[FF] Wish Upon A Star


Judul           : Wish Upon A Star

Genre          : Angst, Family

Rate            : PG

Length        : Oneshoot

Blurp          : Changmin terlahir dari keajaiban bayi tabung dan kini sedang duduk di sekolah dasar. Suatu hari, Changmin menemukan lebam di wajah ibunya, Kim Jaejoong. Awalnya Changmin tak mengetahui penyebab lebam tersebut sampai Changmin melihat sisi monster sang ayah, Jung Yunho, yang selalu pulang membawa noda lipstick di kemeja.

Ketika Jaejoong terbaring di rumah sakit setahun lamanya, Changmin tak pernah kehilangan harapan, mempercayai adanya keajaiban suatu saat ibunya akan kembali membuka mata lagi. Karena di negeri ini, apapun yang kau inginkan bisa terjadi. Bintang jatuh akan mengabulkannya. Tapi, langit waktu itu tak segemerlap lampu malam Kota Seoul.

Author        : Sarah Anna Kiko

Editor          : @Anemone_sea

…Once upon a time…

Duk… duk… duk…

BRUK

Jaejoong terperengah sekonyong-konyong menarik berdiri kepalanya yang tersungkur di atas buku dalam pangkuan pahanya sendiri. Jaejoong melepas kacamata, memijat pelan pinggiran kening semata-mata mengurangi denyut yang berpesta di dalam. Kemudian dia beringsut dari sofa tanpa menghiraukan sebelah celana piyamanya terkatung.

Duk.. duk… Bunyi pukulan kecil dari arah pintu masuk terdengar lagi. Jaejoong mempercepat langkah, tapi tak lekas membuka pintu. Dia diam di sana seakan-akan tak mengetahui siapa yang tengah membuat kegaduhan di balik pintu itu.

“Yunho?”

Tidak ada jawaban.

Desah nafas meluncur mulus dari mulut Jaejoong. Tanpa merasa buru-buru, Jaejoong memutar knop. Bersamaan dengan bukaan pintu, sebuah tubuh ambruk menjatuhi Jaejoong. Agaknya Jaejoong terkesiap ketika di waktu yang sama bersusah payah mempertahankan keseimbangan dan membuat orang dalam pelukannya berdiri tegak. Dengan segenap kekuatan, Jaejoong memaksa tubuh itu bersandar di dinding.

“Darimana kamu, hah? Baru pulang jam segini,” sembur Jaejoong sembari menopang tubuh layu itu dengan sebelah tangan supaya menunjukkan wajahnya.

Yunho—yang memasrahkan tumpuan seluruh bobot badannya pada Jaejoong—memberi lirikan pendek sebelum matanya kembali menutup, terbuka, menutup lalu terbuka lagi. Mata yang kehilangan titik fokus penglihatan. Yunho menggeram kecil, “Itu urusanmu?”

Mata sipit Jaejoong terbelalak, memelototi Yunho. “Tentu saja urusanku!”

Yunho melepas tangan Jaejoong dari bahunya. Berlalu pergi tak menghiraukan Jaejoong. Langkah-langkahnya gontai, sempoyongan tak terkendali dan berkali-kali menabrak dinding. Jaejoong masih berdiri di ambang pintu masuk, memperhatikan Yunho sambil mengendus bau menyengat khas alkohol bertebaran di udara.

“Yunho!”

Yunho terus melangkah, membiarkan separuh jas hitamnya terseret di lantai sebelum dilepasnya tanpa peduli ke sembarang tempat. Jari-jari lemas Yunho merayap, meraih pangkal dasi dan berusaha membukanya terburu-buru. Mata Yunho mengerjap sesekali, mengharapkan kesadaran segera datang kepadanya.

Yunho telah meneguk berbotol-botol alkohol. Entah apa yang ada dalam pikirannya sampai dia kehilangan kendali lalu jatuh mabuk tak tertolongkan. Saat di club, Yunho hanya mengobrol bersama teman-teman sekantor sambil dikelilingi gadis-gadis cantik, menggairahkan. Yunho tak bermaksud apapun selain berniat minum tiga botol saja, setelah itu langsung pulang. Tapi kilasan ingatan dalam kepalanya membantah atas kebenaran niat tersebut.

Yang sebenarnya terjadi, tak terbilang lagi julah botol alcohol yang Yunho minum. Yunho memangku seorang gadis cantik berpakaian minim saat mengobrol dengan teman-temannya. Paha gadis itu mulus, kalau ia tidak salah ingat. Oh, atau gadis yang duduk di sebelahnya pemilik paha itu? Entah, ia tidak ingat betul. Satu-satunya hal yang ia pahami adalah rasa senang yang meletup-meletup dan itu patut dihargai sebagai upah lelah berkerja seharian.

Semua ini berkat Yoochun. Kalau bawahannya itu tidak pernah ada di SM hotel, Yunho hanya akan pulang dalam keadaan stress dibebani tumpukan pekerjaan yang tak ada selesainya.

