[FF] Raining – part.16 My heart,Mind and Soul for You


Annyeong *bow ^^

Cerita perjalanan Yunjae makin deket ke akhir,,

makin lama makin nyesek -,-”

Tapi Yunjae bakal bersatu kok tapi…. caranya aja yang beda ^^

Happy reading ^^

 

==========================================

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 16- My heart, mind and soul for you

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi

Rate         : (bingung)

 

I give my last time to you…

 

(Jejung POV’s)

Sudah sekitar seminggu setelah kejadian yang tidak bisa kuhapus itu terjadi. Selama seminggu itu juga aku hanya berbaring di tempat tidur. Yunho senantiasa menyuapiku, menggantikan aku baju bahkan mengantarku ke kamar mandi. Aku merasakan ada penyesalan di dalam dirinya. Akupun kini berhenti bekerja di toko bunga itu. Kemarin Changmin dan Yunho datang ke sana untuk meminta maaf kepada Hana-san dan memberitahukan bahwa aku berhenti. Kudengar dari cerita Changmin saat pagi tadi Ia meneleponku bahwa Yunho sempat menawarkan biaya ganti rugi tapi Hana-san tidak menerimanya. Hana-san ikut menyesal dengan apa yang telah menimpaku. Changmin juga memberitahuku bahwa setelah kejadian itu Kai tidak pernah terlihat masuk sekolah. Dan menurut gossip dia pulang kembali ke Hongkong tempat asalnya.

“Lukanya sudah mulai membaik.” Ucap Yunho sembari mengusap wajahku dengan tangan besarnya.

“Ne, aku juga merasa lebih baik.” Ucapku memegang tangannya yang masih berada di wajahku. Aku menggapai wajah Yunho dan merasakan hangat wajahnya. Aku mengusap-ngusap wajah tampan di depanku. Walaupun aku tidak tahu pasti bagaimana wajahnya tapi dari yang aku rasakan Yunho sangatlah tampan.

“Jarang sekali kau melakukan ini padaku..” Ucapnya dengan nada menggoda. Aku memanyunkan bibirku. Malu setiap dia mengatakan sesuatu dengan nada menggoda. Kurasakan Yunho mengecup keningku sekilas.

“Jejung aku antar pulang ya?” Tanyanya tiba-tiba. Aku menoleh kearahnya dengan tatapan bingung. Tidak biasanya Ia memintaku untuk segera pulang kecuali Changmin datang menjemputmu.

“Nande?” Tanyaku polos. Dia kembali mengusap lembut rambutku sampai ke pipiku. Mencium bibirku lembut seperti biasa.

“Daijobu. Aku hanya tidak mau Yoochun berpikiran macam-macam lagi.” Ucapnya. Tapi aku tahu ada sesuatu yang janggal dan disembunyikan Yunho dariku.

“Kau yakin hanya itu saja alasannya?” Kataku kembali bertanya. Dia memelukku erat sebagai jawabannya. Perasaanku benar-benar aneh sekarang. Ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Aku tidak tahu apa tapi perasaanku mengatakan ini buruk.

 

(Yunho POV’s)

Seminggu sudah berlalu tapi tidak untuk luka batin yang di rasakan Jejung. Aku tahu itu karena hampir seminggu ini dia hanya terbaring di tempat tidur. Aku pun merawatnya sepenuh hati setidaknya menebus rasa bersalah yang aku rasakan. Tapi seminggu ini juga aku mulai merasakan tubuhku kian memburuk. Setiap pagi aku harus cepat-cepat mengganti bantalku yang terkena darah. Aku sudah sekarat tapi aku tetap mencoba bersikap biasa di depan Jejung. Walaupun kurasakan tubuhku kian lemah, demam hingga menusuk-nusuk di tulangku aku harus tetap kuat untuk merawat malaikatku yang tercinta. Saat aku meminta agar Jejung berhenti bekerja pada Hana-san aku sedang mengalami demam tinggi tapi aku memaksakan walaupun Changmin sempat bertanya mengapa wajahku begitu pucat. Tapi aku hanya tersenyum menjawabnya. Aku melirik Jejung yang masih tertidur saat itu. Kulangkahkan kaki keluar apartemen untuk menelepon seseorang.

“Moshi moshi.” Jawab suara di seberang.

