MY PERFECT BOYFRIEND/ YUNJAE/ CHAPTER 4


Created by Amee

Chapter 4 – Whether robot have feelings?

.

.

Aku Kim Jaejoong, laki-laki yatim piatu berusia 18 tahun, yang harus menanggung hutang sebanyak sembilan ratus ribu won karena kebodohanku sendiri. Aku bersekolah dengan beasiswa, dan menyewa sebuah apartemen sederhana yang kubayar setiap bulannya dari gaji part timeku di sebuah kedai ramyun.

.

.

Berkali-kali kulirik jam tangan yang kukenakan. Aku tidak salah, ini baru pukul tujuh, tapi kenapa hawanya begitu panas? Aku merasa setiap langkahku diamati beratus-ratus pasang mata, membuatku ingin mencara katana untuk melakukan harakiri—merobek perut— agar aku mati saat itu juga.

 

Entah sejak kapan halaman sekolahku menjadi sangat luas, sehingga aku tak kunjung sampai di kelasku. Berkali-kali aku memastikan tidak ada yang salah dengan penampilanku. Lalu kenapa orang-orang menatapku seperti itu? Tuhan, cobaan apa lagi yang sedang kau berikan padaku? Hutangku saja belum lunas, jadi kumohon jangan buat aku semakin tertekan dengan pandangan-pandangan buas itu. Aku bergumam tidak jelas.

 

“Joongiee, kau lelah? Aku bisa menggendongmu sampai kelas,” tawar Yunho.

 

Yunho? Aku menyebut Yunho tadi? Segera kutolehkan kepala ke samping dan kudapati robot tampan itu sedang tersenyum memamerkan lesung pipinya. Dia menggunakan seragam yang sama denganku, mengiringi langkahku, dan membawakan tasku. Astaga, aku tahu sekarang kenapa orang-orang memandangiku dengan tatapan garang, terutama para gadis yang terus berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahku.

 

Aku memandangi Yunho cukup lama, hingga bunyi bel mengejutkanku.

 

“Ya.. Kini Yunho, sejak kapan kau mengikutiku? Dan untuk apa kau membawakan tasku?” aku memberengut kesal, sementara Yunho memiringkan kepalanya ke kiri dengan cepat sehingga menimbulkan suara berderak seperti tulang yang patah.

 

“Aku mengikuti Jae sejak kita keluar rumah,” jawab Yunho enteng, sementara aku menepuk jidatku keras-keras karena melupakannya.

 

“Berikan tasku!” pekikku keras sambil merebut tas yang dibawa Yunho. “Dan bersikap normal lah, seperti manusia nor—, maksudku robot-robot normal lainnya. Dan berhenti mengikutiku!”

 

Aku baru saja hendak melangkah ketika kudengar seseorang memanggil Yunho dengan suara yang terengah-engah. Mau tidak mau aku turut berbalik, sementara Yunho tampak tidak tertarik. Oh Tuhan, jika Yunho adalah manusia, sudah kucubit tangannya hingga memar.

 

Kulihat Shindong, Yesung, dan Donghae sunbae menghampiri kami, menghampiri Yunho lebih tepatnya, karena tidak ada yang melirikku. Sedikit sedih mengingat betapa tidak eksisnya diriku di dunia ini.

 

“Yunho, bergabunglah di klub karate, aku mohon,” Shindong membungkukan tubuhnya.

 

“Lebih baik kau bergabung di klub sepak bola, aku melihat tendanganmu kemarin, dan itu sangat luar biasa,” sela Yesung.

 

“Tidak ada yang lebih baik dari klub basket. Bergabunglah dengan klub kami. Kau tahu, akan banyak gadis-gadis yang akan memujamu nanti,” Donghae ikut bergabung.

 

Kutatap ketiganya bergantian dan kurasakan aura tidak bersahabat, seperti suatu ajang kompetisi dan hadiah utamanya adalah Yunho. Oke, Kimi Yunho selamat atas kepopuleranmu ini, aku merasakan hatiku berdenyut-denyut memikirkanya. Bagaimana jika banyak gadis yang menyukai Yunho, lantas Yunho terpikat, dan dia melupakamku. Astaga, aku segera menepuk jidatku sendiri karena pikiran-pikiran absurd itu.

 

“Aku tidak tertarik dengan para gadis, aku hanya mencintai Jaejoong,” sela Yunho cepat, membuat bulu kudukku meremang seketika.