Tapi kemudian segala yang dipikirkannya lewat begitu saja ketika ia merasakan satu tangan menyentuh bagian belakang pundaknya. Menariknya sampai berbalik ketika yang bisa dia lihat hanyalah pemandangan runyam berputar-putar, penuh kunang-kunang.

“Apa?!” sahut Yunho garang, menatap orang yang telah memaksanya berbalik.

Apa? kamu bilang?! Jawab dulu pertanyaanku! Darimana kamu tadi?”

“Club. Kenapa?”

Jaejoong menarik nafas dalam-dalam, menahan emosinya di sana dan berusaha mengeluarkan nada tenang. Dia tak bisa meledak di hadapan orang mabuk. Itu sia-sia. Jaejoong mencengkeram bahu Yunho. Membuat kemeja putih bergaris-garis milik Yunho makin kusut. “Sama siapa? Kenapa baru pulang sekarang?”

Lama jeda pembicaraan. Menunggu jawaban dari Yunho, tapi nihil. Suami dari Kim Jaejoong itu tidak bergerak, hanya menutupkan mata seolah-olah sekarang berada di atas ranjang, menikmati setiap detik tubuhnya beristirahat.

“Yunho!”

“Aku gak tahu! Aku mau tidur!” Yunho meronta, berusaha melepaskan diri.

“Kok bisa gak tahu?!”

“Ya, pokoknya nggak tahu! Oke? Permisi, Nyonya, aku mau tidur!”

“JAWAB DULU PERTANYAANKU!” Akhirnya ledakan itu keluar. Suara nyaring Jaejoong memenuhi isi rumah. Memberi pukulan menyakitkan di telinga Yunho dan membuatnya dua kali lipat lebih pening.

Tangan Jaejoong melayang cepat, siap mendaratkannya pada satu titik di bagian Yunho dan berhasil ditahan oleh Yunho sendiri.

PLAK!

Namun, satu tamparan tetap melayang bebas bersamaan dengan hilangnya sosok Jaejoong dari pandangan. Tak tahu kemana perginya, bahkan Yunho tak lihat ketika Jaejoong berlalu.

Samar terdengar suara rintihan. Yunho tak menghiraukan kepergian Jaejoong ataupun suara itu, dan malah kembali meneruskan perjalanannya menuju kamar. Saat suara rintihan itu terdengar makin keras, Yunho berbalik tanpa menghentikan langkah dan menyadari satu hal.

Oh, ternyata Jaejoong di lantai, batinnya menggumam kecil.

…and the first day began…

“Ma,”

Fokus Jaejoong masih berada pada kancing seragam Changmin, sebelum ia mendongak mencari sepasang mata, “Ya, Sayang?”

“Kok pipinya biru, Ma?”

Barang sebentar Jaejoong bertatapan dengan anak tunggalnya itu. Melihat ke dalam bola-bola mata Changmin seakan sedang berkaca pada dirinya sendiri. Betapa bola mata itu mirip dengan miliknya. Sesaat Jaejoong tertegun; sepercik api perlahan membesar seiring hamburan ingatan yang datang-pergi bergantian, kejadian-kejadian yang kadang membuatnya ingin berhenti memerankan tokoh seorang istri, menghilangkan sorot hangat di mata Jaejoong yang sedang ditonton Changmin. Di sepasang mata Changmin tersalip keping-keping milik Yunho. Menohok ulu hati Jaejoong terhadap kenyataan; Changmin adalah buah cinta mereka berdua—Yunho dan Jaejoong. Cinta yang pupus.

“Mama jatuh,” akhirnya Jaejoong menjawab.

“Jatuh dimana?”

“Dari tangga. Tuh, disana,” Jaejoong asal tunjuk anak tangga yang dilewatinya pagi tadi.

“Mama jatuh pas mau bangunin aku?” mata Changmin membulat, menatap Jaejoong lagi.

“Mm-hmm,” Jaejoong manggut-manggut sambil mengerucutkan bibir  dan berhasil  membuat Changmin tersenyum melihat wajah lucu itu. “Mama ceroboh, ya?”

“Iya!” Changmin terkikik, menghambur ke dalam pelukan ibunya. Menyerang wajah ibunya—termasuk bagian yang membiru— dengan jutaan ciuman penuh kasih. “Maafin Changmin…” terakhir, Changmin memberi ciuman di kening.

“Makanya, lain kali bangun sendiri ya?”

Changmin mengangguk kecil, menerima uluran tangan sang Ibu yang menuntunnya menuju pintu keluar, mengantarnya menuju halte dimana bus sekolah akan menjemputnya.

“Ma,”

“Hm?”

“Hari ini, aku mau beli cheeseburger McD dong, Ma… Tiga ya, Ma… buat cemilan.”

