TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 9 (COMPLETED)


TERRIBLE

Chapter 9 – Look at me

Created by Amee

.

.

Warning : mature content!

.

.

Jaring yang dilempar takdir tampak tak nyata namun terasa.

Seperti kelam namun memedarkan warna-warna cinta.

Kegelapan nampaknya telah sirna begitu tirai kehidupan tersibak angin bernafaskan lautan.

Lihat saja…

Dua hari yang lalu ketika Jaejoong kembali menginjakkan kakinya di kediaman Kim untuk kali pertama setelah tiga belas tahun berlalu menjadi momen yang terasa begitu mendebarkan. Saat Hyunbin mempersilakannya masuk, Jaejoong merasa tubuhnya ringan dan terangkat ke langit. Seperti banyak kurcaci yang mengiringinya masuk ke dalam kastil.

Saat itu, butuh lebih dari enam jam untuk dapat meyakinkan Hyunbin mengenai kondisinya sekarang. Permintaan maaf, air mata, dan keharuan tercipta dalam suatu wadah. Hingga semuanya berakhir baik-baik saja.

Saat ini Jaejoong dan Yunho duduk di beranda, keduanya hanya sesekali melempar kata dan lebih banyak diam atau menyesap teh ocha dari gelas masing-masing. Memikirkan satu kata tabu namun dapat merubah segalanya: pernikahan.

Tidak jauh dari mereka, Yoonjoong dan Yoogeun tampak asik bermain bola, sesekali Yoogeun terjatuh ke tanah jika Yoonjoong menyenggol tubuhnya, dan setelah itu Yoogeun akan berusaha balas menjatuhkan Yoonjoong, namun selalu gagal.

“Yaa, berhenti menyenggolku dengan badan kekarmu itu!” pekik Yoogeun.

“Tendanganmu sangat tidak keren. Ini sepakbola, Hyungie,” goda Yoonjoong. “Dan jatuh dalam permainan sepak bola itu adalah hal yang wajar,” Yoonjoong mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kau sangat menyebalkan! Lihat saja, aku akan merebut semua gadismu di sekolah, dan aku akan menjadi lima kali lipat lebih keren dibandingkan denganmu! Aku serius, ini bukan ancaman!” Yoogeun mendelik, lantas diambilnya bola dan dibawanya.

“Yaa.. hands ball, hands ball!” pekik Yoonjoong, namun Yoogeun mengabaikannya, lantas berjalan menghampiri kedua orangtuanya.

Jaejoong dan Yunho tertawa bersamaan dalam satu nada. Bukankah mereka tampak seperti sebuah keluarga yang bahagia, dengan dua orang anak?

“Sepakbola benar-benar melelahkan,” gumam Yoogeun. “Apa aku bau, Appa?” tanyanya setelah menyandarkan kepalanya ke pundak Yunho.

“Sangat,” jawab Yunho dengan dramatis, sehingga Yoogeun mendengus dan Yoonjoong yang baru saja datang terkikik geli.

“Itu jawaban yang sangat keren, Appa,” Yoonjoong menyeringai memamerkan deretan gigi putihnya pada Yoogeun.

“Lebih baik kalian mandi dulu, sebelum keringat itu menempel seperti lem,” sela Jaejoong sambil menyeka keringat yang turun dari pelipis Yoonjoong.

Yoonjoong dan Yoogeun mengangguk bersamaan, lantas segera melesat pergi. Meninggalkan bola mereka, dan saling berlari mendahului untuk menunjukan siapa yang lebih keren. Sementara Yunho dan Jaejoong masih tetap berada di sana, dan sekali lagi mereka terjebak dalam suatu kebisuan.

Sebuah pilihan itu seperti bermain sebuah tebak-tebakan, jika kau salah, maka kau akan menyesalinya, setidaknya seperti itu. Pernikahan adalah suatu komitmen, suatu janji terikat yang diucapkan atas nama Tuhan, dan tidak bisa semudah berkedip untuk melakukannya.

