[FF] Yun, Ayo Menikah! by @nokomori


RULE VOTING PEMENANG TERFAVORIT

  • Reader silakan membaca seluruh FF peserta.
  • Seluruh reader diperbolehkan voting pemenang terfavorit dengan cara seperti di bawah ini.
    • Format –> VOTE. Lalu beri alasan..
    • Misal –> VOTE! Karena fanficnya lucu sekali bla bla bla..
    • Tanpa kata “VOTE” maka tidak akan dihitung voting.
  • 1 orang 1 vote dalam 1 kategori. Lebih dari 1 akan langsung dihapus.
  • Reader baru silakan tunggu moderasi comment dari kami secara berkala! ^^
  • Batas voting : 17 Mei 2013, 23.59 WIB.
  • Pengumuman : 19 Mei 2013, 20.00 WIB.
  • Kecurangan dalam bentuk apapun akan membuat peserta besangkutan di-diskualifikasi.
  • Happy reading & Khamsahamnida^^

T/N : Akan ada hadiah spesial untuk follower @Fanficyunjae, selengkapnya pantengin TL kita tanggal 11 Mei 20113, 20.00 WIB.

Yun, Ayo Menikah! by @nokomori

Yun, Ayo Menikah!

Oleh : Clown Fish 

Derit rem berdenging menggese permukaan rel, menyerukan kedatangan kereta terakhir. Stasiun segera dihamburi penumpang turun dan dalam waktu hampir bersamaan menjadi kosong ditinggalkan penumpang yang berdesakan memaksakan diri segera memasuki gerbong, berlomba dengan penumpang lain yang tak mau tertinggal karena seluruh gerbong sudah penuh.

Tak lama kemudian tiap pintu gerbong berdesis menutup rapat, kereta kembali melaju meninggalkan stasiun. Membelah udara, menelusuri gelap malam, memecah kesunyian, siap mengantar ratusan penumpang menuju tujuan.

Beberapa lampu kompartemen padam ketika orang-orang memilih tidur dari pada menonton pemandangan serba gelap. Sedangkan yang lainnya, terjaga untuk menyelesaikan pekerjaan di perjalanan pulang atau tak mau melewatkan stasiun terdekat tempat mereka turun.

Kim Jaejoong, satu di antara segelintir orang yang memaksa diri terjaga menikmati pemandangan hitam ditaburi kerlap-kerlip lampu jalan. Mulutnya dibungkus masker hijau, bertopi hitam dan berpakaian tebal, padahal musim dingin masih jauh. Rambutnya mencuat, mencuri udara dari balik topi, nampak kusut hasil bakaran matahari dan tamparan rintangan angin yang dilaluinya seharian ini. Matanya sembab, berkantung, menonjol dan berwarna pucat keabuan.

Ponsel dalam genggaman tangannya bergetar. Jaejoong meliriknya buru-buru, mendapati nama Yoochun tertera pada layar. Sebelum dering ponsel berbunyi dan membangunkan penumpang di sebelah, Jaejoong segera menolak panggilan tersebut lalu menonaktifkan ponsel.

Pintu kompartemen terbuka tiba-tiba. Tanpa suara, seseorang masuk duduk tepat di seberang Jaejoong. Jaejoong tak menghiraukan kedatangan orang tersebut. Bersikuku  mengarah matanya pada lautan hitam di luar.

“Hanya ingin pergi saja atau kau ingin melarikan diri?” sekonyong-konyong pertanyaan keluar dari orang asing itu.

Jaejoong meliriknya tanpa gairah, seseorang bertopi yang Jaejoong kenali pemilik topi tersebut seharusnya Yoochun. Tapi kini topi itu tidak hinggap di kepala sang pemilik asli. “Dasar sasaeng…  Bisa-bisanya kau berhasil menemukanku.”

“Jika tidak ingin ditemukan, matikan ponsel sebelum pergi dan lepaskan cincin itu.” Balasnya sembari menunjuk jari manis Jaejoong dimana sebuah perak murni melingkar berkilauan. Samar ukiran nama di permukaan cincin tersebut timbul. Sorot lampu membuat tulisan itu hilang-muncul.

“Yunho memasang pelacak di cincin ini? Astaga…”

Hyung,” suara orang itu tertahan. Kepalanya berputar dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri mengamati keadaan. Dalam gerakan cepat dia mendesis melepas masker yang menghalanginya berbicara. “Aku tidak kabur jauh-jauh kemari untuk menahanmu, aku ingin kau pergi sejauh mungkin. Tapi Yunho membutuhkanmu. Kau ingin pura-pura tidak tahu kabarnya?”

Jaejoong membuang muka. Mendesah mengeluarkan emosi yang rasanya ingin meledak. Tapi dia tahu, ini hanya usaha Changmin untuk memancingnya menghentikan kepergiannya. “Kau tahu apa? Changmin, aku tidak akan pergi lama dan aku pasti kembali.”

“Tidak. Kau hanya menginginkan kematian Yunho.”

***

“Apa kepalamu terbentur di perjalanan kemari? Aku rasa kau amnesia.”

Jaejoong menyimpan barang bawaannya di semberang tempat. Buru-buru meluncur berpindah ke tempat lain seolah mengetahui persis isi rumah yang didatanginya sebaik dia mengetahui rumahnya sendiri.

Fans mempertanyakan keberadaan Yunho.” Kata suara yang sama dengan sebelumnya.

Pintu kamar terbuka dalam sekali dorongan kasar. Jaejoong segera menjatuhkan diri ke hamparan kasur yang seolah-olah menyambut kedatangannya. Membiarkan tubuhnya terlentang bebas, tak mempedulikan tangan yang tertindih bobot badannya sendiri atau sabuk di pinggangnya yang mulai terasa mencekik. Jaejoong merasa tak punya kekuatan satu gram pun setelah punggungnya menempel dengan kasur. Otot-ototnya mengendur menerima sensasi empuk yang diberikan busa-busa. Membuainya dalam bayangan tidur. Setelah apa yang terjadi seharian, semua yang dia inginkan sekarang adalah menutupkan mata.

“Aku tidak tahu kabar apapun soal Yunho. Semua situs penggemar tentangnya tidak tahu apa-apa dan aku rasa kau tahu sesuatu. Apa SM berbuat berlebihan lagi padanya?”

