TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 3


TERRIBLE

chapter 3- Full of Flashback

created by Amee

.

.

Warning :

Yoogeun dan Yoonjoong usianya 13 tahun. Jangan membayangkan pola pikir anak SD Indonesia. Dalam ilmu psikologi anak-anak dibagi ke dalam tiga pengotakan, yakni anak anak secara umum, anak anak yang kurang, dan anak anak yang lebih. Yoogeun dan Yoonjong termasuk ke dalam kategori yang ketiga.

.

.

Jaejoong POV

Kupikir hidupku seperti bunga-bunga badam yang bermekaran dengan indah, lantas layu, gugur, dan diterbangkan angin bagaikan debu debu kecil yang tidak meninggalkan jejak. Haruskah aku mensyukurinya atau justru menyesalinya.

Aku memiliki seorang kekasih. Ia tampan, cerdas, seorang cassanova. Dari sekian banyak wanita-wanita cantik yang mengerjarnya, kenapa dia harus memilihku? Mungkin aku menarik, sayangnya dadaku rata, aku bukan seorang wanita. Sejak awal aku tahu, hubungan kami tidak akan dengan mudah diterima.

Aku bersandar pada ranjang, sambil menatap pantulan diriku di cermin. Aku tersenyum. Cantik?

Aku menoleh ke kanan ketika Yunho muncul lantas merangkulku. Aku tersenyum padanya, lantas kembali menatap cermin.

“Bukankah ini salah?” tanyaku.

“Apanya yang salah?” balas Yunho cepat. Dari pantulan cermin aku bisa melihatnya mengerutkan dahi.

“Kau… dan aku,”

“Dimana letak kesalahannya?”

“Disini,” aku menunjuk posisi kami yang duduk berdampingan dengan tangan Yunho melingkar di pinggangku.

Yunho tertawa dengan keras, lantas menarikku ke dalam pelukannya lebih dalam. “Astaga, Jae. Ini bukan lagi zaman Victoria. Kisah cinta yang ditentang semacam Romeo dan Julliet sudah berlalu berabad-abad yang lalu. Lalu apalagi?”

“Aku hanya takut,” aku menggigit bibir bawahku lantas memejamkan mata. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang berkumpul di dadaku. Aku ingin menggenggam tangan Yunho, dengan kuat-sangat kuat, hingga aku lupa bagaimana cara melepaskannya, sekali pun ia yang mencoba melepas tanganku, aku akan berusaha untuk tetap menggenggamnya.

“Apa yang kau takutkan? Aku ada di sampingmu untuk melindungimu, dan aku mencintaimu. Apa itu belum cukup?” Yunho menarik daguku perlahan, sehingga wajah kami berhadapan. Aku membuka mataku perlahan, terpaksa menatap kedua mata musangnya.

Aku terkikik pelan, lantas memukul kepalanya dengan lembut. “Kau berbicara seolah kau sudah dewasa, tuan Jung,”

“Aku memang sudah dewasa,” jawabnya dengan wajah serius.

“Kau bahkan belum dua puluh tahun,”

“Aku memang sudah dewasa, makanya aku bisa mencintaimu dan ingin melamarmu, Jung Jaejoong!”

Dan aku tersenyum mendengarnya.

Dadaku menghangat.

“Kau bahkan masih senang merajuk dan sangat egois, apa seperti itu yang disebut dewasa?” tanyaku seolah menantangnya dengan dagu yang sedikit terangkat.

“Aku memang sudah dewasa, makanya aku bisa melakukan ini,”

Yunho menarik daguku, mendekatkan wajahnya pada wajahku, lantas ia menempelkan bibir kami. Lidahnya yang basah menjilat kedua bibirku yang masih terkatup. Rasanya kenyal dan manis seperti permen karet. Ketika tangannya melingkar di pinggangku dengan sempurna, rasanya sangat lembut, membuat darahku berdesir hingga kuduk di tengkukku meremang.

Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya, sesekali menyentuh cuping telinganya, rasanya hangat. Aku bahkan mampu mendengar detakan jantung kami yang berdetak seirama dengan degupan yang keras.

Bibir kami masih saling menekan satu sama lain, mencoba merasakan dan saling mengenali bagaimana bentuknya. Ini terasa sangat manis bagiku. Aku tersenyum. Kupejamkan mata lantas kubuka bibirku perlahan, kurasakan bibir Yunho bergerak lembut membentuk sebuah senyuman, lantas ia mulai mengulum bibir bawahku dengan lembut. Rasanya aku menginginkannya lagi, ia memperlakukanku dengan sangat manis hingga aku tak tahu bagaimana harus membalasnya.

