TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 7


TERRIBLE

Chapter 7- When I was young

Created by Amee

.

.

Warning : Narasi dominan, Long chapter, Dont sleep please LOL

.

.

FLASHBACK – 13 years before

Jika takdir boleh ditentang

Maka akan kutentang

Jika takdir bisa dilewati

Maka akan kulewati

Aku tak pernah memilih untuk terjebak dalam situasi seperti ini.

Jaejoong berjalan gontai menuju rumahnya, sebuah tempat yang sesungguhnya tak layak lagi ia sebut rumah, karena tidak akan ada lagi yang mau menerimanya di sana. Ayahnya telah mengusirnya, sementara Ibunya tidak mampu berbuat apa-apa. Jaejoong tertawa sarkastik kemudian terisak pada waktu bersamaan hingga mengeluarkan suara pilu yang begitu menyakitkan.

Tubuhnya menggigil karena tidak ada lagi yang dikenakannya selain kaos biru muda, dan kemeja kebesaran yang digunakannya sebagai jaket. Ditatapnya rumah berukuran sedang yang telah membesarkannya selama ini dari ujung gang. Setiap langkah yang semakin medekat terasa semakin berat. Bersamaan dengan itu, Jaejoong mulai merasakan kesakitan dan rasa putus asa di dalam dirinya.

Langkah Jaejoong memaku di tempat begitu ia sampai di pekarangan rumah, rasa dingin perlahan menyergapnya hingga ia membeku dan seakan kehilangan arah. Ia merasa gamang. Haruskah ia tetap melangkah masuk, dan kembali mendapat cercaan menyakitkan.

Hidup, mengapa sesulit ini?

Jaejoong kembali terisak, tubuh ringkihnya tampak begitu menyedihkan. Pundak kecilnya bergetar hebat, sementara kedua tangan terus memeluk perutnya sendiri, berusaha melindungi janin di dalamnya agar tidak merasa kedinginan.

“Maafkan aku, maafkan aku. Kau harus bertahan,” gumam Jaejoong berkali-kali sambil mengelus-elus perutnya yang masih datar. “Kita akan baik-baik saja,” tambahnya dan kembali menangis.

Jaejoong menggigit bibirnya dengan sangat keras berusaha menahan isakan, hingga ia dapat merasakan darahnya sendiri. Jaejoong menengadah menatap langit yang terasa kelam, hitam tanpa bulan maupun bintang. Ia hanya seorang anak manja yang selalu bergantung kepada kedua orangtuanya, lantas kali ini ia harus berusaha seorang diri, membesarkan seorang anak yang bahkan belum siap ia miliki.

Yunho. Apa kabar laki-laki itu? Ia tidak mendapat kabar apapun tentangnya setelah pertemuan di kediaman Jung dua hari yang lalu. Dan selama dua hari itu pula, Jaejoong terkatung-katung tanpa arah, tidur di gereja, berkali-kali melakukan pengakuan dosa, dan hanya memakan bubur yang diberikan cuma-cuma oleh seorang suster di sana setiap pagi.

Jaejoong tertawa sarkastik mengingatnya, Jung Yunho benar-benar seorang pengecut dan sialnya ia masih tetap mencintainya. Dipikir lagi, mungkin apa yang dilakukan Yunho tidaklah sepenuhnya salah, bukankah para uskup di gereja selalu mengatakan bahwa restu orangtua adalah restu Tuhan. Jaejoong berusaha berpikir bahwa tindakan yang diambil Yunho adalah bentuk baktinya pada orangtua.

Jaejoong mengepalkan kedua tangannya lantas diletakannya di depan dada. Matanya terpejam. “Tuhan, kuatkan aku. Buat semuanya lebih mudah untuk dilewati. Amin,”

Jaejoong menghapus air matanya dengan lengan kemeja, lantas berjalan dengan gerakan terseok mendekati pintu rumah. Dibukanya perlahan knop itu, lantas masuk dengan langkah hati-hati berusaha untuk tidak menimbulkan suara.

Rumah yang seharusnya akrab dengannya tampak sangat asing. Hawa dingin memenuhi ruangan, barang-barang berserakan, dengan beberapa benda keramik yang pecah berserakan di lantai. Jaejoong berjalan dengan gugup, ketakutan kembali menyergapnya sehingga air mata kembali jatuh. Kedua kakinya bergetar dengan hebat seolah tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Ini semua salahnya, itu yang terus Jaejoong percayai.