Jaejoong tak menjawab. Matanya terpejam erat, tapi yakin betul dia belum jatuh tertidur. Jajoong hanya butuh beberapa detik untuk membiarkan seluruh tubuhnya benar-benar beristirahat.

“Apa kau benar-benar Kim Jaejoong? Si Cantik yang dielu-elukan fans sedunia? Yang dalam fanfiction selalu terobesi sekaligus super possessive kepada Jung Yunho? Kau tahu, aku selalu percaya dengan apa yang mereka tulis adalah nyata, dan aku merasa sekarang ini aku sedang berbicara pada Kim Jaejoong palsu.” Katanya panjang lebar sembari duduk di ujung ranjang.

“…lelah… aku lelah..” Jaejoong menjawab susah payah. Suaranya serak dan bahkan terdengar nyaris seperti bisikan. Matanya masih tertutup rapat. “LeeU membenciku sekarang. Kau lihat dia hanya memfollowku di twitter? Aku rasa ini ada kaitannya dengan Yihan.”

“Kenapa? Kenapa kau terdengar peduli? Kau dan LeeU? Oh, God! Jangan-jangan LeeU… padamu? Atau Yihan… padamu? LeeU dan Yihan kemudian—”

“TIDAK!” Jaejoong menyela cepat, nyaris bangkit dari tempatnya berbaring. “Aku tidak bermaksud mempedulikan keduanya. Tapi kau tahu? Soek Chun satu-satunya yang terbuka soal gay, yang lainnya naïf! Berlagak homophobic menyebalkan.”

Lawan bicara Jaejoong mengerlingkan mata mendengar respon Jaejoong. Jaejoong juga menyadari dengan apa yang dilontarkannya. Yakin betul bahwa dia dan lawan bicaranya memiliki keinginan yang sama; memusnahkan seluruh homophobic di muka bumi ini.

Homophobic-homophobic itu hanya memanfaatkan ketenaranmu. Tinggalkan mereka, kau tidak membutuhkan mereka. Jangan khawatirkan soal CjeS, sekalipun mereka mengetahui kau itu gay total, mereka akan tetap menyembahmu seperti Tuhan Uang.”

“Kau terdengar benar, tapi bagaimana dengan anti fans? Sora,  Baek Chang Joo(1) tidak bermasalah dengan orientasi seksku. Orang-orang homophobic itu yang membuatku depresi. Dengar ceritaku, aku ingin bertemu Yunho, tapi mereka seperti kunyahan permen karet di sepatuku! Ketika mereka memberiku jarak, Yunho memintaku untuk tidak menemuinya. Tapi kemudian Changmin mengikutiku sampai Jepang. Changmin ingin aku menemui Yunho. Bukankah ini gila?”

“Apa?! Tunggu, Changmin mengikutimu? Apa dia tahu kau di sini? Di rumahku? Dia tahu kau bersamaku? Dia tahu dimana rumahku?!”

Salah satu sudut bibir Jaejoong naik mendengar nada panik dari perempuan lawan bicaranya. “Tidak…” bisiknya sambil mendengus geli. “…dia mengikuti sampai stasiun saja..”

Sora mengeleng-gelengkan kepala, seakan Jaejoong—yang berbicara sambil menutupkan mata—bisa melihatnya. “Kau pergi ke Jepang naik kereta? Diikuti Changmin? Dan beberapa hari lagi ada fan meeting di Taiwan?” Sora mengeluarkan nada tidak percaya. “Beberapa jam lagi CjeS akan membuat polisi sibuk mencarimu. Aku… itu.. kau… erght! Apa kau benar-benar Kim Jaejoong? Yang pernah menjadi model pakaian brand milikku? Yang sering main kebut-kebutan denganku? Yang sering menyuruhku mengendalikan fans? Kau yakin tidak amnesia gara-gara tertekan terlalu lama?”

“Aku Jaejoong, Sora-ssi… Aku Kim Jaejoong yang sering kau panggil ‘Maniak Selca’, dan aku mengingatmu dengan baik. Kau yang selalu membantuku menangani Yunjae Shipper.” Mata Jaejoong terbuka. Sebelah tangannya yang tertindih mulai bergerak perlahan melepaskan diri. “Terimakasih sudah mau menjadi teman rahasiaku, Aoi Sora Si Maniak Yunjae.” Jaejoong tersenyum tipis. Senyuman yang terlihat lebih baik dari pada pertama dia tiba di sini.

“Cih! Kisah hidupmu di fanfiction jauh terdengar lebih nyata dari pada kehidupan aslimu sendiri. Hidupmu ini seperti drama! Jika kau benar-benar Kim Jaejoong, harusnya kau berani datang mendobrak pintu SM dan membunuh Baek Chang Joo dengan memberi dia adegan ciuman Yunjae di depan umum. Bukannya curhat-curhatan melankonis kepadaku!”

Jaejoong tersenyum lemah, tak mengindahkan kalimat Sora dan mulai berusaha tidur. Merasakan seluruh persendian kakinya berdenyut lelah. Ada sebersit sakit di kedua tumitnya yang berubah menjadi rasa nikmat ketika kesadarannya berangsur-angsur berpindah ke dunia mimpi.

Sora membuang tatapan. Keningnya saling bertaut dan beberapa kali melirik Jaejoong ragu. “Ya, aku percaya kau ini Jaejoong. Tapi tetap saja aneh. Kau berusaha tidur tanpa obat? Terdengar seperti keajaiban.” Sora memperhatikan pipi Jaejoong yang lebih cekung dari terakhir kali dia bertemu Jaejoong. Tubuh kurus efek mengkonsumsi obat tidur dan penenang.

Jaejoong perlahan kehilangan setengah kesadarannya. Sekalipun suara Aoi Sora berubah samar, Jaejoong masih berusaha menjawabnya, tak peduli jawaban yang dia susun dalam kepala terlontar kacau.

“Jaejoong,” Sora memanggil, tetapi Kim Jaejoong, laki-laki penyandang artis besar itu tak menjawab. Desah nafas kasar terdengar keluar dari mulut Jaejoong. Sora pun menyadari Kim Jaejoong telah jatuh tidur sempurna.

“Cinta membuat setiap orang gila.”

