[FF] Raining – part.19 Eternal Love


Annyeong haseyo~~

Ini part terakhir dari perjalanan cinta Yunjae

Author buat panjang supaya gak kesan maksa selesainya mudahan berkenan yaa ._.

Happy Reading ^^

=======================================

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 19- Eternal Love

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi

Rate         : (bingung)

Love is Eternal.. Wherever you stay…

(Jejung POV’s)

Badai sudah reda dan pagi mulai datang membawa sinar cerahnya. Tapi tidak bagiku. Bagiku duniaku yang kini adalah kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya. Aku melihat tapi sebenarnya aku buta. Setiap malam kupandangi langit berharap sebuah bintang jatuh muncul dan aku akan berharap agar wajah itu kembali di sisiku. Tapi nihil. Tidak ada. Hidupku hampa. Rasanya aku tidak ingin hidup. Yunho bodoh! Bagaimana kau bisa menyuruhku bahagia tanpamu!? Dasar bodoh! Makiku dalam hati.

“Tadaima.” Aku menoleh dan mendapati Yoochun baru pulang. Kemana saja dia semalaman? Pikirku. Aku hanya mengingat dia akan mencari Junsu. Apakah dia bertemu dengannya? Yoochun berjalan mendekatiku perlahan agar tidak membangunkan Changmin yang masih tertidur lelap.

“Jejung-nii makan ya hari ini? Setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Katanya kau ingin bertemu Yunho.” Pinta Yoochun padaku. Aku hanya menatapnya bingung. Yoochun hanya tersenyum penuh arti. Mendengar nama itu membuat semangatku kembali walaupun aku masih merasa bingung.

“Baiklah..” Kataku menurut. Akhirnya Yoochun menyuapi makan pagi itu setelah dia membangunkan Changmin untuk sekolah. Changmin mengucek matanya lalu tersenyum kearahku. Aku memakan makanan pertamaku sampai habis setelah beberapa minggu ini tidak ada yang mengalir di tenggorokanku kecuali air mineral. Setelah itu Yoochun menyuruhku untuk mandi dan bersiap.

Setelah siap aku dan Yoochun berangkat setelah Changmin berangkat sekolah. Aku berjalan beriringan bersama adikku.

“Kita mau kemana?” Tanyaku sembari merapikan letak topi kuplukku.

“Ke suatu tempat.” Ucapnya singkat sambil tersenyum. aku hanya mengangguk mengerti. Tidak lama sampailah kami di sebuah rumah sakit.

“Rumah sakit?” Tanyaku kali ini bertambah bingung. Firasa-firasat aneh mulai bermunculan di dalam hatiku. Jantungku menjadi berdebar-debar tidak karuan. Kami memasuki rumah sakit besar itu. Suasananya sudah mulai ramai. Kami berjalan kearah lift kemudian Yoochun menekan sebuah angka. Lift kami melaju ke atas. Semakin mendekat ke lantai yang di tuju semakin hatiku tidak karuan. Bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.

“Ayoo..” Ajak Yoochun saat pintu lift terbuka. Aku melangkahkan kaki keluar. Memasuki lorong-lorong yang di kanan kirinya terdapat kamar dengan dinding kaca. Di kejauhan aku sudah bisa melihat seseorang melambai kearah kami. Yoochun membalas lambaiannya. Kami semakin dekat dengan orang itu yang jika aku tidak salah ingat dia adalah Junsu, teman baik Yunho.

“Mana Yunho!?” Tanpa pikir panjang aku langsung bertanya kepada mereka berdua. Mereka berpandang-pandangan dahulu sebelum akhirnya Junsu mengantarku ke sebuah ruangan yang sama seperti aku lihat tadi. Di dalam ruangan itu terdapat sosok tubuh yang terbaring lemah dengan berbagai macam selang menempel di tubuhnya.

“Yunhoo..” Ucapku lirih menutup mulutku dengan tangan. Tak terasa airmata mulai membasahi pipiku. Aku menyentuh kaca penghalang itu.

“Junsu aku boleh masuk?” Kataku. Junsu menatapku ragu.

