Vicious Jonquil 4 – The Last War-Part 1/4


Title        : Vicious Jonquil 4 – The Last War

Author   : Beth

Chapter : one shoot PART 1

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

 

 

[Ending of Vicious Jonquil 3 – The Mystery Of Heart]

 

“Ijinkan aku membantumu untuk mendapatkan the Ruby terakhir ini.” Ucap Yunho mantap meyakinkan bahwa dia memang mampu membantunya.

 

“Benarkah kau mau membantu? Walau akan membahayakan dirimu dan nama baikmu?” Tanya Jaejoong sedikit ragu.

 

“Aku sudah pernah bilang, apapun akan kuberikan padamu. Kau lupa kalau aku begitu mencintaimu?” Tanya Yunho serius.

 

“Nae, aku tahu kau mencintaiku. Jeongmal Gomawoyo Jung Yunho. Saranghae.” Ucapnya sambil menyandarkan kepalanya dibahu Yunho dan kembali melempar pandangannya ke lautan lepas.

 

“Saranghae Jae..” sahut Yunho sambil mempererat dekapannya.

 

Terbentang luas di depan mereka hamparan air yang berombak-ombak. Matahari sudah muncul menasbihkan sinarnya. Pantulan sinar kekuningan mencermin bayang-bayang di antara gulungan ombak. Angin semilir bergulir lembut berbisik di telinga, beradu indah dengan gedebur ombak yang menatap karang. Indah.. Indah.. Indah.. Hanya kata itu yang dapat menggambarkan suasana saat itu.

 

“Oya, kau tahu Yun siapa yang akan kita hadapi pada pencurian kesembilan ini?” Tanya Jaejoong memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.

 

“Siapa memangnya yang akan kita hadapi di pencurian terakhir the Ruby ini?” Tanya Yunho.

 

“Yang akan kita hadapi adalah…

 

 

 

pembunuh orang tuaku!”

 

 

 

[Beginning Of Vicious Jonquil 4 – The Last War]

(Jaejoong POV)

 

Terduduk aku di depan layar komputerku, mengamati website-website para agen rahasia yang berhasil aku sadap. Orang umum sepertiku tentu perlu sedikit bantuan data dari interpol untuk mengetahui jejaknya, jejak pencuri dari tangan keluargaku, jejak pembunuh kedua orang tuaku, jejak the Ruby kesembilan warisan nenek moyangku yang perlu aku rebut kembali. Inilah aksi terakhirku mengumpulkan kesembilan the Ruby melawan seseorang yang amat sangat aku benci.

 

Ya, tak lama lagi adalah perang terakhirku melawannya, pembunuh orang tuaku tepat dua puluh tahun yang lalu, pria yang ingin kubunuh dengan kedua tanganku untuk membalas dendam keluargaku, Cha Seung Won.

 

-oOo-

 

[FLASH BACK]

 

(Author POV)

 

 

“Jaejoongie, cucu halmoni, kemarilah sebentar.” Ucap wanita remta pada seorang pemuda berperawakan kecil berwajah manis.

 

“Nae, halmoni. Ada apa?” Tanya pemuda itu sambil berjalan mendekat.

 

Terduduklah dia di sebelah wanita renta itu yang terbujur lemah di atas tempat tidurnya. Wajahnya sudah terlihat begitu senja dengan guratan-guratan yang terlampau ketara. Tubuhnya pun begitu kurus dan ringkih dimakan usia. Namun pandangannya masih terlihat sangat hangat pada cucu satu-satunya itu, keluarga satu-satunya yang ia miliki di dunia ini, dan penerus terakhir satu-satunya dari keluarga Kim.

 

“Kim Jaejoong, cucuku.” Panggilnya kali ini dengan nama lengkap menunjukan ada keseriusan yang ingin disampaikan, “Kau sudah berusaha keras meneruskan bisnis keluarga kita ini di usia yang cukup muda.” Ucap wanita itu lirih diiringi sebuah senyuman yang begitu tulus. “Di saat pemuda lain seusiamu bersenang-senang dengan teman-temannya, kau malah harus menanggung tanggung jawab besar, mengambil alih perusahaan kita. Karena kondisi kesehatan halmoni yang sudah tidak memungkinkan.”

