[FF] Coffee Of Love – Prolog – Part 1 Miss Blonde


Jeng jeng….

FF dadakan yang di post khusus untuk Happy Anniversary couple tercetar sepanjang masa, YUNJAE COUPLE!!!😀

*author terlalu excited

Semoga berkenan dengan ceritanya yang ga to the je, gaje ^^

==========================

Title : Coffee Of Love

Pairing : Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kwon Boa and others

Genre : Romance, drama, angst, sweet, mpreg

Rate : 16+

Prolog

Cinta itu suci…

Cinta itu murni…

Tidak ada yang bisa memaksakan cinta…

Cinta itu datang dengan sendirinya…

Tanpa diundang, tanpa pemberitahuan…

Kriingg…

“Hey nona! Aku mau pesan!”

“Mwo!? Nona!? Kau tidak lihat aku namja!!”

“Tidak! Jadi nona cepatlah aku mau pesan satu coffee latte!” Si ‘nona’ itupun dengan kesal mengambilkan pesanan sang namja musang.

Part 1-Miss Blonde

(Author POV’s)

Bertempat di kota Seoul yang kali ini tertutup salju lebat dan dingin yang mencapai titik terendahnya. Dimana semua orang malas untuk keluar rumah dan lebih memilih untuk menghangatkan diri di rumah masing-masing. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi namja berparas cantik dan berambut blonde putih sama dengan salju yang menutupi kota Seoul. Dia justru tengah duduk  di sebuah ayunan di sebuah taman yang terbilang sepi. Mata bulatnya menatap jauh ke depan dan dahinya berkerut seakan sedang berpikir keras tentang suatu hal. Kadang dia sesekali menarik tali kupluk merah mudanya frustasi. Sekilas namja ini sangatlah mirip seorang yeoja maka tidak heran setiap orang yang melewati taman itu pasti menoleh ketika melihat paras cantiknya. Tapi si wajah feminis ini tidak peduli dengan tatapan-tatapan orang yang lalu lalang di taman yang terbilang sepi itu.

Dia lebih sibuk memikirkan bagaimana nasib hidupnya selanjutnya. Dia dipecat dari pekerjaan sebelumnya karena menampar seorang pelanggan yang menggerayangi bagian belakang tubuhnya. Mengharapkan kedua orang tuanya di Chungnam pun tidak mungkin, Ia hanya tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya lagi dengan meminta bantuan keuangan. Sudah cukup keinginan konyolnya untuk menjadi seorang artis di Seoul. Tetapi yang ada Ia malah sempat terjebak di tempat prostitusi dan menjadi pelayan di sebuar bar erotis. Dan dipecat. Karena namja cantik ini sudah habis kesabaran dengan perlakuan para pelanggan bar itu yang terus menerus menggerayangi tubuhnya.

“Aghhhh!!!! Otthoke!?” Pekiknya tertahan. Pikirannya sudah buntu  memikirkan apa yang harus Ia kerjakan sekarang untuk membayar apartemennya. Namja itu menggoyangkan ayunan yang didudukinya. Sudah berkali-kali Ia dipecat dari pekerjaannya dan sekarang namja cantik tengah berpikir keras tentang pekerjaan apa yang akan dia kerjakan. Dan yang pasti aman tanpa pelecehan.

“Aha! Semoga saja di sana masih ada lowongan!” Teriak namja berambut blonde itu tiba-tiba. Lalu Ia pun segera beranjak dan berjalan menuju satu-satunya tempat dimana hanya tempat itulah satu-satunya harapan yang bisa Ia gantungkan.

‘Coffee Cojjee’

Sebuah papan coklat dengan tekstur halus terpampang di luar. Dari luar pun sudah kelihatan bahwa kedai kopi itu bukan kedai kopi biasa tapi memiliki kelas tersendiri diantara masyarakat Seoul. The famous Coffee Cojjee. Pemiliknya tidak lain adalah sahabat dari namja berwajah feminis yang tengah memasuki café itu. Park Yoochun.

