Vicious Jonquil 4 – The Last War-Part 2/4


Title        : Vicious Jonquil 4 – The Last War

Author   : Beth

Chapter : one shoot PART 2

Genre    : Romance, Action, Yaoi, Full NC

Rate       : 21+

 

 

Malam kian larut menggelanyuti jiwa-jiwa yang masih terjaga. Berdiri aku tepat di kaca besar apartemenku. Sengaja kubiarkan jendela disebelah sana terbuka. Lembutnya angin bertiup mengisi relung-relung gelap jiwaku. Belaian Sang Bayu terasa begitu lembut mengenai wajahku, begitu menenangkan dan menyejukan. Sesekali kerenggangkan tanganku lebar-lebar menikmati setiap detik kenyamanan malam yang bisa kurasakan sambil menatap dari kejauhan barisan-barisan terang lampu mobil-mobil di jalanan yang hendak pulang ke rumahnya masing-masing.

 

Sekilas kulihat sekitarku, hanya remang-remang kondisi kamar ini yang tertangkap oleh mataku. Entah mengapa enggan rasanya menyalakan lampu barang sebuah saja. Kubiarkan malam terus menemaniku dengan hanya cahaya komputer yang sedikit menghibur kegelapanku di sebelah tempat tidur sana.

 

Masih lelah rasanya untuk melanjutkan pelacakan ini. Biarkan saja seperti begitu, jika datanya kembali terlacak, akan ada notifikasi keberadaannya.

 

Namun tiba-tiba kudengar sebuah suara yang mengusik ketenanganku.

 

Derrrttt…

 

Terdengar suara pintu berderit pelan, sebuah langkah mengisi kesunyian ku kali ini.

 

 

Tap…

Tap…

Tap…

 

Aku tahu siapa yang tengah melangkah mengendap-endap di belakang sana, tapi entah mengapa tak ada niatan membuyarkan rencananya untuk mengejutkanku. Aku terus menatap keluar jendela berpura-pura tak menyadari kedatangannya. Seseorang yang terlalu biasa berhadapan dengan musuh-musuh yang gesit dan tangguh, mana mungkin tak menyadari langkah yang begitu berderap itu. Suara seekor nyamukpun mampu kusadari dengan baik, apalagi sekedar suara langkahnya.

 

Aku berusahana menahan senyumku sembari asyik menikmati malam yang indah ini, hingga kurasakan sebuah pelukan lembut dari belakang punggungku.

 

DEG!!

 

 

 

Saat itu juga aku tersentak dalam kaku. Tak menyangka aku akan sebegitu terkejutnya karena pelukannya. Semula aku berpikir jika aku menyadari kedatangannya, maka aku tak akan seperti ini rasanya.

 

Ternyata aku salah besar. Pelukannya selalu dan selalu membuat hatiku berdebar cepat dan nafasku menjadi tak beraturan.

 

“Selamat malam, yeobo..” Ucapnya begitu lirih seraya berbisik di telingaku.

 

Aku masih terdiam dalam keterkejutanku. Masih sibuk aku untuk mengatur nafas dan denyut jantungku yang tak beraturan. Seluruh bulu romaku terasa meremang akibat sengatan listrik yang berasal dari pelukannya yang tiba-tiba ini. Kukedip-kedipkan mataku sambil sesekali menelan ludahku. Rasanya tenggorokan ini begitu tertahan hingga sulit sekali untuk berkata-kata.

 

“Jae..” ucapnya sambil dibelainya pipiku lembut dari belakang sana. Begitu perlahan dan penuh kelembutan seakan-akan ia tengah membelai kulit seorang bayi yang masih tipis dan rawan terluka.

 

Nafasnya yang terdengar begitu merdu di telingaku, pelukannya yang hangat dan mendebarkan, detakan jantungnya yang indah berirama, dan sentuhannya di wajahku yang mencerminkan suatu ketulusan cinta, sungguh membuatku terbang ke langit ke tujuh.

 

Aku terus terdiam dan terdiam, hingga dia kembali memanggil namaku.

 

“Jae.. Apakah harinya akan segera tiba?” tanyanya yang langsung menghempaskanku kembali ke bumi, membuat hatiku teriris perih, mengingat kenyataan bahwa hari pembalasan dendamku akan segera tiba.

 

“Hem..” jawabku sambil mengangguk pelan sambil terus membelakanginya.