Kalau pun Tuhan ingin mencabut nyawanya, ia pikir ini adalah waktu yang sangat tepat, ia bahkan tidak memiliki pilihan lain selain itu. Tapi mengingat ada kehidupan lain di dalam dirinya, ia kembali terisak dan berdoa yang terbaik.

Dari dalam kamar utama, Jaejoong mendengar isakan Ibunya yang seolah tak terputus-putus, sementara ruang keluarga yang baru saja dilewatinya tampak sepi meskipun televisi menyala dengan volume keras, dan Ayahnya ada di sana, duduk diam menghadap televisi.

“Appa,” gumam Jaejoong lirih dengan suara yang hampir tak terdengar. “Maafkan aku,” dan Jaejoong berlutut di sana.

Kim Hyunbin tidak menjawabnya, bahkan menoleh pun tidak. Jaejoong masih dalam posisi berlutut, ia mencengkram kedua lututnya keras-keras hingga buku-buku jarinya memerah, dan air mata mengalir dengan derasnya tanpa bisa dicegah, ia terisak dengan keras, punggungnya bergetar hebat.

“Maafkan aku, Appa,” lirih Jaejoong sekali lagi. “Silahkan marah padaku, silakan membenciku, silakan mengusirku, tapi jangan menolakku sebagai anakmu, aku tidak memiliki tempat lain untuk berpijak. Maafkan aku… maaf,”

Kemudian Jaejoong merasakan sebuah pelukan di tubuhnya, pelukan yang sangat erat dan lembut. Pelukan seorang wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. “Kau pulang Joongie, kau pulang,” Kim Hanna semakin mengeratkan pelukannya.

“Eomma,” Jaejoong membalas pelukan Hanna dengan tangan bergetar. Lantas menangis dengan keras di pundak wanita itu. “Jangan lepaskan pelukanmu, Eomma. Joongie tidak bisa berdiri sendiri, aku tidak bisa, bantu Joongie, Eomma, kumohon.”

“Kali ini aku tidak akan melepaskanmu,” Hanna menciumi puncak kepala Jaejoong berkali-kali, hingga beberapa helai rambutnya tampak basah karena air mata yang jatuh dari kedua kelopaknya.

Kim Hyunbin berdiri dengan kaku, ditatapnya dua orang yang tengah berpelukan dengan tatapan yang sulit diartikan. Marah, kecewa, menyesal. “Ya, kau tidak akan melepaskannya kali ini, tapi kau akan melepaskannya selamanya!” bentak Hyunbin dengan nada tinggi.

“Appa,” Jaejoong terisak dengan sangat keras, sampai ia tidak mampu mengontrol dirinya sendiri, seluruh tubuhnya bergetar hebat.

“Apa yang sudah kau katakan? Kau ingin membuang anakmu sendiri?” Hanna semakin mengeratkan pelukannya pada Jaejoong, wanita itu turut terisak dengan keras.

“Bukankah aku sudah mengusirmu, untuk apa lagi kau kemari?” pekik Hyunbin keras, sambil berusaha melepaskan pelukan Hanna pada Jaejoong yang justru semakin erat.

Jaejoong melepaskan pelukannya pada Hanna, kemudian berlutut di kaki Hyunbin dengan punggung terisak. Dipeluknya kedua kaki tegap itu, lantas terisak di sana. “Aku akan pergi Appa, aku akan pergi. Tapi tolong jangan lupakan aku, jangan buat aku melupakanmu, biarkan aku tetap menjadi anakmu Appa, kumohon.”

Hyunbin tidak menjawab apapun, rahangnya mengeras, dan dadanya naik turun dengan cepat. Saat itu emosi menguasainya. Sementara Hanna sudah terisak dengan keras, menopang tubuhnya yang hampir roboh pada tepian sofa.

“Aku akan pergi sekarang Appa, aku hanya ingin beberapa bajuku,” Jaejoong mencoba untuk tersenyum pada sang Ayah, kemudian beralih menatap Hanna. “Aku akan baik-baik saja, Eomma,” gumam Jaejoong sambil menggigit bibir bawahnya menahan isakan agar tidak lolos dari sana.

Jaejoong berjalan gontai menuju kamarnya, menaiki satu persatu anak tangga yang terasa begitu panjang. Ia masuk ke dalam kamarnya, mengambil beberapa pasang baju dan memasukkannya ke dalam ransel, lantas cepat-cepat kembali turun ke bawah.

