TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 5


TERRIBLE

Chapter 5- Showing

Created by Amee

.

.

.

Kenyataan itu terkadang mengejutkan

Terkadang seperti angin topan yang menakutkan

Terkadang kau ingin menolak keberadaannya.

Takdir, berbaik-baiklah.

Yoogeun duduk di meja makan sambil mengigit ujung rotinya sedikit-sedikit. Kakinya bergoyang-goyang gugup, berkali-kali ia menoleh ke belakang menanti kedatangan Jaejoong. Jantungnya mendadak saja berdetak dengan cepat.

“Jika mengerikan, hari ini seharusnya tidak perlu ada,” Yoogeun menggumamkannya berkali-kali seperti merapal mantra. “Tuhan, kumohon,”

Mendadak Yoogeun ingin berlari dari sana dan memasuki gereja, menyembunyikan diri di dalamnya selama berhari-hari hingga ia tenang, bersembunyi di balik jubah para uskup dan suster, tapi itu tidak mungkin dilakukannya.

Yoogeun benar-benar merasa gugup, sampai ia bisa mendengar detakan jantungnya sendiri. Beberapa kali ia menyeka keringat yang membasahi pelipis dengan punggung tangannya. Ia mencoba meluruskan badannya sejenak. Punggungnya terasa pegal. Namun hati kecil tetap memaksanya untuk bersemangat, dan ia tahu bahwa ia mampu.

Ketika telinganya mendangar langkah kaki, Yoogeun segera berbalik. Hal pertama yang dilihatnya adalah senyuman Jaejoong yang menurutnya sangat manis. Mendadak Yoogeun meninggalkan sarapannya lantas memeluk Jaejoong dengan erat, tangan kanannya sesekali menekan hidungnya sendiri agar ia tidak terisak.

Jaejoong mengelus kepala putranya dengan lembut. “Ada apa?” tanya Jaejoong.

“Aku mencintaimu, Eomma,” gumam Yoogeun pelan namun Jaejoong masih bisa mendengarnya.

Jaejoong tersenyum, lantas ia duduk bersimpuh untuk menyamai tinggi Yoogeun. “Aku juga mencintaimu. Demi Tuhan aku mencintaimu, sangat,” Jaejoong mengecup bibir mungil Yoogeun.

Yoogeun menatap Jaejoong, lantas cepat-cepat ia tertawa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal begitu dilihatnya mata Jaejoong yang berkaca-kaca. “Eomma, kau jelek sekali,” ujar Yoogeun.

“Siapa yang kau sebut jelek?” Jaejoong mencubit hidung Yoogeun pelan.

“Kau, Eomma. Astaga, apa-apaan pakaian seperti itu? Kemeja coklat, blazer hitam, celana jeans hitam, dan pantovel hitam. Apa seperti itu yang disebut pemilik butik terkenal? Seperti om-om saja,” Yoogeun terkikik mendengar kata-katanya sendiri.

“Yaa,” Jaejoong menjitak kepala Yoogeun sambil mengeram lucu, hingga Yoogeun kembali terkikik geli. “Aku memang om-om, apa kau puas anak muda?”

Yoogeun mengangguk cepat lantas menyeringai. “Aku sangat puas, kapten. Eomma, lebih baik kau kembali ke kamar dan berganti pakaian dengan yang lebih layak,” Yoogeun menepuk-nepuk pipi kanan Jaejoong dengan tangan mungilnya. Bagaimana Yunho appa akan tertarik pada Eomma jika penampilannya seperti itu, pikir Yoogeun.

“Pakaian yang layak itu seperti apa? Astaga Kim Yoogeun, ini adalah pakaian mahal yang sengaja kubeli untuk acara ini dan kau mencelanya, aku merasa sangat sakit hati. Sedih sekali rasanya,” Jaejoong mengucapkannya dengan ekspresi berlebihan seperti pemain opera sehingga Yoogeun kembali terkikik.

“Yaa.. jangan seperti itu, kau seperti wanita penyihir jahat yang dikalahkan peri baik hati,” Yoogeun kembali tertawa, dan satu jitakan mendarat tepat di kepalanya. Yoogeun meringis sambil menggosok-gosok kepalanya, lantas kembali menyeringai. “Lebih baik kau menggunakan kaos dengan warna-warna cerah saja, Eomma. Kaos biru atau merah muda dengan v-neck atau sabrina kurasa itu cocok, dan gunakan blazer putih saja ika kau mau, tapi tidak perlu seformal itu juga kurasa,” Yoogeun mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kau pikir kita akan bermain di taman? Ini pertemuan orangtua, Yoogeunie, aku tidak mungkin berlagak model seperti itu,”

“Apa kau mau dikalahkan oleh pesona ahjuma-ahjuma yang berlagak cantik dan berdandan seperti selebriti dunia dengan bedak tebal-tebal itu, Eomma?”