 

Saat itu juga seperti ada beban yang sangat berat langsung menggelanyuti bahuku, menimbulkan debaran dan deru nafas yang begitu menyakitkan, tak seperti debaran dan deru nafas ketika dia memelukku tadi. Sama-sama cepat dan tak beraturan, tapi kali ini benar-benar membuatku ingin meledak.

 

“Aku menemanimu beraksi, Jae.” Ucapnya lagi sambil mempererat pelukannya.“Kau tahu, aku begitu ketakutan setiap kali kau akan beraksi.” Ucapnya berat diikuti hembusan resah nafasnya.

 

Saat ia berkata seperti itu entah mengapa rasanya aku ikut merasakan ketakutan dan kegelisahannya. Tubuhku bergetar halus, mataku terpejam dan kugigit bibir bawahku berusaha menutupi rasa takutku ini sedalam-dalamnya.

 

Aku amat sangat mencintainya. Namun, sebesar apapun rasa cintaku padanya, aku yakin bahwa rasa cintanya padaku akan jauh lebih besar lagi dibanding apa yang bisa aku kira.

 

Aku tahu itu..

 

“Yunho~ah..” ucapku sambil mengulurkan tanganku ke belakang membelai rambutnya sekenaku, menjambaknya ringan dan sedikit mengusap-usapnya, “Saranghae..”

 

Aku juga takut Yun..

Sangat..

 

Aku jauh, jauh lebih takut menghadapi pertarungan ini dibanding sebelum-sebelumnya.

 

Aku takut bukan karena dia adalah lawan yang pantas ditakuti seperti layaknya mafia-mafia yang biasa kuhadapi. Melainkan aku takut menghadapinya, karena dia adalah seseorang yang membuatku bersedih berkepanjangan, ia telah merebut kedua orang tuaku dari sisiku.

 

Hari-hari mudaku hanya diisi dengan tangisan dan kekelaman sejak kedua orang tuaku meninggal. Jaejoong muda yang mengisi sebagian besar hidupnya tanpa kasih sayang kedua orang yang harusnya dirasakan oleh anak-anak seumurannya saat itu, Jaejoong muda yang selalu merasa sedih dan tersisih karena selalu di ejek teman-teman dengan kondisinya yang yatim piatu, Jaejoong muda yang sejak kecil hanya ditemani oleh halmoninya yang sibuk dengan bisnis keluarga mereka. Jaejoong muda yang harus mulai mengambil alih bisnis keluarga mereka di usia yang begitu belia, ketika Sang Halmoni sedikit demi sedikit mulai berkurang kesehatannya.

 

Ya, itulah aku, Kim Jaejoong.

 

Kuhembuskan nafas panjang berusaha melepas semua kegelisahan yang terus menyesakan dada ini.

 

“Saranghaeyo, Jae.. Jangan khawatir.. Aku akan melindungimu..” ucapnya kembali padaku.

 

Justru itu..

Justru karena kau ingin melindungiku, Yun, aku menjadi lebih takut lagi.

 

Aku begitu mencintaimu. Aku takut, dia akan merebut kau dari sisiku seperti dia merebut orang tuaku dari sisiku. Aku takut kehilangan orang yang kucintai untuk kedua kalinya.

Aku takut kehilangan dirimu, Jung Yunho.

 

“Aku takut, Yun..” ucapku lirih.”Aku tt..ta..takut.. ka..kkalau…” ucapku terbata-bata.

 

Dengan cepat dibaliknya tubuhku dan ditenggelamkannya aku lebih dalam lagi dalam pelukannya,”Ssssssttt… Semua akan baik-baik saja, Jae…”

 

Air mata menetes perlahan dari pelupuk mataku menyusuri pipiku dan menitik lembut jatuh tepat di bahunya. Aku terisak dalam pelukannya, berusaha aku membiarkan tubuhku seutuhnya tenggelam dalam pelukannya. Namun rasanya sia-sia saja, semakin aku berusaha menenangkan batinku yang kalut ini, semakin besar rasa takut yang timbul.

 

“Yun.. Aku takut.. Aku takut kehilanganmu. Kau terlalu berharga untukku. Tapi aku juga tak berani melakukan ini semua sendiri. Entah mengapa nyaliku begitu ciut kali ini.” Ucapku ditengah isakanku.

 

“Aku tahu, Jae. Pasti ada ketrauman tersendiri di hatimu ketika harus menghadapi, pembunuh kedua orang tuamu. Justru karena itulah aku akan selalu berada di sisimu. Aku sungguh merasa khawatir dengan kesiapan hatimu menghadapinya. Kumohon ijinkan aku menjadi pelindungmu, Kim Jaejoong..” ucapnya sambil merenggangkan pelukan kami.

