FAKE LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 3


FAKE LOVE

Capter 3- Should I?

Created by Amee

.

Warning :

Jung Yunho 22 tahun, Kim Jaejoong 18 tahun

.

.

Yunho merasa kepalanya hampir saja pecah karena Jaejoong tidak berhenti memekik sejak setengah jam yang lalu. Ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi dan terpaksa menghentikan pekerjaannya setelah hampir menghantamkan kepalanya sendiri pada layar komputer karena frustasi.

 

Sebenarnya ia bisa saja pergi dari tepat itu dan meninggalkan Jaejoong sendiri di sana, hanya saja status sebagai kekasih yang bertanggung jawab, meski sebenarnya hanya berasal dari pihaknya saja, membuat Yunho bertahan di sana. Berusaha untuk menguatkan diri dan sabar. Namun tetap saja merasa gusar. Ia bahkan tidak bisa duduk dengan tenang, tepat satu detik setelah pemuda cantik itu bangun.

 

“Bisa kau tenang sebentar, aku hampir gila mendengar teriakanmu,” Yunho mengacak-acak rambutnya sendiri.

 

“Yaa.. kenapa kau menyalahkanku? Ini semua salahmu, kau berjanji untuk membangunkanku dan kau mengingkarinya. Sial, seharusnya aku tidak percaya begitu saja padamu,” Jaejoong mengambil sebuah bantal lantas meninju-ninjunya dan sesekali menggigitnya.

 

“Demi Tuhan, kenapa kau sangat cerewet. Apa semua laki-laki cantik sepertimu selalu berbicara seperti wanita?” Yunho menggelengkan kepalanya.

 

“Yaa.. jaga bicaramu. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan postur tubuh dan jenis wajahku yang sangat spesial. Aku sedang kesal kau tahu, seharusnya kau mengerti. Demi Tuhan,”

 

“Ya, ya, terserah sajalah. Kuperingatkan kau untuk tidak berisik, aku harus bekerja,” Yunho kembali pada komputernya sementara Jaejoong hanya menggigit-gigit bantal dengan liarnya.

 

Jaejoong melirik jam dinding dan dunianya mendadak berhenti, waktu sudah hampi menunjukkan pukul tujuh malam dan ia sama sekali belum beranjak dari tempatnya. Mendadak Jaejoong kembali berteriak dan terisak dengan kerasnya.

 

Jaejoong benar-benar merasa frustasi. Cosplay party akan dimulai dalam setengah jam lagi, dan ia bahkan belum berdandan sama sekali. Dan lagi, butuh waktu lebih dari satu jam untuk mencapai lokasi pesta. Ia benar-benar ingin mencakar apa saja yang ada di hadapannya. Ini adalah kali pertama ia terlambat menghadiri pesta dan rasanya sangat menyakitkan.

 

“Kau harus bertanggungjawab, ini salahmu, ini salahmu!” Jaejoong terus terisak sambil melemparkan satu per satu bantal dalam jangkauannya ke arah Yunho. “Kau penipu! Menyebalkan! Sial!”

 

“Aarggh, kenapa kau sangat cerewet. Sudah kukatakan untuk tenang, seharusnya kau tenang!” Yunho menatap Jaejoong dengan tajam seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat.

 

“Bagaimana aku bisa tenang, sementara aku tahu bahwa aku akan terlambat. Ini sebuah penghinaan,” Jaejoong masih terisak menghadap tembok seolah-olah tengah memeluk tembok di hadapannya.

 

Yunho menghentak-hentakan kakinya. Selama ini ia merasa bahwa hidupnya absurd dan abnormal, namun kali ini ia harus mengakui bahwa apa yang dialaminya kali ini lebih dari kata absurd. Laki-laki cantik di hadapannya benar-benar membuatnya hampir gila sampai-sampai terpikir olehnya untuk menenggelamkan diri di dalam bathtub.

