IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 1


IN THE NAME OF LOVE
Chapter 1- Begin
Created by Amee Shim
.
.
Warning:
Mpreg, Hurt/Comfort, Harshword, Typos, etc.
.
.

Yunho POV
Aku keluar dari mobil Hyunjoong, setelah aku mematahkan rokok yang hendak ia sulut. Aku selalu bisa tertawa jika bersamanya. Dia benar-benar gila, laki-laki gila. Dan sialnya aku terjebak dengan kegilaannya karena dia adalah sahabatku. Dia gila. Sekali lagi kutekankan bahwa dia benar-benar gila. Sangat hedonis, mencintai kebebasan, seks, rokok, dan minuman keras. Sekali lagi sangat sial, karena aku tidak ada bedanya dengan dia. Kecuali seks, aku tak pernah melakukannya.

“Sampaikan salamku untuk Yungsaeng,”ujar Hyunjoong.

“Dalam neraka!” Aku menutup pintu mobilnya dengan sangat keras dan ia tertawa dengan keras, lantas melajukan mobilnya.

Aku berjalan memasuki halaman rumah. Setelah membunyikan bel beberapa kali, Yungseong membukakan pintu. Wajahnya kusut dan ia menatap tajam ke arahku. “Mau apa kau ke sini?” tanyanya ketus.

“Yentu saja pulang,” jawabku.

“Oh,” Yungsaeng menyilangkan kedua lengannya di depan dada lantas mencibirku. “Kupikir kau sudah tidak ingat bahwa ini rumahmu,”

“Astaga, kau marah padaku hanya karena aku terlambat pulang setengah jam?” Aku mengacak-ngacak rambutnya, dan ia menepisnya.

“Jangan sentuh kepalaku, aku baru saja menyisir rambutku tadi,” katanya sambil berbalik meninggalkanku, dan aku hanya tertawa-tawa saja.

Aku mengikuti Yungsaeng menuju ruang tamu dan duduk di sofa. Dia menatapku dengan pandangan kesal. Kami saling memandang untuk beberapa saat, sampai Yungsaeng menghela nafas dengan dramatis.

“Hyung, sudah kukatakan berapa kali, jangan memadukan kemeja merah dengan kaos biru, kau benar-benar terlihat kolot. Dan rambutmu itu, astaga, kau seperti tidak pernah berkeramas,” Yungsaeng mulai mengomentari penampilanku. Dan aku hanya mengangguk-ngangguk patuh mendengarnya, mendebatnya pun tidak ada gunanya.

“Benarkah?”

“Jangan tersinggung ya, tapi seleramu benar-benar buruk, Hyung,” dia mengangguk-anggukan kepalanya.

“Lalu bagaimana menurutmu?”

Yungsaeng tampak berpikir keras. “Semuanya harus di sesuaikan dengan acara. Lain kali jika ingin pergi kau harus berkonsultasi dulu denganku,”

“Oh oke kalau begitu,” aku menyisir rambut dengan tanganku lantas bersandar pada bantal.

Yungsaeng adalah adikku satu-satunya, mungkin aku menderita suatu kelainan–jika bisa disebut seperti itu–aku seorang brother complex. Aku selalu merasa kesal jika ia terlalu banyak bicara, namun aku ingin melindunginya. Tidak ada lagi ayah dan ibu, yang kumiliki hanya Yungsaeng.

Aku bertanya-tanya apakah Yungsaeng akan tumbuh besar, jatuh cinta, menikah, dan meninggalkanku seorang diri? Aku tidak siap, mungkin belum siap. Di ruang tamu kami terdapat satu rak yang isinya berupa deretan panjang foto-foto. Aku mengamati foto Yungsaeng ketika ia berusia enam tahun, dia tampak sangat ceria, namun entah mengapa mendadak saja aku merasa sangat jauh dengannya. Rasanya menyedihkan.

“Hyung,” panggilnya.

Aku menoleh ke arahnya. “Ada apa?” tanyaku.

“Kau bersama dengan Hyunjoong hyung tadi? Kenapa dia tidak mampir?” tanyanya lagi.