“Soal pernikahan yang dibicarakan Appaku,” ujar Jaejoong menggantung. Ia lantas berdehem untuk menstabilkan suaranya yang terdengar gamang.

Yunho cepat-cepat menoleh, berusaha menatap mata Jaejoong, meskipun laki-laki cantik itu terus menatap ke depan. “Ya?” tanya Yunho.

“Aku…” Jaejoong menggigit bibirnya tak yakin.

“Lebih baik kita menikah/ lebih baik kita tidak usah menikah,” ujar Yunho dan Jaejoong bersamaan.

Dengan gerakan yang cepat keduanya saling berpandangan untuk beberapa saat, berada dalam situasi yang membuat keduanya merasa kikuk, bukanlah sesuatu yang tampak bagus. Jaejoong cepat-cepat menyesap ochanya, rasa pahitnya mendadak berlipat beberapa kali, hingga membakar lidahnya. Mungkin ia terlalu tegang.

“Lebih baik kita tidak perlu menikah, kita jalani saja apa adanya, ” terang Jaejoong.

Yunho tersentak, seolah-olah langit runtuh menimpa dirinya. “Apa yang kau katakan, Jae? Kau tahu ini mudah untuk kita, tidak akan ada lagi yang menghalangi kita, tidak orangtuamu dan tidak pula orangtuaku karena mereka sudah tiada. Lalu apa lagi?”

“Aku tidak siap,” jawab Jaejoong tegas.

“Apa? Aku mencintaimu, Jae.”

“Aku juga mencintaimu, Yun.”

“Lalu,”

“Aku tidak bisa.”

“Astaga Jae, jangan buat aku seperti seorang pecundang bodoh. Aku mencintaimu, kau mencintaiku. Dan keberadaan anak-anak kita. Semuanya sudah cukup ku kira. Lalu apa lagi yang membuatmu tidak siap?”

“I love you so much. I really love our childrens. I want to be with you, I want happiness. But married? I cant. Im not ready yet for a commitment.”

“Kau meragukanku?”

“Aku hanya takut kembali kecewa. Kuharap kau mengerti,”

“Aku menyesal untuk apa yang telah kulakukan sebelumnya. Aku ingin memperbaiki semuanya. Menikahlah denganku, Jae. Itu akan baik untuk kita. Akan baik untuk anak-anak kita.” Ucap Yunho dengan suara setengah bergetar. Mendadak ia merasakan sebuah ketakutan di dalam dirinya. Ia merasa akan kehilangan Jaejoong jika ia tidak berhasil mengikatnya.

Jaejoong menatap mata Yunho lantas tersenyum. Disesapnya gelas ocha yang sebenarnya telah kosong, hanya berusaha untuk tampak tenang. “Kau tidak akan mengerti. Kau hanya melihat dari sudut pandangmu. Itu saja. Selama ini aku selalu berusaha menutupi kenyataan dari dunia. Aku selalu mengakui bahwa aku adalah ayah Yoogeun. Kau tahu, Yun. Apa yang akan terjadi jika kita menikah? Semua yang kulakukan selama ini akan sia-sia. Kurasa ini justru baik untukmu dan baik untukku. Kita tetap hidup dalam satu rumah seperti pasangan, saling melayani, saling melindungi, namun tidak ada pernikahan yang mengikat kita. Bukankah itu terasa lebih nyaman. Dan kupikir semuanya akan baik-baik saja, tidak akan ada yang berbeda.”

“Kau seperti ingin menghindariku, kau tidak ingin terikat padaku. Kau tahu, itu akan terasa sangat menyakitkan jika suatu hari kau pergi dan aku tidak memiliki hak apapun untuk menghentikanmu. Jae, aku tidak tahu jika kau sangat liberal saat ini,”

Jaejoong tertawa. Dia menyentuh kedua pipi Yunho lantas tersenyum. “Aku tidak akan pergi darimu, percayalah.”

Yunho menggenggam tangan Jaejoong yang menyentuh pipinya, lantas perlahan menurunkannya dan diletakannya di atas paha. “Maka menikahlah denganku, Jae.”