“Su, aku akan mengantar Jejung pulang hari ini. Sudah saatnya.” Ucapku langsung memutus sambungan telepon. Dan aku yakin Junsu sudah mengerti maksudku. Aku juga sudah menceritakan apa yang menimpa Jejung seminggu lalu. Maka dari itu aku menitipkan  Jejungku pada Junsu juga. Aku berjalan melangkah masuk dan mengintip kembali ke kamar tidur. Ternyata Jejung sudah bangun.

“Lukanya sudah mulai membaik.” Ucapku  sembari mengusap wajah cantik di depanku .

“Ne, aku juga merasa lebih baik.” Ucapnya kemudian memegang tangaku yang masih berada di wajahnya.  Aku menatap mata bulatnya yang masih terlihat sayu kemudian dia menggapai wajahku dan membelainya lembut. Hal yang cukup jarang dilakukan si manja di hadapanku ini sehingga aku tidak tahan untuk tidak menggodanya.

“Jarang sekali kau melakukan ini padaku..” Godaku padanya. Jejung memanyunkan bibirnya lengkap dengan semburat merah yang secara otomatis timbul saat aku menggodanya. Kukecup keningnya sekilas. Kemudian kembali menatap wajahnya. Bekas-bekas lebamnya sudah mulai hilang walaupun sebagian masih terlihat memerah.

“Jejung aku antar pulang ya?” Tanyaku tiba-tiba. Dia menoleh dengan tatapan bingung. Tentu saja, tidak biasanya aku menyuruhnya pulang. Tapi waktuku kian dekat dan aku tidak ingin saat waktuku tiba aku tidak bisa memberinya hadiah yang akan merubah hidupnya.

“Nande?” Tanyanya polos. Aku terdiam. Kembali mengusap lembut rambut hitam sebahunya  sampai ke pipinya yang merona merah. Kucium bibir merah mudanya  lembut untuk terakhir kalinya.

“Daijobu. Aku hanya tidak mau Yoochun berpikiran macam-macam lagi.” Kataku berbohong. Aku bisa membaca ketidakpercayaan dari pantulan matanya yang tidak berfungsi.

“Kau yakin hanya itu saja alasannya?” Tanyanya lagi. Aku kembali terdiam dan memilih untuk memeluk tubuh mungilnya. Menghirup wangi tubuhnya yang akan selalu kurindukan. Meminta maaf dalam hati karena aku mungkin akan meninggalkannya dan tidak menepati janjiku untuk selalu bersamanya. Gomennasai Jejung Gomen.. Sayonara Ai..

 

(Author POV’s)

Genggaman tangan yang tidak pernah lepas sejak melangkah keluar dari apartemen milik Yunho membuat Jejung benar-benar bingung. Segala macam pikiran buruk berkecamuk di dalam kepalanya. Dalam hatinya dia menebak bahwa ada yang tidak beres dengan Yunho.

“Ne Jejung sebentar lagi Changmin akan turun untuk menjemputmu di sini.” Ucap Yunho sembari memegangi bahu Jejung.

“Yun.. kau terlihat buru-buru mau kemana?” Tanya Jejung masih bingung dengan sikap Yunho. Sebenarnya akhir-akhir ini dia memang merasakan perbedaan sikap Yunho yang lebih hati-hati dari biasanya. Dan Jejung tau saat Yunho mengalami demam tinggi. Tapi dia juga tahu bahwa Yunho berharap dirinya tidak tahu itu.

“Iie, aku tidak kemana-mana.” Jawab Yunho terdiam sejenak menatap wajah cantik bagai malaikat di hadapannya. Menatap bingung kearahnya dengan mata bulatnya yang tidak berfungsi. Yunho kemudian memeluk Jejung erat. Erat sekali seakan dirinya tidak akan bisa lagi memeluk tubuh mungil ini. Yunho melepas pelukannya dan segera merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan sebuah kotak merah kecil yang sedari kemarin ingin dia berikan. Yunho mengalungkan Jejung sebuah kalung.

“Eh apa ini?” Tanya Jejung terkejut.

“Ini hadiah dariku. Bukti bahwa aku mencintaimu hingga kapan pun.” Ucap Yunho berusaha menahan tangisnya. Jejung meraba bandul kalung itu. Merasakan ukiran yang tertera di sana.