“Tentu saja tidak. Maksudku, aku akan datang sebagai Appamu, Geunie, kenapa aku harus tampak cantik seperti itu?”

“Aku tidak menerima penolakan Eomma. Meski kau hendak datang sebagai kakek atau buyutku sekalipun aku tidak peduli, kau harus tetap terlihat cantik. Ayo Eomma, cepat!” Yoogeun mendorong tubuh Jaejoong agar kembali memasuki kamarnya, lantas terkikik geli.

OOO

Selama di perjalanan Yoogeun terus memainkan ponselnya, berkali-kali mengirimi dan membalas pesan Yoonjoong untuk memastikan bahwa semuanya akan lancar. Yoogeun tersenyum membayangkannya, berharap Jaejoong akan berbahagia dengan apa yang dilakukannya. Tapi mendadak senyuman itu pudar, bagaimana jika Jaejoong justru tidak mengharapkan pertemuan ini.

“Yoogeunie, apa kau mendengar Eomma?” Jaejoong menyentuh pundak putranya.

“Ada apa?” Yoogeun tersentak kaget hingga ponsel yang dipegangnya hampir terjatuh.

Jaejoong tertawa keras lantas mengacak-acak rambut Yoogeun sehingga pemuda cilik itu memberengut kesal. “Kau tidak mendengarkanku, eh? Ayo kenalkan kekasihmu padaku,” goda Jaejoong.

“Kekasih yang mana, Eomma?” balas Yoogeun cepat sambil merapikan kembali rambutnya.

“Yang sedang kau pikirkan barusan,”

“Satu-satunya yang kupikirkan adalah kau, Eomma.” Yoogeun menoleh melirik Jaejoong yang tampak bersinar dengan kaos putih polos dan kalung perak kecil yang menggantung di lehernya, setelah menolak menggunakan kaos merah muda yang disarankan Yoogeun. “Aku hanya sedang berpikir, bagaimana jika ahjuma-ahjuma di sekolah nanti mendadak jadi genit dan liar karena terpesona olehmu, lalu mereka megerubungimu, dan kau mengabaikanku,” dusta Yoogeun.

Jaejoong tertawa dengan keras. “Tentu aku akan segera melarikan diri dari mereka dan menjagamu,” jawab Jaejoong.

“Janji?”

“Tentu saja,” Jaejoong mengangguk mantap, lantas kembali fokus pada jalanan di depannya.

Berselang dua menit kemudian, ponsel Yoogeun berdering menunjukan panggilan masuk dari Yoonjoong. Ragu-ragu ia mengangkatnya, takut jika Jaejoong mendengar dan mulai mencurigainya.

“Hallo, ada apa Joongie,” ujar Yoogeun begitu telepon tersambung.

Jaejoong segera menoleh mendengar Yoogeun menyebut panggilan itu, mendadak sesuatu menggelitik hatinya. Ia merindukan panggilan itu, ia merindukan seseorang yang selalu memanggilnya seperti itu. Namun segera diabaikannya dan kembali fokus menyetir.

“Seperti rencana, kita akan bertemu di kantin sekolah. Kau harus berpura-pura pergi dan biarkan mereka berdua bertemu. Sebaiknya kita mengamati mereka dari tempat yang cukup tersembunyi namun dapat mendengar semuanya. Aku sudah menemukan tempatnya. Dan kita harus segera keluar menghampiri mereka jika mendadak kondisi berubah gawat,” terang Yoonjoong.

“Ya, tentu,” jawab Yoogeun singkat berusaha agar Jaejoong tidak peduli.

“Jadi sekarang kau dimana? Aku sudah sampai di sekolah,”

“Sebentar lagi aku sampai, sampai bertemu di sekolah,”

Pip. Yoogeun memutuskan sambungan teleponnya, lantas menoleh pada Jaejoong yang tengah tersenyum padanya.

“Siapa yang menelepon?” tanya Jaejoong.

“Yoonjoong, dia menanyakan aku sedang dimana, katanya acara akan segera dimulai,” jawab Yoogeun lancar.