Sesuatu melingkar di kedua kaki Sora. Saat ditengok, Sora mendapati seekor anjing berbulu coklat keemasan bergelung di pergelengan kakinya. Sora tersenyum dalam usaha membuang perasaan kacaunya melihat anjing tersebut. “Hiro-kun, kau merindukan pemilikmu, Yunho? Atau kau merindukan pemilik keduamu, Jaejoong?” Sora memangku Hiro-kun, menimang-nimangnya seolah seorang bayi manusia. “Andai Jaejoong perempuan, pasti kau ini bayi manusia. Sayang sekali ya kedua pemilikmu laki-laki dan mereka artis yang tidak memiliki banyak waktu untuk merawatmu. Akhirnya aku yang jadi korban.”

Sora membuang perhatiannya kepada Jaejoong yang tertidur dengan dada naik-turun beraturan. Seakan hanya melihatnya saja Sora mampu mendengar sekaligus merasakan tiap hembus nafas Jaejoong.

Sora beringsut dari tempatnya duduk. Meraih pintu keluar, menutupnya perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian supaya tidak menimbulkan suara sedikit pun.

“Hiro-kun, ayo katakan selamat tidur, Tuan Putri~~

***

“Sudah sarapan, Tuan Putri?” kata Sora yang baru saja terperengah kaget merasakan sebelah telinganya berhenti mendengar alunan lagu rock yang disalurkan headset. Jaejoong menariknya lepas demi mendapat perhatian Sora.

“Belum.” Jaejoong menjawab singkat tanpa tersenyum.

“Kau hampir tidur dua puluh empat jam nonstop, tanpa makan dan minum. Kau ingin menjadi mummy hidup?”

“Apa yang kau cari di sana?” Jaejoong mendekatkan wajahnya ke layar komputer yang sedang Sora buka. Menampilkan sederetan foto, jumlah tab maksimal dalam satu browser dan beberapa aplikasi mengobrol sedang aktif dipenuhi pemberitahuan di jajaran start menu.

“Aku mencari keberadaan Yunho.” Sora mengetik beberapa kalimat, membalas sejumlah akun yang datang memberikan obrolan. “Susah sekali ya… padahal aku berteman dekat dengan pacarnya. Hmm…pacarnya memang possessive. Aku kan hanya ingin tahu apa kabar Yunho, bukan berarti aku mempedulikan Yunho sebagai kekasih.”

Jaejoong menjatuhkan diri ke sofa di dekat meja komputer. Bergerumul dengan bantal-bantal di atasnya sehingga menarik perhatian Hiro-kun untuk bergabung. “Tolonglah, aku kemari karena aku menghindar dari semua tentang Yunho.”

Kursi yang diduduki Sora berputar cepat 180 derajat menghadap Jaejoong. “Ada apa denganmu, Jae? Separah itukah Yunho sekarang? Dia menyakitimu sampai kau tak ingin menemuinya? Kau menyerah?”

“Aku akan tetap menemuinya sekalipun Yunho tidak menginginkanku!” Jaejoong membentak. Urat-urat lehernya muncul ke permukaan bersama dengan mata yang seakan-akan bisa melompat keluar untuk memberi tamparan. Sora mengerlingkan mata, kembali fokus pada layar komputer dan keyboard.

“Tidak usah semarah itu. Aku hanya ingin tahu ada apa dengan Yunho yang menghilang dari muka publik. Kenapa hanya Changmin yang berkeliaran? Kenapa kau mengupload banyak foto half naked akhir-akhir ini? Apakah sesuatu yang berhubungan dengan frustasimu? Frustasi kehilangan Yunho? Jadi, ada apa dengan Yunjae? Jangan panggil aku Yunjae Believer jika aku tidak penasaran tentang semua ini.”

Jaejoong mendengus tak bisa menahan tawa yang meluncur mulus dari mulutnya. “Aku heran, kenapa aku bisa berteman dengan Yunjae Shipper dan membongkar sebagian besar rahasiaku.”

“Karena teman-temanmu terlalu homophobic, bahkan orang gay di dekatmu memilih berpura-pura straight gara-gara mereka.” Sora berkomentar sambil kembali fokus ke layar komputer. “Sebaiknya kau segera pergi, Jae. Aku tidak ingin CjeS mengirimkan polisi ke sini. Bukankah CjeS memberimu banyak jadwal?”

“Nanti siang aku akan pulang. Naik kereta.”

“Masih berlagak manusia biasa? Yoochun dan Junsu mungkin bisa. Tapi selebriti sepertimu, sekali ketahuan fans bisa mati diperkosa. Aku bicara soal sasaeng fans. Jangan pakai baju-bajumu. Fans pasti hafal betul model dari tiap brand yang pernah kau pakai. Gunakan koleksi NII musim gugur di lemariku. Semuanya belum diberi label dan belum pernah muncul di publik. Aku akan membuat yang baru untuk diajukan kepada NII.”

“Bisa kau ikut denganku? Menemui Yunho?”

Bising jentikan jari di papan keyboard tiba-tiba senyap. Sora berbalik, menghadap langsung Kim Jaejoong, memberinya tatapan dingin. “Sejak kapan kau takut bergerak sendirian? Dasar otak labil!”

Jaejoong mendesah, mengakui ketidakmampuannya yang muncul dengan sangat aneh. Dulu Jaejoong bisa menghasut Yoochun dan Junsu untuk melawan Lee Soo Man dan masih berani menjejakkan kaki di gedung SM setelah berhasil menjatuhkan Presiden Manajemen tersebut. Kini, Jaejoong merasa tak miliki kekuatan untuk sekedar menemui salah satu artis SM sekaligus kekasihnya.

“Jika menemui Yunho artinya menemui Changmin, tidak. Maaf, aku tidak bisa. Kau bisa ajak Hiro-kun.” Hiro-kun menggeram kecil dalam pangkuan Jaejoong ketika Sora menyebut namanya seakan-akan mengerti percakapan di antara manusia. “Aku akan membantumu semaksimal mungkin dari sini, sama seperti aku bekerja kepada NII di Korea. Internet lebih cepat dari pada shinkansen (2).”

“Aku dan Yunho, seperti…” Jaejoong menggantungkan kalimatnya. Tanpa sadar jari jemarinya meremas kuat rambut Hiro-kun sampai anjing berwarna keemasaan itu menggonggong ingin melepaskan diri.

“Seperti Romeo dan Juliet.” Sora melanjutkan. “Bahkan SM dan CjeS bukan orangtua kalian. Fans dan pencandu uang itu terlalu gila untuk mencampuri kehidupan pribadi kalian. Sebaiknya kau berhenti menjadi artis terkenal, Jae. Menikahlah dengan Yunho, aku akan mendukung dan mencari dukungan untuk kalian. Yjs tidak hanya seratus ribu di muka bumi.”

