FAKE LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 2


FAKE LOVE

Created by Amee 
Chapter 2 
.
.

Aku ingin hidup di bawah langit yang lebih luas, karena aku benci jika harus berpikir untuk hidup dalam belenggu.
.
.
Seoul masih tampak benar-benar hidup, sementara jam sudah menunjukan pukul sepuluh lewat. Yunho merapatkan mantelnya sambil menggosok-gosokkan telapak tangan yang terbungkus sarung berwarna hijau pada lengannya. Mencoba meningkatkan rasa hangat di tubuhnya. Berada di atap gedung tertinggi di Seoul ketika malam mulai semakin pekat benar-benar bukan ide yang bagus. Mungkin aku harus mampir ke kedai kopi nanti, pikirnya.

“Everlasting. Benar-benar mimpi buruk,” gumam Yunho.

Diingat-ingatnya lagi apa yang sudah dilakukannya selama ini. Bernyanyi. Tersenyum palsu. Membodohi orang. Menimbun kekayaan. Lalu apa lagi? Memuakkan. Bahkah ia tak merasakan kebahagian sedikit pun. Komersialisasi dan segala bentuk politik ekonomi benar-benar memuakkan, dan lagi kenapa masih ada saja yang menyukai ‘mereka’.

Yunho menengadahkan kepanya dengan cepat ketika dengungan berisik yang berasal dari mesin helikopter menyapa pendengerannya. Yunho tersenyum singkat lantas mendecih, berpura-pura tidak peduli ketika helikopter itu mulai mendarat beberapa meter dari tempatnya berdiri.

Yunho tengah memejamkan matanya mencoba meresapi setip sentuhan angin di kulitnya ketika pintu helikopter itu terbuka, dan menampilkan empat sosok laki-laki tampan. Keempatnya berjalan dengan gaya angkuh, dengan langkah yang nyaris bersamaan, menimbulkan bunyi gesekan khas antara lantai dan sol sepatu.

“Yunho-ah, apa kau sudah lama menunggu?” suara Yoochun cukup mengejutkan Yunho.

“Aku baru saja datang,” jawab Yunho datar.

“Bagaimana kabarmu? Menyenangkan?” mendadak Wonbin menyenggol pundak Yunho lantas tertawa. Sementara yang menjadi lawan bicaranya hanya diam tak tertarik.

“Tidak perlu berbasa-basi, waktuku cukup berharga,” jawab Yunho.

“Bagus, selalu seperti itu. Kau terlalu kaku,” sela Wonbin cepat.

“Bukankah sudah jelas?” tanya Yunho retoris sehingga Yoochun dan Wonbin menghela nafas bersamaan.

“Astaga,” pekik Jinki setelah mendengar perdebatan monoton yang tak kunjung usai. “Hyung, bisakah kalian lebih santai sedikit? Kupikir di sini terlalu panas,” katanya.

Yoochun menarik nafas dengan dramatis. “Baik, langsung pada intinya. Jadi bagaimana dengan lagu baru itu, apa kau sudah menyelesaikannya?” tanyanya.

Yunho mengangguk. “Tentu saja, aku tidak akan berdiri di sini kalau belum menyelesaikannya.” Ia mengeluarkan sebuah map kertas yang terlipat menjadi dua bagian dari balik mantelnya, lantas diserahkannya pada Yoochun. “Jangan dilipat, ada keping CD didalamnya,” tambah Yunho.

Yoochun mengerlingkan matanya. Ia menatap Yunho dan map yang baru saja diterimanya bergantian. “Kau yang sudah melipatnya,”

Yunho terkekeh datar. “Urusanku selesai,” katanya.

“Tidak ada yang akan selesai. Cepatlah kembali bersama kami,” ujar Jinki keras, berusaha melawan bising angin yang berhembus.

“Apa?” Yunho tertawa, lantas tangannya menunjuk pada Hoya yang sejak tadi diam di belakang Jinki. “Bukankah sudah ada dia? Jadi keberadaanku tak dibutuhkan lagi,” tanyanya sarkastik.

“Kau yang terbaik, kau bagian yang sangat kami butuhkan,” jawab Wonbin cepat.

“Ya, berpikirlah sedikit rasional. Selama ini kau satu-satunya vokalis yang kami miliki, berhenti mengikuti ego gilamu itu,” tambah Yoochun.