Interior berwarna merah pun segera menyambut kedatangan namja cantik itu serta alunan music indah dari sebuah lagu berjudul ‘Love in the ice’. Begitu pula dengan sebuah senyuman yang tersungging dari seorang namja dengan wajah tampan dari balik meja bar. Jika diperhatikan namja yang tengah tersenyum ini menonjolkan keluasan jidatnya yang lebih luas dari orang kebanyakan. Yak! Dialah manajer sekaligus pemilik coffee cojjee.

“Joongie?” Sapa namja berjidat luas itu pada namja cantik yang baru saja memasuki cafenya.

“Chun! Kau sibuk?” Tanya Jaejoong. Nama dari namja berparas cantik bak malaikat itu. Yoochun pun menggeleng.

“Waeyo?” Tanyanya bingung. Tidak biasanya Jaejoong menemuinya saat Ia tengah bekerja.

“Aku… membutuhkan pekerjaan.” Ucap Jaejoong terus terang. Yoochun membulatkan matanya yang sipit.

“Mwo?? Apa kau dipecat lagi?” Tanya Yoochun masih saja terkejut. Ya terang saja. Ini mungkin sudah pekerjaan Jaejoong yang kelima dan Ia dipecat lagi. Alasannya sama, karena pelanggan yang dengan iseng dan tanpa rasa bersalah meraba-rabanya.

“ehm..” Jaejoong mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Malu. Yoochun pun menepuk pundak Jaejoong pelan.

“Baiklah, Jae! Tapi kumohon jangan berbuat yang tidak-tidak eoh?” Ucap Yoochun mengedipkan sebelah matanya. Jaejoong pun mengangguk-ngangguk setuju. Huff akhirnya teman baiknya memberikan Ia pekerjaan.

Tapi sepertinya, Jaejoong tetaplah Jaejoong…

Kring!!

“Eoseo Oseyo!!” Ucap Jaejoong dengan senyum terindahnya. Rambut blondenya yang agak panjang terlihat kontras dengan seragam pelayan yang berwarna merah dan putih yang dikenakannya serta sebuah celana hitam yang membalut kaki jenjangnya. Intinya Jaejoong terlihat sempurna. Namja jangkung dengan wajah kecilnya serta rambut coklatnya yang agak panjang diikat sembarang menatap kearah Jaejoong begitu juga dengan namja yang terlihat lebih muda yang mengikutinya dari belakang. Kedua namja itupun diantarkan Jaejoong ke meja di pinggir jendela.

“Silahkan mau pesan apa?” Ucap Jaejoong dengan ramahnya sembari memberikan buku menu.

“Aku milkshake saja!” Ucap namja yang ternyata sangat tinggi tapi tetap terlihat kalau Ia masih anak sekolah sambil matanya tidak lepas dari PSP yang dipegangnya.

“Cappucino saja..” Ucap namja satunya yang memiliki mata tajam kecil seperti musang dengan nada bicara yang dingin dan cenderung ketus.

“Kamsamhamnida..” Ucap Jaejoong sembari berlalu mengantarkan pesanan kedua namja itu.

“Eh nona!” Panggil namja dengan mata musang itu tiba-tiba. Tapi yang dipanggil tidak menggubrisnyaa karena Ia pikir bukan dialah yang dipanggil.

“Nona! Permisi nona!” Panggil namja berkulit tan itu lagi. Tetap saja Jaejoong tidak menggubrisnya. Ia pikir mungkin namja itu memanggil pelayan yeoja. Padahal jelas-jelas dirinyalah yang dipanggil nona.

“Nona rambut putih!” Seketika itu Jaejoong terkesiap. Ia sadar jika yang mempunyai rambut putih di dalam café itu hanya dirinya sendiri. Tidak ada yang lain.

“Mwo!? Nona!?” Gumam Jaejoong kesal. Tapi Ia harus menahan rasa kesalnya dan memilih menelan semua kekesalannya sendiri. Ini hari pertama Ia bekerja. Tidak mungkin kan Ia membuat kerusuhan lagi. Jaejoong berbalik dan melihat namja jangkung itu melambaikan tangannya. Menyuruhnya untuk mendekat.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Jaejoong meredam rasa kesalnya di panggil nona.