Jaejoong menarik nafas panjang. “Kurasa kau tidak mengerti. Pernikahan ya? Tapi kini aku bukan lagi seorang remaja berumur belasan yang bisa memikirkan pernikahan. Pada suatu masa tiga belas tahun yang lalu. Aku selalu bermimpi tentang pernikahanku, pernikahan pertama dan terakhir dengan pasangan yang kucintai, kau. Aku membayangkan berada dalam balutan tuxedo berwarna ivory yang dibuat khusus untukku, dengan hiasan kristal swarovski dan purple rose pada bagian dada, dan bagian belakang jas yang menjuntai panjang khas eropa sebagai pengganti bridal veil, menunjukan identitas bahwa aku adalah pangeran yang elegan. Aku membayangkan berjalan di karpet merah menuju altar dengan perasaan abstrak saking senangnya diiringi lagu gubahan Mozart, Marriage of Figaro, sementara di belakangku ada anak-anak kecil yang berdandan seperti malaikan menebarkan kelopak white rose sebagai confetti pernikahan. Aku membayangkan kau berada di altar, menungguku lantas mengulurkan tanganmu ketika ayahku menyerahkanku padamu. Tepat di depan pendeta, disaksikan oleh banyak pihak, kita mengucapkan janji suci. Janji yang mengikat raga kita, janji yang mengikat darah kita, janji yang mengikat jiwa kita. Dan seperti di dalam dongeng-dongeng yang sering kudengar saat aku masih kecil. Semuanya berakhir bahagia,”

“Maka menikah” kata-kata Yunho terputus karena Jaejoong dengan cepat menyelanya.

“Aku belum selesai berbicara. Bukankah yang kukatakan sangat indah, Yun? Sayangnya masa itu telah berlalu dan telah berakhir tiga belas tahun yang lalu, dan tak bisa lagi kuhidupkan. Aku tidak lagi muda, dan kurasa pernikahan itu akan terasa berbeda. Mungkin aku tidak akan bersinar saat ini ketika berdiri di altar sekalipun ada jutaan kristalswarovski atau amethys yang menghiasiku. Aku bahkan sudah memiliki dua anak berusia tiga belas tahun di pernikahan pertamaku, bukankah itu terdengar sangat lucu? Dan jika aku menikah denganmu, itu akan terasa sangat menyakitkan bagiku. Ini pernikahan pertamaku, sedangkan bagimu, ini adalah pernikahan keduamu.”

Yunho terdiam, sesuatu terasa membekukan tubuhnya. Ia merasa benar-benar rendah dan hina. Kenyataan yang dilontarkan Jaejoong, bahkan ia tidak pernah sekalipun memikirkannya. “Maafkan aku,” ucap Yunho dengan tangisnya yang beku. Ia ingin berteriak-teriak, dan menangis sesegukan namun tak bisa.

Jaejoong balas menatap Yunho dengan intens, lantas tersenyum. Dan Yunho tahu bahwa senyuman itu membingkai sebuah kesakitan. Jaejoongnya terlihat sangat rapuh, dan dengan bodohnya ia selalu mengecewakannya dan tidak pernah berhasil melindunginya.

Tiga belas tahun yang telah terlewati hanya menyisakan kepedihan, dan kesakitan. Seandainya dulu ia tegas, seandainya dulu ia berani menentukan keputusan. Maka kekasihnya tidak akan tersiksa, bahkan hingga kini ketika mereka telah bersama, Yunho tahu bahwa Jaejoong tetap merasa tersiksa.

Yunho menarik tengkuk Jaejoong perlahan lantas dikecupnya bibir merah muda itu dengan sangat dalam, ketika ia melepaskan kecupannya, Yunho melihat sebuah buliran bening menggenang di pelupuk mata Jaejoong meski tak jatuh membasahi pipinya. Yunho mengusap buliran bening itu dengan ibu jarinya, dan sesuatu terasa sesak di dadanya. “Jangan menangis,” gumam Yunho.

