WE AREN’T REAL, JUST DREAM/ YUNJAE/ CHAPTER 4


WE AREN’T REAL, JUST DREAM

Created by Amee

Chapter 4

.

.

Summary:

Aku memeluk pinggang ramping Jaejoong dan menariknya untuk semakin dekat denganku di tengah lautan merah yang menyerukan kata “Yunjae” dengan liarnya, sementara Jaejoong menatapku lembut dengan doe eyes nya, sesekali bersandar di bahu bidangku. Sayangnya itu hanya sekadar fanservice.

.

.

CHAPTER 4 – HURT FOR ME

Changmin POV

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan duniaku saat ini, semuanya menghilang, seperti daun yang terbakar lantas menjadi abu dan tertiup angin. Aku selalu merasakan sakit yang begitu mendalam setiap kali melihat Jaejoong, dia mengkhianatiku—sesungguhnya—dan aku mencoba lari dari kenyataan itu, meski hal ini justru membuatku semakin kesakitan. Aku mencoba untuk bersikap seperti biasanya dan menganggap tidak ada hal yang terjadi, namun aku justru tampak seperti mayat hidup yang digerakan dengan tali, dan hanya akan ada air mata yang mengalir.

Sudah seminggu berlalu, dan rasanya hal ini baru saja terjadi beberapa detik yang lalu. Jaejoong tampak seperti orang gila, setiap malam ia akan berlutut di kakiku untuk meminta maaf hingga terisak, dan Yunho Hyung hanya akan berdiam diri dan tak berinteraksi dengan siapa pun. Setiap malam aku selalu berusaha untuk tidur lebih awal—sekitar pukul delapan atau sembilan, dan Jaejoong akan meminta Junsu Hyung agar mengizinkannya untuk tidur bersamaku. Dan setiap aku terbangun pukul dua malam, ketika aku menemukan Jaejoong tidur sambil memelukku aku akan menyingkirkan tangannya dan beranjak ke beranda. Itu adalah hal rutin yang selalu kulakukan seminggu ini.

Aku selalu merasa ketakukan setiap kali Jaejoong berinteraksi dengan Yunho Hyung, yang membingungkan adalah aku justru merasa kesal jika Jaejoong mencoba dekat denganku, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kurasakan.

Malam ini, ketika aku terbangun tengah malam, aku tidak mendapati Jaejoong di sampingku, dan itu membuatku sangat sesak. Aku takut, sangat takut, apakah malam ini Jaejoong justru berada di kamar yang sama dengan Yunho Hyung? Apakah hal itu benar-benar terjadi? Lalu bagaimana denganku? Apa aku harus kehilangannya semudah itu? Apa yang akan terjadi denganku selanjutnya?

Aku mengenakan mantel setelah mengambil kunci mobil dan ponsel. Ketika aku membuka pintu kamar, Junsu Hyung sedang berjalan menuju kamar. Ia menatapku penuh selidik lantas tersenyum berusaha mencairkan suasana, namun aku tak membalasnya. Muluktku terasa kaku.

“Kau mau ke mana, Min?” tanyanya setelah menatapku dari kepala hingga kaki.

“Aku harus bertemu Kyuhyun sebentar, ada yang harus kuceritakan padanya,” jawabku tergesa.

“Tidak bisakah kau menceritakannya padaku saja?” tanya Junsu Hyung.

“Maafkan aku Hyung, aku sudah terbiasa dengannya,”

Junsu Hyung mengangguk paham. “Bagaimana dengan Jae jika ia menanyakanmu?”

“Katakan saja padanya aku pergi sebentar, dan katakan pula padanya bahwa aku mencintainya,” jawabku lantas menunduk. “Sangat,” tambahku pelan.

Junsu Hyung menyentuh pundakku lantas tersenyum. “Berhati-hatilah,” katanya, dan aku menjawabnya dengan anggukan. Ketika aku melewati ruang tamu untuk keluar dari dorm, aku melihat Jaejoong menghampiri Junsu Hyung, namun kuabaikan.

XXX

Angin malam berhembus dengan sangat tidak bersahabat, aku mengeratkan mantelku lantas menggosok-gosokan telapak tanganku pada lengan. Kyuhyun datang beberapa saat kemudian, dan ikut duduk di atas kap mobil.