Yunho menyelipkan lidahnya memasuki rongga mulutku, mengabsen satu persatu deretan gigi putihku. Rasanya asing, aku belum pernah merasakan sensasi ini sebelumnya. Aku hanya diam, memejamkan mata, mencoba mengingat ngingat kesan yang kudapatkan, hingga alam bawah sadar menggerakkan lidahku untuk membalasnya. Kami terlibat dalam pagutan pagutan lembut yang saling menuntut untuk beberapa saat hingga akhirnya terlepas dan menyisakan seutas saliva yang memanjang.

Yunho tertawa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aku menundukan wajah, ingin menatapnya namun rasanya sangat malu. Ini kali pertama kami melakukannya setelah tiga bulan berpacaran. Rasanya sangat malu, aku bahkan tidah mampu mengontrol debaran jantung dan warna wajahku sendiri.

“Terimakasih,” gumam Yunho pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.

Aku mengangkat wajahku perlahan, mencoba menatapnya lewat sudut mataku. “Untuk apa?” tanyaku.

“Untuk ciuman pertama kita tadi,” jawabnya.

Aku menunduk.

Rasanya manis, namun malu mendengernya. Dan jantung, mengapa kau berdetak semakin cepat, jangan sampai Yunho mendengarnya dan aku akan semakin malu. Kumohon Tuhan, tenangkan aku.

“Terimakasih juga, kau membiarkanku merasakan betapa manisnya ciuman itu,” ujarku sambil menggigit bibir.

Aku masih menunduk, tapi bisa kurasakan Yunho bergerak gerak dalam duduknya dengan tidak tenang. Lantas kurasakan kedua tangannya menyentuh pipiku, mengangkatnya perlahan hingga mata kami sejajar dan saling bertatapan. Didekatkan wajahnya, lantas mengecup keningku singkat. Ia tertawa gugup.

Aku merutuki diriku, juga jantungku yang tidak ingin tenang. Mengapa ia sangat tampan?

“Ayo kita berfoto,” Yunho menarikku lembut. Merangkulan tangannya dipundakku. Aku menoleh ke arahnya, dan saat itu ia membidikan kameranya. “Ya… Jae, kebapa kau tidak melihat dan tersenyum pada kamera,”

Aku terkikik pelan ketika melihat hasilnya. Yunho tampak tegak dengan senyuman lebar yang memamerkan deretan gigi putihnya, sementara aku melihatnya dengan ekspresi terkejut.

“Tidak apa-apa itu cukup bagus juga, ” kataku.

“Baiklah kalau begitu,” gumamnya, lantas mulai mengutak atik keypad ponselnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Ini,” Yunho tersenyum sambil memperlihatkan layar ponselnya padaku. Ia menjadikannya wallpaper. Dan aku ikut tersenyum.

Terimakasih.

Yunho memasukan ponselnya ke dalam kantong, sementara aku mulai menyandarkan kepalaku di bahunya dengan kedua tanganku melingkar di lengannya. Bukankah ini sangat nyaman. Aku ingin merakannya bahkan jika aku harus hidup seribu tahun, selama itu aku ingin merasakannya. Rasa nyaman ini, kumohon jangan pergi.

Aku semakin mengencangkan dekapanku pada lengannya ketika Yunho mengelus kepalaku lantas menciumnya tepat di puncak kepalaku. Rasanya aku tidak ingin berhenti tersenyum bahagia.

“Apa kau ingin istirahat?” tanya Yunho.

Aku mengangguk. “Di pundakmu,”

“Lebih baik kau beristirahat di ranjang. Lehermu akan sakit jika kau berada dalam posisi ini lebih lama lagi,”

Aku menggeleng. “Tidak apa apa. Ini cukup nyaman,”

“Aku akan menemanimu,”

Aku mengangguk. “Baiklah,”

Aku mulai melepaskan rangkulanku kemudian menjauhkan kepalaku. Yunho menatapku dalam dalam seolah olah bertanya padaku apakah aku keberatan atau tidak dan aku membalasnya dengan senyuman. Yunho ikut tersenyum, lantas mulai mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya, rasanya malu diperlakukan seperti ini.

Yunho menjatuhkan tubuhku perlahan di atas kasur. Dia menatapku dalam diam dengan posisi di atas tubuhku. Dia menumpu tubuhnya dengan kedua lutut yang masing masing berada di kanan dan kiri tubuhku. Rasanya aku ingin menghindari tatapan matanya, namun aku tak mampu, itu terlalu mrmabukan.