Nafsu makan anaknya kadang mengundang tawa. Tapi tak ada yang bisa Jaejoong katakan selain mengangguk tanpa bisa menolak, tersenyum memberi kehangatan dan tak pernah menyurutkan senyumannya itu bahkan sampai Changmin menaiki bus, melambai kepadanya dari kursi bus paling belakang hingga bus tak nampak lagi dari pandangan.

Jaejoong masih berdiri di sana, dengan sisa-sisa senyuman dan lambaian tangan. Dalam hatinya terucap sepenggal do’a, untuk anaknya yang dia mohonkan kepada Tuhan. Setelah itu, Jaejoong berbalik sambil memikirkan buku-buku dongeng bermakna yang akan dia beli. Berharap Changmin akan mengerti pesan-pesan bijak dari dongeng tersebut. Agar kelak, Changmin tak tumbuh seperti ayahnya.

…two weeks away…

“Kamu tahu, kemaren Changmin ikutan lomba mengarang?”

“Hm? Nggak,”

“Dia dapet piagam dari sekolahnya,” lanjut Jaejoong sambil lalu duduk di seberang Yunho.

Jaejoong meringis nyaris tanpa suara saat punggungnya membentur sandaran kursi. Mendapat peringatan supaya lain kali duduk dengan cara perlahan, juga agar tidak membuat suaminya marah lagi dan mengakibatkan sebuah tendangan melayang menjatuhkan Jaejoong, melukai bagian belakang tubuhnya.

“Baguslah,” sahut Yunho, sambil mengunyah roti isi sebagai menu sarapan.

“Nanti pulang dari kerja, kamu ucapin selamat ya sama dia,” Jaejoong meraih garpu dan pisau, menusuk dan memotong roti isinya tanpa hasrat benar-benar ingin makan, tapi masih berlagak lapar semata-mata menyenangkan hati suaminya. “Kasihan Changmin. Akhir-akhir ini kamu jarang ketemu dia sih.”

“Ah, toh anaknya juga nggak apa-apa,”

“Ya… siapa tahu, ‘kan, Yun,” Jaejoong tersenyum, menyiratkan kode yang diharapkan bisa dimengerti Yunho. “Waktu kita kecil aja, kadang orangtua kita gak ngerti sama jalan pikiran kita.”

“He em,” Yunho mendehem kecil sebagai tanda persetujuan tanpa berhenti mengunyah. “Ya kalau begitu kamu harus lebih tahu dia.”

Jaejoong mengangkat kepalanya cepat, lalu keduanya bertemu bertukar tatap.

“Kamu ‘kan ibunya?” Yunho melanjutkan.

“Dan kamu ayahnya,” Jaejoong menyambung kalimat Yunho. Mempertegas suaranya supaya dipahami Yunho bahwa ini serius.

Sepasang mata Jaejoong menatap setiap mata Yunho. Mencari sesuatu di sana, apakah tersimpan kepedulian di balik kalimat Yunho atau memang dia berkata apa adanya? Detik-detik berlalu dan tatapan mereka berubah menjadi perseteruan sorot mata. Sama-sama menyerukan kalimat terakhir dari masing-masing adalah benar dan salah satu dari mereka harus mengalah untuk menerimanya. Namun keduanya keras kepala.

Yunho tiba-tiba membuang muka, terkekeh geli tanpa alasan yang bisa dimengerti. Setelah melap mulut dengan serbet, Yunho beringsut dari tempat duduk. Pergi dari meja makan ke ruang tengah, mengambil jas dan koper, keluar dari rumah tanpa ucapan dan ciuman ‘sampai nanti, aku pergi kerja dulu’ seperti yang sudah-sudah.

Jaejoong tetap berada di meja makan. Mengunyah dan menelan tak merasakan apapun yang ada di dalam mulut.

…kemudian, bulan selanjutnya…

PRANG!” Begitu saja, suara jatuhan dan pecahan terdengar memekikkan telinga, muncul tanpa beban. Kopi dalam cangkir favorit Jaejoong tumpah. Warna cokelat pekat dari mocachino mengalir perlahan, merayap jauh dari satu ubin ke ubin lain.

Jaejoong memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan sensasi tusukan di setiap inci isi kepalanya. Sebelah tangannya memijat pelipis kuat-kuat sementara tangan lain bertumpu pada meja makan, menahan bobot badan. Pusing lagi, batinnya mengeluh. Bukan sekedar pusing dan sakit kepala biasa.

“Oh Tuhan, cangkirku,” ratapnya kemudian setelah sedikit demi sedikit mampu bangkit dari nyeri yang seakan bisa membunuhnya dalam satu detik.

