WE AREN’T REAL, JUST DREAM/ YUNJAE/ CHAPTER 5


WE AREN’T REAL, JUST DREAM

Created by Amee

Chapter-5

.

.

Summary:

Aku memeluk pinggang ramping Jaejoong dan menariknya untuk semakin dekat denganku di tengah lautan merah yang menyerukan kata “Yunjae” dengan liarnya, sementara Jaejoong menatapku lembut dengan doe eyes nya, sesekali bersandar di bahu bidangku. Sayangnya itu hanya sekadar fanservice.

.

.

CHAPTER 5 –  IS IT OVER?

 

Pernahkah kau merasa terjebak, terhimpit di antara dua dinding yang menyesakkanmu? Lantas apa yang kau harapkan dari segelas kopi pekat tanpa gula? Rasa manis? Kau tidak akan mendapatkannya, tentu saja.

Jaejoong duduk sendiri di ruang ganti, dicengkram dadanya kuat-kuat, lantas bertanya-tanya darimana rasa sesak itu datang. Bukankah seharusnya ia merasa senang karena Changmin telah memaafkannya.

Digelengkan kepalanya keras-keras. Ia selalu ingin menghabiskan seluruh waktunya bersama Changmin. Namun setiap kali Yunho ada di dekatnya, ia menjaga jarak dengan Changmin, seolah tidak ingin membuat Yunho terluka.

Semuanya tak lagi terasa mesra, justru berubah menjadi ancaman yang sangat mengerikan. Jaejoong menggertakan giginya, mungkin kini ia telah berubah menjadi monster yang ingin memiliki segalanya. Kenapa tak bisa dimiliki keduanya.

Ruang ganti tiba-tiba terasa panas. Mungkin pengaruh soju yang diminumnya, seharusnya ia tak meminum itu sebelum konser, tapi perasaan stres yang menerkamnya membuatnya tak bisa menolak. Disibaknya tirai, hujan sudah reda, hanya menyisakan kota yang basah.

“Yunho, mungkin aku mencintaimu,” ujar Jaejoong. Ia tak menyadari jika saat itu pintu terbuka lantas tertutup lagi dengan cepat.

**TVXQ**

Musik berdentum dengan keras ketika kelima personel TVXQ muncul ke atas panggung, layaknya malaikat yang turun dari langit dengan sayap-sayap berwarna hitam dan putih yang membentang dengan agungnya.

“We are kings of SM!” teriak Yunho keras, yang disambut penonton dengan teriakan-teriakan yang menggema.

Ketika musik mulai berganti, Changmin berteriak keras hingga oktaf tertinggi, yang disambut penonton dengan teriakan lainnya. Dan lagu Rising Sun mulai dinyanyikan.

Lautan merah yang ditimbukan light stick memenuhi gedung pertunjukan. Bergoyang ke kanan kiri hampir bersamaan. Sementara di atas panggung, kelima personel TVXQ tampak begitu energik. Ketika Changmin kembali berteriak pada pertengahan lagu, penonton ikut bersorak keras memuja idola mereka.

Lampu dimatikan, lantas kembali menyala setelah sebelumnya kembang api berpendar di tepi panggung. Semua penonton berteriak histeris saat lampu kembali menyala, kelima personel TVXQ telah membentuk formasi andalannya untuk membawakan lagu Lovin’ You.

Suasana seketika damai, semua penonton menatap takjim ke depan, mendengarkan penuh hayat suara Jaejoong dan Junsu yang mengalun dengan lembutnya, sesekali menggerakan kepala dan light stick mereka ke kanan dan kiri dengan gerakan yang halus.

“Lihat, cincin yang dipakai Jaejoong dan Yunho Oppa, itu sepasang, cartier!” teriak salah satu penonton, mengubah suasana hening yang takjim menjadi penuh sorakan yang menyerukan kata Yunjae dengan gamblangnya.

Di atas panggung, Jaejoong hanya menanggapinya dengan tersenyum, pun dengan Yunho. Sedangkan di sisi lain, Changmin mengigit bibirnya setiap kali bukan bagiannya menyanyi, sesuatu di dalam hatinya terasa siap meledak, ia ingin menangis namun ditahannya. Tuhan, bisakah kau lihat bagaimana pilunya ia, seorang pria tampan yang ingin menangis, bukankah sangat menyakitkan?