“Sudah menunggu lama? Maaf,” tanyanya.

Aku menggeleng. “Aku yang seharusnya meminta maaf karena memintamu keluar pagi pagi buta sepeti ini,”

“Tidak apa-apa. Ini untukmu,” Kyuhyun menyerahkan cup kopi yang mulai mendingin padaku. Aku menerimanya lantas segera menyesapnya dengan cepat. “Kau ada masalah?” tanyanya lagi.

Aku menatap Kyuhyun cukup lama sebelum kemudian mengangguk.  Aku sudah terbiasa bersama Kyuhyun, sebuah perasaan lain yang berbeda dengan perasaanku pada Jaejoong. Kyuhyun dan aku seperti anak kembar, memiliki kegemaran yang sama, dan dapat saling membaca situasi masing-masing. Aku tidak mengerti mengapa Jaejoong sangat cemburu atas kebersamaan kami, secara naluriah aku tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Kyuhyun.

“Aku takut kehilangan Jae,” kataku.

“Ada apa?” Kyuhyun merubah posisinya agar lebih nyaman.

Ketika aku hendak membuka mulut, tidak ada suara yang keluar dari mulutku, hanya decitan menyakitkan seperti suara gergaji berkarat, diikuti air mata yang justru keluar dari kedua mataku. Kyuhyun menarikku ke dalam pelukannya dengan sangat manly. Dia menepuk-nepuk pundakku dan menyemangatiku. Betapa aku terlihat sangat lemah sekarang ini.

Aku menceritakan semuanya tanpa terlewat, dan ia mendengarkannya dengan seksama meski sesekali tampak sangat beremosi, namun tidak kudengar keluhan ataupun sanggahannya. Ia pendengar yang baik.

“Shim Changmin,” pekiknya kemudian setelah aku selesai bercerita. Aku mendongak menatapnya. “Kau sangat bodoh. Belilah cincin, dan lamar Jae Hyung. Bersikaplah sebagai seorang ksatria,” katanya. Dan aku segera memikirkannya.

XXX

Dan disini lah aku sekarang. Aku berada di kamar Jaejoong memerhatikannya yang sedang tertidur, selagi bibirnya menyunggingkan senyuman damai, dan keningnya tidak menampilkan kerutan-kerutan apapun. Kusentuh tangannya dan kugenggam dengan sangat erat, seolah aku sangat ketakukan dengan kenyataan kalau besok Jae bukan lagi milikku.

Aku menyentuh keningnya, lantas pipinya, dan kucium tepat di hidungnya. Jae membuka matanya perlahan lantas tersenyum padaku dengan sangat lembut bahkan aku tak bisa berpaling sedetik pun. Ia balas menggenggam tanganku. “Kenapa baru kembali saat ini,” itu kata pertama yang kudengar dari mulutnya.

Jaejoong bangun dengan cepat lantas memelukku dengan sangat erat dan ia terisak. Kau tahu apa yang kulakukan, aku hanya terdiam dan ikut terisak bersamanya. Aku memang hanya anak kecil, setelah kupikir-pikir mungkin aku memang tidak pantas untuk Jae namun keegoisanmu menolak untuk melepaskannya.

Jaejoong mendekap wajahku lantas menatapku dalam-dalam, dan dia menciumku. Aku hanya terdiam, sebelum kemudian membalasnya. Ketika kami menangis, kami berciuman. Rasanya sangat aneh, sangat menyakitkan.

Aku melepaskan ciuman kami lantas mengusap air matanya. “Jangan menangis ne, tidak ada sesuatu yang menyedihkan sehingga perlu ditangisi di sini. Aku menyayangimu dan itu sudah cukup untuk menutupi semuanya. Mandilah dan turun ke bawah, aku akan menunjukan sesuatu untukmu di hadapan semua orang.”

Jaejoong mengangguk. Setelah mengantarkannya hingga pintu kamar mandi, aku bebalik menuju kamarku. Mengambil sebuah cincin yang sangat sederhana, bahkan ini hanya cincin imitasi yang kubeli di pedagang kaki lima tadi pagi. Bukan tidak berniat untuk membeli yang lebih baik, hanya saja aku membutuhkan sebuah simbol untuk melamar Jaejoong pagi ini, dan toko perhiasan tak mungkin kudatangi karena masih terlalu pagi.