Saat hendak mengumpulkan pecahan-pecahan cangkir, Jaejoong mengurungkan niat dan kembali duduk. Masih merasakan sisa-sisa sakit yang bisa melenyapkan kekuatannya lagi dan mungkin akan membuat keadaan lebih berantakan. Dia tidak lelah, batinnya berseru keras. Dia melakukan apa yang biasa dia lakukan dari tahun ke tahun, rutinitas seorang ibu rumah tangga. Tapi entah bagaimana, setiap hari tubuhnya membantah akan setiap rutinitas yang semakin lama semakin terasa berat seolah-olah pekerjannya bertambah banyak. Padahal, dibanding Yunho, yang dikerjakan Jaejoong di rumah bukanlah apa-apa.

Ini seakan tubuhnya memiliki batasan waktu. Harus mulai pada jam sekian, tidak boleh lebih dari sekian jam, pada jam sekian harus sudah istirahat dan jika semua itu dibantah, tubuhnya akan berontak. Diam dalam renungan, Jaejoong gemetar, meremas kedua tangan ketika dia terhanyutkan pikiran yang membuatnya terjebak sergapan ketakutan. Wajah Changmin yang berkelebatan dalam bayang dan gema tawa Changmin yang perlahan meredup meninggalkan dirinya. Seakan-akan waktu yang dimiliki tubuhnya menyempit.

Tiba-tiba, gambaran wajah suaminya muncul. Sosok Jung Yunho sebelum Changmin terlahir. Ketika masa-masa itu terasa ringan dan mereka memutuskan untuk memiliki seorang anak. Changmin yang dilahirkan dari letupan cinta. Cinta yang membawa mereka berdua pada keyakinan akan masa depan yang selalu terang dan hangat seperti waktu itu.

Suara derap langkah dari arah luar memburu menghantam alam sadar Jaejoong pada kenyataan. Mata Jaejoong berkeliling, memperhatikan keadaan sekitar. Terik matahari menembus kaca jendela dapur. Menghangatkan pikiran beku Jaejoong dan memberinya ketenangan pada fakta bahwa hari ini, sekarang, paru-parunya masih bergerak untuk memberinya kekuatan memeluk putranya. Itu lebih baik dari pada tenggelam pada angan-angan masa lalu.

Cahaya matahari menyeruak masuk ke dalam matanya. Menjelajahi setiap kegelapan, menggantinya dengan terang ketenangan. Seperti lampu malam yang berpendar dan detak lemah jantung Changmin ketika anak itu masih berusia satu bulan. Hampir tak terasa apa-apa, tapi begitu menguatkan semangat. Memberikan ribuan kebahagian. Lagi-lagi, meyakinkan Jaejoong seolah masa depan gelap tidak akan pernah ada.

Jaejoong menoleh ke sumber suara derap langkah kaki.

“MAMAAA!” seruan putranya dari luar terdengar.

Jaejoong tersenyum, kemudian pelan-pelan menutupkan mata, lalu membukanya lagi cepat, menolak air mata yang hendak jatuh tatkala mendengar suara itu. Kini Jaejoong yakin betul dirinya masih hidup. Bahkan dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang secara ajaib mengingatkannya pada irama detak jantung Changmin di masa silam.

“Sebentar, Sunshine!”

Di luar pintu sana, Changmin diam menunggu sambil memikirkan kenapa ibunya suka sekali menggonta-ganti nama panggilannya. Ketika pintu terbuka, Changmin menghambur dalam pelukan Jaejoong. Memberi ibunya kecupan ‘aku pulang’. Disusul rentetan sejuta cerita yang dilewatinya seharian ini.

Sementara di bagian kehidupan lain, pada kenyataan yang selalu dikira-kira Jaejoong dan menjadi sesuatu yang paling membuatnya takut; Yunho berpaling darinya.

Yunho baru saja keluar dari ruang rapat lalu masuk ke salah satu kamar di hotel tempatnya bekerja. Telepon genggam telah menempel di telinganya sedari tadi.

“Iya, Sayang. Nanti aku pulang lebih awal,” nada bicaranya lembut, nada yang selalu Jaejoong rindukan. “…oke. Aku tutup dulu, ya?”

Kecupan jauh terdengar oleh wanita di seberang telepon sana. Yunho menarik kembali ponselnya, menghampiri perempuan cantik yang berdiri tak jauh di belakangnya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggul perempuan berpiyama sutera itu.

“Kamu lama banget…” bisik perempuan itu setengah mendesah, mengalungkan tangan di leher Yunho.

…and so, a month and one week passed by…

“Kamu tuh ya, kalau dikasih tahu pasti ngeles melulu!”

Changmin menunduk dalam ketika sang ayah membentaknya.

“Papa lagi sibuk! Ada tamu kurangajar di tempat kerja Papa! Dan mereka bikin Papa pusing! Terus kamu nggak seharusnya disini nunjukin gambar… gambar apa ini? Gambar gak jelas kayak gini!”

Yunho membuang kertas yang baru saja disodorkan Changmin, membiarkan kertas tersebut melayang tanpa bobot tepat di depan kedua kaki mungil Changmin. Melihat itu, kepala Changmin makin turun sampai dagunya menyentuh dada. Changmin bisa membangkang kepada ibu, tapi ayahnya monster.