Aku segera bangun dan duduk dengan tegak. Aku mengangkat sebelah alis lantas kutatap ia dengan pandangan menuduh. “Kenapa menanyakannya?”

“Tidak apa-apa, menurutku dia menarik, dan… sangat tampan,” jawab Yungsaeng ragu-ragu.

“Kau bisa mencari yang lain jika kau mau, tapi jangan dia,” balasku cepat.

Yungsaeng nampaknya tidak senang dengan jawabanku karena bisa kulihat dia mengeyitkan dahi dan duduk dengan gusar. Aku menjulurkan tanganku ke nakas, mengambil sekotak rokok. Aku mengeluarkan satu batang lantas kusulut. Kuhisap dalam dalam, dan meniupkan asapnya ke udara sehingga ruangan terasa remang-remang karena asap rokok menghalangi cahaya.

“Kenapa?” Yungsaeng menatapku, suaranya seakan tercekik.

Aku menatapnya untuk beberapa lama. Aku tidak mungkin menjelaskan kepada Yungsaeng mengapa aku tidak mengizinkannya, paling tidak untuk saat ini, meskipun aku harus mengatakan padanya yang sejujurnya.

Aku mengangkat bahu. “Kupikir tidak usah, itu saja,”

Yungsaeng tersenyum kecut, kemudian ia menunduk menatap jari-jari kakinya. Ruangan mendadak hening untuk beberapa saat, dan kulihat diam-diam Yungsaeng memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti sebuah kekecewaan.

“Katakan padaku alasan masuk akal sehingga aku bisa menerimanya,” katanya.

Aku menekankan ujung rokokku ke dalam asbak, rokok itu terasa rapuh di tanganku, sehingga ketika aku menekannya pada asbak, rokok itu patah. Aku memandang Yungsaeng dalam-dalam. Ada kekhawatiran yang tiba-tiba menyeruak dalam dadaku, firasatku mengatakan bahwa sebaiknya aku menjauhkan Yungsaeng dari Hyunjoong, sekalipun ia sahabatku.

“Ada dua alasan,” kataku. “Pertama ia tidak sebaik yang kau pikirkan, meskipun ia sahabatku tapi ku yakin kau bisa mendapatkan yang jauh lebih baik darinya. Kedua, karena aku menyukai adiknya, sehingga kau tak boleh berhubungan dengan Joong, karena jika kau menjalin hubungan dengannya, maka aku tak bisa menjalin hubungan dengan adiknya,” dustaku. Aku bahkan tidak tahu siapa adiknya, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya, aku hanya sesekali mendengar bahwa Hyunjoong memiliki seorang adik. Saat itu kepalaku mendadak terasa berdenyut, dan perasaanku mengatakan bahwa aku harus melindungi Yungsaeng.

Yungsaeng turun dari sofa lantas duduk di lantai memeluk kedua lututnya, dan samar-samar dapat kulihat wajahnya memerah. “Tapi semuanya sudah terlambat, Hyung. Aku sudah terikat,” katanya pelan, namun aku masih bisa mendengarnya.

Takdir, jangan sampaikan hal mengerikan apapun kepadaku. Tolong.

OOO

Aku tidak mabuk, tapi aku merasa sangat pusing, tubuhku terasa melayang dan jantungku berdegup dengan kencang. Aku segera pulang dan melajukan mobilku dengan cepat ketika Yungsaeng tidak mengangkat teleponku meski berkali-kali tersambung.

Aku memarkirkan mobil dengan cepat dan kulihat seluruh lampu rumahku padam. Udara terasa dingin mengingat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Aku membuka pintu pelan-pelan dan rumah terasa hening. Apa Yungsaeng tidak ada di rumah? Pikirku.

Aku menyusuri rumah dengan mengendap-endap berpegangan pada dinding. Segera kunyalakan lampu begitu kutemukan sakelar. Barang barang berserakan, vas bunga yang pecah, dan bantal yang berserakan di lantai. Mendadak tubuhku menegang. Yungsaeng adalah hal pertama yang kupikirkan saat itu.

Aku segera berlari memeriksa seluruh ruangan. Apa yang kuingat tentang hari ini adalah makan siang spesial yang disusun Yungseaeng untuk Hyunjoong sehingga dia memintaku untuk keluar dan kembali saat malam tiba. Semua pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Rasa panik itu semakin memuncak, mendadak aku mengigil, ketakutan.