 

“Tidak apa-apa halmoni. Terima kasih, halmoni telah mempercayakan bisnis keluarga ini padaku. Aku kira aku tak akan sanggup mengelolanya. Tapi berkat nasehat dan arahan halmoni, bisnis ini terus berkembang. Khamsahamnida halmoni.” Jawab pemuda itu sambil meraih tangan halmoninya itu. Diusapnya perlahan sambil sesekali di tempelkan di pipinya. Sang Halmonipun mengusap lembut rambut cucunya yang amat sangat dia sayangi.

 

“Andai appa mu masih hidup..” ucap halmoni tertahan.

 

“Ssssttt… Sudahlah halmoni, appa dan umma sudah tenang di sana.” Ucapnya sedikit bergetar. Hatinya terasa sakit mengingat appa dan ummanya yang telah tiada itu.

 

“Jaejoongie kesayangan halmoni..” ucapnya sambil membelai wajah cucunya, “Aku rasa umur halmonimu ini sudah tak lama lagi..” ucap wanita tua itu disambut dengan sahutan tak senang pemuda itu, “Halmoni bicara apa??!”

 

“Kau tahu kalau halmonimu ini sudah begitu renta, kesehatan halmonipun kian hari semakin buruk. Kau harus menerimanya, bahwa halmonimu ini tak bisa lebih lama lagi menemanimu.” Ucap wanita tua itu yang langsung membuat pemuda itu makin terkejut, marah bercampur sedih.

 

“Halmoni!!!” serunya tak terima dengan kata-kata halmoninya.

 

“Halmoni cuma minta satu darimu sebelum halmoni pergi meninggalkan dunia ini,” ucap wanita tua itu disambut pekikan lebih keras dari cucunya, “Cukup! Cukup! Halmoni ini bicara apa? Aku sama sekali tak mengerti dan tak mau mengerti. Kalau halmoni terus berbicara seperti itu, aku tak mau de..” belum selesai ia berkata.

 

“Kembalikan The Ruby ke keluarga kita.” ucap wanita tua itu lirih namun mampu membuat pemuda itu terdiam dalam kebungkaman.

 

DEG!!

 

Tiba-tiba seluruh ingatan dan bayangan mengenai benda yang baru saja disebutkan oleh halmoninya itu langsung terbesit begitu saja di otaknya. Semua, termasuk sesuatu yang amat menyakitkannya yang meninggalkan trauma terdalam baginya. Suatu kejadian yang tak akan mungkin bisa dia lupakan seumur hidupnya. Suatu pengalaman hidup yang begitu kelam dan terlampau kelam untuk anak seusianya. Ya, kejadian perampokan sebuah the Ruby, hasil dari appa dan ummanya yang membelinya dari para kolektor barang antik. Kejadian yang merenggeut nyawa kedua orang tuanya itu sekaligus merenggut semua kebahagiaan masa kecilnya. Tanpa sadar setetes bening mengalir perlahan dari mata cemerlangnya.

 

“Jaejoongie… Mungkin ini adalah permintaan yang sangat berat, tapi halmoni mohon dapatkan kembali ke-sembilan the Ruby milik keluarga kita itu. Halmoni tak bermaksud apa-apa. Halmoni hanya ingin bagian dari sejarah keluarga kita, harus terus berada di tangan keluarga kita.” Ucap wanita tua itu sambil menyeka air mata cucunya. “Tinggal kau satu-satunya penerus keluarga besar kita, kau lah harapan halmoni satu-satunya.”

 

Pemuda itu masih tak sanggup berkata-kata, ia terlampau terkejut dengan permintaan halmoninya, sekaligus sedih mengingat segala hal yang berhubungan dengan The Ruby.

 

“Kim Jaejoong.. Halmoni mohon padamu..” ucap halmoni sambil berusaha bangkit dengan susah payah, “Halmoni mohon Jaejoongie.. Halmoni mohon..”

