[FF] Coffee Of Love – Part 2 Awkward Meeting


Jeng jeng…

Author kembali untuk mempost Part 2 nya

Enjoy ^^

======================

Title : Coffee Of Love

Pairing : Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kwon Boa and others

Genre : Romance, drama, angst, sweet, mpreg

Rate : 16+

Pagi yang mendung di musim dingin serta pemandangan serba putih yang terhampar di atas kota Seoul membuat banyak orang enggan untuk keluar rumah karena hembusan anginnya yang seakan membekukan hingga ke tulang. Tampak seorang namja berparas bagai malaikat tanpa sayap dengan mata bulatnya yang bening, hidung mungilnya yang mancung serta sebuah bibir yang terpahat dengan indahnya diwarnai warna merah yang semakin mempertegas bibir itu terlihat manis untuk di kecup tengah duduk di tangga belakang sebuah kedai kopi terkenal. Memangku dagunya dan mengerucutkan bibirnya. Pikirannya berkecamuk memikirkan sesuatu. Samar-samar sebuah kantung mata menggelayuti mata indahnya.

“Pagi-pagi sudah melamun!” Sapa seseorang membuat namja berwajah bak malaikat itu terkejut. Ia hanya tersenyum hambar menanggapi sapaan pagi dari teman kerjanya sesama pelayan. Namja bermata kucing itu duduk di samping Jaejoong.

“Kau baik-baik saja hyung?” Tanyanya lagi melihat namja cantik itu hanya duduk terpekur di tangga belakang kedai.

“Ah~Anniya. Aku hanya kurang tidur.” Ucap Jaejoong berbohong. Namja di sebelahnya hanya mengangguk-ngangguk.

“Apa kau tidak sibuk, Key?” Tanya Jaejoong pada namja bermata kucing itu. Key pun menggeleng.

“Pagi-pagi begini kan pelanggan belum banyak yang datang.” Ucapnya santai. Jaejoong mengangguk. Kemudian kembali tenggelam pada pikirannya. Melayang kembali ke malam tadi.

*Flashback*

“Yak! Apa kubilang kan kita pasti ketinggalan kereta! Semua itu gara-gara perbuatanmu!” Bentak Jaejoong pada namja jangkung di depannya. Kini mereka tengah berdiri di peron kereta yang lengang dan sepi. Hanya ada bangku-bangku kosong.

“Salahku? Enak saja!” Sergah namja jangkung itu dengan mata musang yang menatap Jaejoong dingin. Jaejoong menghentakkan kakinya kesal. Ia pun berjalan kearah bangku tunggu dan membanting dirinya duduk. Melipat tangan mungilnya sambil terus mengerucutkan bibir merahnya.

“Kau mau menunggu sampai besok? Pabboya!” Ucap namja itu sinis. Jaejoong mendelik menatap sepasang manik coklat di hadapannya.

“Kau pikir kau siapa!? Beraninya memanggilku pabo sedaritadi! Mengenalmu saja aku tidak! Aish!” Omel Jaejoong sembari bangkit dari duduknya dan menunjuk-nunjuk hidung namja yang lebih tinggi darinya.

“Karena aku tidak tahu namamu.” Jawab namja jangkung itu enteng semakin membuat darah di kepala Jaejoong mendidih. Ia menghembuskan nafasnya keras sebelum membanting dirinya duduk kembali. Namja jangkung itu mengikutinya dan duduk di sampingnya. Keheningan menyapa mereka karena keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Aku Jung Yunho.” Ucap namja jangkung itu tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari rel kereta. Jaejoong menoleh sebal.

“Memangnya aku tanya?” Jawab Jaejoong sekenanya. Ia malas berbasa-basi dengan manusia menyebalkan seperti namja ini. Terlebih ini sudah larut dan Jaejoong mulai mengantuk.

“Jawab saja~tidak perlu menggerutu.” Ucap Yunho dingin dan datar. Seakan tidak pernah ada emosi dalam setiap kata yang terlontar dari bibir berbentuk hati miliknya.

