[FF] Whisper in the Darkness by @_Verzeihen


RULE VOTING PEMENANG TERFAVORIT

  • Reader silakan membaca seluruh FF peserta.
  • Seluruh reader diperbolehkan voting pemenang terfavorit dengan cara seperti di bawah ini.
    • Format –> VOTE. Lalu beri alasan..
    • Misal –> VOTE! Karena fanficnya lucu sekali bla bla bla..
    • Tanpa kata “VOTE” maka tidak akan dihitung voting.
  • 1 orang 1 vote dalam 1 kategori. Lebih dari 1 akan langsung dihapus.
  • Reader baru silakan tunggu moderasi comment dari kami secara berkala! ^^
  • Batas voting : 17 Mei 2013, 23.59 WIB.
  • Pengumuman : 19 Mei 2013, 20.00 WIB.
  • Kecurangan dalam bentuk apapun akan membuat peserta besangkutan di-diskualifikasi.
  • Happy reading & Khamsahamnida^^

T/N : Akan ada hadiah spesial untuk follower @Fanficyunjae, selengkapnya pantengin TL kita tanggal 11 Mei 20113, 20.00 WIB.

Whisper in the Darkness by @_Verzeihen

Title: Whisper in the Darkness

Couple: YunJae mention of YunBoA, Se7Min, ChunJae

Warn: Dark. Angst. Slight disturbing.

Genre: Angst/Supranaturan/General/Romance

Summary: ”Yang terpenting Yunho, kau jangan selalu mendengar bisikan yang ada di pikiranmu. Mereka tak selalu benar, mereka hanya akan memberikan apa yang ingin kau dengar. Sebuah pembenaran.”

Read til the end please? ^^

Enjoy~

.

.

“Kau boleh coba melupakanku, tapi aku adalah bagian dari dirimu, aku akan selalu berada di sini, selalu sayang.”

Suara deru nafas panjang terdengar menggema di ruangan. Mata elang milik pria yang tengah terduduk di atas ranjang itu tersirat akan ketakutan. Sepasang bola mata itu kemudian menyapu isi ruangan, mendapati dirinya berada di ruangannya sendiri. Hanya lampu di samping tempat tidur yang menjadi sumber cahaya di kamarnya.

Bunyi shower di kamar mandi kemudian menyadarkan pikirannya bahwa dia tak sendirian di ruangan itu. Memorinya kembali terputar pada kejadian beberapa jam yang lalu. Desahan dan sentuhan yang membuatnya mual pada dirinya sendiri. Ketika dia mengingat dengan siapa dia baru melakukan hal tabu itu, dia hanya bisa memaki dirinya sendiri.

”Untuk apa menyalahkan dirimu, huh? Ini semua salah diri’nya’. Jika bukan karena dia, kau tak akan melakukan hal ini. Semua salah diri’nya’.”

Bisikan itu kembali terdengar, membuat nuraninya terbagi menjadi dua. Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunanya. Dia memalingkan kepalanya untuk menghadap kepada penghuni lain di kamar itu, seorang wanita berambut panjang yang memakai gaun mandi dan sedang mengeringkan rambutnya. Wanita yang dia kenal baik. ”BoA-noona,” bisiknya.

”Ah, Yun, kau sudah bangun?” tanya BoA dengan senyuman manis.

Yun – atau Yunho – meneguk ludah dan tak bisa menatap wajah wanita seniornya itu secara langsung. ”Urm…noona…apakah kita?” tanyanya dengan gugup. Sejenak kemudian dia membodohi dirinya sendiri. Tentu saja mereka melakukan-nya. Kalau tidak kenapa dia dalam keadaan telanjang sedangkan wanita itu keluar dari kamar mandi

”Yun, kau itu lucu sekali,” canda BoA. Dia segera menghampiri Yunho dan terduduk di samping kasur. Keduanya saling berhadapan sembari seulas senyuman masih menghiasi wajah sang wanita. ”Iya dan kenapa kau terlihat gugup? Padahal sebelumnya kau begitu menikmatinya,” bisik BoA sembari mendekatkan wajahnya.

Menyadari gerakan dari wanita di hadapannya, Yunho terlihat risih. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya. ”Tapi kau tak perlu takut Yunho, perbuatan kita hanya untuk malam ini saja. Seperti itu kan peraturannya?”

Yunho mengangguk mantap meskipun di dalam hatinya dia merasa dirinya tak lebih baik dari dia yang dihina di dalam otaknya terus menerus. Ketika BoA mengurangi jarak di antara mereka dan kemudian menempelkan bibirnya, Yunho tahu bahwa ini salah. Ciuman yang dirasakannya berbeda, tidak memabukkan dan tidak membuai dirinya pada hal yang dia rindukan.

”Tidak perlu menyalahkan dirimu, Yunho. Yang salah bukan dirimu, tapi ’dia’ Kim Jaejoong. Jika bukan karena dia, kau tidak akan seperti ini. Dia yang memulai semuanya.”

.

.

Whisper in the Darkness

by eL-ch4n

23.04.2013

.

.

Semua ini bermula kurang lebih 1 tahun setelah perpisahan Dong Bang Shin Ki. Ketika tiga dari member king of kpop keluar dan membentuk grup bernama JYJ. Bagi kelimanya, hal itu adalah kejadian yang tidak akan bisa dilupakan. Hanya mereka berlima yang tahu rahasia di balik perpecahan ini. Namun, kita tidak akan membahas hal tersebut. Mungkin lain kali, tapi yang terpenting saat ini adalah kejadian yang terjadi satu tahun setelahnya.

Yunho dan Jaejoong, pasangan yang masih bersembunyi di belakang layar karena latar belakang mereka. Terlepas dari adanya kelompok yang mendukung pasangan ini, mereka juga tahu akan ada yang menentangnya. Saat mereka memberitahukan hubungan ini kepada ketiga membernya, Changmin yang tidak dapat menerimanya dengan baik. Magnae itu sempat tidak ingin berbicara kepada mereka tiga hari berturut-turut. Hanya Yoochun yang tersenyum dan menyambut mereka dengan tangan terbuka. Junsu sendiri terlihat menolak tapi tidak separah Changmin. Hanya sedikit berhati-hati saat berbicara dengan keduanya.

