IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 2


IN THE NAME OF LOVE
chapter 2- the Revenge
created by Amee 
.
.
Warning:
MPreg,Harshword, NC section (gagal), bagi yang tidak berkenan silakan tekan button back 
.

.
Kebencian itu seperti kayu yang terbakar lantas menjadi arang. Dan pengkhianatan seperti percikan api kecil di atas kertas yang tiba tiba saja menghanguskannya.

Ruang keluarga terasa gelap karena aku sengaja tak menyalakan lampunya. Aku duduk menghadap televisi yang terus menayangkan berita mengenai kepulangan putra bungsu keluarga Kim sambil memeluk kedua kakiku yang seakan tak ingin berhenti bergetar.

Aku merasa tubuhku menggigil tapi aku tidak merasa kedinginan. Sial. Kondisi seperti ini benar benar membuatku merasa frustasi.

Yungsaeng, sedang apa kau di sana? Apa kau sudah bertemu dengan Appa dan Eomma? Bagaimana kabar mereka?

“Sial, aku benar benar tidak akan bisa merasa tenang jika terus seperti ini,” pekikku sambil melemparkan remote dengan keras hingga terbelah menjadi dua.

Aku beranjak menuju kamar, membiarkan televisi tetap menyala. Aku mengambil jaket kulit berwarna hitam dan kunci mobil, lantas beranjak keluar.

“Hyung,” aku segera berbalik ketika mendengar suara Yungsaeng memanggilku. Namun tidak ada siapa siapa di sana.

“Aku merindukanmu, Saengie,” aku tertunduk dalam.

Aku merasa sepasang tangan memelukku dengan sangat erat, dan kepala yang bersandar di punggungku, namun aku tak melihat apapun.

“Jangan melakukan hal buruk apapun, biarkan semuanya berjalan dengan semestinya. Jangan menentang takdir, Hyung. Aku mencintaimu.”

Aku mendengar Yungsaeng berbisik di telingaku, dan aku terisak. Bisikannya seperti nyata, aku benar-benar merasa bahwa Yungsaeng ada di sekitarku.

“Maafkan aku, aku harus melakukannya,” gumamku meyakinkan diri sendiri.

Aku berusaha keras meyakinkan diriku sendiri bahwa dengan menghancurkan Hyunjoong aku baru bisa merasa tenang.

Aku tidak pernah bermimpi untuk membalas dendam atau semacamnya, namun kejadian ini benar benar sebuah mimpi buruk dan aku harus melepaskan diriku dari kegelapan ini.

Aku baru saja hendak membuka pintu rumah ketika aku menyadari tidak akan ada lagi Yungsaeng yang berlari ke arahku setiap pagi dan mengomentari setiap yang kukenakan.

“Jangan menggunakan jaket kulit berwarna hitam, apalagi dengan kaos berwarna hitam juga. Kau tampak suram,” aku mengingat kata kata yang pernah Yungsaeng katakan padaku. Saat itu ia benar-benar tampak kesal padaku.

Aku melihat apa yang kugunakan sekarang, kaos dan jaket kulit hitam, lantas tersenyum. “Tidak apa apa kan Saengie, sekali saja aku tidak menurutimu. Aku sedang terburu-buru. Aku pergi, baik baiklah di rumah,” ujarku, namun tidak ada yang menjawab.

Kurasa takdir tidak menyukaiku.
Aku membuka pintu, lantas berlari menuju garasi dan masuk ke dalam mobil. Aku diam selama beberapa saat di dalam mobil, memikirkan apakah aku harus melakukannya atau tidak. Dan akhirnya aku melajukan mobilku. Saat itu pukul tiga pagi.

OOO

Aku terbangun ketika cahaya matahari mengenai mataku. Aku tertidur di dalam mobil yang kuparkirkan di depan kediaman Kim.

Aku melirik jam tangan yang kukenakan. Pukul tujuh pagi. Sial, aku tertidur cukup lama.

Aku mengamati rumah besar itu dengan pandangan kosong, rumah yang sering kukunjungi. Kupikir lagi mungkin semuanya tidak akan seperti ini, jika Hyunjoong tidak melakukannya.

Aku mengambil sebuah pisau lipat dari dashboard mobil, dan mendadak tanganku bergetar. “Aku tidak bisa mundur lagi,” gumamku.

Aku hanya diam disana selama berjam-jam hingga akhirnya aku melihat Hyunjoong keluar rumah dengan seorang pemuda cantik yang menggandeng tangannya.