 

Berusaha ditahannya agar halmoninya itu tak perlu bangkit dari tempat tidur. Tubuh rentanya terlalu lemah untuk sekedar duduk saja.

 

“Halmoni.. Halmoni.. Sudahlah, berbaring saja..” pinta pemuda itu sambil kembali meneteskan air matanya.

 

“Halmoni mohon.. Halmoni takut tak ada waktu lagi bagi halmoni untuk bisa melihat ke-sembilan The Ruby. Halmoni takut kepergian halmoni kelak tidaklah tenang jika warisan nenek moyang keluarga kita belum berada di tangan penerus keluarga Kim.” Mohon halmoni terus menerus pada Jaejoong.

 

Jaejoong berpikir.

Digigitnya bibir bawahnya.

 

“Mmmm…”

 

 

 

 

“Baiklah!” ucapnya cepat yang membuat halmoninya langsung terdiam dan menatap lekat pada cucunya itu. “Akan aku dapatkan kembali ke-sembilan The Ruby.” Uca[nya sambil menghembuskan nafas panjang.

 

Keduanya pun sudah tak sanggup lagi menahan air mata yang sedari tadi mereka tahan. Sebuah peperangan batin terjadi di dalam hati Jaejoong. Bagaimana tidak, dia di hadapkan antara permintaan seorang nenek yang begitu dia sayangi sekaligus perasaan trauma pada segala hal yang berhubungan dengan The Ruby. Ini memang berat, tapi benar seperti yang apa dikatakan halmoninya.

 

‘Bagian dari sejarah keluarga kita, harus terus berada di tangan keluarga kita’

 

-oOo-

 

[FLASHFORWARD]

 

 

Beberapa hari sudah aku mengamati layar-layar yang membosankan ini. Yang kulihat hanyalah kode-kode, angka-angka dan tulisan-tulisan yang yang tak mudah dipahami oleh orang sembarangan. Seseorang yang sudah terlalu terbiasa untuk mengamati setiap informasi yang terpampang di depanku, tentu dengan sangat mudah mampu membaca semua informasi ini. Tentu saja aku bisa sejak pertama kali aku menyentuh semua ini.

Aku kan genius.

Jangan lupakan itu !

Aku adalah Vicious Jonquil yang sempurna.

 

 

Saat ini aku tengah melacak kartu kreditnya. Setiap kali dia bertransaksi dengan menggunakan kartu kreditnya akan langsung terlacak olehku dimana dia menggunakan kartu kreditnya tersebut, saat itu juga. Akupun bisa mengetahui dimana dia terakhir berada. Dengan begitu, sedikit demi sedikit aku bisa mengetahui dimana tempat tinggalnya.

 

Mungkin metode pelacakan seperti ini tidaklah terlalu susah. Mengingat dia tak menyadari pelacakan melalui kartu kreditnya ini. Sebetulnya saat sinyal kartu kreditnya muncul di suatu tempat, aku bisa saja langsung menyerangnya saat itu juga. Atau mungkin melacak nomer HP nya, akan jauh lebih mudah dari ini.

 

Tapi dimana sisi estetika suatu pencurian jika dilakukan dengan cepat seperti itu!

 

Semua harus perlahan dan elegan agar terlihat indah bukan?

 

Termasuk nanti saat aku akan membunuhnya sedikit demi sedikit dengan cara yang sangat menyakitkan hingga ia berharap untuk segera mati saja. Atau bahkan dia berharap tak pernah dilahirkan sebelumnya. Ya, dia harus mati.. Mati.. Mati..

 

 

HAH!

 

 

Kugenggam sendiri tanganku kuat-kuat.

 

 

 

 

Namun kemudian kusadar emosi tak akan menyelesaikan apa-apa. Karena emosiku yang terlalu menggebu-gebulah, kedua orang tuaku meninggal. Kepergian mereka karena kesalahanku. Andai aku tak langsung mengumbar emosi malam itu, pasti saat ini aku masih bisa merasakan pelukan hangat kedua orang tuaku disaat aku merasa begitu kalut seperti ini.

