TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 8


TERRIBLE

chapter 8 – is it over?

created by Amee

.

.

.

Warning:

Long chapter ! Please dont be bored, and please dont fall asleep. Its 4200words LOL

.

.

Takdir, berhentilah bermain-main.

Tuhan hentikanlah jaring-jaring pemisah ini.

Maka semuanya akan bahagia.

Harum vanilla dan cistrus bercampur menjadi satu dan merebak ketika pintu kamar Yoogeun terbuka. Dua anak yang serupa melongokkan kepala mereka bersama-sama dari balik tembok lantas terkikik bersamaan sambil bersalaman ketika berhasil mengejutkan Jaejoong.

“Astaga, apa aku tidak salah lihat?” pekik Jaejoong takjub.

“Tidak Eomma, bukankah kami sangat tampan?” Yoogeun mengangkat dagunya angkuh.

Yoonjoong mengangguk cepat. “Bukankah ini sangat keren, dua pria tampan yang serupa dengan kostum sama, kita seperti aktor Hollywood saja,”

Pada suatu musim di bulan ketujuh kehamilannya, Jaejoong selalu bermimpi melihat kedua putra kembarnya berdiri berdampingan dengan pakaian yang sama. Dan Tuhan, tiga belas tahun berlalu baru ia dapat mengalaminya.

Jaejoong menurunkan tubuhnya, setengah berjongkok hingga menyamai tinggi putranya. Diciumnya kening Yoogeun dan Yoonjoong bergantian.

Mencium kedua putranya bersamaan, rasanya lengkap, seperti menemukan potongan puzzle terakhir. Seperti naik sebuah bianglala raksasa yang berputar dengan lambat.

“Ne, kalian memang tampan,” tawa Jaejoong. Ia hampir berdiri ketika Yoonjoong menahan tangannya.

“Peluk aku lagi, Eomma. Sicca Eomma jarang memelukku sehangat pelukanmu,” Yoonjoong melepaskan genggamannya pada tangan Jaejoong, begitu mata mereka bertemu.

Yoogeun menatap Yoonjoong lama-lama, lantas dengan tangan mungilnya ia menarik tubuh Yoonjoong ke dalam pelukannya. Didekapnya tubuh itu dengan sangat erat hingga terasa panas.

Daujoubuka? Aku akan memelukmu sesering mungkin. Aku dan Eomma akan mengganti setiap pelukan yang seharusnya kau dapatkan, benar kan Eomma?” tanya Yoogeun.

Jaejoong mengangguk cepat, dipeluknya kedua bocah itu bersamaan, tanpa terisak, air matanya meleleh. “Apa Jesicca memperlakukanmu dengan baik sayang?”

Yoonjoong mengangguk. “Sicca Eomma baik, dia selalu memperhatikanku, tapi kami bukan keluarga yang bahagia. Sicca Eomma tidak pernah datang ke sekolah, tapi Sicca Eomma selalu ada ketika aku sarapan. Tapi Appa dan Sicca Eomma selalu bertengkar,”

“Terimakasih,” gumam Jaejoong pelan hingga hanya dapat didengarnya, sebelum menyeka air matanya.

Ditatapnya kedua putranya, lantas tersenyum berusaha menghapus jejak jejak kesedihan dan memulai kembali semuanya. Jaring takdir harus disibak, waktu untuk bermain main telah habis.

“Aku tunggu kalian di meja makan, Eomma sudah menyiapkan yasaitame dan bulgogi. Tidak ingin kehilangan waktu sarapan kan?” Jaejoong mengerlingkan matanya.

“Roger, kapten,” kedua bocah itu menegakkan tubuhnya bersamaan lantas memberikan hormat. Jaejoong tertawa saja.

Dibalikan tubuhnya, lantas dilepaskan apron yang masih terpasang di tubuhnya. Jaejoong menghela nafas, lebih tenang. Diingatnya lagi kejadian malam itu, ketika menemukan putranya terisak di balik pintu berselimutkan malam.

Malam itu terasa panjang. Butuh waktu berjam jam untuk menenangkan Yoonjoong dan memberi pemahaman padanya tentang siapa ia sesungguhnya. Tuhan, Jaejoong mungkin akan lebih beriman dan sering mengunjungi gerejamu setelah ini. Sebuah takdir indah, karena Yoonjoong tidak berbeda dengan Yoogeun yang memiliki pikiran terbuka dan mudah beradaptasi. Bagaimana Jaejoong bisa melahirkan dua putra secerdas ini.

Ditatanya meja makan sehingga begitu merangsang nafsu makan. Yoogeun sampai lebih dulu di meja makan, disusul oleh Yoonjoong pada detik berikutnya.

“Pip pip, kapten Yoogeun sampai lebih dulu di lokasi kejadian. Cek keberadaan, dimana kapten Yoonjoong?” Yoogeun berbicara pada ibu jarinya seolah olah itu adalah sebuah microfon.

