[FF] Torn Apart by @precioushim


RULE VOTING PEMENANG TERFAVORIT

  • Reader silakan membaca seluruh FF peserta.
  • Seluruh reader diperbolehkan voting pemenang terfavorit dengan cara seperti di bawah ini.
    • Format –> VOTE. Lalu beri alasan..
    • Misal –> VOTE! Karena fanficnya lucu sekali bla bla bla..
    • Tanpa kata “VOTE” maka tidak akan dihitung voting.
  • 1 orang 1 vote dalam 1 kategori. Lebih dari 1 akan langsung dihapus.
  • Reader baru silakan tunggu moderasi comment dari kami secara berkala! ^^
  • Batas voting : 17 Mei 2013, 23.59 WIB.
  • Pengumuman : 19 Mei 2013, 20.00 WIB.
  • Kecurangan dalam bentuk apapun akan membuat peserta besangkutan di-diskualifikasi.
  • Happy reading & Khamsahamnida^^

T/N : Akan ada hadiah spesial untuk follower @Fanficyunjae, selengkapnya pantengin TL kita tanggal 11 Mei 20113, 20.00 WIB.

Torn Apart by @precioushim

Title: Torn apart
Rating: T
Pairing: YunJae (side: HoMin, MinChun)
Warning: Alternative reality, OOC, Angst, Character death
Summary: Sudah terlalu lama dan Jaejoong memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Disclamer: Torn apart © precioushim
A/U: TVXQ dan JYJ sudah menjadi dua grup yang berbeda dan mereka sudah tidak terikat kontrak-kontrak antar kedua agensi, oleh karena itulah mereka bisa menjadi lebih leluasa di dalam fiksi ini.

.
.
.
.
.
(Disaat kau sudah berhasil menjadi kekasihnya, namun masih tidak bisa memenangkan hatinya.)
.
.
.
.
.

-Torn apart-

-Torn apart-

Pemuda berkulit tan tersebut merasakan gempa kecil yang mengguncang-guncang ranjang miliknya. Dengan sigap ia membalikkan badan menghadap ke arah yang berlawanan dan mencoba dengan sekuat tenaga untuk mengintip jam yang masih duduk manis di atas meja.

Jam 8 pagi dan hari minggu. Bukankah itu waktu yang sangat pas untuk seorang Jung Yunho untuk beristirahat setelah menghadapi serangkaian jadwal yang ketat dan padat?

Sekali lagi, guncangan di tempat tidurnya terasa semakin keras dan tajam; Sangat mengganggu. Ia sedikit mengeluh dan memukul-mukul kasur, berharap gempa bodoh ini akan segera berakhir.

“Yunnie~ Ayo bangun! Kau janji mau menemaniku belanja, kan?” Rengekan manja mulai menyeruak masuk ke dalam telinga Yunho. Ia bersumpah bahwa ia akan menendang pacarnya sekarang juga, tapi ia sadar bahwa jika ia benar-benar menendang Jaejoong, gempa tersebut akan berubah menjadi tangisan seorang bayi raksasa.

“Lima menit lagi.” Kini Yunho menenggelamkan wajahnya di bawah bantal, hendak menyumbat lubang telinganya agar tidak bisa mendengar semua kata-kata Jaejoong. Tapi hasilnya nihil. Lengkingan suara laki-laki cantik tersebut malah tambah naik dan naik, oktaf per-oktaf.

“Ugh—Iya, iya aku bangun! Selagi aku mandi, kau tunggu saja di ruang makan! Seharusnya aku tidak memberikanmu kunci cadangan apartemen ini!” Yunho terbangun dengan segera dan menggerutu kesal. Jaejoong hanya tersenyum dengan ekspresi polos yang terukir di wajahnya. Tak lama kemudian, senyuman Jaejoong berubah menjadi tawa kecil yang menggema ke seluruh penjuru kamar.

“Kenapa? Apa penampilan bangun tidurku sebegitu hancurnya?” Yunho bertanya, dengan air liur yang masih menempel di pipi dan bahkan leher. Benar-benar pemandangan yang sangat mencengangkan untuk dimiliki oleh seorang leader TVXQ.