“Kim Jaejoong! Puas?” Jawab Jaejoong masih dengan nada kesal. Yunho mengangguk pelan.

“Panjang, aku panggil kau Boo saja.” Ucapnya lagi santai. Jaejoong kembali menoleh. Kali ini tidak mengerti dengan panggilan yang diberikan oleh Yunho. Baru kenal dan Jaejoong sudah mendapatkan nama panggilan.

“Apa maksudmu?” Tanya Jaejoong mengerutkan keningnya.

“Boo~karena kau pabo.’’ Ucap Yunho datar. Namja cantik itu membulatkan matanya kaget. ‘Aishi! Namja ini minta dibunuh!’ gerutunya dalam hati.

“Seenaknya sekali kau ini!” Bentak Jaejoong lagi. Tapi respon yang didapat hanya berupa senyum datar di wajah kecil itu.

“Sesukaku!” Ucapnya dingin membuat Jaejoong semakin kesal dengan manusia menyebalkan ini. Bisa-bisanya Ia terjebak dengan namja super datar dan dingin serta menyebalkan seperti manusia ini. Jaejoong kembali terdiam. Malas jika harus meladeni kata-kata orang gila seperti Yunho.

“Jaejoong~” Panggil Yunho ketika Ia tidak mendengar lagi suara berisik dari bibir mungil itu. Yunho menoleh dan mendapati namja cantik itu tengah tertidur dengan posisi duduk. Kepala Jaejoong menunduk kebawah dengan tangannya yang terlipat di dada.

“Aish! Pabo! Bisa-bisa Ia sakit leher tidur seperti itu!” Gerutu Yunho. Ia melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul duabelas malam. Artinya penantian kereta api pertama masih panjang. Yunho menggeser pelan tubuh mungil itu. meletakkan kepala Jaejoong di pahanya dengan perlahan lalu memperbaiki posisi kaki namja cantik itu. Yunho memperhatikan wajah cantik yang tertidur itu. Mata bulatnya yang terpejam. Hidung mungil yang mancung. Bibir penuh nan merah. Serta semburat kemerahan di pipinya yang putih seputih salju. Sempurna, walaupun nampak sangat lelah.

“Huff~~huff~~” Gumam Jaejoong membuat Yunho terkejut. Namja feminis itu semakin mempererat pegangannya pada syal merah mudanya. Yunho segera melepas mantel miliknya dan menyelimuti namja cantik itu agar tidak kedinginan.

Malam pun semakin larut dan hawa dingin pun kian menusuk-nusuk hingga ke tulang. Jaejoong pun terbangun dan melihat sebuah mantel coklat menyelubunginya. Jaejoong segera mendongak dan melihat sebuah wajah kecil yang tengah memejamkan mata. Tertidur. Jaejoong pun terkejut melihat Yunho hanya menggunakan kemeja di malam yang sangat dingin ini.

“Ish! Apa Ia tidak beku!?” Gerutu Jaejoong. Perlahan Ia pun bangun dari posisi tidurnya. Melirik jam tangan karetnya yang masih menunjukkan pukul enam pagi. Jaejoong memperhatikan namja manly itu. tampan. Tapi menyebalkan. Tapi…

“Kau sudah bangun rupanya?” Tanya Yunho masih memejamkan matanya. Jaejoong pun terkesiap kaget dari lamunannya.

“Hm, gomawo..” Ucap Jaejoong tanpa menggubris pertanyaan Yunho. Wajahnya tertunduk. Merasa tidak enak karena sudah merepotkan Yunho. Dalam pikiran Jaejoong, ada juga sisi baik dari namja di sebelahnya ini!

“Kau berat juga, hm..” Ucap Yunho tanpa menjawab ucapan terima kasih Jaejoong. Jaejoong seketika mendongak dan menatap kesal pada namja yang tengah melihatnya dengan sepasang mata kecil itu.