“Kapten Yoonjoong sampai, maaf aku terjebak dan tersesat,” Yoonjoong menarik nafas dalam lantas duduk di samping Yoogeun. “Ini sangat keren, aku tidak pernah mengalami sarapan sekeren ini sebelumnya. Berlari lari membuatku haus,” katanya sambil mengambil segelas teh dan menyesapnya dalam satu tegakan besar. “Yaa.. Tidak enak, ini pahit sekali,” Yoonjoong menjulurkan lidahnya, sementara Yoogeun tertawa dengan keras dan Jaejoong berusaha menahan tawa sambil menyodorkan segelas air mineral pada putranya.

“Itu ocha, Yoonjoongie, Eomma tidak pernah menambahkan gula. Kenapa kau meminumnya dengan penuh nafsu seperti itu?” Yoogeun tidak berhenti tertawa, bahkan ketika Yoonjoong mendelikan matanya.

“Apa itu? Lagipula kenapa ada minuman seaneh itu di meja makan? Sepertinya aku akan mati,” gumam Yoonjoong sambil memegang lehernya dengan dramatis.

Jaejoong tertawa. “Kau tidak akan mati sayang. Itu menyehatkan, menurunkan kadar toksin dalam tubuhmu,”

“Itu membunuhku, Eomma. Lidahku seperti tersengat lebah,” ringis Yoonjoong.

“Kau pernah mengalaminya? Keren sekali,” guman Yoogeun.

“Belum,” jawab Yoonjoong datar, sehingga Yoogeun menepuk dahinya sementara Jaejoong menutupi tawa dengan punggung tangannya.

“Ya, saatnya makan. Kasihan sekali tidak ada yang menyentuh masakanku. Aku merasa sakit,” ujar Jaejoong dan kedua anaknya tertawa dengan keras.

“Kau terlihat seperti tante tante dalam sebuah opera sabun, Eomma,” Yoonjoong menggelengkan kepalanya, sementara Yoogeun tertawa dengan keras.

“Ya, kau ini,” ujar Jaejoong lantas mencubit gemas pipi putranya.

Yoogeun mengangkat sendok dan garpu secara bersamaan. “Hai, hai, jadi kita mulai saja acara makannya. Itadakimasu!”

Yoonjoong menoleh dengan cepat, sehingga Yoogeun mengurungkan niatnya untuk menyendok makanan. Bocah bermata besar itu balas menoleh.

“Ada apa, Yoonjoongie?” tanya Yoogeun.

“Apa yang kau katakan tadi, aku tidak mengerti,” jawab Yoonjoong.

“Ah, itadakimasu. Selamat makan dalam bahasa Jepang,”

“Benarkah? Itu sangat keren. Ayo kita lakukan bersama,” ajak Yoonjoong, dan Yoogeun mengangguk cepat.

“Boleh aku ikut?” tanya Jaejoong.

“Tentu, ini akan menjadi lebih keren,” Yoonjoong mengangguk yakin.

Itadakimasu,” ujar ketiganya bersamaan.

Teng. Terdengar bel dibunyikan tiga kali, kembali mengintrupsi acara makan mereka. Jaejoong meletakkan garpunya, hendak beranjak, namun Yoogeun cepat cepat menahannya.

“Biar aku saja Eomma,” ujar Yoogeun.

Selama seorang anak masih bisa mengerjakan suatu pekerjaan secara mandiri kenapa harus menyulitkan orangtuanya. Yoogeun turun dari kursinya lantas segera berlari menuju pintu, sementara Yoonjoong mulai melahap makanannya.

“Changmin appa!”

Pekikan Yoogeun cukup membuat Jaejoong terkejut hingga tidak mampu menggerakan tubuhnya sementara Yoonjoong menghentikan gerakannya. Pemuda cilik itu berpikir takdir apa lagi yang dipersiapkan Tuhan untuknya, kenapa panggilan Eomma dan Appa terasa begitu rumit baginya.

Jaejoong segera beranjak, ditinggalkan makanannya lantas segera berlari menuju pintu diikuti Yoonjoong yang berjalan dengan ketidaktahuan dan ribuan pertanyaan yang menghujamnya seperti pisau yang dilempar para pesulap gila.

“Min,” suara Jaejoong tertahan. “Kapan kau datang?” tanya Jaejoong tergagap. Pemuda di hadapannya tampak berbeda dengan beberapa saat yang lalu ketika mereka berpisah di Jepang. Tampak lebih dewasa.

Changmin menurunkan Yoogeun dari pangkuannya lantas tersenyum pada Jaejoong. “Baru saja,” jawabnya. Pandangannya segera teralih pada sosok lain yang berdiri di belakang Jaejoong. Sosok mungil yang membuat tubuhnya bergetar hebat mengingat kejadian tiga belas tahun lalu yang tidak dapat dicegahnya.