 

Yunho meraih ponselnya, lantas dihubunginya sebuah nomor yang dihapalnya namun sangat jarang ia hubungi. “Aku pinjam pesawat sebentar, ada hal mendesak yang harus kulakukan dengan segera, dan aku tak mungkin tepat waktu jika harus melewati jalur darat,” ujar Yunho segera setelah terdengar jawaban dari sebrang. “Kutunggu sepuluh menit,” tambah Yunho, dan telepon diputus tanpa menunggu jawaban.

 

“Berhentilah berakting seperti gadis yang kehilangan giginya!” ujar Yunho sarkastik.

 

“Apa?” balas Jaejoong cepat dengan pandangan menuduh.

 

“Kenapa aku harus memiliki kekasih abnormal sepertimu?” Yunho menghela nafas dalam.

 

“Apa? Kupikir kau harus meralat kata-katamu. Pertama aku bukan kekasihmu, dan kedua sejak awal kau memang seorang abnormal karena mengakui seorang laki-laki sebagai kekasihmu,”

 

Yunho tertawa dengan keras, lantas didekatinya Jaejoong. Ditekankan bibirnya pada bibir Jaejoong singkat, lantas kembali tertawa ketika menatap ekpresi Jaejoong yang tampak seperti baru saja bermimpi buruk.

 

“Cepatlah cuci muka, kita akan berangkat sebentar lagi,” ujar Yunho.

 

Jaejoong tidak menjawab, ia justru menyentuh-nyentuh bibirnya yang terasa basah. Kepalanya mendadak kosong sampai-sampai ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan. “CSN maafkan aku, sekali lagi aku berselingkuh darimu,” gumam Jaejoong pelan.

 

Samar-samar Yunho dapat mendengar apa yang Jaejoong katakan sehingga mendadak ia menatap Jaejoong dalam dengan kening berkerut. “Apa? Apa yang kau katakan tadi?”

 

Jaejoong baru saja menuai kembali kesadarannya setelah melewati masa trans, dan hal pertama yang dilihatnya adalah Yunho yang tengah menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

 

“Ada apa? Kenapa kau sangat ingin tahu sekali dengan urusanku?” balas Jaejoong sengit.

 

“Terserah sajalah,”

 

Yunho kembali duduk di depan komputer, kemuadian mulai melanjutkan pekerjaannya. Diam-diam ia melirik Jaejoong lewat sudut matanya, lantas tersenyum. Dan tanpa di sadarinya, hidupnya telah lebih berwarna.

 

Berselang lima menit setelah itu, mendadak terdengar bunyi riuh yang bising, angin berhembus dengan kencang hingga menggoyangkan pepohonan. Jaejoong sampai menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut saking ketakukan. Ia bukan pengecut, hanya merasa sedikit takut, bagaimana jika mendadak saja seluruh planet hancur dan menimpanya. Bukankah rasa takut adalah hal manusiawi. Sementara Yunho yang melihatnya justru tertawa dengan keras, hingga merasa kram diperutnya.

 

“Hey bocah, apa yang kau lakukan?” tanya Yunho sambil menyibakkan selimutnya. “Jemputan sudah datang,”

 

“Apa?” Jaejoong memiringkan kepalanya ke kiri dan menatap Yunho dengan wajah kekanak-kanakan yang polos, sehingga membuat Yunho kesal karena merasakan rasa gatal yang tidak bisa di garuk di kedua tangannya.

 

“Jangan memasang tampang seperti itu, bodoh,” Yunho menarik kedua pipi Jaejoong hingga pemuda manis itu berteriak-teriak kesakitan, sementara Yunho hanya tertawa-tawa saja. “Kau bilang sudah terlambat, ayo berangkat.”