Jaejoong menengadahkan wajahnya, lantas menarik sudut bibirnya, memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku kelilipan. Sepertinya angin menerbangkan debu-debu kecil itu. Lebih baik kita masuk. Sepertinya Yoogeun dan Yoonjoong juga sudah selesai mandi. Aku akan menyiapkan semangkuk es krim untuk mereka.”

Cepat-cepat Jaejoong merapikan gelas-gelas ke atas nampan. Ketika Jaejoong berdiri hendak beranjak, Yunho menahannya. Laki-laki itu menatap Jaejoong dengan suatu pandanga bersalah yang sulit diartikan. Ia bakan telah kehilangan kata-kata. Jika ada satu kata yang lebih dalam dari kata maaf, maka ia akan mengucapkannya berkali-kali. Dipandanginya Jaejoong dengan sendu. Yunho tidak ingin menyakitinya lagi.

“Aku baik-baik saja,” ujar Jaejoong sambil tersenyum. Dan ia beranjak masuk ke dalam, meninggalkan Yunho dengan segala rasa bersalah yang berkecamuk di dalam dadanya.

OOO

Cinta itu hal yang gila.

Dan kegilaan itu menjadikan kita berani untuk mencintai.

Benar yang mereka katakan, bahwa cinta dan kebodohan itu berada dalam satu garis lurus yang tidak dapat dipisahkan.

Malam yang indah, dengan langit yang ditaburi berjuta bintang yang gemerlapan, menambah aksen keindahan, menenangkan hati. Cahaya bulan remang-remang menelusup masuk ke dalam kamar melewati celah-celah jendela menambah kesan eksotis.

Yoogeun dan Yoonjoong tampak duduk di atas sofa menghadap televisi yang menayangkan sebuah kartun nickelodeon, yang tak benar-benar mereka tonton. Sesekali mereka berceloteh atau saling mengganggu satu sama lain.

Yoonjoong menyandarkan kepalanya pada sofa lantas menarik nafas dalam. Ia memikirkan sesuatu yang terasa aneh baginya. “Aku merasa aneh,” gumamnya.

“Apanya yang aneh? Apakah ada sesuatu yang tidak keren?” tanya Yoogeun.

“Bukankah kita kembar? Kenapa marga kita masih berbeda. Bukankah seharusnya namamu Jung Yoogeun, kenapa masih Kim? ”

Yoogeun menghela nafas. “Jangan menanyakan sesuatu yang rumit. Aku tidak mengerti, “katanya.

“Kenapa Eomma dan Appa tidak menikah saja? ”

“Apa bedanya? Menikah atau tidak, mereka akan tetap menjadi Eomma dan Appa kita. Tidak akan ada yang berubah. Jangan memikirkan hal hal yang rumit, kau jadi terlihat seperti seorang ahjussi yang frustasi, ”

“Kau yang ahjussi, kau lebih tua dariku! ” pekik Yoonjoong.

Yoogeun tertawa dengan keras. “Hanya berbeda beberapa detik saja. ”

Ketika film berakhir dan mulai berganti dengan film yang lain, Yoogeun menguap. Dilihatnya jam baru menunjukan pukul delapan malam, tapi ia merasa matanya sudah sangat berat.

“Yoonjoongie, bukankah kita ada tugas? Lebih bail kita mengerjakannya dulu. Aku sudah mulai mengantuk. ” ujar Yoogeun sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Duluan saja, aku masih ingin menonton. Ah, Geunie, dimana Eomma dan Appa? ” tanya Yoonjoong ketika Yoogeun sudah mulai beranjak.

“Aku tidak tahu,mungkin mereka sudah tidur. ” Jawab Yoogeun. “Jangan menonton terlalu lama. Kau tidak akan keren dengan mata panda. Dan akan kupastikan semua gadis-gadis beralih memandangku, ” gurau Yoogeun sambil tertawa.

“Kau boleh mengambil semua gadis berisik itu, tapi sisakan satu yang cantik dan seksi untukku, ” Yoonjoong mengerling, dan segera mendapat sebuah jitakan keras.