Yunho masih saja menatapku dalam diam seolah tengah menelanjangiku, hingga akhirnya ia tersenyum dan telapak tangan kanannya menyentuh pipiku. Rasanya sangat hangat. Yunho melesakan kepalanya di perpotongan leher dan pundakku lantas mengangkat kepalanya lagi dan kembali menatapku.

“Bolehkah?” tanyanya.

“Ya?” aku balik bertanya.

“Bolehkah aku menyentuhmu?” tanyanya lagi.

Aku tidak tahu harus menjawab apa sehingga aku hanya diam, sambil menggigit bibir bawahku. Jantungku terus berdetak semakin kencang hingga rasanya akan meledak dan aku akan mati. Tuhan..

Yunho tersenyum padaku, mencoba tulus namun kutahu tidak begitu nyatanya. “Tak apa jika kau belum siap, aku tidak akan memaksamu,” katanya.

Aku mengangguk pelan. “Lakukanlah,”

“Apa?” Yunho terhenyak.

“Lakukanlah apa yang kau inginkan, aku tidak keberatan, ajari aku bagaimana rasanya. Semuanya untukmu, aku mencintaimu,” aku balas menyentuh kedua pipi Yunho.

“Terimakasih, Jae,”

Yunho mendekatkan wajahnya pada wajahku hingga sentuhanku di pipinya terlepas, dan aku mulai memejamkan mata. Ia mulai mengecup keningku, kedua mataku, hidungku, pipiku, bibirku, dan daguku. Lantas ia mendekatkan bibirnya di telingaku. “Maafkan aku jika aku salah, aku tidak tahu bagaimana melakukannya dengan benar. Dan aku tidak tahu akan seberapa sulit dan sakitnya nanti, kau cukup menghentikanku jika kau ingin berubah pikiran,” bisiknya. Aku mengangkuk lantas mulai memeluknya dengan erat.

Ini adalah pengalaman pertama kami. Aku tidak tahu apakah ini akan terasa menyenangkan atau menyakitkan, tapi aku tidak akan menyesalinya.

Kami mulai berciuman yang kemudian berubah menjadi sebuah pagutan pagutan yang saling menekan. Yunho memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku, dilakukannya berkali kali, sesekali ia mengulum bibir atas dan baqahku bergantian dengan gigitan gigitan kecil yang membuatku melenguh. Sementara jari jarinya mulai membuka kancing kemejaku, menyentuh permukaan dada dan perutku hingga yang kurasakan adalah dingin yang menjalar.

“Tidak apa apa?” tanya Yunho ketika pagutan kami terlepas. Aku mengangguk.

Yunho membenarkan posisiku hingga kami berdua nyaman, lantas melesakan kepalanya ke leherku, mengecupnya lembut lantas berubah menjasi sebuah hisapan. Rasanya aneh ketika giginya bersentuhan dengan kulitku, namun kuakui aku menyukainya.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, jadi aku diam saja ketika Yunho mulai menelanjangi tubuhku dan tubuhnya. Yang kurasakan adalah malu, dan aku semaku berdebar saat menyadari Yunho menatapku lama. Aku berusaha menutupi tubuhku dengan kedua tanganku, namun Yunho menyingkirkannya dan tersenyum.

“Tenanglah,” katanya.

Entah bagaimana aku mempercayainya.

Yunho menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku dan kami berpelukan dengan sangat erat. Sesuatu di bawah sana saling bergesekan membuatku tak nyaman dan bergerak gerak. Beginikah rasanya. Aku semakin mengeratkan pelukanku, hingga detak jantung kami terasa begitu keras di telingaku. Namun Yunho justru berusaha melepaskannya.

Aku tidak mengerti.

Yunho tersenyum setengah menyeringai padaku, matanya sayu, mungkin mataku jauh lebih sayu dari itu. Yunho mengambil sebuah bantal dan meletakannya di pinggangku, sehingga bagian bawah tubuhku jauh lebih tinggi dibanding kepalaku. Yunho duduk bertumpu dengan kedua lututnya sambil melebarkan kedua kakiku. Dan ia melakukannya.

OOO

Aku tidak tahu apakah ini takdir yang buruk ataukah suatu anugerah yang indah.

Aku hamil.

Aku memeluk kedua lututku dengan kuat. Berusaha menenangkan perasaan yang bercampu aduk dalam diriku. Apa tang harus kulakukan? Bagaimana dengan Yunho? Bagaimana orangtuaku? Dan bagaimana masa depanku.