“Aku pergi,” gumam Jaejoong, berusaha untuk tidak berbalik dan menatap Hanna, yang ia tahu akan menghancurkan kembali pertahanannya.

Jaejoong berjalan dengan cepat, membuka pintu dan melewati halaman, namun kembali Hanna memeluknya, hingga hampir saja Jaejoong ingin tetap berada di sana.

“Apa kau benar-benar mau pergi?” tanya Hanna, berharap jawaban tidak yang akan dilontarkan putranya.

Jaejoong mengangguk. “Aku akan baik-baik saja, Eomma,”

Hanna jatuh terduduk dan terisak dengan keras, hingga Jaejoong ikut mendudukkan tubuhnya dan memeluk Hanna dengan erat. “Kau akan mengalami masa yang sangat sulit, Joongie. Biarkan aku pergi bersamamu,”

Jaejoong menggeleng dengan kuat. “Jangan membuat apa yang direncanakan Tuhan menjadi berantakan Eomma. Appa membutuhkanmu, dan aku jauh lebih kuat daripada yang kau pikirkan sebelumnya. Jangan menangis, Eomma.”

Jaejoong membantu Hanna untuk berdiri, diciumnya pipi wanita itu. Bersamaan dengan itu, Hanna menyelipkan beberapa ribu won pada Jaejoong. “Untukmu bertahan. Selalu hubungi aku,”

Jaejoong mengangguk, lantas cepat-cepat berbalik pergi. Disetiap langkahnya akan ada tetasan air mata yang mengirinya. Mungkin takdir dan perasaannya sedang ingin bermain-main sehingga air mata seolah tidak ingin mengering.

Jaejoong terus menyusuri jalanan yang terasa panjang dan gelap, tidak ada bekal, tidak ada kendaraan. Jaejoong berusaha untuk berhenti terisak, ketika menyadari bahwa seorang laki-laki haruslah tegar. Hampir setengah jam tubuh ringkih itu berjalan menyusuri trotoar, hingga pada menit berikutnya, sebuah mobil menepi tepat di sampingnya.

Jaejoong menghentikkan langkahnya sejenak, ketika pintu mobil terbuka dan menampilkan sesosok wanita muda seusianya yang tampak cantik dan anggun. Wanita itu tersenyum, dan entah kenapa Jaejoong dengan mudah membalas senyumannya.

Mendadak wanita itu berlari ke arahnya, lantas memeluknya dengan sangat cepat hingga Jaejoong tidak sempat menghindar. Dijatuhkan dagunya pada pundak Jaejoong lantas terisak di sana.

“Jaejoong-shii, maafkan aku,” gumamnya dan semakin memeluknya dengan erat.

“Kau, siapa?” tanya Jaejoong tergagap.

“Jesicca Shim,” jawab wanita itu dan seketika saja Jaejoong membelalakan matanya, tubuhnya menegang. “Aku tidak bisa menjungkirbalikan takdir. Ini kejam untukmu aku tahu, tapi ini juga kejam untukku. Kau mencintai Yunho, dan aku pun begitu. Bisakah.. bisakah kita saling berbagi saja?” ujar Jesicca.

“Apa maksudmu?”

“Pergilah, pergilah dari Korea untuk beberapa waktu, selama kau tidak bisa menghidupi dirimu sendiri, aku yang akan membantumu. Kumohon, beri aku waktu untuk bersama Yunho,”

“Aku…”

“Adikku akan menemanimu, menjagamu, pergilah ke Jepang bersamanya. Kumohon Kim Jaejoong-shii, kumohon,” Jesicca mencengkram pundak Jaejoong lantas terisak. “Kumohon,” ulangnya sekali lagi.

OOO

Takdir itu telah digariskan

Dan mengapa garis takdir begitu kuat hingga tak terelakan?

Bisakkah? Bisakkah semuanya menjadi baik-baik saja setelah ini?

Bisakah kehidupan baru jauh lebih baik?

Jaejoong berjalan menyusuri bandara menuju kabin pesawat dengan langkah berat. Berkali-kali ia berpikir apakah ini keputusan yang tepat atau tidak. Jaejoong segera menoleh ketika seseorang menepuk pundaknya dengan lembut. Laki-laki muda itu, Shim Changmin—adik Jesicca, tengah tersenyum dengan tulus padanya.

“Tidak apa-apa Hyung, semuanya akan baik-baik saja, kau bisa mempercayaiku,” ujar Changmin.

