ranjang. Dia sangat cantik ketika terpejam. Kuamati seluruh tubuhnya, dan bara amarahku tiba-tiba saja berkobar ketika melihat noda kering di celananya, milik wanita itu. Rasanya ingin ku cabik saja celananya. Ponsel di dalam sakunya terus berdering sejak kami berada di kafe namun Jaejoong sama sekali tidak membukanya.

Aku mengelus kepalanya. Tidak apa-apakan? Untuk kali ini saja. Tuhan, kumohon sampaikan maafku pada Changmin. Ketika aku hendak menarik tanganku, Jaejoong terbangun dan justru menahanku. Dia membuka seluruh kancing kemejanya, membuatku mau tidak mau menelan ludah berkali-kali.

Jaejoong meletakkan telapak tanganku di dadanya. “Rasanya di sini sangat sakit,” katanya. Jejoong menatik kepalaku, dan meletakan telingaku di dadanya, hingga pipiku bersentuhan dengan kulit dadanya yang mulus, serta mata dan bibirku bisa sangat dekat dengan nipple nya. Aku ingin menyenyuhnya, ingin menciuminya, ingin melumatnya, tapi tidak bisa. “Kau bisa mendengar betapa sakitnya aku, Yun?” tanyaku.

Aku mengangguk lantas menengadahkan wajahku, dan demi tuhan Jaejoong menciumku. Untuk beberapa detik pertama aku hanya terdiam tak tahu harus bersikap bagaimana, rasanya sangat lembut dan memabukan, hingga sesuatu dalam diriku rasanya ingin meledak tak tertahankan. Ketika aku ingin mbalas menciumnya, kesadaran menyadarkanku.

“Ini tidak boleh dilakukan, Jae. Ini suatu kesalahan. Kau sedang mabuk, dan aku bukan Changmin!” pekikku.

“Aku sedang tidak mabuk, dan aku tahu bahwa kau bukan Changmin, Jung Yunho,” katanya penuh penekanan. “Ini permohonanku, untuk kali ini saja, bantu aku. Cobalah untuk menikmatinya meski kau tak ingin. Anggap saja ini bagian dari fanservice,” katanya sambil meletakkan tanganku di atas sesuatu yang telah menegang di antara pahanya.

Jaejoong tidak kah kau tahu bahwa ini yang selalu kuinginkan sejak gdulu, kau tidak perlu memaksaku pun bahkan aku akan sangat menikmatinya, sungguh. Tubuhmu adalah candu.

Aku naik ke atas tubuhnya, lantas menciumnya dengan brutal, dan Jaejoong hanya diam sesekali membalas seakan telah pasrah. Untuk beberapa bagaian ia melenguh.

Aku menyentuh semua bagain tubuhnya, menelanjanginya, mencium dan mengulum nipplenya. Ketika aku hanya terdiam memandangi tubuh bawahnya dia mengangguk pasti, dan jantungku terasa berdebar ribuan kali lebih cepat.

Aku meminta jaejoong untuk menganggkankan kakinya. Kusentuh lubang miliknya dan semuanya terjadi.

XXX

Pagi akhirnya tiba, dan kubuka mataku dalam suasana yang baru. Aku terbangun di atas ranjang yang sama dengan Jaejoong. Aku menoleh ke arahnya, dan kulihat ia telah bangun. Jaejoong tersenyum canggung padaku, dan kubalas demikian pula. Aku mengamati tubuhnya yang dihiasi beberapa kissmark yang kubuat. Aku tersenyum, dan ketika melihatnya untuk kali kedua, aku takut. Bagaimana dengan Changmin.

Pintu kamar berdecit terbuka perlahan, memunculkan wajah yang tak ingin kulihat.

“Kau sudah bangun Ja—e?” suara Changmin tersendat, ia memaksakan untuk tersenyum sehingga lebih tampak seperti orang yang meringis. “Aku tidak melihat apapun, maaf mengganggu,” katanya. Ketika Changmin berbalik dan menutup pintu, aku melihat air mata membasahi pipinya.

Aku merasakan rasa bersalah yang mengoyah perasaanku dengan kejamnya. Aku hendak turun dari ranjang dan mengejar Changmin, namun Jaejoong menahanku.

“Biarkan saja. Aku ingin Minnie merasakan bagaimana sakitku. Semalaman bersama Kyu, apa yang dia lakukan di sana?” Jaejoong tertawa sarkastik.