Lima belas menit yang lalu aku menelepon Yunho, memintanya untuk datang. Berkali kali kupandangi jam dinding namun tanda tanda kemunculannya tetap tak ada. Mungkin dia tidak akan datang, pikirku. Namun sisi lain dalam diriku terus menyemangati dan meyakinkan bahwa Yunho akan datang.

Entah sejak kapan aku sudah mulai terisak dan semakin melesakkan kepaku di antara kedua lututku. Aku masih terisak beberapa saat kemudian hingga kudengar pintu diketuk dan suara yang kurindukan memanggil namaku.

Aku segera bangkit, menghapus air mata yang meleleg di pipi dengan cepat, sedikit bercermin memastikan bahwa penampilanku baik-baik saja, lantas segera keluar kamar dan berlari menuruni tangga. Aku mematung sejenak di balik pintu sebelum akhirnya membuka pintu perlahan dan mendapati Yunho di baliknya.

“Masuklah,” kataku sambil tersenyum. Yunho mengangguk, lantas duduk di atas sofa.

“Dimana orangtuamu?” tanya Yunho.

“Sedang keluar, mungkin nanti sore baru pulang,” jawabku.

Yunho mengangguk. “Ada yang ingin kau sampaikan?”

Aku buru buru membuang wajahku. “Kau mau minum apa?” mencoba mengalihkan perhatian. Aku hampir saja beranjak ke dapur jika Yunho tidak mrnahan tanganku.

“Tenanglah,” Yunho tersenyum lembut. “Duduklah disini,” tambahnya sambil menarikku agar duduk disampingnya.

“Yun,” kataku.

“Katakanlah semuanya, Jae. Jangan menyembunyikan apapun dariku,” Yunho masih menggenggam tanganku.

“Yun, aku hamil,”

“Apa?”

“Aku hamil,”

Yunho membelalakan matanya, ia menggenggam tanganku lebih kuat dari sebelumnya. Ia menundukan kepalanya, lantas melepaskan genggamannya, dan tanpa mengatakan apa apa, Yunho berlari berlari keluar, meninggalkanku.

Aku tahu akan seperti ini jadinya.

Aku menatap pintu yang terbuka lebar, hanya menyisakan embusan angin yang membuat tubuhku menggigil. Aku menundukan kepalaku, kucengkam kedua pahaku kuat kuat untuk menyalurkan rasa sakit yang tersumbat di dadaku. Punggungku bergetar, dan aku mulai terisak. Butiran bening itu jatuh begitu saja dari kedua mataku, membasahi punggung tanganku.

Mengapa rasanya begitu sakit.

Mengapa aku tidak siap untuk kehilangannya.

Aku sakit, Yun. Tidakkah kau merasakannya?

Entah berapa lama aku terisak di sana, hingga rasanya aku sangat lelah. Aku bangkit perlahan, lantas berjalan menuju pintu dengan lunglai. Tubuhku lemas.

Aku baru saja menyentuh kenop pintu umtuk menutupnya ketika kurasakan seseorang memeluk tubuhku sambil terengah-engah. Dadanya terasa naik turun dalam pelukanku.

“Yun,” gumamku.

Yunho mengangguk kemudian melepaskan pelukan kami. “Terimakasih karena sudah mau mengandung putraku. Maka Jung Jaejoong, menikahlah denganku,” Yunho tersenyum lantas menyematkan sebuah cincin perak di jari manisku. “Dan ini untuk anak kita. Aku tidak tahu apakah ia laki-laki atau perempuan, jadi aku membelinya dua,” Yunho tersenyum kikuk kemudian menyerahkan dua pasang kaos kaki mungil padaku. Satu berwarna merah muda dan sepasang lainnya berwarna biru muda.

Aku tidak bisa menahan haruku. Aku segera memeluknya dengan sangat erat seakan akan aku akan kehilangannya. Aku bersandar di badunya dan rterisak di sana. Jung Yunho terimakasih atas semua hal yang kau berikan padaku.

Aku tengah memejamkan mata ketika kurasakan bahuku basah, dan kusadari bahwa Yunho menangis. Untuk kali pertama aku melihat orang setegar Yunho terisak, dan ini karena ku. Aku memeluknya semakin erat, aku tahu bahwa ia mencintaiku.

Terimakasih Tuhan.

“Kita harus bertemu dengan orangtuaku,” bisik Yunho di telingaku. Dan aku mengangguk.

Tuhan, tolong gariskan takdir yang indah untukku.

OOO

Aku tengah berada di kediaman Jung. Tidak ada pemyambutan, yang kurasakan hanyalah tatapan tajam dan aura penghinaan.