Ketika aku keluar menuju ruang tamu, aku mendengar sebuah perdebatan, tidak bermaksud untuk menguping sebenarnya, hanya saja aku tak sengaja mendengarnya. Aku mengintip sedikit ke dalam, tampak Junsu Hyung tengah memandang Yoochun Hyung dengan sangat tajam, sementara yang di tatap hanya menanggapinya dengan santai.

“Kau gila!” pekik Junsu Hyung.

“Siapa yang kau sebut gila? Aku? Gah, aku hanya membantu Yunho untuk mendapatkan cintanya,” sergah Yoochun Hyung.

“Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Changmin. Dia kekasih Jae, dia sangat mencintai Jae, kau tega melihatnya menderita?”

“Kau yang tidak memikirkan perasaan Yunho. Changmin sudah cukup lama bersama dengan Jae, sekarang giliran Yunho, bahkan para fans sudah merestui hubungan mereka! Aku yakin cepat atau lambat Jae akan jatuh cinta pada Yunho,”

“Park Yoochun, kau benar-benar gila!”

Aku menekan dadaku yang terasa nyeri kuat-kuat. Bahkan seperti itu pikiran orang-orang disekitarku. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku memasuki ruang tamu dengan sebuah senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. Di sana sudah menunggu Yunho Hyug dan Manajer Hyung.

“Selamat pagi, Min,” sapa Manajer Hyung.

“Pagi, Hyung,” balasku singkat, aku terlalu enggan untuk berbasa-basi pagi ini.

“Ah Jae, selamat pagi,” seru manajer Hyung lagi. Dan aku segela membalikan tubuh untuk menyambut kehadiran Jaejoong. Ia tersenyum padaku lantas duduk di sampingku.

“Pagi,” balas Jae.

Aku menarik nafas dengan dramatis, sebelum mengeluarkan kotak yang sejak tadi kusembunyikan di dalam kantong celanaku. “Aku ingin menyampaikan seseutu,” kataku.

“Baiklah, tapi sebelumnya biarkan aku menyampaikan tujuanku lebih dulu. Jae, aku sudah meminta Yunho untuk membelikanmu ini. Gunakanlah dalam setiap kesempatan yang ada, setidaknya dengan ini kalian akan tampak lebih real,” kata manajer Hyung.

“Cartier?” seru Jaejoong, dan hal itu membuatku ikut melirik.

Kulesakan kembali kotak yang telah kugenggam ke dalam kantong. Yunho Hyung menghargai Jae dengan harga yang lebih tinggi, tidak sepertiku. Aku menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat mengyakitkan.

TBC

Nb: maaf pendek banget dan ngaco banget ceritanya. Ini akan tamat dalam 2 atau 3 chap lagi (mungkin) maaf Yunjae momentnya ga ada, di chap depan akan dimunculkan, chap ini cuman mau ngasih gambaran tentang perasaan Changmin aja. Sankyuu ^^ keep REVIEW

3 thoughts on “WE AREN’T REAL, JUST DREAM/ YUNJAE/ CHAPTER 4

  1. huweeeeee T_T
    changmin~aah..gwenchanayoo?? uljimaa ~uri maknae…
    tuuhh kaann..Chunnie!!! jahat ihh! *tunjuk2 yuchun dengan garang!

    bener-bener tak terduga, kupikir akan begini, ternyata begitu..tarik-ulur nih kisahnya, kereeeenn author🙂

    penasaran terbesar: akankan berakhir seperti judulnya, thor? bahwa YunJae hanyalah “mimpi” *mian..mian..
    meskipun YunJae adalah couple legendaris, mustahilkah untuk kisah ini tercipta couple JaeMin? *dilempar mobil sama YunJae shipper, nih.. T_T mianataa…
    2 ato 3 chap mendatang pasti tak terduga lagi🙂

    can’t wait!

  2. huhhh walaupun ga rela jaema sama minnie tapi aku suka jalan ceritanya😀
    ini cerita endingnya yunjae kan? iya kan? iya kan? *maksa*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s