Diam-diam Changmin menggigit bibir bawahnya. Kedua tangan yang dia sembunyikan di balik punggung saling bertaut, bergerak-gerak gelisah berharap ibunya cepat pulang untuk segera menolongnya. Minimal menariknya menjauh dari sang ayah bila tidak bisa membelanya. Karena meskipun Changmin tahu power ranger bisa mengalahkan monster apapun yang muncul di sekian episode yang ditayangkan di televisi selama ini, dia juga sudah mulai mengerti tentang lebam-lebam aneh yang akhir-akhir ini kerap bertambah di tubuh ibunya.

Changmin hampir meneteskan air mata ketika akhirnya sang ayah kembali duduk tenang, tangan ayahnya menggenggam telepon tepat di telinga.

Jung Yunho, nama ayah kandung Changmin. Changmin mengakui nama itu sebagai ayahnya, tapi tidak untuk hari-hari kemarin, sekarang dan mungkin esok seterusnya. Sosok yang kini sedang Changmin hadapi tak ada ubahnya dengan sosok dari sekian banyak orang dewasa yang Changmin kenal, yang sering membuat Changmin merasa salah tempat. Ada rasa ketidaknyamanan tertentu ketika berdua bersama Jung Yunho. Sosok Yunho yang ini berbeda dari ayahnya. Ayah yang Changmin kenal telah hilang, pergi entah kemana dan entah kapan akan kembali.

“Ya, Helen?… Makan siang? Hmm, nanti dulu, ya, aku masih sibuk. …Oke, …bye. ….Love you too.” Kata Yunho kepada seseorang di seberang telepon.

Guru bahasa Inggris Changmin bilang, I love you biasanya banyak diucapkan oleh satu orang kepada orang yang disayanginya. Changmin pernah bertanya tentang makna kalimat pendek itu, karena ayahnya sering mengucapkannya di telepon—kadang disingkat seperti tadi, love you, atau ditambah-tambahi dengan kata “too” itu.

Walaupun Changmin telah mengerti makna tiga kata tersebut, tapi Changmin masih dibingungkan oleh fakta lain. Jaejoong sering berucap “I love you” juga untuk Changmin, dan ayahnya tidak. Tiga kata yang keluar dari ayahnya itu selalu ditujukan untuk orang yang berada di ujung sambungan telepon. Bukan untuk Changmin ataupun Jaejoong.

Menurut teman-teman di sekolahnya, terutama yang berada satu kelas dengan Changmin, ayah mereka masing-masing selalu mengutarakan kalimat itu keras-keras untuk ibu mereka.

Nah, lalu kenapa ayahnya tidak?

“Pa,” kali ini Changmin mengumpulkan kekuatan, membuat dirinya sendiri kebal dari omelan Si Ayah.

Yunho meliriknya, “Hah, apa?”

I love you artinya apa, Pa?”

“…aku cinta padamu. Kenapa?”

“Oh,”

“Memangnya kenapa? Jawab aku!” Yunho mendadak fokus pada Changmin.

Changmin, anak SD ini tidak memikirkan apapun selain ‘kenapa I love you?’. Seakan kalimat itu adalah mantra ajaib. “Apanya yang kenapa, Pa?”

“Kenapa kamu tanya soal itu?”

Changmin Kecil menggeleng. “Nggak apa-apa kok.”

Yunho merengut tidak puas. “Oh, ya?”

Changmin mengangguk. “Iya.”

“Coba jelaskan kenapa kamu ingin tahu?” sekarang ayahnya balik menyudutkan, seolah lupa umur anaknya ini tak lebih dari sepuluh tahun. Berfikir bodoh bahwa anaknya ini sedang berusaha membangkangnya.

“Papa sering bilang I love you sih.” Changmin memutar bola matanya kemanapun kecuali pada ayahnya, “Aku jadi penasaran.”

“Begitu?”

“Iya. Kenapa Papa gak pernah bilang I love you sama Mama?”

Yang ini—entah bagaimana—membuat Yunho terkesiap kaget. Kemudian menatap Changmin untuk waktu lama, tatapan yang tak bisa diartikan Changmin Kecil sebagai apa. Reaksi yang sama yang didapatkan Changmin ketika menanyai Ibu soal luka-luka aneh di sekujur tubuhnya.

“Memangnya kenapa kalau Papa nggak pernah bilang gitu sama Mama?”

Changmin menaikkan kedua bahu. “Katanya, Papa temen-temenku sering bilang gitu ke Mama mereka.”

“Gak usah didengerin!”

“Kenapa gak usah didengerin?”

“Nanti kamu jadi naif!”

Changmin mengerutkan dahi, menatap lekat ayahnya dengan pertanyaan baru. “Naif itu apa, Pa?”

“Bodoh. Idiot. Terlalu polos.”

