Spesial Gift for Leader Jung


We always AKTF!!

Ide FF ini aku dapat karena aku yakin uri leader sangat merindukan ketiga membernya di saat special seperti ini ^^

Title : Special Gift fo Leader Jung

Cast : DB5k only, Yunjae pastinya

Genre: T

Tolong untuk tidak mencopas atau memplagiat FF ini karena walaupun gak bagus tetap aja ini sebuah usaha~~ DONT LIKE DONT READ~~NO BASHING

===============================================================

(Yunho side story)

Hari ini adalah malam natal dan aku hanya terduduk diam di depan televisi yang tidak menyala sama sekali di apartement milik magnaeku, Shim Changmin. Aku terdiam mungkin sudah sekitar satu jam ketika suara pintu yang terbuka membuatku menoleh. Aku melihat Changmin yang tengah sibuk menenteng banyak kantong belanjaan. Aku beranjak dan membantunya. Magnae ku yang satu ini sudah tidak pernah mengeluh lagi jika harus pergi berbelanja atau pun memasak kan sesuatu untukku. Sejak kami tinggal dua member, Changmin yang selalu mengurusku. Mengingatkanku pada perkataan Jajeoong sebelum kami terpisah menjadi dua group.

“Changmin-ah! Jaga Yunnie bearku ne arasho! Awas sampai aku tau dia sakit atau terjadi sesuatu karena kesalahanmu!” Ancam Jaejoong. Setelah itu aku jarang melihat wajah cantik itu lagi yang akan mengomel setiap hari besar seperti ini. Aku membantu meletakkan kantong-kantong besar itu di meja dapur.

“Banyak sekali yang kau beli, Min?” Tanyaku mengintip isi kantong-kantong itu. Kulihat tubuh tinggi itu tengah menggunakan apron putihnya yang sudah tidak kelihatan putih.

“Yak hyung ini kan natal jadi wajar saja kan?” Changmin malah balik bertanya. Kulihat dia pun mulai sibuk mengeluarkan bahan-bahan makanan yang akan dimasak dari dalam kantong.

“Aku bantu ya?” Tanyaku melihatnya sibuk.

“Hyung duduk diam saja di sofa atau nonton tivi. Jangan mengangguku!” Ucapnya. Aku mencibir dan kembali menghempaskan tubuhku di sofa. Bosannya~~

Aku bingung mengapa Changmin tidak pernah mengizinkan ku untuk membantunya memasak. Ya aku tahu bahwa dapur adalah kekuasaannya tapi sekarang kekuasaanya akan dapur menjadi berlipat ganda karena malaikat cantik bernama Kim Jaejoong sudah tidak ada. Jaejoong. Kau tahu aku selalu merindukanmu di momen-momen seperti ini.

Bagaimana kulihat tubuh rampingnya tengah sibuk memasak dan tak ingin diganggu seperti Changmin saat ini. Rindu pula dengan kedua mahluk rusuh yang selalu heboh di depan tivi dengan stik playstation di tangannya. Rindu saat semua berkumpul di meja makan untuk merayakan natal. Dan Changmin akan mengambil jatah emapt kali lebih banyak.

Terutama aku merindukan saat aku mencium bibir mungil nan manis itu di bawah mistletoe, berharap kami akan selalu bahagia.

Tapi sepertinya nasib berkata lain. Ketiga memberku pun keluar dan menyisakan aku dan Changmin yang harus terus berjuang mempertahankan nama TVXQ, tempat dimana kami berlima bernaung.

Kring… Kring.. Kring..

Suara ponsel Changmin membuyarkan memori lama yang tengah berputar di kepalaku. Kulihat Changmin sibuk mengangkat telepon sembari mengaduk-ngaduk panci.

“Ah ne? Jigeum? Baiklah..” Ucapnya mengakhiri telepon.

“Ada apa Min?” Tanyaku saat kulihat namja jangkung itu melepas apronnya dan mematikan kompor.

“Aku ada perlu mendadak hyung, dan harus segera ke kantor. Bisakah kah aku percaya padamu?” Pertanyaan terakhirnya terdengar aneh di telingaku. Akupun mngerutkan alis tidak mengerti.