**TVXQ**

Kelima member TVXQ baru saja memasuki ruang ganti, semuanya tampak kelelahan, sementara manajer hyung menyatakan kepuasannya pada mereka. Yunho melirik Jaejoong yang duduk di sampingnya sekilas lewat sudut matanya, cantik, pikirnya. Lantas cepat-cepat disesapnya capuccino begitu Changmin menghampirinya.

“Hyung, boleh aku meminjam Jae sebentar saja,” ujar Changmin. “Hanya sebentar, aku janji,” tambahnya sambil menggigit bibir.

Yunho mengerutkan alisnya tak mengerti. “Meminjam? Dia milikmu, Min,” kata Yunho.

Changmin mengangguk lantas tersenyum. Ditatapnya Jaejoong dalam, sementara yang ditatap tidak mampu melakukan apa-apa, lantas berdiri, meraih tangan Changmin yang membawanya pergi menuju taman belakang.

Udara malam ini terasa dingin, ditambah gemerisik dedaunan dan ranting-ranting yang diterpa angin, seolah menegaskan bahwa ini bukanlah malam yang baik.

“Untuk terakhir kali, bolehkah aku menciummu?” tanya Changmin.

Jaejoong hanya bergeming. Ditatapnya Changmin, seolah ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan pemuda di hadapannya.

“Jae, bolehkah?” tanya Changmin lagi.

Tanpa menunggu jawaban Jaejoong, Changmin menempelkan bibirnya pada bibir cherry di hadapannya, lima detik lantas dilepaskannya lagi. Dengan gerakan yang cepat, Jaejoong kembali menarik Changmin, membawanya ke dalam ciuman yang dalam, Jaejoong terus mendominasi, dihisapnya bibir Changmin, namun pemuda itu tetap diam. Lantas Jaejoong menarik dirinya, air mata mulai meleleh membasahi ke dua pipinya yang seputih susu, hidunya memerah, pundaknya bergetaa, namun isakan itu, ia menahannya, sehingga hanya tercipta lelehan air mata tanpa suara.

“Jangan-”

Changmin menghapus air mata Jaejoong.

“Tidak-”

Sekali lagi dihapusnya air mata Jaejoong.

“Bukan. Katakan padaku bahwa ini bukan yang terakhir, Shim Changmin!” teriak Jaejoong akhirnya. Suaranya terdengar parau seperti gesekan gergaji berkarat.

Changmin mendekap wajah Jaejoong dengan kedua telapak tangannya. Dirasakannya wajah halus Jaejoong perlahan, lantas dihapusnya air mata Jaejoong. Ditatapnya kedua manik hitam itu seolah ingin memastikan bahwa tidak akan ada lagi air mata yang keluar dari sana.

Changmin mendekatkan wajah Jaejoong perlamat, lantas ditekannya bibir merah itu dengan lembut, untuk beberapa saat mereka terjebal dalam ciuman dalam dan panjang, mereka saling melumat dengan gerakan lembut, seolah tidak dituntut oleh nafsu. Pada menit berikutnya, Changmin melepaskan pagutannya.

“Ini yang terakhir, Hyung,” kata Changmin.

“Apa?” pekik Jaejoong.

“Terimakasih, Hyung,”

“Hyung?” Jaejoong tertawa dengan paksaan. “Kau memanggilku Hyung, Minnie? Apa telingaku mengalami kerusakan saat di atas panggung tadi? Apa mungkin aku terbentur sesuatu?” Jaejoong berteriak histeris, ditutup kedua telinganya dengan kasar. “Jangan katakan apapun lagi!” pekiknya.

Changmin menggeleng, tepat ketika air matanya jatuh membasi pipinya. Ia menurunkan tangan Jaejoong perlahan, lantas mengenggamnya sebentar.

“Bukankah seharusnya begitu, bukankah sudah sepatutnya aku memanggilmu Hyung, sudah terlalu lama aku bersikap kurang ajar dengan memanggilmu Jae, maafkan aku.” ujar Changmin lirih, namun ia berusaha tetap tegar. Bagaimana bisa membuat Jaejoong kuat sementara dirinya lemah, begitu pikirnya.

“Apa yang sedang kau bicarakan Shim Changmin, aku sama sekali tidak mengerti. Bukankah sudah kukatakan tadi, jangan mengatakan apapun lagi!” teriak Jaejoong histeris.

“Kau tahu Hyung, ketika kau mencintai dua orang, kau harus mendatangi orang kedua lantas bertanya pada dirimu sendiri bagaimana bisa kau mencintainya sementara kau sudah memiliki yang pertama. Kau tahu Hyung, artinya orang kedua itu mampu memberimu sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh orang pertama.”