 

Jaejoong segera berdiri, lantas berkecak pinggang setelah memukul kepala Yunho. “Kau-Laki-Laki-Gila-Yang-Pernah-Kutemui!” Jaejoong menekankan setiap katanya. “Bagaiamana aku bisa pergi dengan penampilan seperti ini?” Jaejoong menatap tubuhnya yang dibalut seragam sekolah kusut. Disentuh setiap jengkal wajahnya perlahan, lantas mendesah frustasi. Pasti sangat berantakan.

 

“Sial, aku melupakan hal itu,” Yunho menepuk dahinya. Lantas dengan gerakan yang sangat cepat Yunho membuka setiap kancing kemeja Jaejoong hingga mengekspos tubuh bagian atas Jaejoong yang tampak ramping dengan kulit seputih susu. Dan Yunho menelan ludahnya.

 

“Apa yang kau lakukan, mesum!” Jaejoong mendorong tubuh Yunho hingga ia terjungkal dan segera menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. Dipikir-pikir lagi kenapa ia merasa malu, mereka sama-sama laki-laki, bahkan ia sudah terbiasa bermain dengan Changmin dengan keadaan telanjang dada. Sial, laki-laki bernama Jung Yunho itu memberikan suatu mantra buruk padaku, pikir Jaejoong.

 

“Terserah kau lah, aku hanya ingin membantumu, cepat buka bajumu, aku akan mencarikan kostum untukmu,”

 

Yunho segera beranjak menuju sebuah lemari kecil yang berada di sudut kamar, meski sebenarnya ia sangat tidak ingin membuka dan melihat isinya. Ketika ia membuka lemari itu, mendadak saja sebuah kenangan merebak, mengenai berbagai hal yang disembunyikannya, mengenai hal-hal yang di bencinya, mengenai wanita itu dan bandnya. Kau benar, lemari itu berisi semua perlengkapannya saat di pentas. Dan Yunho membencinya. Dan seingatnya ada satu gaun milik Jessica yang tertinggal. Ia selalu menyimpannya sebagai kenangan yang menyakitkan, dan kali ini ia akan mengeluarkannya.

 

Ketika Yunho tengah mencari gaun yang dimaksud, ponselnya mendadak berdering, dengan perasaan kesal ia meraih ponselnya lantas mengaktifkan modus loudspeaker sehingga ia dapat mencari gaun sambil menerima telepon.

 

“Ada apa?” teriak Yunho ketus.

 

“Aku sudah berada di atap apartemenmu,” jawab Yoochun.

 

“Aku sudah tahu, jadi diamlah. Ah, aku menemukannya,” ujar Yunho.

 

“Apa yang kau temukan?” tanya Yoochun.

 

“Aku tidak sedang berbicara padamu, bodoh!” hardik Yunho kesal. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Jaejoong, dan mematung sejenak memandangi tubuh Jaejoong yang hanya terbaluk boxer pendek berwarna merah muda, lantas dilemparkannya gaun itu. “Pakailah, dan kenapa kau berpenampilan seperti itu?”

 

Jaejoong menatap tubuhnya, Yunho, dan gaun di tangannya secara bergantian kemudian mengeram. “Pertama kau yang menyuruhku membuka pakaian, kedua kau memberiku gaun putih polos ini? Astaga demi Tuhan, aku beraliran gothic loli tuan Jung yang terhormat,”

 

“Tapi bisakah kau tidak berpenampilan seperti itu dihadapanku, setidaknya berbaliklah, karena aku.. aku.. Shit, lupakan. Cepat pakai baju itu, aku akan mengurusnya nanti,” Yunho berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

 

“Yun, kau tidak apa-apa? Dan ada siapa di sana?” tanya Yoochun dengan nada khawatir.

 

“Aku tidak apa-apa, ada urusan dengan setan cilik yang harus kuselesaikan. Kau, tunggulah aku dengan tenang, dan cepat putus sambungan teleponnya. Sial, ini membuatku gila,” pekik Yunho. Dan tidak ada respon, menandakan bahwa sambungan telepon telah terputus.