“Tidak, Lee Soo Man mendukung kami. CjeS pun tidak keberatan selama fans tidak mengetahuinya.”

“Oh iya, Lee Soo Man si Biro Jodoh… dia mendukungmu sampai kau keluar dari SM. Ayolah, Jae… CJes itu stan JYJ sekaligus homophobic! Tidak ada yang mendukung kalian sekarang, tidak saudari-saudarimu, ibumu atau ibu kandungmu, yang ada hanya fans, Ye-Je-eS! Kau tahu kenapa Yunho menghilang? SM menyembunyikannya darimu! CJeS mengambil kesempatan itu untuk membuatmu sibuk dan melupakan Yunho selamanya. SE-LA-MA-NYA! Bukankah kau pernah memberitahuku soal seberapa tidak adil hidup ini? Mereka memojokkanmu.”

“Yunho sedang sakit!” Jaejoong meraung member pembelaan, bangkit berdiri sampai Hiro-kun melompat turun dari pangkuan. “Changmin memintaku menemui Yunho. Tapi aku menolak. Aku tidak bisa menemui Yunho hanya satu jam atau satu hari, dan aku tidak ingin CJeS mencurigai hubunganku dengan Yunho. Tidak bisakah kau mengerti aku mencari perlindungan di sini? Aku mencari ketenangan yang tak bisa kudapat ketika bersama Yoochun dan Junsu. Mereka selalu mengetahui masalahku. Bukankah kau fan yang berbeda?”

Sora mendengus, melipat kedua tangan di depan dada. “Salah. Aku sama. Aku hanya sedikit rasional dan mengetahui lebih banyak kebenaran Yunjae dari sumber primer. Sekarang, demi janggut merlin, pergi temui Yunho sebelum dia mati dilahap apapun penyakit yang sedang dideritanya!”

“Yunho tidak akan mati! Astaga, kenapa kau selalu memberiku pikiran negatif?! Penyakit lambung saja tidak akan membunuhnya!”

“Dan demi tachos di Spanyol! Bagaimana aku bisa percaya kau ini Kim Jaejoong? Kenapa kau menolak menemui Yunho? Kalian bertengkar? Kim Jaejoong yang aku kenal itu Si Yunho Addict! Sejak kapan kau begitu tenang menghadapi Yunho? Sekedar mengingatkan, penyakit lambung kronis bisa mengakibatkan ke-ma-ti-an. Ku dengar ada yang tidak mati, tapi dokter memvonisnya menderita kanker lambung. Apa kau sadar kenapa Changmin sampai mengikutimu? Kau tahu Changmin rela berkorban banyak demi seseorang berharga dalam hidupnya, Yunho misalnya? Apa kau menyadari itu? Hell, Jae… aku YJS dan tidak akan meruntuhkan hubungan kalian berdua.”

Jaejoong menyambar tas di ujung sofa, menyeretnya bersama langkah lebar keluar dari kediaman Aoi. Sebelum berlalu, Jaejoong memberikan sorot peringatan kepada Sora. “Aku akan membunuhmu jika Yunho mati. Kau dan pikiran negatifmu harus musnah!”

Bantingan di pintu keluar kediaman Aoi membuat Hiro-kun meringkuk di bawah meja. Anak anjing itu menggeram kecil ketakutan sampai Sora menghampirinya, mengajaknya keluar dari persembunyian. “Tuanmu gila dan aku dua kali lebih gila karena mendukung orang gila.”

***

“Yunho…”

“Aku tidak suka Kiss B.”

Sorot rembulan menembus serat-serat tirai, jatuh di permukaan permadani. Ruangan remang terisi gema percakapan antar dua laki-laki. Seorang laki-laki terbaring di kasur dan yang lainnya duduk di lantai menidurkan kepala di ranjang sambil menggengam tangan lawan bicara. Garis-garis pucat cahaya bulan menerangi sebagian wajah laki-laki yang sedang duduk. Mempertegas warna kulit laki-laki itu, pucat.

“Kau menyukainya. Kau mengatakan itu padaku ketika kau pertama kali mendengarnya. Kau menyukaiku, menyukai suaraku, menyukai lagu-laguku, kau menyukai segala yang aku punya.”

“Aku tidak suka liriknya.”

Jaejoong menengadahkan kepala, mencari mata Yunho di antara kegelapan. “Dulu kau bilang itu seksi. Sekarang kau tidak menyukainya? Kenapa?”

“Jae, jam berapa sekarang? Kau tidak ingin aku sakit lebih lama lagi ‘kan?”

Jaejoong beranjak dari duduk, merangkak naik ke perut Yunho sambil berhati-hati supaya tidak menggoyang jarum infusan. “Kau tidak ingin berlama-lama bersamaku? Kau tidak merindukanku?”

“Ugh, Jae! Kau terlihat ramping, tapi tetap ber..at… Ugh! Lambungku! Lambungku!”

Jaejoong menyimpan keningnya di kening Yunho, menahan sebagian berat badannya di sana dan sebagian lain di kedua tangan di masing-masing sisi Yunho. “Kau tidak menyukai Kiss B karena kau tahu LeeU membantuku membuat liriknya, hm?”

“Jae, aku tidak ingin seseorang menemukanmu di kamarku. Kita tidak bebas seperti dulu lagi.”

“Tidak ada yang tahu aku masuk ke sini, saat aku berada di sini atau keluar dari sini pun tidak akan ada yang tahu. Percayalah padaku, baby…”

Jaejoong tersenyum tipis, teringat beberapa orang di luar kamar yang mungkin sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Orang-orang itu yang SM bayar untuk merawat Yunho selama Yunho tidak bisa dilarikan ke rumah sakit karena keganasan fans bilamana menemukan Yunho, juga karena Lee Soo Man mengetahui Jae akan datang diam-diam. Lee Soo Man memutuskan untuk mengisolasi Yunho di apartemennya sendiri. Tapi, Kim Jaejoong tak bisa dihentikan kecuali dikehendaki oleh dirinya sendiri.

“Kau tahu, Yun? Salah satu dari suster itu adalah penggemar setiamu dan Changmin. Tapi aku membuatnya menjadi penggemar Yunjae sekarang. Apa itu membuatku seksi?”