“Bahkan mengerikan!” Jaejoong tertawa lepas dan berlari menjauh dari Yunho. Ia bisa melihat bahwa si leader sudah membawa bantal yang akan menjadi senjata untuk menyerang dirinya. Namun sayang karena Jaejoong sudah duluan melemparkan handuk dan tepat mengenai wajah tampan milik Yunho.

“Cepat mandi, ini akan menjadi kencan terakhir kita, bukan?” Berbeda dengan sebelumnya, kini suara Jaejoong terdengar sangat kecil, samar-samar, dan miris. Ketika baru saja Yunho hendak membuka mulut, Jaejoong dengan cepat lari ke arah pintu dan keluar dari kamar yang cukup besar tersebut.

“Aku tunggu di meja makan, aku sudah membuatkan sarapan untuk kita berdua!” Jaejoong sedikit berteriak dari daun pintu dan ‘blam’ lelaki cantik tersebut sudah menghilang dari peredaran visualisasi Yunho.

Kini yang tersisa hanya kebisuan dan ketidakpastian.
.
.
.
.
.
“Aku—Aku suka padamu, Yunho!”
“Aku tahu.”
.
.
.
.
.
Yunho masih belum bisa berhenti menguap bahkan setelah ia sudah selesai mandi dan berpakaian sedemikian rapih. Ia ingat betul bahwa ia baru bisa tidur jam 3 dini hari dikarenakan jadwal yang mengerikan bak neraka. Yunho pikir ia akan bisa tidur 12 jam seharian, tetapi itu hanyalah khayalan biasa. Ia lupa bahwa ia berjanji akan menemani Jaejoong belanja hari ini.

“Selamat pagi, prince charming!” Jaejoong dengan bersemangat menopang wajah halusnya dengan kedua tangan yang tidak kalah halus. Tetapi, senyuman malaikat Jaejoong hanya di balas oleh desahan panjang dari Yunho.

“Apakah perlu bersikap menjijikan seperti itu?” Yunho yang sudah berhadapan dengan Jaejoong pun menarik kursi di belakangnya dan duduk dengan seketika. Jaejoong hanya mengerucutkan bibirnya dan membuang muka dengan cepat.

“Padahal aku sudah menyempatkan diri untuk datang dan membuatkan masakan kesukanmu; Kimchi dan daging BBQ! Setidaknya berikan aku senyuman!” Kini Jaejoong melipat kedua tangannya di depan dada dan menjulurkan lidahnya, mengejek Yunho.

“Iya, maafkan aku. Lagipula aku akan mengantarmu belanja, kan?” Kini Yunho tersenyum kecil, yang dimana hal tersebut sudah bisa membuat Jaejoong merona dengan hebat. Dengan cepat Jaejoong menutup wajahnya dan menggeliat ke kanan dan ke kiri, membuat Yunho pusing melihatnya.

“Kenapa kau tampan sekali, hah?! Aku kesal!!!” Jaejoong berteriak dengan keras ke arah Yunho, tetapi masih dengan tangan yang menutupi seluruh permukaan wajahnya. Yunho kembali mendesah karena ia merasa bingung dengan segudang tingkah aneh yang dilakukkan oleh pacarnya.

“Orang-orang biasa menyebutnya keberuntungan. Mungkin dewa kemalangan sudah nyaman bertapa di bahumu semenjak kau lahir.” Yunho terkekeh dan lanjut memakan sarapan miliknya. Dengan sigap Jaejoong membuka kedua tangannya dan kini wajahnya merah padam karena Yunho. Bukan karena ia malu ataupun terpesona, melainkan karena rasa kesal dirinya ke leader tersebut sudah kembali bertambah.