Yoogeun mendelik. “Akan kulaporkan pada Eomma, kau sudah mulai bermain-main dengan gadis, ” Yoogeun menjulurkan lidahnya lantas berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Yoonjoong berteriak-teriak memanggil Yoogeun dan berharap kakak kembarnya tidak benar-benar melaporkannya pada Jaejoong.

OOO

Apa yang kau harapkan, tak selamanya menjadi kenyataan, justru berbanding terbalik dan terasa menyakitkan.

Apa yang kau harapkan, terkadang harus kau sembunyikan, setidaknya dengan begitu semuanya akan baik-baik saja.

Apa yang kau harapkan, terkadang harus kau lepaskan, dan percayalah, ada hal baru diluar sana yang jauh lebih menakjubkan.

Tuhan tidak akan pernah menutup mata, ia akan menyiapkan sebuah keajaiban.

Yunho memandangi Jaejoong yang tengah memasang sebuah bando di kepalanya, sehingga poninya tidak lagi menghalangi dahinya. Jaejoong duduk menghadap cermin dengan sebuah celana tidur bergambar hello kitty dan kaos putih yang tampak sangat tipis bagi Yunho.

Berkali-kali Yunho menggeliat dalam duduknya di atas memikirkannya selama berjam-jam tadi siang akhirnya ia dapat menerimanya. Meskipun terasa berat karena ia tidak bisa mengikat Jaejoong dalam suatu ikrar suci pernikahan, namun jika hari-hari yang mereka lalui tetap seperti sepasang suami istri; tidur dalam satu kamar dan satu ranjang yang sama, saling melindungi, saling melayani, dan saling berkewajiban; maka Yunho tidak merasa keberatan. Setidaknya Jaejoong, laki-laki yang dicintainya tetap berada di sampinya, meski entah sampai kapan, meski mungkin suatu hari nanti ia akan pergi.

“Mungkin akhir pekan nati kita haru berjalan-jalan bersama, mungkin taman bermain, ” ujar Yunho.

“Itu ide yang bagus, ” jawab Jaejoong sambi beranjak dan menuju ranjang. “Tidak keberatan jika aku tidur di sini juga? ”

Yunho mengangguk dengan cepat. “Tentu saja. Aku sangat senang jika kau mau melakukannya, ”

Kata-kata Yunho mau tak mau membuat Jaejoong tersenyum dan menampilkan sebuah semburat merah di pipinya. “Terimakasih, ” gumamnya, sambil menelusupkan diri di dalam selimut.

“Jadi, Joongie, bagaimana dengan orangtuamu? Apa yang akan kau katakan pada mereka tentang hubungan kita? ”

Jaejoong menoleh, lantas sersenyum simpul. “Aku akan menjelaskan keputusanku, dan aku yakin mereka bisa mengerti. Bisakah? Bisakah berhenti membicarakan tentang hal ini? ”

“Tentu saja, maafkan aku. ” Gumam Yunho, lantas ditariknya Jaejoong hingga bersandar ke dadanya. “Aku mencintaimu, Jae, sangat. Sampai rasanya aku akan mati jika kau menghilang dan tidak ada lagi yang bisa kucintai, ”

“Dan aku lebih mencintaimu, ” jawab Jaejoong, ia semakin melesakkan kepalanya pada dada Yunho, sehingga dapat mendengar detak jantung Yunho dengan sangat jelas. Jantung yang berdetak dengan sangat cepat seolah olah akan loncat dari tempatnya. Jaejoong tersenyum ketika sadar hal itu terjadi karenanya.

Yunho menundukan kepalanya, lantas dikecupnya bibir Jaejoong, mendadak rasa panas segera menjalar. Kecupan yang semula hanya menempelkan bibir itu mendadak meningkat menjadi sebuah hisapan, dalam ciuman mereka, Jaejoong tersenyum.