 

Kini di tatapnya mataku tajam-tajam dengan begitu hangatnya. Sekilas terlihat mata elang yang terkena sinar rembulan dari luar sana, membuatnya semakin terlihat tampan. Aku masih saja terpesona dengan ketampanannya, bahkan telah kesekian kalinya aku menatap wajahnya seperti ini.

 

“Aku akan baik-baik saja, dan kau akan baik-baik saja. Asal kita selalu bersama. Kau percaya padaku, kan?” Tanyanya sambil menyeka air mataku lembut.

 

Kupandangi mata legamnya lekat. Begitu mendalam dan menghanyutkan.

 

“Jae..” Desahnya di dekat wajahku.

“Okay?” Tanyanya lagi.

 

Aku mengangguk pelan, “Baiklah..” Ucapku setengah berbisik lesu sambil menundukan kepala tak sanggup menerima kenyataan aku telah mengijinkannya dalam kondisi bahaya.

 

Namun kurasakan tangan hangatnya meraih daguku, mengangkat wajahku agar kembali menatap wajahnya. Begitu perlahan dan mendebarkan, bibirnya menyentuh bibirku lembut, namun tak langsung dikecupnya. Beberapa kali digesek-gesek bibir penuhnya itu di atas bibirku, hingga membuatku bulu romaku kembali berdiri dengan sendirinya. Hidung kamipun saling bergesekan ringan, terkesan lembut namun terasa intim.

 

Lalu dikecupnya bibirku dalam. Ditekan dan dilumatnya sedikit demi sedikit, layaknya menikmati es krim yang begitu manis. Dieratkannya cengkeramannya di rahangku. Semakin dirapatkannya tubuhku dengan tubuhnya.

 

Ahh..

 

Sesuatu yang keras menyentuh milikku di bawah sana. Begitu menekan dan mengganjal. Terkejut aku ketika menyadari, begitu cepatnya ia terangsang walau baru kami baru sekedar berciuman. Sambil diintenskan kecupan dan lumatannya dibibirku, mampu kurasa ia mulai menggesek-gesekan miliknya pada milikku.

 

Rasa hangat menyalur dalam hatiku. Beserta aliran listrik yang dia salurkan di bawah sana. Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, aku sudah benar-benar larut dalam permainannya.

 

Tangan hangatnya perlahan menyibakan kaos yang kupakai, mencari-cari apa yang bisa dicari. Hingga terjamahlah area sensitifku di area dada.

 

Ssssshhhhh…

 

Aku mendesis..

 

Perlahan ciumannya turun ke leherku. Kumiringkan sedikit kepalaku memberi keleluasaan padanya untuk bermain-main disana, sambil terus tangan hangatnya menggesek dan menekan di dadaku.

 

Kenapa dia begitu tahu cara memanjakan tubuhku?

 

Mataku terpejam menikmatinya.

 

“Yunho~ahh…”

 

 

 

Sepertinya tangannya mulai mencari mangsa lain. Dirabanya tubuhku turun ke perutku secara perlahan dan sangat perlahan, hingga ke batas celana yang kupakai. Dengan lembut dibukanya resleting celanaku dan tanpa melepaskannya, menyusuplah tangan indahnya ke balik celana dalamku.

 

“Ahhhhh~~~~”

 

Aku mendesah.

 

Dimain-mainkannya milikku dengan intensnya.

Aliran darahku mengalir cepat seiring dengan detak jantungku yang kian cepat dan deru nafas yang menggebu.

 

Aku menggeliat-geliat frustasi.

 

“Ahh~”

“Ahh~”

“Ahh~”

 

 

 

 

“Yunho~ahh~”

 

“Yunho~”

 

“Yunho~”

 

“Yun…hmmmpphhhh…”

 

Dibungkamnya bibirku dengan bibirnya.

 

Dilumatnya habis bibirku, dijulurkannya lidah menyapu seluruh rongga mulutku. Kubalas ciuamannya ikut menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terjadilah peperangan lidah di antara kami berdua.

 

Kami bertukar ludah, bertukar cinta.

Terus melumat dan menjalin kasih.

 

Yang lain terasa abu-abu di otakku. Yang mampu kupikirkan saat ini hanya aku, Yunho dan kenikmatan ini.

 

Serta…

 

 

 

Aku nyaris teriak kesal saat ia menghentikan tangannya menjamah milikku.

 

“Ada apa?” tanyaku sedih.

“Aku tak ingin membuatmu kalah sebelum bertarung..” ucapnya sambil menahan tawa.