“Berhenti bicara, aku tidak mengerti!” Jaejoong kembali menutupi kedua telinganya.

“Kau mencintai Jung Yunho, Kim Jaejoong!” pekik Changmin akhirnya.

“Aku.. Aku..”

“Tidak perlu menyangkalnya, Hyung! Terimakasih sudah mengajariku arti dari sebuah cinta, aku akan menyayangimu selamanya. Maaf karena aku tidak pernah bisa menjadi seorang superhero seperti yang kau impikan. Hyung, kita selesai,”

Changmin menyentuh pipi Jaejoong dengan tangan kanannya sebelum ia berbalik dan pergi, meninggalkan Jaejoong yang histeris sendiri.

**TVXQ**

Jaejoong tengah berada di salah satu kamar hotel. Dua botol champage yang diminumnya cukup membuatnya merasa hampir gila, ia meracau tak jelas. Dijambak rambutnya dengan kasar lantas menangis histeris. Dia merasa dinding-dinding mulai bernyanyi dan udara semakin panas. Jaejoong membuka pakaiannya hingga bugil lantas menari-nari saat merasa dinding-dinding hotel semakin bernyanyi-nyanyi dengan keras.

Pintu kamar hotel terbuka, menampilan sosok Yunho yang berdiri dengan panik di sana. Ia segera berlari menghampiri Jaejoong, menarik selimut dan menutupi tubuh polos orang yang dicintainya.

“Apa yang sedang kau lakukan, Joongie?” pekik Yunho.

Jaejoong melirik Yunho lantas tertawa. “Jung-Yunho!” Jaejoong menunjuk-nunjuk Yunho tepat di dadanya. “Ayo kita bercinta,” racau Jaejoong.

“Aku hanya akan bercinta dengan orang yang kucintai dan mencintaiku! Cukup, kemarin hanya sebuah kesalahan, dan aku tak akan mengulangnya,” jawab Yunho tegas.

Jaejoong tertawa dengan keras. “Kau mencintaiku, dan aku juga mencintaimu. Tapi aku juga mencintai Changmin, Jung. Dan dia meninggalkanku sekarang. Aku seperti orang bodoh. Kau bilang kau mencintaiku, jadi jangan meninggalkanku, arraseo?”

“Kau sedang mabuk, Joongie.”

“Aku cukup sadar untuk mengajakmu bercinta malam ini,”

“Berhenti meracau seperti orang gila, Kim Jaejoong!” bentak Yunho.

“Aku mencintaimu, Yun..” kata Jaejoong akhirnya sebeluh ia jatuh pingsan.

**TVXQ**

Jaejoong mengerjap-kerjapkan matanya ketika cahaya matahari masuk melalui celah-celah tirai. Dirasa kepalanya pening, lantas ia mengeryit heran ketika menyadari ia berada di kamar miliknya bukan di hotel seperti yang seharusnya.

Segera disibaknya selimut yang menutupi tubuhnya, dengan langkah tergesa-gesa, ia berlari menuju ruang tamu. Kembali ia mengeryit heran begitu menemukan Yoochun, Tunho, Junsu, dan Manajer Hyung tengah berbincang serius di sana.

“Di mana Changmin?” tanya Jaejoong.

“Dia tidak ada di sini,” jawab Junsu.

“Ah, mungkin Minnie masih tertidur, aku akan membangunkannya, sekaligus bertanya apa yang ingin ia makan untuk sarapan,”

“Dia tidak ada di sini,”

“Atau lebih baik aku memasak lebih dulu, sehingga begitu Changmin bangun makanan telah siap di meja,” Jaejoong berbalik, hendak berlari menuju kamar Changmin, namun terhenti mendengar pekikan Junsu.

“Dia tidak ada di sini, Hyung. Dia tidak ada di dorm, kau dengar itu? Dia tidak ada,” pekik Junsu.

Jaejoong merasa semua persendiannya melemah, lantas tubuhnya jatuh terduduk. Punggungnya bergetar menandakan bahwa ia mulai terisak.

Yoochun menatap Jaejoong dan Yunho bergantian, lantas memberikan isyarat pada Yunho untuk menenangkan Jaejoong.

Yunho beranjak dari kursinya. Ia merasa sesuatu yang menohok dalam hatinya, entah apa namun terasa perih menyiksa. Dengan gerakan lembut, Yunho membantu Jaejoong untuk berdiri, lantas mendudukannya di kursi. Ia memeluk Jaejoong dengan sangat erat, seakan ia adalah benda rapuh yang mudah pecah. Dibiarkannya Jaejoong bersandar di dadanya.