Jaejoong mengalungkan kedua tangannya di leher Yunho sehingga ia tetap seimbang dan tidak tumbang, sementara Yunho menahan pinggang Jaejoong dengan kedua tangannya. Ciuman itu semakin lama menjadi semakin menuntut, sebuah gerakan eksotis yang menyemburkan aura panas di seluruh ruangan, sehingga baik Jaejoong maupun Yunho mendadak berkeringat.

Yunho menekan tubuh Jaejoong agar semakin menempel dengan tubuhnya, kaos putih tipis Jaejoong terasa melekat ditubuhnya karena keringat yang membasahi. Lidah Yunho memaksa masuk ke dalam mulut Jaejoong yang terbuka karena tuntutan kebutuhan udara. Sesekali Jaejoong mngerang ketika lidah Yunho memainkan langit-langit mulutnya. Sementara Jaejoong memejamkan matanya menikmati sensasi asing dan liar yang didapatkannya. Yunho membuka matanya lantas melirik sosok dihadapannya. Keringat yang mengalir turun dari leher jenjang putih itu,lantas turun ke dada, sungguh merupakan pemandangan indah yang meningkatkan libidonya.

Yunho melepaskan ciuman mereka dengan tiba-tiba sehingga benang saliva yang menghubungkan keduanya tampak begitu jelas. Jaejoong membuka mulutnya, lantas bernafas dengan rakus, berusaha meraup semua udara untuk memenuhi paru-parunya yang terasa kering hingg ia sesak. Sementara Yunho, dengan mata sayu dan dada yang naik turun dengan cepat segera menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Jaejoong, menciuminya, lantas mengigit gigit kecil kulit putih itu sehingga meninggalkan tanda tanda keunguan di sana. Sebuah tanda yang pada setiap pembuatnya, membuat Jaejoong mengerang tertahan.

Seperti sebuah nostalgia rasanya. Mereka pernah melakukan hal ini sebelumnya. Saat pertama dan terakhir kali bagi mereka, tiga belas tahun yang lalu. Dengan pelaku yang sama, Jaejoong dan Yunho. Namun keduanya merasa berbeda. Kali ini, hubungan ini terasa lebih panas membara, terasa lebih menuntut, dan terasa lebih liar. Apakan kedewasan dan hormon yang terkadung dalam tubuh memengaruhi hal ini? Mereka bahkan tidak tahu, hanya menikmatinya.

Sementara mulutnya menciumi leher Jaejoong dengan liar, tangannya menyusup ke balik celana tidur Jaejoong, mengelus daerah pribadi Jaejoong yang sudah mulai menegang dari luar celana dalamnya.

“Ngghh, ” leguhan Jaejoong keluar seiring dengan tidak mampunya celana Jaejoong menampung miliknya yang semakin mengeras dan menuntut.

Dengan giginya, Yunho mengangkat kaos Jaejoong hingga sebatas dada sehingga ia bisa leluasa mengeksploitasi dua buah tonjolan yang sangat memikat di baliknya, menjilatmya sehingga tubuh Jaejoong mengejang dan kepalanya menggelinjang, ia bahkan sudah tidak bisa berpikir jernih ketika Yunho menghisap dan menjilatinya. Yang ia inginkan adalah Yunho terus menyentuhnya saat ini.

Merasa sesuatu di balik celana Jaejoong telah mengeras seutuhnya, Yunho menarik celana Jaejoong lantas diturunkannya dengan jari-jari kakinya, karena tangannya terlalu sibuk mengelus dan membelai setiap inchi tubuh Jaejoong yang membuat salivanya terus keluar. Seperti sebuah candu yang memabukan, atau sebuah nikotin yang membuatmu tak bisa lepas dari jeratannya.

Yunho mulai mengocok milik Jaejoong yang terasa sangat pas berada di genggamannya. Ia menggerakan tangannya naik turun, hingga berkali-kali Jaejoong melenguh dan menyebut nama Yunho dengan nada yang eksotis dan seduktif. Suara yang terdengar serak basah namun menuntut, membuat Yunho benar-benar merasakan libidonya berada di ubun-ubun.