“Menyebalkan! Nih kukembalikan!” Ujar Jaejoong melempar mantel coklat itu kesal. Yunho menangkap mantel itu dan menggunakannya. Sedangkan Jaejoong melengos kesal karena dibilang berat.

“Kau memang kasar ya?” Tanya Yunho. Membuat Jaejoong kembali mengerucutkan bibirnya kesal. Hilang sudah nilai positif dari seorang Jung Yunho.

“Terserah!” bentak Jaejoong kesal. Yunho tidak meladeni perkataan Jaejoong. Ia hanya terdiam menatap rel kereta di depannya. Jaejoong pun sama. Namja cantik itu sungguh tidak mengerti dengan Yunho. Sedikit Ia bicara dan itu sangat menyebalkan. Tapi saat Ia diam seperti ini, Ia justru terlihat sangat tampan. ‘Aish! Apa sih yang kau pikirkan Jaejoong!’ Gerutu Jaejoong memukul kepalanya sendiri.

“Yak! Boo sepertinya kita akan berpisah sampai di sini! Ppapai!” Ucap Yunho tiba-tiba. Jaejoong melongo dan segera memeriksa jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebuah kereta pertama pun datang. Jaejoong tidak sadar bahwa mereka  cukup lama melakukan aksi bungkam dan memikirkan kekesalannya pada Yunho. Jaejoong pun terpaku menatap Yunho yang berjalan memasuki kereta. Tanpa lambaian tanpa menatap kembali Yunho pergi begitu saja. Seakan malam panjang yang mereka lewati tidak pernah terjadi. Seakan Yunho bertemu Jaejoong hanya sebentar. Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menelisik ke dalam hatinya. Ada rasa bahwa dia akan bertemu Yunho untuk waktu yang lama tapi ada rasa Ia akan kehilangan namja itu.

*flashback end

“Joongie? Joongie?” Panggil Yoochun sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah namja feminis yang sedari tadi melamun.

“Eh? Chun? Ada apa?” Tanya Jaejoong gelagapan tersadar dari lamunannya tentang pertemuan anehnya dengan namja bermata musang itu.

“Kau baik-baik saja Joongie? Daritadi aku memanggilmu.” Ujar Yoochun menatap Jaejoong khawatir. Jaejoong menggeleng cepat.

“Ah mian Chun! Aku akan segera bekerja!” Ujarnya cepat-cepat berdiri meninggalkan Yoochun yang menatapnya bingung. Jaejoong berjalan ke bar dan seketika matanya menangkap sosok tinggi bak tiang listrik tengah berdiri di depan kasir. Sebelah tangannya memegang kantong kertas dari Coffee Cojjee. Jaejoong mengingat namja itu yang datang bersama dengan Yunho. Tapi kali ini dia sendirian. Seragam yang masih melekat di tubuhnya menjelaskan bahwa Ia akan atau baru pulang sekolah. Tetapi mengingat ini masih pagi rasanya tidak mungkin bahwa namja jangkung itu pulang sekolah.

“Permisi, mana temanmu?” Tanya Jaejoong segera menghampiri namja jangkung itu sebelum Ia pergi meninggalkan kasir.

“Teman? Maksudnya Yunho hyung?” Tanya namja itu lagi. Jaejoong mengangguk.

“Ia sedang sakit. Setelah tidak pulang semalaman. Tadi pagi tubuhnya demam. Jadi aku mampir untuk membelikannya sarapan. Wae?” Tanya namja itu lagi dengan polosnya. Jaejoong terkejut mendengarnya. Sakit? Dan ini salahnya karena semalaman mantel Yunho Ia yang menggunakannya.

“Ah anni. Kalau begitu kau pasti adiknya ya?” Tanya Jaejoong lagi.

