Yunjae I am the Witness


I am the Witness

Author: nTiiiee

Twitter: @nTiiiee

Pairing: YunJae

Length: Oneshot

Genre: Romance / Fluff

Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Others

Ehmm,, hai,, haruskah aku menyapa kalian?? Oh baiklah aku memang harus memperkenalkan diriku. Apa kalian sudah sibuk menebak siapa aku?? Maap kalo kalian berpikir aku ke-PD-an. Tapi sungguh deh, aku tau kalian sedang mencoba menebak-nebak siapa aku. Haruskah aku langsung mengatakan siapa aku?? Eeiiii,, hidup tak bisa selalu mudah. Kalian cobalah dulu menebak siapa aku. Aku akan memberi petunjuk pada kalian.

Aku besar. Ohh ayolah, kalian jangan langsung men-judge aku gendut. Besar gak selalu sama dengan gendut. Lagian kalau kalian ingin mendengarkan kisahku, jangan pernah mengataiku gendut. Aku ini besar.

Warnaku gelap. Aku juga tidak mengerti kenapa dia menyukai warna gelap. Padahal dia berwarna terang. Nanti kalian tanyakan sendiri padanya. Aku tidak tertarik untuk bertanya. Aku bahkan tidak peduli dengan warnaku yang gelap.

Aku berhiaskan benda-benda mahal. Dia memang penyuka barang bermerek. Dan sejujurnya aku bahagia dia menghiasiku dengan benda-benda mahal. Ini membuatku tampak elegan.

Hem,, apalagi ya petunjuk yang harus ku berikan?? Apa kalian sudah bisa menebak siapa aku?? Aku rasa belum. Ahh, kalian ini memang malas sekali berpikir. Tapi aku belum mau memberi tahu kalian siapa aku. Pikirkan dulu sendiri. Atau tebak saja nanti setelah aku menceritakan apa yang ku ketahui.

***

Malam ini diluar terdengar ramai. Sepertinya dia mengajak teman-temannya untuk berkunjung. Dari percakapan yang ku dengar, sepertinya itu bukan party. Dia hanya mengajak sedikit temannya. Ahh, dia sepertinya tidak menyukai membuat rumahnya terlalu ramai. Beberapa teman cukup untuk membuatnya melupakan kesendiriannya. Tapi siapa sebenarnya yang dia undang??

Yang aku dengar adalah seseorang yang hobi sekali berbicara, orang itu sedari tadi yang memulai semua percakapan. Tampaknya si tukang bicara senang sekali memotret. Sejak tadi si tukang bicara itu meminta dia untuk melakukan beberapa pose. Si tukang bicara berkata dia akan memuat poto itu di akun twitternya.

Aku juga mendengar seorang lagi, suaranya sedikit berat, tapi terdengar manja. Dan entah mengapa, aku sedikit tidak menyukai orang ini. Si suara manja ini terdengar berkali-kali meminta dia untuk duduk dengan tegap agar si suara manja bisa menyandarkan tubuhnya. Dia memang terlalu baik, terutama pada orang yang dianggapnya teman. Tapi si manja ini sedikit keterlaluan. Si manja membuat dia melakukan semua hal yang harusnya si manja itu yang melakukan. Kalau si manja ingin menonton dvd kan seharusnya si manja sendiri yang menyalakan dvdnya. Tapi si manja ini malah menyuruh dia yang menyiapkan semuanya. Bahkan untuk sekedar mengambil minum dimeja saja si manja menyuruh dia mengambilkannya.

Aku mengerti kalau dia lah yang mengundang mereka. Dia juga lah yang membutuhkan mereka untuk menemaninya. Tapi bukan berarti dia harus melakukan semuanya untuk mereka kan??

“Joongie hyu~~ng mau kemana??” terdengar suara si manja. Ya Tuhan maapkan aku, tapi sekarang aku tidak hanya tidak menyukainya. Sekarang aku membencinya.

“Ada yang mau ku ambil dikamar sebentar Geunsuk-ah.” Aku tau, dari suaranya dia terdengar mencari-cari alasan. Dia terdengar lelah.

“Joongie, poto yang tadi aku upload di retweet banyak orang looh. Waaahhh banyak sekali mention yang masuk ke akun ku. Joongie aku upload yang lain lagi ya??” si tukang bicara terdengar bersemangat sekali.

“Terserah kau saja phryme hyung.” Aku tau dia berpura-pura tersenyum saat mengatakan itu.