“Kalah??” tanyaku sambil memicingkan mataku.

 

Dia bilang ‘Kalah’??

‘Kalah’ tak ada dalam kamus seorang Vicious Jonquil.

Mana mungkin seorang Vicious Jonquil kalah??

Huhh..

 

Kuraih kaos yang kukenakan, kubuka dengan sangat perlahan dan sedikit menggerak-gerakan tubuhku secara sensual. Kulihat ekspresinya berubah bodoh. Tak menyangka seorang Jung Yunho bisa menunjukan ekspresi sedemikian bodohnya. For God’s sake.. Jung Yunho! Aku tertawa di dalam hati.

 

Setelah kaos berhasil lolos dari kedua lenganku, perlahan kuraih celanaku yang sudah dibuka resletingnya oleh Yunho. Kutarik sedikit kebawah celanaku dan berbalik sedikit kesamping hingga aku bisa memamerkan pantatku yang masih terbungkus celana dalamku dan sedikit tertutupi celana pendekku. Kugoyang-goyangkan pantatku tepat di hadapannya, ke kanan dan ke kiri… Begitu perlahan… Seksi… dan…

 

 

 

 

PLUK!

 

Jatuh sudah celana pendekku ke lantai..

Yang tersisa tinggal celana dalam ku yang bewarna hitam namun bergambar hello kitty.

 

Yunho terlihat gelisah, beberapa kali kulihat dia menelan ludahnya..

 

“Kenapa Jung Yunho? Kau takut kalah?” ucapku sedikit mendesah.

 

OMFG!! kenapa aku begitu b*tchy malam ini??

Hahaha..

Tapi tak apa..

Akan aku tunjukan padanya bahwa Kim Jaejoong tak akan pernah kalah dari siapapun juga!

 

“Jae..” baru sepenggal kata ia berucap..

 

“Ssstttt…” kuacungkan jari telunjukku di depan bibirku yang sedikit aku poutkan, “Kau tak boleh berbicara atau bersuara, kalau kau melakukannya, kau kalah..” ucapku sambil perlahan berjalan ke arah CD-player di dekatku hanya dengan mengenakan celana dalam yang menempel di tubuhku dan kemudian menyalakan CD-player itu.

 

Sebuah lagu pun mulai mengalun..

Aku lupa judulnya. Tapi yang pasti lagu ini begitu… hmmm… apa ya menyebutnya?

Ahh iya!

 

‘Menggairahkan’

 

Hahaha, aku suka istilah itu..

 

Kudekati kembali Yunho yang masih mematung di sana dengan ekspresi bodohnya. Ingin rasanya menampar wajahnya. Tapi dengan bibirku..

 

Aku kembali menahan tawaku sambil berjalan mendekatinya sembari sedikit melenggak lenggokan tubuhku mengikuti alunan lagu.

 

Kini kuberdiri di depannya, kuletakkan tangan kananku di bahu kirinya dan kelemparkan senyuman mautku padanya.

 

1..

2..

3..

 

Dia menapak selangkah ke belakang.

 

Aku tertawa bersorak-sorak di dalam hati.

 

Mulai kugoyang-goyangkan pantatku perlahan dengan gerakan dari atas kebawah. Kutatap setiap reaksinya dari balik bulu mataku. Begitu kuulangi selama beberapa kali dan kini kubalikkan tubuhkku membelakanginya. Aku masih bergoyang kecil sambil sedikt demi sedikit melangkah ke belakang mendekati tubuhnya dengan tangan kiriku memegangi bahu kirinya dan tangan kananku bermain di pahanya, naik dan turun.

 

Jantungku seakan sedikit melompat keluar ketika ku berhasil menghilangkan jarak tubuh belakangku dengan tubuh depannya.

 

Keras!

 

Mengganjal!

 

Padat!

 

dan..

 

Hangat…

 

Pikiranku langsung melayangkan, membayangkan betapa panjang dan besar dan hangatnya milikkanya itu. Dan..

 

Ahh..

 

Terbayang rasa ngilu yang akan kurasakan ketika miliknya memasuki lubangku.

Kakiku sedikit bergetar dibuatnya.

 

Tapi aku harus… harus mengalahkannya.. harus!

 

Kugoyang-goyangkan pantatku menyentuh miliknya. Setiap goyangan yang kubuat dan setiap kali miliknya yang masih terbungkus celana lengkap menyentuh pantatku yang masih terbalut sehelai kain segetiga ini, jantungku seperti akan keluar lagi.