 

Yunho mengacak-acak isi lemarinya, setelelah memaki dan menghujat apa saja yang mengganggunya. Hanya mengurusi satu bocah laki-laki, kenapa bisa semerepotkan ini, pikir Yunho.

 

Diambilnya sebuah wig berwana coklat hazelnut, rompi hitam dengan motif putih dan merah, sarung tangan hitam, sabuk hitam besar, dan gulungan pita hitam. Lantas ia segera berlari pada Jaejoong yang telah menggunakan gaun yang dilemparnya tadi. Diamatinya Jaejoong sejenak, betapa gaun itu tampak sangat pas di tubuhnya, bagaimana bisa seorang laki-laki memiliki tubuh mulus dan ramping semacam itu. Namun cepat-cepat Yunho menggeleng dan membuang semua pikiran anehnya.

 

“Aku hanya memiliki wig ini, aku tidak menyimpan wig para Lady zaman renaisans seperti yang kau pakai di kafe waktu itu,” ujar Yunho capat sambil memasangkan wig sepanjang pundak itu dikepala Jaejoong sembarangan.

 

“Tapi ak-”

 

Yunho segera menyela kata-kata Jaejoong. “Diamlah, aku belum selesai berbicara. Aku tidak menerima kata protes atau aku akan mengantungmu di Namsan tower sekarang juga. Ah sial, kenapa ini susah sekali. Kau pasang sendiri wignya, aku akan memasang yang lain,” gerutu Yunho tidak jelas.

 

Jaejoong menggembungkan pipinya kesal sambil merapikan wig yang dipakainnya, cukup nyaman. Sementara Yunho mulai memasangkan sabuk dipinggang Jaejoong. Setelah menyuruh Jaejoong menggunakan rompi dan sarung tangan, Yunho meraih tangan Jaejoong, dan melilitkan pita hitam di sepanjang tangan Jaejoong, dari pergelangan hingga lengan atasnya.

 

“Selesai,” Yunho menghela nafas dengan dramatis.

 

Yunho menengadah, langit – langit kamar yang berwarna putih itu tampak begitu indah baginya. Ada bintang – bintang transparan di sana, lantas ia tersenyum. Kemudian ditatapnya Jaejoong dengan pandangan intens. Jaejoong tengah menggerak-gerakan tubuhnya mencari kenyamanan. Rambut hazelnutnya yang lurus tergerai begitu saja turut menari bersama tubuhnya. Pipinya yang menggemaskan, dengan sebuah senyuman yang tersungging dari bibir mungilnya, mau tidak mau membuat Yunho menyunggingkan senyuman saat menatapnya.

 

Jaejoong mendongak menatap Yunho, lantas menunduk mentap ujung jari-jari kakinya. “Sepatu?” tanya Jaejoong pelan.

 

Sekali lagi Yunho menarik nafas dalam. “Kau pakai saja sepatu sekolahmu,” gumam Yunho sambil menyandarkan punggungnya yang terasa basah oleh keringat di tembok.

 

Jaejoong menolehkan kepalanya menatap rak sepatu, lantas mendengus. “Pantovel pria maksudmu?”

 

“Cih, kenapa kau sangat merepotkan,” Yunho kembali membuka lemari terlarang miliknya, lantas diambilnya sebuah sepatu kets hitam yang menyerupai bots setengah betis lantas dilemparkannya pada Jaejoong. “Pakailah,”

 

Jaejoong mengangguk lantas segera memakainnya. Setelah meraa lengkap, Jaejoong segera berdiri di depan cermin memandangi pantulan dirinya sendiri, ia tersenyum sebelum beberapa detik kemudian kerutan kerutan di dahinya mulai muncul, dan ia segera berbalik menatap Yunho.

 

“Aku seperti merasa sangat familiar dengan aksesoris ini,” ujar Jaejoong.

 

“Jika kau merasa familiar artinya kau sedang bermimpi,” balas Yunho. “Ayo cepat, bukankah kau yang mengatakan tidak ingin terlambat?”

