MY PERFECT BOYFRIEND/ YUNJAE/ CHAPTER 3


Created by Amee

Chapter 3 – You’re Mine

WARNING!!!

.

Ini terinspirasi dari zettai kareshi tapi plot mulai chapter ini sampe akhir punya gue

.

Aku Kim Jaejoong, laki-laki yatim piatu berusia 18 tahun, yang harus menanggung hutang sebanyak sembilan ratus ribu won karena kebodohanku sendiri. Aku bersekolah dengan beasiswa, dan menyewa sebuah apartemen sederhana yang kubayar setiap bulannya dari gaji part timeku di sebuah kedai ramyun.

.

.

Aku duduk bersandar di bawah pohon cherry di belakang sekolah, sesekali kelopak bunga yang berguguran jatuh di atas kepalaku, dan aku hanya tersenyum menyadarinya. Aku meraih kelopak bunga itu, kemudian mengamatinya dan berakhir dengan sebuah tiupan yang membuat kelopak itu terbang. Aku kembali tertawa, bodoh, atau memang aku yang terlalu kekanak-kanakkan? Pikirku. Dan hal itu sukses membuat tawaku terdengar semakin keras.

 

Cukup, sepertinya tertawa berlebihan tidak terlalu bagus untuk kesehatan perutmu, sekarang kembali fokus. Aku mencoba memposisikan tubuhku, mencoba mencari posisi ternyaman yang diharapkan, dan aku mendapatkannya.

 

Dahiku berkerut saat membaca selembar kertas dalam genggamanku. Sepuluh hal terbaik yang aku inginkan dalam hidupku, oleh Kim Jaejoong.

 

Dibawahnya dengan tulisan tangan terbaik aku menulis :

 

1. Orang tersukses di dunia, sehingga selalu dielu-elukan oleh banyak orang.

 

2. Populer, tampan, dengan tinggi minimal 1,75 meter (yang jelas jangan terlalu pendek jika dibandingkan Changmin dan lebih tinggi dari para gadis).

 

Aku terdiam sejenak. Meletakan tanganku yang terbuka di atas kepalaku, seolah tengah mengukur-ngukur. Kenapa aku sangat mungil? Atau Changmin yang terlalu tinggi? Aku tidak tahu. Tinggiku hampir sama dengan gadis-gadis di sekolah, meskipun aku menang beberapa senti. Menarik nafas panjang kemudian kembali berkutat.

 

3. Banyak disukai oleh para gadis dan diberi banyak coklat saat hari valentine.

 

4. Menciptakan sesuatu yang mampu dimanfaatkan oleh seluruh umat manusia, sesuatu yang hebat, canggih, dan mewah.

 

5. Pembawa acara televisi, penyanyi, gitaris, pianis, atau aktor terkenal (yang penting terkenal).

 

6. Menjadi diri sendiri, bebas melakukan semua yang aku suka tanpa diawasi terus menerus oleh guru-guru dan makluk aneh yang menggangguku akhir-akhir ini.

 

7. Menjadi pemain base ball terkenal. Pemain untama, bukan pemain cadangan.

 

8. Lebih kuat dari Changmin dan teman-temanku yang lain (ini tidak terlalu berlebihan kan?).

 

Aku berhenti menulis sambil menggigiti ujung bolpoin. Samar-samar terdengar bunyi angin yang menyentuh dedaunan kering, diikuti bunyi siulan sepasang burung yang saling menyahut terkesan begitu romantis. Aku mendongakkan kepala, mataku yang besar dan hitam menatap tajam dari bawah rambut auburn lurus yang membingkai wajah putihku. Aku tersenyum setelahnya dan mulai menulis lagi.

 

9. Kalaupun harus mati, aku ingin mati dengan cara yang terhormat dan setelah itu menjadi malaikat di surga.

 

10. …

 

Aku berhenti di nomor sepuluh, dan hanya menorehkan titik-titik di sana. Lebih baik membiarkannya kosong, mungkin nanti ide yang brilian akan menghampiriku, dan ternilai cukup menarik untuk aku torehkan di sana.

Aku membaca ulang tulisanku sambil mengetuk-ngetukan ujung bolpoin pada puncak kepalaku, lalu mengambil selembar kertas baru. Tidak ingin membuang-buang banyak waktu, kali ini dengan lebih cepat aku menulis.