Changmin menatap Yoonjoong lama lama sebelum ia menghampirinya lantas menyentuh kepalanya dengan lembut. “Siapa namamu?” gumam Changmin pelan. Menatap mata anak itu membuat sesuatu dalam tubuh Changmin berontak namun rasa cinta dan rasa bersalah menekannya lebih kuat.

“Jung Yoonjoong,”

“Kau sangat tampan, seperti Appamu,” ujar Changmin dengan sebuah senyuman tulus yang pada saat bersamaan terlihat menyakitkan.

“Yoonjoongie, dia Appa ku, dia sangat tampan bukan?” sela Yoogeun sambil merangkul pundak Changmin sehingga ia tertawa, sementara Yoonjoong menatapnya tidak suka. “Min Appa, sudah kukatakan untuk ikut bersama kami ke Korea tapi kau menolak. Dan tebakanku benar, kau menyusul kami, rasanya senang sekali,”

“Dia Appamu, Yoogeuni?” tanya Yoonjoong dengan suara bergetar.

Yoogeun mengangguk mantap. “Terbaik,” katanya.

“Bukankah Appa kita Jung Yunho. Kenapa jadi seperti ini?” Yoonjoong menggigit bibirnya kuat kuat. Mendadak ia merasa lelah dengan semua rahasia hidup yang menderanya. Ia bahkan masih tiga belas tahun.

Yoogeun memeluk Yoonjoong dengan cepat begitu merasakan rasa sakit yang mendadak mendera ulu hatinya. “Jung Yunho appa kita, tentu saja,”

Changmin menyentuh puncak kepala Yoonjoong yang segera ditepis oleh pemuda kecil itu, namun tetap Changmin ulangi hingga Yoonjoong menerimanya. Changmin tersenyum dalam luka. Sebagian kecil masalah ini berasal darinya, itu yang digumamkannya berkali-kali. Andai kala itu ia menghentikan kakaknya, situasi ini tak akan serumit ini.

“Aku Shim Changmin, adik Jesicca. Dan tentu kalian adalah putra Jung Yunho. Tapi kau boleh memanggilku dengan sebutan Appa seperti Yoogeun,” Changmin berusaha menyederhanakan penjelasannya. Tatapannya beralih pada Yoogeun yang hanya diam. “Geunie, kau bisa menjelaskannya pada adikmu? Masuklah ke dalam. Ada yang perlu kubicarakan dengan Eommamu. Ini masalah orang dewasa,” ujar Changmin.

“Roger, kapten,” Yoogeun mengangguk mantap. Dirangkulnya Yoonjoong lantas dibawanya masuk ke dalam kamar.

Changmin membalikan tubuhnya perlahan. Ditatapnya Jaejoong yang memaku dengan pandangan kosong. Dadanya naik turun dengan cepat, dan Changmin tahu bahwa sosok di hadapannya sedang mengalami fase rumit.

Dipeluknya Jaejoong dengan sangat erat, namun tak ada balasan. Laki laki cantik itu masih diam di sana. Jantungnya berdebar dengan kencang hingga Changmin dapat mendengarnya dengan jelas, dan itu membuatnya khawatir.

“Bagaimana kabarmu, Hyung? Apa kau makan dengan baik selama di sini?” tanya Changmin tanpa melepaskan pelukannya.

“Aku merasa hampir mati,” jawab Jaejoong, ia melesakan kepanya pada pundak Changmin, sementara Changmin segera membelai kepalanya.

“Semuanya akan baik baik, tidak akan ada yang lebih sulit dari ini,” kata Changmin. “Kau duduklah biarkan aku membawakan teh susu untukmu. Ku bisa tunjukan padaku dimana dapurnya,”

“Tidak perlu. Aku lebih kuat dari karang,”

“Aku tahu,”

Keduanya duduk dalam satu sofa yang sama tanpa saling menatap atau berbicara untuk beberapa saat. Seperti berada dalam gua tua yang gelap dan kehilangan arah.

Jaejoong merasakan perutnya mual, seperti diaduk aduk dengan cepat. Pun dengan Changmin yang merasakan kegugupan dan kebimbangan. Sebenarnya kebahagian seperti apa yang mereka cari?

Suatu ketika dalam tidurnya, Changmin bermimpi ia bereinkarnasi menjadi sebuah jembatan yang amat lebar dan panjang. Menghubungkan desa terpencil dan kota yang makmur. Dalam mimpinya ia bisa melihat Jaejoong, Yunho, dan kedua anaknya menyebrangi tubuhnya untuk sampai di kota, dan mereka tampak bahagia. Changmin pikir, dibanding kebahagiaan personalnya, kebahagiaan empat orang jauh lebih penting. Karena itu ia ada di sini.

“Apa kau masih mencintainya?” tanya Changmin.

“Itu alasanku berada di sini,” jawab Jaejoong.