 

Ini semua kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

Kesalahanku..

 

KESALAHANKU!

 

 

-oOo-

 

 

[FLASHBACK]

 

“Cepat angkat tangan… Angkat tangan!!!” teriak pencuri itu begitu keras membuat anak kecil yang sembunyi di balik meja ikut bergetar ketakutan. Orang tuanya sudah memperingatkan, ‘Apapun yang terjadi jangan pernah keluar dari balik meja. Tetaplah disana hingga semua sudah aman.” Maka anak itupun mematuhi apa yang sudah diperintahkan padanya, tetap sembunyi dalam ketakutannya.

 

Kim Jinhyuk dan Kim Mina hanya bisa mengikuti perintah sang pencuri itu. Mereka berjongkok di lantai dan mengangkat kedua tangan mereka.

 

Tiba-tiba masuklah seorang pencuri lainnya dengan kasar membanting pintu. “Dimana letak The Ruby? Dimana? Cepat katakan!!” katanya sambil menodongkan senapan tepat ke kepala Jinhyuk.

 

Jinhyuk tetap diam dalam kebungkamannya sedangkan sang Istri menangis tersedu-sedu karena merasakan takut yang luar biasa.

 

Tak lama masuklah, seorang pria yang diikuti oleh beberapa pria lainnya. Sang lakon utama, otak dalam pencurian besar ini, pria bertubuh tinggi semampai, berbadan tegap, berwajah keras dan culas, berjalan secara perlahan bertempo, dengan penuh keyakinan mendekati sepasang suami istri yang tengah ditodong senapan itu. Pria itu adalah pemimpin dari komplotan pencuri ini. Terlihat ia berusaha menebar senyum seramah mungkin yang bisa ia berikan, namun sama sekali senyumannya tak menimbulkan rasa tenang di hati siapa saja yang melihatnya. “Hei.. Kalian ini.. Mana sopan santun kalian pada Tuan besar Kim dan Nyonya besar Kim, ha?” ucap pria itu sambil mengerutkan dahinya dan menatap kedua anak buahnya yang tengah menodongkan senjata.

 

“Tapi Boss..”

 

 

DOR!!! DOR!!!

 

Hening seketika..

 

 

 

 

Darah mengalir membentuk kubangan, suasana langsung mencekam seketika. Dengan tangannya sendiri, Sang Pemimpin, Cha Seungwon, menembak kedua anak buahnya itu. Darah menganak sungai dari kepala anak buah yang sial itu. Tangisan Mina semakin terdengar kencang, namun Jinhyuk masih berusaha terlihat tenang.

 

“Maafkan anak buah saya Tuan Besar dan Nyonya Besar Kim.” Ucapnya sambil ikut berjongkok di dekat mayat anak buahnya. Diangkatnya kepala dua anak buahnya untuk bersujud ke arah Jinhyuk dan Mina.

 

“Maafkan kami Tuan Kim, maafkan kami Nyonya Kim. Nyonya Kim jangan menangis. Nanti cantiknya luntur.” Ucapnya sambil menggerak-gerakan kepala mayat anak buahnya, memain-mainkannya seakan sedang memainkan boneka, dengan suara yang dibuat-buat.

 

Damn! Siapa yang bisa tenang berhadapan dengan orang gila seperti itu? Mina menjerit histeris. Tangisan Mina semakin kencang, terlihat sekali ia ketakutan dengan pria gila yang ada di depannya itu.

 

“Ssstttt… Sssttt… Cantik.. Jangan menangis..” ucap Seungwon sambil melempar kepala mayat anak buahnya sekenanya dan berpindah membelai wajah Mina.

 

Mina berteriak semakin histeris. Sang suami tampak langsung bereaksi. Namun sebelum dia sanggup berbuat apa-apa, anak buah pimpinan itu telah menahan tubuh mereka sehingga tak sanggup lagi bergerak banyak.

