EXPOSE/ YUNJAE/ ONESHOOT


EXPOSE

Created by Amee

One shoot

Dedicated for  Yunjae 6th Wedding Anniversary

.

.

.

Cinta itu seperti menggigit buah pir, untuk merasakan manis di dalamnya kau harus merasakan kecut dan kasar kulitnya, jika tidak begitu kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Bisa saja kau mengupas kulitnya, tapi ada sensasi berbeda yang akan kau rasakan. Pun dengan cinta, harus ada perjuangan untuk bahagia, kebahagiaan yang instan itu, apa artinya?

Jung Yunho adalah orang pertama yang aku cari ketika aku berhasil meraih sesuatu, orang petama yang membantuku bangkit dari keterpurukan, orang pertama yang membuat pinggangku nyaman dalam dekapannya, orang pertama yang mengecup keningku ketika pagi menjelang, dan orang pertama yang akan menyingkirkan siapa saja yang menatap seduktif ke arahku.

Yunho, ia memiliki tangan yang akan selalu aku genggam ketika aku terbutakan oleh fantasi dan fatamorgana yang menyesatkan. Tidak peduli seperti apa dia sekarang—dan dia pun tidak peduli seperti apa aku sekarang, dia adalah sebagian dari keseimbangan hidupku.

Yunho, orang-orang awam menganggap bahwa tempat tinggalnya berjarak berjuta blok dari rumahku, dan berjarak berjuta mil jauhnya denganku. Kami tidak pernah benar-benar bersama, selalu terhalang tembok penyekat yang membuat kami terlihat jauh. Tapi aku hanya cukup diam, karena aku dan Yunho yang menjalaninya, dan kami berdua sama-sama tahu, tanpa harus mengumbarnya pun, orang-orang yang menyayangi dan mendukung hubungan kami—mereka menamai diri mereka Yunjae Shipper dan aku senang mendengarnya—tahu bahwa kami tinggal bersama. Aku hanya perlu membisikkan sedikit kode pada mereka untuk mengintroduksi hal yang terjadi, dan mereka akan segera memahami apa yang kumaksud. Mereka tidak berisik seperti para nitizen yang senang mengumbar gosip murahan. Mereka menjaga kami, melindungi kami, menyayangi kami. Meski keberadaan mereka kerap dianggap delusional, mereka tak gentar. Bagiku mereka bukan delusional, mereka rasional, dan itu jauh lebih baik daripada denial. Aku mencintai mereka, karena tanpa mereka apa jadinya aku dan Yunho.

Aku menyibak tirai kamar hingga sinar matahari segera merangsek masuk ke dalam. Di atas ranjang, Yunho menggeliat-geliat terganggu, lantas menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Aku terkikik, menatapnya seperti menatap sebuah bongkahan kue mochi besar.

“Yun, Yunho-ah, cepat mandi dan pergi dari sini!” aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. “Aku harus membereskan tempat ini, Yun,”

“Kau mengusirku dengan cara yang sangat kejam,” gumamnya tanpa membuka mata.

“Jangan kekanak-kanakan seperti itu, Tuan Jung. Waktunya tidak tepat. Jika kau susah untuk bangun seperti ini, maka aku tidak akan sempat membuat sarapan untukmu, karena aku harus merapikan tempat ini,”

Yunho merentangkan tangannya tanpa membuka matanya. “Kalau begitu beri aku ciuman, di sini,” katanya sambil menyentuh bibirnya singkat.

“Kau bayi besar yang menyusahkan,” aku memberengut, meski tetap tersenyum dan merangsek masuk ke dalam pelukannya, membei sebuah sentuhan lembut di bibirnya. Ketika gerakan Yunho semakin menuntut, aku cepat-cepat mendorongnya, dan Yunho mendecih sambil membuka matanya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Aku sudah berias, dan aku akan sangat berterimakasih jika kau tidak merusaknnya,” jawabku setengah menyeringai, lantas merapikan poni yang sempat menutupi mata.

Yunho menyipitkan matanya, sehingga tampak seperti terpejam, menyisakan satu garis lurus. Tapi aku tahu dia tidak tidur, karena ada kerutan di dahinya. “Kenapa kau sangat senang menggunakan pakaian seperti itu?” tunjuknya padaku.

Aku menunduk untuk melihat pakaian yang kukenakan. Tidak ada yang salah. Hanya selembar T-shirt v-neck. Aku kembali menatapnya. “Apa yang salah?”