“Noona mengembalikan anak itu padamu?”

“Takdir yang membawanya padaku bukan Noonamu. Sampaikan terimakasihku padanya, karena telah menjaga Yoonjoong dengan baik,”

“Akan kusampaikan.” Changmin diam sejenak. Ditatapnya Jaejoong dalam diam yang beku. “Kau mempercayai apa yang kukatakan dulu? Semuanya akan kembali padamu, kau harus bersabar,”

“Aku mempercayainya karena itu aku mencoba bertahan agar tidak mati,”

“Rasanya aku yang ketakutan sekarang.”

Jaejoong menoleh dengan rahang terkatup, lantas perlahan dibukanya. “Kenapa?” tanyanya.

“Aku akan kehilanganmu, selamanya. Tidak akan ada lagi cerita tentang kau dan aku meski pada akhirnya kau dan aku tidak akan pernah menjadi kita yang sesungguhnya,” kata Changmin.

Jaejoong menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan isakan yang akan keluar dari bibirnya. Mungkin dia sudah gila, menyia nyiakan cinta tulus seorang pemuda dihadapannya selama tiga belas tahun. Tapi bukankah cinta itu memang gila? Dan dengan kegilaan itu lah ia bisa bertahan untuk seorang Jung Yunho.

Cinta itu telah membuat Jaejoong buta, hingga ia tak bisa melihat cinta lain yang ditawarkan padanya. Cinta telah membuat Jaejoong tuli sehingga ia tidak bisa mendengar syair syair cinta yang dilantunkan untuknya. Dan cinta itu seperti tak bernyawa yang membuat Jaejoong melupakan dunianya dan hanya menjadikan Yunho sebagai pusat hidupnya.

“Mungkin aku gila,” gumam Jaejoong.

“Kau tidak gila, sama sekali.” jawab Changmin cepat.

Dua pasang manik mata saling bertatapan, seperti menimbulkan sebuah percikan kembang api yang gagal bersinar.

“Aku benar benar gila karena telah melewatkanmu. Kau laki laki yang sangat baik, Min. Dan aku sangat jahat padamu, maafkan aku.”

“Berhenti mengatakan hal yang tidak bisa kumengerti. Sejak awal sudah kuputuskan untuk mencintaimu, bahkan ketika aku tahu kau tidak pernah mencintaiku. Aku cukup bahagia dengan keputusanku ini,”

Dan pada akhirnya Jaejoong menangis. Air mata itu tetap mengalir begitu saja. Dan Changmin, ia kembali menyediakan dada dan bahunya untuk Jaejoong terisak. Takdir, permainan harus kau akhiri, dan kau tidak berhak memulai babak baru lagi.

Changmin menarik Jaejoong ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat, menyiulkan beberapa nada yang menenangkan seperti yang selalu dilakukannya. Membiarkan Jaejoong merasa tenang dan nyaman.

Jaejoong mendongak menatap Changmin yang tengah tersenyum sambil memejamkan mata. “Minnie, kau selalu memelukku seperti ini. Menenangkanku di kala aku sedih. Memanjakanku di saat sifat kekanakkanku keluar. Kau selalu memelukku seperti ini. Sembari bercerita apa saja kepadaku. Bercerita tentang dirimu. Bercerita tentang hal-hal yang ringan. Bercerita apa saja tentang yang ingin kauceritakan. Bercerita tentang cinta dan cita yang kau dongengkan padaku di kemudian hari sehingga aku percaya pada keajaiban.”

Changmin membuka matanya perlahan. Lantas balas ditatapnya Jaejoong namun ia tak mengatakan apapun, menikmati keheningan yang tercipta. Sesungguhnya ia sedang menata hatinya sebelum badai besar meratakan semuanya. Bukan badai ia kira, tapi suatu akhir yang telah ditakdirkan.

“Kau selalu memelukku seperti ini. Terkadang hanya diam mendengarkan segala kisahku. Dan kau selalu menggerakkan kakimu yang membuatku tahu bahwa kau sedang berpikir, meski aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Kau selalu memelukku seperti ini. Kemudian tertidur dalam dekapanku. Memejamkan mata dalam ketenangan. Dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kau, Shim Changmin,” gumam Jaejoong.

“Ya, aku akan selalu memelukmu seperti ini. Sebuah kenangan yang awalnya tidak pernah kupinta. Sebuah kenangan yang mengajarkanku makna cinta dan menghadirkan cita tentang ‘kita’ yang sesungguhnya tidak pernah ada,” Changmin berkata dengan suara mencicit hampir tak terdengar. Ia mengeratkan pelukannya pada Jaejoong dan terisak. Rasa kehilangan itu semakin lama semakin ia rasakan. Dan sekuat apapun ia coba untuk tegar pada akhirnya tetap terasa menyakitkan. “Dan aku tidak akan bisa lagi memelukmu seperti ini. Kau harus bahagia. Kuharap Yunho Hyung bisa memperlakukanmu dengan baik,”

Changmin semakin terisak hingga Jaejoong merasakan dadanya sesak. Ia tak sanggup melihat Changmin menderita namun hatinya telah terkunci dan tidak bisa lagi di gerakan, membeku pada satu titik yang sama, dan hanya Jung Yunho yang mampu mencairkannya.