Kemudian terdengar si tukang bicara meminta si manja berpura-pura menonton agar si tukang bicara dapat memotret punggung si manja. Aku tidak terlalu memperhatikan obrolan mereka. Dia mengalihkan perhatianku. Dia menyandarkan tubuhnya dipintu yang baru saja ditutupnya. Dia menghela napas. Tampak sekali kelelahan di wajahnya. Dia merebahkan badannya dikasur empuk miliknya. Menatap langit-langit, sebelum akhirnya mengangkat ponsel keluaran terbaru miliknya kedepan wajahnya. Sepertinya dia sedang menunggu pesan dari seseorang. Dia mengetik beberapa kata, kemudian menghapusnya lagi. Begitu terus tanpa mengirim satu pesan pun. Huuffttt.

***

Malam ini dia tidak mengundang siapa pun kesini. Dia mengunci diri, mencoba untuk memejamkan matanya. Hasilnya?? Tentu saja gagal. Dia hanya bolak balik memutar badannya diatas kasur empuknya. Mengecek ponselnya setiap dia merasa tidak berhasil memejamkan mata, hanya untuk melempar sembarangan ponselnya yang tak berdosa itu. Setelah sekian lama mencoba memejamkan mata dan gagal, dia memutuskan untuk ke dapur, mengambil wine ditempat penyimpanannya dan meminumnya sampai dia merasa cukup.

***

Malam ini kembali ramai, si tukang bicara dan si manja datang lagi. Jangan Tanya. Mereka masih berkelakuan seperti sebelumnya. Menyebalkan. Tapi aku mendengar suara lain. Yang ini suaranya terdengar lembut. Sedikit manja, tapi tidak menyebalkan seperti si manja.

“Aigoo, aku lapar, Joongie pinjem dapur ya. Hyung mau bikin ramyun.” Si suara lembut terdengar sopan.

“Biar aku aja yang buat hyung.” Dia memang baik terutama pada tamunya.

“Eeeiiii,, it’s okay. Hyung bisa bikin sendiri.” Ahh, aku mulai suka pada si suara lembut. Sungguh sopan.

“Gwencana hyung, biar aku yang buatkan.” Memasak memang hobi dia kan.

“Udah Sokchun hyung disini aja, biar Jaejoongie aja yang masak. Biarkan dia pacaran sama dapur tercintanya.” Si tukang bicara menimpali.

Dia hanya tersenyum. Memasak memang hal yang sangat dia sukai. Tapi belakangan ini sesungguhnya dia sedikit tidak bersemangat dengan kegiatan memasaknya. Baginya ada sesuatu yang hilang dari rutinitasnya saat memasak, dan sesungguhnya hal itu adalah yang terpenting dalam kegiatan memasaknya.

“Sokchun hyung, ramyun nya sudah siap.” Dia memanggil si suara lembut.

“Omooo, Joongie melihat hasil masakanmu selalu berhasil membuatku semakin lapar.” Si suara lembut memuji, suaranya terdengar tulus.

“Ahahaha, hyung bisa aja. Silakan dimakan hyung, ntar keburu dingin.” Dia tersenyum, kali ini tidak terpaksa, namun sayang senyumnya tidak mencapai matanya. Matanya tidak dapat berbohong, masih ada yang terasa kurang disana.

“Joongie gak ikut makan??” si suara lembut bertanya. Dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Joongie hyung mau diet lagi ya??” si suara manja ikutan bertanya.

“Eeeiiii, Joongie bukannya malah pengen nambahin berat badan?? Kamu udah berhasil naikin berat badan kan kemaren?? 4 kilo dalam 4 hari bukan ya??” si tukang bicara ini memang banyak sekali bicaranya.

“Ahh, aku tadi sudah makan, sekarang masih kenyang. Kalian saja yang makan.” Dia berhasil menutupi kebohongannya dengan rapi. Aku mengerti sekali, memasak saja dia merasa ada yang kurang, bagaimana mungkin dia bisa memakan hasil masakannya.

***

Beberapa malam ini tidak ada yang datang. Dia membiarkan dirinya sendirian. Dia beberapa kali menelpon beberapa orang, hanya untuk menemaninya berbicara hal-hal yang tidak terlalu penting. Tapi tampaknya dia malah tidak menelpon seseorang yang paling dia ingin dengarkan suaranya. Entah mengapa, sepertinya dia tidak ingin mengganggu orang tersebut.