“Aku tarik kata-kataku! Dasar leader bodoh! B-O-D-O-H!!! Uwekkkk!!!” Jaejoong menjulurkan lidah untuk kedua kalinya. Yunho masih terus mengunyah sarapan miliknya, tetapi tanpa sadar senyuman kecil sudah tersungging nyaman di bibirnya. Sayang sekali kebersamaan ini akan berakhir setelah kencan hari ini juga berakhir.
.
.
.
.
.
(Memiliki tubuhnya belum cukup. Aku ingin memiliki hatinya, yang sudah jelas sudah terkunci di hati lelaki yang lain.)
.
.
.
.
.
Dering telepon genggam milik Yunho membuyarkan obrolan mereka berdua. Jaejoong seketika langsung bisu dan tersenyum ke arah Yunho, semacam kode untuk mengangkat telepon tersebut. Yunho hanya mengangguk kecil dan segera merogoh saku celananya, dan ia seketika kaget begitu melihat nama yang tertera di telepon genggam miliknya;

“Changmin”

Yunho langsung mengedarkan pandangannya ke arah Jaejoong, dengan ekspresi penuh ketidakpastian. Jaejoong sudah melihat ekspresi itu berulang kali, akhirnya ia tersenyum ke arah Yunho dan menggerakkan tangan kanannya, seperti menyuruh Yunho untuk mengangkat telepon tersebut di sudut ruangan yang lain.

Yunho beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang TV. Ia lalu menyentuh tombol hijau di telepon genggamnya, dan mulai berbicara.

“Hey Changmin! Ada apa?” Walaupun terdengar datar, tetapi hati Yunho sudah berdebar tidak karuan. Hal ini selalu terjadi setiap kali ia mendengar suara Changmin, apalagi bertemu dengannya.

“Wah, aku kira kau masih terlelap. Ternyata kau sudah bangun. Biar kutebak, disana ada Jaejoong-hyung, kan?” Yunho agak sedikit kesal karena hal yang pertama Changmin tanyakan adalah Jaejoong, bukan dirinya. Yunho ingin bertanya hal yang sama dengan Changmin, tapi ia tahu bahwa jawabannya akan cukup menyakitkan baginya.

“Aku sedang berada di apartemen Chunnie. Coba tebak, dia membuatkan aku kue coklat yang rasanya sangat, sangat enak!”See? Yunho mungkin sudah bisa mendapatkan jackpot karena bisa menebak hal yang Changmin akan sampaikan.

“Begitu, ya? Lalu, apa yang kau ingin bicarakan?” Yunho bertanya hanya untuk mengubah topik. Telinganya panas ketika ia mendengar kata ‘Chunnie’ keluar dari mulut Changmin; Mulut dari orang yang ia cintai. Satu detik, dua detik, Yunho tidak mendapat jawaban dari Changmin, tapi tak lama setelah itu, ia bisa mendengar desahan nafas yang sangat panjang dari si jangkung.

“Kau itu batu ya, hyung?! Kenapa kau tidak pernah antusias ketika kau pergi dengan Jaejoong-hyung?! Dia sudah hampir memberikan semua hal untuk dirimu tapi, apa yang kau berikan untuknya?! Aghh! Berbicara denganmu membuatku kesal! Padahal aku berharap kau akan sama senangnya dengan diriku! Pabo-hyung!”

“Tutt…Tutt…Tuttt…Tutt.” Yunho melirik sedikit ke arah telepon genggam yang sudah ia jauhkan sekitar 35 sentimeter dari telinga. Ia sedikit membuang nafas dan memasukkan telepon genggamnya kedalam saku. Sambil berjalan, ia pun mulai mencerna kata-kata Changmin barusan.

“Aku tidak pernah bersemangat karena itu Jaejoong, bukan kau. Siapa sekarang yang batu?!” Yunho kini tenggelam dalam pikirannya sendiri. Badannya pun seperti robot yang digerakkan oleh seseorang. Tahu-tahu ia sudah berada di ruang makan dengan sosok Jaejoong di dalamnya.

“Mau pergi sekarang?” Yunho mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara lembut tersebut. Hatinya sedikit terenyuh begitu melihat senyum ikhlas milik Jaejoong. Ia pun mencoba untuk tersenyum sedikit, walaupun berat dan menyakitkan.
.
.
.
.
.
“Aku mencintaimu, Yunho.”
“Aku tahu. Aku sangat tahu itu, Jaejoong.”

