TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 2


creted by Amee
chapter 2 – A big secret

warning : complicated, original story,

dont copy without permission!
.
.
Kebersamaan itu seperti sebuah kaitan kancing pada kemeja, yang mampu menutupi kekurangan dan kelebihan. Yoogeun menatap kertas undangan dalam genggamannya. Dipikirnya berkali-kali, apakah undangan itu harus ia sampaikan pada Jaejoong atau tidak. Yoogeun menghela nafas, sesungguhnya ia hanya tidak ingin merepotkan Ibunya.

Yoogeun menyandarkan tubuhnya pada dinding, dilempar pandangannya menembus jendela, kemudian kembali menatap undangan itu, undangan untuk orangtua murid yang diterimanya siang tadi. Sebagai anak yang tumbuh dalam keluarga single parent dan bahkan terbiasa memanggil seseorang yang notabene adalah laki-laki dengan sebutan Ibu membuat Yoogeun lebih banyak berpikir.

“Ya atau tidak?” tanya Yoogeun pada dirinya sendiri.

Diingat ingatnya lagi perbincangan siang tadi dengan Yoonjoong. Lantas ditatapnya foto Jaejoong yang tergantung di dinding dengan ukuran besar. Bukankah ia sangat cantik, mendadak saja Yoogeun ingin sekali memeluknya.

“Siapa yang akan datang saat pertemuan orangtua nanti? Kebanyakan yang biasanya hadir adalah para Ibu. Tapi sepertinya kali ini kembali ayahku yang akan hadir, aku tidak mengerti, terkadang Ibuku bisa jauh lebih sibuk dari Ayahku. Padahal ia hanya mengurus butik. Jadi Yoogeun-ah, siapa yang akan datang? Mungkin nanti kita bisa makan siang bersama,” terang Yoonjoong saat itu.

Sekali lagi Yoogeun menghela nafasnya dengan dramatis, lantas memukul-mukul paha dengan tangan mungilnya. “Eomma, bagaimana ini?” gumam Yoogeun. Ia sungguh bingung. Sebagai siapa Jaejoong hadir dalam pertemuan orangtuanya nanti? Sebagai Ibu atau sebagai Ayahnya? Kalaupun sebagai Ayah, akan ada kecanggungan yang terselip di dalam hatinya.

“Jaejoong eomma, Jaejoong ap..pa. Aish.. aku tidak bisa, sangat sulit mengucapkannya,” geram Yoogeun.

Yoogeun keluar dari dalam kamarnya, menuju kamar Jaejoong. Dibuka pintu kamar Jaejoong perlahan, dilongokkan kepalanya, namun tak ditemukan Jaejoong di dalamnya. Yoogeun kembali menutup pintu kamar dan melangkah menuju ruang kerja Jaejoong.

“Eomma,” ujar Yoogeun sambil membuka pintu.

Jaejoong yang tengah tertunduk menatap selembar foto cepat cepat menyembunyikan foto tersebut ke dalam laci, menghapus air yang menggenang di pelupuk matanya dengan punggung tangan, lantas menatap Yoogeun sambil tersenyum.

“Ada apa sayang?” tanya Jaejoong.

“Ada undangan dari sekolah, kalau Eomma sibuk tidak apa-apa, Yoogeun akan meyakinkan wali kelas,” Yoogeun menganggukan kepalanya, berharap harap agar Jaejoong tidak perlu datang, dan ia tak perlu bersusah berusaha memanggilnya Appa.

“Kapan acaranya?” tanya Jaejoong.

Yoogeun menegakkan tubuhnya, pandangannya tertuju pada Jaejoong. “Eomma akan datang?”

Jaejoong mengangguk lantas tersenyum. “Tentu saja, apapun untukmu, jadi kapan acaranya?

“Tiga hari lagi. Apa aku harus memanggilmu, Ap..pa? Itu sangat sulit Eomma,”

“Kau pasti bisa sayang, aku yakin kau akan terbiasa nanti. Ini untuk kebaikanmu juga. Kau mengerti maksudku kan?” Jaejoong tersenyum lantas beranjak dari kursinya, dikecup puncak kepala sang anak.

“Ne, Eomma,” Yoogeun ikut tersenyum. “Aku lapar, Eomma,”

“Astaga, aku hampir lupa. Kau tunggu sebentar ya, sayang, Eomma akan memasak sesuatu dulu,”

Yoogeun mengangguk, sementara Jaejoong telah beranjak menuju dapur. Yoogeun baru saja hendak melangkah keluar ketika memorinya mengingatkan sesuatu. Dibalikkan kembali tubuhnya lantas ditatapnya laci dibalik meja kerja Jaejoong dengan intens.

Yoogeun melangkah perlahan menuju meja kerja Jaejoong, dibukanya laci perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan bunyi berdecit. Yoogeun mengerutkan dahinya, diambilnya selembar foto lantas ditatapnya lama-lama.

“Aku seperti pernah melihatnya,” gumam Yoogeun.