 

Sepuluh hal yang tidak aku inginkan :

 

1. Menjadi miskin dan terus hidup miskin. (Aku harus kaya, setidaknya aku punya satu juta won, sembilan ratus ribu won untuk membayar hutang, dan sisanya untuk aku makan)

 

2. Menjadi dokter, karena aku sangat takut pada darah.

 

3. Menikah dengan perempuan yang cerewet, apalagi dengan laki-laki (kenapa aku selalu ingat padanya)

 

4. Menjadi bahan olokan selamanya.

 

5. Berjerawat.

 

6. Bangun pagi dan mendapati makluk itu di kamarku.

 

7. Pergi sekolah. Kenapa harus ada sekolah?

 

8. Menjadi lemah, lebih lemah dari perempuan.

 

9. Harus berpura-pura menjadi sosok orang lain.

 

10. Mati.

 

Dari kejauhan, aku melihat Changmin berjalan mendekat. Dalam bayanganku, Changmin akan datang menghampiriku, memberikan senyuman termanisnya, dan dalam sekejap ketentramanku akan hilang.

Sebelum bayangan itu menjadi kenyataan, tanganku buru-buru mengambil map untuk menyembunyikan semuanya. Belum sempat kumasukkan kertas-kertas itu ke dalam map, mendadak aku menangkap Changmin telah berdiri di hadapanku.

 

Aku tersentak kaget, namun cepat-cepat aku berusaha menguasai diri. Dengan segera aku berusaha menyembunyikan kertas-kertas itu di balik punggungku, namun Changmin menyergap ke depan dan merebutnya secepat kilat.

 

“Rencana rahasia apa ini?” Changmin melebarkan senyumannya, aku tahu ini bukanlah pertanda yang bagus.

 

“Kembalikan itu padaku!”

 

Aku melompat bangun, berusaha merebut kembali lembaran-lembaran kertas itu. Namun Changmin mengangkatnya ke atas, dan aku tidak bisa mengambilnya, karena dia sangat tinggi.

 

Aku hanya menunggu, menatap Changmin yang memunggungiku. Aku tahu, wajahku pasti sudah berubah warna menjadi semerah kepiting rebus. Sebentar lagi, Changmin pasti akan mengejekku habis-habisan seperti biasa.

“Pemain base ball terbaik? Kau?” Changmin menunjukan cengiran lima sentinya. “Dengan kedua kaki pendekmu itu? Aku bisa membayangkan, kau sedang berlari mengejar bola dalam ajang piala dunia. Oh tidak, ternyata meleset saudara-saudara! Dan kau? Menjadi aktor yang disukai para gadis? Sepertinya kau baru saja terbentur aspal, Jaennie,” Changmin terkikik geli.

 

Aku menelan ludah. Tidak ada gunanya berkelahi dengan Changmin, hanya membuang-buang stok energi dalam jumlah besar. Hal terbaik yang bisa kulakukan adalah berpura-pura tidak memperdulikannya.

 

“Tenang saja,” ujarku sedatar-datarnya. “Kau tahu Cangmin-ah, iri adalah perasaan yang saaangat alami. Kalau nanti aku sudah terkenal di seluruh dunia, aku akan bersikap baik padamu. Aku tidak akan mendendam padamu, meski apapun yang sudah kau katakan. Tidak juga tentang leluconmu pada kakiku, yang menurutku tidak lucu, karena aku bisa memasukkan bola ke gawang kapanpun aku suka,”

 

“Maafkan aku, tadi itu hanya bercanda.” Changmin menunjukkan seringaiannya.

 

“Pergilah, bukankah ini jadwalmu bermain sepak bola,” kataku.

 

“Kau benar. Aku harus pergi,” dia pergi setelah mengecup pipi kiriku. Itu hal biasa, Changmin bilang itu bentuk persahabatan.

 

Ketika Changmin sudah menghilang dari hadapanku, aku berpikir, kenapa aku hafal jadwalnya, seperti managernya saja. Aku sering mendengar gosip tentang Changmin, mereka bilang bawa Changmin itu gay, dan ia mendekatiku karena dia menyukaiku. Tapi aku tidak peduli, karena Changmin pun tampak tidak peduli dengan pemberitaan itu. Lagipula aku sering melihat Changmin mencium wanita, dan dia sangat populer di antara para gadis. Apa itu yang disebut gay?

 

Setelah duduk diam beberapa menit, kuputuskan untuk kembali ke kelas. Saat aku memasuki kelas, aku mendengar sesuatu.