.
.
.
.
.
“Tempat ini memang selalu bisa membuatku hidup!” Itulah hal pertama yang Yunho dengar ketika mereka sampai di Doota Shopping Centre. Seingat Yunho tempat ini dijuluki “Surga para gadis” tapi mungkin ia harus segera mengganti nama ini menjadi “Surga seorang Kim Jaejoong”. Ia hanya tak habis pikir kenapa Jaejoong harus memilih tempat seperti ini daripada mall-mall mewah di kawasan perkotaan? Bukannya ia tidak suka tetapi semua orang pasti mengedarkan pandangan ke mereka berdua. Terlebih ketika mereka berada di kereta beberapa menit yang lalu. Ya, daripada naik mobil mewah milik Yunho, Jaejoong lebih memilih untuk naik kereta. Untung saja hari ini hari minggu, jadi mereka tidak harus terjebak rush hour yang merepotkan—atau kurang lebih itulah asumsi Yunho. Tetapi tetap saja, orang-orang di stasiun terus menaruh pandangan ke arah mereka, jangan lupa dengan histeria para gadis. Kini, kejadian di stasiun kembali terulang, dan hal tersebut membuat Yunho memijit kepalanya yang sedikit pusing.

“Kalau sampai besok ada berita mengenai kita, kau akan kubunuh.” Yunho berbisik ke telinga Jaejoong. Tapi bukannya takut atau jera, lelaki berkulit pucat tersebut malah tertawa terbahak-bahak dan menarik hidung mancung Yunho.

Well, ini kencan terakhir kita, bukan? Jadi persetan dengan berita karena hal itu akan menjadi sesuatu yang tidak nyata besok, iya kan?” Jaejoong tersenyum lepas dan berlari meninggalkan Yunho yang terpaku.

Yunho merasa seperti orang idiot yang plin-plan. Di satu sisi ia ingin menjadi seseorang yang spesial bagi Changmin, tapi di satu sisi, jauh di dasar hatinya, ia memiliki keinginan kecil agar Jaejoong tidak meninggalkannya sendirian.

Lelaki brunette tersebut masih belum berpijak dari tempat ia berdiri. Ia masih melekat pandangannya dalam-dalam ke arah seorang yang sangat enerjetik bernama Kim Jaejoong. Sekali-sekali, Jaejoong akan melambaikan tangan ke arahnya dan menunjuk pakaian-pakaian yang Yunho anggap ambigu, atau aksesoris-aksesoris abnormal lainnya. Tidak peduli seberapa keras reluktansi yang di perlihatkan Yunho ke depan Jaejoong, ia tidak akan bisa menolak seluruh permintaan Jaejoong, termasuk kencan terakhir ini.

Si leader kini tertawa kecil dan mulai berjalan mendekati Jaejoong. Layaknya pasangan lainnya, ia menggaet pinggang ramping Jaejoong dan mendekatkannya ke bahu. Jaejoong sontak kaget akan tindakan Yunho. Tetapi, setidaknya di dalam kencan terakhir ini, mereka harus bisa menciptakan memori yang tidak terlupakan dan mengesankan.

Yunho merasakan kakinya sudah patah tak berbentuk. Entah karena faktor umur atau karena kencannya hari ini. Ia pun dengan segera duduk di bangku yang berada di kawasan tersebut, sambil meneguk sebotol air mineral dan menghembus nafas panjang.

Konyol. Biasanya ia akan merasa kelelahan seperti ini ketika ia selesai latihan dance bersama dancers lainnya, tapi kali ini ia merasa kelelahan karena sudah berkeliling bersama Kim Jaejoong berjam-jam lamanya. Tak lama, Yunho mengangkat tangan kirinya dan mengintip jarum jam yang berada di pergelangan tangannya. Pantas saja Yunho sudah tidak bersemangat bagaikan kakek-kakek. Jarum jam swatch miliknya menunjukkan pukul 7 malam, selama itukah dia dan Jaejoong berjalan-jalan?

Yunho pun bangkit dan menghampiri Jaejoong yang sepertinya sedang memesan jajanan pasar untuk mereka berdua. Entah sudah berapa banyak tempat yang mereka singgahi hari ini. Kalau saja Jaejoong bisa berbahasa inggris dengan baik dan berbicara dengan aksen yang tepat, Yunho yakin bahwa pria cantik tersebut pasti bisa menjadi tour guide bagi para pelancong. Karena hari ini Jaejoong sudah membawanya jalan-jalan ke tempat yang sama sekali belum Yunho singgahi sebelumnya.

