FATED/ YUNJAE/ CHAPTER 1


FATED 
CHAPTER 1-REGRETED 
CREATED BY AMEE 


SUMMARY : 
Seharusnya Jaejoong tidak perlu datang ke pesta itu, sehingga dia tidak perlu bertemu Yunho, dan kejadian itu tak perlu terjadi. 



Jaejoong menghela nafas dramatis. Ia memang ragu-ragu untuk ikut ke pesta memenuhi ajakan Junsu. Bahkan ia sudah meminum obat tidur lima belas menit yang lalu, berharap ketika Junsu menjemputnya nanti, ia sedang tidur dan belum siap sehingga Junsu akan meninggalkannya. 

Tapi Jaejoong tidak bisa tidur. Udara terasa panas. Ia berguling-guling di atas tempat tidur sambil memikirkan calon suaminya yang berada di Jepang. Dua minggu yang lalu Jaejoong mengirim surat, seharusnya minggu ini ia sudah menerima balasan, tapi tidak ada. Mungkin tukang pos terjebak angin puting beliung di sekitar samudera antartika, pikir Jaejoong, namun tetap saja ia merasa galau. 

Diangkatnya tangan keatas lalu diamatinya cincin yang yang melingkar di jarinya. Itu pemberian Changmin. Cincin pertunangan mereka. Mendadak Jaejoong tersenyum. 

Tiba-tiba pintu diketuk. Dengan malas dilihatnya jam dinding, sudah jam enam. Artinya Jaejoong sudah mengamati cincin dan memikirkan kemana perginya tukang pos selama satu jam. Jaejoong belum beranjak, hingga pintu diketuk lebih keras. 

“Iya,” jawab Jaejoong. 

“Ada tuan Junsu,” ujar Songbin halmeoni. 

Jaejoong terdiam, tak menanggapi. Digigitinya ujung bantal. Kenapa ia sudah datang? pikir Jaejoong. 

“Tuan, ada Tuan Junsu,” ujar Songbin halmeoni sambil mengetuk pintu ketika tak ada jawaban dari Jaejoong. 

Dilemparnya bantal yang tadi ia gigiti lantas beranjak dari ranjang. Dibukanya kunci lantas dengan cepat kembali melompat ke tempat tidur. “Suruh saja ia masuk,” ujar Jaejoong. 

Junsu masuk ke dalam kamar, lantas duduk di atas kursi. Jaejoong meliriknya sedikit dari balik bantal yang menutupi wajahnya. “Tidak jadi?” 

“Tentu saja jadi. Kau pikir pesta besar seperti ini akan dengan mudah dibatalkan? Aku hanya khawatir kau belum siap jadi aku mampir,” ujar Junsu. 

“Aku malas,” sela Jaejoong. 

“Apa kau gila? Ini pesta tuan Kim, dan mereka sudah mengundang banyak band terkenal di sana. Kau benar benar gila jika tidak pergi,” 

“Aku tidak peduli,” 

“Kau harus pergi!” 

“Aku benar benar tidak mau,” 

“Kenapa?” 

“Tidak ada air, jadi aku tidak bisa mandi,” 

“Astaga!” pekik Junsu lantas tertawa keras. “Kau bisa mandi di rumahku, Jae,” 

” Tapi bajuku lusuh, setrikaan sedang rusak,” jawab Jaejoong asal. 

“Ok, sederhana aja, kau bawa bajumu ke rumahku dan pembantuku akan menyetrikannya untukmu,” Junsu menghela nafas panjang. 

Jaejoong menghela nafas. Demi Tuhan, sosok dihadapannya memang raja pesta. 

“Apa Heechul akan datang?” tanya Jaejoong. 

“Tentu saja,” jawab Junsu. 

“Artinya aku tidak bisa datang. Baju yang ingin kustrika itu baju yang aku pakai di ulang tahunnya, 

“Kapan ulang tahunnya?” 

“Tiga bulan lalu. Saat itu kau memakai kaos hijau,” 

“Ah iya, aku ingat. Tapi Jae, demi Tuhan itu sudah lewat tiga bulan. Dia pasti sudah lupa,” 

“Tapi aku masih ingat apa yang dipakainya,” 

“Terserahlah, yang pasti Heechul tidak ingat dan tidak akan peduli dengan apa yang kau pakai,” 

Jaejoong menggeleng keras, sementara Junsu menepuk dahinya. “Kau pakai bajuku saja. Jadi sekarang kau ikut aku ke rumah, dan sekalian saja mandi di sana,” ujarnya geram. “Ayo!” Junsu menarik tangan Jaejoong. 