Malam ini dia memutuskan untuk tidur lebih awal. Tapi seperti malam-malam sebelumnya, dia hanya berhasil tidur beberapa menit sebelum akhirnya kembali terbangun. Tapi dia tetap memejamkan matanya, berusaha untuk kembali tidur walau sebenarnya dia tidak bisa. Sepertinya dia menunggu sesuatu, tapi dia bertingkah seakan dia tidak menunggu. Aku tau pasti dia masih terjaga, walau matanya sepenuhnya menutup dan gerakan tubuhnya seolah dia sedang tertidur lelap. Dia makin pandai berakting.

Aku mendengar, sepertinya ada seseorang yang membuka pintu dan masuk ke rumah ini. Tengah malam begini, siapa yang masuk. Seingatku tidak ada penghuni lain dirumah ini selain dia. Dan tampaknya dia menyadari ada yang masuk, tubuhnya sedikit menegang, dia tampak mencengkram seprei. Wah, bagaimana ini, bagaimana kalau tamu itu bermaksud jahat pada dia.

Seseorang berjalan menuju tempat tidur dia. Dia berusaha tidak bergerak, tapi aku tau cengkraman pada seprei nya semakin kuat. Namja itu tinggi, lebih tinggi dari dia. Si namja semakin mendekat ke tempat tidur sambil mengendap-endap. Namja itu menyingkap selimut disisi sebelah dia, menyelipkan dirinya kedalam selimut tersebut. Perlahan tapi pasti si namja merapatkan diri pada dia. Dengan gerakan lembut namja itu berhasil melingkarkan kedua tangannya pada tubuh dia. Dia tampak terkejut beberapa detik, sebelum akhirnya menggerakkan sedikit badannya, mencari posisi ternyaman berada dalam pelukan si namja.

Sepertinya namja itu menyadari kalau dia belum sepenuhnya terlelap. Bibir berbentuk hati milik namja itu seketika melengkung, kemudian namja itu mulai menciumi daerah antara leher dan bahu milik dia. Mulanya hanya kecupan ringan, tapi cukup untuk membuat dia sedikit bergindik. Si namja malah semakin tersenyum merasa kecupannya memberi pengaruh pada dia. Si namja pun semakin bersemangat melanjutkan aktivitasnya.

Tampaknya dia mulai terganggu, dia pun berhenti berpura-pura terlelap. Perlahan dia membalikan badannya, membuat wajah mulusnya berhadapan langsung dengan dada si namja. Setelah memposisikan badannya lebih nyaman dalam pelukan si namja, dia mengangkat sedikit wajahnya untuk menatap wajah si namja.

“Yun,” Dia memanggil namja itu dengan lembut.

“Sorry baby, apa aku membuatmu terbangun?” Si namja berbisik lembut sambil mengusap pipi mulus dia. Dia menggelengkan kepalanya, meletakkan tangannya diatas tangan namja yang tengah mengusap pipinya, seutas senyum melengkung dibibir merah cherry nya.

“Aku memang gak bisa tidur kok.”

“Kenapa sweetie? Kenapa kamu gak bisa tidur?”

“I miss you.” Dia memejamkan matanya, untuk merasakan setiap sentuhan tangan namja itu diwajahnya. Namja itu mengecup keningnya.

“I miss you too baby.” Kecupan namja itu turun dari keningnya, ke ujung hidung mancungnya, kemudian mengecup mata dia satu per satu.

“Apa kamu benar-benar merindukanku?” dia bertanya setelah si namja berhenti mengecup setiap sudut wajahnya.

“Tentu. Kamu meragukanku?” si namja tampak cemberut.

“Kalau merindukanku kenapa gak telpon atau sekedar kirim pesan?” dia juga memasang tampang cemberut.

“Karena ku pikir kamu yang gak merindukanku.”

“Kenapa kamu berpikir aku gak merindukanmu?”

“Abisnya diinternet beredar poto-potomu sedang bersenang-senang bareng temen-temenmu.”

“Itu salahmu pabo!!”

“Kenapa jadi aku yang salah?”

“Iya karena memang salahmu!! Rumah yang kamu belikan ini terlalu besar. Jadi ku undang mereka supaya ada yang menemaniku.”

“Kan kamu sayang yang minta rumah yang lebih besar. Kamu bilang rumahmu sebelumnya terasa sempit.”

“Kamu tuh kapan ngertinya sih?? Menyebalkan.”

“Aigoo, jangan marah dong sayang. Katakan apa yang aku gak ngerti?”