Pemuda cantik itu sesekali menggerutu sambil menggembungkan pipinya meski aku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Rasanya kesal, aku ingin menangis tapi tidak bisa.

“Itu Kim Jaejoong?” tanyaku pada diri sendiri.

Mendadak aku kembali merindukan Yungsaeng. Kupikir Jaejoong sangat mirip dengan Yungsaeng, hanya saja ia terlihat sangat cantik dan lebih periang.

Aku segera melajukan mobilku begitu melihat mobil Hyunjoong keluar. Aku mengikutinya, lantas menyeringai.

“Kau harus merasakan apa yang kurasakan Joong! Kau tahu, pembalasan itu terkadang menyakitkan,”

OOO

Hyunjoong menghentikan mobilnya di depan sebuah kafe, sementara aku memutar balik mobilku dan memarkirkannya di seberang kafe.

Hyunjoong dan Jaejoong memasuki kafe dengan wajah yang bahagia. Melihatnya membuatku tersenyum mengejek.

“Nikmatilah,” aku mengambil sebuah kacamata hitam dan memakainya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, mungkin raja iblis telah merasukiku.

Aku mengamati setiap gerak gerik keduanya. Setengah jam adalah waktu yang kusia-siakan hanya untuk mengamati keduanya. Aku keluar dari dalam mobil setelah menyembunyikan pisau lipat di balik jaketku.

Lonceng berbunyi saat aku membuka pintu kafe, seorang maid mempersilahkanku, aku mengabaikannya dan terus berjalan ke arah Hyunjoong. Jantungku berdegup dengan cepat, ada ketakutan yang kurasakan namun kebencian lebih menguasaiku.

“Pagi, Joong,” ujarku datar.

Hyunjoong menolehkan kepalanya ke arahku dan tersentak, hingga ia meletakan kembali pie yang hendak dimakannya. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Mengikutimu?” jawabku cepat lantas kembali menyeringai. Dan sebelum Hyunjoong menjawabku, aku telah melayangkan sebuah pukulan tepat di pipinya hingga ia tersungkur.

“Apa yang kau lakukan?” pekik Jaejoong, berusaha menahan tangan kananku.

“Diam!” aku menepis tangannya.

Suasana kafe mendadak panas, pekikan-pekikan pengunjung yang lain, semakin membuat ketegangan meningkat di ruangan ini. Semuanya berkumpul di sudut ruangan, bahkan kulihat seorang anak kecil yang menangis histeris di pelukan ibunya, dan aku sama sekali tidak peduli.

“Cepet telepon polisi!” pekik seorang perempuan paruh baya.

“Menelepon polisi artinya kalian semua mati!” aku tertawa sarkastik.

Aku mengeluarkan pisau lipat dari balik jaketku, lantas menarik Jaejoong ke dalam dekapanku. Aku menyeringai menatap ekspresi ketakutan Jaejoong, dan kepanikan yang terpancar dari wajah Hyunjoong. Aku menjilat permukaan pisau lantas menyayatkannya dengan perlahan pada bagian bawah dagu Jaejoong membentuk huruf Y, sehingga darah kental keluar dari sana, membuat pemuda cantik itu berontak dan meringis sebisanya.

“Apa yang sudah kau lakukan pada adikku, bajingan?” Hyunjoong menerjangku berusaha untuk memukulku, namun aku menahannya dengan tangan kiriku. Setelah aku melepaskan Jaejoong, aku menggunakan kedua tanganku untuk mengunci tubuh Hyunjoong dan menendangnya dengan keras tepat perutnya.

“Apakah itu sakit? Kau tahu, Yungsaeng merasakan kesakitan yang lebih dari ini,” pekikku keras dan kembali melayangkan pukulan ke wajahnya. Aku bahkan tidak peduli sama sekali meskipun wajahnya sudah dipenuhi lebam. Aku terus memukulinya seperti orang kesetanan.

“Hentikan! Kumohon hentikan!” pekik Jaejoong keras dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.

“Diam!” aku balas meneriakinya.

Melihat air matanya, membuat emosiku semakin meluap-luap. Aku mencengkram kedua pundak Hyunjoong lantas melayangkan tendangan bertubi-tubi pada perutnya, hingga ia memuntahkan darah dan terkulai. Aku mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.

“Hyung!” teriak Jaejoong keras, namun ia tidak melakukan apa-apa, dan terus terisak. Aku tahu ia sangat ketakutan.