 

Aku menggigit bibir bawahku sendiri. Namun tak kuijinkan dia melihat ekspresiku ini. Aku tak mau mendengar ejekan darinya ketika ia melihat aku berusaha mati-matian menutupi perasaan ini.

 

Kembali kugoyangkan tubuhku dengan gerakan dari atas ke bawah selama beberapa saat hingga tiba-tiba kudengar Yunho sedikit mendesah di telingaku.

 

Mana ada yang tahan dengan serangan macam ini?

 

Perlahan aku mulai bergerak, mengelilinginya dengan terus menggoyangkan tubuhku dan mulai menjamahinya tubuhnya lebih jauh lagi. Kusentuh semua yang bisa kusentuh dengan telapak tanganku. Mengelilinya selama beberapa kali dan berhenti tepat di depannya.

 

Kembali kulemparkan senyuman mautku.

Tubuh Yunho sedikit bergetar..

 

Aku suka mempermainkannya seperti ini, seperti pertama kali aku bertemu dirinya..

 

Masih dengan menjaga eye-contact dengannya, kini kubuka jas yang masih ia kenakan secara perlahan dan kemudian melemparnya. Lalu kubuka dasinya dan kutarik kepalanya mendekat kearah wajahku, mata elangnya menatap tajam mataku, kugesekan sedikit hidung kami berdua dan nyaris kukecup bibirnya. Namun… kudorong tubuhnya menjauh. Ekspresi kecewa membayangi wajahnya. Aku bertepuk tangan bahagia di dalam hati melihatnya.

 

Kembali fokus aku pada misi meluluh-lantakan pertahanannya. Kubuka kancing bajunya satu persatu hingga terlepas seluruhnya dan memperlihatkan dada bidangnya yang selalu terlihat seksi dengan warna tannednya itu. Mungkin dada bidangnya tak seseksi saat aku pertama bertemu dengannya, tapi dengan dada dan perutnya saat ini sudah sangat seksi di mataku.

 

Kuloloskan kemejanya kebelakang dan kini yang perlu kulakukan adalah melepaskan celananya. Aku mulai berjongkok di hadapannya. Membuka sabuknya tanpa menariknya lepas, membuka kancing celananya dan menarik resletingnya dengan sangat hati-hati seakan-akan takut sesuatu yang ada di baliknya akan melompat keluar.

 

Kuturunkan celananya sedikit kebawah tak sampai terlepas, sudah terlalu penasaran aku pada apa yang sedari tadi aku cari, yang sedari tadi menjadi tujuan utama misiku malam ini, yang sedari tadi membuatku sangat-sangat-sangat gelisah, yaitu… Miliknya! Miliknya yang masih terbalut kain segitiga itu..

 

Gulp!

 

Kali ini aku yang menelan ludahku. Melihat gundukan miliknya.

Tanganku bergetar ketika harus membuka kain segitiga itu. Berat sekali rasanya menggerakan kedua tangan ini untuk bergerak. Perasaan ngilu itu muncul melihat gundukan yang tepat ada di depan mataku ini. Namun aku harus membukanya.. harus.. harus.. harus!!

 

Dan..

 

 

 

Gulp!!

Kutelan ludahku lagi dan lagi..

Aku tercekat setengah terpesona melihat miliknya yang begitu indah dan manly itu. Lekak lekuk dan urat-urat yang menonjol benar-benar memperkokoh keindahannya.

 

Kugenggam dengan berbinar-binar miliknya seakan seorang anak kecil yang diberi mainan baru. Kubelai miliknya dalam genggamanku, naik dan turun, kuraba seluruhnya. Kukecup dengan lembut ujung miliknya.

 

Kakinya sedikit bergetar.

 

Nyaris!!

 

Sebentar lagi aku pasti akan membuatnya bersuara..

 

,,,

 

Kukecup kembali ujung miliknya dengan sedikit menjulurkan lidahku menyapu seluruh permukaannya.

 

Tangannya menggenggam erat di samping tubuhnya.

 

Perlahan kumasukan miliknya ke dalam mulutku, sedikit demi sedikit, hingga ujungnya menyentuh kerongkonganku dan membuatku nyaris muntah. Dan..

 

Damn!

 

Aku sudah nyaris muntah seperti ini, baru setengah miliknya yang bisa masuk??!

 

Panjang sekali..

 

Berkali-kali aku berhubungan dengannya, namun sampai detik ini aku masih saja selalu terkejut dengan miliknya kenapa bisa begitu menganggumkan panjangnya. Kutarik mulutku kebelakang dan kumasukan lagi dengan selaras menaik-turunkan genggam tanganku pada bagian miliknya yang tak sanggup masuk dalam mulutku.

