TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 1


chapter 1 – Are we a twins?
created by Amee
.
warning : Mpreg di sini hanya berlaku untuk Jejung.
.
.
Sekali lagi sebelum memutuskan untuk menyalakan kompor, Jaejoong menarik nafas dalam-dalam. Memikirkan keputusannya untuk kembali pindah ke korea, apakah hal yang tepat atau tidak.

“Semuanya akan baik-baik saja,” Jaejoong kembali menghela nafas.

Jaejoong mulai menyalakan kompor, membuat sebuah omelet keju sehingga bau harum mulai merebak di seluruh ruangan, lantas menyiapkan segelas susu stoberi. Diletakannya kedua jenis makanan itu di atas meja. Tepat ketika Jaejoong membuka apronnya, Yoogeun baru saja keluar dari dalam kamarnya. Dahinya sedikit berkerut karena kesal sambil menarik-narik mantelnya yang terlipat di bagian belakang, sehingga terasa tidak nyaman.

“Eomma,” panggil Yoogeun.

Jaejoong tertawa, lantas dihampiri putranya, membantu merapikan pakaiannya. Laki-laki cantik itu tersenyum, lantas mengelus kepala Yoogeun dengan lembut.

“Lebih baik sarapan dulu, Yoogeunie. Umma baru saja membuat omelet,” kata Jaejoong.

Yoogeun mengangguk, lantas duduk menghadap meja makan. Pemuda berusia sebelas tahun itu menghela nafas dalam, seolah dalam pikirannya berkecamuk berbagai pikiran. “Seperti apa sekolah baruku, Eomma? Kenapa kita tidak pindah setelah aku lulus sekolah dasar saja?” tanya Yoogeun sambil menancapkan garpu pada omeletnya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah selama ini kau sangat mudah bergaul dan selalu menjadi incaran para gadis?” Jaejoong mencolek pipi Yoogeun lantas menyeringai.

“Ya, dijadikan incaran para gadis, dan setelah mereka berhasil mendekatiku dan berfoto bersama mereka akan menangis, karena melihat hasil foto yang memperlihatkan bahwa aku lebih cantik dari mereka,” Yoogeun menghela nafas. “Eomma, tidakkah kau pikir bahwa aku ini sangat tampan?”

Jaejoong mengangguk mantap. “Ya kau sangat tampan sehingga kau terlihat cantik,”

“Kau sama sekali tidak membelaku,” Yoogeun mendelik sebal, sementara Jaejoong tertawa dengan keras.

“Ya… tidak perlu marah seperti itu, aku hanya bercanda. Ayo cepat habiskan sarapanmu, setelah itu aku akan mengantarmu ke sekolah.”

“Ne, Eomma,”

“Ah, dan selain dirumah kau harus memanggilku, Appa. Kau mengerti sayang? Aku hanya tidak ingin membuatmu malu,”

Yoogeun mengangguk lantas melahap omeletnya dalam satu suapan besar hingga pipinya menggembung. Jaejoong tertawa, lantas beranjak ke kamarnya untuk mengambil sebuah mantel. Cuaca musim dingin benar benar kurang bersahabat.

ooo

Pelataran Toho Elementary Schhol tampak cukup padat mengingat pagi ini sangat dingin. Bicah-bocah dalam balutan mantel aneka warna mulai memasuki sekolah. Pun dengan Jaejoong yang baru saja memarkirkan mobilnya tepat di samping gerbang sekolah. Ditatapnya Yoogeun dengan pandangan intens.

“Kau pasti bisa, semoga hari pertamamu menyenangkan, sayang,” Jarjoong mengecup kening putranya.

“Sampai jumpa, Ap..pa,” Yoogeun merasa kelu saat mengucapkannya sehingga yang terdengar adalah bunyi seperti cicitan.

Jaejoong tersenyum lantas menatap putranya. Bukankah wajah itu adalah paduan yang sempurna, sangat indah. “Tidak ada yang tertinggal?” tanya Jaejoong sekali lagi.