 

Perlahan dibelainya wajah cantik Kim Mina. Di usianya yang sudah tak remaja lagi, tapi ia masih bisa terlihat begitu belia. Mina hanya bisa memekik ketakutan ketika dirasakan tangan kanan pria itu membelai wajahnya sedangkan tangan kirinya yang memegang pistol yang ditodongkan ke rahang kecil Mina.

 

“Berhenti menyentuh istriku dengan tangan busukmu itu!!!” pekik Jinhyuk sambil berusaha melepaskan diri.

 

Dilihatnya wajah Jinhyuk sambil perlahan menempelkan pipinya dengan pipi istrinya. Lalu tersungginglah sebuah senyuman itu kembali di bibirnya, “Kau tahu Tuan Besar Kim, kau beruntung memiliki istri sepertinya. Tapi kau tahu satu hal?”

 

Sejenak ia terdiam, di tatapnya sekilas wajah Mina dan kembali di tatapnya Jinhyuk, “Kecantikannya adalah senjatanya. Senjata untuk membodohi orang-orang dungu sepertimu.” Ucapnya sambil mengarahkan pistol secara perlahan dan perlahan, menyusuri leher jenjang wanita itu terus turun, terus, terus, hingga berhenti di dadanya. Ditekannya ujung pistol itu ke dada Kim Mina yang mengakibatkan ia bergetar ketakutan.

 

“Kurang ajar!!” ucap Jinhyuk geram sambil terus meronta. “Kalau kau ingin the Ruby ambilah, tapi jangan sakiti keluargaku!!”

 

“Sabar.. Sabar.. Tuan besar Kim. Tujuanku kemari kali ini memang untuk mengambil the Ruby, sama sekali tak ada niatan untuk melakukan yang lain, walaupun yang lain itu terdengar mengasyikan. Hahaha..” Ucapnya sambil tertawa angkuh. “Tapi seperti yang kukatakan tadi, istrimu ini selalu menggunakan kecantikannya sebagai senjata.”

 

KREKK!!!

 

“Ahhhh…..” Kim Mina berteriak ketika penjahat itu merobek pakaiannya secara kasar hingga sebagian dadanya terekspos memperlihatkan sebuah the Ruby yang tergantung indah disana..

 

“KURANG AJAR, KAU SEUNG WON!!” Pekik Jinhyuk dengan terus meronta namun rasanya sia-sia saja, anak buahnya memeganginya dengan kuatnya.

 

“Opss.. Tak sengaja aku menyobeknya..” Ucapnya sambil menodongkan kembali pistol itu ke arah Mina.

 

“Bangsat kau Seungwon! Bangsat!” teriak Jinhyuk melihat istrinya diperlakukan seperti itu. Begitu marahnya ia saat itu hingga air mata tanpa sadar ikut menetes dari sudut matanya.

 

Sedangkan bocah kecil yang bersembunyi dibalik meja hanya terus memegangi mulutnya kencang-kencang agar tangisannya tak terdengar siapa-siapa. Tapi tak bisa dipungkiri, air mata dan ketakutan yang mendalam sudah terpatri di wajah kecilnya.

 

“Jeongmal mianhaeyo.. Semua orang bisa saja melakukan sesuatu secara tak sengaja, kan?” ucap Seungwon kembali.

 

“Lepaskan tangan kotormu dari tubuhnya, anak haram!!” pekik Jinhyuk sambil menatap wajah penjahat itu lekat-lekat.

 

 

 

 

 

 

Anak haram??

 

Ketika didengarnya sebuah kata yang sangat menyakitkan itu, tiba-tiba ekspresi wajah Seungwon langsung berubah dingin, bahkan senyuman sinisnya benar-benar hilang entah kemana. Yang tersisa hanyalah sebuah tatapan penuh kebencian.