“Itu benar, Hyung. Selama ini aku hanya menjadi bayanganmu di panggung. Aku berlagak sepertimu, lipsync, sementara yang diputar adalah suaramu,” ujar Hoya kemudian. “Everlasting tak akan ada tanpamu,”

“Terserah. Kurasa adegan melankolis ini harus segera di akhiri. Urusanku sudah selesai. Aku pulang,” ujar Yunho.

“Ikutlah bersama kami, kami akan mengantarmu,” ujar Yoochun.

“Ya, ada tequila dan schotch baru di dalam,” tambah Jinki.

“Tidak perlu, aku membawa sepadaku. Selamat malam,” Yunho berbalik dan melenggang pergi meninggalkan keempatnya. Rambut dan ujung mantelnya berkibar tertiup angin, seolah akan terbang.

“Jangan lupa untuk datang di konser kita bulan depan, aku tak ingin kau mengecewakan siapapun. Kau mengerti?” teriak Wonbin sementara Yunho hanya menjawabnya dengan acungan jempol tanpa berbalik.

Mask. Lepaslah.

OOO

Jaejoong dan Changmin baru saja melangkahkan kaki keluar dari gedung sekolah. Sepanjang langkah mereka, Changmin terus terkikik, sementara Jaejoong tidak berhenti mengumpat. Dia mengeram lantas mengancak-acak rambutnya dengan gerakan kasar. Kelopak matanya tampak menghitam karena eyeliner yang digunakannya berantakan akibat gosokan gosokan telapak tangan pada wajahnya.

“Ini benar-benar tidak bisa diterima. Sungguh!” pekik Jaejoong.

“Begitukah?” jawab Changmin.

“Tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak bisa mengerjakan soal terakhir itu. Astaga,” sekali lagi ia mengeram frustasi.Diingat ingatnya lagi bagaimana ia tidak mampu mengerjakan satu nomor terakhir dalam kertas ujiannya.

“Itu artinya kau harus berusaha lebih giat lagi. Dan berangkat lebih pagi lagi,”

Jaejoong mendelikan matanya kesal, lantas ditatapnya Changmin tajam seolah-olah ia akan memakannya bulat-bulat.

“Kau berbica seolah-olah kau adalah anak rajin yang selalu datang tepat waktu ke sekolah,” ujar Jaejoong ketus.

“Aku tidak perlu menjadi anak yang rajin dan tepat waktu untuk mendapatkan nilai sempurna. Kau ingat berapa IQ ku?”

“Terserah sajalah,”

Changmin tertawa dengan lepas, dirangkulkan tangannya pada pundak Jaejoong lantas ditariknya pemuda cantik itu agar mendekat ke arahnya. Sementara Jaejoong hanya menghentak hentakan kakinya sesekali mengeram tertahan.

Tidak ada pembicaraan yang tercipta di antara keduanya selama beberapa lama. Hingga keduanya melewati gerbang, dan seseorang menarik tangan Jaejoong hingga tubuh pemuda itu terlepas dari rangkulan Changmin.

“Hey!” pekik Changmin keras.

Ditatapnya laki-laki yang tengah menyeringai padanya sambil menarik tangan Jaejoong itu. Ia tidak mengenalinya, bahkan ia belum pernah melihatnya barang sekali pun.

“Hanya ingin menjemputnya, apa itu salah?” ujar Yunho, lantas menarik Jaejoong menjauhi Changmin.

“Jangan bertindak seenaknya seperti itu!” pekik Changmin.

Sementara Jaejoong yang seolah syok dengan kejadian yang dialaminya hanya bisa diam. Sekitar tiga meter setelahnya barulah Jaejoong tersadar. Ia membalikan tubuhnya dan melambaikan tangannya pada Changmin. “Aku akan menghubungimu nanti,” teriaknya.

“Tapi Jae, dia, aku,” suara Changmin terdengar putus putus dan lambat laun menghilang seiring dengan jarak yang tercipta diantara mereka.

Yunho masih menarik Jaejoong, mereka terus berjalan lurus lantas berbelok kanan di ujung jalan menuju stasiun kereta api.

Yunho memesan dua buah tiket, sementara Jaejoong terus menggerutu tidak jelas. Bukankah ini hari yang dikutuk, setelah ia gagal menyelesaikan soalnya kini ia ditawan oleh manusia musang. Tapi kenapa ia diam saja, itu yang terus Jaejoong pikirkan sejak tadi.
Yunho kembali menarik tangan Jaejoong ketika mereka memasuki kereta. Setelah melepaskan genggamannya, Yunho segera memosisikan dirinya untuk duduk di sisi yang masih kosong, sementara Jaejoong masih diam mematung di tempatnya.