Yunho menarik tubuhku dengan cepat, sehingga aku tak sempat menghindar. Ia mencium dada kiriku setengah menghisapnya. Lantas kembali melepaskan tubuhku dan menyeringai. “Kau tidak akan bisa menggunakan pakaian itu sekarang,” ujarnya sambil menunjuk hackey yang baru saja dibuatnya. Ia tertawa lantas turun dari ranjang, berjalan memasuki kamar mandi.

“Jung Yunho, apa yang sudah kau lakukan?” pekikku keras. Dan aku harus berganti pakaian lagi kini.

-AMEE-

Aku menghela nafas panjang berkali-kali, pagi ini terasa cukup melelahkan. Aku sudah merapikan semua bagian, juga sudah menyembunyikan Yunho di suatu tempat yang tak akan kutunjukan pada mereka—karena Yunho menolak untuk pergi. Aku hanya perlu duduk manis dan menunggu kedatangan mereka, kru, yang akan merekam dan memperlihatkan istanaku ini pada umum.

Kudengar bel berbunyi. Mereka sudah datang. Aku menegak habis air mineral dalam gelas yang kupegang, lantas berjalan menuju ruang tamu dan membukakan pintu. Mereka tersenyum lantas membungkukan tubuh ke arahku.

“Terimakasih atas kerja samamu, Jaejoong-sshi,” ujar salah satunya.

Aku tersenyum sambil menggangguk, lantas mempersilakan mereka masuk. Berjalan menuju pantry, dan membawakan beberapa kaleng coke dan camilan. Aku berharap acara ini cepat selesai, entah bagaimana aku merasa tegang, dan jantungku terasa turun ke perut hingga aku merasa sangat mual.

“Kau terlihat sangat fashionable seperti biasanya,”

“Terimakasih. Aku sengaja mempersiapkan yang terbaik untuk acara ini.” Aku mendesah, sebenarnya mungkin lebih baik lagi jika aku menggunakan pakaian sebelumnya, jika saja Yunho tidak berulah. “Apa kita bisa memulai ini?” tanyaku. Dan mereka segera mengangguk mengiyakan.

Sementara mereka mengatur sudut angle, aku kembali ke pantry untuk merapikan kaleng-kaleng coke yang telah kosong. Aku menunggu beberapa saat, sampai akhirnya acara shooting dimulai, kamera berputar mengambil setiap bagian. Dimulai dari muka rumah lantas masuk ke dalam ruang tamu.

“Betapa besarnya rumah ini, khas kalangan muda burjois yang menyenangi keeleganan dengan rasa glamour yang tinggi. Jaejoong-sshi, apa dalam rumah sebesar ini kau hanya tinggal sendiri?”

“Ya, aku tinggal sendirian di sini. Tidak, masudku aku tinggal berdua, dengan Jiji, dia peliharaanku tentunya,” aku memamerkan senyumanku, lantas kamera menyorot ke arah Jiji yang seolah tengah menatapku keheranan.

“Kurasa, menjadi Jiji jauh lebih beruntung dibandingkan denganku,” dan kami semua tertawa mendengarnya. “Lalu bagaimana dengan perabotan dan semua garmen? Apa kau meminta saran dari arsitek terkenal atau semacamnya?”

“Tidak. Untuk garmen, furnitur, dan desain ruang aku yang menentukannya sendiri. Termasuk semua perabot yang ada di dalamnya,” jawabku sambil menunjuk beberapa bagian. “Kalau begitu, mari kutunjukan beberapa bagian di dalam rumah ini,”

Aku berbalik diikuti oleh beberapa kru, ketika melewati tembok penyekat, kudengar sutradara mengatakan, “Cut!” dan kami semua tersenyum, bersiap untuk mengambil gambar di lokasi selanjutnya.

Aku menghela nafas panjang. Seingatku, rumah ini tak sebesar istana Buckingham, tapi mengapa shooting ini terasa sangat lama. Mereka bertanya kepadaku, ruang apa yang ingin kutunjukan selanjutnya, dan tanpa kupikir aku cepat menjawab. “Ruang kerja,” kataku.