“Aku bilang rumahku dulu terasa sempit untuk kita berdua. Aku minta rumah yang lebih besar supaya kita nyaman tinggal didalamnya. Rumah besar ini untuk kita tinggali BERDUA Yunho, bukannya untuk aku sendirian.” Dia tampak benar-benar marah sekarang. Dia tidak mau menatap si namja. Dia bahkan berusaha melepaskan diri dari pelukan si namja. Tapi namja itu tidak melepaskannya. Si namja malah makin mengeratkan pelukannya. Si namja bahkan sedikit mengangkat dia membuat dia berbaring diatas tubuh si namja.

“Turunkan aku yun!” Dia masih tidak ingin menatap si namja.

“Sorry baby.” Si namja membisikkan kata maap.

“Turunin aku Jung!” Dia masih berusaha melepaskan diri dari pelukan si namja.

“I am so sorry baby, please.” Si namja makin mempererat pelukannya.

“I hate you!” Dia menghentikan usaha melepaskan dirinya. Meletakkan kepalanya dibahu si namja, memukul pelan dada si namja.

“Sorry sweetie, aku bukannya gak ngerti kamu. Tapi kamu tau kan jadwal ku?”

“Sampai kapan kita seperti ini Yunho?” Dia sedang menahan tangisnya yang hampir jatuh.

“Ssssttt, sabar sayang.” Si namja mengusap-usap punggung dia.

“Aku capek yun.”

“I know baby, I know. Sorry. Akan ku usahakan untuk lebih sering pulang okay?”

“Jam berapa jadwalmu besok?”

“Jam 7 aku sudah harus disana.”

“Ohh, kamu butuh istirahat yun, tidurlah.” Ada nada kecewa dalam suaranya, tapi dia berusaha sekuat tenaga menutupinya. Tapi dia tidak pernah berhasil membohongiku dan sepertinya tidak pula pada namja itu.

“It’s okay, aku bisa tidur nanti.” Namja itu menjawab sambil tetap tak mau melepaskan dia.

“Ini udah terlalu malam Yunho. Aku gak mau waktu istirahatmu yang sudah sedikit semakin sedikit.”

“Tapi aku masih ingin mendengar suara mu boo. Aku masih ingin ngobrol denganmu.”

“No Yunho. Kamu butuh istirahat, sekarang turunkan aku! Kamu gak akan bisa istirahat kalau kita masih diposisi ini.”

“Kenapa memangnya sama posisi kita? Bukannya kamu selalu pengen nyobain jadi top?”

“YAH!! Kamu ngomong apasih??”

“Aigoo, ada yang mukanya memerah sepertinya.”

“Ehhmm.” Dia menyembunyikan wajahnya didada si namja.

“Aigoo imut sekali menyembunyikan pipi meronamu dalam dadaku.”

“Yuu~~nn, turunkan aku!! Aku berat.”

“Eeiii kata siapa kamu berat. Kamu ringan begini kok.” Si namja menggerak-gerakan dia kekiri dan kekanan namun tetap dalam pelukkannya.

“Berat badanku naik Yun.”

“Ohya?? Naik berapa?”

“4 kilo dalam 4 hari.”

“Waahh, jinjja?? cepat sekali. Eh, tunggu dulu. Baby, jangan-jangan kamu hamil?”

“YAH!! Mana mungkin aku hamil.”

“Kenapa gak mungkin? Biasanya kan orang hamil yang bisa naikin berat badan dengan cepat.”

“Tapi aku namja Yunho!! Aku gak mungkin hamil.”

“Siapa tau ternyata kamu beneran punya rahim honey. Seperti yang sering ditulis fans-fans kita di fanfic.”

“Ihhh, kamu tuh kebanyakan baca fanfic.”

“Ihhh, kan kamu yang nyuruh aku baca fanfic.” Si namja mencubit hidung dia dengan manja.

“Uhhmm, alasan.” Dia memajukan bibirnya dengan imut. Si namja malah mempererat pelukannya. Lama mereka terdiam dalam posisinya.

“Jae…”

“Heem??”

“Kamu beneran gak hamil?”