Yunho menggeram, mendorong kedua bahu Jaejong menjauh. “Sudah ku katakan padamu, jangan-temui-aku! Aku baik-baik saja. Lebih baik kau pulang dan beristirahat untuk jumpa fans di Taiwan nanti.”

“Kenapa kau menolakku? Apa aku mulai membosankan? Kita tidak pernah punya banyak waktu untuk bertemu. Kenapa kau sangat ingin menjauh dariku? Kau mengencani salah satu artis SM, Hah? Siapa?!”

“Jae,”

“Kau muak digosipkan homoseksual? Kau tidak suka itu? Kau mulai berubah pikiran? Katakan, perempuan mana yang mengubahmu menjadi homophobic?”

“Tidak ada perempuan yang membuatku seperti itu. Tapi,” Suara Yunho tertahan. Sesaat, jeda mengisi, memberikan kehenigan. “Tapi, Bagaimana kalau aku memang ingin putus?”

Nafas Jaejoong tercekat, sekonyong-konyong menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.  Kemudian kembali jatuh ke dada Yunho untuk melahap lawan bicaranya ke dalam ciuman ganas.

Yunho yang tak merasakan apapun selain gigitan yang melukai, akhirnya mendorong Jaejoong sampai Jaejoong terpaksa beringsut dari perut Yunho. Duduk di samping sambil membuat kerucut di bibir. “Dulu kau tidak seperti ini. Kau selalu menarikku dalam pelukan. Sekarang bahkan kau tidak ingin melihatku. Apa kau melihat kerutan di wajahku? Apa aku terlihat tua? Terlihat jelek? Apa perlu operasi plastik?  Apa—“

Satu ciuman kilat menghentikan kalimat Jaejoong. Yunho tersenyum kecil, menarik salah satu tangan jaejoong turun dari ranjang. “Kau tahu, Lee Soo Man tidak berada di pihak kita lagi. Dia bisa menuntutmu di pengadilan hanya karena keberadaanmu di sini.”

“Yun,” Jaejoong memanggil dalam nada halus yang menjadi khas suara Jaejoong. Aura perempuan dalam dirinya keluar, maksimal. Memastikan Yunho merasakannya karena Jaejoong siap memberi ultimatum yang seharusnya tidak Yunho tolak. “Ayo berhenti menjadi artis dan mulai hidup menjadi manusia biasa di negera lain!”

Yunho melepas tangannya dari Jaejoong, memalingkan muka, memberikan raut beku. Senyuman lebar Jaejoong surut, berubah menjadi sesuatu patah oleh kekecewaan. Sebelah tangannya berusaha meraih Yunho ketika tiba-tiba tangan itu terasa berat dan tak bisa digerakkan.

“Pulanglah, Jae. Kau sangat kelelahan.”

“Tidak. Aku serius. Aku tahu, aku pernah mengatakan sesuatu yang bertolak belakang. Sekarang aku berubah pikiran. Aku tidak mau fans, pemujaan gila, ketenaran, aku hanya ingin menjadi cantik dan dicintaimu. Apakah aku salah? Ayo hidup bersama, Yun!”

Yunho mendengus, “Kau butuh uang untuk hidup, Jae… satu-satunya pekerjaan yang bisa kau lakukan dengan baik adalah menjadi Kim Jaejoong.”

“Aku punya Coffee Cojjee. Jika itu masih tidak cukup, akan ku buka toko lain. Kau seharusnya membuat asset juga. Bukankah itu juga menghasilkan uang? Dan kita bisa terus bersama.”

“Jae, jangan kau pikir itu mudah. Jika kau pergi denganku, CjeS mungkin tidak akan melakukan apapun padaku, tapi fans? Bagaimana dengan anti fans yang mungkin tinggal di sekitar rumah masa depan kita, atau anti yunjae fans yang nekat pergi jauh-jauh menyusul rumah baru kita? Mereka bisa membunuhku atau membunuhmu!”

Jaejoong mengambil langkah mundur, memberi jarak yang jauh di antara keduanya. Menarik nafas panjang lalu meledak, “Katakan saja jika kau memang tidak ingin bersamaku lagi!”

Dalam satu gerakan cepat, dia berbalik keluar membanting pintu, tak memberi kesempatan untuk Yunho menjawab.

***

Tiga hari kemudian, Jaejoong kembali ke kediaman Aoi. Tidak bisa disebutkan kedatangannya ini sebagai kunjungan. Karena rumah Aoi Sora adalah tempat persinggahan alternatif ketika rumahnya sendiri atau tempat dimana Yunho tinggal tidak bisa Jaejoong masuki.

Jaejoong duduk bersandar di sofa, merasakan tumitnya berdenyut  sehabis berlarian di bandara menghindari kejaran beberapa orang yang mencurigai identitas aslinya. Aoi Sora memperburuk keadaan dengan berkacak pinggang merasa tak senang dengan apa yang dilakukan sang Idola. Menghilang selama tiga hari kemudian muncul tiba-tiba dengan mata belel parah. Sekalipun sudah dijelaskan berkali-kali, selama tiga hari itu Jaejoong habiskan untuk beristirahat, insting Aoi Sora terlalu kuat untuk dikelabui Kim Jaejoong.

“Kau tahu, kenapa aku tak percaya kau hanya berdiam diri di rumah selama tiga hari ini?” Sora memulai. Jaejoong meliriknya enggan, lebih ingin menutupkan mata barang lima menit saja.

“Bukti kontrak antara SM dan TVXQ hilang.” Aoi Sora melanjutkan dengan nada tegas, jelas dan ditekan di setiap katanya. Memaksa Jaejoong terhenyak dari posisi duduk dan membuka mata. Mengusir rasa lelah dalam sekali tamparan.

“Apa maksudnya itu?”

“Bukti kontrak mereka hilang. Lenyap. Tidak ada di tangan Lee Soo Man, Yunho atau Changmin. Secara procedural, kontrak mereka batal.”

Mata Jaejoong terbuka lebar, terhenyak. Makna ‘kontrak batal’ berarti banyak hal. Hidup Yunho, hidupnya, hubungannya dengan Yunho, karirnya, karir Yunho dan mungkin status belum menikahnya sekarang akan segera berubah. Jaejoong telah lama berencana mengusut Yunho supaya melamarnya. Tetapi itu masih terlihat seperti mimpi sampai Jaejoong mendengar kabar ini. Di satu sisi, kabar ini buruk dan di sisi lain sebaliknya, luar biasa cemerlang. Jaejoong dan Yunho bisa hidup layaknya orang normal tanpa ketenaran berlebih. “Berita ini sudah menyebar di publik?”