“Terimakasih,” gumam Jaejoong.

Keduanya memasuki kabin beriringan. Changmin selalu tampak seperti seorang gentlemen yang berusaha melindungi pasangannya, meski nyatanya usianya jauh lebih muda dibanding Jaejoong. Tubuh jangkungnya seolah menutupi semua itu. Dan senyumannya, cukup membuat Jaejoong merasa tenang dan nyaman.

“Duduklah lebih dulu, Hyung,” Changmin membiarkan Jaejoong untuk menempati seat di samping jendela, sementara ia duduk di sampingnya.

Ketika pesawat mulai terbang dengan stabil di angkasa, Jaejoong mulai merasakan kantuk. Mata lelahnya perlahan terpejam, lantas menutup sempurna. Dibiarkan kepalanya bersandar pada jendela pesawat.

Changmin menarik kepala Jaejoong perlahan lantas disandarkan pada pundaknya. Tanpa sadar ia tersenyum. Bagaimana mungkin Jaejoong yang sepolos ini harus melewati jaring takdir yang kejam.

“Maafkan Nonnaku yang telah bertindak keterlaluan padamu, Hyung. Sebagai balasannya, aku akan menjagamu,” gumam Changmin lantas ikut terlelap.

OOO

Jepang, bulan ketiga kehamilan

“Sarapan apa kita kali ini? ” tanya Changmin lantas duduk menghadap meja makan.

“Hanya beberapa potong sushi, maaf, aku belum belajar memasak makanan yang lebih layak lagi,” jawab Jaejoong pelan, lantas disiapkannya dua gelas susu, dengan jenis yang berbeda, untuknya dan Changmin.

“Ini sudah lebih dari cukup. Apa yang kau masakan untukku selalu enak,” balas Changmin sambil memasukan sepotong sushi ke dalam mulutnya. “Dan kupikir kau harus berhenti membuatkanku susu, Hyung. Kurasa aku tidak berhenti tumbuh karena asupan protein yang terlalu tinggi,”

“Bukankah itu terdengar bagus?” goda Jaejoong sementara Changmin hanya mengerlingkan matanya.

Jaejoong tertawa dengan keras, namun pada detik berikutnya, ia segera menutup mulutnya begitu rasa mual mulai mendera. Ia berlari menuju wastafel dan memuntahkan apa yang bisa ia muntahkan di sana, meskipun hanya berupa cairan bening. Changmin segera menyusul, ditepuk-tepuknya lantas dipijat lembut pundak Jaejoong, hingga laki-laki cantik itu merasa lebih tenang.

Changmin menyibakkan poni Jaejoong yang menutupi matanya, lantas tersenyum lembut padanya. Setengah berjongkok, Changmin mengelus perut Jaejoong yang mulai membentuk sebuah tonjolan kecil, ditempelkan telinganya di sana, berusaha menikmati suara magis yang tercipta.

“Baby ingin apa hari ini? Tidak menjawab? Kalau begitu aku tidak akan membawakan apapun,” goda Changmin lantas menyeringai ke arah Jaejoong yang tengah merutuk kesal.

Demi Tuhan, Jaejoong harus bersyukur sepenuh hati kepada Tuhan yang masih menyayanginya. Kepada Tuhan yang telah mengirimkan Changmin di masa-masa sulitnya ketika mengalami masa idam.

Jaejoong mengarahkan telunjuk dan ibu jarinya pada jidat Changmin seolah-olah akan menembaknya. “Bang, bang, bang*, aku ingin okonomiyaki,” Jaejoong menembak Changmin tiga kali lantas menyerukan keinginannya.

Changmin berdiri, lantas memberi hormat ala bangsawan, dengan gerakan tangan dan tubuh yang dibungkukkan. Setelah itu ia tertawa dengan keras, dan diambilnya gelas susu Jaejoong yang belum di sentuh sama sekali.

“Baik, tapi kutawarkan satu syarat, ada okonomiyaki jika kau menghabiskan susu ini lebih dulu,” Changmin mengangkat dagunya angkuh.

“Itu membuatku mual,” gumam Jaejoong, lantas menggeleng cepat dengan bibir yang terkatup sempurna.

“Tidak ada okonomiyaki,” Changmin berbalik hendak meletakkan kembali susu di atas meja makan, namun cepat-cepat Jaejoong merebutnya.