“Lama sekali! Apa kau tidak dengar aku memanggilmu?” Tanya namja berkulit tan itu ketus. Jaejoong menggeratakkan giginya kesal.

“Mianheyo~~” Ucap Jaejoong masih  menahan kekesalannya.

“Kau tuli ya?” Tanya namja itu lagi tanpa rasa bersalah.

“Yak!! Kau tidak lihat apa bahwa aku jelas-jelas namja!!!?? Kenapa memanggilku nona!!???” Akhirnya runtuh sudah pertahanan Jaejoong melawan emosinya. Namja itu memicingkan mata musangnya. Sedangkan namja yang lebih muda itu tampak kaget dengan teriakan Jaejoong.

“Tidak, baiklah aku jadi pesan coffee latte saja nona..” Ucap namja itu tanpa raut bersalah masih memanggilnya nona walaupun sudah dikatakan bahwa Jaejoong adalah namja. Jaejooong menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan menuju bar.

“Jeongmal mianheyo Tuan Jung!” Ucap Yoochun yang ternyata mendengar teriakan Jaejoong dan segera mendatangi meja namja itu. Bagaimana tidak jelas-jelas seantero café ini mendengar suara teriakan Jaejoong yang membahana.

“Gwenchana..” Ucap namja yang bernama Jung Yunho itu dengan nada datar.

“Maklumi pegawai baru kami..” Ucap Yoochun lagi sembari membungkuk.

“Tidak apa, yeoja yang kasar sekali..” Gerutu Yunho. Yoochun segera mendongakkan wajahnya bingung.

“Yeoja?” Tanya Yoochun dengan tampang polos. Seingatnya pelayan di cafenya semuanya adalah namja kecuali kasir.

“Ne yeoja rambut putih itu.” Tunjuk Yunho pada namja yang tengah mengantarkan pesanannya. Wajahnya masih tampak kesal. Yoochun menatap Jaejoong yang tengah meletakkan cangkir kopi di meja. Tidak bisa dipungkiri Jaejoong memang tampak seperti yeoja daripada namja. Rambut putihnya yang nyaris menutupi leher serta matanya yang bulat, hidung mungil dan bibir mungil nan merahnya semakin mempertegas wajahnya yang feminis.

“Mian Tuan tapi dia namja..” Ucap Yoochun setelah berpaling dari Jaejoong yang masih mengerucutkan bibirnya kesal.

“Hyung dia namja!” Ucap namja yang lebih muda mempertegas. Karena merasa aura pembunuh dari namja cantik yang berdiri tepat di sebelahnya.

“Lalu? Lihat Min dia yeoja!” Yunho tetap saja bersikeras dengan pendapatnya dengan tampang yang tidak memperlihatkan rasa bersalah sedikitpun.

“Aku namja pa~~hmpff!” Yoochun segera membekap mulut Jaejoong sebelum namja cantik itu kembali membuat kerusuhan dan menyeretnya pergi dari meja itu. Yunho hanya mengedikkan bahunya lalu mulai menyeruput kopi yang ada di cangkir.

“Kau gila ya!?” Bentak Yoochun kesal setelah mereka berada di dapur. Jaejoong terdiam. Wajahnya masih merah menahan kesal.

“Tapi..”

“Jangan salahkan aku kalau wajahmu memang cantik Joongie!” Potong Yoochun sebelum Jaejoong berkelit. Jaejoong kembali mengerucutkan bibirnya. Membuatnya tampak sangat lucu.

“Aishi! Aku memang tidak pernah bisa marah padamu!” Omel Yoochun.

“Mian ne Chunnie~~” Ucap Jaejoong masih menunduk tapi dengan gaya manjanya.

“Nde, sebaiknya kau tidak usah menanggapi namja itu. Ia pelanggan tetap di sini. Aku hanya mencoba menjaga reputasi café ini saja. Arasho?” Ucap Yoochun panjang lebar. Jaejoong hanya mengangguk-ngangguk mengerti.

*Malam hari*

(Jaejoong POV’s)

“Annyeong haseyo!!” Pamitku pada semua pegawai kedai. Aku melirik jam tangan karet merah muda yang melingkar di tangan kiriku.