 

Ya, Seungwon bukanlah orang asing bagi keluarga mereka. Seungwon adalah anak kepala pelayan dengan salah satu juru masak di keluarga Kim. Sejak Seungwon kecil, semua orang sudah tahu, bahwa ia adalah anak haram. Walaupun Jinhyuk dan Seungwon seumuran. Tapi mereka sama sekali tak pernah berteman baik semasa kecil. Seungwon selalu dan selalu iri pada semua yang bisa di dapatkan Jinhyuk.

 

Sempat selama beberapa saat mereka berdua saling bertatapan tajam, hingga akhirnya dia kembali menatap wajah Mina lekat.

 

 

 

 

Tanpa berpikir panjang lagi, segera diraihnya tubuh Mina. Disobek-sobeknya pakaian yang tengah wanita itu kenakan. Mina hanya bisa menangis kian histeris, ia tak mampu melawan sedikitpun ketika harga dirinya sebagai wanita diinjak-injak di depan sekumpulan para pencuri ini. “Apa yang kau bilang kotor?? Anak haram?? Kau tahu istri dan anakmu tak lebih baik dari itu. Mereka semua sama saja. Lihatlah.. Lihatlah.. Betapa kotornya dia..” Ucapnya sambil berusaha menciumin Mina di depan semua anak buahnya.

 

Suasana begitu menyesakan saat itu. Semua sumpah serapah sudah keluar dari mulut Jinhyuk, betapa murka nya ia melihat istrinya yang begitu ia puja diperlakukan seperti itu. Seluruh anak buah Seungwon hanya bisa menatap nanar pada pimpinan mereka. Sedangkan sang bocah kecil sudah benar-benar tak sanggup menahan emosinya lagi. Diambilnya sebuah vas bunga kecil berisi sekumpulan bunga Jonquil. Keluarlah ia dari persembunyiannya dan dilemparkannya vas itu ke kepala Seungwon.

 

PRANG!!!

 

 

 

 

Dihentikannya apa yang telah ia lakukan pada Mina, dia berbalik dan berganti memandang bocah kecil itu dengan tajamnya.

 

“Jangan… Jangan sentuh anakku!” ucap Jinhyuk lagi.

 

 

 

 

“Kau bocah tak tahu sopan santun!” seru Seungwon sambil mengambil pistolnya yang sempat terjatuh.

 

“Jangan… Jangan.. Jangannnnn…” Jinhyuk berhasil melepaskan diri dan berusaha mencegah Seungwon menembak putranya, dipeganginya tangan Seungwon yang tengah memegang senjata itu, “Jaejoong lari Jajeoong lari…”

 

Jaejoong kecil tampak begitu bingung, ia mendengar perintah orang tuanya untuk berlari, dan iapun berusaha mematuhi apa yang diperintahkan appanya. Anak buah Seungwon berhasil memegangi Jinhyuk kembali dan kini Seungwon mengarahkan pistolnya tepat membidik kepala bocah itu.

 

 

 

Waktu berjalan begitu melambat saat itu, suara teriakan Jinhyuk seakan tak terdengar, gemuruh suara seorang appa yang berusaha mengingatkan anaknya untuk menyelamatkan diri juga seakan tak terdengar.

 

“Lari Jaejoong, Lari…”

 

“Lari Jaejoong, Lari…”

 

“Lari Jaejoong, Lari…”

 

 

Seungwonpun menarik pelatuk pistol itu. Semuanya berjalan semakin lambat dan terasa seperti slowmotion sebuah film. Beberapa anak buahnya yang lain hanya bisa menatap sambil menahan nafas mereka. Jarum pada jam dindingpun tak sampai selesai menamatkan detik pertamanya dari angka dua belas, dan kemudian…

 

DOR!!!

 

 

 

 

Hening kembali..

 

 

 

 

Hal itu yang terjadi saat itu.

 

Semuanya terkejut bukan main, ketika dilihatnya tubuh seorang wanita pakaian yang terkoyak-koyak itu sudah terbujur lemah dengan aliran darah yang ngucur deras dari dada kirinya.

 

Mina berusaha menyelamatkan putranya.

 

Putra satu-satunya.

 

Jaejoong yang semula berlari langsung berhenti tak sanggup melangkah, dibalikan tubuhnya dan didapati Ummanya sudah nyaris  tak bernyawa itu.

