TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 6


TERRIBLE

Chapter 6- Lets begin

Created by Amee

.

.

Matahari menghujam kulitnya yang halus. Jaejoong mulai bermandikan peluh, rambut hitamnya tampak jatuh, lusuh. Dan kaus putihnya kini tampak menempel pada kulit punggungnya. Dia duduk di kursi taman lantas diingat-ingatnya lagi kebodohannya.

“Apa yang sudah kau katakan, Jae?”

Kata-kata Yunho terus berputar dalam memorinya seperti seluloid tua. Saat itu mereka saling berpandangan lama, seolah waktu terhenti. Mata Jaejoong terus memandang mulut Yunho yang memekik, karena merasa takut jika harus menatap matanya. Yunho menyetuh pipi Jaejoong dengan telapak jemarinya. “Apa yang sudah kau katakan, Jae?” diulangnya kata itu dengan nada lirih. Mengingatnya membuat Jaejoong memanas karena emosi.

“Tidak!” Jaejoong berteriak lantas menggeleng dengan keras. “Seharusya aku tak mengatakan hal itu. Sial!”

Mendadak segala ketakutan muncul entah dari mana dan mengejarnya. Jaejoong merasa tubuhnya menggigil seperti yang pernah dialaminya tiga belas tahun yang lalu. Ia butuh segelas tequila atau sebutir alprazolam untuk menenangkan diri.

“Putra Jung? Dia putraku juga,” Jaejoong tertawa sarkastik saat mengucapkannya. “Maafkan aku Yun. Maafkan Eomma, Yoonjoong,” gumam Jaejoong lirih.

Jaejoong membenci dirinya karena bertanya, karena mengetahui segalanya, karena berpura-pura, karena dihantui masa lalu, dan karena bertindak seolah peduli tapi teryata melakukan hal yang salah.

Dipejamkan matanya, lantas diulurkan tanganya, seolah menyetuh pipi Yoonjoong. Wajah tampan yang mungil, kulit lembut, anak laki-laki itu telah tumbuh dengan sangat sempurna selama tiga belas tahun di luar pengawasanya.

Mereka telah terpisah selama tiga belas tahun bahkan sebelum Jaejoong sempat mengajak bayi mungilnya berbicara saat itu, belum sempat memberinya nama. Lalu suatu ketika ia dipertemukan kembali ketika putranya telah berusia tiga belas tahun, dan ia tetap tidak bisa memeluknya. Jaejoong terlalu takut.

Dibuka matanya perlahan dan tidak ada apa-apa di hadapannya, hanya menyentuh angin. Mengingatnya membuat Jaejoong tertawa perih. Rasanya tidak mungkin anak laki-laki itu, Yoonjoong, mengetahui keberadaannya. Tentu Jesicca yang selama ini menjadi sosok ibu baginya. Jaejoong merasa kesal, tapi ia mengakui bahwa ucapan terimakasih pantas Jesicca dapatkan karena telah merawat putra yang telah di ambil paksa darinya.

“Aku ingin memelukmu, aku ingin menciumimu Yoonjoongie. Apa kau mengenaliku? Apa kaitan darah menyambungkan perasaanku padamu? Dan Yunho-ah, aku berdusta dengan segala ucapanku. Aku mencintaimu, dan akan tetap mencintaimu. Feromon di dalam tubuhku tidak perah mati untukmu, tapi situasi sulit ini menekanku, hingga aku sesak,”

Sebuah tangan mungil menyentuh pundaknya. Jaejoong membalikan tubuhnya, ada yang tersenyum disana. Serupa dengan dirinya, namun dalam postur yang lebih kecil. Di kedua tangan mugilnya ada dua cone es krim yang hampir meleleh. Yoogeun tersenyum, memamerkan deretan gigi putingnya.

Shine bright like a diamond.

“Untukmu Eomma,” Yoogeun menyerahkan satu cone pada Jaejoong.

Semilir angin mengusap lembut wajahnya yang seperti dibakar. Ditatapnya sosok mungil itu. Ada kenyamanan yang luar biasa.

“Terimakasih,” jawab Jaejoong.

Jaejoong menjilat es krimya. Lantas diambil sebatang rokok dari dalam kotaknya beserta pematiknya. Ia menyentuhkan ujung rokok ke api, lantas menghisapnya dalam-dalam, tapi cepat-cepat Yoogeun menariknya, lantas diinjaknya hingga hancur.

“Habiskan es krimmu, Eomma, aku sengaja membelikan rasa vanilla untukmu” gumam Yoogeun. “Bagaimana menurutmu?” tanya Yoogeun begitu Jaejoong kembali menjilat es krimya.