“Okonomiyaki!” disesapnya susu itu dalam satu tegukan besar hingga tak tersisa. “Aku sudah menghabiskannya, ingat okonomiyakiku,” ujar Jaejoong sambil menyeka sisa susu di ujung bibirnya dengan punggung tangan.

“Laksanakan, Kapten! Kalau begitu aku pergi dulu,” ujar Changmin sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauh, meski kemudian ia kembali berbalik, dan menatap sendu pada Jaejoong. “Maafkan aku, Hyung. Aku sudah berjanji untuk menjagamu, tapi aku selalu meninggalkanmu sendirian,”

Jaejoong tersenyum. “Tidak apa-apa, bukankah kau pergi ke Jepang untuk melanjutkan studimu? Aku merasa sangat beruntung sudah diizinkan untuk tinggal bersamamu di sini,”

“Terimakasih, Hyung,”

OOO

Bulan kedelapan kehamilan

Jaejoong tengah duduk di atas karpet dengan kaki diselonjorkan, sementara ia asik berkutat dengan kertas dan pensil di atas meja, nampaknya ia sama sekali tidak merasa terganggu dengan perutnya yang semakin membuncit.

“Apa yang sedang kau buat?” tanya Changmin. Pemuda jangkung itu membungkukkan tubuhnya, sementara kedua telapak tangannya diletakan di lututnya, seakan mencoba menyangga tubuhnya.

Design baju, bagaimana menurutmu?” Jaejoong menoleh, lantas kembali menggoreskan pensilnya, mempertegas garis-garis yang telah dibuatnya di atas kertas.

“Sangat bagus,” balas Changmin cepat, lantas memosisikan tubuhnya duduk di samping Jaejoong. “Kau ingin membuka sebuah butik?”

“Saat ini, cukup bermimpi,” Jaejoong mengulus sebuah senyuman. “Modalku belum cukup, bahkan belum setengahnya.”

“Aku yang akan meminjamkan modal untukmu, bagaimana? Kau boleh mengembalikannya saat kau sudah berhasil nanti, tapi dengan satu syarat,”

“Selalu satu syarat,”

Changmin tertawa, lantas dirangkulnya pundak Jaejoong. “Syaratnya adalah modal itu akan kuberikan saat kau sudah melahirkan anakmu, aku hanya tidak ingin kau terbebani dengan banyak hal.”

Jaejoong mengangguk, namun pada detik berikutnya, ia merasa tubuhnya kaku. “Apa setelah melahirkan, aku akan baik-baik saja? Bagimana dengan anakku nanti. Haruskah aku memberikan salah satu putraku pada Noonamu?”

Changmin segera menarik Jaejoong ke dalam pelukannya, mengelus-elus punggungnya dengan lembut berusaha menenangkan. “Semuanya akan baik-baik saja, Hyung. Sicca Noona sudah berjanji untuk merawatnya dengan baik, untuk membesarkannya seperti anaknya sendiri. Kau harus mempercayainya, Hyung. Noona tidak seburuk itu,” Changmin menghela nafasnya berat, seolah ia ingin memberikan pembelaan bagi Jesicca, namun ini sungguh tidak adil bagi Jaejoong.

“Aku akan kehilangan salah satu anakku, Minnie,”

“Kau tidak akan kehilangan siapapun, semuanya akan kembali padamu, aku yakin itu. Tenanglah Hyung, biarkan salah satu anakmu bersama dengan Appa nya, dan di sini kita bisa membesarkan anakmu yang lainnya, berdua,”

“Tapi…”

“Stt.. kau tahu maksudku, Hyung. Kau bisa mempercayaiku, dan aku sungguh tulus,”

“Tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu, aku masih mencintai laki-laki itu,”

Changmin mengangguk lantas tersenyum dengan tenang. “Aku tahu, aku bahkan sangat tahu bahwa kau mencintainya, dan aku yakin kau akan selalu mencintainya. Aku tidak akan memaksa angin di hatimu untuk bertiup kepadaku. Tapi aku mohon jangan menyuruhku berhenti mencintaimu, aku cukup bahagia dengan kondisi seperti ini. Delapan bulan yang kita lewati bersama telah mengubah sudut pandangku terhadapmu. Aku memang tak berarti apa-apa jika di bandingkan dengan Yunho. Tapi bisakah jika kita di lahirkan kembali suatu saat nanti kau mencoba untuk menyukaiku?”

