MY PERFECT BOYFRIEND/ YUNJAE/ CHAPTER 5


MY PERFECT BOYFRIEND

chapter 5 – Oh damn

created by Amee

.

.

.

.

Aku tidak tahu seberapa lama aku memerhatikannya

Seberapa lama aku menjalani hari dengannya

Seberapa lama aku mengatakan bahwa aku kesal padanya

Aku bahkan tak menyadari bahwa sebenarnya aku merasa… terbiasa dengan kehadirannya.

 

Seperti pagi-pagi lain yang telah aku lewati, pagi ini pun Yunho tengah berada di dapur, memasakkan sesuatu untukku. Dia menggunakan apron hamtaro milikku yang tampak kekecilan di tubuhnya. Sehinga punggungnya tampak benar-benar bidang.

 

Aku tengah duduk dengan kepala yang ditelungkupkan di antara kedua tangan di atas meja. Sesekali aku melirik Yunho dan tanpa sadar aku tersenyum. Seharusnya aku tidak boleh merasa nyaman dengan kondisi ini

 

“Sarapan untuk Jae,” Yunho membalikan tubuhnya dengan sepiring omelet di tangan kirinya dan spatula di tangan kanan yang terangkat ke atas. Yunho memamerkan senyumannya dengan lebar sehingga aku dapat melihat deretan gigi putihnya.

 

“Hn,” gumamku pelan.

 

Aku memerhatikan Yunho yang bejalan ke arahku dengan gerakan kaku seperti pinguin. Mengapa dia sangat sempurna? Andaikan ia seorang manusia aku akan langsung berlari ke arahnya dan mengatakan bahwa aku mencintainya. Astaga apa yang sedang kupikirkan.

 

“Selamat makan, Jae,” ujar Yunho sambil meletakan piring omelet di hadapanku.

 

“Kau ikut makan?” tanyaku sambil menyuapkan sesendok omelet ke dalam mulut. Rasanya sangat lezat, dua puluh kali lipat lebih lezat dari buatku. Aku yakin jika Changmin mencobanya, ia tidak akan mau berhenti memakannya. Monster food itu.

 

“Aku hanya makan cinta dari Jae. Hidupku adalah untuk Jae. Aku adalah pelindung Jae. Aku adalah pelayan bagi Jae.” ujar Yunho sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri, lantas meyentuh puncak kepalaku dan mengusapnya, mendadak aku merasa tersipu.

 

Aku menyentuh kepalaku sendiri tanpa sadar sambil memejamkan mata, merasakan sentuhan Yunho yang masih terasa di sana. Itu terasa manis.

 

Dia benar benar sempurna.

 

Saat aku membuka mata, Yunho sudah tidak ada di hadapanku. Dan sedetik kemudian ketika aku mengedipkan mata, Yunho telah kembali berada di hadapanku dengan cengiran lebarnya.

 

“Coklat dan bunga untuk Jae. Selamat hari valentine,” katanya.

Yunho memberikan setumpuk coklat padaku sambil menebarkan kelopak kelopak bunga mawar di atas kepalaku. Memenuhi rambut, lantai dan piring omeletku.

 

“Apa untuk merayakannya kita akan mengadakan sex party? Apa Jae ingin melakukannya sekarang?” Yunho menggendong tubuhku dengan gaya bridal lantas menjatuhkan tubuhku di atas kasur. “Perlu kubukakan?” katanya lagi sambil membuka kancing seragamku.

 

“Pervert!” pekikku keras sambil mendorong tubuhnya dengan kedua kakiku hingga ia terjungkal. “Dan darimana kau mendapatkan coklat-coklat itu? Kau mencurinya lagi. Astaga. Tuhan maafkan aku,”

 

OOO

 

Aku berangkat ke sekolah dengan mood yang sangat buruk. Dan ini semua karena seekor robot yang selalu berlagak sempurna. Walaupun harus kuakui bahwa ia memang sempurna. Astaga Kim Jaejoong sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?

 

Aku benar benar merasa kesal sekarang, dan tanpa sadar aku melemparkan tas ku begitu saja. Astaga, adalah kata pertama yang kuucapkan ketika melihat tas milikku mendarat sempurna di pelipis kanan seorang Shim Changmin.