“Enak,” gumam Jaejoong. Ditariknya Yoogeun ke dalam pelukannya. Mendadak ia mengharapkan memiliki kelurga utuh. Dirinya, Yunho, Yoogeun, dan Yoonjoong.

Yoogeun mendongak, dan didapatiya Jaejoong menatap kosong dengan air wajah yag mengeras. “Jangan seperti ini, Eomma. Sikapmu menakutiku. Eomma, daijoubuka*? Kalau kau tidak menyukai es-nya, aku akan menghabiskannya untukmu,” Yoogeun berusaha melepaskan diri, lantas ditatapnya Jaejoong dalam-dalam.

“Hai, daijoubu, maaf membuatmu khawatir,” Jaejoong mengangguk, lantas kembali dijilat es krim di tangannya. Cone es krim itu terasa rapuh di dalam genggamannya seperti sebuah jeli lunak.

Ditatapnya Yoogeun, dan Jaejoong kembali merasakan kegamangan yang teramat. Bebagai pertanyaan berputar memenuhi pikirannya. Apakah putranya akan menerima jika ia memiliki saudara, apa putranya akan mengerti?

Jaejoong membesarkan Yoogeun seorang diri, dan Yoogeun telah terbiasa dengan Jaejoong. Hanya mereka berdua, tidak ada sosok lain. Sementara Yoonjoong adalah sahabat Yoogeun, apa putranya bisa menerima bahwa darah mengikat mereka? Akan mengejutkan. Dan itulah yang Jaejoong pikirkan sehingga ia tidak berani mengakui Yoonjoong secara terang-terangan.

Jaejoong membiarkan es krimnya lumer bersamaan dengan air mata yang turun membasahi pipinya. Lantas tangisnya benar-benar pecah, tak tertahan. Ia terisak. Yoogeun tergelak, dengan cepat diambilnya es krim dalam genggaman Jaejoong, dibuangnya ke tempat sampah yang tak jauh darinya. Dengan gerakan halus, Yoogeun menyeka air mata Jaejoong dengan ibu jarinya. “Jangan menangis, Eomma,” gumamnya.

Jaejoong segera menarik Yoogeun ke dalam pelukannya. Ia meletakan kepalanya pada bahu mungil Yoogeun. Terisak di sana, merasakan keperihan yang terus menjalar di dadanya seolah tidak ingin enyah.

“Maaf atas kebohongan tentang roda kehidupan ini, tetapi ini kulakukan karena aku benar-benar takut,” ujar Jaejoong. “Ini sangat sulit Yoogeun-ah, ini sangat sulit bagiku. Dan ini tidak adil bagimu. Tidak adil untuk kita semua. Ini terlalu sulit. Dan rasanya aku tidak sanggup,”

Yoogeun mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak mengerti dengan yang Jaejoong katakan. Secerdas apapun, sedewasa apapun, ia hanyalah seorang anak berumur tiga belas tahun yang belum mengerti pahitnya kehidupan, dan kejamnya jaring yang dilempar sang takdir.

“Apa ini tentang Yunho Appa?” tanya Yoogeun.

Jaejoong tergelak, suaranya seperti tercekat. “Yunho Appa?”

“Dia appaku kan Eomma? aku sudah mengetahuinya,”

“Darimana kau tahu?”

Yoogeun menggeleng. “Awalnya sangat sakit, Eomma. Di dalam sini,” tunjuk Yoogeun tepat di dadanya. “Tapi Yoonjoong bisa menerimaku, dan aku senang bahwa aku memiliki seorang adik sekarang,” Yoogeun tersenyum dengan tulus, perasaan murni seorang anak yang tidak terlalu memikirkan kepedihan.

Jaejoong semakin terisak, ia mencengkram pundak Yoogeun dengan tangan bergetar. Dadanya naik turun dengan cepat, dan air mata kembali membasahi pipinya.

“Maafkan aku, dan terimakasih,” gumam Jaejoong.

Ditatap dua mata Jaejoong yang digenangi butiran kristal. “Apa Eomma juga merasakan sakit di sini?” tunjuk Yoogeun tepat di dada Jaejoong.

Jaejoong mengangguk dengan cepat. “Sangat,” gumamnya.

“Kalau begitu ayo kita pulang. Eomma harus beristirahat. Akupun begitu, aku merasa sakit di dalam sini kemudian aku tidur, dan saat aku terbangun, rasa sakit itu mulai hilang,” Yoogeun tersenyum, lantas kembali menyeka air mata Jaejoong. “Dan jangan menangis Eomma. Matamu akan bengkak dan kau akan terlihat buruk, aku tidak mau kehilangan Eommaku yang cantik,”

Jaejoong tersenyum, sehingga ia dapat merasakan asin dari air mata yang lolos jatuh di pipinya dan membasahi bibirnya. Ditariknya wajah Yoogeun lantas diciumnya dengan lembut. “Ayo kita pulang,” gumam Jaejoong.

