MY PERFECT BOYFRIEND/ YUNJAE/ CHAPTER 2


Created by Amee

Chapter 2 – Make me crazy

.

.

Aku Kim Jaejoong, laki-laki yatim piatu berusia 18 tahun, yang harus menanggung hutang sebanyak sembilan ratus ribu won karena kebodohanku sendiri. Aku bersekolah dengan beasiswa, dan menyewa sebuah apartemen sederhana yang kubayar setiap bulannya dari gaji part timeku di sebuah kedai ramyun.

.

 

Aku tidak benar-benar bisa tertidur malam ini, ketika embusan angin menggesek dedaunan, dan lampu-lampu mulai dimatikan, aku masih terjaga. Mungkin mataku terpejam, namun aku tak benar-benar terlelap.

 

“Kenapa aku bermimpi sangat panjang hari ini?” kataku pada diri sendiri, setelah membuka mata.

 

“Kau sudah bangun, sayang? Mau aku buatkan susu hangat?” katanya sambil tersenyum padaku. Dia… dia yang selalui menghantui mimpiku, sejak kapan ada di hadapanku, aku tidak merasakan kedatangannya.

Aku membelalakan mataku ketika wajahnya sudah sangat dekat denganku, kupukul keras dadanya, dan kurasakan buku-buku jariku hancur, rasanya sakit. Dia keras, kuat, dingin—

 

“Woaa… lucifer!” pekikku, hingga terguling dari ranjang, namun tak kurasakan sakit ketika seharusnya kepalaku terantuk lantai. Kudongakkan kepakaku, dan aku tersengat listrik ketika kembali menatap wajahnya yang dihiasi senyuman, dia menahan tubuhku.

 

—dan dia cepat.

 

Setelah terpaku selama beberapa menit dalam dekapannya, aku menyadari sesuatu. Aku menatapnya sekilas lantas berteriak-teriak frustasi. Aku terlibat hutang dengan orang tak dikenal sebanyak sembilan ratus ribu won dan ini salahnya.

 

Kudorong tubuhnya meski tak bergeser, aku tak yakin namun kukira ada paku di bawah kakinya yang terhubung ke lantai sehingga ia tidak bergerak ketika kudorong dengan kerasnya. Aku beranjak dari dekapannya, berlari-lari mengitari apartemen kecilku, lantas mengumpulkan semua barang yang kuyakin bisa memperpanjang hidupku. Celengan gajah, bantal, rekening tabungan, hingga semua celana jeans kukumpulkan di atas lantai.

 

Aku menarik nafas panjang setelah semua barang itu bertumpuk di hadapanku. Kurasakan Yunho mengamatiku di belakang, sepertinya dia sedang menggerak-gerakkan kepalanya karena aku mendengar bunyi decit-decitan aneh. Dan bulu kudukku meremang.

 

Aku memecahkan celenganku, mengeluarkan semua isi bantalku, dan merongoh setiap saku celana jeans. Hasilnya 287.900 won setelah ditambah nominal dalam rekening tabunganku. Tuhan, bahkan itu tidak mencapai seperempat dari hutangku. Itu untuk kelangsungan hidupku selama beberapa bulan kedepan. Aku mendengus.

 

Aku membalikan tubuhku, dan kulihat Yunho sedang tersenyum padaku, rasanya aku hampir gila. Ini adalah ulang tahun terburuk yang pernah kulewati. Setelah berharap mendapat seorang kekasih, justru yang hadir ke hadapanku adalah robot mesum yang aneh bergender laki-laki, dan dengan kejamnya aku terlibat hutang dengan nominal yang sangat besar.

 

Kulirik jam dinding, dua menit lagi tepat pukul tiga pagi. Udara terasa dingin menusuk ke dalam tulang, kurasakan tubuhku menggigil. Aku tidak mengerti, namun kutebak ada suatu sensor dalam tubuh Yunho, karena tanpa kusadari, Yunho sudah berada di hadapanku.

 

“Kau kedinginan,” katanya. Dia membuka kaos yang digunakannya lantas menyodorkannya padaku. “Apa masih kedinginan?” tanyanya, sambil mencoba membuka celananya. Oh Tuhan, dia benar-benar robot gagal.

 

“Aku bisa menggunakan jaket,” kataku lantas beranjak. “Berhentilah melakukan hal konyol semacam itu Jung Yunho. Kau membuatku hampir gila, kehadiranmu membuatku terlibat hutang sangat banyak. Dan aku tidak punya uang,” rasanya aku ingin menangis.

 

“Kau membutuhkan uang?” tanyanya.

 

“Ya, sangat. Aku sangat membutuhkan uang, uang yang banyak. Andai aku bisa mengembalikanmu, aku tak perlu membuang uangku sebanyak itu. Kenapa kau begitu bodoh, Kim Jaejoong. Kau mengerti apa yang kukatakan?” aku membalikan tubuhku dan tak menemukannya di sana. “Yunho?”