“Idiot apa, Pa? Kalau bodoh berarti nilai ulangannya nol terus dong?”

Tawa ayahnya meledak, terdengar menyeramkan. Lebih menyeramkan daripada tawa nenek sihir di kartun sore yang sering Changmin tonton.

“Untuk sekarang ini, iya, nilainya nol terus,”

“Terus, kalau pengen pinter, gimana?”

“Ya bersenang-senang selagi bisa! Manfaatkan apa yang ada di hadapanmu.”

Saat hendak mengemukakan pertanyaan yang bergerumul di kepalanya, Changmin mendengar seruan dari pintu masuk. “Mama pulang, Changmin…” terdengar tutupan pintu setelah seruan itu terdengar. Changmin bertolak dari tempatnya berdiri, mengejar  sumber suara sambil bersyukur dalam hati akhirnya malaikat datang.

“Mama!” Changmin memanggil keras. Sedari tadi Changmin merasa seperti ada yang mencekik dan menahannya. Ketika sang ibu hadir, kini semuanya terasa ringan. Kata mama berubah menjadi sesuatu paling indah di dunia ini. “Mama habis darimana?”

Jaejoong menaruh kantong-kantong keresek di kedua sisinya hati-hati. Menekuk lutut, menyamai tinggi Changmin untuk menerima pelukan dari semata wayang. “Abis belanja, Sayang. Papa masih di rumah?”

“Iya, lagi kerja, Ma.”

Lalu Changmin melihat Jaejoong berdiri lagi. “Yunho?” Dia mendengar nada suara ibunya berubah.

Kini Changmin menoleh pada sang ayah. Tiba-tiba merasa tidak tahan, dia kembali melihat ibunya yang tahu-tahu sudah diam kaku. Changmin mengikuti kemana mata sang ibu mengarah, yang jatuh pada ‘gambar-tidak-jelas’ yang sejak tadi diabaikan.

…till the third months of silent prayers…

“Tolong jaga anakku,”

Changmin, sambil berbaring di kasur, mengintip dari balik gulingnya, memperhatikan sang ibu berlutut dengan punggung tegak di depan alkitab di atas meja rias. Dilihatnya jari jemari Jaejoong saling bertaut, membuat dua tangan itu menjadi satu. Dengan mata sayu yang kuyu, Changmin lanjut mengintip merasa tertarik.

Changmin memang mengantuk, sudah begitu dari sekitar lima belas menit yang lalu. Tapi melihat ibunya berdo’a khusyuk seperti itu membuatnya merasa lebih damai daripada tertidur nyenyak. Apalagi yang dido’akan adalah Changmin sendiri. Maka dia paksakan matanya terbuka lebar.

“Tolong jauhkan ia dari segala yang akan menjerumuskannya…” Ibunya berdo’a.

Changmin melihat bagaimana dahi Jaejoong kian lama kian mengkerut, semakin tenggelam dalam do’a. “Tolong biarkan kebaikannya menular, terbagi kepada orang-orang yang menyayanginya… yang bermaksud baik atasnya,”

Seperti lantunan lagu yang merdu.

“Tolong buat dia bahagia,”

Terlalu merdu sampai menenggelamkan Changmin dalam ketenangan. Lalu tiba-tiba tersendak mendengar suara debam keras dari lantai bawah.

Sang ibu segera menghentikan do’a, pergi beranjak meninggalkan kamar Changmin.  Changmin mengikuti kemana punggung ibunya pergi sampai punggung itu menghilang di balik pintu kamar, digantikan poster Ultraman yang dipajang di badan pintu tersebut.

Maka Changmin putuskan untuk tidur begitu saja. Dia jatuh tertidur lelap tepat ketika gaduh suara-suara aneh terdengar dari lantai bawah. Suara keras yang Changmin pikir asalnya dari kucing liar.

…while on the other side of the night…

“Kamu sadar gak, sih, kalau anakmu itu udah mulai lupa punya bapak? Hah?”

Yunho tak menggubris. Kesadarannya datang-pergi seakan enggan bersarang di kepalanya. Langkahnya sempoyongan sama seperti hari-hari yang lalu. Sebuah kebiasaan yang tak pernah membuat Jaejoong terbiasa.

“Kamu denger gak sih?!” Kepala Jaejoong berdenyut sesaat setelah pita suaranya tegang mengeluarkan nada tinggi. Seketika itu cahaya putih menyilaukan mengaburkan pemandangannya selama sekian detik.

“…Jaejoong…” Yunho meracau, mengeluarkan kata-kata yang tak bisa dimengerti selain nama Jaejoong.

“Aku tanya, kamu denger gak? Mau sampai kapan begini terus, Yun?”

“Jae…”

“Yunho, jawab!”