OOO

“Masuklak ke kamarmu, dan segeralah ganti baju,” ujar Yunho sambil mengelus kepala Yoonjoong begitu mereka memeasuki kediaman Jung.

“Ne, Appa,” Yoonjoong mengangguk cepar, lantas segera berlari menuju kamarnya.

Yunho menghela nafas berat. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan-banyangan Jajeoong yang terus menghantuinya. Dadanya bergemuruh hebat, ia benar-benar takut jika harus kehilangan Jaejoong lagi. Penyesalan, kerinduan, dan segala hal berkecamuk menjadi satu.

Yunho masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu keras-keras, hingga menimbulkan gema dalam ruangan. Sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun tentu telah membuat peta rancangan kehidupan, dan itulah yang dilakukannya bersama Jaejoong. Namun tak ada satupun yang terealisasi.

“Aku mencintaimu, Jaejoong-ah. Sangat mencintaimu!” teriak Yunho.

Ia berjalan dengan kaku ke arah buffet. Diambilnya sebuah frame yang membingkai foto Jesicca, lantas dilemparnya keras-keras ke lantai. “Ini semua karenamu, seharusnya aku bisa bersikap tegas, seharusnya aku menolak pernikahan denganmu, dan seharusnya aku tak pernah kehilangan Jaejoong!”

Tiga belas tahun yang lalu, ia meringkuk ketakutan dalam keotoriteran kedua orangtuanya. Membiarkan kekasih yang dicintainya terkatung-katung tanpa mengejarnya. Dan kali ini ia harus memperbaiki semuanya.

“Apa yang sudah kau lakukan?” pekik Jesicca keras, ketika ia masuk ke dalam kamar dan mendapati bingkai foto yang telah pecah berserakan di atas lantai.

Yunho tertawa sarkastik dengan wajah stoic yang menyebarkan aura dingin. “Aku kehilangan Jaejoong dan ini semua salahmu!” pekik Yunho.

“Sudah berapa kali kukatakan untuk berhenti memikirkannya. Dia sudah pergi, Yunho-ah. Dia sudah pergi!” jerit Jesicca.

“Ya, aku kehilangannya dan aku sedah kembali menemukannya,”

“Jadi laki-laki jalang itu sudah kembali?” ujar Jesicca retoris, dan satu tamparan mendarat di pipinya.

“Jaga bicaramu, pendusta!”

“Pendusta katamu? Aku? Pendusta?”

“Ya, kau! Jaejoong sudah menikah dan dia sudah memiliki seorang anak, dan ini semua salahmu!”

“Apa hubungannya denganku? Jika dia memang menikah itu karena kehendaknya, bukan karena salahku. Dan kau, kau adalah suamiku, seharusnya kau membelaku,”

“Aku hanya mencintai Jae dan itu tak akan pernah berubah. Dan Jesicca-sii, sudah cukup kau menipuku dengan semua sandiwara ini. Sekarang katakan padaku, siapa Yoonjoong?”

Jesicca tertawa. “Kau tanya siapa dia? Dia anakmu Jung, apa kau tak mengenali anakmu sendiri?”

“Dia bukan anakku!”

“Kau gila!”

“Ya, aku gila dan dia bukan anakku! Dia bukan anakku dan Jaejoong seperti yang selalu kau katakan padaku. Kau tahu, Jaejoong bahkan tak mengenalinya!”

“Tentu saja, karena dia sudah membuangnya. Yoonjoong sudah menjadi anakku sejak tiga belas tahun yang lalu dan tidak ada yang bisa mengubahnya,”

“Ya, dia anakmu. Hanya anakmu, bukan anakku!”

Yunho mengeram kasar. Ia merasa telah ditipu, telah diperdaya. Dan seakan percaya bahwa Yoonjoong adalah putranya dan Jaejoong. Seharusnya sejak dulu ia sadar bahwa Jaejoong takkan semudah itu menyerahkan anak mereka padanya.

Yunho melempar vas bunga ke lantai, lantas berteriak-teriak, mengumpat seperti orang kesetanan. Tanpa diketahuinya bahwa takdir tengah menertawakan kebodohannya. Tanpa mengetahui bahwa Yoonjoong benar-benar putranya.