Setelah 3 hari berlalu, Changmin akhirnya mulai berbicara dengan mereka dan akhirnya mereka tahu alasan di balik kelakuan Changmin. Magnae mereka itu sedang bergumul dengan orientasi seksualnya juga, bergelut dan takut kalau keempat hyung-nya tidak akan menerimanya. Namun tiba-tiba saja mereka datang dan mengumumkan hubungan mereka, seolah ingin menertawakan dirinya. Terdengar konyol, tapi mengerti bahwa usia Changmin saat itu juga masih muda, Yunho dan Jaejoong memahaminya. Kemudian semuanya kembali normal.

Bahkan sebenarnya Yunho dan Jaejoong sendiri masih saling berhubungan terlepas dari apa yang terlihat di umum. Meski berada pada grup dan tempat yang berbeda, selama ada waktu, keduanya akan saling mengirimkan kabar, melalui e-mail, telepon atau alat komunikasi lainnya. Melakukan hubungan jarak jauh dan berpura-pura tidak saling mengenal terasa sesak bagi keduanya, tapi pengorbanan ini harus dilakukan.

Hubungan mereka setelah perpisahan tetap terjalin hingga malam itu mengubah semuanya. Yunho baru saja pulang dari persiapan mereka untuk comeback ketika tiba-tiba ponselnya berdering dan suara Junsu yang gugup, terdengar. Semenjak mendapat telepon itu, firasat Yunho tidak enak. Mulanya dia berharap bahwa firasatnya tidak tepat, tapi apa daya yang di hadapannya saat itu membuka pikirannya.

“Lihatlah pelacur itu, mengatakan akan tetap setia, tapi lihat apa yang dia lakukan.”

Di hadapannya terlihat pemandangan yang menyesakkan dirinya. Jaejoong, kekasihnya itu, tengah terbaring di atas ranjang dalam keadaan tak berbusana, mendesah memanggil namanya. Dan yang menyakitkan, Yoochun, member yang sudah dianggap sebagai sahabatnya, saudaranya, tengah memasuki Jaejoong. Pemilik suara husky itu juga tidak memakai apapun. Keduanya sibuk melakukan kegiatan mereka. Desahan dan erangan memenuhi telinga Yunho. Dia berharap saat itu dia menjadi tuli dan buta. Pemandangan di hadapannya sangat menyayat hatinya dan yang membuatnya tambah sesak adalah keduanya masih sibuk hingga tak menyadari kehadirannya.

Yunho segera mengambil langkah keluar dari mimpi buruk di hadapannya. Di ruang tamu, terlihat Junsu yang gemetar karena takut. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Yunho, mencoba untuk terlihat baik-baik saja meskipun di dalam, hatinya sedang terpecah berkeping-keping.

“Hyung, aku…” bisik Junsu dengan ragu-ragu.

“Sejak kapan, Su?” tanya Yunho. Dia tak perlu mendengar hal lain. Dia hanya ingin memastikan bahwa ini hanyalah kali pertama mereka melakukannya. Bahwa ini tak lebih dari kesalahan sesaat.

“Masih mencoba untuk membela dirinya? Bodoh kau Yunho, sangat bodoh. Sudah jelas dia selingkuh di belakangmu. Hanya karena dia meneriakkan namamu tidak membenarkan apa yang dia lakukan sekarang.”

Melihat Junsu yang menghindari tatapannya, Yunho tahu bahwa apa yang dia takutkan menjadi kenyataan. Dia menghampiri Junsu, menekan pundak dongsaeng-nya itu sembari mengguncangkannya. “Katakan Su, sejak kapan?!” Suaranya sedikit meninggi membuat Junsu bergidik.

Dengan badan yang gemetar, Junsu mencoba membuka mulutnya dan mengatakan satu kalimat yang membuat hati Yunho hancur seketika. “Sejak kita keluar dari SM, hyung.” Junsu meneguk ludah menatap Yunho yang sudah melepas pundaknya. Sang leader terlIhat begitu rapuh dan hancur di hadapannya. Jung Yunho yang selalu tegar dan tetap kuat terlihat begitu lemah di hadapannya dan ini semua karena seorang Kim Jaejoong.

“Mulanya…mulanya mereka sering menghabiskan waktu berdua. Aku pikir mungkin Jae-hyung hanya membutuhkan ketenangan, itu yang selalu diucapkan Yoochun setiap hari padaku. Tapi kemudian aku mendengar desahan dari kamar Jae-hyung. Pertama aku pikir, mungkin Jae-hyung hanya rindu denganmu, hyung, dan itu hanya akan terjadi sekali.” Junsu menggigit bibir bawahnya, menghindari tatapan sedih dari Yunho. “Tapi…tapi dari satu kali menjadi satu bulan sekali, kemudian satu minggu sekali dan sekarang hampir tiap hari. Aku…merasa kau harus tahu akan hal ini, hyung. Biar bagaimanapun…biar bagaimanapun Jae…hyung masih tetap kekasihnya.”

“Su, kau bicara dengan siapa?” Sebuah suara yang selalu membangkitkan rindu di dalam dirinya memberikan desiran amarah.

“Dengar suaranya Yunho, seperti orang kecentilan yang siap menggoda mangsa barunya.”

Yunho mengepalkan tangannya karena geram. Dengan perlahan, dia memutar badannya dan menatap ke arah Jaejoong yang mengenakan robe untuk menutup tubuhnya. “Halo sayang,” ucapnya dengan gemertak gigi terdengar.

“Yun….Yunnie?” Ada rasa terkejut terdengar di balik suara Jaejoong. Sebuah rasa bersalah terlihat pada pancaran mata doe milik orang yang sangat dicintainya itu. “Ap…apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan gugup. Junsu sendiri terlihat menundukkan kepalanya, berharap keberadaannya bisa menghilang dalam sekejap.