 

“Umma.. umma..” isak Jaejoong kecil dalam tangisnya. Ingin sekali ia mendekati tubuh ummanya dan memeluk tubuh wanita yang sangat Ia cintai itu. Namun baru selangkah ia menapakan kakinya mendekat, Seungwon kembali melihat ke arah Jaejoong. Pria keji itu kembali mengacungkan pistol ke arahnya. Untuk kedua kalinya Seungwon hendak menarik pelatuknya, namun ketika pelatuk nyaris tertarik, tiba-tiba Jinhyuk menubrukan badannya ke arah Seungwon yang membuatnya meleset menembak ke sebelah kiri Jaejoong, menembak sebuah vas besar dibelakangnya.

 

“Lari Jaejoong.. Lari.. Jangan lihat ke belakang sedikit. Lari sejauh mungkin kau bisa. Appa dan Umma sayang padamu.” Ucap Jinhyuk pada putra kesayangannya.

 

Jaejoong sempat terdiam selama beberapa detik, namun didapatinya kembali kesadarannya. Dengan cepat ia berlari meninggalkan ruangan itu, tanpa ada seorangpun yang sempat menangkapnya. Jaejoong kecil terus berlari dan berlari, iapun berhasil keluar mencapai halaman rumahnya. Ia dengarkan baik-baik apa kata appanya untuk lari terus menerus tanpa henti. Hingga akhirnya ketika ia berhasil menginjakkan kakinya di luar pagar kediamannya, tiba-tiba…

 

 

 

 

DOR!!!

 

 

 

 

 

“Appa..” teriaknya pada dirinya sendiri.

 

Dadanya terasa sesak.

 

Jaejoong ingin sekali berhenti dan kembali menolong orang tuanya. Namun appanya memerintahkannya untuk terus berlari, maka yang bisa lakukan hanyalah terus berlari, berlari dan berlari, hingga tak tahu telah seberapa jauh ia berlari.

 

Ia berlari sambil terus menangis terisak-isak. Dengan tanpa beralaskan kaki, ia terus berlari tak mempedulikan kakinya yang mulai terluka, karena entah apa saja yang telah tak sengaja diinjaknya. Tak ada sedikitpun ia berniat untuk berhenti. Ia takut jika ia tak mematuhi perintah orang tuanya lagi, maka orang tuanya akan semakin disakiti.

 

Jaejoong kecil masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Jaejoong terlalu takut akan terjadi apa-apa pada kedua orang tuanya, maka yang ia dapat lakukan agar orang tuanya baik-baik saja adalah terus berlari.

 

Tanpa sadar berkilo-kilo meter sudah ia berlari.

 

Hingga akhirnya..

 

PRUKK!!

 

Tubuh anak kecil itu terlalu lelah dan sakit untuk terus berlari. Ia terjatuh tepat di depan sebuah toko bunga. Penjual bunga yang tengah menata-nata dagangannya sungguh terkejut bukan main, melihat seorang anak kecil yang bermandi peluh dan airmata, berwajah pucat pasi kelelahan dengan kaki lecet-lecet, bahkan berdarah disana-sini, karena sempat beberapa kali terjatuh dan bangkit kembali.

 

“Ya Tuhan…”

 

 

 

 

-oOo-

 

[END FLASHBACK]

 

 

Malam kian larut menggelanyuti jiwa-jiwa yang masih terjaga. Berdiri aku tepat di kaca besar apartemenku. Sengaja kubiarkan jendela disebelah sana terbuka. Lembutnya angin bertiup mengisi relung-relung gelap jiwaku. Belaian Sang Bayu terasa begitu lembut mengenai wajahku, begitu menenangkan dan menyejukan. Sesekali kerenggangkan tanganku lebar-lebar menikmati setiap detik kenyamanan malam yang bisa kurasakan sambil menatap dari kejauhan barisan-barisan terang lampu mobil-mobil di jalanan yang hendak pulang ke rumahnya masing-masing.