OOO

Tampak dua orang namja tampan duduk dalam satu meja. Keduanya memancarkan aura cassanova yang tak tertolak. Dua pasang mata musang yang saling bertatap satu sama lain seolah menimbulkan arus listrik pendek yang mengejutkan.

“Apa ini hanya perasaanku saja, atau memang semua gadis cilik di ruangan ini memandangimu dengan lapar?” Yunho menyeringai lantas menyesap cappuccinonya.

Yoonjoong menggeleng lantas menepuk-nepuk dadanya angkuh dengan gaya aristokrat. “Kau tidak salah Appa. Memang seperti inilah anakmu, sangat popular,”

“Itu karena kau adalah putra Jung,” balas Yunho cepat.

“Bukan karena darah Jung, tapi karena pesonaku memang tak tertolak dan wajahku sangat tampan,” Yoonjoong mulai menyesap cola float miliknya pelan pelan.

“Hah, jawaban seperti apa itu? Kalau kau bukan terlahir sebagai anakku aku yakin kau tidak akan setampan ini. Ketampananmu menurun dariku,” Yunho mengelus kepala Yoonjoong.

Yoonjoong mendongakan kepalanya perlahan, balas menatap laki laki dihadapannya. “Kau terlalu percaya diri, Tuan,”

Yunho menatap putranya lama lama kemudian tertawa dengan keras, meski kemudian segera ia menutup mulutnya untuk meredam tawa.

Layar ponsel Yoonjoong berkelap kelip di atas meja. Yunho hendak mengambilnya namun Yoonjoong lebih cepat sepersekian detik. Ia segera menyembunyikan ponselnya dan menatap tajam Yunho.

“Ini privasiku, Tuan besar Jung yang terhormat,” ujar Yoonjoong ketus.

Dan Yunho kembali tertawa mendengarnya. “Baiklah, baiklah aku mengerti. Putraku sudah besar rupanya.”

Yoonjoong mendelik sebal, lantas diceknya pesan yang masuk, mendadak ia menarik sudut bibirnya, tersenyum penuh arti.

Lama Yoonjoong berdiam diri dan duduk dengan gelisah, hanya menyesap cola floatnya hingga habis tak tersisa. Ketika kakinya sudah gatal ingin digerakkan, Yoonjoong memasukan ponselnya ke dalam kantong dan berdiri.

“Sepertinya aku butuh ke kamar mandi, Appa, tidak apa-apakan jika aku meninggalkanmu sendiri?”

Yunho kembali tertawa. “Seharusnya aku yang mengatakan hal semacam itu,” ujar Yunho. “Dan cepatlah kembali,” tambahnya.

“Hn.” Yoonjoong mengangguk cepat lantas berbalik pergi meninggalkan Yunho, menuju tempat yang telah direncanakannya.

Tuhan, lancarkanlah.

Tuhan, permudahlah.

Takdir, berbaik-baiklah.

OOO

Yoogeun membuka pintu mobil dengan gerakan kaku seperti robot berkarat. Telapak tangannya mendadak berkeringat dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Ada perasan khawatir yang menelusup di dalam dadanya. Namun sekuat tenaga ia berusaha menutupinya.

Setelah menutup pintu mobil, Yoogeun segera berlari menuju Jaejoong dan menggandeng laki laki cantik itu. Berusaha terlihat riang meski sebenarnya ia merasa hampir gila dengan pikirannya sendiri.

“Ya, kenapa menggandengku seperti itu? Nanti para fansmu kabur melihat tingkahmu yang seperti ini. Kau seperti anak gadis saja,” ujar Jaejoong berusaha menggoda putranya yang terasa sedikit aneh.

“Biarkan saja, asal Eomma tetap mengidolakanku, aku tidak peduli dengan para fansku yang lain,” jawab Yoogeun sambil menyeringai lantas melangkahkan kakinya dengan riang.

“Darimana kau belajar rayuan semacam itu?”

“Aku adalah dewa cinta,” jawab Yoogeun dengan suara husky yang dibuat-buat dan tangan kiri menunjuk dirinya sendiri. Jaejoong tertawa dan dicubitnya pipi Yoogeun hingga pemuda kecil itu meringis. “Sakit Eomma. Ah, ayo kita ke kantin, kau harus membelikanku semangkuk besar es krim sebagai permintaan maaf,” Yoogeun mengedip ngedipkan matanya.

“Baiklah, baiklah. Khusus untukmu akan kuturuti” jawab Jaejoong cepat.