Hyunjoong berusaha bangkit, dengan berpegangan pada sudut kursi. Ia meludah dan hanya darah yang keluar, “Aku akan melaporkan perbuatanmu, brengsek!”

Aku tertawa dengan keras mendengarnya. “Dan aku akan balas melaporkanmu!”

Aku mengabaikan tatapan geram Hyunjoong dan berjalan ke arah Jaejoong yang duduk dengan tubuh bergetar.

“Jae, pergilah, cepat!” pekik Hyunjoong namun lebih terdengar seperti sebuah geraman. Ia tampak kesal mendapati tubuhnya yang lemah tak berdaya.

“Jangan banyak bicara, sialan!” aku berbalik dengan cepat dan memukul punggungnya dengan sikutku hingga ia limbung.

Hyunjoong meringis, lantas berusaha bangkit dengan menggunkan kedua tangannya sebagai tumpuan, namun gagal.
Dan para wanita juga anak-anak di ruangan itu memekik dan menangis semakin keras. Aku tertawa keras, kurasa iblis benar-benar telah menguasai diriku.

Aku membalikan tubuh Hyunjoong yang telungkup dengan kakiku, sekilas aku melirik Jaejoong yang menutup matanya erat-erat dan kedua tangan menutup telinganya, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya.

“Kau harus merasakan apa yang kurasakan, Joong!”

Aku menginjak perut Hyunjoong dengan sangat keras, sehingga ia kembali menyemburkan darah dari mulutnya. “Argh!” pekiknya keras.

Aku berjalan ke arah Jaejoong, lantas menarik tubuhnya.

“Lepaskan aku!” gumamnya pelan.

“Jangan sentuh adikku,” Hyunjoong terbatuk setelah ia selesai mengucapkannya.

“Selamat tinggal,” ujarku sambil menginjak tangan kananya, dan membawa Jaejoong keluar.

OOO

Aku menghempaskan tubuh Jaejoong ke atas ranjang dengan kasar, mengikat kedua tangan dan kakinya ke ujung tempat tidurku. Aku tidak tahu sejak kapan ia berhenti berontak dan pasrah atas apa yang kulakukan padanya. Namun aku tahu seberapa bencinya ia terhadapku, karena aku dapat melihatnya dari sorot matanya.

Aku mengambil sebuah gunting dari dalam laci, lantas kurobek seluruh pakaian Jaejoong dan melepaskannya dari tubuhnya, hingga ia tidak mengenakan apapun. Aku mengamati tubuhnya yang putih mulus, namun tak berani memandang wajahnya.

“Kenapa harus aku?” gumam Jaejoong pelan. “Aku bahkan tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara kalian,”

Aku tidak menjawabnya dan lansung menyambar bibirnya dan melumatnya, meski kemudian segera kulepaskan karena aku tahu ia tidak akan pernah membalasnya. Pandangannya datar, benar-benar kosong.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, ini adalah pengalaman pertamaku. Selama ini aku selalu membayangkan hubungan bersetubuh yang manis dan indah saat pertama kali melakukannya, namun kini? Sial, aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya.

Aku menelanjangi diriku sendiri, dan langsung membenamkan kepalaku di perpotongan leher Jaejoong, menghisapnya kuat-kuat hingga meninggalkan tanda kemerahan. Lantas aku menjilat bekas luka yang kutorehkan di bawah dagunya dan Jaejoong meringis. Satu yang takkan kulakukan padanya, menciumnya.

Aku menyentuh seluruh permukaan tubuhnya dengan jari-jariku, menyusuri setiap garis tulang dada dan rusuknya, merasakan seberapa mulusnya permukaan kulit itu. Aku turun ke dadanya, menjilat-jilan nipple pink pucat milik Jaejoong. Kuamati wajahnya, ia memejamkan matanya kuat-kuat berusaha menahan tangis, namun air mata tetap meleleh dari sudut matanya, meski ia tidak terisak, dadanya naik turun dengan cepat.

“Hen…tikan,” gumam Jaejoong terputus-putus ketika aku menggigit dan menghisap nipplenya dengan keras.

Aku mengabaikannya. Suhu ruangan semakin panas, dan kurasakan tubuhku ikut memanas, karena terangsang.

Aku segera turun ke bawah, dan memosisikan tubuhku tepat di bagian bawah tubuhnya, untuk beberapa saat kulihat Jaejoong membelalakan matanya dengan sangat lebar meski kemudian ia segera kembali memasang wajah stoicnya, mungkin ia lelah dengan pemberontakan, dan aku sama sekali tidak peduli.