“Akh, Yun! ” Jaejoong menjerit cukup keras, tubuhnya mengejang, melengkung indah. Sementara Yunho merasakan sesuatu membanjiri tangannya. Jaejoong terengah-engah, seolah ia akan kehilangan nafasnya, sementara Yunho menyeringai senang.

Dilumurinya cairan itu pada lubang Jaejoong hingga terasa licin, sementara sebagian Yunho jilat dengan gerakan lambat seolah ingin menggoda Jaejoong, dan berhasil karena membuat laki-laki cantik itu terspu, dan berusaha menolehkan wajahnya ke arah lain. Yunho terkikik.

Satu jari masuk dan kedua kaki Jaejoong mengejang. Saat dua jari masuk, secara refleks Jaejoong melebarkan kedua kakinya, dan memekik dengan keras merasakan sakit yang teramat. Ia hanya belum terbiasa. Seperti kali pertama, tentu saja, tiga belas tahun ia tak melakukannya. Jaejoong menggigit bibirnya keras-keras, ketika Yunho menggerakannya, hingga ia merasa mulai terbiasa.

“Akh..nghh, Yunh!” Jaejoong tidak bisa berhenti meracau ketika Yunho menggerakan jarinya semakin cepat. Tubuhnya terasa mati rasa dan pasrah menerima perlakuan Yunho saat ini. Jaejoong mendesah dengan keras, ia sudah berhenti menggigit bibirnya dan menyisakan bibir yang merekah merah. Jaejoong hampir kembali menjerit keras, namun Yunho lebih dulu menarik jarinya, dan mendadak Jaejoong merasa kosong.

“Kau sudah siap, Jae? Ini saatnya, ” gumam Yunho sambil menelanjangi dirinya sendiri. Dan Jaejoong tahu, ini akan semakin berat.

OOO

Dengan mata yang hampir menutup karena mengantuk. Yoogeun membuka buku pelajarannya, dibaca setiap kata yang tercetak di sana lantas ia masukan ke dalam lembar jawaban begitu menemukan apa yang ia cari.

Ditatapnya jam dinding, sudah lebih dari jam sembilan, artinya ia sudah mengerjakan tugasnya selama satu jam dan belum ada tanda-tanda selesai. Sementara Yoonjoong juga belum tampak memasuki kamar.

“Ahn, ”

Yoogeun menghentikan bacaannya ketika mendengar hal itu. Sejak lima belas menit yang lalu, ia mendengar suara suara aneh, namun diabaikannya, mungkin hanya perasaannya, namun kini suara itu tersengar semakin jelas. Yoogeun kembali melanjutkan bacaannya, berusaha berkonsentrasi.

“Ngghh.. ”

Yoogeun menutup bukunya, lantas duduk dengan tegang. Ia hanya merasa sedikit takut mendengar suara-suara asing tanpa sumber seperti itu. Ditajamkan pendengarannya berusaha mendengar lebih jelas apa yang didengarnya.

“Akkh.. Yun, ”

Yoogeun menepuk dahinya keras-keras ketika telinganya mengenali suara itu. “Eomma, Appa, ” Yoogeun menggeleng-gelengkan kepalanya. Diambilnya sebuah headsheet lantas dijejalkannya ke dalam telinga dan kembali membaca. Namun mendadak sesuatu diingatnya. “Yoonjoongie, ” pekiknya.

Yoogeun segera mengambil sebuah earphone dan beranjak pergi keluar kamar meninggalkan bukunya. Ketika menuruni tiga tangga terakhir, dilihatnya Yoonjoong yang hendak menaiki tangga.

“Kau mau kemana? ” tanya Yoogeun.

“Aku seperti mendengar suara aneh dari atas, ” jawab Yoonjoong.

“Itu bukan apa-apa, ayo kembali ke sofa. Aku tidak mengantuk, ” Yoogeun menarik tubuh kembali ke sofa. Lantas memasangkan earphone pada telinga Yoonjoong, dan memelototinya ketika Yoonjoong mencoba untuk protes.