“Ingin mengunjungi kekasihku, tapi sepertinya dia sedang ‘sibuk’ dengan kegiatannya,” geram Yunho, menekankan pada kata sibuk. Masih menatap tajam ke arah Jaejoong yang menghindari mata elangnya, Yunho tahu bahwa Jaejoong menangkap maksudnya. “Karena kau sedang sibuk, aku pergi dulu. Titip salamku untuk Yoochun,” ujarnya,

Dia memutar badannya dan tak menghiraukan panggilan Jaejoong. Tangannya secara refleks menarik Junsu. Dia membutuhkan seseorang untuk medampinginya atau setidaknya sebuah perlindungan agar dia tidak melakukan hal konyol seperti menabrak dirinya.

oOo

Semenjak saat itu, Yunho menghindari semua komunikasi dari Jaejoong. Dia hanya sesekali menjawab pesan dari Junsu yang menanyakan tentang kegiatannya. Yunho masih mengingat saat itu, Junsu terlihat ketakutan saat Yunho menyetir seperti orang kesetanan. Jika bukan teriakan dari sang pemilik suara lumba-lumba mungkin Yunho sekarang hanya akan tinggal kenangan saja atau mungkin berada di rumah sakit.

Changmin sendiri menyadari perubahan perilaku sang leader. Dia pernah mencoba untuk bertanya, tapi karena Yunho tak benar-benar menjawab pertanyaannya, Changmin tidak sanggup menanyakan apapun lagi. Apapun yang dialami leader-nya sepertinya sangat berat dan jika dengan menggali informasi dari sang leader sama dengan menyayat hati sang leader lebih dalam, Changmin lebih baik melupakannya.

Jika ada yang berubah dari diri Yunho, itu adalah dirinya yang terlalu ceria. Setiap hari selalu memasang sebuah lengkungan di wajahnya, menyapa setiap staff dengan semangat. Bukannya Yunho yang biasa tidak seperti ini, hanya saja, Yunho yang sekarang terlihat terlalu ceria. Bahkan dia terlihat santai dan tidak terlalu mengurusi jika Changmin salah mengambil step saat latihan tarian mereka.

”Hyung, kau baik-baik saja?” Memutuskan keberuntungannya, Changmin menghampiri Yunho yang sedang mengelap keringat karena latihan tadi.

Yunho menatap Changmin sembari tersenyum – seperti biasa. ”Aku? Baik-baik saja, Min, kenapa memangnya?” tanyanya dengan suara yang terlalu riang.

”Serius hyung?” Yunho mengangguk dan Changmin menghela nafas. Dia berbalik dan berjalan menuju ke arah pintu membuat Yunho sedikit bingung. Tanpa aba-aba, dia segera menutup pintu ruangan yang terbuka. Badannya kembali memutar dan melangkah mendekati Yunho.

”Hei, Min, kenapa?” tanya Yunho masih kebingungan.

Changmin mengambil nafas panjang sebelum berdiri tepat di hadapan Yunho. ”Hyung! Kau ini ada apa? Semenjak kau menerima panggilan dari Junsu, kau terlihat seperti robot hidup!” seru Changmin.

Satu kalimat itu sukses membuat semua kamuflase Yunho hancur seketika. Dalam sekejap mukanya berubah menjadi muram. Tatapannya begitu tajam membuat Changmin bergidik ngeri seolah hyung-nya bisa membunuhnya dalam sekejap. ”Memang kenapa?” desis Yunho. ”Bukan hal penting,” bisik Yunho lagi. Dia kemudian meraih botol mineral dan membukanya.

Tak menerima jawaban yang dia dengar, dengan segera dia menghadap Yunho lagi. ”Hyung! Kita tidak akan bisa latihan jika kau terus seperti ini, kau harus menetapkan hatimu! Apa yang sedang terjadi? Kau harus jelaskan padaku!” seru Changmin tak mau kalah.

”Kau tak perlu tahu,” desis Yunho.

Satu kalimat Yunho yang penuh dengan kesinisan itu membuat Shim Changmin tahu akan satu hal. Yunho yang ada di hadapannya bukan Yunho yang dia kenal, bukan Yunho yang dia hormati. Pria di hadapannya sekarang adalah orang lain yang memiliki wajah seperti Yunho, seorang pribadi yang berbeda.

”Shim Changmin, sepertinya dia juga salah satu korban dari pelacur itu, Yunho. Dia akan mencuci otakmu. Lebih baik hindari dia.

oOo

Hubungan Yunho dan Changmin semakin renggang semenjak pelabrakan Changmin waktu itu. Sebisa mungkin Yunho mengurangi waktu percakapannya dengan sang magnae dan memilih menghabiskan waktunya keluar mengunjungi salah satu bar langganannya seorang diri. Pergi sangat malam dan kembali di pagi hari membuat waktu tidur Yunho tidak teratur, akan tetapi, dia malah merasa begitu segar. Tubuhnya begitu berenergi dan dia dapat beraktivitas dengan teratur.

Yunho sendiri tidak ambil pusing untuk tahu alasannya karena yang terpenting dia tetap bisa mendapatkan kesenangannya tanpa harus menganggu karirnya. Dia juga kemudian memutuskan untuk melupakan Jaejoong. Jika pria itu ingin menjalin hubungan dengan Yoochun dan melupakannya, untuk apa dia harus terus dilanda kesedihan? Lebih baik dia menyelesaikan semuanya dalam sekejap.

”Benar itu Yunho, kau adalah pria yang bebas. Jaejoong bukanlah siapa-siapa bagi dirimu. Masih banyak yang jauh lebih baik darinya. Masih banyak yang menginginkanmu.”

Comeback TVXQ sebagai duo Yunho dan Changmin akhirnya terjadi. Jadwalnya yang semakin sibuk membuat Yunho melupakan tentang masalahnya, tentang Jaejoong, tentang pemandangan nista yang dia lihat saat itu. Jaejoong sendiri juga sudah tidak menghubungi dirinya lagi. Sepertinya pria itu sudah menyerah, menyerah akan dirinya, menyerah akan hubungan mereka.

Toh, Yunho juga sudah tidak ingin mendengar suara pria itu, mendengar alasan yang dibuat-buat olehnya. Apalagi yang mau dia dengar? Janji palsu? Tangisan minta maaf karena pria itu merasa bersalah? Kalau semudah membalikkan telapak tangan, kenapa dia juga tak melakukannya saja?