 

Aku tak menemukannya di manapun, aku pikir dia sudah pergi, karena pintu apartemenku terbuka. Ya, begitu saja, pergilah yang jauh, tidak perlu kembali lagi. Aku mengeram frustasi.

 

Aku menjatuhkan tubuhku di atas lantai, kutatap langit-langit apartemenku yang terasa sangat jauh, coba kugapai namun tak bisa. Kenapa Tuhan senang sekali mempermainkan hidupku. Jung Yunho, meskipun dia pergi aku tetap harus membayar hutangku, tidak ada yang berubah. Tapi setidaknya, aku tak perlu lagi melihat kelakuan anehnya di sekelilingku.

 

Satu hari yang lalu, kamar apartemen ini masih tenang, dan pukul tiga dini hari seperti ini biasanya aku masih terlelap dengan nyamannya di balik selimut, dan kali ini justru aku tak bisa memejamkan mataku meski sebentar saja.

 

Sial, semua yang sudah terjadi tidak bisa berulang kembali. Aku ingin menangis, sungguh. Jika eomma ada di sin, apa yang akan ia katakan padaku, apa yang akan ia lakukan untuk menolongku.

 

“Aku membawa uang untuk kekasihku,” kata Yunho.

 

“Wooaa…” aku berteriak frustasi ketika kusadari Yunho sudah berada di atas tubuhku. Aku mencengkram dadaku kuat-kuat, sepertinya aku akan mati muda, karena selalu mendapat serangan jantung.

 

Yunho meraih tanganku, lantas menaruh sebuah dompet coklat di telapak tanganku. Aku membukanya lantas langsung membelalakan mata. Kau tidak akan percaya bahwa isinya sangat banyak, aku tidak pernah melihat uang sebanyak itu sebelumnya.

 

“Uang untuk Jaehyunie,” katanya sambil mengangguk.

 

“Jung Yunho bodoh! Kenapa kau mencurinya, kenapa kau mengambil uang orang lain, aku tidak pernah memintamu mencurinya. Ya Tuhan maafkan aku, aku tidak bermaksud mencuri uang, salahkan saja robot aneh yang selalu mengganggu hidupku ini. Cepat kembalikan!” teriakku sambil melemparkan semua barang yang dapat kuraih ke arahnya. Dan setelah merasa lelah, aku tertidur.

 

XXX

 

Hal pertama yang kusadari ketika aku membuka mataku adalah seberkas cahaya yang masuk lewat celah gorden dan mengenai mataku. Aku mengerjap-ngerjap beberapa kali, hingga mulai terbiasa.

 

Aku menggeliat, dan kusadari bahwa aku tertidur di atas ranjang. Aku menghela nafas, aku mulai terbiasa dengan keberadaannya, sepertinya keberadaan Yunho terkadang cukup bermanfaat bagiku.

 

Sesuatu yang aneh kusadari ketika melihat keluar jendela, dan matahari terlalu terang untuk pkul enam pagi. Pintu terbuka, dan kudapati Yunho masuk ke dalam kamar dengan nampan berisi roti bakar dan segelas susu.

“Selamat pagi, aku sudah menyiapkan sarapanmu,” dia tersenyum padaku. Aku merasa sangat terharu, aku mengakui itu, entah kapan terakhir kali seseorang menyiapkan sarapan untukkku. Aku tidak pernah benar-benar hidup dengan seseorang.

 

“Jam berapa sekarang,” tanyaku.

 

“Jam tujuh lewat tiga belas menit empat puluh delapan detik,” jawab Yunho.

 

“Yaa Jung Yunho, kenapa kau tidak membangunkanku?” pekikku lantas segera berganti baju tanpa sempat berpikir untuk mandi. Aku membuka piyamaku, dan kurasakan hawa yang aneh karena tanpa kusadari Yunho telah berada di sampingku dengan keadaan telanjang.

 

“Mau melakukannya sekarang?” tanyanya.

 

“Woaaa.. keluar dari kamarku sekarang!” aku menendangnya dengan keras hingga Yunho tersungkur. “Jangan coba-coba mendekatiku atau aku akan membunuhmu!”

 

Setelah berpakaian rapi—tanpa mandi— aku menggigit ujung roti dan memakai sepatu asal, aku segera berlari keluar. Setelah membuka pintu, kurasakan tubuhku melayang.

 

Yunho memiringkan kepalanya hinga aku dapat mendengar bunyi berderit yang khas. “Aku akan mengantar Jae ke sekolah,” kata Yunho.

 

Dan seperti ninja, Yunho membawaku dalam pangkuannya. Ia melompat lompat di atas atap yang berjejeran. Aku tidak mengerti bagaimana kakinya yang hampir sama panjang dengan kakiku dapat melompati dua atap yang berjauhan. Aku mengeratkan cengkramanku pada dadanya, sesekali mengintip wajahnya, sesungguhnya dia benar-benar tampan, sempurna.

 

Aku merasa hampir mati dengan nafas terputus-putus ketika Yunho menurunkanku di depan gerbang sekolah. Dia melirikku sekilas lantas tersenyum, senyuman andalannya yang selalu membuatku tersengat listrik tanpa alasan.