 

“Aku belum menggunakan make up,” sela Jaejoong.

 

“Astaga, kau benar-benar seperti seorang gadis. Kenapa hidupmu sangat merepotkan. Kau bisa berdandan sendiri kan, dan kita akan melakukannya di perjalannya. Ayolah,”

 

Keringat mulai bercucuran, meluncur mulus dari pangkal keningnya. Yunho menguap, kejenuhan mulai tampak dari wajahnya. Ditariknya tangan Jaejoong yang masih menggerutu sambil menyentuh nyentuk permukaan pakaian yang dikenakannya, lantas segera keluar dari kamar.

 

Yunho mendorong Jaejoong masuk ke dalam lift setelah menyusuri koridor apartemen. Keduanya saling terdiam, dan menikmatami keheningan yang ditimbulkan. Yunho menyandarkan tubuhnya pada dinding lift berusaha menata tenaganya yang terasa lepas dari jasadnya.

 

Yunho menghela nafas lelah. Beberapa kali ia menyeka keringat yang membasahi pelipis dengan punggung tangannya. Ia mencoba meluruskan badannya sejenak. Punggungnya terasa pegal.

 

Sebuah tangan  menyentuh pundak pemuda itu. Yunho membalikan tubuhnya, ada yang tengah tersenyum disana. Sosok cantik dalam balutan pakaian hitam putih yang tampak mencolok namun indah.

 

“Terimakasih,” ujar Jaejoong pelan namun Yunho masih dapat mendengarnya.

 

Yunho mengangguk, lantas tersenyum tanpa sadar, tepat ketika pintu lift terbuka. Sekali lagi Yunho menarik tangan Jaejoong dan membawanya menaikki tangga menuju atap, namun kali ini dengan gerakan yang lebih lembut. Yunho menggenggam tangan Jaejoong dengan lembut seolah takut menyakitinya. Sesuatu yang magis telah terjadi pada dirinya, dan mendadak rasa hangat menjalar di dadanya hingga ia melupakan rasa lelahnya.

 

Didorongnya pintu atap, dan hal pertama yang mereka rasakan setelah melewati pintu itu adalah embusan angin malam yang terasa dingin. Rasa panas yang dirasakan keduanya mendadak hilang tergantikan rasa dingin yang membuat tubuh gigil.

 

Jaejoong mendongakan kepalanya, setengah terkejut ia membelalakan matanya. “Pesawat?” pekik Jaejoong tertahan.

 

Yunho mengangguk. “Khusus untukmu. Kita tidak mungkin sampai tepat waktu jika harus pergi kesana dengan sepeda tuaku,” ujarnya.

 

Jaejoong balas menggenggam tangan Yunho dengan erat, sehingga Yunho terhenyak dan berbalik. “Sekali lagi terimakasih,” ujar Jaejoong sambil tersenyum.

 

Yunho mengangguk, lantas tersenyum. Sebuah senyuman tulus yang tanpa disadari sangat jarang ia tunjukan. “Ayo, jangan buat kerja kerasku sia-sia,”

 

Yunho kembali menggiring Jaejoong. Yang berbeda kali ini adalah keduanya berjalan berdampingan dengan tangan yang saling terkait satu sama lain. Dibantu Yunho, Jaejoong menaiki pesawat dengan susah payah mengingat kostum yang sedang digunakannya. Keduanya masuk ke dalam, menyusuri kabin pesawat, hingga lewat sudut matanya, Yunho dapat melihat Yoochun yang hampir tidur bersandar pada jendela dengan gelas wine yang sudah kosong di tangannya.

 

“Maaf membuatmu menunggu lama,” ujar Yunho sambil menepuk pundak Yoochun.