“Yungsaengie,” teriakku berkali-kali namun tak ada sahutan.

Punggungku bergetar dan dadaku terasa perih. Aku kembali berteriak-teriak memanggil namanya sambil memeriksa setiap ruangan. Kubuka perlahan pintu kamar mandi, dan kutemukan Yungsaeng di sana. Pada saat itu segalanya tiba-tiba terhenti. Yungsaeng berbaring dengan kedua tangan dan kaki telentang di atas lantai kamar mandi, kepala dan setengah tubuh bagian atasnya basah, dan bibirnya pucat.

“Saengie,” gumamku pelan. Aku berjalan terhuyung-huyung menghampirinya. Aku merengkuh tubuhnya dengan kedua tanganku, mencium keningnya begitu lama sambil menggosok-gosok pipinya agar menghangat. Kesedihan menderaku, dan seperti orang gila aku menangis, meraung-raung di sana, mengguncang-guncang tubuh Yungsaeng yang tak kunjung sadarkan diri.

Aku mengangkat tubuh Yungsaeng perlahan, lantas membawanya ke kamar dengan langkah setengah berlari, Aku takut, aku terlalu takut. Tuhan, biarkan aku menjaganya, biarkan aku menjadi sandarannya, jangan kau rebut ia dariku Tuhan.

Kuletakan tubuh Yungsaeng sepelan mungkin di atas ranjang agar tak menyakitinya. Kusibakkan rambutnya, lantas kugosok-gosok kedua tangannya setelah menyelimuti tubuhnya.

“Sadarlah, kau kuat, kau kuat,” gumamku berulang-ulang seperti sedang merapalkan mantra.

Aku sudah melakukan apapun yang kubisa, mengolesi tubuhnya dengan minyak kayu putih, menggosok-gosok pipi dan tangannya, namun Yungsaeng belum juga sadarkan diri. Saat itu mendadak aku sangat takut, kegelapan mendadak menyelimutiku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku terlalu takut.

Aku sudah hampir frustasi, ketika perlahan Yungsaeng membuka matanya. “Hyung,” gumamnya parau, lantas segera menarik tubuhku, memeluknya dengan sangat erat dan ia terisak. Rasanya seperti memeluk boneka rapuh yang mudah dihancurkan. Rasanya dadaku sakit.

Yungsaeng melepaskan pelukannya lantas menatapku lekat-lekat dengan mata yang dipenuhi butiran bening. Aku tidak pernah melihatnya setakut ini sejak kami masuk sekolah dasar. Aku memeluk tubuh ringkih Yungsaeng dengan sangat erat, betapa ia sangat terlihat menyedihkan.

“Aku mau mati saja,” ujarnya tiba-tiba.

“Apa yang kau katakan?” pekikku keras. Rasanya aku ingin marah, mendengarnya mengatakan hal itu membuatku geram.

“Semuanya sudah selesai, Hyung, semuanya sudah selesai. Aku sudah hancur,” Yungsaeng mencengkram kedua bahuku dengan tangan bergetar. Air matanya terus jatuh membasahi kedua pipinya. Tuhan beri adikku kebahagian, kalaupun ada kebahagiaan yang harus dicabut itu adalah kebahagianku.

“Kau tidak akan pernah hancur selama aku ada disini, selama aku masih hidup dan bisa menjagamu,” gumamku pelan.

“Semuanya sudah selesai, Hyung. Semuanya sudah selesai. Ada kehidupan disini, semuanya sudah selesai,” Yungsaeng berteriak teriak seperti orang gila sambil memukul mukul perutnya yang rata.

Darahku berdesir dengan cepat, menyadari satu hal yang paling ingin kuhindari. Adikku hamil. Dan aku ikut menangis. Aku mencengram pundaknya dengan kuat, memaksa Yungsaeng agar melihat ke arahku.

“Siapa yang melakukannya?” suaraku tercekat. “Benarkah itu Hyunjoong?”