“Tidak. Publik belum tahu.” Aoi Sora membalas dingin sembari berlalu membalikkan badan kembali ke meja komputer dan tidak melanjutkan percakapan.

Jaejoong menyambar salah satu bantal sofa terdekat, melemparnya keras-keras tepat di kepala Aoi Sora. Kejutan listrik dan perasaan membuncah di jantungnya segera lenyap menyadari sesuatu hal yang tidak benar sedang terjadi. “Beraninya mempermainkanku! Kau pikir lelucon seperti itu lucu?!” Jaejoong berfikir Aoi Sora sedang menipunya.

Aoi Sora mengaduh, mengusap bagian kepalanya yang terkena benturan. Jaejoong memiliki kekuatan besar untuk mengubah bantal empuk menjadi senjata ampuh. “Aku tidak membuat lelucon!” Aoi Sora menyembur.

“Kalau publik belum tahu, bagaimana bisa kau tahu? Kau bukan salah satu pegawai Lee Soo Man, kau hanya fans biasa yang terbiasa menjelajah internet sampai ke tulang-tulangnya!” Jaejoong balik menyembur.

“Seseorang memberitahuku. Seseorang yang bekerja untuk Si Tua Lee Soo Man. Dia memberitahuku karena hanya dia dan aku yang mengetahui pelaku pencuri bukti kontrak itu.”

Jaejoong tak bergerak selain memperlebar mata, lagi. “Pencuri?”

“Jangan berpura-pura polos! Kau pikir siapa lagi artis gila segila penggemarnya? Kembalikan bukti kontrak itu, Jae, atau Yunho dan Changmin tidak akan dibayar sebanyak seharusnya mereka dibayar.”

Jaejoong tercekat. Nafasnya terhenti untuk beberapa lama, mencerna kalimat terakhir Aoi Sora. “Kau… menuduhku…? Aku memang ingin Yunho berhenti bekerja pada SM, tapi tidak dengan cara murahan seperti itu. Siapa pegawai SM yang memberitahumu?”

“Hohoho jangan mengelak, Jae… Aku akui, kau licik dan hebat! Kau akan menikah dengan Yunho setelah ini? Dimana? Haruskah aku mengundang beberapa YJS terdekatku?” Aoi Sora menyeringai, menampilkan sepasang gigi taringnya yang sangat menonjol di banding gigi-gigi depannya yang lain. Terkekeh geli menyetujui tindakan Jaejoong atas pencurian tersebut sangatlah brilian.

“Astaga…” Jaejoong menggumam kecil, berusaha mengatur nafasnya sendiri. “Aku-tidak-melakukan-apapun.” Jaejoong menggeram kesal, tak tahan ingin tahu biang kerok penyebar info palsu ini. Apalagi jika Lee Soo Man sampai tahu dan memutuskan untuk mengumumkannya di depan publik. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi pada karirnya dan hubungannya dengan Yunho. Berantakan total. “Aku harus membunuh siapapun yang memberitahumu soal ini.”

“Kau tidak akan bisa membunuhnya dengan alasan apapun.”

Jaejoong melayangkan sorot peringatan dan di seberangnya, Aoi Sora tanpa getir membalas sorot tersebut. Salah satu sudut bibir gadis itu naik sambil mendengus menantang. “Aku bukan penggemar biasa, Jae. Percaya padaku, kau tidak akan bisa membunuh orang itu.”

Aoi Sora beringsut dari tempat duduk, mengambil langkah mundur ketika tiba-tiba Jaejoong berlari ke arahnya, mencengkram kerah kemejanya seperti seseorang yang hendak menghajar pencopet di tengah jalan.

“Kau tahu, orang itu menyebarkan kebohongan dan bisa menghancurk—“ kalimat Jaejoong terhenti. Hidungnya mencium sesuatu yang sangat familiar. Mengendus-endus seperti anjing dan mendekat meniadakan jarak antara dirinya dan Aoi Sora. “Kau… berbuat apa dengan Yunho?” tanyanya bernada mengancam, melempar sorot menyudutkan. Membuat Aoi Sora merasa tidak nyaman.

Sesaat Aoi Sora tertegun, sebelum menggelitiki Jaejoong dengan berkata, “Bagaimana kalau aku bilang…” Aoi Sora menggantungkan kalimatnya, membiarkan Jaejoong dilahap rasa ketidaksabaran.

“Yunho yang memberikan berita bohong itu? Kau bertemu dengannya? Apa yang kalian lakukan sampai parfumnya menempel padamu?”

Aoi Sora mendengus pendek, menggelitik tangan Jaejoong supaya melepas cengkramannya. Tapi dengusan itu memaksa Jaejoong mengeratkan cekraman lebih kuat, menarik Aoi Sora dalam peringatan serius. “Berita itu benar. Soal pencurinya, Yunho terlihat lebih tahu daripada aku. Oh, maaf… aku tidak bisa berbuat apa-apa jika Yunho sendirilah yang tidak ingin lagi….” Jeda cukup lama sampai Aoi Sora melanjutkan lagi. “Dia tidak ingin lagi untuk… Dia ingin putus denganmu.”

PLAK!

“Sekarang kau berpindah ke anti fans, HAH?!” Jaejoong berseru keras setelah melayangkan tangannya tanpa ampun ke salah satu sisi wajah Aoi Sora, penggemar setia dari Yunjae dan mengabdikan sebagian hidupnya melindungi dan menyokong pasangan gay tersebut. Tapi Jaejoong akan melawan siapapun yang menginginkan hubungannya dengan Yunho berakhir, sekalipun yang menginginkan hal itu Yunho sendiri. Cintanya dan Yunho haruslah abadi.

“Sakit…” Sora memegangi pipinya yang perlahan-lahan berubah warna menjadi kemerahan. Saat Jaejoong hendak meraih gadis itu lagi, tiba-tiba Yunho muncul menyela jarak antara Jaejoong dan Sora. Mengejutkan sekaligus menghentikan gerakan Jaejoong.