Ada sesuatu yang terasa dekat, namun entah apa.
Adakah rahasia yang tersembunyi dibalik jaring yang dilempar sang takdir.
Rasa itu, apa?

“Ah, Yoonjoong,” pekik Yoogeun.

Dikeluarkannya ponsel biru muda dengan gantungan berbentuk gajah–yang diberikan Jaejoong– lantas di fotonya gambar dalam selembar foto itu. Yoogeun tersenyum lantas kembali diletakkan foto itu pada tempatnya, dan keluar menuju ruang makan.

ooo

“Selamat malam, Jae. Bagaimana kabarmu? Kau dimana sekarang? Apa kau tidak lupa untuk makan malam?” gumam Yunho sambil menyentuh permukaan foto dalam genggamannya. “Aku yang terlalu pengecut, aku masih sangat muda saat itu, maafkan aku karena tidak bisa mengambil keputusan dengan tegas,”

Pintu kamar perlahan terbuka dan menampilkan sosok Jesicca. Wajah arogannya terlihat lelah meskipun kekesalan tergambar sangat jelas di sana. Dihampirinya Yunho yang sama sekali tidak terganggu dengan kehadirannya.

“Kau masih memikirkannya?” tanya Jesicca.

“Aku mencintainya,” jawab Yunho.

“Tidak cukupkah keberadaanku dan Yoonjoong di sini?”

“Aku hanya merindukannya,”

“Selalu dia, kau tidak pernah melirikku. Kau ingat sesuatu, Jung, aku ini istrimu!” pekik Jesicca keras.

Yunho meletakan foto Jaejoong lantas berdiri, menatap Jesicca dengan tajam. “Kau tahu kenyataannya, Jess. Aku hanya merindukannya, apa aku salah?”

“Kau!”

“Ya, aku kenapa? bukankah sudah kau dapatkan semuanya?”

Jesicca kembali melempar pekikan yang kemudian di balas Yunho, tanpa menyadari bahwa di balik pintu, Yoonjoong telah berdiri dengan mata berkaca-kaca, merasakan ketakutan dan ketidaknyamanan yang begitu mengikat.

“Ya Tuhan, berikan kebahagiaan bagi Ayah dan Ibuku. Aku ingin keluarga yang bahagia, seutuhnya, bukan pura-pura,” gumam Yoonjoong pelan lantas setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Bukankah ia telah jauh lebih dewasa dari yang seharusnya?

Kehidupan itu–
–rumit.

ooo

Suasana kelas terasa begitu hening, kecuali beberapa bisik-bisik murid perempuan sambil melirik-lirik ke arah Yoonjoong. Tidak ada pekikan histeris, dan tidak ada pula teriakan-teriakan, karena Yoonjoong akan segera melemparkan tatapan mematikannya dengan gaya aristokrat seperti sepuluh menit yang lalu. Jung kecil itu sedang dalam kondisi yang buruk.

Yoogeun masuk ke dalam kelas dengan senyuman yang mengembang meskipun setiap langkah kaki yang dihentakkannya menunjukan seberapa arogan ia. “Yoonjoong-ah!” teriak Yoogeun begitu ia telah berdiri di depan kelas, hampir semua murid perempuan berteriak histeris, terpesona. Yoonjong segera menengokan kepalanya, dengan tatapannya ia meminta agar mereka diam, dan semuanya diam.

“Ada apa dengan mereka?” tanya Yoogeun begitu ia telah berdiri di samping Yoonjoong.

“Tidak ada apa-apa, mereka hanya perlu sedikit ditenangkan dengan sihirku. Mereka terlalu berisik.” jawab Yoonjoong tanpa semangat, ada beberapa sudut di pelipisnya.

Yoogeun mengerutkan dahinya, lantas disentuhnya leher Yoonjoong. “Apa kau sakit? Kau tampak tidak bersemangat,”

Yoonjoong baru saja hendak membuka mulutnya untuk menjawab ketika telinganya mendengar teriakan teriakan para gadis yang jauh lebih histeris dari sebelumnya.

“Kyaa.. kenapa mereka sangat tampan!”

“Pangeranku benar benar menjadi dua sekarang!”

“Oppadeul menikahlah denganku!”

Yoogeun memasangkan earphone pada telinga Yoonjong lantas tertawa dengan keras. “Pakailah. Kau sepertinya terganggu. Aku bahkan pernah mengalami hal yang lebih buruk dari itu di sekolah lamaku,”

Yoonjong memberengut, lantas ditatap pemuda yang serupa dengannya itu dalam-dalam. “Jangan menertawakanku. Kondisi hatiku sedang buruk. Kau tau seberapa populernya Jung Yoonjoong di antara para gadis kan?”

“Ya..ya, terserah kau sajalah,” jawab Yoogeun malas. Diletakkannya tas, lantas duduk di bangku di depan Yoonjoong.

“Jadi, Yoogeunie. Siapa yang akan datang ke acara pertemuan orangtua nanti?” tanya Yoonjoong.