“Kumohon izinkan aku masuk..” Aku memohon padanya. Airmataku sudah mulai deras. Akhirnya Junsu mengangguk dan membukakan pintu untukku. Aku segera menghambur masuk. Berlutut di samping ranjangnya. Menatap wajah tirus nan pucat di hadapanku dengan selang di mulutnya. Aku tahu dia Yunho walaupun tubuh kekar yang pernah aku rasakan dulu menyusut. Walaupun wajah kecil yang pernah aku sentuh menjadi tirus kurus.

“Yunho..” Panggilku walaupun dia tidak menanggapinya. Kuraih tangannya yang tertancap infuse. Kuletakkan di pipiku. Airmataku kembali mengalir.

“Jangan tinggalkan aku Yun.. kau baka!” omelku pada wajah tidur di hadapanku. Aku kembali terisak.

“Kau sudah berjanji akan terus bersamaku Yun.. “ Ucapku lagi membelai rambutnya.

“Aku akan membencimu jika kau meninggalkanku.” Lanjutku lagi sambil terus menggenggam tangannya.

“Yunho! Jawab aku kau baka!” Aku terisak sambil menelungkupkan wajahku di tepi ranjang. Aku menangis lagi. Hatiku kembali hancur walaupun ada sedikit bahagia tersirat aku bisa melihat wajahnya.

“Yunho! Bangun! Kau berjanji aku bisa melihat senyummu!”  Bentakku lagi di sela isakanku. Aku kembali menelungkupkan wajahku. Tiba-tiba kurasakan tanganku di genggam. Aku segera bangun dan melihat tangan Yunho bergerak.

“Yunho!?” Pekikku. Kulihat tangannya mulai bergerak perlahan seperti akan menggapai wajahku. Aku segera meletakkan tangannya di pipiku. Perlahan dia menoleh ke arahku tanpa membuka matanya.

“Yun!?” Pekikku lagi sembari menengok ke kaca. Melihat ekspresi kaget dari Yoochun dan Junsu. Kulihat Junsu segera berlari. Kupikir dia pasti memanggil dokter.

“Yunho aku di sini.” Ucapku. Kulihat seulas senyum lemahnya. Akupun tersenyum melihatnya. Senyuman yang ingin kulihat secara langsung.

Tiiiiiiiiiittttttttttttt!!! Tapi yang kemudian terjadi adalah suara mesin yang memperlihatkan garis lurus berwarna merah. Tangannya di wajahku jatuh terkulai.

“Yunho!!?? Yunho!? Yunho kumohon jangan tinggalkan aku!!” Teriakku histeris. Dokter segera berhambur masuk ke ruangan dan memintaku untuk keluar. Tapi aku tidak mau melepas genggaman tanganku hingga aku harus di seret keluar oleh Yoochun.

“Yunhooooo!!!! Jung Yunhoooo!!!!! Jangan tinggalkan aku!! Kumohonnn…” Teriakku meronta. Aku menangis histeris menatap tubuh Yunho di tutupi oleh para dokter dan perawat.

“Jejung-nii tenanglah!” Yoochun berusaha menenangkanku tapi aku terus meronta hingga tenagaku terasa habis. Aku terduduk lemas. Badanku di topang Yoochun. Kulihat Junsupun menangis tersedu.

“Jung Yunho aku mohoonn..” Ucapku lirih saat dokter keluar dengan wajah menyesal. Sesaat itu kurasakan duniaku kembali berputar.

“Yunho… Kembalilah..” Ucapku kemudian gelap kembali menyapa.

(Author POV’s)

Hujan kembali menyapa dalam titik-titik kecil seakan ikut mengantarkan duka di dalam pusara. Tampak batu nisan yang masih baru berdiri kokoh di padang duka. Payung-payung hitam mulai berpencar satu sama lain kembali pulang. Hanya satu payung hitam yang masih tetap tinggal di bawah hujan yang kian deras. Mata bulan pemilik payung itu masih menatap lirih batu nisan yang ada di hadapannya. Mengusap untuk kesekian kali nama yang terukir di sana. Meletakkan sebuah buket bunga matahari di bawahnya. Mata itu masih mengeluarkan titik-titik airnya. Seperti awan yang menurunkan hujan. Tidak peduli seberapa dingin angin menerpa. Dia masih tetap diam tidak bergeming.