Aku hanya merasa fans akan suka itu, ruangan itu sangat penting untuk karirku. Dan aku ingin berbagi, itu saja. Ruang kerja mendadak menjadi sangat besar dalam penglihatanku. Aku duduk di atas kursi, mengipas-ngipasi diriku sendiri yang terasa panas, meski sebenarnya AC diruangan ini terpasang cukup dingin.

Seorang wanita dari kru menghampiriku, dia make-up noona. Wanita itu terlihat ramah dan tidak terlalu banyak bergerak. “Minumlah dulu. Kau terlihat tegang,” katanya, sambil menyodorkan sebotol air mineral.

“Terimakasih. Seharusnya aku yang menyiapkan minuman, ini rumahku.” Aku menyesap botol air mineral itu perlahan.

“Santai saja, kita sama di sini,” katanya lantas tersenyum. “Apa dia sedang ada di sini? Jangan terlalu khawatir selama yang kau sembunyikan itu bisa menyembunyikan dirinya sendiri, jika yang kau sembunyikan adalah sebuah bom, itu baru menegangkan,” katanya.

“Apa?” Aku menatapnya, dan dia hanya mengedipkan matanya penuh arti. “Aa..,” dan aku tidak mampu mengatakan apa-apa lagi, lantas tersenyum.

Make up noona tertawa, lantas menyentuh pundakku. “Kau berkeringat,” katanya. “Lebih baik kurapikan sedikit riasanmu,” tambahnya, dan aku hanya mengangguk mengiyakan.

Jung Yunho, seseorang menyadari keberadaanmu di sini. Apa ini buruk atau tidak. Aku tidak tahu. Kuharap dia bisa menjaga rahasia. Aku menghela nafas panjang. Sudah berapa lama aku tidak berada dalam satu fragmen shooting dengan Yunho, rasanya aku merindukannya. Laki-laki itu, dia selalu berhasil menggodaku dan menghilangkan kecemasanku. Aku ingin memeluknya.

Make up noona tersenyum padaku setelah dia merapikan riasanku. “Fighting!” katanya, dan aku hanya mengangguk.

“Jaejoong, apa kau sudah siap?” tanya sutradara padaku.

“Aku siap,” aku mengangguk mantap.

“Ok, 1 2 3, action!”

“Ya, ini adalah ruang kerjaku. Aku menghabiskan banyak waktu di sini untuk mengerjakan banyak hal. Berlatih atau mengaransemen lagu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika terjadi gempa bumi dahsyat dan hanya tempat ini yang hancur,” aku mencoba untuk sedikit bercanda, tapi nampaknya aku tidak berhasil.

“Kau tampak mengoleksi banyak sekali CD, apa saja yang kau miliki?”

“Ya, aku menghabiskan banyak uang untuk mengoleksi banyak sekali CD,” aku tertawa. “Termasuk karyaku sejak sejak masa debutku. Seperti sebuah penghargaan bagiku, dan kemudian hal itu menjadi sangat penting.”

“Artinya kau juga menyimpan koleksi CD dari Dongbangshinki?”

“Tentu saja, itu adalah bagian terpenting dari hidupku yang tak mungkin kulewatkan.”

“Bagaimana dengan anggota JYJ, Yoochun dan Junsu, apakah mereka juga datang kemari untuk berlatih?”

“Kami tidak melakukan latihan bersama untuk di sini, tapi adakalanya kami bersantai sambil mendiskusikan beberapa hal di sini,”

“Ah, baiklah. Selain ruangan ini, ruang apa yang menjadi favoritmu?”

“Dapur,” jawabku cepat.

“Ah, kalau begitu dapur akan jadi tujuan kita selanjutnya. Boleh kami melihatnya?”

“Tentu saja, ayo ikuti aku,”

Kamera kembali di matikan. Aku menghela nafas panjang. Berapa ruang lagi yang tersisa? Aku mulai menghitungnya. Kurasakan sesuatu bergetar di dalam kantong celanaku. Sebuah pesan masuk, dari Yunho.

Semangat, ayo kita belajar bermain menjadi detektif untuk berkelit dan menyembunyikan banyak hal. Fighting! Aku mencintaimu.Aku menunggumu di dalam sini, jangan membuatku menunggu terlalu lama, sayang.

Aku mengeram. Laki-laki itu ingin menggodaku. Jung Yunho, kau tahu seberapa jantungku berdetak cepat. Kupikir-pikir lagi, aku sudah menyembunyikan semua foto yang berhubungan dengan ‘kami’, jadi kurasa tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku tahu, laki-laki bermarga Jung itu pasti sedang tertawa kini. Kadang-kadang dia seperti iblis yang tak pernah berbelas kasih. Sehausnya aku benar-benar mengusirnya tadi.