Yoogeun menggeleng, lantas membuka pintu dan masuk ke pelataran sekolah. Jaejoong mengamati putranya hingga sudut matanya kehilangan jejak, lantas memarkirkan mobilnya untuk kembali.

Bukankah pagi ini sangat cerah?
Bukankah seharusnya ini menjadi pagi yang berkualitas dan membawa bahagia.
Bukankah kaki ini adalah penopang.
Lihatlah jaring seperti apa yang akan dilempar sang takdir.

Yoogeun baru saja berkalan sejauh dua meter dari gerbang ketika seorang anak dengan seoeda melintas di depannya, hingga Yoogeun terpaksa menghentikan langkahnya saking terkejut. Diikutinya sepeda itu, sang pengemudi sepeda dengan mantel biru tuanya bahkan tidak menoleh untuk sekadar meminta maaf.

Yoogeun mempercepat langkahnya, mengangkat wajahnya agak ke atas sehingga menampilkan sisi yang arogan. Langkahnya dipercepat, mengingat ia harus bertemu dengan kepala sekolah sebelum masuk ke kelas barunya.

“Astaga, seharusnya aku bertanya pada petugas di depan tadi,” Yoogeun merutuki diri sendiri, ia bahkan belum menemukan dimana kantor kepala sekolah.

Yoogueun menepuk jidatnya kemudian kembali melangkah, berkali-kali ia mendongak sekadar untuk membaca papan petunjuk yang terpasang di atas pintu. Sekali lagi, ketika ia mendongak, seseorang menabrak tubuh bagian depannya hingga keduanya terjatuh.

Yoogeun mengelus ngelus tulang ekornya yang terasa berdenyut sambil sesekali meringis. Ia masih menunduk ketika merasakan ada pergerakan dari sang tersangka yang pada kejadian ini sama sama terjatuh dan harus bersentuhan dengan dinginnya lantai marmer.

“Kau tidak apa-apa? Aku minta maaf.” sosok itu mengulurkan tangannya.

Yoogeun mengangkat wajahnya perlahan hingga keduanya saling bertatapan. Pada beberpa detik pertama yang mengejutkan, keduanya terjebak dalam kebisuan yang pekat.

“Siapa kau?” pekik keduanya bersamaan.

Yoogeun mengeryitkan dahinya ketika menatap sosok di hadapannya, pun dengan sosok lainnya, ia memikirkan hal yang sama. Bukankah kebetulan itu sebenarnya tak pernah ada? Manusia hanya memainkan peran dari setiap skenario yang dilempar sang takdir.

“Kim Yoogeun imnida,”

“Yoonjoong, Jung Yoonjoong. Kau anak baru?” tanya Yoonjong sambil menatap Yoogeun dengan pandangan menyelidik.

“Ya, aku baru saja ditransfer hari ini. Bisa kau tunjukan padaku dimana letak ruang kepala sekolah? Aku belum menemukannya sejak tadi,” jawab Yoogeun.

“Aku bisa mengantarmu, ikuti aku,”

Yoogeun mengangguk lantas mengikuti Yoonjoong yang telah berjalan mendahuluinya. Ia berusaha mensejajari langkahnya, namun tetap tertinggal. Ditundukan kepalanya sekadar untuk melihat kakinya. Apa kakiku terlalu pendek hingga tak bisa berjalan cepat? pikir Yoogeun.

“Saat berbelok di koridor nanti, bersiaplah untuk menutup telinga, akan sangat berisik,” ujar Yoonjoong.

“Apa?” tanya Yoogeun cepat, namun yang ditanya tidak menoleh dan tetap melanjutkan langkahnya.

Keduanya berbelok ke kanan, melewati deretan panjang kelas tiga dan kelas empat. Tampak gadus gadis kecil telah mengantri di depan kelas, semacam para dayang yang hendak menyambut kehadiran rajanya.

“Yoonjoong oppa selamat pagi!!!” teriak gadis gadis itu bersamaan.