“Aku akan bahagia, Min. Aku berjanji padamu. Karena itu kau pun harus berjanji padaku, carilah kebahagianmu. Aku tidak mau kau terluka lebih dalam lagi dan diikuti bayang bayang masa lalu sama sepertiku,” ujar Jaejoong. Dicengkramnya pundak Changmin berusaha menguatkan. Sementara ia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan isakan yang lebih keras.

Changmin melepaskan pelukannya setelah cepat cepat ia menghapus air matanya. “Aku juga akan bahagia, Hyung. Suatu hari nanti aku akan menemukan seseorang sepertimu yang diciptakan untukku,”

Jaejoong menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Jangan seperti aku, carilah yang yang lebih baik.”

Untuk beberapa saat mereka terjebak dalam suatu keheningan. Lewat sudut matanya Jaejoong dapat melihat Changmin tersenyum namun tak mengatakan apa apa.

“Hyung,” gumam Changmin pada akhirnya. “Mereka sudah bercerai,”

Jaejoong membelalakan matanya lantas menoleh cepat. “Apa?”

“Yunho Hyung sudah menceraikan Sicca Noona,”

“Apa?”

“Ini tujuanku mendatangimu, Hyung. Kau bisa mempercayaiku.”

“Tapi kenapa?”

“Takdir. Bukankah sudah kubilang bahwa pada akhirnya semua milikmu akan kembali padamu. Kau sudah terlalu lama menunggu. Mungkin Tuhan sengaja menghadiahkannya untukmu. Sejak awal, pernikahan mereka memang seharusnya tidak pernah ada,”

“Bagaimana dengan Jesicca?” Jaejoong mencengkram kuat pahanya. Bagaimana pun kehilangan adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Sejahat apapun yang ia pikirkan tentang Jesicca, wanita itu tetaplah korban takdir seperti dirinya. Dan Jaejoong tidak ingin ada lagi yang terluka. Dan ia tidak ingin menjadi suatu antagonis dalam narasi kehidupan ini.

“Semuanya akan baik-baik saja. Perlahan Noona akan mengerti,” gumam Changmin menenangkan.

Dan sekali lagi. Jaejoong terisak.

OOO

Suasana ruang makan kediaman Kim tampak ramai, dengan kehadiran Yoonjoong dan Changmin di tengah tengah mereka. Tiga laki laki muda yang menyebut diri mereka keren itu terus beradu argurmen setip kali menggerakan garpu di atas piring, dan Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya.

Di pantry, Jaejoong memecahkan enam butir telur ke dalam mangkuk dan mengocoknya hingga berbusa. Lantas dituangkannya ke dalam wajan ceper yang telah berisi daging sehingga adonan itu menggembung, menimbulkan bau lezat yang menggoda nafsu makan.

Jaejoong sudah memberitahu Yoonjoong soal Changmin-laki-laki yang kini berada satu meja dengan mereka. Meskipun terdengar sulit dipercaya, tapi Yoonjoong dapat mengerti setelah melalui serangkaian percakapan panjang.

“Baunya enak,” kata Changmin sambil tersenyum. Dia berjalan menghampiriku lantas ditatapnya wajan lekat-lekat.

“Ini untukku Min. Apa kau tidak cukup kenyang menghabiskan semua menu makan malam bersama dua bocah itu tanpa menyisakannya untukku?”

“Jangan salahkan aku. Mereka yang menghabiskannya.” ujar Changmin.

Pembelaan. Satu kata yang bisa mengubah semuanya. Jaejoong tertawa mendesis sementara Yoonjoong berdiri dari duduknya dan mengarahkan telunjuknya pada Changmin dengan tatapan menuduh.

“Ahjussi, jangan terlalu genit pada Eomma.” pekik Yoonjoong

Changmin membeku sementara Yoogeun segera menyelanya. “Min Appa tidak genit, Yoonjoongie, kita memang terbiasa seperti itu. Kau itu kenapa? Kau takut kalah tampan? Tenang saja, Changmin Appa tidak akan merebut para fans kita di sekolah,”

Jaejoong dan Changmin bertatapan lantas tertawa bersama. Jaejoong mematikan kompornya, lantas dengan sudip yang teracung ia mengisyaratkan agar kedua anaknya meninggalkan ruang makan.

“Apa menurutmu Yoonjoong baik baik saja,” tanya Changmin.

“Aku akan membuatnya baik-baik saja.” gumam Jaejoong sambil memindahkan omelet dagingnya ke dalam piring.