“Tolong jangan menginjak dapur..” Ucapnya kemudian. Ya aku mengerti. Changmin takut hyungnya ini akan meledakkan dapur. Yang benar saja!

“Apa lama?” Tanyaku lagi. Changmin melirik jam dinding diatas tivi.

“Sekitar satu jam. Aku akan kembali secepat aku bisa eoh?” Ucapnya. Kemudian melangkah menuju pintu lalu menggunakan mantelnya.

“Ingat hyung! Jangan menyentuh dapur!” Ucapnya sekali lagi. Kali ini lebih tegas dan memiliki banyak penekanan.

“Ne arasho~~” Jawabku mencibir.

Blam!

Kulihat pintu yang tertutup di depanku. Apa yang akan aku lakukan untuk menunggunya satu jam kedepan? Kusisir ruang tamu itu dan akhirnya aku memiliki ide untuk menghias pohon natal sembari menunggu magnae ku pulang.

Akupun mengambil kardus yang berisikan hiasan pohon natal di sudut ruangan dan membawanya ke pohon natal yang ukurannya bisa dibilang kecil tapi aku tidak peduli aku akan menghiasnya.

10 menit..

15 menit…

30 menit..

Satu jam…

Aku menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Kira-kira sudah satu jam Changmin pergi. Tidak terasa. Aku pun bangkit dan membereskan kekacauan yang kubuat saat menghias pohon natal. Setelah beres akupun kembali duduk manis di atas sofa sembari berpikir bahwa sebentar lagi Changmin akan muncul dan meneruskan kegiatan masak-memasaknya karena perutku sudah berteriak minta diisi.

1 jam..

2 jam…

Yak! Jam pun sudah berdentang selama delapan kali namun sosok jangkung bagai tiang listrik itu tidak kunjung datang. Ponselnya pun mati. Aku pun bangkit berdiri dengan kesal. Kuputuskan saja aku akan meneruskan kegiatan memasak Changmin. Walaupun aku tidak tahu pasti masakan apa itu.

Aku pun mulai mengaduk-ngaduk sup di dalam panic. Mencicipinya. Lalu menambahkan bumbu-bumbu yang ada di situ. Bukan terlihat matang, sup itupun terlihat meletup-letup mengeluarkan gelembung dan mulai meleleh keluar dari panci. Akupun panic, maksud hati ingin mengecilkan api kompor. Aku justru memperbesarnya hingga…

DUAR!!!

Seluruh isi panic pun berserakan kemana-mana memenuhi tembok dapur. Akupun terkena walau sedikit karena aku segera bersembunyi di balik meja dapur.

Ckrek..

Aku segera menoleh dan mendapati wajah Changmin dengan mulut menganga. Keringat dingin mulai membasahi pelipisku. Aishi! Matilah aku, pikirku. Buru-buru kuletakkan sendok sup yang kupegang ke atas meja yang berlumuran sup dan memasang wajah sepolos mungkin.

“Hyung~~” Panggil Changmin menggantung. Kulihat sosoknya mulai berjalan mendekatiku. Dan jujur itu membuatku merinding.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH!!!” Kemudian suara tinggi yang biasa Ia gunakan di atas panggung kini mendarat di dapur. Bahkan hingga menembus telingaku. Kuusap-usap kupingku yang panas karena teriakannya.

“Mian, Min..” Ucapku berbisik takut. Menatap matanya saja aku tidak berani. Magnaeku terlihat sangat, sangat marah. Wajahnya pun sampai berubah merah.

“Sudah berapa kali kukatakan padamu hyung! Jangan menyentuh dapur!! Kau tidak mengerti ya!? Sekarang apa yang akan kita makan untuk merayakan malam natal hah!???” Omelnya padaku. Aku hanya terdiam.

“Mian Min, kau lama jadi aku hanya mencoba membantu. Kau tahu aku kelaparan sejak sore!” Bantahku mencoba membela diri. Memang benar kok, aku kelaparan sejak sore.

“Aku juga mencoba menelepon Min tapi tidak aktif!” Lanjutku membela diri.