Yungsaeng mengangguk. Ia mencengkram sprai dengan sangat keras hingga kusut. “Dia meninggalkanku, Hyung. Dia menolakku,” suaranya terdengar seperti gesekan gergaji berkarat.

“Aku akan membuat pelajaran dengannya, kau tunggulah!” ujarku sambil menyeka air mataku dengan kasar. Kucium kening Yungsaeng lama-lama lantas kutatap ia dalam dalam untuk memberikan kekuatan. Dan aku beranjak.

Yungsaeng, tunggu aku. Aku akan membawanya kembali padamu. Seharusnya kuikuti firasatku, seharusnya aku menjauhkan Hyunjoong dari Yungsaeng, seharusnya aku tak pernah mengenalkannya. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat?

“Sialan kau, Joong!” teriakku keras lantas berlari dengan cepat menembus kegelapan malam.

Aku tidak bisa menjaga adikku sendiri. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkannya pada Ayah dan Ibu di surga nanti. Yungsaeng bersabarlah. Tunggu aku. Aku akan membawakan kebahagian yang kau impikan. Aku terus berlari tanpa terasa air mataku jatuh dengan derasnya, namun kuabaikan dan terus berlari.

Aku terjatuh menghantam aspal dengan kerasnya ketika kakiku tersandung. Aku mengeryit merasakan sakit dan perih di lutut dan daguku. Seperti ini kah rasa sakit itu? Aku menggeleng keras keras. Bukan sakit seperti ini yang dirasakan Yungsaeng, ia merasakan sakit yang jauh lebih mengerikan dari ini. Dan aku kembali berlari, lantas menyeringai senang ketika halaman rumah Hyunjoong telah dapat kulihat.

Aku menggedor gedor pintu rumah Hyunjoong dengan brutal sambil berteriak teriak. “Joong, Joong, buka pintunya!” Aku terus menggedor gedor pintu rumah itu hingga buku buku jariku terluka.

Pintu rumah terbuka perlahan menampilkan sosok pelayan Han, dia tersenyum padaku dan kubalas dengan tatapan tajam.

“Dimana Hyunjoong?” tanyaku setengah berteriak, peduli setan dengan tata krama saat bertamu.

“Tuan Hyunjoong sedang tidak ada di rumah,” jawab pelayan Han.

“Cih, kemana perginya dia,”

Aku segera meninggalkan rumah mewah itu, sial, padahal dulu aku selalu senang datang ke sana. Bermain main dan melakukan apa saja yang menyenangkan. Hyunjoong selalu seperti anak tunggal karena adiknya berada jauh di Jepang. Cih, dan kali ini aku datang membawa kebencian. Aku kesal, sampai sampai aku tidak bisa lagi mengeluarkan air mata sekalipun dadaku terasa sangat sekan. Hyunjoong, aku tidak habis pikir mengapa kau setega itu terhadap keluargaku.

Satu satunya tempat yang ingin kudatangi adalah bar yang terletak di ujung jalan Chamdong. Tubuhku telah dibanjiri keringat sehingga tampak lusuh, belum lagi darah yang mulai mengering di bagian dagu membuatku benar benar menyedihkan.

Aku segera menerobos masuk ke dalam bar dan kuedarkan pandangan. Benar saja dia ada di sini, Hyungjoong sedang tertawa tawa dengan seorang pemuda manis yang duduk di pahanya, tangannya memegang segelas champagne.

“Sialan kau!” aku melayangkan sebuah pukulan telak dipipinya sehingga gelas champagne yang dipegannya jatuh, dan laki laki dipangkuannya menyingkir.

“Kau itu kenapa, Yun?” tanya Hyunjoong dengan nada bersahabat yang membuatku mual.

“Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?” aku berteriak tepat di depan di depan wajahnya.

“Apa?” balasnya dengan nada mengejek lantas tertawa dengan keras. “Aku tidak melakukan apapun pada Saeng,”

“Jangan berlagak suci seperti itu. Kau tahu, dia hamil dan itu anakmu!” teriakku.

“Dan aku sudah menyuruhnya untuk menggugurkan bayi itu!” Hyunjoong balas berteriak.

Aku merasa kesal, sangat kesal sampai aku ingin membunuhnya saja. Dengan seenaknya dia mengatakan hal memuakan seperti itu. Aku melayangkankan tinjuanku namun Hyunjoong menahannya.