Yoonjoong yang telah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu hanya menghela nafas, sementara Yoogeun yang terkejut hampir saja kehilangan jantungnya. Ia mengangkat wajahnya perlahan, dan ketika wajahnya telah tegak, mendadak semua keributan menghilang seketika. Semua pandangan gadis gadis itu terpaku pada sosok baru di hadapan mereka. Menyadari hal itu, Yoonjoong menghentikan langkahnya, lantas turut berbalik untuk menatap Yoogeun.

“Kyaa.. siapa itu?”

“Dia harus menjadi suamiku.”

“Aku mau menjdi pengantin Yoonjoong oppa dan dia,”

“Mulai saat ini dia adalah adalah pacarku,”

Yoogeun menghela nafas dalam dalam saking frustasi. “Di sini? lagi?” ia menepuk jidatnya keras-keras. Ya Tuhan, selamatkan aku, pikir Yoogeun. Sementara Yoonjoong yang melihatnya justru tertawa dengan keras

Yoonjoong memberikan instruksi pada Yoogen dengan tangannya. “Cepat ikuti aku!” katanya lantas berlari.

Yoogeun segera turut mengejarnya, mereka berlari hingga ujung lorong kemudian berbelok kiri untuk menaiki tangga. Setelah teriakan-teriakan gila itu tak lagi terdengar, Yoonjong memperlambat langkahnya disusul oleh Yoogeun yang telah mensejajarinya.

“Sudah kukatakan sebelumnya untuk menutup telinga, di sana sangat berisik.” ujar Yoonjoong. “Dan tak kusangka kau cukup populer juga,” tambahnya.

“Aku memang selalu populer,” jawab Yoogeun.

“Mungkin hanya kebetulah karena wajahmu yang serupa denganku?” Yoonjoong menelan ludahnya sendiri. rasanya asing ketika menyadari bahwa dihadapanmu muncul makhluk yang serupa denganmu, bahkan tak pernah terpikir sebelumbya untuk memiliki seorang kembaran.

“Eh?” Yoogeun menatap Yoonjoong lantas keduanya tertawa bersamaan. “Mungkin ya mungkin juga tidak, atau mungkin kau terlalu mengidolakanku hingga kau ingin wajah sepertiku,” Yoogeun menyeringai.

Yoonjoong terhenyak, bahkan seringaiannya pun serupa dengannya. Diamatinya wajah itu, hanya mata yang berbeda, pemuda dihadapnnya memiliki mata besar sementara dirinya memiliki mata musang kecil seperti ayahnya.

“Ini sangat lucu,” Yoonjoong tertawa. “Jika aku boleh tau, siapa nama ayahmu? Setahuku, anak-anak bersekolah disini karena dulu orangtuanya juga bersekolah di sini, seperti putra keluarga Shim, keluarga Park, dan banyak lagi. Aku putra Jung Yunho,” ujar Yoonjoong mantap.

Yoogeun terdiam sejenak, siapa ayahnya? Ia bahkan tidak tahu. “Ayahku… Kim Jaejoong,” ujarnya pelan.

“Mungkin nanti kita bisa adakan acara makan antar keluarga, kita bisa membuat orangtua kita terkejut karena kemiripan kita,” kata Yoonjoong.

“Kau benar,” Yoogeun tertawa.

“Ah, kita sudah sampai, perlu kuantar ke dalam?” Yoonjoong menunjuk pintu masuk ruangan kepala sekolah dengan jempolnya, tak lupa dengan sebuah seringaian yang menghiasi bibirnya.

“Tidak perlu, terimakasih,”

“Kalau begitu aku tunggu di sini,”

“Baiklah,” gumam Yoogeun sambil membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.

ooo

Yoonjoong membuka pintu rumah dengan keras sehingga menimbulkan bunyi bedebam yang keras. Dileparkan sepatunya asal, lantas segera berlari menuju ruang keluarga, tak sabar untuk memberitahu orangtuanya mengenai pengalaman menarik hari ini.