Jaejoong merasakan kedua matanya memanas. Dia sudah menahan diri sejak membuka pintu supaya tidak memikirkan hal buruk apapun. Tapi dia tidak cukup kuat untuk membantah wangi parfum asing yang dibawa Yunho, lalu melihat lipstick kering di kerah kemeja suaminya, juga beberapa bite marks di leher Yunho yang terlihat jelas dari pada bite marks di hari lalu.

Hidung Jaejoong seperti tersengat lebah, wajahnya mulai merah panas enahan sesuatu yang siap membanjir. Sampai Yunho berbalik dan—lagi-lagi menamparnya—membuat tetes pertama air matanya terciprat ke arah lain. Keluar tanpa membasahi pipinya. Pada detik yang sama, tetesan itu berhenti mengalir. Jaejoong enyadari kelenjar air matanya mulai merasa lelah.

Yunho menjambak rambut pendek Jaejoong. Menarik segenggam rambut hingga Jaejoong merasa dalam beberapa detik saja bagian itu bisa berakhir botak. Jaejoong mencengkram lengan Yunho, menancapkan kuku-kuku pendeknya di lengan itu sekuat tenaga. Sampai Yunho mau melepas jambakan. Namun, suaminya malah menggeram menghempaskan kepala Jaejoong ke dinding. Memperdengarkan kepada keduanya bunyi benturan keras. Sehingga Yunho, yang sedang mabuk, terbangun menyadari bunyi itu menggaung di telinga. Menimbulkan ngilu di seluruh persendian. Benturan yang juga menimbulkan bunyi retak antara dinding atau tempurung kepala Jaejoong.

“Maumu apa, sih?! Aku baru pulang diomelin! Minimal nyapa kek, apa kek! Dasar nggak guna!” Yunho meraih kembali kepala Jaejoong, membenturkannya berkali-kali ke dinding tanpa jeda, tanpa peduli, tanpa beban, tanpa rasa bersalah, sekalipun kini bagian itu berubah warna menjadi ungu kehitaman, nanar darah perlahan mengintip dan siap menetes, Yunho terus melanjutkan.

Ketika Yunho berhenti barang sejenak, Jaejoong mengambil kesempatan itu untuk balik menerkam, mendorongnya sampai berguling membentur kaki meja makan. Yunho bangkit berdiri, disusul Jaejoong yang langsung menarik kerah kemeja Yunho sampai suaminya itu jatuh terlentang di atas meja; menjatuhkan dan menghancurkan perabot makan yang masih ada di sana; mug Winnie the Pooh milik Changmin pecah, sendok Mickey Mouse-nya ada diantara pecahan keramik mug tersebut hampir patah. Beberapa mug lain ikut pecah. Entah berapa banyak perabot yang mereka hancurkan setiap harinya sejak Yunho pertama kali memulai kekacauan ini.

Jaejoong menyambar leher Yunho secepat kilat, mencengkram sekaligus mencengkiknya. Ada banyak perkara yang menjadi alasan kenapa Jaejoong perlu mencekik suaminya. Kekuatan di kedua tangan yang terus bertambah seiring jelasnya kilasan tamparan dan  pukulan yang pernah didapatkannya dari Yunho. Memukul-mukul lubuk hatinya yang suci jauh di dasar akal sehat. Melupakan masa-masa saat mereka tak mengenal pertentangan pernikahan sesama jenis, restu orangtua, rumah tangga dan bayi tabung. Di masa kemilau dimana mereka tertawa, berpegangan tangan, berkencan setiap malam, membuat cinta, tak memikirkan masa depan akan seperti apa. Kenangan manis itu tenggelam, redup terbakar menjadi abu hitam bercampur kecamuk perasaan tiap kali mengingat kilat mata Yunho; sosok Yunho yang pulang sempoyongan, kiss mark, jejak lipstick di kemeja dan parfum feminim yang menempel di tubuh Yunho.

“Mati… mati kamu! MATI!”

 Hati suci, penuh cinta kasih yang dulu pernah Jaejoong dedikasikan hanya untuk Yunho dan sekarang dibaginya untuk Changmin, kesucian itu pudar. Binar cahaya ibu di mata Jaejoong telah hitam sempurna. Bahkan buta untuk melihat Yunho yang terbatuk-batuk, wajah suaminya yang membiru kekurangan oksigen, meronta lemah dipenuhi kepasrahan.

Jaejoong mulai lelah berpura-pura menjadi perempuan lemah. Dia laki-laki dan tak seorang pun orang-orang di kehidupan barunya bersama Yunho—setelah mereka menikah—mengetahui kebenaran itu. Semua orang berfikir Jaejoong adalah perempuan, seorang istri yang baik dan telah melahirkan Changmin, anak yang sebetulnya dilahirkan dari proses rekayasa.