 

“Ayo ke lapangan, Changmin baru saja ditantang duel oleh seseorang. Sepertinya dia murid baru karena aku baru melihatnya, tapi dia memakai seragam yang sama dengan kita,” kata seorang gadis.

 

“Benarkah? Apa ia tampan?”

 

“Ya, dia sangat tampan, dia keren sekali, Changmin sepertinya akan mendapat saingan berat, ayo cepat!” dan kedua gadis itu segera pergi.

 

Mau tidak mau aku jadi penasaran juga. Setelah menaruh map di atas meja, dan membereskan tas, aku segara turun menuju lapangan. Begitu sampai di sana, aku mendengar para gadis berteriak isteris, menyerukan nama Changmin dan Yunho bergantian, saling bersahutan.

 

Baiklah, jadi anak baru itu bernama Yunho. Aku mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya aku menyadari sesuatu.

 

“Hah? Yunho? Maksudnya Jung Yunho?” pekikku keras.

 

“Ya, Jung Yunho. Dan bisakah kau tidak berteriak-teriak di dekat telingaku?” seru Jessica yang berada di sampingku.

 

“Maafkan aku,” aku membungkukkan badan, lantas berusaha untuk masuk ke dalam kerubunan untuk berdiri paling depan.

 

Ketika aku sudah berada di barisan paling depan, aku dapat melihat dengan jelas Yunho dan Changmin tengah berdiri berhadapak sementara bola di tengah memisahkan mereka. Semoga saja Changmin tidak apa-apa, semoga saja tidak ada kontak fisik. Kenapa aku berdoa seperti itu, tentu saja karena aku ingat bahwa Yunho sangat ‘keras’.

 

“Jaejoongnie?” teriak Yunho sambil melambai-lambaikan tangannya padaku. “Aku mencintaimu,” dan dia memberiku sebuak flying kiss. Kurasakan bulu kudukku meremang karena aura gelap dan tatapan tajam dari orang-orang di sekelilingku. Aku melirik pada Changmin yang menatapku sambil mengarahkan telunjuknya pada Yunho. ‘Kau mengenalnya?’ begitu kira-kira maksudnya. Dan aku menggeleng.

 

Setelah cukup lama terdiam, ketika penonton mulai kembali bersorak dengan liarnya, akhirnya pertandingan dimulai. Aku sudah mengakui kemampuan Changmin, tapi skill Yunho sepertinya mampu menandingi Changmin. Aku lupa bahwa ia adalah robot, astaga.

 

Aku mengamati Changmin yang sudah bercucuran keringat, sementara wajah Yunho masih bersih sempurna. Tentu saja karena ia tidak akan berkeringat. Sejak tadi Yunho terus saja tersenyum dan para gadis akan langsung berteriak-teriak kesetanan, dan entah kenapa itu membuatku sedikit kesal.

 

Rambut hitam Yunho berkibar tertiup angin, dan sepertinya itu membuatnya semakin tampan. Sementara seragamnya—entah ia dapat dari mana—karena seukuran dengan tubuhnya membuat abs dan ototnya tampak, terutama ketika ia sedikit meloncat dan seragamnya terangkat. Itu sangat sexy. Astaga apa yang kau pikirkan Kim Jaejoong. Aku menepuk-nepuk jidat, mengingat kebodohan yang baru saja kupikirkan.

 

“Jaejoongnie, lihat aku!” teriak Yunho tepat ketika aku sedang memerhatikan Changmin. “Jae itu milikku, tidak ada yang boleh menyentuhnya!” pekiknya lantas menendang bola dengan sangat keras. Kenapa ku katakan sangat keras? Karena bola itu melesat dengan sangat cepat, mengenai jidat Changmin hingga ia terjatuh dan pingsan, lantas masuk ke dalam gawang, ralat, maksudku menembus gawang, karena bola itu sudah berasil merobek jaring gawang. Dan semua orang bersorak, memekik keras.

 

Aku segera berlari menuju tengah lapangan, lantas mendekati Changmin. Kusentuh wajahnya, dan kulihat memar yang sangat parah di jidat kirinya. Astaga ini keterlaluan. Aku berusaha mengangkat Changmin, namun kurasakan tubuhku diangkat lebih dulu.

 

“Jaejoongie itu kekasihku,” dan Yunho membawaku pergi. Changmin, maafkan aku, aku bukan sahabat yang baik. Sadarlah dengan cepat, dan aku akan langsung meminta maaf.