 

Sejenak kulirik ke arah wajahnya masih terus bermain-main di bawah sini.

 

Matanya terpejam!!

Iya terpejam!!

 

Dan di terlihat diaaaa… sangat menikmatinya!

 

Sulit sekali menggambar ekspresi wajahnya saat ini.

Mmmm.. Bagaimana ya?? Mmmm… ya seperti ekspresi orang yang sedang menikmati kuluman seorang Kim Jaejoong… Bayangkan sendiri!

Hahaha..

 

Kupercepat sedikit apa tengah kulakukan, perlahan tangannya yang semula mengepal kuat di sebelah tubuhnya mulai meraih rambutku. Dijambak dan diremas-remasnya sedikit rambutku.

 

Sebentar lagi.. Sebentar lagi..

Dia akan bersuara dan dia akan kalah..

 

Sedikit demi sedikit kupercepat permainanku, dan terasa tangannya mulai menarik kepalaku agar lebih memasukkan miliknya di mulutku.

 

Sepertinya dia sudah benar-benar mabuk karenaku.

Tapi kenapa ia sama sekali tak bersuara juga???

 

Aku berniat untuk lebih mempercepat permainanku, namun..

 

Uhuk!

 

Uhuk!

 

Hoek..hoek..hoek..

 

 

Hyaaa… Jung Yunho mendorong kepalaku untuk membuat miliknya masuk lebih dalam…

 

Aku nyaris tersedak dan ingin muntah ketika miliknya menyentuh tenggorokanku.

Dia mau main kasar!

 

Kupukul-pukul pahanya ketika kurasa sulit sekali untuk bernafas.

Dengan cepat ia menarik kepalaku menjauh dari miliknya.

 

Air mata menetes dari ujung mataku. Akupun berusaha bangkit dan dia berusaha membantu bangkit. Namun, kutepis kedua tangannya dengan keras. Kubalik tubuhku memunggunginya.

 

“Kau jahat!” ucapku jengkel.

 

Dipeluknya tubuhku dari belakang. Aku merasakan kehangatan dari pelukannya, namun aku begitu jengkel dengan apa yang dia lakukan barusan.

 

Kulepaskan pelukannya sambil setengah berteriak, “Kau ingin membunuhku ha?”.

 

Aku terisak..

 

“Ssssttt.. Jaejoongie.. Mianhae.. Aku tak bermaksud … ” ucapnya sebelum akhirnya kupotong, “Bermaksud membunuhku???”

 

“Mana mungkin aku membunuhmu? Aku mencintaimu. Tubuhmu benar-benar membuatku gila.” Ucap Yunho sambil mengecup bahuku dan membelai lenganku lembut.

 

“Kau hanya  mencintai tubuhku, bukan aku.” Ucapku marah.

 

“Bagaimana aku bisa mencintaimu kalau aku tak mencintai tubuhmu juga. Aku tak naif, memang tubuhmu yang pertama membuatku jatuh cinta.” Ucapnya sambil mengecupi leher dan bahuku, “Namun apalah artinya, jika akhirnya aku mencintaimu seutuhnya. Banyak jalan menuju Roma, Jae.”

 

“Tapi…” belum selesai aku bicara, “Sebaliknya kau juga mencintai tubuhku kan?” ucapnya sambil ahhh… menggesek-gesek miliknya di belakang sana.

 

Tubuhku bergetar.

 

Miliknya benar-benar sudah tegang, dan mencoba menerobos masuk ke persemayamannya, membuatku yang semula kehilangan moodku, kembali naik.

 

“Jangan menggodaku Jung Yunho, aku sedang marah..” ucapku mempoutkan bibirku menutupi gelora yang sedang kurasakan.

 

“Kau tak kasihan padaku ha? Little Yunho begitu menderita saat ini..” ucapnya berbisik di telingaku dan membelai pinggangku membuatku merinding.

 

“Itu salahm…..mmmpphhh…” tiba-tiba dia sudah membalikan tubuhku dan membungkam mulutku dengan bibirnya.

 

Aku terdiam tak melawan, tangannya melingkar kuat di pinggulku, membuat milik kami berdua saling bergesekan. Tanganku mengepal keduanya tepat di depan dadanya.

 

Ciuman itu hanya sekilas namun membuatku benar-benar berdebar-debar.

Ditariknya bibirnya menjauh dan di tatapnya mataku lembut dan hangat.