Kami beristirahat beberapa saat sebelum kami melanjutkan shooting. Aku menghela nafas lega, selain dapur hanya tinggal kamar yang tersisa dan setelah itu semuanya selesai. Terdengar sedikit gila, tapi aku ingin orang-orang ini segera menghilang, maka aku bisa bernafas lega.

“Siap pada posisi masing-masing,” ujar sutradara, dengan jari-jari tangannya ia menghitung. “Action!”

“Lihat, betapa mewahnya dapur ini untuk seorang lelaki muda yang tinggal sendiri, maksudku berdua dengan Jiji,” dan kami tertawa. “Ya, Jaejoong-ah. Mengapa kau sangat menyukai dapur?”

“Karena aku senang memasak, dan aku tidak meragukan kemampuanku dalam memasak, terutama semur ayam pedas, aku membuatnya jauh lebih baik daripada yang ditawarkan restoran di luar sana. Pada dasarnya aku menyukai rasa pedas, ada satu saus dengan kadar kepedasan yang sangat kuat, dan aku menyebutnya saus kematian,” aku tertawa sambil menunjukan botol saus ke arah kamera. Aku ingat bagaimna Yunho memberengut kesal karena aku membuat apa yang aku suka, bukan yang ia suka. Hidup itu menyenangkan.

“Lalu bagaimana komentar anggota yang lain soal masakanmu?”

“Mereka akan tetap memakannya walaupun mereka sedang diet. Mereka sering komplain karena aku memasak apa yang aku suka bukan yang mereka suka, tapi karena aku yang memasak, jadi itu kebebasanku,” aku kembali tertawa. “Yoochun sangat suka sup seafood campur yang kubuat tengah malam. Sementara Junsu akan menangis jika sudah begitu, karena dia pantang makan tengah malam tapi ingin mencicipinya.”

Kamera terarah pada kabinet tempat aku menyimpan piring dan gelas. Sebenarnya tidak, hanya ada tiga piring porselain, 2 piring berwarna putih dan satu berwarna hijau. Serta dua buah cangkir berwarna pink dan hijau bergambar anjing. Bagaimana mungkin aku lupa menyembunyikan benda-benda berwarna hijau milik Yunho, aku mencoba tersenyum meski sebenarnya berdebar. Laki-laki itu terbiasa berada di sini, dia menyukai warna hijau, maka aku membelikannya beberapa barang yang cocok untuknya. Itu salahnya, kenapa juga ia harus menyukai hijau, jika saja ia menyukai putih, maka hanya akan ada piring porselain putih di sana, tidak akan ada yang berwarna hijau.

Cepat-cepat aku berkata, “Bukankan cangkir-cangkir ini sangat lucu, karena itu aku menyukainya.”

“Ya, itu sangat lucu. Apa kau hanya memiliki piring-piring ini saja?”

Aku menggeleng. “Tidak, piring-piring lain diletakkan di tempat terpisah, ini yang sering kugunakan.”

Kemudian aku segera mengalihkan fokus, aku menunjuk sebotol Bok Boon Ja, anggur raspberry manis yang biasa digunakan dalam perayaan di Korea. Dan memperlihatkannya ke arah kamera seperti sedang mengiklankan sebuah produk.

“Aku juga harus berterimkasih pada orang yang telah memberiku ini. Apa kalian bisa melihat kata ‘Bok Boon Ja’ di sini? Kupikir aku menerimanya saat acara tanda tangan penggemar di Gwangju. Mungkin ini milik ayah penggemar. Aku meminumnya tanpa memeriksa isinya. Tapi ini sangat enak, ini yang terbaik yang pernah kucoba.” Aku tersenyum mengingatnya. Ketika Jung Appa memberikannya padaku. Itu seperti sebuah hadiah terindah bagiku. Kasus Gwangju membuatku benar-benar terpuruk, tapi karena Bok Boon Ja pemberiannya ini, aku merasa seribu kali lipat lebih hidup. Aku merasa bahwa mereka kembali menerimaku.