Saat kereta mulai bergerak, Jaejoong justru memilih untuk duduk di lantai kereta, mengabaikan semua pandangan menuduh dan mengejek yang dilayangkan padanya.

“Astaga, apa yang kau lakukan?” tanya Yunho.

“Duduk,” jawab Jaejoong asal.

“Naiklah, duduk di sampingku, bukankah tempat ini masih kosong?”

“Aku bahkan tidak mengenalmu jadi untuk apa aku mengikuti kemauanmu?” tantang Jaejoong

Dengan tidak sabar Yunho menarik tangan Jaejoong hingga pemuda itu duduk di sampingnya. “Aku Yunho dan aku kekasihmu, maka diamlah dengan tenang,” katanya.
Jaejoong hanya mendelikkan matanya sebal. Untuk beberapa waktu yang menjemukan keduanya terjebak dalam keheningan. Yunho fokus mengamati jalanan di luar sana, sementara Jaejoong sibuk mendengarkan lagu lewat earphonenya.

Kereta baru saja memasuki sebuah terowongan sehingga bunyi berderak dari mesin terdengar lebih keras dari sebelumnya. Jaejoong menolehkan kepalanya, lantas ditatapnya Yunho. Tampan, pikirnya. Mungkin tidak terlalu buruk menjadi kekasihnya. Dan pada detik berikutnya Yunho menyumpahi dirinya sendiri karena telah berpikiran absurd.

Jaejoong menarik nafas dengan dramatis, sementara Yunho masih saja diam dengan gaya aristokrat. Kakinya disilangkan, sementara tangannya diletakkan di atas paha. Wajah tampannya tampak bersinar ketika sinar matahari masuk ke dalam kereta ketika terowongan telah terlewati.

“Apa kau suka musik?” tanya Jaejoong berusaha mencairkan suasana.

Yunho baru saja hendak menjawab, ketika kereta berhenti dan terdengar suara dari speaker. “Kita sudah sampai,” jawab Yunho, lantas ditariknya tangan Jaejoong dengan gerakan cepat.

Jaejoong melempar pandangannya ke setiap sudut, lantas segera mengeryit ketika indra penglihatan mengirimkan impuls ke otaknya. Tak ada memori tentang daerah ini. Bahkan ini bukan jalan menuju rumahnya. Ditatapnya Yunho, sementara objek yang di tatap hanya bergeming tak acuh, seolah tak mengerti dengan maksud tatapan itu.

“Akan ke mana kita?” tanya Jaejoong akhirnya.

“Apartemenku. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di sana,” jawab Yunho dingin.

“Kenapa kau memutuskannya sendiri? Nanti malam aku harus menghadari cosplay party, dan itu sangat penting untukku,”

“Aku akan mengantarkanmu ke sana, nanti. Lagipula, bukankah kekasih yang baik akan selalu mendukung kekasihnya. Bukan begiu Kim Jaejoong?” Yunho mengedipkan sebelah matanya, lantas berjalan meninggalkan Jaejoong yang membatu sejenak.

“Yaa.. Yunho sshi kau tidak bisa seenaknya seperti itu!” teriak Jaejoong akhirnya.

Jaejoong berlari, mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Yunho yang telah meninggalkan dirinya cukup jauh. Pemuda itu mengutuk segala hal yang berkaitan dengan Yunho. Matahari semakin tinggi, dan suhu di daerah ini mungkin telah naik beberapa derajat namun diabaikan Jaejoong. Pada saat jarak mereka hanya menyisakan tiga meter, sesuatu mengalihkan perhatian Jaejoong, lantas ia berbelok ke kanan.

Jaejoong memasuki sebuah CD/DVD store. Di dalamnya ada satu rak yang khusus memuat semua album Evelasting secara lengkap dengan tataan yang rapi, dan banner-banner besar keempat personelnya yang mengisi setiap sudutnya.

Jaejoong hampir saja menangis menatap semua yang ada di hadapannya. Baru kali ini ia melihat suatu keajaiban, sebuah store yang penuh dengan idolanya, betapa hari ini adalah hari keberuntungannya. Disentuhnya setiap album dan banner, rasanya ia menjerit-jerit saja, lantas menangis saking terhari.