 

“Jae, maafkan aku.” Ucapnya yang begitu membuatku leleh.

 

Aku berkedip terpesona menatap wajahnya. Ya Tuhan, tampan sekali makhluk ini..

 

“Jae..” ucapnya lagi sambil membelai pipiku perlahan.

“Baiklah..” ucapku singkat dengan memasang poutku kembali.

“Senyum kalau begitu..” ucapnya padaku, “Ayo senyum..” tangannya mulai menggelitiki pinggangku, “Ayo senyum.. senyum..”

 

“Haha.. okay.. okay.. Aku senyum. Puas?” ucapku sambil memamerkan senyum termanisku untuk pria tampan di depanku ini.

 

Dia membalas senyumanku dengan senyuman yang mematikan itu. Dengan perlahan didekatkannya kembali wajahnya ke wajahku hingga nyaris tak berbatas dan…

 

“Kau kalah Jung Yunho!” ucapku sambil menarik kepalaku ke belakang.

“Huh?” tanyanya tak mengerti.

“Aku bilang kalau kau bersuara, kau kalah! Kau lupa dengan aturan tadi ha? Benarkan kau tak akan menang melawanku..” ucapku bangga.

“Kau curang!” ucapnya tak terima.

“Curang bagaimana? Tak ada aturan lain yang mengatur bagaimana cara untuk membuatmu bersuara. Asal kau bersuara, kau kalah!” ucapku kembali mempoutkan bibirku.

“Aisshh.. Bibirmu jangan begitu, membuat Little Yunnie makin menderita.” Ucapnya sambil terdiam sesaat seakan sedang berpikir, “Mmmm.. Baiklah aku kalah! Kau menang.. Lalu hadiah apa yang kau inginkan?”

 

 

Aku berpikir dan..

 

 

 

Kemudian tersenyum dengan ide yang muncul di otakku. Aku berbisik di telinganya dan … “Hah?? Kau yakin??” tanyanya sedikit terkejut.

 

Aku mengangguk dengan wajah bersemu merah.

 

“As your wish my Queen..”

 

 

 

 

“Ahh.. Yunho..  Ahh..” aku mendesah frustasi.

 

Setiap kali ia mengenainya benar-benar membuatku melayang. Namun sensasi yang kurasakan beda dengan yang bisa yang kau bayangkan. Benar-benar beda.. Luar biasa beda.. Kau tahu kami melakukan ini semua dimana?

 

 

 

 

Angin semilir menyentuh perutku, mataku menatap lampu-lampu dari kendaraan yang mengular di kejauhan sana, lampu-lampu berkerlap-kerlip dari bangunan-bangunan dan rumah-rumah yang terhampar di bawah sana seperti hamparan biji-biji emas yang disebar berserakan.

 

Ya..

 

Kami melakukannya di balkon apartemen kami yang berada di tingkat 86.

 

Antara nikmat, dingin tegang karena ketinggian, dan takut terlihat orang lain.

 

Tapi aku tak seceroboh itu sampai terlihat orang lain. Aku sudah mengamati sekitar gedung apartemen ini. Tak ada gedung yang setinggi gedung apartemen mewah ini di dekat sini. Ada memang gedung tinggi beberapa blok dari apartemen kami, namun tingkatnya tak sampai tingkat 60, perkiraanku hanya sampai tingkat 50 awal. Cukup kecil kalau ada orang yang tak sengaja melihat ke arah kami. Apalagi orang-orang dari jalanan di bawah sana. Tak ada yang bisa melihat aksi gila kami secara jelas. Kecuali kamar-kamar apartemen yang ada di atas atau bawah kami, karena satu lantai hanya ada satu kamar apartemen. Tapi bagaimanapun juga jika ada orang iseng menggunakan teropong dan mengintip kami dari gedung 50 lantai itu, tetap saja akan terlihat jelas apa yang kami lakukan. Ahh.. tapi biar saja..

 

Tubuh indahku, tubuh indah Yunho dan permainan luar biasa kami adalah suatu seni yang bernilai estetika tinggi.

 

Jadi biarkan saja kalau ada orang iseng yang menonton kami.

 

 

“Yunho~ahh..” Kugenggam erat pagar balkon yang membatasi balkon ini dengan langit bebas.

 

“Yunho~ahh..” dia terus mencapai titik itu lagi dan lagi.

 

“Ahhh…” tangan kanannya terus bermain-main dengan milikku.

 

“Ahhhhh…”  semua ini benar-benar membuatku melayang tinggi di antara bintang-bintang dan rembulan.