“Yunnie, kau pasti lapar, kan?” Tahu-tahu Jaejoong sudah berdiri di samping Yunho, dengan membawa dua kantong plastik yang Yunho yakin adalah makanan.

“Apakah kau harus menanyakan hal sejelas itu? Berikan makananku!”‘Plak!’ Jaejoong langsung memukul tangan kanan Yunho yang hendak mengambil salah satu kantong plastik tersebut. Yunho segera mengangkat dan mengipaskan tangannya. Ia sedikit melotot ke arah Jaejoong, tetapi pria cantik itu hanya membalasnya dengan juluran lidah mengejek.

Lagi-lagi, Jaejoong berlari mendahului Yunho, kemudian berhenti dan membalikkan badannya ke arah Yunho. Sedetik setelah Jaejoong membalikkan badan, ia tersenyum dengan sangat lebar ke arah Yunho, bagaikan anak kecil yang baru bisa berjalan.

“Ayo kita berpisah setelah memakan jajanan ini, Yunnie!”

Bagaimana mungkin seseorang bisa mengucapkan perpisahan dengan ekspresi yang sangat ceria dan bahagia seperti itu?
.
.
.
.
.
(Pada saat itu aku sadar bahwa kita adalah alasan kenapa takdir terus berputar tanpa henti.)
.
.
.
.
.
Malam ini sungai Han seharusnya terlihat sangat cantik. Entah kenapa setelah Jaejoong mengatakan hal-hal gila dan tak beralasan seperti itu, Yunho merasa bahwa sebentar lagi hatinya akan di penuhi debu, tak bertuan. Ia sedikit melirik ke arah Jaejoong yang masih duduk bersila sambil memakan jajanannya. Membayangkan bahwa di malam-malam selanjtunya, ia tidak akan menemukan pemandangan seperti ini lagi.

Dirinya memang egois. Di satu sisi ia mencintai Changmin, di satu sisi ia tidak ingin Jaejoong pergi meninggalkannya sendirian. Walaupun kata-kata cinta tidak pernah sekalipun keluar dari mulut Yunho.

Rasa lapar yang tadi menjangkit lambung Yunho pun kini menghilang terhempas angin. Ia lebih memilih memerhatikan Jaejoong yang masih melahap makanan dengan ritme yang tidak beraturan. Refleks, ia mengambil tisu yang berada di dalam sakunya dan mengelap serpihan-serpihan makanan yang menempel di dekat mulut Jaejoong.

Tentu saja hal itu membuat Jaejoong kaget. Bola matanya membesar, bibirnya sedikit membuka, dan kulitnya terlihat lebih bercahaya. Sekiranya itulah hal-hal yang bisa Yunho deskripsikan ketika melihat ekspresi Jaejoong yang terkejut atau kaget. Ia merasa bahwa seluruh aspek tersebut sangat likeable.

Tetapi, tak lama setelah itu, Jaejoong dengan kasar menangkis tangan Yunho yang sedang mengelap daerah sekitar bibir Jaejoong. Yunho terbebelalak dan hendak menghardik Jaejoong, tetapi dia mengurungkan niat begitu melihat Jaejoong berdiri, dengan wajah tertunduk menghadap ke arah tanah. Tentu saja hal tersebut juga ikut membuat Yunho berdiri menatap Jaejoong dengan tatapan kebingungan.

“—henti.”

“Hah? Kau bilang apa, Jaejoong?”

“KUBILANG BERHENTI, BEDEBAH!”

Teriakan berfrekuensi cukup tinggi tersebut sukses membuat Yunho mundur tiga langkah. Ia bingung akan tingkah Jaejoong yang terkesan sangat tiba-tiba dan tidak bisa ditebak.

Yang Yunho ingat adalah tidak lama setelah itu, yang ia dengar hanyalah isakan polos dari sosok di depannya. Yunho merasa bingung dan bodoh pada saat yang bersamaan. Ia ingin memeluk Jaejoong saat itu, tetapi salah satu logikanya berkata untuk tidak memeluk Jaejoong.