“YAAAHHH!!!” Dia memukul si namja, yang dipukul malah tertawa-tawa. Dia tampaknya benar-benar sebal pada si namja, dia terus memukuli si namja. Si namja tadinya hanya tertawa menerima pukulan dia, tapi karena dia tak juga berhenti, si namja mulai membalas menggelitik pinggang ramping dia. Dia yang tak pernah tahan bila digelitiki mulai tertawa-tawa. Kalau kalian jadi aku, adegan ini akan membuat hati kalian menghangat. Bagaimana tidak? Aku melihat banyak ekspresi diwajah mulus dia. Senyum terpaksanya, tawa terpaksanya, tangisnya, sedihnya, dan sekarang yang kulihat adalah tawanya. Tawa terjujurnya. Tawa terlepasnya. Tawa yang tidak hanya dibibirnya, tapi tawa dari hati hingga ke mata bulatnya. Dari semua orang yang kulihat bersamanya, hanya namja ini yang mampu membuatnya tertawa bahagia. Namja ini pasti segalanya untuk dia.

Entah berapa lama mereka tertawa-tawa sambil berbalas gelitik, saat mereka berhenti untuk mengatur napas yang terengah-engah, posisi mereka sudah tertukar. Beberapa saat mereka hanya saling menatap seraya mengatur napas.

“Baby…”

“Heem??”

“Aku rasa aku bisa membuatmu tidur nyenyak malam ini.”

“Oh ya? Gimana caranya?” Mata bulat dia menatap di namja dengan penasaran. Si namja hanya tersenyum jahil.

“Eeeiii, jangan pura-pura gak ngerti sayang. Bukankah posisi kita sudah menjelaskan maksudku?”

“Eerrr,, apa??” Tampak rona merah mulai menyebar dipipi dia. Dia mengalihkan pandangannya dari si namja.

“Aigooo, wajahmu selalu imut saat malu-malu seperti ini.”

“Euummm,” sekarang wajah dia sudah sempurna memerah. Dia mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tapi si namja lebih cepat menahan tangannya.

“Jangan ditutupi sayang. Kamu terlalu indah untuk disembunyikan.” Si namja berkata lembut. Dia menggigit bibir bawahnya, masih tidak berani menatap si namja.

“Kim Jaejoong..” si namja memanggilnya lembut, berusaha membuat dia menatap wajah tampan si namja.

“Heemm?” Dia mengumpulkan keberanian untuk menatap mata musang milik namja diatasnya itu.

“Saranghae…” Si namja berbisik lembut, mambuat dia melengkungkan senyum termanisnya.

“Saranghaeyo Jung Yunho.” Jawaban yang cukup untuk membuat si namja mulai bergerak menghilangkan jarak diantara wajah mereka.

***

Apa??

Kalian bertanya kenapa aku tidak menceritakan hal yang terjadi selanjutnya??

Kalian pikir aku sebaik itu??

Mimpi saja!!

Apa yang terjadi selanjutnya hanya aku yang boleh tau. Aku satu-satunya saksi mata sekaligus tempat kejadian perkara. Bye!!!

***

END

Annyoooonggggggg

Author baru disiniiiiiii

Akhirnya saia debut juga diFFYJ,,hahaha

Semoga kalian suka cerita konyol yang terpikirkan didalam kereta saat melihat sawah iniiii

Silakeeuuuunn komenin ff debut saia iniii,,

Yee kali pada pengen komen,, saia akan menerima semua komenan andaaaaaaaa

Hehe

 

Eniwei buat emak dan babeh, ciiiieeeee yang lagi anniversary…

Semoga emak dan babeh semakin real dan semakin punya banyak anak (a.k.a YJS)

Dan semoga emak dan babeh sering-sering ngasih uang jajan buat anak-anaknya (ngarep)

Byeeeeeee!!!

6 thoughts on “Yunjae I am the Witness

  1. new reader here…🙂
    baru pertama kali menjajakkan kaki disini, karena baru tau ternyata ada blog khusus fic yunjae dengan bahasa indonesia >,< (biasanya aku nyari kesana kemari)
    huaaa… pengen baca lebih banyak lagiii…
    hmm… kayanya yg cerita ini si rilla yaa? hohoho… rilla, si lampu kuda, dan yg lain udah pasti jd witness nya yunjae, baru kali ini dah iri sama pajangan(?)..

  2. Ini pov-nya rumahnya Jae ya?? #Sotoy
    Belum pernah baca ff yg pov nya bukan orang tapi sangat daebak hasilnya. unik lho..hehe
    kalau gini ceritanya aku bersedia deh jadi rumahnya Jae jadi kan bisa ngeliat Yunjae uhuk-sensor-
    uhuk >_<

    • aaaa akhirnya ada yang bisa nebak nyaris bener
      kamar jj lebih tepatnya
      tp ya rumah mya jj juga kan tu kamar
      hihihihihihi
      bishing nih dipuji unik
      hehehe

      anyway thank you so much ya udah baca plus komen
      peluukkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s