“Bukan, aku tetangganya.” Ucap namja itu lagi. Jaejoong mengangguk lagi. Lalu mengucapkan terima kasih pada namja jangkung itu. Jaejoong pun berjalan dengan langkah gontai kearah meja bar. Perasaannya menjadi tidak enak karena membuat namja itu sakit. Walaupun menyebalkan tapi Yunho sudah sangat berbaik hati menyelimutinya sehingga Ia yang kedinginan.

“Apa aku menjenguknya saja ya?” Gumam Jaejoong pada dirinya sendiri.

(Yunho Pov’s)

Pagi ini aku hanya bisa terkulai lemas di atas futon di tengah apartemen kecilku. Aku menaikkan selimut sampai mulut untuk mengusir dingin yang membuatku menggigil. Huff karena aku berbaik hati pada namja bawel itu. tapi aku tidak merasa menyesal telah berkorban untuknya. Kenapa ya perasaanku jadi aneh  begini? Hangat…

“Hyung?” Panggil seorang namja jangkung sembari menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

“Min, masuklah!” Kataku mempersilahkan namja bernama Changmin itu. Namja itu pun masuk lalu meletakkan sebuah kantong di atas meja kecil di depan TV.

“Masih demam hyung?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk sembari bangkit menuju meja kecil di depan TV.

“Gomawo Min kau sudah susah-susah membantuku.” Ucapku. Changmin hanya mengangguk. Lalu Ia pun duduk di seberang meja menghadap kearahku.

“Hyung tadi ada yang mencarimu.” Ujarnya. Aku pun menoleh dan menatap wajah kekanakan Changmin.

“Nuguya?” Tanyaku.

“Namja cantik di kedai kopi. Yang rambutnya putih.” Ucapnya. Aku mengerutkan kening mendengarnya.

“Jaejoong?” Tanyaku. Changmin hanya mengedikkan bahu.

“Molla. Aku tidak tanya namanya.” Ucap Changmin.

“Dia tanya apa?” Tanyaku lagi sembari mengeluarkan sarapan dari kantong kertas itu.

“Dia menanyakan hyung pergi kemana. Saat aku jelaskan wajahnya terlihat terkejut. Apa kalian melakukan sesuatu?” Tanya Changmin dengan tatapan menyelidik.

“Kau ini jangan berpikir yang aneh-aneh! Aku hanya terjebak di stasiun kereta api bersamanya lalu aku meminjamkan mantelku padanya. Makanya aku sakit!” Kataku menjelaskan. Changmin pun hanya ber’O’-ria.

“Sana kau sekolah!” Ucapku lagi melihatnya masih saja duduk di hadapanku.

“Aku lapar hyung belum sarapan~” Ucapnya dengan wajah disedih-sedihkan. Aku pun melengos.

“Ara ara bawa ini! Kau ini!” Ucapku menyerahkan sarapan yang seharusnya Ia belikan untukku. Wajahnya pun seketika berbinar dan segera beranjak pergi. sebenarnya Ia niat tidak sih membelikanku sarapan!?

“Gomawo hyung!” Teriaknya riang. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah bocah pemakan segala itu. akupun berjalan menuju lemari penyimpanan makanan dan menyeduh sebuah mie cup instan.

“Nasibku..” Ucapku mulai memakan mie cup yang ada di tanganku. Sejenak pikiranku pun melayang kearah namja cantik berkulit putih susu itu. ada rasa hangat hinggap di hatiku ketika mendengar namja itu menanyakan keadaanku. Apa aku terlalu besar kepala? Sepertinya tidak juga. Setidaknya aku agak bersemangat. Tapi kenapa ya? Diakan namja? Kenapa perasaanku jadi aneh seperti ini ya? Ishhh~~

(Jaejoong POV’s)

Aku berjalan pulang menuju apartemenku saat aku melihat barang-barangku berada di luar. Lebih tepatnya mungkin dilempar keluar gedung apartment. Aku pun membelalakkan mataku dan segera berlari menghampirinya.

“Ahjumma mwoyo?” Kataku panik saat melihat pemilik apartemenku mengeluarkan barang-barangku.