Diletakkannya piring itu di atas meja tapi tak di sentuhnya. Ia melepaskan apronnya, lantas duduk di meja makan dengan pandangan kosong.

“Masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Soal orangtuaku. Aku ingin menemui mereka.” guman Jaejoong cepat.

“Ya kau harus melakukannya.” tekan Changmin.

“Kau akan mengantarku?”

Changmin bersiul. Untuk mengusi waktu ia menyuapkan telur dengan garpu ke dalam mulutnya. Rasanya lezat. “Tentu saja. Dan makanlah ini enak.”

Jaejoong mengangguk. Lantas menyuapkan sesendok besar omelet ke dalam mukutnya. Changmin menatap Jaejoong lantas tersenyum. Klise memang tapi cinta benar benar sangat absurd.

Keduanya mendadak dikejutkan oleh ketukan brutal di pintu, bukan menekan bel seperti biasanya. Mungkin tamu itu sedang terburu buru atau lebih buruk, orang di balik pintu itu bukanlah tamu namun sosok yang perlu dihindari.

“Biar aku saja,” ujar Changmin.

Laki laki itu berjalan mendekati pintu. Seharusnya Jaejoong menunggu saja tapi ternyata ia tidak bisa diam. Diikutinya Changmin, dan matanya terbelalak begitu pintu terbuka dan menunjukkan sosok Jesicca di sana.

Jessica segera menerobos masuk ke dalam rumah. Menghampiri Jaejoong dan menamparnya dengan keras. “Jangan ambil Yunho dariku Jaejoong-shii!”

Jaejoong hanya diam tidak memberikan respon apapun. Sementara Changmin segera menarik wanita itu dan menjauhkannya dari Jaejoong.

“Apa yang sudah kau lakukan?” pekik Changmin.

“Kau? Kau lebih membela laki-laki itu? Seharusnya dia berterimakasih padaku karena telah menjamin hidupnya. Tapi dia? Dia menyakitiku Changmin-ah, aku lelah,” Jesicca berteriak teriak keras seperti orang kesetanan. Sementara Jaejoong menutup kedua telinganya kuat kuat ketika rasa takut dan rasa sakit menghujam jantungnya.

“Kau pikir hanya kau yang tersiksa. Kau selalu bersikap egois. Semuanya tampak baik dari kacamatamu!” Changmin menahan tangan Jesicca tapi wanita itu terus saja berontak. Sementara Jaejoong sudah jatuh terduduk.

“Sicca Eomma,” gumam Yoonjoong pelan. Ketika keributan itu terjadi kedua anak itu cepat cepat keluar dari dalam kamarnya dan memastikan apa yang terjadi. Dan sesungguhnya Yoonjoong menyesalinya. Sesungguhnya ia merasa lelah karena selalu disuguhkan pertengkaran di depan matanya.

“Yoonjoong-ah, Yoonjoong-ah!” teriak Jesicca. Lantas wanita itu menunjuk nunjuk Jaejoong dengan penuh amarah. “Kau memisahkanku dari Yunho dan kini kau memisahkanku dari anakku. Apa kau tidak memiliki perasaan? Kau seperti iblis! Kau membuatku tertekan. Sangat tertekan. Aku tidak bahagia, dan itu semua karenamu!”

Changmin menampar pipi Jesicca dengan keras hingga Jaejoong membelalakan matanya dan Jesicca menyeringai kecut. Sementara Yoonjoong dan Yoogeun berusaha untuk tidak menangis. Keduanya saling berpelukan, menguatkan.

“Kau! Kau egois Noona. Kau tidak pernah sadar seberapa sulitnya Jaejoong selama ini. Seberapa banyak kau menyakitinya. Jaejoong merebut Yunho? Kau yang merebutnya! Dan kau yang telah memisahkan Yoonjoong darinya. Tiga belas tahun Noona, ingat itu! Bukankah itu waktu yang cukup lama. Ku pikir sudah saatnya kau mengembalikan semua hak Jae!”

Jesicca menjatuhkan tubuhnya di lantai, dan ia terisak di sana. Jaejoong menyeret langkahnya, lantas dipeluknya Jesicca dengan gerakan yang lembut.

“Maafkan aku Jesicca-ssi, maafkan aku yang telah menyakitimu begitu banyak. Maafkan aku. Aku tahu kau merasa sakit, tapi aku juga merasakannya. Aku tahu kau tertekan, dan aku pun merasakannya lebih dari itu. Aku minta maaf, tapi aku benar-benar merasakan kesakitan sampai rasanya aku ingin mati. Aku mencoba menutup diri selama tiga belas tahun ini, dan kali ini aku sudah tidak kuat lagi. Aku ingin menyerah, ” ujar Jaejoong.