“Aku tidak tahu bagaiamana rasanya,” aku menyentuh bagian bawahnya, lantas memasukan satu jariku ke dalam rektumnya. “Mungkin akan sakit,” lanjutku, dan kutahu apa yang kukatakan adalah benar ketika mendengar Jaejoong meringis.

Aku memosisikan juniorku tepat di lubangnya, lantas melesakannya sekaligus, dan rasanya sangat sempit.

“Aarrgghh!” Jaejoong memekik keras dan membuang wajahnya ke kiri menghindari kontak mata denganku.

Ada sedikit getaran yang kurasakan namun aku mengabaikannya. Aku mulai menggerakan pinggulku, sehingga tubuh Jaejong ikut bergerak. Ia menggigit bibirnya kuat kuat untuk menghindari desahan, dan aku sama sekali tidak peduli. Bahkah jika ia menggigit lidahnya sendiri pun aku tidak akan peduli. Aku berusaha menikmatinya, menikmati permainan ini. Aku menahan pinggang Jaejoong dan menggerakan pinggulku dengan tempo yang lebih cepat, hingga aku merasa akan klimaks, dan aku menyemburkan spermaku di dalam tubuhnya.

Aku tahu Jaejoong tidak menikmatinya sama sekali, karena ketika aku mencampai klimaks, ia belum mencapai klimaksnya sama sekali.

Aku menarik tubuhku, sehingga aku dapat melihat sebagian cairanku yang kembali keluar dari tubuhnya dan membasahi selangkangannya. Jaejoong menghindari tatapanku, kemudian ia menangis meski tanpa suara. Maafkan aku.

Aku beranjak menuju kursi di sudut ruangan. Aku meraih sebatang rokok dan pematiknya dari atas nakas. Ketika aku menyalakan pematik, mendadak aku mendengar Yungsaeng berbisik di telingaku. “Mengapa kau lakukan itu, Hyung? Bukan seperti ini, seharusnya kau tak melakukan ini, kau kejam,”

Aku menjatuhkan rokok dan pematik yang kupegang. Aku seolah baru saja tersadar atas apa yang kuperbuat. Aku menatap Jaejoong yang tergeletak tak berdaya dengan tangan dan kaki yang terikat.

“Argghhh!” aku berteriak teriak sambil mengacak acak rambutku.

Aku segera berlari mengampiri Jaejoong lantas melepaskan semua ikatannya. Kuamati tubuhnya yang dipenuhi bercak bercak merah, bekas sayatan di bawah dagunya, serta bekas kemarahan di pergelangan tangan dan kakinya.

“Maafkan aku,” gumamku parau. Aku merasakan ketakutan yang teramat. Kenapa aku bisa membiarkan emosi menguasaiku dan kini aku menyesalinya.

“Sudah selesai?” tanya Jaejoong membuatku semakin menyesal. Aku menjatuhkan diri di atas lantai lantas menghardik diriku sendiri.

Kutatap Jaejoong yang mencoba untuk duduk degan pandangan kosong, meski sesekali ia meringis. Aku segera beranjak, mengambil sebuah pisau lipat lantas melemparkannya pada Jaejoong.

“Bunuh aku!” pekikku. “Cepat bunuh aku, aku benar-benar hina, dan aku tidak ada bedanya dengan kakakmu, si brengsek itu!” aku menundukkan kepalaku dalam-dalam.

Lewat sudut mataku kulihat Jaejoong menyeringai. Ia mengambil pisau yang kulemparkan dengan pandangan yang berkilat-kilat. Dengan gerakan yang kaku ia turun dari ranjang, lantas mendorong tubuhku hingga menempel pada tembok.

Jarjoong menyeringai, lantas diangkatnya pisau, dan zrashhh.. pisau itu menancap pada tembok tepat di samping kepalaku.

“Jangan pernah muncul lagi dalam hidupku,” katanya.

TBC

Masih adakah typo, ini udah dibaca berulang-ulang, kalau masih ada maaf *bow* mohon buat ninggalin review^^

3 thoughts on “IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 2

  1. Yaampun appa ko gituin umma sii~
    Saeng ga mau hyungnya kaya gitu -_-
    Akhirnya nyesel kan abis ngelakuin:/
    Semoga umma ga trauma gara2 appa😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s