“Yunho..” Ucap Jejung. Matanya berkaca-kaca. Entah mengapa hatinya sungguh sedih. Dia menggapai kearah Yunho dan dengan sigap Yunho pasti menangkap tangan mungil itu.

“Kau.. jangan tinggalkan aku..” Ucap Jejung lirih. Airmata sudah meleleh di kedua pelupuk matanya. Yunho tersenyum pahit melihat raut sedih terukir di wajah malaikat yang ingin di lindunginya. Tapi dia tidak bisa. Waktunya semakin menipis. Dan kemudian habis. Meninggalkan orang yang paling dicintainya setelah bibinya. Untung saja Oba-chan Yunho sudah pulang ke rumah anaknya karena tidak mau Oba-chan sendirian. Sehingga beban Yunho untuk meninggalkan orang-orang yang di sayanginya tidak terlalu berat. Walaupun sebenarnya sungguh berat.

Yunho kembali memeluk Jejung. Membenamkan tubuh mungil itu di dekapannya. Membiarkan mahluk indah itu terisak di dadanya. Yunho tahu bahwa Jejung pasti merasakan keanehan tentang dirinya. Tapi Yunho tidak mau jujur. Terlalu sakit untuknya mengatakan bahwa dirinya sekarat.

“Jejung-chan.. Aishiteru.. Eien Aishite..” Ucap Yunho dan untuk pertama kalinya Jejung tidak marah di panggil ‘chan’. Malah menambah isakannya. Yunho melepas pelukannya dan mengecup bibir Jejung lembut dan lama. Sebuah ciuman yang tidak akan mereka rasakan lagi.

Akhirnya Changmin pun datang. Yunho menyerahkan Jejung kepada Changmin. Tapi Jejung tidak mau melepaskan pegangan tangannya pada Yunho.

“Chang, jagalah Onii-chanmu ya?” Ucapa Yunho. Changmin mengangguk pasti. Yunho melepaskan pegangan tangan Jejung.

“Jejung berhentilah menangis.” Lanjut Yunho sembari mengusap airmata yang masih mengalir di pipi Jejung. Changmin memperhatikan sikap Jejung yang tidak biasanya ini. Walaupun Jejung pulang dia tidak pernah sesedih ini. Hatinya langsung tau bahwa ada yang tidak beres dengan yang terjadi sekarang.

“Minna, arigatou gozaimasu.. Sayonara!” Ucap Yunho sambil membungkuk lalu menepuk bahu Changmin dan mengusap rambut Jejung sekilas.

“Aku pergi dulu, Jya!” Pamitnya lalu berlalu dari tempat itu. Segera sebelum dirinya berubah pikiran. Sebelum dia kalah melawan hatinya.

“Jejung Gomen..” Ucap Yunho di sela tangisnya yang meledak sepanjang perjalanan.

 

(Junsu POV’s)

Ini adalah waktu yang benar-benar tidak ingin aku lewati. Sejak telepon tadi pagi rasanya moodku hilang terbang melayang entah kemana. Mendengar perkataan Yunho senpai. Argghhh!!! Aku benci tapi apa yang bisa aku lakukan? Sekarang aku tengah berdiri di ruang tunggu rumah sakit dengan formulir pendonoran di tanganku. Ishh rasanya aku ingin menyobek-nyobek formulir ini. Tapi aku tidak bisa. Ini sudah jadi keputusan Yunho senpai. Aku kembali terduduk lemas di kursi tunggu. Hingga dikagetkan oleh sebuah tepukan di pundak.

“Su..” Panggil Yunho senpai lirih. Aku menatapnya. Wajahnya kian pucat dan terkesan kurus.  Senpai kau sudah lebih dari kuat, kataku dalam hati. Yunho senpai duduk di sebelahku. Terdiam.

“Senpai.. kau masih yakin?” Tanyaku memastikan. Berdoa bahwa dia akan mengatakan ‘Sobek saja formulir itu!’ tapi sepertinya dugaanku salah.

“Aku siap. Bagaimana? Apa kata dokter?” Ucapnya. Hatiku kecewa. Aku terdiam.

“Mereka masih membicarakannya senpai. Mereka takut jika operasi mu dilakukan sekarang justru memperburuk keadaan mu.” Jelasku. Tampak raut cemas tersirat di wajah lelaki berwajah tampan di sebelahku. Kuakui bagaimanapun keadaannya Yunho senpai masih terlihat memikat.