“Ap..paku,” jawab Yoogeun tak yakin.

“Siapa? aku tak bisa mendengarnya dengan jelas.”

“Ayahku, yang akan datang nanti adalah ayahku,” Yoogeun tersenyum

Yoonjoong menjentikan jarinya. “Bagus, ayahku juga akan datang. Kita harus makan siang bersama. Ini akan sangat keren. Empat orang laki-laki tampan akan makan dalam satu meja,” pekik Yoonjoong. Dan keduanya tertawa bersamaan.

“Ah, Yoonjoongie, aku menemukan sebuah foto di rumah, dan kurasa ia sangat mirip denganmu,”

“Benarkah? Tunjukan padaku!”

Yoogeun mengeluarkan ponselnya lantas menunjukan foto yang secara diam diam diambilnya pada sahabat satu-satunya itu.

“Astaga!” pekik Yoonjoong keras.

“Ada apa?” Yoogeun menoleh cepat menatap pemuda dihadapannya.

“Itu ayahku, Jung Yunho.”

“Benarkah?”

“Tentu saja, aku tak mungkin salah mengenali ayahku sendiri. Astaga, ini benar benar sangat keren, ternyata orangtua kita juga berteman,”

Dan keduanya kembali tertawa bersamaan.
Sayang,
untaian takdir baru saja akan dimulai.
Apa kau siap?
terkadang takdir memunculkan kenyataan yang kejam.

ooo

“Yoogeunie, kau bisa membantu Eomma merapikan buku buku ini?” teriak Jaejoong.

“Ne, Eomma, tunggu sebentar,” jawab Yoogeun dari kejauhan.

Berselang beberapa lama, Yoogeun telah muncul dengan dada yang naik turun dan nafas terengah-engah. Jaejoong mendongakkan kepala, lantas tersenyum menatap putranya.

“Kenapa berlari seperti itu, sayang?” tanya Jaejoong.

“Aku.. hanya.. tidak ingin membuat Eomma menunggu,” jawab Yoogeun terengah-engah.

“Baiklah, bantu Eomma merapikan buku buku ini ya,” ujar Jaejoong.

Yoogeun mengangguk lantas segera merpikan buku buku yang berceceran dan ditumpuk di dalam kardua ke dalam rak. Hingga tangannya menyentuh sebuah buku yang bersampul beludru bewarna merah. Disentuhnya buku itu, bentuknya terlalu aneh untuk sebuah buku bacaan.

Yoogeun melirik Jaejoong yang masih sibuk merapikan buku di sudut lain ruang baca. Ditatapnya buku itu lama-lama kemudian dibuka perlahan. Dan kalimat pertama yang terpampang di sana cukup untuk membuat Yoogeun kehilangan detak jantungnya.

Aku mencintaimu, Jung Yunho. Selamanya. –Jaejoong.

Yoogeun segera menutup buku itu dan memasukannya ke dalam bajunya. Bergerak dengan cepat untuk merapikan semua buku-buku dihadapannya. Setelah semuanya tertata dengan baik, Yoogeun segera meminta izin untuk kembali ke dalam kamar. Meninggalkan Jaejoong yang menatapnya dengan pandangan aneh

Mungkin dia lelah, pikir Jaejoong.

Yoigeun segera menjatuhkam tubuhnya di atas kasur, setelah mengunci pintu kamarnya. Dikeluarkannya buku tersebut dari dalam bajunya. Lantas dibukanya halaman pertama.

“Ini diary, Eomma,” gumam Yoogeun.

Mulai dibacanya untaian kata dalam buku itu.
Kenangan merebak.
Rahasia terungkap.
Dan semua rasa sakut itu.
Penderitaan itu.
Akan merebak ke permukaan.
Bukankah sudah kukatakan, terkadang takdir itu kejam.

TBC
next : full of flashback

9 thoughts on “TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 2

  1. next chap kilat yaaa….
    penasaran koq bisa mereka pisah..
    plissss….jgn buat jae nangis n di bully….pengen jae yg kuat n keren

  2. rahasia apa yg terungkap oleh yoogeun?? pasti erat dg masa lalu yunjae… ahh~ kenapa mereka bisa berpisah?? *jambak rambut minnie*
    huwee~ siap2 liat jae nelangsa deh…😥
    trus apakah nanti akan ada pertukaran twins gitu?? sperti yg sudah2…
    kasian yoonjoong,, dewasa sbelum waktunya…

    make me surprise author sshi~!! ^^
    with your next chapie…

    kalau bisa buat lbh panjang dikit yah ^^
    biar makin lama enjoy’nya hehe~🙂

  3. Benci sm jessica,knpa jga sok2 sedih pdhl dia sm skli ga d cintai sm yunho,hrsx dia brsyukur udh mau d nikahin…

  4. yunjae masih saling mencintai, tapi dipisahkan oleh takdir. kadang memang takdir tak sejalan dengan apa yang kita inginkan. but, who know? pasti selalu ada benang merah yang mengikat keduanya. /ceileh bahasanya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s