Yunho menggelengkan kepalanya. Saat ini dia sedang berada di salah satu bar langganannya. Sebuah pikiran buruk melanda dirinya. Di dalam otaknya terlintas bagaimana jika dia juga melakukan hal yang sama seperti Jaejoong? Bukankah dia juga sudah tidak ada ikatan lagi dengan pria itu?

Maka itulah yang dilakukan Yunho saat ini. Telinganya menangkap suara desahan dari badan yang ditimpa di bawahnya. Bagian bawahnya merasakan kehangatan. Nafsu telah membuyarkan akal sehatnya membuat dia terus mencari kenikmatan dari tubuh yang ada di bawahnya. Namun Yunho juga bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa persiapan. Dia telah menyiapkan surat perjanjian dengan mereka yang akan berhubungan dengan dirinya. Bahwa ini mereka bersedia dan bahwa tidak ada paksaan. Sebuah surat perjanjian agar dirinya tidak terkena masalah. Itu juga yang dia lakukan dengan BoA bahkan sebenarnya penyanyi wanita yang lebih senior darinya itu adalah yang pertama kali membuatnya tenggelam dalam rutinitas seperti ini.

”Kau pintar Yunho, bagus sekali dirimu. Tunjukkan pada dirinya bahwa dia bukan apa-apa.”

.

”Hyung, Jae-hyung terlihat agak kurusan ya sekarang,” ujar Changmin tiba-tiba saat melihat salah satu video JYJ di youtube. Pernyataan itu sempat membuat Yunho yang sedang menyiapkan makan malam menghentikan kegiatannya. Hanya sesaat karena berikutnya dia tak peduli. ”Apa dia tidak makan dengan baik ya?” bisik Changmin lagi perlahan.

”Changmin, ayo makan,” seru Yunho mengalihkan topik pembicaraan.

Sang magnae segera duduk di atas salah satu kursi makan saat mendengar kata makan. Hubungan keduanya sudah mulai cukup membaik walau masih terasa canggung karena tidak terbiasa dengan dorm yang begitu sepi. ”Hyung, apa Jae-hyung dan yang lainnya tidak memberi kabar?”

Yunho yang sudah duduk dan hendak memasukkan sendok kuah ke mulutnya terdiam. Mengabaikan Changmin lagi, dia kembali melanjutkan kegiatannya. ”Hei, hyung, Yunho-hyung,” panggil Changmin sekali lagi.

”Makan makananmu Changmin. Kata Junsu, mereka hanya memiliki jadwal yang ketat jadi mungkin tak sempat makan dengan teratur.”

”Oh ya? Lalu bagaimana kabar Yoochun-hyung ya? Sepertinya dia sangat sibuk dengan drama barunya,” gumam Changmin lagi.

”Lebih baik kau makan sebelum dingin Changmin. Kapan lagi kita punya waktu untuk bersantai seperti ini? Jangan terlalu pikirkan hal lain,” alih Yunho lagi.

Nampaknya Changmin mulai mengerti apa yang sedang terjadi. Rasa penasaran kemudian menguasainya hingga dia memberanikan diri untuk bertanya, ”Sesuatu terjadi dengan hyung dan Jae-hyung?”

Kali ini, gerakan Yunho terhenti total. Bahkan jika tak melihat dada Yunho yang masih bergerak, Changmin akan berpikir bahwa leader-nya itu tak bernafas. ”Changmin, jangan sebut namanya lagi,” desis Yunho. ”Kau bilang ingin mengatakan sesuatu padaku tadi siang, apa itu?”

Wajah Changmin berubah merah dan lidahnya mendadak kelu ketika pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Memang tadi siang, pada saat istirahat, dia mengatakan kepada Yunho kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan. Menghindari tatapan Yunho, Changmin menggigit bibir bawahnya. ”Itu…er…hyung…aku…”

”Katakan saja Changmin, aku tak akan marah,” ucap Yunho perlahan. Melihat magnae-nya yang terlihat gemetar, Yunho merasa perlu untuk menenangkannya. ”Apa yang ingin kau sampaikan?” Sebuah senyuman bagaikan seorang ayah terukir di wajahnya membuat Changmin sedikit merasa lega.

Setelah menarik nafas panjang, Changmin kemudian mengucapkan satu kalimat yang membuat mata elang Yunho membesar dalam sekejap. Kalimat yang berbunyi, ”Aku sedang berpacaran dengan Dong Wook-hyung, Yunho-hyung.”

”Dong Wook? As in Choi Dong Wook, soloist YG yang dijuluki Se7en itu? That Dong Wook?” Mulanya Yunho tak percaya tapi melihat Changmin yang mengangguk perlahan, perasaannya berasa campur aduk. ”Kapan?”

”Ah…itu…kami…aku tidak tahu kapan itu terjadi hyung…semuanya begitu cepat,” bisik Changmin lirih.

Mendengar nada Changmin yang begitu sedih membuat Yunho menghela nafas. Penderitaannya bukan berarti harus membuat magnaenya yang seharusnya bahagia malah ikutan bersedih karenanya. Setidaknya jika Changmin bahagia, mungkin Yunho dapat merasakannya sedikit, seperti seorang ayah yang senang melihat anak tunggalnya terbang ke langit luas.

”Hei, aku tidak marah. Selamat ya,” ucapnya dengan nada riang.

”Kau tidak keberatan hyung?” tanya Changmin perlahan.

”Memangnya kenapa?” balas Yunho sembari melanjutkan acara makannya.

”Bukannya kau sempat marah dengan Dong Wook karena Jae-hyung?”

Ah. Bagaimana mungkin Yunho lupa kalau dulu dia sempat hampir menampar Dong Wook karena pria itu berani memegang Jaejoong di hadapannya saat sedang syuting X-man. Bahkan dengan jelas pria itu terlihat sedang mengincar Jaejoong. Jika bukan karena Jaejoong yang menahannya mungkin dia akan masuk ke dalam headline karena memancing keributan dengan sang soloist.