“Astaga, ini benar-benar hebat,” pekik Jaejoong tertahan. Seluruh engsel persendiannya terasa lumpuh hingga kedua kakinya tidak mampu menyangga tubuhnya lantas hampir terjatuh.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Yunho sambil menepuk pundak Jaejoong keras hingga pemuda itu terlonjak kaget.

“Hanya melihat-lihat. Bukankah ini keren,” jawab Jaejoong spontan.

“Ya, sangat keren, kecuali mereka,” tunjuk Yunho dengan gerakan angkuh pada deretan panjang album Everlasting.

“Kau tidak menyukai mereka?”

“Sangat tidak menyukai mereka, lebih tepatnya. Cih, apa-apaan itu, band rendahan yang hanya mengagungkan pupularitas tanpa kualitas,” jawab Yunho, lantar diam sebentar. “Kau suka?”

“A..Ak-Aku juga tidak suka, untuk apa menyukai band seperti itu,” jawab Jaejoong pada akhirnya. Pada detik berikutnya ia merutuki dirinya sendiri yang telah berdusta. Digaruk tengkuknya yang tidak gatal lantas memaksakan tawa untuk menyembunyikan penyesalannya.

“Kalau begitu untuk apa diam di sini? Pekerjaanku menunggu,” sekali lagi Yunho menarik tangan Jaejoong. Dibawanya pemuda berkulit putih pucat itu keluar, sementara yang di tarik terus saja melirik ke belakang merenungi penyesalannya.

Berkali-kali Jaejoong memarahi dirinya sendiri karena keodohan ini. Rasanya seperti telah berselingkuh dan mengecewakan kekasih. Dan berkali-kali ia menggumamkan kata maaf tanpa suara untuk YNH, LJK, PYC, WBN
karena merasa telah melakukan perbuatan serong dari mereka. Maafkan aku, gumamnya.

Ketika sampai di ujung jalan, mereka berbelok kanan dan terus berjalan lurus. Jaejoong menengadahkan wajahnya, menatap sebuah bangunan yang Yunho sebut apartemen, namun lebih menyerupai bangunan tua berhantu di jaman Renaisans. Jaejoong mengeryitkan dahinya lantas menggigit bibir bingung.

“Jangan memasang tampang seperti itu, kau terlihat bodoh!” seru Yunho lantas tertawa, didorongnya tubuh Jaejoong dengan spontan, sementara objek yang didorong tengah berada dalam kondisi keseimbangan yang buruk, sehingga byuuurrr… Jaejoong terperosok ke dalam kolam dengan tidak elitnya. Bagian kepala sampai dada masuk ke dalam kolam, sementara bagian tubuh bawahnya tetap di darat, sementara perutnya tepat mendarat pada pembaras tepi kolam.

“Appo,” Jaejoong meringis namun tak bergerak.

Pada saat itu Yunho sungguh ingin tertawa, bukankah itu adalah hal yang lucu, namun rasa iba dan rasa bersalah mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Ditariknya tubuh Jaejoong, lantas dibalikan tubuhnya. Kulit wajahnya yang sudah pucat tampak semakin pucat, dengan warna merah yang menghiasi pipi dan hidungnya. Diangkatnya tubuh Jaejoong, lantas digendong di punggungnya. Dengan tergesa-gesa, Yunho mengambil langkah seribu untuk masuk ke dalam apartemennya.

Dibukanya knop pintu dengan tangan kanan, lantas masuk dengan langkah perlahan ke dalam rumah. Khas kamar seorang pemuda single, tumpukan majalah, baju, dan sampah makanan instan tercecer di mana-mana, sehingga Yunho harus menendang beberapa barang yang menghalangi langkahnya untuk mencapai ranjang.

Diletakkannya Jaejoong perlahan, lantas ditatapnya pemuda itu lama-lama. Manis pikirnya. Tetesan air jatuh dari ujung rambut Jaejoong, turun membasahi pipinya, dan Siwon menganggapnya sebagai sebuah seni yang indah.

“Apa masih sakit?” tanya Yunho.