Aku berjalan ke arah lemari pendingin dan membukanya untuk memperlihatkan apa isinya. Aku menunjuk satu persatu isi di dalamnya. “Ternyata kau masih memiliki tiga botol soju,” kataku. “Saus, daging, dan kimchi. Aku memiliki banyak sekali persedian kimchi karena orangtuaku mengirimnya. Ah, dan ada beberapa rebusan kimchi yang dulunya kumasak untuk diriku sendiri,” aku tersenyum, kemudian menyadari apa yang kukatakan rasanya ingin memukul kepalaku sendiri. Aku mengedip-ngedipkan mataku dengan cepat. Untuk apa menyebutkan hal itu, Yunho pasti sedang tertawa seperti orang kesetanan mendengarnya. Kim Jaejoong, kau terlalu jujur.

Aku cukup bersyukur karena ternyata kata-kataku tidak terlalu mendapat perhatian. Maka cepat-cepat kututup lemari pendingin dan menghadap kamera. “Ayo kutunjukan ruangan lain dari rumah ini.”

Kamera off, dan rasanya aku hampir mati. Aku menghela nafas dalam. Kamar adalah ruangan terakhir, dan ini membuatku benar-benar frustasi. Aku mengeluarkan ponselku dari dalam kanton celana, lantas menulis beberapa kata dan kukirimkan pada Yunho. ‘Kau lihat apa yang terjadi, seharusnya kau bangun lebih cepat tadi pagi.’

Aku berjalan gontai menuju kamar tidur. Ini sangat buruk, mengingat orang-orang asing akan memasuki kamar privasimu. Aku menggaruk-garus kepalaku hingga rambutku sedikit berantakan, namun cepat-cepat kembali kurapikan.

Ponselku bergetar, ada sebuah panggilan masuk. “Ada apa?” aku segera mengatakannya setelah mekan button hijau untuk menerima panggilan.

Yang kudengar kemudian hanyalah suara tawa, dan batuk-batuk tipis di ujungnya. “Kim Jaejoong, fighting!” ujar Yunho di akhir tawanya.

“Bisa kau cukup duduk diam dan mendoakanku agar semuanya berjalan lancar. Ini akan segera berakhir,” jawabku ketus.

“Berhati-hatilah. Kamera itu seperti anjing pelacak yang senang mengendus,” Yunho kembali tertawa dan segera kumatikan sambungan telepon. Laki-laki itu sungguh menyebalkan.

Kamera sudah mulai dinyalakan ketika aku masih mendengus kesal, kemudian aku tersenyum spontan.

“Ini benar-benar jenis kamar yang elegan,”

“Sebenarnya ini adalah bagian yang paling enggan kutunjukan,” jawabku. “Karena privasi tentu saja,” lanjutku cepat-cepat sebelum muncul pertanyaan-pertanyaan aneh yang kemudian mampu mematikanku.

Kamera menyorot setiap sudut ruangan, kemudian berakhir pada meja rias. Kesadaran menyentuhku sehingga cepat cepat aku berlari dan berusaha menutupinya. Aku tertawa canggung, sebagian besar produk yang kupakai adalah produk-produk yang dibintangi Yunho. Dan cukup membuatku malu untuk mengakuinya.

“Apakah ada yang salah dengan meja itu?”

“Tidak ada, hanya sedikit berantakan,” jawabku cepat. “Aku akan menunjukan kepada kalian kamar mandi yang sangat indah,” aku tertawa kemudian berjalan menuju kamar mandi, diikuti para kru.

Aku membuka pintunya dan membiarkan kameramen mengambil gambar visual dari kamar mandi. Aku sedikit bersyukur karena orang-orang ini tidak sepintar para Yunjae shipper yang akan menyadari hal-hal kecil, bahwa sangat banyak furnitur dan garmen berwarna hijau di dalam rumah ini. Baru saja aku memikirnya, kulihat sikat badan berwarna hijau milik Yunho tergeletak di samping bathub, sehingga cepat-cepat kututupi dengan tubuhku.

Kamera bergerak ke segala arah, dan kemudian berakhir di watafel di mana ada mug yang kugunakan untuk menyimpan sikat gigi. Seperti orang gila, mendadak aku mengambil sikat tersebut dan menyembunyikan di balik punggung lantas menyeringai.

“Apa yang kau sembunyikan itu?”

Kena. Mereka melihatnya.