Yunho dan Jaejoong saling berhadapan, tak melepas tatapan satu sama lain. Pikiran Jaejoong melompat-lompat dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain. Kehadiran Yunho di sini, penyakit lambung Yunho, bagaimana Yunho ke sini, kenapa Yunho bisa bertemu Sora dan untuk apa Yunho di sini. Tak menyadari perlahan-lahan Aoi Sora merayap berpindah tempat, merangkak naik ke atas sofa memeluk kedua lutut, merasakan panas tamparan Jaejoong.

“Kenapa kau mengambil bukti kontrak kami?” Yunho memecah keheningan.

“Kau… di apartemen, Changmin…?” Suara Jaejoong tercekat-cekat, bingung pertanyaan mana yang akan dia dahulukan. “Bagaimanaa kau bisa ada di sini?” Jaejoong memotong, segera meraih kedua tangan Yunho, menggenggamnya erat. Tak mengindahkan keinginan Yunho membahas hilangnya bukti kontrak. “Bagaimana kau tahu aku ada di sini?”

Saat hendak membuka mulut, Sora menyela tarikan nafas Yunho. “Changmin membayar seseorang untuk memata-mataimu, Jae.” Yang tak dipedulikan Jaejoong.

“Astaga, kau harus segera pulang. Kau masih sakit.” Kata Jaejoong kepada Yunho.

“Jae, kembalikan kontrak TVXQ, atau kita benar-benar berakhir!”

“Kau sakit, Yun!” Suara Jaejoong meninggi, menyaingi nada Yunho. “Aku tidak melakukan apapun.”

“Kau mencurinya supaya aku berhenti bekerja lalu mengikutimu pergi ke suatu tempat dan hidup seperti yang kau inginkan! Tidakkah itu egois, Jae? Aku mencintaimu. Aku mohon, mengertilah…”

“Yunho, ak—“

“Maaf, permisi!” Sora beringsut dari tempat duduk, melangkah memposisikan diri berada di antara Yunho dan Jaejoong. “Sekalipun aku penggemar berat Yunjae, tapi aku tidak ingin menonton drama sabun kalian. Selesaikan masalah dengan baik-baik. Kalian boleh melakukan apapun yang kalian inginkan di rumahku, kecuali menghancurkan barang. Aku akan pergi bersama anak adopsi kalian. Aku tidak ingin rumahku berantakan ketika aku kembali. Aku dan Hiro-kun akan pulang larut, sangat larut dan mungkin baru pulang pagi. Kalian punya banyak waktu melakukan apapun yang kalian inginkan. Bersenang-senanglah!”

Bersama itu, Sora memangku Hiro-kun yang bersembunyi di bawah meja. Membawanya pergi meninggalkan ruangan. Yunho dan Jaejoong yang masih berkutat satu sama lain tidak nampak terganggu dengan interupsi Aoi Sora Sang Pemilik Rumah.

“Setelah menjatuhkan Lee Soo Man, kenapa kau tidak pernah jera, Jae?”

“Karena kita tidak akan pernah berakhir sekalipun kau mengatakannya berulang-ulang.”

“Kembalikan bukti kontraknya dan menikahlah denganku.” Yunho tersenyum, membalas genggaman tangan Jaejoong.

“Dasar licik! Kau pikir dengan berkata begitu aku akan mengembalikan kontraknya?”

Yunho mengangguk kecil, tak menyurutkan senyuman. Barang sedetik saja, Jaejoong pun sama, tak redup dari wajah riang. Kecemasan, kebingungan dan takut akan kondisi kekasihnya yang memburuk, perasaan-perasaan itu sirna. Kini, ilusi tentang masa depan yang seolah-olah akan selalu terang tergambar jelas. Semuanya akan seperti ini, bersama Yunho dan cinta mereka yang bermekaran.

“Aku ingin mengatakannya ketika kau berada di apartemenku, tapi… Hei, kenapa kau diam? Baiklah, kau boleh tidak mengembalikan kontraknya. Tapi… kau tidak ingin menikah denganku?”

“Kalau aku tidak ingin, apa kau akan memaksa?”

Yunho menarik Jaejoong, menenggelamkannya dalam pelukan ketika bibir mereka saling bertaut padu dalam satu sinkronisasi cinta.

***

Di bagian kehidupan lain, anak angkat dari Yunjae bersama pelayan setia mereka, Hiro-kun dan Aoi Sora, berbaring kegirangan di kamar hotel. Masih merasakan sisa-sisa sensasi seru atas serangkaian kegiatan yang mereka lalui seharian ini. Menghabiskan sejumlah uang, menjelajahi setiap jajanan pinggir jalan dan berseru saling bertukar pendapat dalam volume suara setinggi-tingginya (sekalipun kenyataannya Hiro-kun tidak bisa berbahasa manusia, begitupun kebalikannya. Tetapi mereka berdua bersenang-senang layaknya mengerti satu sama lain).

“Apa orangtuamu masih bersenang-senang sekarang?” Sora mengetik pesan dalam kecepatan luar biasa, kecepatan yang dia dapat dari hasil tuntutan Jaejoong supaya memberikan informasi dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Hiro-kun menggonggong. Aoi Sora terkekeh, menggelitiki perut anjing tersebut seakan-akan mereka memiliki satu percakapan pendek yang menggelikan. “Ya.. ya.. ya.. sesudah bertengkar, pasti mereka berbaikan dengan melakukan sssss…” suara Aoi Sora tersendat, tiba-tiba terbatuk yang disusul ledakan tawa tanpa peringatan. Tawa panjang yang akhirnya dihentikan oleh bunyi ponsel. Balasan pesan dari Kim Jaejoong.

[Aku berterimakasih karena kau telah membuat rencana hebat segila ini.  Tapi jangan berani-berani membawa namaku atau Yunho jika suatu hari apa yang kau lakukan terhadap surat kontrak SM terbongkar. Aku ingin kau kembalikan kontrak mereka secepat mungkin dan dengan sangat ekstra hati-hati! Oh, kau harus minta maaf padaku karena sudah mengataiku otak labil!]

Dalam satu waktu cepat, Aoi Sora membalas, [Akan aku kembalikan sebelum kau bisa mengedipkan mata jika kau menjawab pertanyaanku.]

[Apa?]

[Kau dan Yunho pernah melakukan sex?]

Aoi Sora tidak bisa tertawa ketika mendapat jawaban dari Kim Jaejoong, kecuali menjerit, melompat, menggigit dan menyerang apapun yang ada di dekatnya seperti orang gila. Bahkan dia menerkam Hiro-kun. Imajinasinya bergerak segila yang tak pernah orang-orang bayangkan. Kekuatan imajinasi yang terkumpul ganas selama menjadi penggemar berat Yunjae.