 

Mendadak aku merasakan ketakutan yang teramat sangat. Bulu kudukku mendadak meremang, udara mendadak menjadi sangat dingin, rasanya aku ingin memeluk diriku sendiri dan bersembunyi di balik selimut.

 

Changmin menengokkan kepalanya ke arahku dengan gerakan lambat yang mengerikan. Ia menatapku dengan sangat tajam sampai sampai rasanya aku ingin menenggelam diri di laut merah saking ketakutan. Dia benar-benar raja iblis.

 

“Tidak ingin meminta maaf?” tanya Changmin sambil menggerak-gerakkan alisnya, dan itu semakin membuatku menggigil kedingan.

 

“A-aku minta maaf. Kau mau memaafkannya?” kataku takut takut.

 

“Duduklah,” jawab Changmin.

 

Aku menundukkan kepala, dan dengan gerakan kaku, aku segera duduk di bangku ku, di samping Changmin. Dan kurasa atmorfer berbahaya yang dipancarkan raja iblis belum berkurang intensitasnya.

 

“Karena kau sahabatku maka aku akan memaafkanmu,” Changmin mengecup pipi kiriku lantas memamerkan cengiran khas anak-anaknya. Dan itu membuatku ikut tersenyum membalasnya. Kecupan itu tanda persahabatan, itu yang selalu Changmin katakan.

 

Aku menganggukan kepala sambil menatapnya. “Terimakasih,”

 

Chu. “Eh?” Aku merasakan sebuah kecupan di pipi kananku, sehingga aku tersentak lantas berbalik dan mendapati Yunho di sana.

 

“Apa yang kau lakukan?” pekik Changmin keras sambil menunjuk Yunho, sementara aku kembali mengatupkan rahang dan menelan bulat-bulat apa yang hendak kukatakan.

 

“Memberikan hal terbaik yang dibutuhkan Jaejoongku,” jawab Yunho, yang sukses membuatku merasa ingin menjedukkan kepalaku ke tembok.

 

“Jaejoongku?” Changmin menyipitkan matanya.

 

Yunho mengangguk-anggukan kepalanya dengan gerakan kaku. “Kekasihku,” ujar Yunho cepat.

 

Changmin memukul meja lantas berdiri, menatap tajam Yunho dengan tatapan bermusuhan. “Kekasihku?” ulang Changmin.

 

Aku merasa tubuhku merinding, aku ketakutan. Dua laki laki di kanan dan kiriku saling bertatapan menghasilkan sebuah tegangan listrik kasat mata yang terasa menyetrumku. Aku benar benar ketakukan. Belum lagi aura gelap permusuhan yang ditimbulkan oleh seluruh wanita di kelas ini membuatku semakin menciut. Changmin kumohon jangan mencari cari masalah dengan Yunho, dia bukan manusia, dia robot.

 

“Aku harus ke kamar mandi,” ujarku akhirnya lantas berjalan cepat meninggalkan kelas.

 

Ketika aku keluar pintu dan berbelok ke kanan, samar samar kudengar Yunho berkata, “Aku diciptakan untuk menjadi kekasih sempurna bagi Kim Jaejoong,”

 

Aku tidak tahu kalau pada akhirnya keputusanku ini membuat masalah semakin rumit. Seharusnya saat itu aku bertahan saja di dalam kelas.

 

OOO

 

Aku tidak tahu seberapa lama aku bersembunyi di atap gedung sekolah. Rasanya nyaman memandangi langit biru yang dihiasi serabut awan tipis. Aku menengadah lama-lama memandangi langit, mendadak saja aku bisa melihat bayangan Yunho di sana. Bagaimana ia menyiapkan makanan untukku, bagaimana ia menyiapkan berbagai kejutan untukku, bagaimana ia membuatku kesal, dan bagaimana ia bertelanjang dihadapanku. Aku terkikik geli mengingatnya.

 

Kupikir-pikir lagi, aku tidak pernah benar-benar melihat Yunho bertelanjang, karena aku selalu berteriak, mendorongnya, ataupun menendangnya. Mungkin sekali-sekali aku harus melihat tubuhnya. Astaga, apa yang sudah kupikirkan. Aku menepuk dahiku sendiri lantas mengeram frustasi.