“Aku pusing, aku tidak mau kemana-mana,” 

Sekali lagi Junsu mengeram. “Ada apa lagi, Jae?” 

“Belum ada surat balasan dari Changmin, aku hanya takut sesiatu yang buruk terjadi padanya,” gumam Jaejoong. 

“Berapa kali?” 

“Satu?” jawab Jaejoong tak yakin. 

“Astaga, Jae. Baru begitu saja kau sudah segila ini. Lagipula apa kalian hidup di jaman batu? Kenapa tidak saling mengirim e-mail saja?” 

Jaejoong diam lantar tersenyum kecut. “Jadi kita kerumahmu sekarang?” tanyanya mengalihkan perhatian. 

OOO 

Junsu membuka lemarinya dan membiarkannya terbuka lebar. 

“Pilih saja yang kau suka, aku mandi dulu,” ujar Junsu sambil masuk ke dalam kamar mandi. 

Jaejoong menatap lemari dengan tidak minat. Ia benar-benar hanya ingin diam, pesta sama sekali tidak menarik. Diacak-acaknya lemari Junsu. Dipilihnya satu persatu baju di dalamnya. Baju yang hitam terlalu licin. Baju yang biru benar benar rendah, bisa bisa semua orang melihat keseluruhan dadanya. Jaejoong menarik nafas, lantas naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya. 

Pintu kamar dibuka dengan keras, dan Junsu masuk dengan tubuh yang dililit handung, dari ujung rambutnya turun butiran-butiran air. 

“Cepat mandi sana, kau mau pakai baju yang mana?” tanya Junsu. 

“Entahlah, tidak ada yang kusuka,” jawab Jaejoong. 

“Maksudmu? Bajuku tidak ada yang bagus?” Junsu memelototkan matanya. 

“Yaa, aku tidak mengatakan bahwa bajumu jelek, aku hanya mengatakan bahwa aku tidak suka,” 

“Ya, ya, terserah sajalah. Cepat mandi!” Junsu menggelengkan kepalanya. 

“Lalu aku pakai baju yang mana?” tanya Jaejoong. 

“Yang mana saja, yang penting sekarang kau mandi dulu,” Junsu menepuk jidatnya kesal. 

Jaejoong menggaruk kepalanya frustasi. Ia benar-benar tidak ingin pergi sekarang. Jaejoong masuk ke dalam kamar mandi, ia baru saja hendak mengunci pintu ketika Junsu berteriak. 

“Jae, jangan mandi lama-lama, asal harum sabun saja cukup. Kau tahu Yoochun kan, dia pasti akan marah jika yang dijemputnya belum siap,” 

“Salahmu, siapa suruh meminta dia untuk menjemput. Dia itu menyebalkan, lagipula wajahnya seperti–” 

“Seperti apa?” sela Junsu cepat. “Kau pikir Changmin sangat tampan sampai kau berani mengejek kekasihku seperti itu?” 

Dan Jaejoong tertawa keras mendengarnya. 

OOO 

Pukul sepuluh malam, pesta baru saja dimulai. Musik mulai menghentak, dan minuman-minuman keras mulai dikeluarkan. 

Sudah cukup lama Jaejoong berasa di sana, dan ia hanya duduk diam. Sama sekali tidak menikmati pesta. 

Jaejoong mulai bergidik ketika laki-laki di sebelahnya kembali memaksanya untuk meminum minuman di hadapannya. Ini sudah kali ketiga sejak laki-laki itu menghampirinya tadi. 

“Aku tidak suka whisky,” tolak Jaejoong halus. 

“Ini bukan whisky, ini hanya wine,” jawab laki-laki itu. “Ayo minumlah,” rayu laki-laki itu sambil menyentuh tangan Jaejoong, sementara Jaejoong yang merasa kaget segera menjauhkan tangannya. 

Jaejoong menatap laki-laki itu bingung. Untuk apa laki-laki itu berdusta padanya dengan mengatakan bahwa gelas itu berisi wine, padahal Jaejoong sangat mengetahui bahwa gelas itu berisi whisky. 

“Aku tidak bisa,” jawab Jaejoong cepat. 