Yoogeun menarik tangan Jaejoong yang tanpa disadari raut wajahnya berubah. Laki laki cantik itu hanya berpikir bagaimana jika hal yang selama ini dihindarinya justru ia temui.

Jung Yunho atau Jung Jessica. Haruskah ia bertemu dengan keduanya setelah tiga belas tahun menyembunyikan diri. Berkali kali Jaejoong menggumamkan doa semoga tidak terjadi sesuatu diluar keinginannya, dan kalaupun hal itu terjadi, semoga pertemuan itu tidak akan menyisakan luka

Mereka berbelok kanan di ujung koridor dan sampailah di kantin yang terasa penuh sesak oleh tumpukan orang tua murid dan anak-anaknya yang memenuhi sebagian besar meja.

“Eomma, carilah satu meja yang bagus dan stategis di ujung sebelah sana, disisi ini terlalu banyak orang. Aku ingin ke kamar mandi dulu setelah itu aku akan memesan es krim spesial untuk kita berdua,” ujar Yoogeun dengan gaya dewasanya.

Jaejoong terkikik memikirkan bagaimana anak seusia Yoogeun bisa mengatakan hal semacam itu.

Setelah Yoogeun berbalik pergi, Jaejoong mulai berjalan menyusuri kantin yang terasa sesak mencari tempat yang dapat membuatnya dan Yoogeun merasa nyaman, tanpa menyadari bahwa sepasang mata mengamatinya dalam duka.

Jaejoong hampir duduk ketika seseorang menepuk pundaknya. “Jae,” katanya. Dan tubuh Jaejoong menegang seketika.

Katakan padaku bahwa ini hanya mimpi, gumam Jaejoong berkalikali dalam pikirannya. Ia mematung di sana, berharap pada Tuhan bahwa tak ada kewajiban baginya untuk berbalik dan melihat siapa di belakangnya.

“Jae,” sekali lagi suara itu terdengar.

Jaejoong menarik nafas dalam dalam, setelah merasa cukup tenang ia membalikan tubuhnya dengan mantap. Matanya membelalak menatap Yunho yang berdiri tepat dihadapannya, namun cepat cepat ia menguasai diri.

Mata tajam seperti musang, wajah kecil, tubuh tegap dengan kulit kecoklatan, mengapa sangat sesak memandangnya. Jaejoong ingin mencengkram dadanya namun tak dilakukannya. Ia tak ingin terlihat lemah.

Jaejoong tersenyum setengah menyeringai. “Apa kabar Jung? Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Jaejoong datar.

Yunho merasakan pedih di dalam hatinya. Ia merasa terluka. Dan luka itu terasa lebih menyakitkan bekas sayatan pisau di lengan. Yunho menunduk dalam dalam lantas diangkat kepalanya dengan cepat dan ditatapnya Jaejoong tepat di matanya. Ia merasakan desiran di dalam dadanya yang terasa meluap luap. Lantas ditariknya Jaejoong ke dalam pelukannya. Jaejoong membelalakan matanya, namun dengan cepat ia mrmbalas pelukan itu dengan normal tanpa emosi berlebihan, seperti pelukan teman lama, lantas melepaskannya.

“Kapan kau pulang Joongie? Dimana selama ini kau tinggal? Mengapa aku sulit menghubungimu? Aku sangat mengkhawatirkanmu,” Yunho mengucapkannya dengan terputus putus. Matanya terus menatap Jaejoon tak ingin melepaskannya.

“Ah, kapan acaranya dimulai? Apa masih lama?” tanya Jaejoong.

“Aku merindukanmu,” gumam Yunho. Sebuah kata yang terus diucapkannya dalam mimpinya setiap malam selama tiga belas tahun.

“Apa kau juga ikut dalam pertemuan orang tua?” tanya Jaejoong dengan suara yang tersedak.

“Maaf,” lirih Yunho. Ia menatap dalam dalam dua bila mata Jaejoong yang seakan akan tidak mau diam.

“Jangan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal,” balas Jaejoong cepat, berusaha menekan detakan jantungnya yang begitu hebat.

Yunho masih menatap Jaejoong dengan dalam. Pundaknya bergetar menahan tangis yang bisa pecah kapan saja. Diingatnya lagi seberapa pengecut ia dulu. Rasanya sangat menyakitkan. Rasanya ia ingin berlari, menciumi Jaejoong, dan memeluknya dengan sangat erat tanpa pernah melepasnya lagi, lantas meminta maaf berulang ulang sampai Jaejoong memaafkannya. Namun tidak bisa dilakukannya karena ia sadar, akan banyak pasang mata yang mengawasinya.