 

“Aku akan menunggumu, aku menyayangimu,” katanya, lantas mengecup pipiku. Rasanya hangat meski tubuhnya dingin. Kusentuh bekas ciumannya, aku belum pernah merasakan ini sebelumnya, meski kutahu ini tidak nyata karena Yunho memang telah disetting untuk berlaku seperti itu.

 

Aku mengangguk lantas berbalik dan berjalan menuju kelas tanpa menjawab apapun. Dan tanpa kusadari, sesuatu yang penting mulai tumbuh.

 

XXX

 

“Kau tampak tidak bersemangat, tersenyumlah sedikit, kau tampak tidak enak dilihat.”

 

Aku berhenti mengetuk-ketukan pensilku lantas menoleh ke samping, dan kudapati Changmin sedang tersenyum padaku. Aku tidak mengerti, bagaimana bisa dari begitu banyak siswa di kelas ini, Changminlah satu-satunya yang dekat denganku, bukan berarti siswa yang lain menjauhiku, hanya saja kami sangat dekat. Changmin adalah siswa populer, baik, pintar, dan kaya. Alasan apa yang membuatnya memilih untuk dekat denganku? Aku tidak mengerti.

 

“Pelajaran kimia membuatku hampir gila,” jawabku tenang dan Changmin hanya terkikik.

 

“Nikmatilah sedikit, materi ini sangat penting,” katanya.

 

Pembawaan Changmin selalu tenang, dan aku menyukainya. Aku selalu belajar banyak hal darinya, dan hal lainnya yang membuatku nyaman adalah karena Changmin selalu mau membantuku.

 

Aku menguap lebar, lantas kuputuskan untuk melihat keluar. Membosankan adalah ketika kau memerhatikan Lee songsaenim dan kau tidak mengerti apa yang ia jelaskan. Jangan salahkan aku jika aku tidak mengerti apa yang ia jelaskan, Lee songsaenim selalu menerangkan dengan gaya yang tidak menyenangkan, aku pikir ia lebih terlihat seperti bicara pada dirinya sendiri daripada menjelaskan pada murid-muridnya.

 

“Ya Jung Yunho, apa yang sedang kau lakukan di sana?” pekikku keras, hingga kurasakan semua mata tertuju padaku. Aku mendapati Yunho tengah berdiri di tepi jendela dan melambaikan flying kiss ke arahku. Astaga, apa ia sudah gila ini lantai tiga.

 

“Ya Kim Jaejoong kenapa kau berteriak?” tanya Lee songsaenim, ia menatapku tajam dengan pandangan tidak suka.

 

Aku menundukan kepalaku dalam-dalam, dan melirik pada Changmin sebelum aku menjawab, yang hanya dibalas Changmin dengan gelengan. “Maaf, tapi disana..”

 

“Ya, di sana ada apa?” sela Lee songsaenim.

 

Aku menoleh dan Yunho sudah tidak ada di sana. Ya Tuhan, kehadiran Yunho di sekitarku berdampak sangat buruk sampai-sampai aku membayangkannya berdiri di tepi jendela dengan cengirannya. Aku memukul-mukul kepalaku sendiri saking frustasi.

 

Di sampingku, Changmin mengamatiku dengan bingung, sesekali ia menghela napas panjang, aku tahu bahwa ia mengkhawatirkanku.

 

“Mr. Kim, silakan kerjaan soal nomor dua,”

 

Dan duniaku tiba-tiba runtuh. Apa yang harus kulakukan ketika berhadapan dengan singa sepertinya, bahkan aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang ia jelaskan. Aku melirik pada Changmin, dan ia mengangguk paham.

 

“Baca gerakan mulutku, aku akan membantumu,” kata Changmin, dan aku mengangguk.

 

Dengan gerakan kaku seperti robot aku maju ke depan. Ku tekan keras-keras kapur pada board sampai kurasakan kapur itu patah. Aku melirik pada Changmin mencoba membaca gerakan mulutnya tapi tidak bisa, aku sama sekali tidak mengerti. Dan ketika itu kembali kulihat Yunho berdeiri di tepi jendela, dia tersenyum ke arahku, lantas mendekatkan bibirnya pada kaca seolah tengah mencium. Dengan spidol hitam, ia menuliskan sesauatu di kaca, yang kemudian kusadari bahwa itu adalah jawabannya.

 

Terimakasih.

 

TBC.

 

NB : Changmin itu kece!!! Voldamin zone, yeah! haha/ teriak teriak gaje/

4 thoughts on “MY PERFECT BOYFRIEND/ YUNJAE/ CHAPTER 2

  1. waaa… yunho romantis… ya meskipun.agak pabo dikit plaaakkkkkxxxDD ditampar jaema.. hmm rasa apa tu yang tumbuh?
    next gmn ya robot yunho meluluhkan hati kim jaejoong??

  2. kyaaa yunho so sweet bgt.. meski rada” aneh.. ky’y yunho bnr” perfect mpe jwb prtnyaan jg bsa.. hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s