Laki-laki itu tertawa keras. “Maka dari itu, kau harus membiasakannya, manis. Coba kau pikir, kapan lagi kita bisa berpesta dengan banyak wine, whisky, dan champagne kalau bukan saat ini, di saat orangtua kita tidak ada,” katanya lantas kembali tertawa. 

Banyak sekali orang-orang yang mabuk di ruangan ini, hingga membuat ruangan menjadi sesak dan pengap. Jaejoong mengumpat tertahan. Salah. Keputusannya untuk datang ke pesta ini adalah salah. Pergi kemana Junsu sialan itu, seenaknya saja meninggalkanku sendiri di sini, rutuk Jaejoong. 

“Kau lihat Junsu?” Jaejoong mendongak ketika didengarnya suara Yoochun. 

“Aku tidak tahu,” jawab Jaejoong lantas ditatapnya Yoochun dengan pandangan iba. 

“Kupikir dia bersamamu. Sial, kemana dia?” umpat Yoochun, lantas berbalik. 

“Tunggu dulu,” panggil laki-laki di samping Jaejoong sehingga menghentikan langkah Yoochun. 

“Ada apa?” tanya Yoochun datar. 

Laki-laki itu menyeringai. “Coba kau bujuk dia untuk meminum wine ini, kau mengenalnya kan? Katakan padanya bahwa ini hanya wine, aku tidak akan meracuninya,” jawab laki-laki itu. 

“Cih, urus saja urusanmu sendiri. Aku sedang sibuk mencari kekasihku,” jawab Yoochun kasar lantas pergi. 

Jaejoong merutuk. Ia benar benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ingin pergi dari sana rasanya tidak sopan. Marah, percuma. Namun tetap diam di sana hanya membuatnya hampir gila. Ia gugup. 

“Baiklah jika kau memang tidak mau. Aku tidak akan memaksa,” laki laki itu menegak minumannya. 

“Bukan tidak mau, tapi belum mau,” jawab Jaejoong. 

Laki-laki itu menatap Jaejoong dengan dahi berkerut lantas tertawa. “Hm.. Bagaimana kalau kita turun?” tawarnya. 

Jaejoong tampak berpikir. Mungkin tidak ada salahnya, bukankah sejak tadi aku hanya diam, pikirnya. 

Jaejoong menerima tawaran laki-laki itu, keduanya berdansa, berputar putar dengan gerakan yang terkonsep. Dan harus Jaejoong akui bahwa laki laki itu sangat piawai. 

“Namamu?” tanya laki-laki itu ditengah tarian mereka, namun Jaejoong berpura pura tidak mendengarnya. 

Ketika lagu telah berakhir dan mulai pada lagi selanjutnya, Jaejoong beranjak pergi menghindari laki laki itu. Sudah terlalu malam. Dicarinya Junsu, namun tak ditemukannya. 

Jaejoong melirik jam tangan yang dipakainnya. Sudah pukul satu, apa ia harus pulang sendiri? Ini gila! Pekik Jaejoong, ia tidak membawa kendaraan. 

Jaejoong memutuskan pergi ke dapur, lantas dusuk di sana. Ia hampir tertidur saat merasa seaeorang menggoyangkan pundaknya. 

“Jae, kenapa kau disini?” tanya Junsu. 

“Ayo pulang, aku ngantuk,” jawab Jaejoong cepat. 

“Demi Tuhan, Jae. Pesta baru saja setengah jalan dan kau meminta untuk pulang? Lelucon macam apa ini?” Junsu mengerling. 

“Aku mengantuk,” ulang Jaejoong. 

“Kau,” Junsu menggeleng. 

“Tidur saja dikamarku,” ujar Kyuhyun yang baru saja memasuki dapur. 

Jaejoong mengangguk meski ia tidak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya. 

“Tidak apa-apa?” tanya Jaejoong. 

Kyuhyun mengangguk. “Tentu. Naiklah,” katanya. 

Jaejoong mengangguk lantas beranjak menaiki tangga. Saat ia hampir sampai di atas samar-samar ia mendengar Junsu berbicara pada seseorang tapi entah siapa. 

“Tuan putri mengantuk katanya, ia ingin tidur,” suara Junsu terdengar melengking. 

Jaejoong segera membuka pintu kamar lantas merebahkan dirinya di atas kasur. 