“Wah terlambat!” Ucapku pada diri sendiri. Akupun mempercepat langkahku kearah stasiun kereta api. Aku lupa bahwa aku mempunyai janji bertemu dengan sahabatku di sekolah musiknya.

Tidak berapa lamapun aku pun sampai di sebuah bangunan ruko di tengah kota. Warna warni lampu menghiasi tembok bangunan itu. Samar-samar terdengar pula suara alunan music dari dalam bangunan indah itu. Walaupun tampaknya tidak seperti sebuah sekolah music tetapi bangunan ini sudah mencetak banyak penyanyi berkualitas. Dan akupun menginginkan hal itu.

“Joongie hyung! Ayo masuk!” Sapa suara cempreng dari ambang pintu kaca. Aku melirik sahabatku yang lain. Kim Junsu. Ia adalah anak pemilik sekolah music ini. Suaranya memang cempreng dan memekakkan telinga. Tapi ketika bernyanyi, aku berani bertaruh bahwa tidak ada orang yang akan mengatakan suaranya buruk. Jika ada akan kupukul orang itu!

Akupun memasuki ruangan depan sekolah music itu. Arsitektur yang modern-klasik. Senangnya jika aku benar-benar bisa belajar di sekolah ini.

“Jadi bagaimana hyung? Kau berminat?” Tanya Junsu. Aku pun terkesiap karena tengah mengagumi ruangan hall yang indah ini.

“Biayanya berapa?” Tanyaku dengan polosnya. Junsu hanya tersenyum penuh arti. Lalu menepuk bahuku.

“Buat hyung, gratis!” Ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya. Aku pun terbelalak tak percaya. Gratis dia bilang!? Sebenarnya aku tahu berapa biaya sekolah music ini. Yang pasti tiga bulan gajiku tidak akan sanggup membayarnya.

“Jeongmal? Jinjja? Kau bercanda Su!” Gerutuku mengerucutkan bibir. Junsu tertawa dengan suara dolphinnya.

“Andwe hyung aku serius!” Ucapnya lagi setelah tawanya reda. Dan lagi-lagi aku membelalakkan mataku tidak percaya.

“Wae?” Tanyaku masih tidak percaya. Junsu tersenyum penuh arti.

“Karena hyung sahabatku ne..” Jawabnya. Sungguh jawaban yang tidak masuk akal. Akupun menggeleng.

“Izinkan aku membayar setengahnya eoh?” Kataku. Lebih baik membayarnya daripada tidak sama sekali. Malah membuatku malu.

“Kau yakin tidak mau gratis?” Junsu justru balik bertanya. Aku menggeleng dengan yakin.

“Baiklah kalau itu maumu hyung. Ayo kita keatas.”  Ajak Junsu. Akupun hanya mengekorinya menaiki tangga yang terlihat mewah ini. Sebentar kemudian sampailah kami di sebuah ruangan yang lengang. Di sana hanya terdapat sebuah piano klasik yang diletakkan di tengah ruangan yang berlantai kayu. Serta sebuah rak buku. Jendela-jendela besarnya ditutupi gorden berwarna merah. Menurutku ruangan ini tampak sangat klasik dan private.

“Indahnya..” Ucapku tanpa sadar berjalan memasuki ruangan itu.

“Ini ruanganmu hyung.” Ucap Junsu lagi-lagi membuatku kaget bukan main.

“Mwo!?” Pekikku. Kulihat Junsu berjalan mendekati piano klasik itu. Menekan beberapa tutsnya.

“Ini juga milikmu sekarang.” Ucapnya lagi. Aku pun semakin tidak percaya dengan apa yang kudengar. Rasanya mulutku nyaris jatuh mendengar itu semua.

“Su ini sudah tidak lucu!” Ucapku. Junsu kembali menyeringai.

“Aku serius hyung! Mengapa kau tidak mempercayai perkataanku sih??” Tanya Junsu mulai kesal. Aku terdiam. Rasanya sulit mencerna semua ini. Sekolah gratis di sekolah music bergengsi. Memiliki ruangan sendiri. Bahkan lengkap dengan pianonya. Apa itu tidak sedikit berlebihan bagi orang kampung seperti diriku?