Setengah jam kami habiskan di dalam kamar tanpa pembicaraan, hingga kemudian kami memutuskan untuk mandi dan tkeluar. Ketika kami keluar kamar, tidak ada siapa-siapa di sana, termasuk Changmin. Changmin, mengingatnya membuat dadaku kembali terasa sesak dipenuhi rasa bersalah.

“Selamat pagi Hyung,” teriak seseorang setelah kudengar pintu dorm terbuka.

“Kyu?” tanya Jaejoong dan raut wajahnya segera berubah. “Ada apa?” tanyanya datar.

“Changmin ada Hyung, aku ingin menunjukan psp terbaruku,” kata Kyuhkun.

“Bukankah kau sedang sakit Kyu?” tanyaku.

“Ya, dan bukankah Changmin telah menemanimu semalaman hingga ia mengabaikanku. Tidak cukupkan itu bagimu?” kata Jaejoong tinggi.

“Aku tidak mengerti. Aku tidak sakit dan Minnie tidak menemaniku. Aku bahkan belum bertemu dengannya sejahk konser terakhir kita kemarin,” jawab Jkyuhyun.

Jaejoong menggelengkan kepalanya seolah ingin membuang semua kebingungannya. Ia berlari meninggalkan kami dan kembali dengan membawa ponsel miliknya. Dengan tangan yang bergetar ia mencoba untuk membukanya.

“Biar aku saja,” katanku setelah memasktikan Jaejoong terlalu tegang melakukannya.

180 panggilan tak terjawab dan 52 pesan, semuanya dari Changmin tadi malam.

Kubuka beberapa pesan teratas.

06.17 Aku pulang sekarang. Kim Jaejoong aku mencintaimu.

05.38 Aku sedang mempersiapkan kata-kata untuk meminta maaf padamu. Sebentar lagi aku akan pulang. Kenapa aku mengatakan hal ini? Karena aku yakin kau tidak membuka pesanku.

01.14 Jae sudah selesai? Apa yang Yuunho Hyung katakan. Aku sedang berada di tepi sungai Han sekarang. Maaf membuatmu khawatir. Aku tidak bersama Kyuhyun sedikit pun.

24.13 Maaf sudah membohongimu.

24.00 Jae maafkan aku.

22.10 Maaf karena aku tidak berkata jujur. Aku tidak tahu harus membuat alasan apa untuk membatalkan kencan kita berdua, akhirnya aku menggunakan kyuhyun sebagai alasanku, meskipun sebenarnya tidak, itu tidak benar, jangan menyalahkan kyuhyun.

21.46 Yoochun Hyung bilang Yunho hyung ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu, sementara hari ini kita berjanji untuk kencan. Bagaimana ini? Aku sangat bingung. Jika aku membatalkannya karena ini kau akan marah padaku. Tapi aku tidak tahu, karena kebohonganku kau jauh lebih marah padaku.

Dan Jaejoong jatuh terisak dengan keras. Sementara aku ingin membunuh diriku sendiri saat itu juga.

TBC

Silakan komentari chapter ini -.- sepertinya gagal

Next chap : secret X complicated X hurted

9 thoughts on “WE AREN’T REAL, JUST DREAM/ YUNJAE/ CHAPTER 3

  1. eh minnie gk selingkuh ma kyu???
    jadi ksihan sma minnie
    tapi emang udah takdirnya jaemma sma yunppa ^^

  2. waahhh… iya kasian changminnie sebenernya😦 magnae yang polos *eh??!

    ituu, ituu Chunnie kah yang “merancang” situasinya? wa.wa.waa…

    #seneng deh ada update chapter baru🙂 semangat author!

  3. Nangiiis bacanyaa (╥﹏╥)
    Umma salah paham….Minnie kasian…tapi appa juga kasian,,merasa bersalah bgt tuh.
    Lanjuuut thor,asap.

  4. Bingung harus milih yang mana?? Tapi biar bagaimana pun juga Jae itu miliknya Yunpa, maaf ya Minnie bukan maksud tuk nyakitin hatimu… Minnie jadian aja sama kyu oke

    Apakah chunnie dah tau ya..perasaan’a Yunpa terhadap Jaema, makannya dy ngarang2 rencana begitu?!!
    Binguuuuuuung

  5. aishhh complicated banget yaa,,
    kasihan minnie, tapi dari awal kan emang minnie anaknya yunjae (y) jadi ga boleh dong pacaran sama ummanya sendiri *smirk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s