“Maaf,” guman Yunho lagi.

“Berhentilah mengatakan hal hal tidak masuk akal,” balas Jaejoong.

Yunho mencengkram kedua lengan Jaejoong dengan sangat erat. “Aku sangat mencintaimu, sangat, bahkan hingga kini aku tetap mencintaimu,”

Jaejoong tertawa dengar keras sampai beberapa orang yang berada di dekatnya menolrh. “Jangan membuatku tertawa, Tuan Jung yang terhormat. Dan menjauhlah dariku sebelum nama baik dan harga diri yang diagungkan keluargamu tercoreng,”

“Jangan menyangkalnya Kim Jaejoong. Aku tahu kau masih mencintaiku sebagimana aku mencintaimu,”

“Ya, ya, persetan dengan semua kata cinta. Aku bahkan tidak tahu apa itu. Jadi berhentilah mengatakan omong kosong macam itu. Dan kau lihat sekelilingmu, mereka semua memerhatikan drama picisan ini. Apa kau tidak malu?”

Seolah mengabaikannya, Yunho mulai berbicara. “Aku ingat kau yang selalu tersenyum padaku. Membawakan bekal untukku. Dan kau yang selalu mengingatkan semua tugas dan jadwalku dengan sangat cerewet,” ujar Yunho.

“Kau benar benar gila, Jung. Sepertinya aku salah datang ke acara ini,” hardik Jaejoong.

“Aku mencintaimu, Jae. Tidak bisakah kau kembali padaku?” Yunho merasakan jantungnya berdenyut denyut seperti kesakitan yang begitu menyiksa.

“Jangan membuatku mual, Jung!” pekik Jaejoong keras. “Jangan membicarakan hal hal absurd semacam cinta,” Jaejoong menurunkan nada bicaranya.

Jaejoong menghempaskan tangan Yunho yang masih berada di bahunya dengan gerakan sedikit kasar. Jaejoong hendak beranjak ketika melihat seorang pemuda cilik berjalan ke arahnya dengan panik.

“Appa. Kau tidak apa-apa? Kenapa wajahmu pucat?” tanya Yoougeun.

“Appa? Jae, kau sudah menikah?” Yunho mengguncangkan tubuh Jaejoong dengan keras. Dan sesuatu di dalam dadany terasa bergejolak.

“Sudah kukatakan padamu, aku sedang ikut dalam pertemuan orangtua, kenalkan dia putraku, Kim Yoogeun,”

“Kim… Yoogeun?” Yunho tergagap. “Kim?” ulangnya lagi.

Yunhi menurunkan tangannya dari pundak Jaejoong dan membiarkannya tergantung tanpa tenaga. Mendadak seseorang memeluk Yunho dengan sigap, seolah hendak menopang tubuhnya.

“Appa kau baik baik saja?” tanya Yoonjoong.

Jaejoong membulatkan matanya, jantungnya berdetak dengan cepat sampai ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Anak itu benar benar sangat menyerupai Yunho, namun menatapnya membuat rasa sakit yang telah dikuburnya dalam dalam kembali mencuat ke permukaan. Tentang masa itu. Tentang Jesicca. Tentang penghinaan yang diterimanya dari keluarga Jung yang terhormat.

“Kau putra Jung? Siapa namamu?” Jaejoong tersenyum sambil mengelus pipi Yoonjoong pelan, namun menimbulkan aliran listrik yang membuat tubuhnya menegang.

“Jung Yoonjoong, salam kenal,”

Jaejoong tersenyum sementara Yunho membelalakan matanya. “Apa yang sudah kau katakan, Jae?” pekik Yunho.

TBC

Tsuzukii~

Pertanyaannya adalah anak siapa Yoogeun dan anak siapa Yoonjoong. Please tekan button di bawah dan tinggalin review. Sankyuu~

5 thoughts on “TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 5

  1. Yeee akhrx yunjae ktmuan jga,…
    bgus jae,prthanin sikap dnginx biar yunho sdar klo dia slma ini udh slah biarin kmu prgi….
    biar aja dlu yunho di cuekin,hehehe

  2. Huaaaaa umma KEREEEEENNNNNN…judesin ajaaa umma si appa bear biar kapokkk…beruntung nahhh dapetin umma…umma jeje paling KECEEEEHHH…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s