 

Setelah merasa bahwa semakin lama berada sendirian di sana semakin aku merasa ada yang salah dengan otakku, aku segera bangun dan beranjak dari sana. Aku menuruni satu persatu anak tangga, lantas berbelok kanan di ujung tangga untuk menyusuri koridor.

 

Koridor sekolah tampak sangat ramai dan berisik dengan bisik-bisik para murid perempuan. Mereka berbicara dengan lawan bicaranya dengan sangat cepat sambil sesekali memeragakan suatu gerakan atau menjerit-jerit histeris.

 

Aku mencolek pundak salah seorang gadis di sana, kupikir ia adik tingkatku, mungkin dia baru tingkat satu. Ia membalikan tubuhnya lantas menatapku dengan pandangan tidak suka, apa salahku?

 

“Ada apa?” tanyanya ketus.

 

Kupikir aku ingin meninjunya saja, apakah ia tidak tahu bahwa aku adalah seniornya, meskipun tubuhku mungil. “Apa yang terjadi?” tanyaku.

 

“Apa kau tidak tahu?” ia balik bertanya. Astaga, kau katanya, apa ia tidak berkeinginan sedikitpun untuk memanggilku sunbae.

 

Aku menggeleng dengan cepat. “Ada apa sebenarnya?”

 

“Yunho oppa dan Changmin oppa kembali berduel,”

 

“Apa?” aku segera berlari setelah mendengarnya, namun baru dua langkah gadis itu kembali memanggilku dan dengan terpaksa aku menghentikan langkah dan berbalik.

 

“Ada hubungan apa antara kau dan Changmin oppa, dan ada hubungan apa antara kau dan Yunho oppa?” tanya gadis itu.

 

“Kami-Tidak-Ada-Hubungan-Apa-Apa,” aku menekankan setiap kata yang kuucapkan. “Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan kau, tidakkah lebih baik kau memanggilku dengan sebutan sunbae?” ucapku geram kemudian berlari menuju lapangan olahraga, dan samar-samar kudengar gadis itu mencibir.

 

Kenapa semakin banyak manusia aneh di dunia ini, Tuhan, ratapku.

 

OOO

 

Aku segera menyeka peluh di pelipisku ketika aku sampai di lapagan. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, lapangan dipenuhi oleh lautan wanusia, lebih tepatnya para gadis yang berteriak-teriak histeris menyerukan nama Yunho dan Changmin bergantian sambil menggerak-gerakan tangannya, membuat mataku iritasi. Demi Tuhan, aku tidak mengerti dengan diriku sendiri, kenapa aku mendadak kesal seperti ini ketika mereka meneriakan nama Yunho.

 

Aku berusaha menembus kumpulan manusia-manusia dan berdiri di barisan paling depan. Dan kulihat Yunho dan Changmin saling berlari memperebutkan bola. Kulihat juga beberapa orang gadis yang hampir pingsan dengan darah yang keluar dari hidung mereka, ketika Changmin terengah-engah sambil menyeka keringat di lehernya dengan punggung tangan, ataupun ketika Yunho berlari dan seragam kekecilan–yang entah di daptnya dari mana–terangkat keatas dan memamerkan absnya.

 

“Jaejoongie” teriak Yunho sambil melambai-lambaikan tangannya, dan mendadak saja kurasakan semua mata tertuju padaku. Dan aku hanya menunduk sambil memainkan ujung sepatu berpura-pura tidak peduli. Bagaimana mungkin dia bisa menyadari keberadaanku dengan cepat. Apa robot memeliki sensor untuk mengetahui keberadaan pemiliknya? Aku tidak tahu.

 

Ketika kurasa tatapan membunuh itu sudah berkurang, aku mengangkat kepalaku perlahan, dan kulihat Changmin menyeringai dengan sangat menakutkan, dan hal pertama yang kuingat saat melihatnya adalah seringaian raja iblis dalam kartun favoritku saat masih sekolah dasar. Sangat menakutkan.

 

Changmin menendang bola dengan sangat keras. Dan duag, bola itu menghantam perut Yunho dengan sempurna, semua teriakan para gadis mendadak terhenti dan semuanya menatap tidak percaya ketika Yunho sama sekali tidak bergeming, dan bola itu jatuh di kakinya.