“Eomma, Appa,” pekik Yoonjong lantas memeluk kedua orangtuanya bersamaan.

“Kau tampak senang sekali hari ini?” tanya Jessica.

Yoonjoong mengangguk cepat. “Tentu saja. Appa, hari ini aku bertemu dengan seseorang yang sangat mirip denganku,”

“Benarkah?” tanya Yunho.

“Ne, hanya saja matanya lebih besar daripada miliku?” jawab Yoonjoong.

“Mata yang besar? Seperti apa dia?” kali ini Jesicca yang bertanya, wajahnya menunjukan ketidaksukaan yang teramat.

“Ne, matanya besar, dia jadi terlihat tampan sekaligus cantik. Namanya Yoogeun,”

“Kau harus berhati-hati padanya,” Jesicca mengingatkan.

“Ya, kau harus berhati hati padanya, sepertinya dia akan populer sama sepertimu,” Yunho tertawa sambil mengelus kepala putranya.

“Dia memang sudah populer,hari pertama saja dia sudah mampu menarik perhatian para gadis,”

“Kau tersaingi?”

“Tentu saja tidak, aku senang bebagi kesialan dikejar para gadis itu dengannya,” jawab Yoonjoong. dan keduanya tertawa bersamaan, sementara di sisi lain Jesicca memandang dengan tatapan tidak suka.

ooo

Jaejoong tengah menyiapkan semangkuk salad buah untuk putranya, beruntung karena hari ini semua pekerjaannya telah terhandle dengan baik sehingga ia dapat pulang lebih awal. Sementara itu, yoogeun tampak tengah duduk menghadap meja makan sambil memainkan psp nya sambil sesekali mencuri-curi pandang pada Jaejoong.

Jaejoong meletakkan mangkuk saladnya di depan Yoogen.”Makan dulu,” katanya.

Yoogeun meletakkan pspnya, lantas mencolek mayonese dan menjilatnya. “Gomawo ne, Eomma,”

Jaejoong mengangguk. “Bagaimana sekolahmu?”

“Sangat menyenangkan, meskipun banyak para gadis yang menganggu, dan beberapa orang memanggilku cantik. Ah ya, aku bertemu dengan seseorang yang sangat mirip denganku, mirip sekali tapi matanya sangat tajam, dia juga sangat populer,”

Jaejoong membatu mendengrnya, mendadak saja sesuatu terasa berdenyut di dalam dadanya. “Siapa namanya?”

“Yoonjoong, Jung Yoonjong,”

Jaejoong merasakan debaran di dalam hatinya kian kencang, rasa sakir itu seolah mencekam, jika ini sebuah takdir yang menyakitkan semoga tuhan menggagalkannya. Ia hanya takut sehingga ingin menentang takdir.

“Kau tahu putra siapa dia?

“Itu..” Yoogeun telah membuka mulutnya, namun saat melihat raut kesedihan di wajah Jaejoong pemuda cilik itu kembali mengatupkan mulutnya. “Aku tidak tahu, Eomma.”

Jaejoong mengangguk lantas tersenyum. Namun rasa sakit itu masih tersiksa, rasa sakit yang mendorong dirinya untuk kembali mengenang masa lalu. Cinta, bukankah sesuatu yang rumit?

TBC

NB: maaf kalo banyak typos ga sempet edit.

6 thoughts on “TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 1

  1. msh ada beberapa typos but its okay im still enjoy it🙂

    spertinya twins yunjae itu bawa gen emak babenya sendiri2 yah ngebayangin kalo beneran ada haha xD cute!!
    itu jess g suka banget sm yg punya doe eyes >< pasti jaemom yg dimaksud.

    aku penasaran dg kisah dibalik bpisahnya yunjae ni, ahh~ umma mulai mewek kan tuh…😦

    monggo dilanjut~~ ^^

  2. baru chap awal umma udah sedih aja😦
    penasaran banget sama masa lalunya yunjae~~~
    kenapa mereka sampe pisah? kenapa appa sama jessica?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s