Yoogeun mengambil sebuah PSP lantas mulai memainkannya, sementara Yoonjoong hanya menghela nafas dengan dramatis karena bingung apa yang dilakukan kakak kembarnya. Bahkan Yoogeun hanya memasangkan earphone padanya, tidak ada lagu. Yoonjoong berusaha membuka earphone yang menutupi telinga kanannya namun cepat-cepat Yoogeun menahannya lantas mendelik.

“Jangan membukanya! ” sergah Yoogeun.

“Aku mendengar suara yang menakutkan, ” jawab Yoonjoong.

“Mungkin suara yang tadi, itu hanya khayalan saja, ” Yoogeun berusaha memengaruhi pikiran Yoonjoong agar ia percaya bahwa tidak ada suara apapun.

Yoonjoong menggeleng cepat. “Tidak, ini suara yang berbeda. Seperti ketukan, apa mungkin hantu? ”

“Yaa, jangan menakut-nakutiku seperti itu! ”

“Aku tidak sedang menakut-nakutimu, Geunie, itu yang kudengar, ” Yoonjoong membuka headsheet yang menutupi telinga Yoogeun, dan mendadak anak laki-laki itu mendengar pintu yang diketuk dengan keras. Wajahnya mendadak pucat dan Yoogeun segera memeluk Yoonjoong dengan erat. Ketakutan.

“Jae Hyung, ini aku. Bisa kau buka pintunya? ” teriak seseorang dari balik pintu.

Yoogeun segera berlari menuju pintu diikuti Yoonjoong. Dibukanya pintu dengan cepat, sehingga menunjukkan seorang pemuda tinggi berwajah tampan yang tersenyum ramah.

“Changmin Appa! ” pekik Yoogeun, sementara Yoonjoong hanya mendelik.

“Yoogeun, Yoonjoong, apa kabar? Dimana Jae Hyung? ” tanya Changmin.

“Eomma, ada Changmin Appa! / Eomma, ada ahjussi genit! ” teriak Yoogeun dan Yoonjoong bersamaan, dan hal itu membuat Changmin tertawa dengan keras.

Berselang lima menit kemudian, terdengan suara langkah tergesa menuruni tangga, lantas muncul Jaejoong denga penampilan yang sangat acak-acakan. Disusul oleh kemunculan Yunho yang hanya mengenakan celana tidur. Dan Changmin tahu ia telah mengintrupsi sesuatu, kemudian menyeringai sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Yoo, Hyung! ” Changmin mengangkat tangan kananya.

“Min, ada apa? Kenapa tiba-tiba datang? Kau sendiri? ” tanya Jaejoong bertubi-tubi sambil berusaha menyembunyikan hackey yang terekspos dari lehernya, sehingga Changmin terkikik melihatnya.

“Sepertinya aku telah mengintrupsi sesuatu, ” Changmin menyeringai yang mendapat tatapan tajam Jaejoong. “Aku datang untuk memperkenalkan seseorang, tapi sepertinya aku salah memilih waktu, ” tambahnya.

“Siapa? ” tanya Jaejoong.

“Kekasihku, ” jawab Changmin, sehingga membuat Jaejoong tersenyum.

“Dimana dia? ”

Seorang wanita dengan rambut panjang sepunggung muncul dari belakang Changmin. Ia tersenyum dengan lembut. Manis. Dia mengulurkan tangannya pada Jaejoong. “Perkenalkan… ”

END

Nyahahaha, sebenernya itu pacarnya Changmin gue, tapi gara gara takut dibully Changminizer sedunia gue skip, dan kalian silakan masukan nama siapun hehehe. Oke, akhirnya ff ini selesai juga. Maaf kalo ada yang kurang terpuaskan, tapi ya beginilah adanya. Makasih buat yang udah ngikutin FF ini dari awal, dan maaf kalo masih ada typos disini.

I need feedback. Please give me some review.

See you on the other FF

2 thoughts on “TERRIBLE/ YUNJAE/ CHAPTER 9 (COMPLETED)

  1. berakhir sdh……tapi gak bisa unjuk tangan sbgai pasangan changmin dikarenakan rambutq nggak sebahu, nasib…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s