“Kau sudah tidak bayar sewa selama tiga bulan! Apa kau tidak sadar!?” Bentak Heechul Ahjumma, sang pemilik apartement  sembari meletakkan barang-barangku di luar apartemen. Bukan lebih tepatnya Ia melempar barang-barangku keluar.

“Tapi~tapi apa aku tidak bisa pindah besok? Ini sudah malam ahjumma!” Pekikku membela diri. Tapi yeoja itu hanya mendelik kesal padaku.

“Itu urusanmu!” Ucapnya lalu menutup pintu tepat di hadapan wajahku. Aku pun menggedor-gedor pintu kayu itu.

“Tolonglah ahjumma! Ini sudah larut! Aku harus kemana?” Panggilku lirih sambil terus menggedor pintu. Rasanya airmataku ingin jatuh.

“Itu urusanmu!” Teriak Heechul Ahjumma padaku dari jendela kamarnya. Aku pun menghela nafas pasrah sambil menyeka sudut mataku. Di malam bersalju yang sungguh dingin seperti ini, aku harus kemana dengan barang-barangku ini. Aku pun merapikan baju-baju dan beberapa barang yang diletakkan, anniya, dilempar begitu saja keluar oleh Heechul Ahjumma,, lalu memasukkannya ke dalam koper besar. Aku pun menyeret lemah koper besar yang cukup berat itu.

“Aku harus kemana?” Bisikku lirih pada diri sendiri. Letak apartemen Yoochun dan Junsu berjauhan dan aku tidak mungkin meminta tolong mereka di malam selarut ini. Tetesan airmata pun mulai membasahi pipiku. Ayolah Kim Jaejoong jangan cengeng! Ucapku dalam hati.

Ckiittttt!!

Aku segera menoleh saat sebuah sepeda motor nyaris menabrakku. Jantungku serasa berhenti saat beberapa centi lagi ban motor itu menyentuh kakiku.

“Yak! Kau buta ya!? Lihat-lihat kalau menyebrang jalan!” Maki suara dari balik lampu motor yang menyorot mataku. Aku melongo mendengarnya. Tampaknya aku tidak sadar tengah menyebrang jalan.

“Mi-mian..” Ucapku sembari menghalangi cahaya lampu yang menyorot wajahku. Tidak lama lampu itupun mati dan sebuah sosok berjalan mendekatiku.

“Boo!? Sedang apa kau!? Menyeret-nyeret koper?” Ucap suara itu. aku pun langsung mengerjapkan mataku dan menatap siapa pemilik suara itu.

“Yunho!?” Pekikku melihat namja itu berbalut jaket kulit warna hitam dan sebuah helm yang menutupi wajah kecilnya.

“Iya ini aku pabo! Kau sedang apa selarut ini di jalanan!?” Tanyanya lagi ketus. Aku pun merengut. Sungguh tidak ada sedikit saja keramahan dari namja ini.

“Aku diusir dari apartemenku! Karena aku telat bayar!” Ucapku kesal. Aku berani bertaruh namja ini akan menertawaiku.

“Hahahahahahaha~~kasian sekali kau!” Tawa ejekan Yunho. Benar kan apa kataku. Aku hanya melengos kasar.

“Kalau kau sudah puas menertawaiku aku mau pergi!” Semburku melihatnya masih menertawaiku dengan nada mengejek.

“Oke oke, kau mau menginap di tempatku?” Tawarnya tiba-tiba. Aku memandangnya tidak percaya. Seorang Yunho yang menyebalkan tiba-tiba menawarinya? Pasti namja ini kepalanya sudah terbentur.

“Kau bercanda ya?” Tanyaku pada namja yang tengah berdiri di hadapanku. Ia melepas helm miliknya dan menatapku dengan kedua mata musang itu.

“Memang aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?” Yunho malah balik bertanya sembari menunjuk wajahnya.