“Tapi bisakan hyung makan kue-kue natal itu tanpa menyentuh sup ini!!” Changmin masih menggunakan nada tingginya sembari menunjuk tembok dapur yang kini dipenuhi cairan kental, Sup. Aku kembali terdiam.

Ting… Tong…

Suara bel pintupun menyelamatkan ku dari amukan kedua Changmin. Dengan tampang masih kesal Changmin beranjak membukakan pintu. Kulihat tubuh jangkung itu justru terdiam terpaku di depan pintu.

Akupun melangkah menuju pintu untuk melihat apa yang terjadi.

“Kau kenapa~~” Sebelum sempat kata-kataku habis. Tubuhku sudah ditubruk terlebih dahulu oleh tubuh mungil nan ramping. Dan wangi ini~~

“Boojae?” Ucapku terkejut. Kulihat kedua namja yang sangat kurindukan berdiri pula di belakang namja cantik ini.

“Junsu? Yoochun? Kalian?” Sungguh otakku serasa kaku melihat mereka bertiga sekarang ada di depanku.

“Bogoshipo hyung!” Ucap kedua namja itu lalu memelukku berbarengan. Dengan kaku akupun memeluk mereka bertiga sekaligus. Diikuti Changmin. Tanpa terasa airmata ku pun jatuh.

Terima kasih Tuhan. Engkau mengirimkan hadiah natal yang indah untukku dan Changmin, ucapku dalam hati.

“Bagaimana kabarmu Yun?” Tanya suara indah itu. Kutatap mata bulatnya lekat-lekat. Tidak ada yang seindah ini sebagai hadiah natal.

“Aku~~” Tanpa melanjutkannya akupun kembali memeluk tubuh ramping itu erat dibarengi dengan suara tawa dari Yoosumin.

“Hyung! Ini kami bawakan makanan!” Ucap Junsu mengangkat kantong di tangannya.

“Ne hyung!” Susul Yoochun ikut mengangkat dua kantong di kedua tangannya. Changmin pun segera mengambil kantong-kantong itu dan membawanya ke dapur. Dan dengan segera melupakan peristiwa panci meledak itu.

“Terima kasih kalian semua!” Ucapku sambil mengelap airmata yang mulai jatuh lagi. Junsu dan Yoochun tersenyum penuh arti padaku. Tidak terkecuali Jaejoong. Senyumnya selalu terlihat indah.

“Yun, sepertinya kau membuat kekacauan ne?” Seru Jaejoong mengintip kearah dapur. Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Seandainya ini dorm sudah pasti aku akan diomel habis-habisan, bukan maksudku Jaejoong pasti akan mengamuk.

“Yak! Baiklah ayo makan!” Ujar Changmin dari arah dapur. Oke aku selamat lagi.

Akhirnya kamipun duduk mengelilingi meja makan yang sudah tertata rapi.

“Baiklah, Leader-sshi ayo pimpin doa..” Ucap Jaejoong menatapku. Aku pun jadi kikuk.

“Hmm.. Tuhan, terima kasih atas semua hadiah yang Kau berikan malam ini untuk kami semua. Tidak ada yang lebih indah daripada berkumpul bersama orang-orang yang menyanyangi kami. Tuhan, aku harap pada malam ini. Bukanlah malam terakhir kita semua berkumpul bersama. Tapi besok, nanti, dan seterusnya. Amin.” Akupun membuka mataku. Menatap satu-persatu wajah dari orang-orang aku sayangi di muka bumi ini.

“Mari makan!!!” Teriak Changmin kemudian membuyarkan suasana haru biru dan mengubahnya menjadi ricuh. Ricuh dengan canda tawa bahagia dari keluarga kecilku. Aku pun tersenyum.

“Jaejoong hyung makan yang banyak ne!?” Seru Changmin. Aku menatap Jaejoong yang tertawa. Kusadari memang tubuhnya mengurus dari terakhir bertemu.

“Boo kau baik-baik saja kan? Makannya baik kan Chun?” Tanyaku pada Yoochun yang tengah melahap makanannya.