“Jejung-nii ayo pulang.. Badai akan datang lagi.” Ucap Yoochun dengan sabar memegangi payung agar kakaknya tidak basah terkena air hujan. Tapi Jejung diam tidak bergeming. Yoochun menatapnya nanar. Junsu dan Changmin sudah lebih dulu pulang karena badai. Tapi tidak dengan Jejung. Dia seakan tidak bisa pindah dari posisinya.

“Nii-chan aku mohon padamu..” Ucap Yoochun lagi berusaha membujuk agar Jejung mau pulang karena cuaca sudah mulai tidak bersahabat. Akhirnya Jejung bangkit berdiri. Mengusap batu itu untuk terakhir kali dan berjalan menjauh.

Jung Yunho aku akan selalu mencintaimu… Tunggulah aku…

-6 bulan kemudian-

 (Author POV’s)

Angin berhembus sepoi-sepoi membawa aroma khas dari laut. Matahari mulai memasuki tempat peristirahatannya dengan menampakkan cahaya jingganya. Gulungan ombak saling berlarian menabrak pantai. Tampak sesosok laki-laki tengah duduk di atas pasir putih nan lembut. Wajahnya tampak cantik bagai malaikat. Membiarkan angin mempermainkan rambutnya. Laki-laki itu tengah menatap jauh ke kaki langit. Seakan takjub melihat gambaran indah matahari terbenam.

“Jadi nii-chan tidak bisa melupakannya?” Tanya seorang anak laki-laki yang juga memiliki wajah cantik. Laki-laki itu hanya mengangguk.

“Bukan, bukan tidak bisa tapi aku tidak akan pernah melupakannya.” Ucap Jejung sembari melirik wajah anak laki-laki itu.

“Nande?” Tanya anak laki-laki itu penasaran. Jejung menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.

“Kau tidak akan pernah tau alasannya jika kau tidak merasakannya.” Lanjut Jejung lagi. Tersenyum. anak laki-laki itu mengangguk ngangguk. Jejung kembali menatap laut yang langitnya sudah mulai berganti menjadi gelap.

“Nii-chan kesepian?” Tanyanya lagi. Jejung kembali menoleh dan tersenyum penuh arti.

“Tidak, karena dia tengah melihatku.” Tunjuk Jejung pada sebuah bintang yang bersinar terang. Anak laki-laki itu ikut menengadah ke langit.

“Hontou?” Tanya anak laki-laki itu tidak percaya.

“Taemin!!!!” Tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggil. Anak laki-laki itu menengok dan mendapati seorang laki-laki yang berumur sedikit diatasnya melambai. Rambut ikalnya dan mata bulatnya terlihat jelas di keremangan malam.

“Minho!!!” Balas Taemin melambai.

“Nah kau pulanglah. Dia sudah mencarimu.” Ucap Jejung. Taemin menoleh kearah Jejung. Lalu bangkit berdiri. Menepuk bagian belakangnya yang terkena pasir.

“Arigatou atas ceritamu Jejung-nii. Kuharap nii-chan bisa menemukan kebahagiaan lagi.” Ucap Taemin tersenyum. Jejung membalas senyumnya.

“Aku harap. Nah pulanglah, kau tidak mau kan membuat Minho menunggu. Cepat!” Perintah Jejung. Taemin melambai kearah Jejung dan berlari kepada anak laki-laki yang bernama Minho. Jejung membalas lambaiannya dan memperhatikan sepasang manusia yang tengah berjalan sembari berpegangan tangan. Jejung kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pondok kayu. Pondok kayu dimana Yunho pernah membawanya dulu sebelum alam memanggilnya kembali. Sebelum tanah memeluk tubuhnya. Jejung duduk di bangku ayunan, kembali menatap langit. Menggoyangkan sedikit ayunan itu. Memutar kembali memori itu.