“Aku tidak tahu ternyata kau sangat bodoh, untuk apa bertanya sesuatu yang telah kau tahu saja masih sangat sakit, perutku terantuk pembatas kolam yang terbuat dari batu, kau pikir rasanya empuk seperti menjatuhkan dirimu di atas bantal, hah?” cerca Jaejoong pada akhirnya. “Dan kau tahu Yunho-sshi, dengan membawaku ke sini kau akan menggagalkan rencanaku menghadari cosplay party yang mahapenting. Astaga, bahkan aku tidak tahu di mana ini dan berapa waktu yang kubutuhkan untuk sampai ke sana. Dan aku tidak membawa kostumku,” Jaejoong terus saja berceloteh hingga Yunhi merasa jengah.

“Aku akan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana,” jawab Yunho. “Maka diamlah,” tambahnya, lantas diciumnya bibir merah Jaejoong, ditekannya dalam-dalam bibir itu. Tak ada penolakan dari Jaejoong, ia hanya bingung harus melakukan apa. Ketika Yunho mulai mengulum bibir Jaejoong dan menekan kepalanya agar semakin dalam, tanpa sadar Jaejoong mengalungkan tangannya di leher Yunho, yang berakhir dengan bunyi kecipak karena keduanya mulai saling melumat dan mendominasi.

Intensitas pagutan Jaejoong mulai melemah, dan lidahnya tak bermain selincah tadi, ia butuh udara, Lantas dilepaskan pagutan itu hingga tercipta seutas benang saliva yang menyambungkan keduanya, yang kemudian terputus ketika Yunho berbelok mengarahkan ciumannya pada leher jenjang Jaejoong, menjilat, membasahinya dengan liur, lantas menghisapnya kuat-kuat, menciptakan sebuah tanda keunguan di sana.

Disibaknya rambut Jaejoong yang basah, kantas turun meraba permukan tubuh depan Jaejoong yang masih dibalut kemeja. Disentuhnya perlahan lahan, basah dan dingin, akibat air kolam. Yunho menjilati telinga Jaejoong hingga pemuda itu bergerak-gerak tak terkendali, lantas dibukanya kancing kemeja Jaejoong satu persatu, disentuhnya perut mulus Jaejoong yang terbuka lantas naik keatas, dan berakhir pada sebuah tonjolan kecil di dadanya. Ditekannya nipple Jaejoong, hingga pemuda manis itu melenguh dan memekin tertahan, saat itu Yunho menghentikan aktivitasnya. Menyisakan Jaejoong yang merutuk dengan wajah kesal.

“Aku lupa bahwa kau masih kecil,” kata Yunho. Ia beranjak menuju lemari lantas mengambil sebuah kaos putih polos dan diserahkannya pada Jaejoong. “Pakailah, kau akan masuk angin jika tidak mengganti bajumu, lantas istirahat saja, sepertinya kau lelah,”

“Dan terlambat menuju cosplay party ku begitu?”

“Aku akan memastikan kau tidak akan terlambat,”

“Pukul lima aku sudah harus berangkat lengkap dengan kostumku,”

Yunho tidak menjawabnya, ia justru beranjak menuju tiga set komputer yang terpasang berdampingan. Sementara Jaejoong segera mengganti bajunya, lantas menutupi tubuhnya dengan selimut sampai dagu. Ia terus saja meracau tidak jelas sampai akhirnya tertidur. Lima jam kemudian ketika jarum jam telah menunjukan pukul enam lewat seperempat, Jaejoong terbangun lantas berteriak dengan keras. “Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku benar-benar terlambat sekarang!” membuat Yunho harus menutup telinganya dengan keras dan menarik nafas panjang.

TBC 

NB :
1 Kenapa Hoya yang dipilih jadi pengganti Yunho? Soalnya kalo dilihat sekilat mereka mirip, dan gue dapet ini atas saran saran. Makasih ybuat yang udah nyaranin Hoya.
2 Everlasting itu band beraliran visual key, semacam L~arc~’n~ciel, Gazette, dan TRAX
3 Jaejoong itu seorang coplayer gothic loli, yaitu perpaduan antara gaya gothic dan lolita fashion. Biasanya baju yang dipakai berwarna hitam atau putih. Siluet asli dari rok atau gaun panjang selutut dengan bentuk ‘cupcake’, yang dipadukan dengan berbagai jenis pakaian termasuk berbagai korset, blus, kaus kaki setinggi lutut atau stocking dan hiasan kepala juga dikenakan. Mungkin mirip Mana MALICE MIZER. Silakan dibayangkan sendiri hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s