“Mereka harus melakukannya sekarang.” Ucap Yunho berdiri dari duduknya. Berjalan ke pintu ruangan dokter di seberang kursi dan menerobos masuk. Aku hanya mampu terdiam dan melongo melihat tindakannya.

“Senpai kau benar-benar sudah gila.” Gumamku. Tidak lama dokter dan Yunho pun keluar dari ruangan itu. Wajah dokter terlihat sangat cemas.

“Eh bagaimana?” Tanyaku bingung. Yunho menatapku dan tersenyum. apa-apaan kau senpai!? Teriakku dalam hati.

“Baiklah kami akan melakukan operasi hari ini.” Ucap dokter muda itu agak cemas. Kulihat sekilas nama di name tagnya bertuliskan ‘Dr. Kyuhyun’. Dengan segera Yunho di bawa ke ruangan untuk persiapan operasi dan aku di suruh untuk mengurus segala macam administrasinya. Hatiku rasanya terinjak-injak, maksudku sakit sekali. Rasanya aku ingin memukul senpai dan mengatakan ‘Kau sudah gila!? Kau belum mati tau!!’ tapi sepertinya kata itu hanya bisa kutelan sendiri saja.

 

-6 jam kemudian-

Aku melihat dokter Kyuhyun dan beberapa dokter serta perawat berhamburan keluar dari ruang operasi dimana Yunho menjalankan operasi donor matanya. Mereka terlihat cukup panic hingga membuatku tidak bisa diam duduk tenang di kursi tunggu.

“Dok ada apa!?” Tanyaku ikut panic. Kulihat wajah dokter Kyuhyun agak panic tapi dia berusaha setenang mungkin menjawab pertanyaanku.

“Operasi berjalan lancar sekali tapi kemudian kondisi Yunho-san menurun. Dia mengalami pendarahan yang cukup hebat.Tolong bersabar dan berdoa. Aku pamit.” Ucapnya berlalu segera memasuki ruangan operasi. Aku terdiam melongo. Otakku serasa kaku. Kakiku lemas hingga jatuh merosot di tengah lorong rumah sakit. Senpai aku mohon bertahanlah! Teriakku dalam hati. Semua airmata ku tertahan di tenggorokan serta suaraku. Sungguh aku sudah tidak mampu lagi berpikir. Kumohon senpai, untuk perjuangan terakhirmu.

 

TBC

Haduh kayaknya author bakal di keroyok readers ini -,-“

mian yaa kalo FF nya kurang berkenan

Gomawo yang udah tinggalin comentnya ^^

*bow

8 thoughts on “[FF] Raining – part.16 My heart,Mind and Soul for You

  1. hikks..huwaaaaa…😦
    sedihnya thor…
    #mana sambil dengerin “Insa” yang 3rd Asia Tour Concer, lagi!!!
    author janji loh yaaa YunJae bersatu!
    tapi entahlah, aku masih belum bisa membayangkan dan menyimpulkan YunJae akan bersatu dengan cara apa ini, thor -_-

  2. omo…yunnie bakal meninggalkah?? hiks hiks…author jgn sadis duonk..yunjae musti tetap hidup bahagia..#maksa bgt#….
    jongie kasian bgt..kl sampe yunnie meninggal, ga kebayang gmn responnya jongie..T_T T_T

  3. Sedih bener tuh jae ada g didlm ma uno pasti adakan junsu ku bantu doa biar uno kmbl stabil.umma semangat jangan sedih jk ntar di tinggal yunpa.ok

  4. eonnie… masih terus berlanjutkah perjuangan yunjae utnuk bersatu? tidak bisakah yoochun merestui keduanya dan bisakah yunho tetap bertahan demi jaejoong? *sadness*

  5. yunppa donorin matanya buat jae ya ???????/
    yunppa jngan mati donk,,,,
    nasib yunjae gmna klo yunppa mati

  6. Hwwaaaa yunhooooo~………
    Hikshikshiks, kenapa ini harus terjadi…….
    Sungguh ini perjuangan cinta yg sangaattttttt, besaaarrrr……..😦 T.T

  7. Ah soundtracknya salah… *don’t say goodbye*
    Nyesek! *nyari tissue* *sobs*
    Gimana nasib Yunho…???
    Tetep idup kan…?
    Yunjae bersatu lagi kan…??
    Onegai… T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s