Sejak Yunho meninggal. Jejung memilih tinggal di pondok kayu tempat keluarga Oba-chan. Dia ingin tenang dan jauh dari keramaian. Tidak ada yang boleh mengetahui keberadaannya kecuali Yoochun, Changmin dan Junsu. Yang paling sering menjenguknya adalah Changmin karena Yoochun harus bekerja dan Junsu melanjutkan studinya di Seoul. Tapi Jejung tidak keberatan walaupun dia jarang di jenguk. Karena Jejung sudah memiliki teman. Anak nelayan yang sering mengajaknya bicara, Taemin. Anak laki-laki berwajah cantik yang selalu mengingatkan akan dirinya dan Yunho. Jejung  jadi tersenyum sendiri mengingat bagaimana dia mendorong Yunho jatuh dari ayunan dan Yunho menjahilinya lalu hal itu terjadi. Pipi Jejung mendadak memanas saat mengingat hal itu.

Jejung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah karena cuaca sudah mulai sangat dingin. Jejung menaiki ranjangnya dan mulai bersembunyi di balik selimut tebalnya. Sepertinya dia sangat mengantuk malam ini dan memutuskan tidur lebih cepat. Sebelum tidur Jejung selalu menggenggam bandul kalungnya sampai dia benar-benar  tertidur.

(Jejung POV’s)

Aku terbangun dengan kaget. Melihat pemandangan putih di sekelilingku. Aku memperhatikan diriku tengah terduduk di sebuah kursi taman.

“Dimana ini?” Tanyaku dalam hati. Aku kembali menyisiri suasana aneh yang ada di sana. Tapi yang aku temukan hanya warna putih. Tiba-tiba aku melihat sosok bayangan di kejauhan perlahan mendekat dan bertambah jelas. Aku memperhatikan bayangan itu. Sosok jangkung dengan tubuh atletis menggunakan setelan putih yang membuatnya semakin tampan.

“Yunho!” Pekikku lalu berlari ke arahnya. Menabrak tubuh besarnya yang memelukku hangat.

“Yunho kau kah itu?” Tanyaku mendongak melihatnya. Lelaki itu tersenyum dengan manisnya kepadaku.

“Kau pikir siapa Jejung-chan!” Serunya. Aku kembali memanyunkan bibirku mendengarnya memanggilku seperti itu. Dia tertawa. Tawa yang tidak pernah aku lihat. Lalu dia memelukku.

“Aku rindu padamu Kim Jaejoong.” Ucapnya berbisik di telingaku. Membuatku geli dengan nafasnya yang menghembus mengenai telingaku.

“Aku juga.” Jawabku masih di dalam pelukannya. Lalu dia melepas pelukannya dan menatapku.

“Kau semakin cantik Jejung.” Serunya menggoda membuatku memukulnya pelan. Dia kembali tertawa. Tawa yang indah.

“Yunho..” Panggilku kemudian. Dia berhenti tertawa dan menoleh padaku.

“Nani?” Tanyanya.

“Aku bermimpi ya?” Tanyaku. Tapi mimpi ini terlalu nyata sehingga aku takut bahwa mimpi ini suatu saat akan berakhir dan aku tidak menemukan Yunho di sampingku seperti hari-hari sebelumnya. Yunho tersenyum ke arahku.

“Bukan, ini bukan mimpi.” Jawabnya tersenyum kemudian menggandengku. Rasa takut itu terus muncul jika genggaman ini menghilang ketika matahari terbit.

“Aku takut Yun..” Kataku tertunduk. Dia mengangkat daguku. Mencium keningku lembut.

“Bukan sayang, ini bukan mimpi.” Ucapnya lagi. Aku menatapnya bingung. Yunho kembali mengusap rambutku lembut dan tersenyum hangat.

“Ne Jejung kau mau ikut denganku?” Tanyanya kemudian.

“Kemana?” Tanyaku bingung.