“Tapi Su untuk apa? Ini berlebihan!” Ucapku merasakan keganjilan. Junsu tersenyum lalu tiba-tiba memelukku.

“Eh?”

“Gomawo hyung karena kau mempertemukan ku dengan Chunnie..” Ucapnya malu-malu setelah melepas pelukannya. Aku terbengong sesaat.

“Jadi kau.. dia..” Junsu pun menggangguk sebelum aku sempat melanjutkan kalimatku yang sepertinya susah sekali keluar.

“Ahh chukkae~~” Ucapku kembali memeluk namja imut di depanku.

“Jadi kau mau kan menerima ucapan terima kasihku?” Tanya Junsu sekali lagi. Akupun mengangguk pasti. Beruntungnya dirimu Kim Jaejoong, teriakku dalam hati.

“Baiklah kapan hyung bisa memulainya?” Lanjut Junsu. Aku berpikir sejenak sebelum memutuskan.

“Apa tidak apa jika aku datang sekitar jam enam? Kau tahu aku bekerja di kedai kopi milik Yoochun sekarang.” Ucapku menerangkan. Junsu membulatkan matanya.

“Mwo!? Wae? Hyung dipecat lagi ya?” Tanya Junsu. Jelas sekali dia terkejut. Aku hanya mengangguk malu.

“Dilecehkan lagi eoh?” Tanya Junsu lagi.

“Nde~~” Ucapku. Bukan tabu lagi jika Yoochun dan Junsu memang sering mendengar keluhanku tentang perlakuan pelanggan atau pengunjung di tempat bekerjaku sebelum-sebelumnya yang sangat gemar menggerayangi tubuhku.

“Apa kau baik-baik saja hyung disana? Maksudku untungnya ada Chunnie yang menjagamu.” Ucap Junsu.

“Su jangan berbicara seperti itu. Aku jadi tidak enak.” Ucapku. Aku hanya khawatir jika akan ada suasana tegang antara Junsu dan Yoochun nantinya gara-gara aku yang mengacau.

“Gwenchana hyung, aku hanya khawatir hyung mendapat perlakuan yang tidak pantas lagi.” Terang Junsu. Akupun mengangguk.

“Sejauh ini aku hanya di panggil nona oleh seorang namja pelanggan Yoochun.” Ucapku polos. Junsu terbengong mlihatku sebelum sebuah suara tawa meledak. Aku segera mengerucutkan bibirku melihat Junsu yang puas menertawaiku,lagi!

“Mian hyung~ mian tapi sungguh aku tidak bisa bayangkan hyung di panggil nona!” Junsu kembali tertawa. Aku diam saja menahan kesal.

“Junsu hentikan!” Ucapku kesal. Junsu segera diam.

“Ehem! Mian hyung.” Ucapnya tersenyum.

“Baiklah Su aku pulang dulu!” Ucapku akhirnya pamit. Akupun keluar dari sekolah music itu dengan tergesa karena hari sudah mulai larut. Aku hanya tidak ingin ketinggalan kereta. Akupun segera menyetop taksi untuk mempercepat perjalananku menuju stasiun.

“Stasiun, ahjusshi!” Ucapku sesaat memasuki taksi. Eh tunggu tapi sepertinya aku mendengar suara lain. Aku menengok ke bangku sebelahku. Terlihat seorang namja yang juga tengah menatapku dengan dahi berkerut. Sepertinya aku mengenali namja ini.

“KAU!!!” Teriakku berbarengan dengan namja itu. Aku kenal namja itu. Namja bermata musang yang memanggilku nona siang tadi. Aish! Apa sih maunya hingga aku bertemu dengannya lagi.

“Ini taksiku!” Bentakku galak.

“Ini taksiku, pabo!” Namja itu justru balas membentakku.

“Mwo!? Pabo!!?? Enak saja kau berkata seperti itu!!” Bentakku tidak kalah keras. Enak saja aku tidak mengenalnya dan dia berani mengatakan aku pabo! Sungguh menyebalkan!