Jaejoong baru saja memejamkan matanya ketika pintu kamar kembali terbuka dan menampilkan sosok Junsu. 

“Hah, aku heran, biasanya kau begadang sampai pagi,” ujar Junsu. 

“Aku meminum obat tidur tadi sore. Maksudku, aku memang tidak ingin ke pesta, kau yang terus memaksa,” jawab Jaejoong. 

“Astaga. Hanya karena surat yang kau kirim ke Jepang jatuh ke laut, kau sampai minum obat tidur begitu?” 

Jaejoong tak menjawab. Jusu menepuk kepalanya lantas digoyang goyangkannya tubuh Jaejoong. 

“Jangan tidur dulu, minum dulu susu ini, Yunho yang membuatkannya untukmu,” 

Jaejoong bangun dengan mata terpejam, ia bahkan tidak peduli siapa Yunho, ia tidak mengenalnya. Diambilnya gelas susu ditangan Junsu lantas ditegus sampai habis. Tiga detik kemudian yang terdengan hanya dengkuran halus Jaejoong. 

OOO 

Jaejoong tidak tahu jam berapa ia bangun. Saat ia membuka mata, kamar sangat gelap. Badannya terasa panas dan jantungnya berdebar. Perasaannya tidak enak. 

Jaejoong berusaha turun dari ranjang, lantas ia menutup mulutnya sendiri. Ada orang lain selain dirinya di kamar ini, dan mendadak ia merasa takut. 

Saat Jaejoong hendak beranjak, sebuah tangan besar menutup mulutnya. Jaejoong mencoba berontak. Ditendang dan dipukulnya orang itu, tapi takcukup kuat, justru orang itu dengan mudah mengikat kedua tangannya. 

“Diam kau!” pekik laki-laki itu. Dan Jaejoong dapat mencium bau alkohol yang kuat. 

Jaejoong bergetar. Ia merasa takut. Ia sadar bahwa ada bahaya yang mengancamnya. Jaejoong mencoba memukul orang itu, namun yang terjadi justru sebaliknya, orang itu mengelus lantas memukul pantatnya. Jaejoong menggigil, ia merasa sangat terhina. 

“Jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar,” ancam orang ifu. 

Ia mrngikat kedua tangan dan kaki Jaejoong masing masing ke ukung tempat tidur. Lantas ia tertawa tawa sementara Jaejoong sudah hampir menangis. 

Laki-laki itu menyeret kursi ke samping ranjang, lantas duduk di atasnya. Ia menyalakan korek api lantas menyulut rokoknya, sehingga Jaejoong dapat melihat siapa orang itu. Dia, laki laki yang mengajaknya berdansa tadi. 

“Bukankah ini sangat sangat romantis istriku yang manis?” ujar laki laki itu sampil mengepulkan asap rokonya. 

Jaejoong berteriak ketakukan, dan mendadak saja laki laki itu menciumnya dengan ganas, tangannya menjalar kemana-mana, menyentuh tubuh Jaejokng yang bisa dijamahnya. Jaejoong menangis, lantas menggulingkan tubuhnya sampai ke tepi ranjang. Lebih baik aku mati daripada harus disentuhnya, pikir Jaejoong. 

“Bergulinglah terus seperti itu, kau bahkan tidak akan pingsan, tempat tidur ini tidak lebih dari satu meter,” laki laki itu teryawa mengejek. 

TBC 

Oke guess siapa laki laki itu lol. Gimana ceritanya? tolong tinggalin jejak please^^ kalo banyak yang minat diusahain buat update cepet. i need feedback. maaf kalo ada typo

8 thoughts on “FATED/ YUNJAE/ CHAPTER 1

  1. bikin penasaran. pasti yg menyekap jae si pemberi susu alias yunho hehehe semoga bener. lanjut dong ceritanya…

  2. OmG nuguya? laki2 itu yg udah memperlakukan jae sprt itu..
    penasaran…
    lanjuuuuuuutttttt……..

  3. i have feel that man is yundad tapi kl bner appa msok tega umma dikasarin begituuu?? ><
    *reader koplak

    penasaran buu~~ dilanjut yoww!! ^^ *tambah koplak

    gomawo buat replaysnya min!!🙂

  4. Aaah thor itu siapaaaa? Yunho? apa yunho yang bakal nolong Jae?

    Changmin jadi tunangan jj ya? Aaah jj sama Yunho ajaaa. biar aku sama changmin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s