“Kupikir, aku akan bisa berpisah dengan damai hari ini juga, tanpa beban atau suatuapapun.” Jaejoong mulai berbicar dengan bibir yang bergetar.

“Apa yang—“

“Kupikir, selama dua tahun ini aku akan bisa membuatmu melupakan sosok Shim Changmin.”

Yunho membisu, seakan membiarkan Jaejoong untuk mengeluarkan semua isi hatinya.

“Kupikir, kau suatu saat akan bisa membayangkan wajahku ketika kita berciuman atau melakukan hubungan seks.”

Tes. Satu air mata jatuh dan membasahi pipi pucat Jaejoong.

“Dan kupikir, aku bisa membuatmu menyesal karena sudah memandangku sebelah mata. Tetapi pada akhirnya—pada akhirnya, akulah yang menyesal karena kita akan berpisah.” Deru tangis menyeruak dari mulut Kim Jaejoong. Air matanya berjatuhan bagaikan hujan badai yang enggan untuk berhenti.

“Apa yang kau katakan, Jaejoong?” Yunho bertanya dengan nada serendah dan selembut mungkin. Begitu ia ingin mendekat, Jaejoong mengangkat wajahnya dan menatap Yunho dengan tatapan marah, sedih, dan kecewa.

“Kau kira aku tidak tahu bahwa saat itu kau mencium bibirku karena kau sakit hati begitu mendengar Changmin dan Yoochun berpacaran?! Kau kira aku tidak tahu bahwa kau selalu membayangkan wajah seorang Shim Changmin ketika kita berciuman atau berhubungan seks?! Kau kira aku tidak tahu semua itu, hah?! Apa kau pernah mengatakan ‘cinta’ kepadaku?! Tidak pernah, Jung Yunho! Tidak pernah!”

Yunho yang tadinya berniat untuk menenangkan Jaejoong, kini menjadi batu yang tidak dapat bergerak. Ia tidak menolak bahwa semua hal yang dikatakan Jaejoong adalah benar. Tetapi itu dulu, sekarang ia sadar bahwa—

“Selama bertahun-tahun ini, aku selalu berharap agar kau bisa melihat dan mengenaliku. Aku bukan Changmin, dan Changmin bukan aku. Tetapi sepertinya, hal seperti kau mencintaiku dan kita hidup bahagia selamanya tidak akan pernah terjadi. Tidak peduli seberapa besar aku berharap dan mencoba, aku tidak akan bisa meraihmu.”

Yunho dan Jaejoong memang baru akan hal cinta. Keduanya masih bingung harus berbuat dan tidak berbuat apa untuk satu sama lain. Tapi, keduanya mulai mengerti istilah tarik-ulur dan mengisi-diisi.

Ya, Yunho memang harus mengatakan hal yang seharusnya ia katakan. Semua kebimbangan dan keresahan Yunho sudah terbayar oleh semua ucapan Jaejoong. Ia semakin yakin oleh perasaannnya sendiri.

“Jaejoong, aku sebenarnya—“ Satu jari sudah ditaruh tepat di tepat bibir Yunho, membuat si tan berhenti berbicara. Ia bisa melihat Jaejoong tersenyum ke arahnya, tetapi tanpa cahaya yang memantul di bola mata besar tersebut. Bola mata Jaejoong terlihat sangat kelam dan mati.

“Cukup. Hentikan semua ini, Yunho. Seperti janjiku, ini adalah kencan terakhir kita. Untuk meresmikannya, selamat tinggal.” Setelah berkata demikian, Jaejoong berlari sekuat tenaga ke arah jalan raya dan langsung memberhentikan taksi yang lewat. Yunho belum beranjak, ia masih berdiri di pinggir sungai Han. Rasa bersalah membuat pendengarannya tuli dan badannya lumpuh.

Daripada duduk di kursi-kursi tak bertuan, Yunho lebih memilih untuk berdiri menyandar pintu kereta. Dengan mata sayup, ia melihat lampu-lampu kota yang berkelip. Kini, ia sudah menyerahkan takdir ke pada Pencpita. Mungkin ini yang terbaik, ia sudah menggantung Jaejoong, konyol jika Yunho kembali dan memohon-mohon kepada Jaejoong. Setidaknya, ia tidak serendah itu, atau bukankah ia sudah menjadi serendah itu?