 

Yoochun tersentak, hingga ia hampir menjatuhkan gelas di tangannya. Diletakkannya gelas itu di atas meja lantas menyeringai senang menatap Yunho. Ini adalah suatu keajaiban mereka bisa bertemu, di dalam pesawat mini pribadi milik Everlasting, karena Yunho sendiri yang memintanya.

 

“Tidak apa-apa, duduklah,” ujar Yoochun. “Eh, siapa gadis ini?” tanyanya setelah tanpa sengaja melirik Jaejoong yang berdiri canggung di samping Yunho.

 

“Dia kekasihku,” jawab Yunho singkat, mengabaikan tatapan tajam Jaejoong padanya.

 

“Kekasihmu? Lalu bagaimana dengan Jes-”

 

Yunho cepat-cepat menyela. “Jangan mengatakan hal-hal yang tidak perlu. Kau ada kotak make up, kekasihku harus berdandan untuk keperluan pestanya.”

 

Yoochun mengangguk mengerti dan lebih memilih untuk menghindari topik yang mungkin dapat meicu pertengkarannya dengan Yunho. “Ada di dalam lemari di toilet. Duduklah dulu, capung raksasa ini akan segera lepas landas,”

 

Yunho mengangguk, lantas ditariknya Jaejoong untuk duduk di sampingnya, berhadapan dengan Yoochun yang tampak tersenyum. Ketiganya segera memasang sabuk pengaman, ketika mesin mulai terdengar bekerja. Terasa sebuah hentakan keras ketika pesawat lepas landas. Setelah pesawat pribadi itu terbang dengan stabil, mereka melepaskan sabuk pengaman.

 

Yoochun tersenyum menatap Jaejoong yang menurutnya menarik. Yoochun menuangkan scotch ke dalam gelas lantas diserahkannya pada Yunho yang segera diminum dalam satu tegakan besar.

 

“Kau mau juga?” tanya Yoochun pada Jaejoong, yang segera di jawab Jaejoong dengan gelengan.

 

“Dia tidak minum yang seperti itu, dia masih kecil,” terang Yunho dan Yoochun mengangguk mengerti. Ditolehkan kepalanya ke kanan, dan ditatapnya Jaejoong. “Bukankah kau harus berdandan? Toilet ada di sebelah sana,” tunjuk Yunho, dan Jaejoong segera bangkit dari duduknya, berjalan perlahan ke arah toilet.

 

Yunho terus mengamati Jaejoong sampai pemuda itu benar-benar menghilang dari pandangannya setelah pintu toilet tertutup, sementara Yoochun hanya terkikik geli memandanginya. Namun jauh di dalam hatinya ia merasa lega, merasa turut bahagia dengan kondisi sahabat lamanya yang kembali berwarna, tidak seperti setahun belakangan ini yang selalu dihantui kepekatan.

 

“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” tanya Yunho sambil menunjuk ke arah toilet, menunjukan bahwa Jaejoong yang sedang dibicarakannya.

 

“Dia dijatuhkan Tuhan dari langit,” jawab Yunho asal.

 

“Kau benar, dia sangat menarik. Lalu bagaimana dengan Jessica?”

 

“Diamlah, dan jangan membicarakan wanita itu,” jawab Yunho gusar, mencoba menghindari segala hal yang membuatnya tidak nyaman. “Buka tiga buah kancingmu,”

 

“Apa?” Yoochun mengeryitkan dahi.

 

“Buka tiga buah kancingmu,” ulang Yunho.

 

“Untuk apa?”

 

“Buka saja cepat!”

 

Yoochun menatap Yunho dengan pandangan bingung yang menuduh, meski kemudian ia tetap melakukannya. Yoochun membuka tiga buah kancingnya, sementara Yunho menatapnya dengan tatapan serius hingga membuat Yoochun bergidik.

 

“Lalu apa?” tanya Yoochun.

 

Yunho menghela nafas lantas menyandarkan punggungnya pada jok sambil memejamkan mata. “Aku tidak merasa tertarik dengan dadamu itu.”