OOO

Jaejoong terbaring lemah di atas ranjang rawat sementara Changmin terus berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Ketika terdengar suara tangis bayi, seolah semua beban yang diletakkan di atas pundaknya terangkat. Ditatapnya Jaejoong lantas menghela nafas panjang.

Berselang tidak lama, Changmin segera menghampiri Jaejoong, bersamaan dengan dua orang suster yang masing-masing membawa seorang bayi, yang kemudian diletakannya di samping kanan dan kiri Jaejoong.

“Anak-anak yang tampan, omedetou Jejung-san, Changmin-san.” Seorang suster dengan dengan potongan rambut bob tersenyum, lantas meninggalkan ruangan.

“Minnie, ini anak-anakku,” gumam Jaejoong. “Aku ingin berbicara dengan mereka, tapi aku merasa sangat lelah,”

“Istirahatlah, Hyung. Sepertinya mereka juga kelelahan.”

Dan perlahan, Jaejoong menutup matanya, tersenyum damai dalam tidurnya.

Sekali ini saja, terimakasih Tuhan.

.

.

.

Jaejoong membuka matanya perlahan. Hal pertama yang mencuri kesadarannya adalah bayi-bayi mungilnya, namun sesuatu terasa menyentak ketika ia hanya menemukan salah satu bayi kembarnya.

“Changmin-ah,” Jaejoong menggerak-gerakan pundak Changmin yang tertidur bersandar pada ranjang rawatnya. “Shim Changmin!” pekik Jaejoong dengan suara yang lebih terdengar seperti gesekan gergaji berkarat.

“Hyung, ada apa? ”

“Bayiku, bayiku hilang, Minnie. Bayiku hilang,” jerit Jaejoong dengan air mata yang mulai membanjiri kedua pipinya.

Changmin segera menarik Jaejoong ke dalam pelukannya, lantas merangkulnya dengan sangat erat, sementara Jaejoong balas mencengkram kemeja yang di pakai Changmin. “Tenanglah, Hyung. Kau harus tenang. Bayimu tidak hilang, Noona yang sudah membawanya pergi,”

Jaejoong memukul-mukul pundak Changmin hingga ia merasa kehilangan tenaga, lantas mulai merosot dan menangis dengan keras di dada Changmin. “Aku bahkan belum menyentuhnya, aku bahkan belum mengajaknya berbicara, dan bahkan aku belum memberinya nama,” lirih Jaejoong.

Changmin mengelus puncak kepala Jaejoong, berusaha memberikan ketegaran. “Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan kembali padamu. Kau harus mempercayai itu. Kau lihat bayi mungil ini, apa kau melupakannya?”

Jaejoong menggeleng dengan kuat, seolah tersadar, ditatapnya lama-lama bayi mungilnya, lantas diciuminya.

“Aku ingin memberikannya nama,” gumam Jaejoong.

“Siapa?”

“Yoogeun, apa tidak terdengar aneh?”

“Itu sangat manis. Kim Yoogeun, bukankah nama yang sangat indah. Ne, Yoogeunie, kau harus memanggilku Changmin appa mulai sekarang,” ujar Changmin sambil mengelus kepala bayi mungil itu, sementara Jaejoong hanya terkekeh kecil mendengarnya.

TBC

Hiaah. . ini chapter terpanjang yang pernah gue bikin, dan lumayan bikin sakit pinggang gara gara ngebungkuk terus ngetik di laptop. Sankyuu buat yang udah review di chapter sebelumnya, maaf ga bisa gue sebutin satu-satu, itu berharga banget buat gue, bener-bener bikin semangat buat ngelanjutinnya, dan makasih banyak juga buat setiap kritik konstruktifnya. Mungkin ini akan tamat dalam 2-3 chapter lagi. Kalau terlalu kepanjangan berasa jadi kaya sinetron soalnya. LOL. Dan maaf kalo masih ada typo(s) udah berusaha gue edit sebisa mungkin /bow/

Kalau ada yang mau say hi (meskipun sebenernya ga ada) lets meet in fb and twitter

FB : .

TWITTER : nanammys

GLOSARIUM:

Bang bang bang : dor dor dor (dalam bahasa Jepang)

Omedetou : selamat

At least, I need feedback, please leave some review

See you on the next chap!

 

2 thoughts on “TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 7

  1. Ga tau ini jessica sbnrx baik apa ga,ngasih syart tpi mlh ngambil ankx jae…
    mdh2an aja yunho bsa sdar klo yoonjong ankx….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s