”Untung saja kau tidak menamparnya Yunho. Bukankah mungkin Dong Wook juga salah satu mangsa dari dirinya? Huh? Pesona Kim Jaejoong membuatmu menjadi orang bodoh. Mungkin saat itu dia sedang tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya melihat kebodohanmu.”

”Hyung, kenapa?” Changmin mendadak merasakan bahwa keheningan Yunho yang mendadak bukanlah hal yang bagus.

Dia hanya tidak tahu bahwa di dalam pikiran Yunho, bisikan gelap itu semakin terdengar jelas membuat otaknya tak bisa berpikir jernih. Di sudut hatinya, dia setuju. Apakah jangan-jangan Dong Wook juga salah satu yang ’digunakan’ Jaejoong? Sama seperti dirinya? Pria itu memang seorang pelacur, desisnya di dalam hati.

”Hyung?” Panggilan Changmin menyadarkan lamunannya.

”Ah, ne?”

”Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat, hyung,” sahut Changmin sekali lagi.

Yunho menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk menyunggingkan sebuah senyuman. ”Sudahlah, ayo kita makan.” Dan kemudian keduanya melanjutkan kegiatan malam mereka dengan mengabaikan perilaku aneh dari seorang Jung Yunho.

”Sedikit lagi, Yunho. Sedikit lagi kau akan menjadi milikku. Hahaha.”

oOo

Suara dentuman musik yang keras nan memekakkan telinga menemani suasana hati Yunho yang tak tenang. Setelah mendengar mengenai tubuh Jaejoong yang terlihat semakin kurus dan wajahnya yang terlihat semakin pucat membuat Yunho sedikit khawatir. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya dia sangat merindukan sosok Kim Jaejoong, namun dia tak bisa melupakannya. Sudah hampir 3 tahun berlalu, tapi tetap saja semuanya masih terekam jelas di dalam memorinya.

Lepas daripada itu, kepala Yunho akhir-akhir ini terasa begitu sakit hingga dia harus menekan keningnya untuk menahan sakit yang tak tertahankan yang menjulur ke seluruh badannya. Seharusnya dia mengikuti kata Changmin untuk beristirahat, tapi entahlah. Dia tak bisa berdiam diri. Rasanya jika dia seorang diri begitu saja, semua kenangan akan kembali menghantui dirinya.

”Ternyata kau ada di sini,” sahut sebuah suara yang terdengar samar-samar. Karena musik yang diputar sudah lebih lembut, Yunho dapat mengenali suara orang yang menyapanya. Dia tak berbalik, badannya masih bertumpu pada meja bar yang ada di depannya dan meneguk gelas berisi alkohol di tangannya. ”Aku tidak menduga seorang Yunho akan bisa berada di sini,” sambung suara tersebut lagi.

Sang pemilik suara yang adalah Choi Dong Wook sudah berdiri di samping Yunho. Badannya menyandar pada meja bar dan berdiri tepat di sebelah Yunho. ”Changmin menyuruhku untuk mencarimu dan membawamu kembali jika perlu,” ujarnya lagi.

Tak menghiraukan pria yang ada di sebelahnya, Yunho kembali meneguk minumannya. Dong Wook menghela nafas. Dia memutar badannya hingga memiliki posisi yang sama seperti Yunho. Didudukkannya badannya di atas kursi bar karena sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sedikit panjang. ”Hei, setidaknya jangan buat Minku khawatir,” ucapnya.

Gelas kosong yang tak berisi itu diletakkannya dengan kasar ke atas meja bar kemudian badannya diputar sedikit untuk mudah menatap ke arah Dong Wook. ”Tinggalkan aku sendiri,” desis Yunho.

”Kau tahu bahwa itu yang sangat kuharapkan sedari tadi? Tapi aku tak mau Minku terlihat semakin khawatir lagi. Either you walk out with me or I’m going to stay with you the entire night.”

”Maaf aku tidak tertarik denganmu,” balas Yunho dengan penuh sarkasme.

Dong Wook tertawa, sebuah tawa yang penuh dengan ejekan di dalamnya. ”Aku tidak akan mungkin mengkhianati Minku, Yunho,” balas Dong Wook.

Mendengar kata ’mengkhianati’ membuat otak sang leader kembali memutar sebuah pemandangan yang sudah lama ingin dia kubur. Ekspresinya mengeras dan dirinya hening seketika. Hal itu tentu saja tidak dilewatkan oleh pria yang ada di hadapannya sekarang. ”Something happen?” tanya Dong Wook.

”Bukan urusanmu,” desis Yunho lagi. Dia memutar badannya dan kemudian meminta satu gelas lagi kepada sang bartender.

”Hei, kau harus berhenti minum,” tegur Dong Wook.

”Kau tidak mengerti,” balas Yunho.

”Tentu saja aku tidak mengerti jika kau tidak menceritakannya kepadaku atau kepada Changmin. Yang dia tahu meskipun kau terlihat tersenyum, di dalam dirimu kau sedang kebingungan. Kau tampak seperti mayat hidup, Jung Yunho. Tapi aku salut karena kau masih berhasil untuk terlihat tegar dan baik-baik saja demi fansmu. Sebegitu besar cintamu pada fansmu rupanya?”

”Mereka bukan fansku,” balas Yunho membuat Dong Wook sedikit tertegun. ”Bagiku mereka adalah keluargaku yang akan mendukungku selalu. Jadi aku harus selalu tampak tegar di hadapan mereka. Mereka menjadikan diriku sebagai patokan dan aku adalah seorang leader, seorang pemimpin. Apa jadinya jika seorang pemimpin tampak lemah?”

Mendengar jawaban dari Yunho, Dong Wook tertegun. Seulas senyuman terukir di wajah sang soloist yang tak lama lagi akan masuk wajib militer. ”Kau memang seorang leader yang baik, Yunho, tapi kau juga adalah manusia, kau harus sadar. Manusia tidak bisa lepas dari kelelahan fisik, mental, dan juga dosa,” ucap Dong Wook. Tak lama dia juga mengikuti Yunho untuk memesan satu gelas dan menemani pria di sampingnya.

