TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 4


TERRIBLE

Chapter 4 – It’s showing

Created by Amee

.

.

Warning:

Mpreg (hanya berlaku untuk Jaejoong)

.

.

Pagi datang bukan untuk mengejar malam, tapi untuk menerangi dunia dari kegelapan.

Seperti cinta yang datang untuk menerangi manusia dari kebencian.

Yoogeun terbangun saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Dilihatnya jam dinding, sudah pukul tujuh pagi, artinya ia sudah tidur berjam-jam. Hal pertama yang menjadi perhatiannya adalah buku bersampul merah yang jatuh ke lantai ketika ia menyibakkan selimut. Mengingatnya membuat pemuda cilik itu ingin kembali menangis.

Pintu kembali diketuk disusul oleh teriakan Jaejoong. “Sayang, kau sudah bangun?” katanya.

“Ne, Eomma. Aku sudah bangun,” jawab Yoogeun.

“Kalau begitu, aku tunggu di bawah, cepatlah mandi,” ujar Jaejoong lagi, kemudian yang terdengar hanya suara langkah yang perlahan menjauh.

Yoogeun meraih ponselnya, ia harus mengatakan hal ini pada Yoonjoong secepatnya. Tapi selama tiga detik ia hanya memegangi ponselnya tanpa melakukan apapun, membayangkan ayahnya yang belum pernah disentuhnya. Bukankah Yoonjoong sangat beruntung memiliki dua orangtua lengkap? Tapi bagaimana jika Yoonjoong membencinya? Bagaimana jika Yoonjoong tidak mau menerimanya sebagai saudara? Apa yang harus ia lakukan kemudian?

Yoogeun kembali meletakan ponselnya, lantas beranjak menuju cermin, ditatap pantulan dirinya di sana. Dia mengangkat sebelah alisnya, kemudian menggerakan hidung dan dahinya bersamaan, terakhir ia menggembungkan pipinya sambil menjulurkan lidah. Tidak ada yang aneh, kecuali kedua kantung matanya yang tampak membengkak.

“Bagaimana ini, Eomma pasti akan khawatir,” Yoogeun mendesah. Kemudian diambilnya kacamata hitam dari atas nakas, lantas dipakainya. “Apa begini sudah lebih baik?” Yoogeun tertawa melihat kekonyolannya sendiri.

Yoogeun menarik nafas dalam, lantas memeluk dirinya sendiri. Perlahan-lahan ia sadar bahwa sebenarnya ia ketakutan. Bukankah takdir yang dihadapinya terlalu berat untuk seorang anak berusia tiga belas tahun? Tidakkah Tuhan mengirimkan seorang malaikat untuk membantunya?

“Kapten Kim, tidak apa-apa kok, semuanya akan baik-baik saja,” Yoogeun menyemangati dirinya lantas masuk ke dalam kamar mandi.

Yoogeun keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian dan membutuhkan waktu dua puluh menit untuk bercermin, memastikan bahwa penampilannya baik-baik saja. Yoogeun membuka pintu kamarnya, dan dengan langkah ragu ia berjalan menuju ruang makan.

Yoogeun segera duduk, menunggu Jaejoong muncul dan meletakan sarapan di atas meja. Dari seberang meja, Jaejoong memerhatikan putranya sambil sesekali mengeryitkan dahi lantas terkikik. Sementara yang bisa Yoogeun lakukan adalah tidak mengangkat wajah dan terus menunduk memakan sarapanya, berpura-pura tidak tahu bahwa Jaejoong tengah menatapnya.

“Kenapa kau menggunakan kacamata hitam seperti itu?” tanya Jaejoong.

“Aku hanya ingin terlihat lebih keren,” jawab Yoogeun cepat.

“Bukankah kau memang sudah keren?”

“Maksudku lebih keren lagi, Eomma,”

“Memang dengan kacamata hitam kau bertambah keren?”

“Tentu saja, aku jadi mirip Captain Tsubasa,”

Jaejoong tertawa keras mendengarnya lantas dielus kepala putranya. “Tapi lebih baik kau membukanya, setidaknya saat sarapan, jadi aku bisa melihat matamu yang indah,” ujar Jaejoong sambil tersenyum.

“Kacamata ini untuk melindungiku dari pesona Eomma yang terlalu menyilaukan,” jawab Yoogeun sambil mengangguk tanpa mengangkat wajahnya.

Dan Jaejoong kembali tertawa mendengarnya. “Baik, aku kalah, kau selalu tahu kelemahanku, pujian,” sekali lagi Jaejoong tertawa sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Tapi kau harus membuka kacamata itu ketika berada di dalam kelas, arraseo?”

“Ne, arraseo Eomma,”

Jaejoong tersenyum. Menganggap hal semacam itu normal, mengingat Yoogeun baru berusia tiga belas tahun, dan wajar jika ia melakukan hal-hal yang terlihat aneh.

Perasaan orang lain, siapa tahu.

Rasanya menyakitkan.

OOO

Yoonjoong duduk dengan dagu yang bertumpu pada bingkai jendela, sementara telinganya dijejali earphone yang tengah memutar instrumen klasik. Ia mengetuk-ngetukan jari pada pahanya, lantas tersenyum memikirkan pertemuan orangtua yang akan berlangsung.

“Pertemuan itu akan menjadi sangat hebat. Aku bertaruh, semua Ibu dan anak perempuan yang hadir akan terpesona olehku dan Yoogeun, ditambah kehadiran Appa dan ayah Yoogeun, ini akan benar-benar keren. Ya Tuhan, memikirkannya saja aku sudah merasa seperti seorang artis,” gumam Yoonjoong.