 

“Sudah kubilang, Yunho memang lebih cocok berada di klub karate, tidak perlu ada gadis-gadis berisik,” Shindong menatap tajam Yesung dan Donghae bergantian. “Hanya mencintai Jaejoong. Eh, Jaejoong. Kalian berpacaran. Kau gay? ” pekik Shindong dengan telunjuk yang mengarah ke arahku.

 

“Eh, tidak sunbae, jangan dengerkan omong kosongnya,” aku memaksakan tawa yang justru terdengar seperti sebuah cicitan.

 

Aku melirik pada Shindong, dan demi apapun yang ada di dunia ini, dia sama sekali tidak memperhatikan jawabanku. Apakah aku sungguh tidak eksis di dunia ini, seperti daun yang terbakar lantas abunya diterbangkan angin entah kemana.

 

Ketiganya terus berdebat memperebutkan Yunho hingga rasanya aku ingin marah saja, dia miliku untuk apa memperebutkannya. Maksudku, aku yang membelinya, dan bahkan belum kulunasi, kenapa orang-orang itu seenaknya saja memperebutkan Yunhoku.

 

“Kim Jaejoong, apa yang sedang kau lakukan di sini? Bel masuk sudah berbunyi sejak tadi!” terihk Lee Seongsaenim yang berhasil mengejutkanku.

 

Dengan gerakan patah-patah menyerupai robot aku berbalik, membungkuk sebentar ke arahnya lantas segera melesat menuju kelas. Selagi aku berlari, sayup sayup kudengar Yunho berteriak, “Kau melupakan ciuman selamat pagimu, Jaejoongie!” teriak Yunho, membuatku ingin segera menghaluskannya menjadi serpihan-serpihan debu.

 

XxX

 

Aku segera mendudukan tubuhku di kursi setelah menjatuhkan tas ke atas meja. Sejak awal memang tidak ada yang memerhatikanku, namun kali ini berbeda, orang-orang justru menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

 

Aku menolehkan kepala ke kiri, dan menemukan Changmin tengah menopang dago sembari menatap ke luar jendela. Ia sama sekali tak menoleh, tak seperti biasanya yang akan langsung berbasa basi hingga berbusa begitu aku datang. Kulihat dahinya lantas segera menggigil.

 

“Minnie, apa dahimu sudah jauh lebih baik?” tanyaku. Changmin tidak menjawab, hanya mengangguk tanpa memandangku.

 

“Apa kau marah padaku?” tanyaku lagi. Changmin hanya menggeleng, masih tak menatapku.

 

Aku menghela nafas dengan dramatis. Seharusnya tadi pagi aku memang tidak perlu bangun, akan lebih baik aku tetap bermimpi panjang, menjadi seorqng pangeran di negeri dongeng ditemani para kurcaci daripada harus bangun dan mendapati dunia nyata yang keras dan kejam. Oke, aku terlalu mendramatisir hal ini.

Baru saja hendak kubuka mulut untuk kembali bertanya pada Changmin saat kurasakan mejaku digebrak. Aku mengangkat wajah perlahan dan mendapati teman teman sekelasku berkumpul mengelilingiku, aku menoleh pada Changmin meminta bantuan, namun ia masih tak peduli.

 

“Kau gay?”

 

“Kau berpacaran dengan Yunho?”

 

“Kau mengenal Yunho?”

 

“Di mana kau mengenal Yunho?”

 

Aku menutup telingaku keras-keras berusaha menghalangi pertanyaan-pertanyaan monoton yang terus digaungkan berulang-ulang. Aku menarik nafas panjang lantas kutatap mereka yang seolah haus akan jawabanku.

 

“Aku bukan gay. Yunho bukan kekasihku. Jadi tidak perlu mendengarkan racauannya yang tidak jelas!” jawabku akhirnya dengan nafas yang terengah-engah.

 

Semuanya segera menyingkir dari mejaku, saling bebisik-bisik segala hal tentang Yunho, bagaimana tubuh seksinya, wajah tampannya, apa Yunho akan menjadikan mereka kekasihnya, dan sebagainya. Sial, ocehan-ocehan itu membuatku kesal dan dadaku sesak. Mungkin aku terlalu stres.

 

“Jadi kau tidak berpacaran dengannya? Bukankah Yunho bilang dia mencintaimu?” akhirnya Changmin melirik ke arahku.