Keduanya terdiam dan tak ada yang berbicara sedikit pun. ”Dosa ya,” bisik Yunho lirih. ”Kau bilang kau tidak akan mengkhianati Changmin bukan?” tanya Yunho sembari menghadap ke arah pria yang lebih tua darinya itu. Dong Wook mengangguk. ”Namun bagaimana jika Changmin yang mengkhianatimu?”

Dong Wook terkekeh pelan membuat Yunho mengangkat kedua alisnya karena bingung. ”Kau tahu cinta itu bukanlah sesuatu yang sempurna. Cinta tidak lantas membuat orang yang kau cintai menjadi sempurnya. Sebaliknya cinta akan membuatmu melihat kekurangan dan ketidaksempurnaan yang ada, tapi mencintai, Yunho,” ucapnya. Dia menatap lembut ke arah mata elang milik Yunho. ”Mencintai adalah menerima segala kekurangan dan merangkul ketidaksempurnaan dari orang yang kau cintai.”

Hening melanda keduanya beberapa saat sebelum Dong Wook kembali melanjutkan kalimatnya sembari memutar badannya kembali untuk meneguk gelas minumannya. ”Dan jika Changmin mengkhianatiku, aku akan marah. Siapa yang tidak, Yunho?” Mendengar jawaban Dong Wook entah kenapa Yunho merasa puas. Seolah mendapat pendukung dari apa yang telah dia lakukan. ”Namun,” ucap Dong Wook lagi yang berhasil meraih perhatian dari sang leader. ”Aku akan tetap mencintainya.”

”Meskipun dia tidak mencintaimu? Meskipun dia melakukan hal kotor di belakangmu?” Yunho bergidik jijik saat mengingat apa yang terjadi di ruangan itu. Bagaimana Jaejoong meneriakkan namanya namun Yoochun tengah memasuki pria itu. Semuanya bagaikan mimpi buruk.

Dong Wook kembali terkekeh. ”Lantas? Memangnya kau tidak kotor, Yunho? Kau pikir dirimu adalah manusia paling bersih dari dosa? Huh?”

”Sebuah hubungan tidak akan bisa terlaksana jika salah satu mengkhianati yang lain,” balas Yunho tak mau kalah.

”Tadi kau menanyakan apa yang akan aku lakukan jika Changmin mengkhianatiku bukan?” Yunho mengangguk. ”Aku mengatakan aku akan tetap mencintainya, tapi mungkin tidak akan mempertahankan hubunganku jika Changmin belum menebus kesalahan yang telah diperbuat. Keretakan hubungan yang terjadi tak akan bisa pulih seutuhnya seperti sebuah vas bunga yang retak dan dilem kembali,” papar Dong Wook.

”Namun,” Kali ini dia menyelesaikan minumannya dan menatap ke arah Yunho. ”Aku akan tetap mencintainya. Bukankah gelas yang retak dapat disatukan kembali jika kau menekuninya? Asal kau tahu, setiap hubungan sebenarnya bagai sebuah gelas retak, Yunho. Terlihat sempurna dari luar, dari jarak jauh, namun jika dilihat dari dekat, kau akan mendapati kejelekan di dalamnya. Tapi, keretakan itu yang membuat gelas itu berbeda dari yang lain bukan?”

Yunho tak mengerti dengan penjelas Dong Wook. Entah pikirannya yang sudah terlalu buram karena pengaruh alkohol atau bahasa dari Dong Wook yang memang tak bisa dia tangkap. ”Yang terpenting Yunho, kau jangan selalu mendengar bisikan yang ada di pikiranmu. Mereka tak selalu benar, mereka hanya akan memberikan apa yang ingin kau dengar. Sebuah pembenaran.”

”Yunho, jangan dengarkan dia. Dia pasti bekerja sama dengan pelacur itu untuk menjebakmu lagi.”

”Kau tak tahu apa-apa,” ujar Yunho untuk yang kedua kali.

Dong Wook menghela nafas. ”Aku tak mengerti apa yang terjadi denganmu dan Jaejoong, Yunho, dan jangan menyelaku. Aku tahu ini pasti ada kaitannya dengan Jaejoong karena kalau bukan, kau tidak akan sedepresi ini. Namun, bukankah sebuah hubungan harus dilakukan oleh dua arah? Kenapa tidak coba kau tanyakan apa yang sebenarnya dilakukan oleh Jaejoong? Tapi sepertinya aku bisa menebaknya,” ucap Dong Wook.

”Apa itu?” balas Yunho acuh tak acuh.

”Dia berselingkuh di belakangmu bukan? Bila kutebak, sepertinya salah satu dari kedua member itu dan kau mencurigai bahwa Jaejoong juga melakukannya dengan orang lain bahkan termasuk diriku.” Keheningan Yunho membuat Dong Wook semakin yakin dengan perkataannya. ”Lantas Yunho, aku ingin tanya satu hal pada dirimu. Bukankah yang kau lakukan juga tidak ada bedanya? Kau meniduri setiap gadis dan pria yang mendatangimu di bar ini. Aku tahu karena aku menanyakan tentang dirimu. Siapa yang tidak mengenal Jung Yunho di sini? Bahkan salah satu dari anggota di sini sedang bertaruh siapa yang akan dibawamu malam ini. Lihat Yunho, bukankah kau juga tak lebih baik dari dirinya?”

”Jangan dengarkan dia, Yunho. Jaejoong tidak layak mendapatkanmu. Dia adalah pelacur yang akan membukakan kakinya untuk siapapun. Jangan percaya sedikit pun apa yang dikatakan oleh pria ini.”

”Dan Yunho, apakah kau masih mencintai Jaejoong?”

Satu pertanyaan itu kemudian membuat kepala Yunho serasa ingin meledak. Dipegangnya kening kepalanya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menopang pada pinggir meja agar tidak terjatuh. Dong Wook yang ada di hadapannya terlihat panik dan mencoba untuk memegangnya. ”Gwenchana? Yunho?”

”DIAM! BERISIK! DIAM!”

”Yunho, jangan dengarkan dia. Kau tidak mencintai Kim Jaejoong. Kau membencinya. Dia adalah orang yang dengan seenaknya menghancurkan hubungan kalian.”

”Yunho, bukankah kau juga tak lebih baik dari dirinya?”