Tidak ada kata-kata yang terlontar setelah kami mrnyampaikan maksud kedatangan ini. Nyonya Jung terus saja memijat mijat pelipisnya seolah merasa terganggu dengan kehadiranku. Sementara Tuan Jung duduk dengan gaya aristokrat sambil memandang tajam ke arahku.

“Kau tahu, tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi seorang gay!” pekik Nyonya Jung menohok tepat ke jantungku.

Aku hanya mampu menunduk, ingin rasanya mengangkat wajah, namun yang kurasakan adalah ketakutan yang membelenggu. Aku terus berdoa dalam hati, semoga Yunho mengatakan sesuatu, namun tidak.

“Seharusnya kau memikirkan masa depan Yunho jika kau benar benar peduli padanya,” suara berat Tuan Jung terdengar seperti makian di telingaku, seolah dia sedang mengingatkanku bahwa Yunho masih muda, tampan dan kaya.

Aku masih menunduk menatap ujung sepatuku, kemudian mengangkat kepalaku perlahan untuk mencuri pandang ke arah Yunho, namun yang dilakukannya hanya diam dan menunduk.

“Aku..” kata kataku terpustus.

“Dengan terpaksa aku harus menolak permintaanmu. Aku sudah menjodohkan Yunho dengan putri seorang konglomerat, dan akan sangat memalukan jika kami harus membatalkannya,” ujar Tuan Jung gamblang.

“Aku mengerti,” jawabku cepat berusaha menyembunyikan kegugupan dan getaran dalam suaraku. Aku sakit.

Sekali lagi aku berharap Yunho mengatakan sesuatu, namun tak ada pembelaan darinya. Aku tahu, jika orangtua masuk ke dalam suatu pilihan maka akan diprioritaskan. Tapi Jung Yunho, tidak bisakah kau merasakan kepedihanku? Aku menggingit bibir bawahku menahan isak.

“Berapa yang kau butuhkan?” tanya Nyonya Jung.

Aku terhenyak. “Apa?”

“Berapa yang kau butuhkan untuk biaya kandungan dan persalinanmu nanti. Kami akan membiayainya. Meskipun kami tak bisa menerimamu, kami akan membawa anakmu dan menganggapnya sebagai keluarga Jung,”

Aku mendongak dengan cepat, balas menatap wajah cantik yang terlihat angkuh itu. “Terimakasih atas tawaran anda yang sangat berharga. Tapi aku tak membutuhkannya. Anda tenang saja, aku akan menjauh dari keluarga anda, aku tidak akan menyusahkan anda, aku akan membesarkan anak ini sendiri, juga tidak akan mempermasalahkan statusnya, jadi anda bisa tenang. Maaf karena sudah menyita waktu anda yang berharga. Permisi.”

Setelah melirik sekilas ke arah Yunho yang masih tertunduk. Aku segera berlari meninggalkan kediaman Jung. Meninggalkan rasa sakit yang tercipta disana. Aku kembali terisak. Aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Setelah keluargaku menolak keberadaanku karena aku telah menorehkan aib, kini Yunho meninggalkanku. Aku semakin terisak.

Aku menoleh ke belakang dan tak kudapati Yunho di sana. Tidak apa-apa, lupakanlah., aku akan memaafkanmu, aku akan tetap mencintaimu. Aku menyentuh perut rataku lantas tersenyum lemah. Bertahanlah sayang, kita akan bahagia, semuanya akan baik-baik saja, tidak ada lagi yang kumiliki, hanya kau yang tersisa, gumamku.

OOO

Yoogeun menutup diari Jaejoong. Ia tak berhenti terisak, wajahnya telah dibanjiri air mata. Pemuda cilik itu bahkan bisa merasakan bagaimana pedihnya Jaejoong dulu. Ia menenggelamkan wajahnya pada bantal dan semakin terisak dengan keras di sana.

“Ini tidak adil,” gumamnya berkali kali hingga ia lelah.

Setelah merasa cukup tenang, Yoogeun meraih ponselnya, menekan nomor yang telah dihapalnya di luar kepala.

“Yoonjoongie, hiks,” ujar Yoogeun pelan ketika telepon tersambung.

TBC

nb : Maaf kalo banyak typos, ini diketik di hp dan ga sempet di edit. mohon dimaklum kalo engga memuaskan. maaf banget. Maaf juga ga bisa bales reviewan , tapi bener bener makasih banyak buat yang udah dukung dan ngikutin cerita ini.

mind to review? i need feedback.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s