“Yoonjoongie,” suara Yoogeun yang terdengar parau membuat Yoonjoong berbalik.

Yoonjoong menatap Yoogeun selama beberapa saat lantas tertawa dengan keras. “Astaga, apa yang kau kenakan itu? Demi Tuhan, ini di dalam kelas,”

“Aku…” Yoogeun menggantungkan kata-katanya, dan setetes air mata turun membasahi pipinya dari balik kacamata hitam yang dikenakannya.

Menyadari hal itu Yoonjoong segera melepaskan earphone yang dikenakannya dengan cepat. Direngkuhnya tubuh Yoogeun dengan kedua tangannya dan perlahan dilepaskannya kaca mata hitam yang Yoogeun kenakan. “Astaga, ada apa?”

“Kau boleh membeciku, kau boleh,” ujar Yoogeun pelan, ia bahkan terus menunduk, tidak berani menatap Yoonjoong.

“Yaa, ada apa denganmu? Ada seseorang yang menyakitimu? Katakan padaku, aku akan memberinya pelajaran!” balas Yoonjoong cepat.

Yoogeun menggeleng. “Satu-satunya yang salah di sini adalah kehadiranku,” kata Yoogeun dan ia kembali terisak.

“Jangan menangis, kau tidak keren lagi jika menangis. Kau jadi terlihat lemah. Kau akan kehilangan para fansmu nanti, bukankah kau tidak mau jika aku lebih popular dibandingkan denganmu?”

Yoogeun tersenyum namun kembali terisak sesaat kemudian. “Ini,” Yoogeun menyerahkan diary merah maroon yang sejak tadi didekapnya erat pada Yoonjoong.

Yoonjoong mengeryitkan dahi. “Apa ini?”

“Kau harus membacanya, dan kau akan mengerti,”

“Baik, aku akan membacanya,”

Yoonjoong membuka halaman pertama lantas membacanya. Hal pertama yang terjadi adalah kerutan di dahinya semakin tampak jelas. Yoogeun semakin menundukan kepalanya. Ia mencengkram ujung bajunya dengan tangan gemetar. Ia tidak ingin kehilangan Yoonjoong, ia tidak ingin kehilangan sahabat terbaiknya.

Yoonjoong membuka halaman demi halaman, dan raut wajahnya terus berubah-ubah. Dan pada halaman terakhir, Yoonjong menutup buku itu lantas berdiri dan menggebrak meja dengan keras, matanya membulat sempurna dengan butiran kristal bening di pelupuknya.

“Ini tidak bisa diterima, tidak bisa. Kau!” pekik Yoonjoong sambil mengarahkan telunjuknya pada Yoogeun.

Yoogeun kembali terisak lantas menundukkan kepalanya semakin dalam. “Kau boleh membenciku. Kau boleh tidak menerima kehadiranku, maaf,” lirih Yoogeun.

“Kau! Kau kakakku!” pekik Yoonjoong.

“Eh?” Yoogeun mengangkat kepalanya untuk kali pertama, dan ditatapnya Yoonjoong yang telah dibanjiri air mata, berkali-kali Yoonjoong menggunakan punggung tangannya untuk menghapus air mata yang terus keluar dengan gerakan kasar.

Yoonjoong menarik Yoogeun lantas memeluknya dengan sangat erat, ia melesakkan kepalanya pada pundak Yoogeun dan terisak di sana. Sementara Yoogeun melakukan hal yang sama. Di saat angin mendesir menggoyangkan dedaunan, keduanya saling menangis berpelukan.

“Kau kakakku, Yoogeunie. Ini sangat keren, sangat keren sekali aku sekarang punya kakak. Aku bukan anak tunggal lagi, aku punya kakak,” Yoonjoong semakin melesakkan kepalanya.

“Ne, aku juga,” jawab Yoogeun lemah. “Yoonjoongie, bisakah… bolehkan Ap..pa maksudku Eommaku tetap bertemu dengan Yunho Appa?”

Yoonjoong melepaskan pelukannya lantas mengangguk dengan cepat sambil menghapus air matanya. “Tentu. Hanya saja..”

“Ada apa?”

“Aku ingin kau bahagia, aku ingin Appa bahagia, aku ingin Eommamu bahagia, tapi aku juga ingin Eommaku bahagia. Apa tidak apa-apa… apa tidak apa-apa jika kita hanya mempertemukan mereka, tapi tidak lebih dari itu? Apa itu tidak apa-apa, Yoogeuni?”

Yoogeun kembali terisak, lantas ia memeluk Yoonjoong dengan sangat cepat, dengan sangat erat. “Itu bahkan sudah lebih dari cukup. Terimakasih,”

Takdir itu seperti jaring-jaring.

Kau tidak akan pernah tahu bagaimana akhirnya jika tidak menjalaninya.

Terkadang takdir membuatmu meneteskan air mata, namun kau harus menerimanya.

TBC

Ini adalah chapter terpendek, maaf banget, tapi emang ga bisa ditambah lagi. Chapter depan akan lebih panjang. Makasih banyak buat yang udah support, makasih banyak buat udah yang berkenan review, makasih banyak buat yang udah ngedukung, itu bener-bener jadi semangat. Makasih banyak.

Review please, I need feedback.

 

One thought on “TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 4

  1. Yoogeun sm yoonjong pkirnx udh bnr2 dwsa tpi apa mrka sdar klo mrka kembar,sprtix yoonjong msh anggap jessica sbgai ummax…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s