”Tidak Yunho, kau lebih baik. Pria itu yang membuatmu begini, semua salah dirinya. Jika dia masih setia, jika dia tetap memegang janji kalian, semua tak akan seperti ini. Lihat dia.”

Dan puncaknya, kegelapan menguasai pandangan Yunho. Badannya begitu lemas hingga dia terjatuh lunglai begitu saja.

oOo

Hal pertama yang disadari Yunho saat membuka matanya adalah warna putih yang mendominasi seluruh isi ruangan. Lengannya tertusuk jarum infus. Badannya terasa lemas dan tenggorokkannya begitu sakit. Dia merasakan kehangatan pada tangan kanannya. Matanya kemudian teralihkan pada bagian kanannya, mendapati sosok seorang pria dengan paras cantik tengah membaringkan kepalanya di samping ranjang Yunho dengan tetap menggenggam telapak tangannya.

Seulas senyuman terukir di wajahnya namun kemudian dia mengernyitkan ekspresinya. ”Jae…joong?” panggilnya perlahan.

Pria yang dipanggil namanya perlahan mengerang karena tidurnya terganggu. Dia mengucek-ngucek matanya beberapa kali kemudian menatap ke arah Yunho. Cukup lama bagi Jaejoong untuk menangkap apa yang sedang terjadi. Detik berikutnya dia berdiri dan menyembunyikan tangannya seperti anak kecil yang ketahuan melanggar perintah orang tuanya.

”Kau sudah sadar,” ucapnya malu-malu.

”Ap…” Namun Yunho tak bisa mengeluarkan suaranya karena tenggorokannya masih terasa perih. Ada sesuatu yang mengganjal atas pemandangan ini dan sosok Jaejoong di hadapannya. Pria itu tampak lebih muda dan terlihat lebih imut daripada yang dia ingat.

Jaejoong menatap Yunho bingung kemudian teringat akan sesuatu. ”Ah iya, aku akan panggilkan dokter!” Jaejoong pun berlari dari hadapan Yunho dan segera keluar meninggalkan sang leader sendirian.

Tak berapa lama Jaejoong datang dengan sosok pria lain berjubah putih diikuti keempat membernya. Hal ini semakin membuat Yunho bertanya-tanya. Ada sesuatu yang aneh. Bukankah Jaejoong, Yoochun, dan Junsu telah keluar dan bukankah sulit bagi mereka untuk menghubungi Changmin dan dia? Lantas mengapa mereka bisa berada di sini?

”Yunho-shi, apa yang anda ingat?”

”Ke..kenapa saya berada di sini?” tanyanya pelan.

Sosok berjubah itu tersenyum lembut sembari mengeceknya sekali lagi. ”Semua organ tubuh anda bekerja dengan normal, saya rasa tidak ada masalah, mungkin anda hanya merasakan memory loss karena tertidur agak cukup lama.”

”Jadi, Yunho akan baik-baik saja kan dok?” tanya Jaejoong kepada pria yang ternyata adalah seorang dokter.

”Ne, Yunho-shi baik-baik saja, hanya saja sepertinya zat kimia dari lem tersebut sempat menyebar ke seluruh tubuhnya. Berikan istirahat yang cukup dan dia akan baik-baik saja. Oh ya, mungkin dia belum bisa makan makanan yang terlalu keras. Perutnya masih belum terlalu kuat dan tenggorokannya masih belum sembuh sepenuhnya.”

Keempat member lainnya mengangguk sementara Yunho masih kebingungan. Kepalanya masih sakit, tapi sudah jauh lebih baik dari yang dia rasakan sebelumnya. Setelah sang dokter pergi, Jaejoong segera menghampirinya. ”Bodoh! Kenapa kau minum pemberian orang begitu saja?!”

”Eh?” Sekarang Yunho benar-benar bingung. Kenapa Jaejoong berulah seolah dia tak bersalah? Dan kenapa ketiga member yang lain tampak begitu sedih? ”Sebentar, aku tak mengerti, bisa kalian jelaskan?”

Yoochun menepuk pundak Jaejoong agar pria tertua di antara mereka itu tidak terbakar oleh emosi. ”Hyung, kau tidak ingat apapun?”

Yunho menggelengkan kepalanya perlahan. ”Tidak juga, aku ingat – tunggu, bukannya Jaejoong, Junsu, dan kau keluar dari DBSK?” tanyanya.

Keempat member yang lain menatap Yunho dengan tatapan bingung. ”Maksudmu apa?” tanya Jaejoong. ”Kau ingin mengusir kami, begitu?” balasnya sembari memajukan bibirnya tanda bahwa dia cemberut.

”Hyung, kau itu sudah dirawat di rumah sakit selama 2 hari karena meminum pemberian dari salah satu antifans kita. Kau tidak ingat?” Yunho mencoba meraih ingatannya yang terkubur dan dia kemudian samar-samar menangkap sosok orang yang memberikannya minuman kemudian kegelapan menguasainya karena terus memuntahkan isi perutnya.

”Tahun berapa sekarang?”

Yoochun memicingkan matanya, tapi memutuskan untuk mengabaikan kelakukan aneh hyung-nya itu dan menjawabnya. ”2006, hyung. Kau yakin kau baik-baik saja?”

Sejenak Yunho termenung. Apakah yang terjadi selama ini hanyalah sebuah mimpi saja? Ataukah ini adalah sebuah pertanda akan terjadinya sesuatu?

Yunho pernah mendengar bahwa seseorang yang pernah menghampiri kematian akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya dan memiliki kekuatan yang tidak semestinya dimiliki. Jika memang itu mimpi, mungkinkah dia bisa mengubahnya?

Dia kemudian menatap keempat membernya satu per satu hingga matanya berhenti pada sosok yang masih menahan tangis air mata karena bahagia dirinya sudah terbangun. ”Jae,” bisiknya perlahan.

Merasa dipanggil, Jaejoong mendekat ke arah Yunho sementara Yoochun yang sepertinya menangkap apa yang terjadi segera mengusir Changmin dan Junsu keluar diiringi protes dari kedua member termuda itu. ”Sudah jangan menangis, kenapa kau cengeng sekali sih,” candanya.