Jesicca mencengkram punggung Jaejoong dengan kuat, keduanya terisak bersamaan. Bukankah takdir adalah pelaku sesungguhnya. Bukankan sesungguhnya takdir adalah antagonis utama dalam narasi kehidupan ini.

“Maafkan aku, Jaejoong-sii. Maafkan aku yang selalu egois dan memikirkan diri sendiri. Maafkan aku karena hanya mengejar kebagaian yang tak pernah kudapakan, ”

“Tuhan menyiapkan hal lain untukmu. Kau harus bahagia, aku akan mendoakannya. ”

“Sekali lagi terimakasih,” Jesicca melepaskan pelukannya, lantas ditatapnya Yoonjoong yang tengah terisak di dalam pelukan Yoogeun. “Yoonjoong-ah. Bolehkah, bolehkah aku tetap menganggapnya anakku? Bolehkan aku tetap bertemu dengannya? Bolehkah? ”

Jaejoong mengangguk. “Kapan pun kau inginkan. Kita adalah keluarga, ”

Jesicca merentangkan tangannya, membiarkan Yoonjoong berlari ke arahnya, dan ia memeluknya dengan sangat erat. “Yoonjoong-ah, maafkan aku, maaf jika selama ini aku kurang memberimu perhatian. Sesungguhnya aku menyayangimu, ”

“Aku juga menyayangimu, Sicca Eomma. ”

Dan malam itu, ruangan bercat putih itu dipenuhi dengan isak tangis. Sampai kedua anak laki itu tertidur, dan Changmin membawa Jesicca pergi. Bagi Jaejoong, itu adalah malam yang sangat panjang.

OOO

Jaejoong menekan kedua matanya dengan ibu jari. Jelas ia kurang tidur. Pertama peristiwa Changmin, kedua peristiwa Jesicca, dan yang terakhir ia memikirkan persoalan orangtuanya. Yang kalau dipikir-pikir semuanya itu hanya menyita waktu.

Jaejoong sudah siap sejak setengah jam yang lalu, pun dengan kedua putranya. Ia hanya tinggal menunggu Changmin datang menjemput dan mereka bisa pergi. Tapi mendadak Jaejoong tidak yakin apakah Changmin benar-benar akan datang atau Jesicca kemarin malam mungkin menyita pikirannya begitu banyak.

Tapi lamunan Jaejoong buyar ketika bel ditekan. Pintu terbuka perlahan ketika ia membuka kenopnya, dan tanpa mendongak Jaejoong berbalik dan melemparkan kata-katanya. “Min, kalau kau belum sarapan akan kubuatkan sesuatu. Anak-anak sudah makan tadi, ”

“Hallo, Jaejoong. ”

Tubuh Jaejoong menegang mendengar suara itu. Ia merasa sudah sinting, benar-benar kehilangan kewarasannya. Karena ketika ia mendongak, ia dapat melihat Jung Yunho berdiri satu setengah meter darinya. Laki-laki yang tak pernah ia lihat selama iga belas tahun, kecuali pada pertemuan tak terduga kemarin. Jika ini ilusi, hal ini benar-benar gila. Tampak begitu nyata. Diamatinya sosok itu. Jung Yunho, rambutnya lebih rapi sekarang, dengan potongan sederhana yang membuatnya terlihat dewasa, dan garis-garis tipis yang seakan membentuk tanda lelah. Tubuhnya tampak lebih berisi sekarang, berbanding terbalik dengan dirinya yang semakin kurus.

“Maaf jika kedatanganku mengejutkanmu, ” kata Yunho.

“Tidak, tidak lagi. Jangan seolah kau adalah hantu yang bisa muncul seenaknya. Ada masalah apa? ” sahut Jaejoong.

Yunho menggeleng. “Tidak ada. Aku datang untuk menjemputmu dan mengantarmu menemui orangtuamu, mertuaku, ” katanya terus terang.

Jawabannya membuat Jaejoong tersenyum. “Dan Changmin? ”

“Dia yang memintaku menggantikannya, ”

“Aku akan memanggil anak-anak, ”

Jaejoong berbalik, namun Yunho dengan cepat memeluknya dari belakang dengan sangat erat hingga Jaejoong merasa tubuhnya bergetar. Jaejoong merasa tubuh Yunho bergetar namun tak ia dengar isakan.

“Aku sangat bodoh, ” gumam Yunho.

“Ya kau sangat bodoh, sampai aku tidak menemukan julukan yang tepat untukmu. ” Jawab Jaejoong.

“Aku tidak mempertahankanmu, aku tidak mempertahankan Yoonjoong, aku terlalu bodoh. Aku lemah, pengecut, dan mudah sekali di pengaruhi. ”

“Ya, dan aku lebih bodoh, karena meskipun aku tahu semua itu aku tetap mencintaimu, ”

Yunho tergelak. Ia merasakan suaranya tersangkut dan glotisnya tak terbuka sehingga tak ada suara yang keluar, yang terdengar hanyalah desahan nafas yang terdengar berat. Jutaan kupu-kupu seperti menerobos keluar dari dalam perutnya, dan mendadak saja ia melihat kerlap-kerlip kembang api di matanya. Apakah ini nyata Tuhan?