 

XXX

 

Aku duduk di pojokan kamar. Aku memeluk kedua kakiku, sementara wajahku kusembunyikan di antara kedua lututku. Sementara Yunho sedang berlutut di hadapanku, menyentuh-nyentuhku dengan telunjuknya, namun aku mengabaikannya.

 

“Jae mau aku bikinkan coklat hangat? Es krim?” tanya Yunho namun aku tak menjawabnya. “Jae sedang marah padaku?”

 

“Kau sudah tahu jawabannya, untuk apa bertanya lagi?” pekikku.

 

“Kalau begitu maafkan aku. Jadi sekarang Jae mau apa? Coklat hangat? Es krim? Atau mau berhubungan sex denganku sekarang?”

 

“Kau membuatku gila. Jung Yunho!” tuduku lantas beranjak. Aku selalu merasa malu jika dia mengatakan hal itu. Sial. Dia benar-benar sial.

 

Yunho memeluk tubuhku dari belakang dengan sangat lembut, aku terbuai hingga aku melupakan bahwa tubuhnya dingin. Ia membalikkan tubuku perlahan lantas mentapku, mendekatkan wajahnya padaku, dekan dan menjadi sangat dekat. Hingga ketika hanya tinggal beberapa mili aku mendorong tubuhnya dengan kuat.

“Kau keras,” kataku.

 

Yunho tersenyum memamerkan seringaiannya. “Beberapa bagian tubuku tidak keras. Mau membuktikannya?” dia meraih tanganku dan menyentuhkannya pada bibir dan lidahnya. Itu lembut, tidak keras sama sekali.

 

Dan saat itu, dengan kegilaan yang telah mencapai puncak, Yunho menciumku, dan aku membalasnya. Aku mengalungkan tanganku ke lehernya, dan kami saling melumat. Kau bole mengatakan bahwa aku bodoh, karena aku belum perna berciuman sebelumnya. Yunho mendominasi, dan krasakan sensasinya, betapa ini sangat lembut dan membuatku ketagihan. Ketika aku merasa mulai sesak, aku mendorong tubu Yunho agar melepaskan pagutannya. Ketika ciuman kamu terlepas, ada benang saliva tipis yang menyambungkan kami. Aku tidak tau apakah itu saliva kami atau hanya milikku saja.

 

Aku menatapnya dan betapa ia sangat tampan. Jung Yunho aku mencintaimu! Astaga, apa yang baru saja aku katakan? Baiklah lupakan itu.

 

“Mau melakukannya sekarang?” tanya Yunho. Sebelum aku sempat menjawab Yunho telah membawaku ke tempat tidur. Aku memejamkan mata bebrapa detik ketika kurasakan jantungku hampir saja meledak, dan ketika aku membuka mata. Yunho telah berada di atas tubuhku dalam keadaan telanjang sempurna. “Ayo kita lakukan,” senyumnya.

 

“Woaaaa… Kau gila!” teriakku.

 

Aku mendorong tubuhnya, lantas menjau, dan berdiri menghadap jendela besar, lantas diam di sana.

 

“Just come with me,” kata Yunho.

 

“Should I?” jawabku malas.

 

Sayangnya, ketika aku tengah mengamati dua ekor kupu-kupu yang saling berkejaran di luar sana, aku dikejutkan ole Yunho, ia menyentu penisku dan meremasnya.

 

“Aaah,” kataku lantas memejamkan mata sambil menahat tangan Yunho. “Apa yang sedang kau pegang, pervert?” pekikku dengan wajah yang memerah.

 

Dapat kurasakan dinginnya tangan Yunho ketika tangannya menyelinap ke balik bajuku.. Aku mendesah pelan. Merasakan bulu kudukku berdiri karena merinding akan sentuhannya. Aku benci mengakuinya, tapi ini terasa… baik,

 

“Don’t you like it?”Yunho berbisik dengan gaya yang seduktif di telingaku.

 

Aku melirik ke arahnya,melihat wajahnya, saat itu aku tersadar lantas berteriak dengan kencang. “Kau gila! Maniak! Otak mesum!” dan Yunho segera naik ke atas ranjang. Menyelimuti tubuhnya dari kepala hingga kaki. Dan aku tidak peduli.

 

TBC

3 thoughts on “MY PERFECT BOYFRIEND/ YUNJAE/ CHAPTER 3

  1. uwaaaaaaaaa….
    astaga yunho?? bener2 perfect boyfriend dech…… jaema jadi jantungan ntr kaget melulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s