“Yun, kau tahu seperti apa aku, dan ini salah adikmu sendiri yang menggunakan perasaannya padaku. Aku hanya bersenang senang tidak lebih,” dia menyeringai.

Aku menatapnya dengan geram, lantas berusaha menekan emosiku. “Bertanggungjawablah,” ujarku dengan nada pelan.

“Kau gila, aku tidak mungkin melakukannya, itu hanya akan menghancurkan kebebasanku,” jawab Hyunjoong dengan entengnya.

“Kau, aku akan mengadukanmu atas tindakan perkosaan!”

Hyunjoong tertawa. “Laporkan saja, dan aku akan meminta teman temanku untuk memberikan kesaksian yan mendukungku,”

“Jerk,” aku memukul wajahnya dengan keras hingga ia tersungkur. Dan mendadak saja dua orang dengan tubuh kekar menahan tubuhku dan menyeretku keluar bar.

“Jangan membuat keributan,” ujar salah satunya.

Mereka terus menyeretku, dan aku menerimanya tanpa berontak meskinpun sudut mataku seolah tidak ingin lepas dari Hyunjoong sebelum aku menghancurkannya. Kedua laki-laki itu menyeretku hingga kekuar bar dan mendorong tubuhku hingga terjatuh.

Mendadak dadaku kembali sesak sangat mengingat wajah menyedihkan Yungsaeng, pandangan matanya tersa sangat menyakitkan dan aku takut kehilangannya.

Aku berlalu dengan cepat kembali ke rumah. Pesaanku mengatakan sesuatu namun tidak bisa kupahami. Jantungku berdebar dengan kencang, karena rasa takut dan rasa lelah karena berlari. Yungsaeng maafkan aku yang tidak bisa memenuhi janjiku.

Aku segera masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamar begitu aku sampai. Dan aku mematung di ambang pintu. Air mata merbak begitu saja. Dan jantungku terasa berhenti berdetak, mungkin aku akan mati.

Aku mengamati tubuh Yungsaeng yang tergeletak tak bernyawa di atas ranjang. Tangan kananya tergeletak di samping ranjang dengan tetesan tetesan darah terakhir. sementara ubin lantai telah digenangi darah. Wajahnya pucat, saking pucatnya aku sampai tidak mengenalinya.

“Arrgghhh.. Jung Yunsaeng!” pekikku keras dengan suara bergetar begitu aku tersadar. Aku segera berlari memeluk tubuh adikku dengan sangat erat, mengabaikan kaos putihku yang telah berubah warna menjadi merah, aku tak ingin kehilangan dirinya. Tuhan, aku sungguh ingin menjaganya.

Aku menangis dengan keras, terisak dan berteriak teriak memanggil nama ayah, ibu, dan Yungsaeng. Tubuhku menggigil. Aku benar benar ketakutan. Kenapa kalian meninggalkanku sendiri. Kenapa aku selalu gagal melindungi orang yang kulindungi. Rasanya aku benar benar sudah frustasi, rasanya aku ingin mati saja.

“Yungsaeng, Yungsaeng, Yungsaeng,” aku semakin mengeratkan pelukanku dan terus terisak di lehernya yang telah kaku. “Kenapa kau tidak menungguku,”

Aku meletakkan tubuh Yungsaeng perlahan, meletakkan kepalanya di atas bantal. Aku mengelus pipinya yang terasa dingin lantas kurapikan rambutnya. Dia terlihat sangat manis. Aku tersenyum, dan setiap kali aku menarik senyuman karena memuji kecantikan Yungsaeng, maka setetes air mata akan jatuh. Dan itu terasa menyakitkan. Membuatku sangat sesak.

Aku meraih sebuah kertas dalam dekapan Yungsaeng, mengambilnya pelan pelan seolah takut membangunkan Yungsaeng yang engah tidur dengan nyenyaknya. Aku membuka kertas itu dan mulai membacanya.