***

Acara jumpa fans Kim Jaejoong di Taiwan akhirnya tiba, Jaejoong diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penggemar— sebuah kegiatan yang sudah diatur oleh staff. Pertanyaan ditulis di kertas warna-warni yang ditempel pada sebuah papan. Pertanyaan dalam bahasa Taiwan, jadi Jaejoong mendengarkan selagi penerjemah membacakan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“…. Selanjutnya dari *&#&*#” sang penerjemah menyebutkan salah satu nama orang Taiwan yang tak bisa Jaejoong dengar dengan jelas. “pertanyaannya, oppa, apa kau akan menikah? Dengan siapa?” yang kontan saja mengundang penggemar Yunjae menyerukan nama Yunho dan dibalas gelagap tawa malu-malu oleh Jaejoong.

Jaejoong yakin, siapapun penulis pertanyaan itu, dia bukanlah orang Taiwan. Melainkan seseorang yang diam-diam mengetahui rencana pernikahannya dengan Yunho. Seorang fan gila yang mungkin sedang tertawa terbahak-bahak menyaksikan siaran langsung acara jumpa penggemar ini pada layar komputer.

***

Aoi Sora menutup layar komputer lalu menyalakan layar komputer yang lain dengan masih memasang seringai di kedua sudut bibir. Dia harus kembali membuat desain pakaian baru untuk koleksi NII setelah Jaejoong mengenakan desain yang sudah siap dipromosikan kepada pihak NII minggu lalu. Meskipun harus bekerja dua kali, Aoi Sora tidak merasa lelah. Justru dia sangat terhibur. Sangat. Sangat.

Sepulang dari hotel, Hiro-kun menemukan struk pembelian perhiasan di salah satu ruangan rumahnya. Struk yang tak dituliskan siapa nama pembelinya, tapi Sora ingat betul tidak pernah ada tamu datang ke rumahnya selain Yunho dan Jaejoong. Mudah sekali tertebak pemilik struk tersebut.

Sejak hari itu, Aoi Sora belum bisa menghubungi Jaejoong secara langsung. Pekerjaan membatasi gerak komunikasi mereka. Tapi itu bukan masalah. Aoi Sora selalu memiliki waktu untuk memantau Jaejoong dan Yunho dari jauh, termasuk menyaksikan acara jumpa penggemar Kim Jaejoong di Taiwan.

Beberapa hari kemudian, Aoi Sora dan jutaan fans lain akhirnya menemukan kabar berita bersama foto terbaru Yunho bertebaran di internet. Foto Yunho di bandara yang terlihat dalam keadaan mood luar biasa bagus. Katanya, Yunho baru pulang dari Jepang. Tak ada yang tahu kapan Yunho berangkat ke sana dan berita itu sebenarnya masih simpang siur. Aoi Sora Si Teman Rahasia Yunjae pun tak tahu apa kebenarannya.

Mungkinkah Jaejoong dan Yunho sudah menikah di Jepang? Bukankah Jepang itu Negara yang sangat luar biasa? Bahkan para otaku(3) bisa menikahi bantal bergambar tokoh kartun. Yunjae selalu menjadi bagian dari misteri. Itu kenapa mereka memiliki penggemar gila untuk membongkar setiap rahasia mereka.

 END

Catatan :

(1)   Presiden CJeS

(2)   Kereta tercepat di Jepang

(3)   Sebutan untuk maniak kartun Jepang.

10 thoughts on “[FF] Yun, Ayo Menikah! by @nokomori

  1. VOTE : Aww..so sweet…
    ga heran klo JJ bertindak seperti itu..rasa”nya sudah maklum..dia ga akan berhenti klo dia ga mau..
    Aku berasa kaya baca FF translate..kereeeennnn….
    Daebak authornya…Nice write..

  2. Hai. sebelumnya aku mau minta maaf ga bisa vote ini, krn udah vote cerita lain. Aku komen karena ff ini emg pantas diberi apresiasi.

    Oke ini keren. Narasi ga terlalu panjang, tapi dipenuhi dialog cerdas dan jenaka. Saking banyaknya yg bikin aku senyum2 aku jadi ga bisa sebutin. Pengembangan alur bisa dibilang, sangat kreatif~~

    Meskipun aku ga bisa vote, percayalah aku benar2 kagum dgn fanfic ini. Keep writing ^^

  3. VOTE: JELAS LAAH INI FF PALING CETAAAR MENURUTKU XDDDD diksi bagus! Narasi apalagi, EyD mantap! Pengembangan Karakter-nya lihay keren!! Yg paling penting pemilihan kata2-nya sangat cerdas. Semoga fic ini bisa menang jusseyo kudasai😄 ganbare!!

  4. VOTE: dr bbrp ff yg td smpet aku bca mnrutku ini yg paling WOW!!! bahasanya keren, bagus.. dr awal aku udah dibuat jatuh cinta ama kry ini❤ aku stuju klau dialognya bener2 cerdas.. gak semua author bsa dg bahasa yg spert ini.. bener yg td komen pemilihan katanya bner2 genius.. dr cra bhasany aja udah ketauan ini author bukan smbrang author kekeke.. levelnya udah tinggi, aku jg nyaman dg krkter jae,yun dll
    suskes yah!! jgn brhenti brkrya!

    • aww… diriku ‘kesemsem’ (apa ya b.indo-nya kesemsem?) senang-malu-lau gitu deh.. hehehe
      terimakasih banyak semua yang udah baca dan ngomen..😀
      mataku berkaca2 baca 3 komentar ini T.T

  5. VOTE
    Fanficnya keren bnget,, ngerasa kaya itu yang terjadi di dunia nyata,,dan mudah-mudahan emang itu yang terjadi….

  6. Waktu penilaian secara resmi kami tutup. Terimakasih atas partisipasi seluruh peserta & reader. Semoga menang yah, Hwaiting! Happy 2nd Annive Fanficyunjae… Yunjae Jjang! ^^

  7. VOTE: FF nya cetar membahana badai
    Pertamany msh bngung maksudny Sora nuduh Jaejoong ambil surat kontrak TVXQ, tp pas di ending ak tw.. wkwkwk
    Skrg ak bnr2 ngerasa jd maniak YJS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s