Jaejoong semakin terisak. ”Aku…takut…hiks…kau tidak kunjung sadar. Kata dokter padahal seharusnya kau sudah sadar kemarin…tapi kau masih menutup matamu, aku pikir…aku pikir aku tak akan adalagi kesempatan,” bisiknya perlahan.

”Kesempatan?” tanya Yunho dengan lembut sembari meraih salah satu tangan Jaejoong.

Menyadari apa yang diucapkannya, Jaejoong segera mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Yunho. ”Itu..lupakan,” elaknya segera.

Yunho tertawa kecil sebelum kemudian menarik tubuh elok Jaejoong ke dalam pelukannya. ”Aku merindukanmu, sangat,” bisiknya perlahan. Bulu roma Jaejoong berdiri mendengar bisikan Yunho yang lembut di telinganya. ”Aku bermimpi begitu panjang dan aku berharap bahwa tidak semuanya hanya sekedar mimpi.” Mata Jaejoong yang menatapnya heran diganti dengan ekspresi terkejut saat bibirnya merasakan sesuatu yang hangat.

Ciuman yang dibagi keduanya lembut, tak mendesak, hanya sekedar menempel untuk menyampaikan pesan yang tersembunyi di antara keduanya. Saat bibir mereka terlepas, Yunho kemudian tersenyum sementara Jaejoong tersipu malu. Jika apa yang terjadi di dalam mimpinya akan berubah kenyataan, setidaknya dia harus melakukan sesuatu untuk mengubahnya, tapi yang jelas, jika dia diberikan kesempatan untuk mengulang waktu. Biarkan dia meraih apa yang sudah lama ingin dia sentuh.

”Saranghae,” bisiknya di telinga Jaejoong.

Dekapannya terhadap Jaejoong semakin erat begitu pula dengan derasnya air mata dari sang lead vocal. ”Nado, Yun, nado,” isaknya.

Mimpi yang begitu panjang. Bisikan kegelapan yang membuatnya tak percaya. Jika memang dia diberikan kesempatan kedua, biarlah dia menggunakan kesempatan ini dengan baik.

Namun dia terlalu memperhatikan apa yang ada di hadapannya hingga dia mengabaikan bisikan yang terdengar di dalam pikirannya.

”Dia akan mengkhianatimu, Yunho. Kau tidak bisa mempercayainya. Dia tak akan pernah setia terhadapmu.”

.

The End?

.

AN:

Jujur sebenarnya saya tidak mengerti kenapa ff ini bisa menjadi seperti ini *jedukin kepala ke dinding*

Awal mula plot adalah…ingat Yunho yang dikasih minuman super glue kan? Maksudnya itu adalah dia dapat kekuatan untuk bisa melihat masa depan gitu dan kemudian kekuatan itu kayak mau mengontrol dirinya, tapi malah jadi seperti ini…huwaaa ToT

Btw, saya TIDAK bermaksud menistakan Jaejoong atau apapun. sebenarnya sejak awal ini kan hanya mimpi (?) jadi itu tidak kenyataan. Dan ini sumpah tema paling susah yang pernah dibuat ToT #pundung

Sempat ganti plot beberapa kali..bahkan sampai hapus banyak paragraf .____.)

Satu-satunya kalimat yang masih bisa buat bertahan (?) adlaah kalimat ini:

”Cinta tidak berarti melihat kesempurnaan yang ada, tetapi menerima ketidaksempurnaan dari orang yang kau cintai.”

Tapi ini pun jadi aneh #jedokinlagikedinding

Oke deh, intinya, selamat menikmati (?) semoga suka ToT

Dan saya ingin mendengar pendapat anda? ( :

Thanks ^^

Last, comment?

_Verzeihen

 

15 thoughts on “[FF] Whisper in the Darkness by @_Verzeihen

  1. VOTED.

    Aku suka bgt pemaparan narasi di fanfic ini. Pergolakan emosi Yunho benar2 disampaikan dgn baik. Well-written lah. Ide nya juga ga flat :3

    El, fighting!

  2. VOTE!

    kyaa kyaaaa ~
    sampe kejer pen nangis segalaa ~ huwaaaa gak mungkin banget kalo si jae beneran mengkhianati yunho! dann ~ ini ff keren .
    DAEBAK! buat si eL-umma :’D
    ini bagus suerr ._.v

  3. VOTE

    katakatanya rapi, ide kreatif , bru ini baca yg kya gini🙂
    diprioritas dari sudut pandang yunho .
    awal sampe tengah angst bgt ,aku bacanya gregetan sendiri ,but the end is sweetest moment🙂 good job !

  4. VOTE!!
    KEREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEN!!! idenya bagus… kalimatnya keren >////<… inti ceritanya juga.. aahhh.. suka suka…. ini bener2 kayak nyata.. ugh… tapi ternyata hanya sebuah mimpi… hiks.. keren.. keren… yosh fighting!!!

  5. VOTE!
    suka ma nasarinya,
    ide ma plot nya jg gk flat,dan trnyata itu kyak mimpi gitu kan,,
    dan gk smbarang yaoi jg,
    yaoi in real-life ya yg kyak gini,
    .
    nah eL,
    goodluck yaa ^^
    .
    saya sdah blg susah log-in pke hp😦
    @mrs_kim_aya

  6. VOTE!!!!
    Yunjae emang harus selalu bersatu apapun yang terjadi..
    eon keren banget sih cerita penjabarannya, jarang ada author kayak eon yang bisa menjelaskan cerita dengan bahasa kayak gitu..
    udah gitu, ide cerita eon bener-bener ga ada yang nyamain!! >_< kereeeeennnn banget deh ini FF..

  7. El, mah selalu bikin cerita yang dalam banget
    Nggak rela sih Jae selingkuh terus Yunho juga ikutan, tapi karena mimpi yah nggak apa deh
    Paling suka line kalimat yang dikatakan Se7en
    Pasti ada pengajaran dalam ff-nya El ^^

  8. Waktu penilaian secara resmi kami tutup. Terimakasih atas partisipasi seluruh peserta & reader. Semoga menang yah, Hwaiting! Happy 2nd Annive Fanficyunjae… Yunjae Jjang! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s