“Tidak. Tapi aku kan belum mengenalmu! Apa tidak mencurigakan jika kau tiba-tiba saja mengajakku menginap di tempatmu!? Bagaimana jika~~Hump!” Bibirku pun tiba-tiba terkunci sebuah benda hangat dan basah. Akupun dengan segera mendorong tubuh besar itu.

“Yak! Apa-apaan kau!” Bentakku mengelap bibirku dengan lengan mantel yang kugunakan. Jantungku berdebar dengan kerasnya. Wajahku seketika memanas. Pasti aku tampak konyol!

“Kau cerewet sekali boo! Jadi aku menciummu agar kau diam.” Ucapnya datar tanpa rasa bersalah.

“Sialan kau!” Bentakku sembari mengangkat tanganku untuk memukulnya tapi berhasil ditahannya.

“Mau apa tidak? Daripada kau mati beku di luar sini~” Ucapnya lagi sembari mendekatkan wajahnya padaku. jantungku kembali berdetak tak karuan. Bahkan aku bisa merasakan hembus nafas hangatnya di wajahku.

“Baiklah kalau tidak mau. Jalja!” Ucap Yunho melepas pegangan tangannya dari tanganku dan segera menaiki motornya.

“Eh! Baiklah aku ikut denganmu~” Ujarku akhirnya. Walaupun hatiku masih kesal karena dia menciumku seenaknya. Aku kan namja!? Arghhh!!!

“Ayo naik! Kopermu diletakkan di samping saja.” Perintahnya. Akupun meletakkan koper besarku di samping motornya yang memiliki plang besi penahan. Setelah itu aku duduk di belakang namja bertubuh besar ini. Sedikit memperhatikan aneh motor yang digunakannya. Kenapa kemarin malam Ia tidak menggunakan ini saja? Pikirku.

(Author Pov’s)

Kedua namja itu berjalan di sebuah lorong lantai tiga dari sebuah apartemen kecil. Namja berwajah feminis itu sibuk menyeret koper besarnya sedangkan namja manly di depannya berjalan dengan tenang.

“Silahkan masuk!” Ucap namja manly itu sembari membuka sebuah pintu kayu yang nampak sudah tua. Jaejoong pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang terbilang sangat kecil. Hanya ada satu dapur. Sebuah pintu yang berupa kamar mandi. Sebuah TV yang di depannya terletak sebuah meja kecil yang serbaguna. Lalu tempat agak lapang di samping meja bersebalahan dengan sebuah lemari yang bersebrangan dengan dapur.

“Ini apartemenku. Tapi setidaknya kau tidak kedinginan kan.” Ucap Yunho sembari menutup pintu. Jaejoong menyapu apartemen itu dengan mata bulatnya. Benar-benar sangat kecil dan hanya pantas ditinggali oleh satu orang

“Nde, gomawo..” Ucap Jaejoong meletakkan koper besarnya di samping meja dapur. Yunho pun melepas jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu. Lalu berjalan kearah lemari yang agak lebih besar. Mengeluarkan sebuah futon dan menggelarnya di lantai.

“Aku juga hanya punya satu futon.” Ucapannya membuat Jaejoong terperangah tidak percaya. Jadi Ia harus berbagi tempat tidur dengan namja yang bahkan belum dikenalnya. Perasaan itu membuat Jaejoong tidak bisa berpikir sama sekali.

“Ini selimutmu dan ini selimutku.” Ucap Yunho lagi meletakkan sebuah selimut berwarna putih di tangan Jaejoong yang masih terbengong tidak percaya.

“Heh! Kenapa kau bengong seperti itu? cepat ganti baju dan tidur! Ini sudah larut, besok kau kerja kan?” Ucap Yunho membuat Jaejoong sadar dari lamunannya. Benar-benar namja yang suka memerintah, pikir Jaejoong.

“Ah nde~” Ucapnya segera berjalan memasuki kamar mandi untuk berganti baju. Tidak lama namja cantik itu pun keluar dengan piyama bergambar beruang-beruang kecil yang tersebar.