 

“Eh, ya tentu saja, mana mungkin aku berpacaran dengan orang sepertinya,” aku memaksakan tawa dan sekali lagi ada sesuatu yang terasa ganjal di dadaku.

 

Changmin mengelus kepalaku, lantas mencium pipiku. “Baguslah, jadi aku masih bisa memilikimu,” kata Changmin.

 

“Apa?” tanyaku.

 

“Aku tidak mengatakan apa-apa,”

 

“Bohong, jelas-jelas tadi aku mendengarmu mengatakan sesuatu,”

 

“Aku tidak bohong, ouch.” Changmin meringis memegangi dahinya setelah kupukul dengan buku. Astaga aku lupa bahwa ia terluka.

 

Aku segera membungkuk lantas meminta maaf pada Changmin berkali-kali, sementara pemuda yang jauh lebih tinggi dariku itu hanya tertawa-tawa saja.

 

Aku menyentuh lukanya, itu sangat parah, memarnya sangat ungu, bahkan tampak bengkak, beruntung karena poninya membantu menyamarkan luka itu sehingga wajah tampannya tidak terlalu tertanggu.

 

Ketika aku menyentuh luka Changmin dengan menyibakkan rambutnya, hampir semua perempuan di kelas berteriak. Astaga, apa mereka baru pertama kali melihat perhatian seseorang pada sahabatnya? Hanya saja, semakin lama teriakan itu semakin menjadi-jadi, dan mulai menyebut-nyebut nama Yunho.

 

Aku membalikan tubuhku, dan menemukan Yunho tengah berdiri di ambang pintu sambil mencengkram dadanya. Tidak ada senyuman berlesung pipi andalannya, hanya tatapan tajam yang menusukku membuatku ciut. Apakah dia sedang marah? Itu tidak mungkin Kim Jaejoong, robot tak memiliki emosi.

 

Yunho berjalan ke arahku, masih mencengkram dadanya. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri berkali-kali yang kuyakin menimbulkan suara berderak, namun beruntung karena tersamarkan oleh jeritan gadis-gadis maniak itu. Kenapa lidahku menjadi tajam seperti ini.

 

“Sa-kit,” kata Yunho pada akhirnya. Aku tak mengerti, apa ada mesin atau kabel yang rusak pada dirinya?

Yunho menatapku dan Changmin bergantian, yang dibalas Changmin dengan tatapan arogan penuh rasa tidak suka.

 

“Jae,” panggil Yunho. Lantas kutatap ia dengan malas.

 

Yunho kembali memamerkan senyum andalannya, lantas mendekatkan kepalanya dan menciumku. Oh tuhan, dia menciumku. Aku mulai jatuh lemas setengah tak sadarkan diri, ketika terdengar jeritan-jeritan histeris di belakangku.

 

Mataku terpejam, namun setengah kesadaranku masih tersisa. “Jaejoongie itu milikku,” sayup-sayup kudengar Yunho mengatakannya, lantas kurasakan tubuhku terangkat.

 

XxX

 

Ketika aku membuka mata, hal yang pertama kulihat adalah Yunho yang tengah tersenyum padaku. Dia benar-benar tampan dan sempurna.

 

“Yaa.. Dimana ini?” teriakku, lantas segera bangun dari pangkuannya ketika kesadaran telah sepenuhnya menjamahku. Aku melirik jam tangan yang kukrnakan lantas menggeleng kuat-kuta. “Jung Yunho, kenapa kau membawaku, dan sekarang aku melewatkan pelajaranku. Argh!” aku menjambak tamvut debgan frustasi.

 

“Aku akan membawamu kembali ke kelas dan menemani Joongiee di dalam kelas setelah kita berciuman,” kata Yunho akhirnya.

 

Aku menepuk jidatku keras-keras. Astaga Tuhan, kenapa kau memberiku hadiah seperti ini, tidak bisakah Yunho di ganti dengan pesawat atau mobil saja.

 

“Ya, Jung Yunho tidak bisakah kau menghilangkan sedikit saja pikiran pervertmu itu!” aku mengeram frustasi, mengacak-acak rambutku, lantas melonggarkan dasi dan membuka dua kancing kemejaku, Yunho benar-benar membuatku kepanasan dan berkeringat.

 

“Kau mau bercinta denganku sekarang, Joongiee? Biar aku yang membukakan bajumu!” jawab Yunho.

Ketika tersadar, aku segera kembali mengancingkan kemejaku dengan tergesa-gesa. Dan saat mendongak kudapati Yunho sudah bertelanjang dada di hadapanku.