“Turun dari taksiku!!” Bentaknya lagi membuatku geram.

“Enak saja! Aku yang menyetopnya kok!” Akupun tidak mau kalah.

“Kau ini yeoja kasar! Dada rata pula!” Bentaknya padaku. Aku terkejut. Yeoja katanya? Dada rata!?

“Hyak! Kau ini gila ya!? Jelas-jelas aku namja! Mana mungkin punya dada!” Ucapku berkoar sambil menepuk-nepuk dada bidangku. Dia menatapku. Lalu sedetik kemudian tangan besarnya sudah berada di dadaku. Seketika wajahku memanas.

“Yak kau memang namja ya?” Ucapnya polos masih meraba-raba dadaku.

PLAKKK!!!

“SIALAN KAU!!!!” Teriakku menampar wajah manly di depanku.

Sedetik kemudian….

“Gara-gara kau kan kita jadi diturunkan!” Ucap namja yang bahkan aku tidak tau namanya ini.

“Gara-gara kau!!! Meraba-raba seenaknya! Kau pikir aku apa hah!!??” Balasku tidak mau kalah. Emosiku benar-benar tersulut. Dasar namja brengsek. Berani-beraninya dia menyentuhku, gerutuku kesal dalam hati. Aku menatap tajam kearah namja jangkung yang tengah berdiri di sampingku menunggu reaksinya. Karena semua ulahnya kamipun didamprat dari dalam taksi dan terabaikan di pinggir jalan yang sudah mulai sepi.

“Sudahlah!” Ucapnya dengan enteng sambil berlalu pergi. Aku membulatkan mataku melihatnya dengan seenaknya tanpa rasa bersalah melarikan diri.

“Yak! Tunggu aku!!!” Teriakku mengejar tubuh besar itu ke sisi jalan.

TBC

Otthoke? Gaje? Sangat…. *author pesimis

Tapi yang penting Author ingin mengucapkan Happy Anniversary buat Emak ama Babeh~Moga makin langgeng, makin real, makin hot dan makin-makin yang lain~ Yunjae is REAL, Yunjae Jjang!

Dan Yunjae selalu ada di hati Author ^^

Kamsa bagi siapa saja yang meninggalkan jejaknya *lambai2

9 thoughts on “[FF] Coffee Of Love – Prolog – Part 1 Miss Blonde

  1. annyeong haseo, im new reader here..

    yeay new fic!

    dasar emang nasib mommy yg kebangetan cantik digrepe2 trus deh
    gyaa~ yunpa pervy eoh?! maen pegang2 aja pdhl cm motif doank!! #plak
    lanjut author sshi… interesting!!🙂

  2. annyeong…
    aku reader baru..^^
    aaaaa…aku suka cerita x..!!
    slhkn wjh cantikmu jaema,knpa selalu dpnggil yeoja,hihihi..
    yunpa bear modus bngt tuh,pkai alsn ngerep2 jaema lagi ==”
    ijin baca chap berikut x ne…

  3. malang bener nasib si emak jeje…..
    babeh yun juga….
    babeh tu pabbo apa polos sih main rabar dada si emak?
    jadi ada gajah ngamuk, kan?

  4. anyeonghaseo authornim minta ijin numpang baca ff disini karena liat nie ff udah panjang jadi saya baru baca hehehe maaf saya reader yg malas nunggu
    hemzz chapter awal ceritanya ringan dan manis semoga selanjutnya tambah seru
    lanjutkan

  5. kasian bngt jaemma di grayangin trz, abiz jaemma yeopo sunich. hehehe #dideathglare jaemma -_-
    duhh yunjae berantem trz sichhh

  6. hahaha jae dipanggil noona sama yun *ngakak*
    tapi emang jae cantik sii, jadi yahhh mau gimana lagi *smirk*
    oh my, yun pervy eoh baru kenal udah pegang2 *geleng2*

  7. Bwahahaa kocak banget yunpa, baru nyadar jaema namja setelah pegang dadanya jaema, mana sama2 harus diturunin di jalan lagi hhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s