 

“Apa?!” Yoochun membelalak terkejut, meski kemudian ia tertawa dengan keras. “Tentu saja, bodoh. Mana mungkin kau tertarik melihat dada seorang laki-laki yang datar seperti ini. Apa kau terlalu frustasi dengan Jessica hingga jadi seperti ini?”

 

OOO

 

Mereka tiba di tempat pesta tepat ketika pesta baru saja di mulai. Dengan antusis Jaejoong berjalan memasuki aula, dengn Yunho yang berjalan mendampinginya. Laki-laki tampan itu merasa asing, mengingat tempat ini dipenuhi oleh manusia-manusia berkostum sementara ia hanya menggunakan jeans dan kaos polos berwarna hijau.

 

“Ternyata benar, artis terkenal itu menjadi bintang tamu alam acara ini,” gumam Jaejoong.

 

Yunho mengikuti kemana arah pandangan Jaejoong dan tubuhnya menegang seketika. Ada sesuatu yang terasa mendesak dalam dadanya, menyulitkannya untuk bernafas. Mendadak tubuhnya terasa kaku dan sulit digerakan, hingga setiap langkah yang dilakukannya tampak seperti terseret seret.

 

Yunho berusaha untuk menutup mata, dan berpura-pura tak peduli, berpura-pura bahwa sosok itu tidak pernah ada di sana. Ia berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Jaejoong,dan berusaha tampak meinkmati setiap hentakan musik yang mampir di telinganya.

 

“Yunho-ah,” panggil Jessica, dan Yunho terpaksa menghentikan langkahnya.

 

Jaejoong menatap Jessica dan Yunho bergantian, lantas segera menutup mulutnya karena terkejut setelah memastikan bahwa yang dilihatnya adalah nyata. “Kau mengenalnya?” tanya Jaejoong.

 

“Mungkin, aku tidak tahu.Kau masuklah lebih dulu,” ujar Yunho lantas mengecup pipi Jaejoong, yang membuat pemuda itu terbengong-bengong.

 

“Kau!” hardik Jaejoong, lantas menyentuh pipinya dan masuk kedalam.

 

Yunho terkikik geli menatapnya,dan seketika saja senyuman di wajahnya sirna begitu mendapati Jaessica telah berada di sampingnya.

 

“Siapa gadis itu?” tanya Jessica.

 

“Kekasihku,” jawab Yunho cepat.

 

“Kekasihmu, benarkah? Lalu siapa aku?”

 

“Seingatku, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi, mulai saat ini. Bersenang-senanglah dengan produser itu, aku tidak akan mengganggu,”

 

“Baiklah,”

 

“Baiklah? Hanya itu?”

 

Jessica tertawa dengan keras. “Ya, hanya itu. Apa lagi yang kau harapkan? Lagipula aku tahu bahwa kau masih dan sangat mencintaiku,”

 

“Cih, jangan terlalu percaya diri seperti itu,”

 

“Aku tidak  sedang membual. Aku berbicara berdasarkan fakta. Buktinya kau masih menyimpan gaun itu, gaunku yang dipakai gadis itu benar?”

 

“Lalu?”

 

“Tidak apa-apa. Tapi selamat jika kau sudah menemukan gadis bodoh yang bisa kau bodohi. Gadis bertopeng memang cocok untuk laki-laki bertopeng sepertimu,” Jessica tertawa mengjek. Setelah ia mencium bibir Yunho singkat, wanita itu segera berlalu.

 

“Cih, sial!” Yunho menggosok permukaan bibirnya dengan punggung tangan dengan kasar. “Bisa-bisanya aku mencintai iblis seperti itu,”

 

TBC

NB: Orang-orang salah mengira bahwa Jaejoong adalah seorang gadis dengan penampilannya yang seperti itu. Maaf telat update. Dan mohon untuk tinggalin jejak dan review^^

2 thoughts on “FAKE LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s