Tubuhnya sedikit berguncang karena laju kereta. Berbeda dengan tadi pagi, gerbong kereta ini hanya dihuni oleh 4 orang; Yunho, seorang kakek, dan 3 remaja hedonis. Ia mencoba menutup mata dan mencoba mengingat-ingat kenangan-kenangan dirinya bersama Jaejoong. Anehnya, kali ini ia benar-benar bisa membayangkan Jaejoong, hanya Jaejoong seorang. Tanpa distraksi seorang Changmin di dalamnya.

Gelap. Hal itulah yang pertama kali Yunho lihat ketika ia masuk ke dalam apartemen mewah miliknya. Leader tersebut langsung menyalakan lampu ruang TV dan dapur. Dengan segera ia menyambar kulkas dan mengambil sekaleng bir di dalamnya.

Yunho lalu berjalan menuju ruang TV dan mengambil remote lalu menyalakan televisi hitam tersebut. Tetapi, pemandangan yang terpampang di monitor televisi membuat bir segar miliknya jatuh ke lantai dan berhambur ke lantai.

Ia sedang bermimpi, kan?
.
.
.
.
.
“Yunho-hyung, syukurlah!” Suara Changmin terdengar sedikit bergetar, seperti menahan air mata “Kau sudah lihat berita-nya, kan?”

“…” Yunho masih menempelkan telepon genggam ke telinganya, namun ia mendadak lupa cara berbicara

“Baik supir ataupun penumpangnya, tidak ada yang selamat.” Kini Yunho bisa mendengar suara Changmin yang sedikit terisak.

“Ya…” Yunho kehabisan kata-kata untuk mendefinisikan kebodohan yang sudah ia buat
.
.
.
.
.
3 hari sudah terlewat semenjak kejadian tersebut. Pipi kanan Yunho masih memar dan biru akibat tonjokan yang sangat keras dari Changmin. Seumur hidup, itu adalah kali pertama Changmin berani memukul seorang Jung Yunho.

Yunho berjalan menuju dapur dengan raga yang masih setengah sadar. Sesosok laki-laki yang berada di meja makan membuat Yunho berkedip dua kali.

“Ya ampun, penampilan bangun tidurmu memang yang terburuk!” Suara Jaejoong menggema ke seluruh penjuru ruang makan. Yunho berjalan dengan gontai menuju meja makan yang masih kosong bersih, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

“Kenapa kau tidak memasakkanku Kimchi?” Mulut Yunho langsung terbuka saat ia duduk menghadap Jaejoong.

“Tidak mau, uwekkk! Siapa suruh kau bermain-main dengan seorang Kim Jaejoong?” Jaejoong menjulurkan lidahnya dan hal tersebut membuat Yunho tertawa kecil.

Hening. Baik Yunho maupun Jaejoong langsung berhenti bercakap satu sama lain. Yang mereka lakukan hanyalah menatap lantai apartemen yang sedikit berdebu, jarang di urus oleh si pemilik. Jaejoong akhirnya mengangkat wajahnya, dan hal tersebut membuat Yunho melakukan hal yang sama. Pria berkulit putih tersebut langsung menopang dagu dengan kedua tangannya, sambil menatap Yunho lekat-lekat.

“Yunho, kau tahu kita sudah berpisah, kan?”

“Iya.”

“Kau tahu kan kalau aku sudah mati, kan?”

“Iya.”

“Kau tahu kan kalau aku hantu?

“Iya”

“Mungkin aku memang harus mengirimkanmu ke rumah sakit jiwa.”

Kini, kursi di hadapan Yunho sudah kosong tidak bertuan. Apartemen mewah tersebut pun kini hanya akan di selimuti oleh penyesalan dirinya seorang.

-Fin-

3 thoughts on “[FF] Torn Apart by @precioushim

  1. Waktu penilaian secara resmi kami tutup. Terimakasih atas partisipasi seluruh peserta & reader. Semoga menang yah, Hwaiting! Happy 2nd Annive Fanficyunjae… Yunjae Jjang! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s