Hyung,
Aku merasa akan kehilanganmu, dan rasanya aku sangat takut. Takut sekali. Rasanya aku ingin selalu ada di sampingmu, tapi aku berada dalam pilihan yang sulit.
Hyung, seharusnya aku mendengarmu untuk tidak berdekatan dengan Hyunjoong, tapi sayangnya aku mencintainya. Hyung, Hyunjoong tidak mau menerimaku, apakah aku terlalu buruk untuknya. Hyung, aku tidak bisa menjalani semua ini, aku tidak bisa, aku terlalu takut menerima kenyataan. Aku tidak mau menggungurkan bayi ini, tapi aku juga tidak bisa membesarkannya sendiri. Aku takut Hyung, kau dimana Hyung tolong aku. Aku sangat takut.
Hyung aku mau pergi saja, aku mau bertemu Appa dan Eomma, mungkin disana aku akan merasa aman, mungkin disana Eomma dan Appa tahu apabyang harus kulakukan.
Hyung, terimakasih dan maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Jangan menangis, Hyung. Aku mencintaimu.
Jung Yungsaeng.

“Kenapa tidak menungguku? Kenapa meninggalkanku? Aku akan menjagamu, aku akan membantumu menjaga anak itu, Kenapa kau membuat keputusan seperti itu?”

Tubuhku merisit kelantai yang dipenuhi darah. Tubuhku menggigil. Gigiku bergemelatukm Aku memeluk kedua lututku dan menenggelamkan kepalaku du sana. Rasanya tubuhku dingin. Aku menggigiti jari jari tanganku sendiri untuk mengurangi gemelatuk gigiku, sesekali aku memukul mukul lantai dan pahaku. Aku takut, aku benar benar takut. Aku kehilangan. Dan itu sangat menakutkan.

Eomma, Appa, Yungsaeng. apa yang harus kulakukan sekarang.
Tuhan, kenapa takdir begitu kejam padaku?
Tuhan, tolong aku.

“Kau harus merasakan apa yang kurasakan Joong!”

OOO

Aku mengurung diri di dalam rumah selama berhari hari. Setelah pengkremasian Yunseong aku tidak keluar rumah, bahkan darah di kamar pun belum ku bersihkan. Aku ingin mengenang Yungseong selama yang aku bisa. Aku ingin menenangkan diri.

Televisi, radio, kipas angin, semuanya kunyalakan hanya sekadar untuk meramaikan rumah yang terasa seperti gua. Aku merasa tubuhku melayang, bahkan rasanya aku hampir tidak bisa bernafas.

Aku mendongakan kepala untuk menatap televisi ketika telingaku mendengar nama Kim disebut.

“Putra bungsu keluarga Kim baru saja sampai di Seoul sekira pukul tujuh pagi hari. Ini adalah kedatangan pertamanya setelah sekitar tiga tahun tinggal di Jepang untuk mengenyam pendidikan. Kim Jaejoong di jemput oleh keluarga besarnya di bandara internasional Incheon dengan pengawalan ketat, mengingat ayahnya Kim Kyumin adalah pengusaha besar di bidang batu bara,”

Aku menyeringai mendengar berita tersebut. Lantas aku merasa tenang. “I got you!”

TBC

Maaf kali ada typos ini udah berusaha banget. dan maaf kali kecepetan alurnya soalnya biar yunjaenya cepet muncul. please tinggalin jejak.

5 thoughts on “IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 1

  1. yayy! first chap…

    gpp~, aku jg pengen yunjae sgera bertemu.🙂
    ugh~ hyunjoong!! kau akan dpt blasannya nnti! ><
    yunpa kasian banget sih… disakiti sm sahabtnya sendiri dan harus ditinggal mati saeng tercintanya… poor yunpa~!😦
    berarti chap depan dan selanjutnya bakal jaema merana, huwee~
    i hope its still happy end!🙂

    nice!! ^^

  2. akh. kecian bgt yunpa. T.T itu si hyunjoong siniin aja biar aku jambak rambutnya ampe botak. gedeg deh! /pasang muka serem/
    ngak kecepetan kok, aku nunggu yunjae momentnya aja.😀

  3. Joong jahat banget adiknya yunpa digituin😥 sampe bunuh diri kan tuhhh~
    Appa jangan sedih2 yaa kan ada aku *plak* ehh maksudnya ada umma~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s