Yunho membuka pintu dengan kasar, lantas tersentak. Tubuhnya menegang dan rasa sakit mendadak merebak menyakiti setiap inchi tubuhnya begitu melihat Yoonjoong tengah berdiri di balik pintu dengan tubuh yang bergetar hebat dan air mata yang mengalir deras, ia terisak dengan sangat cepat hingga terasa sangat menyayat.

“Eomma,” gumam Yoonjoong lirih di sela isakannya dengan bibir dan pundak yang bergetar hebat. Sertifikat ‘pelajar terbaik’ dalam gengamannya yang seharusnya ia tunjukkan pada Jesicca tampak kusut, lantas terjatuh dan terinjak.

Di dalam kamar, Jesicca jatuh terduduk menatapnya, lantas ikut terisak. “Maafkan aku, Joongie,”

“Yoonjoongie,” Yunho berusaha menyentuh kepala Yoonjoong dengan gerakan yang kaku dan tangan bergetar, namun dengan cepat Yoonjoong menepisnya.

Anak laki-laki itu menunduk menatap lantai. “Aku.. tidak men..dengar apa-apa, Appa,” gumamnya lantas segera berlari berbalik dengan isakan yang lebih keras.

“Yoonjoong!” pekik Yunho, namuan seperti sebuah de javu, ia tak melakukan apa-apa, tidak pula mengejarnya, hanya berdiri mematung di tempat. Hingga yang terdengar hanyalah suara pintu yang dibuka dan kembali ditutup dengan cepat. Yoonjoong pergi.

Seharusnya mereka bahagia.

Namun takdir mempermainkan mereka dengan sangat kejam.

Memisahkan mereka.

Dan membuat kesalahpahaman di antara mereka.

OOO

Jaejoong dan Yoogeun tengah saling memeluk satu sama lain di ruang keluarga sambil bercerita tentang banyak hal, ketika pintu rumah mereka di ketuk dengan tidak sabaran.

“Biar aku saja, Eomma,” ujar Yoogeun sambil beranjak turun dari pelukan Jaejoong.

Yoogeun berjalan, diikuti Jaejoong di belakangnya. Sesungguhnya laki-laki cantik itu hanya cukup duduk dan menunggu, namun sesuatu menggelitik hatinya untuk mengikuti langkah putranya.

Pintu perlahan terbuka dan menampilkan sosok Yoonjoong yang begitu lemah dan ringkih ia terisak dengan sangat keras hingga nafasnya tersenggal-senggal. Air mata yang turun dengan dengan deras membasahi pipi membuat kedua kantung matanya bengkak dan tubuhnya bergetar dengan sangat hebat.

“Yoogeuni,” gumam Yoonjoong

Yoogeun segera berlari memeluknya, mendekapnya dengan sangat erat, dan ikut terisak bersama Yoonjoong ketika ia merasakan kesakitan asing yang mendadak menelusup ke dalam dadanya ketika melihat seseorang yang selalu melindungi dan menghiburnya terlihat begitu ringkih.

Tidak tahu bahwa mereka kembar.

Takdir berhentilah bermain rahasia.

Jaejoong mengamati dua refleksinya dan Yunho dalam ukuran kecil yang saling berpelukan dan terisak. Tanpa sadar Jaejoong kembali menangis, dirangkulnya kedua anaknya dengan sangat erat seolah ia akan kembali kehilangannya. Ia menelusupkan kepalanya di kedua pundak putranya.

“Aku sangat mencintai kalian. Tuhan, terimakasih,” gumam Jaejoong lirih.

Ketika angin timur bertiup dengan sangat kencang, ketiganya saling berpelukan dan terisak bersamaan dengan tiga alasan yang berbeda.

Takdir berhentilah bermain-main setelah ini.

TBC

Daijoubuka? = Apa kau baik baik saja?

Apakah chapter ini cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan di chapter sebelumnya? Apakah masih ada typo(s)? Gue udah nyoba buat edit semampunya.^^

Ini adalah cerita multichapter yang paling banyak chapternya yang gue buat, udah sampe chapter 6 padahal biasanya chapter 5 berhenti XP

Sebelumnya gue mau ngucapin banyak-banyak terimakasih buat yang udah dukung, dan udah kasih masukan, dan kritik membangun buat gue di chap sebelumnya, maaf gue ga bisa jawab satu-satu.

.

.

I need feed back

See you on the next chapter

3 thoughts on “TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 6

  1. Mkin slh paham aja nih yunho nya,dkirax yoonjong bkn ankx pdhl…
    sbnrx yg ending part 5 kmrn sy krg ngerti mksdx…hehe
    tpi dsni sy udh mulai ngerti…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s