“Aigoo~~ kau ini namja apa yeoja sih?” Tanya Yunho spontan saat melihat tampilan piyama milik Jaejoong. Jaejoong segera mengerucutkan bibirnya kembali.

“Memangnya kenapa!?” Gerutu Jaejoong kesal sembari duduk di samping Yunho yang tengah tiduran di futon.

“Anniya. Sudah tidur! Jaljja!” Ucap Yunho segera mematikan lampu lalu tidur membelakangi Jaejoong yang masih mengerucutkan bibirnya kesal. Tapi Ia pun sudah mengantuk dan Jaejoong pun memilih tidur sambil membelakangi Yunho. Tapi karena futon yang sempit punggung mereka pun tidak terelakkan untuk tidak saling bersentuhan. Jaejoong memeluk selimutnya saat hawa hangat dari punggung namja tampan itu menyentuh punggungnya. Debaran jantungnya kembali berdetak tidak karuan. Wajahnya seketika memanas terlebih Ia mengingat bagaimana cara Yunho yang tiba-tiba membungkam bibirnya dengan bibir hatinya yang penuh. Seketika tubuhnya terasa kaku. Apa Ia menyukai namja itu? Tidak tidak Ia baru saja mengenalnya! Terlebih namja itu menyebalkan! Pikir Jaejoong dalam hati. Tapi kenapa jantungya jadi berdetak tidak karuan begini? Jaejoong pun tidak mengerti. Akhirnya Ia pun berusaha memejamkan matanya yang tidak mau terpejam. Terlebih setiap gerakan yang ditimbulkan dari pergerakan tubuh Yunho. Semakin membuat Jaejoong susah memejamkan matanya.

“Yun?~” Panggil Jaejoong akhirnya. Menyerah saat namja manly yang tengah tidur di belakangnya tidak bisa diam.

“Hm?” Lenguh Yunho dengan suara berat.

“Kau sudah tidur?” Tanya Jaejoong lagi kali ini dia benar-benar terpojok dengan posisi tidurnya karena Yunho yang ‘aktif’ dalam tidurnya.

“Sudah, kau berisik sekali!” Sembur Yunho kemudian. Jaejoong mengerucutkan bibirnya dalam gelap.

“Aish! Katanya kau sakit?” Tanya Jaejoong lagi kemudian.

“Aku sudah sembuh! Aish kau cerewet sekali sih!? Aku mau tidur!” Gerutu Yunho lagi. Jaejooong terdiam. Kesal. Tidak mengerti kenapa namja yang menolongnya tidak punya keramahan atau kehangatan. Sedikit saja.

“Gomawo~” Ucap Jaejoong. Hening. Tidak ada jawaban, melainkan suara dengkuran di balik punggungnya.

“Aish! Pabo! Menyebalkan!” Gerutu Jaejoong pada dirinya sendiri. Akhirnya namja cantik itu pun memaksakan matanya untuk tertutup dan tidur.

TBC

Semoga FF nya berkenan walaupun gaje banget ini *sedih

Tapi jangan lupa tinggalin jejaknya yaa ^^)/ *bow 90 derajat*

8 thoughts on “[FF] Coffee Of Love – Part 2 Awkward Meeting

  1. dasar yunpa bear pervet,lngsng cium jaema aja,tpi jaema x juga gk marah2 amat tuh,dasr gajah centil,,
    laannjjuuttt!!!
    figthing author…!!

  2. dasar yunppa pervert…main cium aja.
    cie cie jaemma dah mulai da feeling nie sama yunppa tp msh ragu krna yunppa nyebelin (menurut jaemma)
    heenim disini sadis banget

  3. Aihhh yun disini sikapnya dingin banget, tapi pervynya teteeeeeppppp..
    Hemm sekarang jae tinggal sama yun? Omg sampe ga bisa tidur gitu wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s