 

Sekilas kulihat sekitarku, hanya remang-remang kondisi kamar ini yang tertangkap oleh mataku. Entah mengapa enggan rasanya menyalakan lampu barang sebuah saja. Kubiarkan malam terus menemaniku dengan hanya cahaya komputer yang sedikit menghibur kegelapanku di sebelah tempat tidur sana.

 

Masih lelah rasanya untuk melanjutkan pelacakan ini. Biarkan saja seperti begitu, jika datanya kembali terlacak, akan ada notifikasi keberadaannya.

 

Namun tiba-tiba kudengar sebuah suara yang mengusik ketenanganku.

 

Derrrttt…

 

TBC

Happy 28th Bday Kim Jaejoong umma..
Always beautiful, healthy,s uccess & happy. Yunho appa and us always love you umma..

Jeongmal khamsahamnida reader udah baca Vicious Jonquil sampai VJ4 dan udah leave commentnya.. Jeongmal khamsahamnida.. Jeongmal khamsahamnida.. /terharu/

Mianhae lama banget updatenya.. ><
Penasaran lanjutannya? Baca aja VJ4 part.2 tgl 5 Feb, YunjaeDay..
Tapi mianhae next chapter bakal di protect soalnya FULLLL NC! 13 pages Ms.Word cuma bahas NC… LOL😄

Special FF NC hadiah buat Yunjae & reader semua.. Hehe

Don’t forget follow @Fanficyunjae for the newest info,pic,etc about Yunjae & DB5K..
Follow twitterku juga bole lhoo @beth91191 /kabur/

Sekian & Jeongmal khamsahamnida
Yunjae is Real!♥
Yunjae jjang!^^

@beth91191

15 thoughts on “Vicious Jonquil 4 – The Last War-Part 1/4

  1. Umma😥
    Harus bls dndam ma tuch makhluk yg udh bnh ke 2 ortu mu umma ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)Ʃ ….yunpa hrs bantuin jaema iaaaaÀ

  2. akhirnya update juga
    kemana aja author..
    hiks..aaa..
    kasian jaejoong..
    jangan mpe umma knapa2..
    appa harus lindungin umma
    pasti keren banget ruby terakhir..

  3. sebel bgt napa br tau skrg klo ini dah release ya dah deh mau cari lanjutanny dulu
    #dadah Beth eonni

  4. Setelah sekian lama menunggu,akhirnya diupdate hehehe
    Kelam yah trnyata flashback nya jeje.
    Tapi chap ini blom ada mesra”nya jeje sama yunho ya #plaaak
    Next chapnya jgn lamalama yaa

  5. Wah aq baru tau ternyata dah update ya…

    Pencurian ke 9 gak sabar bacanya, moga2 aja jaema sam̶̲̅α̇ yunpa gak knp2 dan pembalasan dendam jaema terlampiaskan, tapi kalau bisa sih jaema jangan jadi pembunuh.

    감사합니다 juga buat author yang dah bikin FF ini, semoga authors sshi gak bosen bikin ff yunjae… 화이팅 !!!

  6. hah miris bngt nsib jaemma wktu kcil
    nnek jaemma knpa mlah nyuruh jae ngumpulin ruby
    lbih syang aa rubynya apa dripda ama nywa jae
    ksihan jae msti jdi pncuri gtu dmi ruby
    gak ada enceh hhhehehe

  7. Hoaaa, tegang bget di sini. Ternyata masa lalu Jaejoong bener2 kelam ne? Pantesan aja sampe segitu dendamnya? Oke, next!

  8. Ini msa lalu umma,,
    Ksiaan bnget😦
    .
    Tpi skrang kan udah ada yunpa yng bsa bhagia.in umma🙂
    .
    Keep writing author ^^

  9. kasian bngt ya jaejoong oppa. masa kecil yg kelam, kehilangan orang tuanya. pantesandia punya dendam kesumat. chingu ini aku reader baru. urutan chapternya gmn ya! mianhe tp klo baca urut feelnya bakalan kerasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s