 

“Wooaaaa,” pekikku sambil melayangkan tonjokan pada dadanya. “Appo,” aku meringis ketika merasakan buku-buku jariku remuk. Aku lupa bahwa dia keras.

 

“Ya, Jung Yunho, berhenti melakukan hal bodoh macam itu! Aku akan kembali ke kelas, dan jangan mengikutiku. Dan satu lagi, jangan mengganggu Changmin, dia itu sahabatku!”

 

Aku berbalik lantas berlari meninggalkannya yang sedang mengulang-ngulang kata sahabat. “Aku mengerti Jaejoongie, dia sahabatmu. Aku mencintaimuuu!” teriakan Yunho masih terdengar olehku meski jarak kami telah terpisah beberapa meter. Seketika bulu kudukku neremang.

 

XxX

 

Aku baru saja kembali memasuki kelas dengan gerakan kaki yang dihentak-hentakan. Aku benar-benar sudah tidak peduli dengan segala tatapan yang diarahkan kepadaku. Sial!

 

“Dia gila, dia benar-benar sudah gila!” racauku ketika kembali duduk di bangkuku. “Seharusnya aku tak perlu bertemu dengannya!”

 

“Siapa yang gila? Aku?” seru Changmin. Aku segera menoleh lantas menggeleng kuat-kuat.

 

“Bukan, maksudku Kimi Yunho itu, dia membuatku hari-hariku hancur,” rasanya aku ingin menangis saja. Aku memejamkan mata kuat-kuat, tapi kenapa yang terbayang justru wajah tampan Yunho yang tengah tersenyum. Aku benar-benar sudah gila.

 

Changmin menepuk-nepuk pipiku, lantas menarikku ke dalam pelukannya, membiarkan kepalaku bersandar di dadanya. “Tenanglah sebentar. Jam pelajaran kedua sudah usai, lebih baik kita ke kantin,” ajak Changmin.

 

Aku menarik diri dari pelukannya lantas mengangguk dengan mantap begitu merasakan bahwa cacing-cacing diperutku tengah menangis meminta jatah. “Aku juga lapar,” kataku diikuti kikikan Changmin.

 

Kami berdua jalan beriringan menuju kantin. Rasanya seperti ini, ya inilah hari-hariku yang normal, sebelum Yunho mengacaukan semuanya. Astaga baru seperti ini saja dia sudah sangat menggangguku bagaimana jika nanti kami menikah? Pikiran bodoh macam apa itu aku menggaruk-garu8k kepalaku yang sukses membuat Changmin mengeryit heran.

 

Kami baru saja menginjakan kaki di kantin, ketika bulu kudukku tiba-tiba meremang tanpa sebab.

 

“Jaejoongie, aku disini, aku sudah membelikan semua jenis makanan untukmu!” teriak Yunho kencang. Kau lihat itu, benar dugaanku, kantin bukan tempat yang aman. Aku segera menarik Changmin menjauh dari sana, sementara pemuda tinggi itu hanya meracau tidak jelas karena gagal bercinta dengan makanan.

 

“Gadis-gadis, kalian boleh memakan semuanya, tapi toklong bayar semuanya ya!” teriakan Yunho sampai di telingaku.

 

“Kyaaaa… Yunho Oppa!”

 

Dan teriakan gadis-gadis itu membuatku ingin menghancurkan tembok.

 

TBC

4 thoughts on “MY PERFECT BOYFRIEND/ YUNJAE/ CHAPTER 4

  1. waaaaaa….. gilaaaa sumpahh aku ketawa ngakak nih baca ff ini… yunho itu ronot polos plus pervert hahaha kasihan jae.. v ttep yunho yg paling mengerti jae pastinya. hmm yunho punya saingan aka Changminnie semangat yunho jgn kalah kau the perfect boyfriend wat jae hwaiting..
    author wait next chapter
    anw aku koment lengkapnya disini aza cz di catatan eon yg dikirim ke group g bisa dibuka,entah aku yag error atau apa. Hwaiting^^

  2. haha yunjae da ritual ciuman pagi.. ckck
    dah ky suami istri ja..

    yunho kok bsa masuk skul ya.. sypa yg dftarin dy jd murid??

  3. wkwkwkwk yunppa bikin ngakak dah…pervent abizzzzz……tapi cocok kok…hahahahaha…gag sabar gimana yuppa berusaha biar dapet jatah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s