“Pulang.” Jawabnya sambil melebarkan senyumnya. Aku mengangguk sambil tersenyum senang. Kemudian diapun menggandengku kearah cahaya. Ke tempat yang sangat terang di bandingkan diamana pun tempat yang ada di bumi

(Author POV’s)

“Jejung-nii!? Jejung-nii!?” Panggil Taemin mengetuk-ngetuk pintu. Aneh rasanya jika jam segini Jejung belum bangun, pikirnya. Taemin mengintip-ngintip jendela pondok kayu itu. Tapi tidak menemukan pergerakan apa-apa. Taemin kembali mengetuk-ngetuk pintu. Lalu tidak sengaja memutar handle pintu yang ternyata tidak di kunci.

“Eh? Tidak di kunci? Baka kan berbahaya!” Omel Taemin pada dirinya. Taemin masuk ke dalam pondok kayu yang tertata rapi itu. Mencari dimana letak kamar tidur Jejung. Anak laki-laki itu akan membangunkan Jejung. Pikiran jahil sudah memenuhi otaknya. Lalu diapun menemukan sebuah pintu di belakang. Memutar handlenya dan mendorong pintu itu.

“Nah kan! Dasar pemalas! Harusnya dia sudah bangun!” Rutuk Taemin mendekati ranjang.

“Jejung-nii bang…” Ucapan Taemin terputus saat menyentuh tubuh Jejung yang sedang tidur. Dia berjalan mundur sambil mengatupkan mulutnya. Airmata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.

Jejung meninggal dalam tidurnya. Tangannya tidak lepas dari bandul kalungnya. Wajahnya pun terlihat damai seperti malaikat yang tengah tertidur. Seulas senyum kaku terukir di wajahnya yang pucat. Sepertinya saat Ia meninggalkan dunia ini Jejung sedang sangat bahagia.

Di atas langit pada malam itu terdapat bintang-bintang yang bertebaran begitu indahnya. Memberi hiasan pada langit yang semulanya suram. Sama seperti kehidupan yang ada di bawah langit itu. Di setiap kesedihan pasti ada cahaya kebahagiaan. Sekarang ada dua diantara tiga bintang yang tengah bersinar paling terang saat malam menyapa. Dialah bintang timur.. Cassieopeia..

END

Gimana gimana? *Author maksa –“

Ini maksud Author Yunjae bersatu dengan cara yang berbeda *lap keringet

Jangan lupa commentnya

sekali lagi makasi banyak buat readers yang udah setia ikutin ini FF ampe selese ^^

Ampe ketemu di FF berikutnya >> Coffee of Love *promote dikit ^^v

Author janji akan lebih baik lagi d FF selanjutnya *hwaiting pd diri sndiri*

8 thoughts on “[FF] Raining – part.19 Eternal Love

  1. akhirrnyaaa…*walopun tetep ngga rela mereka mati😦
    ngga nyangka, selama ini yunho bertahan demi bertemu dengan jejung ~ seolah jiwanya enggan terlepas dari raga sebelum bertemu jejung-nya
    ~ such a waiting!
    ~ kirain mau ada YooSu moment-nya
    ~eh, kaget ada taemin sama minho😛

    baguuus author🙂 bagaimanapun, aku harus merelakan semuanya begini adanya *nah, lho!!😀

    ditunggu cerita selanjutnyaaaa❤

  2. sumprit.. kaloo gak gini author dah aku bunuh karna berani memisahkan yunjae. hehehe… fyuuuh… finish!!

  3. Hwaaa happy end…
    *walau sebenernya nggak rela YunJae mati, tp klo mereka tetep bersama oke deh*
    Thanks buat Author… FFnya daebak and sukses genre angst nya bikin nangis…
    *cium author*

    Suka bgt dengan karakter DBSK disini…
    YunJae jjang!!!

    Bikin lagi FF angst ya! xDDDD
    #Bow

    Arigatou Gozaimasu~

  4. Happy ending =D
    Mian ne baru coment di part terakhir, aku bacanya ngebut dari part 1-19 *kittyeyes*
    Ceritanya menarik, bikin penasaran juga, daebak!!!!!
    Sedih pas dipart2 akhir *huweeee* ternyata yun cuma bertahan sampe ketemu sama jae.
    Dan terakhir buat author *kedipkedip* hwaiting ne ditunggu ff2 selanjutnya *kecup*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s