 

“Sudah selesai,” kata Changmin, dan kulihat seringaiannya semakin tajam. Sementara Yunho hanya diam sambil menolehkan kepala ke kanan dan kiri dengan cepat sehingga menimbulkan bunyi berdecit. Dan gadis-gadis itu kembali berteriak histeris menyerukan nama Yunho.

 

Changmin berjalan ke arahku dengan seringaian yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Dia menyentuh pundakku, lantas membisikan sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang. “Aku tahu suatu rahasia besar, dan aku bisa membuktikannya,” bisik Changmin lantas pergi.

 

Aku menatap Yunho dalam diam, kurasa ada sesuatu yang mendadak kosong di dalam hatiku. Aku mengamati gadis-gadis yang berlari ke lapangan dan mengerubungi Yunho, kenapa rasanya aku ingin melemparkan semua panci di dapurku ke kepala mereka, lantas menggilas tubuh mereka dengan tank milik pemerintah korea sehingga aku bisa memberikan tubuh mereka yang sudah gepeng sebagai makanan bebek peliharaan tetanggaku. Astaga, mungkin aku sudah gla, atau mungkin juga aura setan Changmin menuar padaku karena aku terlalu lama bersahabat dengannya.

 

“Ah, rasanya sangat panas disini,” gumamku kesal setelah aku tidak bisa melihat tubuh Yunho karena tertutup oleh para gadis itu dengan sempurna.

 

Aku berbalik meninggalkan lapangan. Rasa gerah itu benar-benar hampir membunuhku.Aku terus berjalan sambil menyeka keringatku, lantas aku membuka dua buah kancing kemejaku untuk mengurangi rasa gerah, saat aku hendak membuka kancing ketiga ketika sepasang tangan besar memelukku dengan sangat erat dan menyelimutiku dengan sebuah jaket.

 

“Ayo kita mencari tempat sepi jika kau ingin melakukannya, jangan membuka bajumu di sembarangan di tempat, hanya aku, kekasihmu, yang boleh melihatnya,” ujar Yunho sambil mengeratkan jaket pada tubuhku, sekali lagi kukatakan, aku tidak tahu ia mendapatkannya dari mana. Tuhan, jika ia mencuri lagi, aku sangat minta maaf, ini bukan kemauanku.

 

Yunho mengangkat tubuhku dan meletakannya di pundaknya, seperti kasus penculikan. Dan samar-samar kudengar orang-orang berbisik. “Kim Jaejoong itu gay, dan ia senang menjerat pria pria tampan. Kasihan sekali Changmin oppa dan Yunho oppa, padahal aku sangat ingin menikahi mereka, tapi laki-laki bernama Jaejoong itu menjebak mereka, aku sangat kecewa,” Dan rasanya aku ingin menangis saja, kenapa selalu aku yang dijadikan tersangka? Tuhan…

 

“Aku mendapatkan banyak coklat hari ini, semuanya akan kuberikan pada Jae,” kata Yunho sambil tersenyum lebar. Dan itu membuatku semakin frustasi.

 

 

TBC

 

Maaf karena lama banget updatenya, tapi gue harap masih ada yang nunggu FF ini, dan tolong tinggalin jejak. Please. SanJaeu^^

 

 

6 thoughts on “MY PERFECT BOYFRIEND/ YUNJAE/ CHAPTER 5

  1. masih penasaran bgt….yunho beneran robot???
    jgn2 cuma pura2 tuh…
    minnie keliatan bgt suka sm jae tp berkedok teman,,,

  2. yaaa ampuuuun jaeeeeee knp sih polos bggd ditipu changmin mana ada persahabatan nyium pipi segala eh pengen ketawa lagi paz yunho g mau kalah trus nyium pipi jae juga… udah jae meskipun yunho itu robot v dya ttep yg terbaik buat jaejoong. . no other… lanjuuuut next chp
    penasaran nih ttg perseteruan HOMIN..
    lho junsu n yoochun eodiga??

  3. changmin bnran naksir jae neh?? pi ky’y jae mah lbh suka yunho dr hati.. yunho bsa brubah jd manusia gak??

  4. Yunbear Hanya untuk BooJae…hahahahaha cute pervent yunbear..sweety yeppo boojaejoongie..^^
    Huhuhu gag sabar chapter selanjutnya….Thorrr Update x jgan lama2 yah…*minnie buat author dahhhh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s