“Aku mencintaimu, Kim Jaejoong, selalu.” gumam Yunho. “Maafkan aku, aku sungguh menyesal, ”

Jaejoong berusaha melepaskan diri dari dekapan Yunho, lantas berbalik sehingga mereka berhadapan. Dipeluknya laki-laki itu dengan erat, lantas disandarkan kepalanya di dada Yunho. Rasa nyaman merebak saat itu juga. Jauh lebih nyaman dari yang pernah ia rasakan.

“Dan aku bahkan sudah memafkanmu sebelum kau memintanya. Yun, berjanjilah padaku untuk berubah. Jadilah pelindungku, jadilah seseorang yang bisa memimpin keluarga kecilku, ” Jaejoong mulai terisak.

Yunho menariknya lebih dalam ke dalam pelukannya. Lantas dikecup puncak kepalanya. “Aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Aku tidak akan mengecewakanmu dan anak anak kita lagi, ” katanya pasti.

“Aku memegang janjimu,” kata Jaejoong. Keduanya bertatapan, mengangguk bersamaan, lantas tertawa. Bukankah tampak seperti dua orang muda mudi yang baru saja kembali berbaikan karena hal kecil.

OOO

Mobil Yunho terasa begitu nyaman. Mereka sungguh tampak seperti keluarga bahagia dengan dua orang anak. Dan Jaejoong berkali-kali tidak dapat menahan senyumannya. Di jok belakang. Yoogeun dan Yoonjoong terus berceloteh tentang apa saja, sementara Jaejoong dan Yunho akan menanggapinya sesekali dengan celetukan atau tawa.

Yunho memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang tidak begitu mewah. Jaejoong merasakan haru di dalam hatinya. Rumah itu masih tetap sama seperti tiga belas tahun yang lalu, namun terkesan lebih tua karena beberapa pohon rindang yang memenuhi halaman.

Ketika Jaejoong melangkah takut-takut memasuki pekarangan. Dilihatnya seorang wanita paruh baya dengan wajah lelah tengah merapikan beberpa pot di halaman. Sesungguhnya Jaejoong ingin berlari memeluknya. Apakah wanita itu masih mengenalinya, setelah sekian lama mereka kehilangan kontak.

“Eomma, ” gumam Jaejoong pelan.

Wanita itu tersentak lantas menolehkan kepalanya. Ia berdiri dengan kaku, lantas ditatapnya lama-lama Jaejoong, sebelum ia berlari lantas memeluk Jaejoong dengan sangat erat.

“Jae? Kau Jaejoongieku? Kau kemana saja selama ini? ” wanita itu terisak.

“Maafkan aku, Eomma. Bagaimana kabarmu? Dan bagaimana kabar Appa? Apa dia masih membenciku? ” mendadak Jaejoong merasakan suatu ketakutan di dalam dirinya, tentang sebuah penolakan.

Seorang laki-laki keluar dari dalam rumah. Wajahnya terlihat tegas, namun ada gurat-gurat rasa lelah yang tidak bisa ditutupi di sana. Rambutnya yang dulu hitam, kini telah dihiasi uban. “Siapa yang datang? ” katanya.

Untuk beberapa lama, laki-laki itu menatap Jaejoong dalam pandangan yang sulit diartikan. Hanna menggenggam tangan Jaejoong dengan kuat berusaha menguatkan. Sementara di belakang, Yunho menggandeng kedua anaknya dengan perasaan campur aduk. Takut tentu saja, tapi kali ini ia tidak akan kabur.

“Apa yang sedang kau lakukan di sana?” pekik Hyunbin sehingga Jaejoong tersentak. “Apakah itu anak-anakmu? Dan laki-laki itu? Apakah ayah mereka? Kenapa kau hanya diam di situ? Apa kau tak ingin memperkenalkannya padaku? ” lanjutnya.

Mendengar itu, Jaejoong terisak, lantas segera berlar memeluk ayahnya dengan erat. “Terimakasih,” katanya.

Dan ini adalah awal yang indah.

TBC

Astaga, selesai juga ngetik chapter ini, gila, ini dua kali lipat dari biasanya. Dan gue yakin banyak typo(s), gue minta maaf untuk hal itu. Makasih buat semuanya yang masih dukung cerita ini. Ini bakal selesai di chapter depan. Yosh, gambare!

.

I need feedback, please leave some review.

See you on the next chap!

One thought on “TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 8

  1. uuuuhhhh akhirnya appa jaejoong menerima hubungan yunjae. changmin dan jessica, semoga dapat yang lebih baik dari jaejoong dan yunho. aku harap akan selalu berakhir bahagia. love *kecup*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s