 

“Jung..”

 

“Yun..”

 

“Ho..”

 

“AHHHHHH!!!” kami memekik bersamaan. Ketika gelap menjadi putih, ketika semua begitu menjadi begitu blur, tubuhku begitu lemah dan tak peduli aku jika aku jatuh ke depan, karena begitu nikmatnya apa yang telah ia berikan padaku malam ini.

 

Saat tubuhku mulai terhuyung-huyung ke depan dan tanganku terlalu lelah untuk menahan, kurasakan sebuah tangan yang hangat dan jantan, meraih tubuhku, menarikku ke belakang ke dalam pelukannya. Dibalikkannya tubuhku hingga kini kubenamkan wajahku pada dadanya yang terasa begitu nyaman. Dipeluknya erat tubuh telanjangku. Hangat, hangat, hangat dan nyaman. Itu yang sanggup kurasakan saat ini.

 

Perlahan kami berangsur-angsur duduk di lantai yang sudah beralas selimut tebal. Diraihnya selimut yang lain dan dibalutkannya pada tubuh kami berdua.

 

Aku masih enggan meninggalkan dada nyamannya ini.

 

“Jaejoongie..” ucapnya menyebut namaku.

“Hmm..” jawabku masih dengan mata terpejam.

 

“Saranghae..” ucapnya yang terdengar begitu tulus itu. Ini bukan pertama kalinya dia mengucapkan kata itu. Namun mengapa selalu terasa romantis setiap ia mengatakannya??

 

Kubuka perlahan mataku, kutatap wajahnya yang tengah menatap wajahku dalam.

 

“Saranghae..” jawabku sambil tersenyum lembut padanya.

Ia membalas senyumanku. Dikecupnya dahiku dan dipereratnya pelukan kami.

 

 

Aku begitu merasa nyaman dan aman di sisimu Jung Yunho.

Aku harap saat hari itu tiba, kau bisa berada disisiku dan menjadi pelindungku.

 

Pikiranku tiba-tiba jauh melayang pada hari pembalasan dendamku yang tak lama lagi ini.

 

Mataku menarawang jauh menembus malam.

 

Ya, dia harus mati.. Dia harus mati.

 

Choi Seungwon, kau harus mati!

Ditanganku!

 

TBC

Happy 28th Bday Yunho appa..
Always handsome, healthy, success & happy. Jaejoong umma and us always love you appa..
Happy YunjaeDay appa & umma..
Your Love is everlasting. We always believe, love, RESPECT & support you.♥

Jeongmal khamsahamnida reader udah baca Vicious Jonquil dan udah leave commentnya..

Nayolohhh ada yang kebelet pipis baca chapter ini.. Hohoho.. Mianhae aku udah meracuni kalian dengan FF FULLLLL NC..

Special FF NC hadiah buat Yunjae & reader semua.. Hehe

Don’t forget follow @Fanficyunjae for the newest info,pic,etc about Yunjae & DB5K..
Follow twitterku juga bole lhoo @beth91191 /kabur lagii/

Sekian & Jeongmal khamsahamnida
Yunjae is Real!♥
Yunjae jjang!^^

@beth91191

5 thoughts on “Vicious Jonquil 4 – The Last War-Part 2/4

  1. Kira2 da nƍɑ iaaa yg ngerekam NC an yunjae ∂ȉ balkon ( ° ┌┐ °|||) ….mw liattttt (⌒˛⌒)
    Saengil chukkae Appa Bear :pHïhih:ï::ph:i:pHïhihï:::p.
    Sarangeeeee (⌒˛⌒) (⌒˛⌒) (⌒˛⌒)

  2. benar2 kado yg indah pdhl yunho yg ultah tp yjs merasa senang krn dimana mana author yunjae lg serentak ngerilis ffny tak terkecuali author fav Beth eonni
    jeongmal gomawoyo ini kado indah bgt ngga sia2 penantianku slama ini
    well keep writing n ditunggu karya selanjutny

  3. huahhhh umma astaga centilnya
    jlas aja yunppa bersuara , mna ada seme yg bsa tahan klo digoda uke mcam umma
    apa lgi seme’nya pervert akut
    ENCE-an di balkon,
    mau lah ikut ngintip msti hot’ny pke bngt

  4. Encenya romantis serta lucu. Lagi tegang deg degan bacanya eeee tiba tiba nongol celana dalam hitam gambar hello kity…meong langsung ngakak…btw keseluruhan ceritanya keren. Thor apa mungkin yunho anaknya Choi Seungwon?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s