“Ne hyung!” Ucapnya dengan mulut penuh. Yoochun lah satu-satunya orang yang kuminta untuk menjaga Jaejoong untukku.

“Tapi kau tahu Jaejoong selalu memikirkanmu..” Lanjut Yoochun lagi setelah menelan semua makanan di mulutnya.

“Eh? Jinjja yo?” Tanyaku menatap Jaejoong yang tengah tertunduk.

“eum, memangnya kau tidak?” Tanya Jaejoong balik bertanya. Aku terdiam. Kemudian menggenggam tangannya hangat.

“Always~~” ucapku tersenyum. Melihat kembali wajah tersipu malu milik Kim Jaejoong. Hadiah terindah di hari natalku saat ini.

*Malam Hari*

Aku menjinjitkan kakiku untuk memasang mistletoe di atas pintu geser menuju balkon.

“Yun?” Aku segera menoleh saat sebuah suara memanggilku dari kegelapan. Perlahan kulihat sosok malaikat itu muncul dari kegelapan dan kini tubuhnya tampak diantara keremangan cahaya. Sebuah kemeja kebesaran milikku melekat di tubuhnya.

“Boo?” Panggilku. Namja cantik itu mengucek matanya. Menjadikan ekspresinya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.

“Sedang apa?” Tanyanya kini sudah berada di dekatku. Tanpa menjawab pertanyaannya akupun menarik tubuh ramping yang terkesan kurus itu ke dalam pelukanku. Betapa aku merindukan tubuh dan  wangi ini juga suaranya. Dalam diam aku berpikir kapan aku bisa tetap terus seperti ini tanpa takut suatu waktu aku mungkin tidak akan bertemu dengannya untuk waktu yang lama.

“Wae Yun?” Tanya Jaejoong lagi. Tapi aku tetap terdiam sembari mengusap kepalanya lembut. Memeluknya erat. Kembali menghirup wangi tubuhnya. Wangi ini tidak akan pernah bisa kulupakan sampai kapanpun.

“Merry Christmas Boojae.. Sarange..” Ucapku kemudian lalu mencium bibir mungilnya yang hangat di bawah mistletoe. Yang pasti dengan harapan yang sama. Bahagia selalu menyertai kami selamanya. Jika perlu until dead do us apart.

THE END.

Thanks for read and please leave a comment , dont be a silent reader ^^

Kamsa~~

9 thoughts on “Spesial Gift for Leader Jung

  1. huweeeeeeee T_T *menangis bahagiaaaaaaaa❤
    sambil dengerin "Forever Love", bener-bener terharu…
    pengen banget, banget, bangeeetttttt mereka bisa berlima lagi – at least, seperti kebersamaan dalam cerita, sekalipun berdua di TVXQ dan bertiga di JYJ❤

    *ehehehee.. daebak author..

    penggambaran suasananya hangat..
    uri leader jung yang cool,
    uri magnae changmin yang food-lover banget, plus tingkah lakunya yg cute,
    jaejoong yang "selembut" suaranya,
    yoochun yang pasti imut banget pas mulutnya penuh makanan,
    junsu yg pastinya paling lincah-ceria..

    bikin kangen, bikin kaangeeeeeen..

    gomawo buat cerita yang indah ini..

  2. hiks..hiks…hiks…aq nangis sedih banget saking kangennya pen liat mereka berkumpul lagi..se..se..seandainya saja #habis tisu segulung# makasih buat author sshi yang sudah bikin ff bagus ini, setidaknya rasa kangenku tuk melihat db5k kumpul lagi agak terobati

  3. Buah jatuh tak jauh dr pohonnya *lirik Changmin+emak Jeje* wkwkwkwk
    ternyata bakat masak emak Jeje menurun pantes aja si babeh Uno tetep subur meski tinggal berjauhan dr emak Jeje wkwkwkwkwk
    Nice story author ^^
    Hmmm harusnya judulnya Gift for Cassiopeia especially YunJae Shipper wkwkwkwk
    berharap loh ini bkn sebuah cerita aja tp bs jd kenyataan wkwkwkwk
    Btw, salam kenal y author ^^
    reader baru nih ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s