Aku tersenyum, namun lebih tampak seperti meringis. “Apa kalian tahu mengapa aku menyembunyikan ini?” aku menghela nafas sebelum melanjutkannya. “Aku mengadakan pesta open house kemarin, dan tentu saja banyak yang datang, dan mereka semua menginap. Karena itu sikatnya… Maksudku, apa yang coba kukatakan adalah karena sikat yang ada di sini hanya tiga, mungkin menimbulkan kesalahpahaman.Sikat gigi yang lain ada di kamar mandi yang berbeda, semuanya ada tujuh sikat gigi. Pokonya mereka semua datang dan menggunakan sikat gigi. Aku akan menunjukkan sisanya jika kalian tidak keberatan. Seingatku memang ada tujuh, jika sikat kurang dari tujuh, artinya ada beberapa di antara mereka yang tidak menggosok gigi. Sebentar, aku akan menunjukannya.”

Aku mematikan lampu kamar mandi dengan cepat dan berlari keluar untuk menemukan sikat gigi yang kujanjikan. Astaga. Kim Jaejoong, kenapa kau selalu mengatakan hal-hal yang tidak perlu dikatakan. Aku memukul kepalaku sendiri.

-AMEE-

Yunho tidak henti-hentinya tertawa sementara aku terus memberengut kesal. Apa perlu kubungkam mulutnya dengan bantal agar dia diam. Yunho sampai perlu menutup mulutnya sendiri, hingga kemudian menarik nafas dan mencoba untuk menenangkan diri.

“Bisakah kau tidak tertawa seperti orang kesetan seperti itu?” gertakku kesal.

Yunho menarik nafas. “Aku sama sekali tidak tertawa,” katanya.

“Kau membuatku hampir mati, kau tahu?”

Yunho memiringkan kepalanya. “Aku tidak melakukan apapun,”

“Ya, tapi barang-barang milikmu yang membuatku gila hingga hampir mati.”

Yunho kembali tertawa dengan keras. “Itu tidak akan membunuhmu, semisalnya kau bertindak wajar saja. Kau terlalu mencurigakan,”

“Itu salahmu!”

“Ya, tapi terimakasih. Kau sangat menakjubkan. Berpikir tentangku dan melakukan hal ini untukku. Aku merasa senang, sangat senang.”

Yunho menarikku ke dalam pelukannya lantas mengecup puncak kepalaku, aku merasa nyaman dalam pelukannya. Bau kayu oak dan vanilla yang keluar dari tubuh Yunho sangat khas dalam penciumanku dan aku menyukainya. Ia mendekatkan bibirnya pada bibirku, dan kami saling berciuman, saling memagut satu sama lain. Dengan gerakan yang lembut, Yunho menarik tubuhku dan membaringkannya di atas ranjang. Ia mulai menciumi leherku sementara aku mulai memejamkan mata. Sayup-sayup kudengar Yunho memanggil namaku, yang semakin lama terdengar seperti sebuah celotehan-celotehan kesal, dan perlahan suaranya menghilang. Aku tertidur. Lelah. Dalam mimpiku aku melihat Yunho memberengut kesal dan aku hanya tertawa-tawa saja.

.

.

Dua hari kemudian, acara itu tayang. Satu jam kemudian setelah acara itu disiarkan, aku membuka internet dan mulai berselancar di dunia maya. Seperti yangtelah kuduga, lantas sudut bibirku menyunggingkan sebuah senyuman puas.

Yunho menghampiriku, merangkul pinggangku sementara kepalanya bersandar di pundakku. “Apa yang kau lihat?” tanyanya.

Aku mengarahkan telunjuuku pada layar laptop. “Kau lihat, Yunjae shipper itu cepat, dan tepat,” jawabku. Dan aku segera merangsek masuk ke dalam pelukannya, diakhiri dengan sebuah ciuman panas dan panjang.

-OWARI-

I need feed back, please give me some review

See you on the other story^^

.

Omedetou!!! Selamat ulang tahun pernikahan yang keenam. Eomma, Appa, keep love and longlast. Show us your love. 55555!!!

2 thoughts on “EXPOSE/ YUNJAE/ ONESHOOT

  1. k k k k
    umma kelabakan bngt dah
    jd inget wkt liat videonya,salting terus
    happy aniv 6th umma appa
    fighting

  2. Umma c…gelagepan jd na gtu dag…
    Yunpa mlh ketawa2 ja udh tw bini na lg nervous ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ “̮

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s