“Changmin mengajukan permohonan cuti selama tiga bulan, setelah permohonan pengunduran dirinya kutolak,” kata Manajer Hyung membuka pembicaraan.

“Lalu sekarang di mana dia?” tanya Yoochun tak sabar.

Manajer Hyung menggeleng. “Ia tak mengatakan apapun padaku soal itu meski aku memaksanya, tapi dia berjanji akan kembali. Dan Jaejoong. Changmin menitipkan ini untukmu, kau akan menerimanya atau biarkan aku yang memegangnya sampai kau tenang?” Manajer Hyung menyodorkan sebuah amplop pada Jaejoong.

“Aku baik-baik saja,” kata Jaejoong lantas dibukanya amplop itu. Selembar surat dan sebuah cincin.

Hyung, untuk terakhir kali, sebelum rasa cintaku benar-benar kukubur, aku ingin berbicara denganmu meski hanya lewat surat. Hyung, kenapa aku harus mencintaimu dulu? Hyung tahukah kau, dengan sifatku yang kekanak-kanakan aku bermaksud melamarmu, dengan cincin itu, kau sudah melihatnya? Sungguh tidak pantas benar? Aku tidak mengerti mengepa permulaan yang baik harus berakhir seperti kegelapan malam. Hyung, boleh aku meminta sesuatu, maukah kau mengenakan cincin itu di jari manismu? Sekali saja, buatlah aku tenang. Tidak, lima detik saja kau gunakan, jika kau ingin membuangnya setelah itu tak apa. Ah, Shim Changmin, kau sangat bodoh. Maafkan aku Hyung, aku lupa bahwa sebuah cartier telah tersemat di jari manismu, sungguh tidak sebanding. Hyung, kita akan bertemu lagi nanti, maaf aku harus menjauhimu, mungkin terlalu kekanak-kanakan tapi aku sungguh tidak bisa berada di dekatmu sekarang ini. Hyung, berjanjilah padaku, saat pertemuan kita kembali nanti, kau sudah harus berbahagia dengan Yunho Hyung, jangan mengecewakanmu.
Aku menyayangimu.
Shim Changmin.

Dengan air mata yang mulai mengalir deras, dilepasnya cartier yang melekat di jari manisnya, lantas digantinya dengan cincin pemberian Changmin. Cantik, pikir Jaejoong. Ditatapnya Yunho dalam, lantas dipeluknya dengar erat. “Jangan pergi, Yun,” ujar Jaejoong.

“Tentu.” jawab Yunho penuh keyakinan.

Ketika tetesan air dari langit mulai membasahi bumi, Yunho mengecup Jaejoong tepat di keningnya, dan berjanji atas nama langit dan bumi untuk selalu menjaganya

Finnish

Astaga, maafkan saya, setelah lama menghilang tiba-tiba menyulap fict ini selesai begitu saja. Kalau readerdeul semua merasa ada yang kurang tolong maafkan. Mungkin ada epilog? Saya tidak tahu. Dan maaf jika terlalu memaksa endingnya.

6 thoughts on “WE AREN’T REAL, JUST DREAM/ YUNJAE/ CHAPTER 5

  1. Astaga minnie T^T
    WOW banget pengorbanan lu T^T
    epilog atuh min, gimana jadinya changmin abis balik, yah?😀

  2. woh ini ffnya cukup kejam untuk ketiga pihak, disatu sisi q dukung yunppa, disisi lain kasian ma minnie. tp jaema jg kasian. aduh lain kali jgn jadi’n minnie orang ktiga ya. hiks trlalu nyesakan dada. dtggu karyanya. xDD/

  3. OH SHITT

    aq demen bgt yunjaee
    aq jg GAK demen jeje di nistain,
    tapi jeje bitch bgt ih (mian jeje oppa)

    TAPI kl MINIEE yg di nistain,,
    astaga g tegaa~~

    aigoooo

    GOOD JOB AUTHORNIM
    kau berhasil memporakporandakan hati q

    g tau mauHAPPY krn akhr yunjae
    ato malah HURT gegara minie

  4. akhirnya minnie ngerelain jaema sama yunpa~~~
    tapi ko ada yang ngeganjel yaa, rasanya belum tenang kalo yunpa belum jadi satu2nya dihati jaema😦
    daaaannnn ga tega banget ngeliat minnie kaya gitu *hikshiks*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s