Ketika mata gelap Jaejoong jatuh di mata Yunho, bertemu goresan keping hitam, cengkraman kedua tangan Jaejoong mengendur di luar kesadaran. Jaejoong menemukan mata yang sama seperti di diri putranya, Changmin. Mata yang selalu tersenyum ketika menerima burger, mengucapkan ‘aku pulang’, mata yang berair ketika kelaparan, ketika Jaejoong memarahinya, ketika Changmin tak menerima apa yang diinginkannya, dan semua itu tersalip di antara milik Yunho. Mereka mirip. Tidak. Mereka sama.

Apa yang akan dipikirkan putranya ketika dia tak memiliki ayah lagi?

Saat kehangatan kembali meraih Jaejoong, Yunho balik menyerang; menendang Jaejoong di antara perut dan dada sampai terpental jauh ke belakang, jatuh terjerembab. Tapi tak menimbulkan sakit yang berarti. Kehangatan yang perlahan mencairkan es di jantung Jaejoong telah menghapus duri-duri kebusukan hati— kemarahannya kepada Yunho. Kehangatan itu melenyapkan bayangan kelam suaminya yang tergopoh-gopoh datang menghampiri. Menghanguskan dendam dalam diri Jaejoong untuk kemudian menguap menjadi cinta yang sia-sia. Mengaburkan pandangan, melumpuhkan indera perasa, menciptakan simfoni pelukan dari Yunho. Kedua tangan Yunho yang melingkar di tubuhnya. Nyaman. Seakan Jaejoong kembali di masa yang menyilaukan, saat semua yang dia rasakan hanyalah perasaan meletup-letup bahagia, jatuh cinta. Sayangnya, pelukan itu palsu. Ilusi.

***

Changmin membuka mata dikejutkan oleh teriakan dari lantai bawah. Satu teriakan yang terlalu mencekik gendang telinga sehingga memaksa Changmin Kecil menggerakan kakinya turun dari ranjang, bergegas pergi keluar kamar lalu mengintip jalur tangga sebelum menuruninya satu per satu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba seseorang melintas.

Orang itu berbalut jas hitam lengkap dengan dasi. Terhuyung ke segala arah, berjalan bungkuk seakan kepalanya jauh lebih berat dari pada punggung.

“Ayah…” suara kecil terdengar, nyaris mencicit ketakutan. Changmin berdiri, merapat ke dinding tangga mencari sesuatu yang bisa menahan gemetar tubuhnya. Kemudian diam, tak berani bergerak dan bahkan nafasnya terasa terhenti sesaat. Mata ayahnya bergerak, melirik tajam, melayangkan rasa dingin mencekam kepadanya. Darah membanjiri sebagian muka ayahnya. Orang di hadapannya ini… persis seperti monster yang sering dikalahkan Power Ranger.

Kemudian sang ayah berlalu. Setelah mendengar pintu tertutup, Changmin bergegas turun. Berlarian ke ruang tv, mencari sosok yang akan memberinya pelukan. Kepalanya berputar ke berbagai arah, memergoki jam dinding di atas tv menunjukan jam dua pagi. Dia bergegas berpindah tempat, menemukan ibunya tertidur di atas lantai dapur.

Changmin mendekat, memperhatikan seksama lebam di lengan dan wajah ibunya. Luka-luka yang jumlahnya bertambah banyak dari pada hari kemarin. Bentuk-bentuknya kini pun lebih seram.

“Mama…” Changmin menggoyang tubuh Jaejoong pelan. “Ma…” mengguncang-guncang lebih kuat. Kemudian tersadar ada sesuatu melekat di telapak tangannya. Changmin mengangkat kedua telapak tangannya ke hadapan muka.

“Mama, bangun! Kenapa Mama berdarah?”

Changmin Kecil masih berusaha membangunkan ibunya. Ketika dia tak mendapat balasan, lelehan air mata mulai membasahi kedua pipi Changmin. Dia tak mengerti apa yang terjadi, tapi melihat mata sang ibu yang tak kunjung terbuka memberinya ketakutan teramat sangat. Seperti ketika dia terpojok  mendapat nilai ulangan buruk atau ayahnya yang menggeram tiap kali ditanyai pendapat. Ayahnya mungkin monster, tapi tak ada yang lebih mengerikan dari pada melihat ibunya membeku.

“Mama… bangun, aku takut tidur sendiri,”

Ibunya tidak bisu, Changmin mengetahui itu. Namun ibunya masih tak bergerak. “Ma…”

Tetes demi tetes mulai mengucur turun. Bukan air mata cengeng. Bukan tangisan yang mudah dihentikan. Changmin Kecil meraung-raung. Teriakan dan isak melebur menjadi satu.  Dia menangis dengan mata terpejam sambil memanggil-manggil ibunya.

Apa yang sebetulnya membuat Changmin menangis adalah kebenaran saat ini, dirinya, sendirian dan mungkin akan terus begini selama ibunya tidak menyahut.

“Mama… bangun, Mama! Mama!… Ma, temenin Changmin! MAMA!”

Suaranya parau dan serak. Nyaris pecah oleh nada teriakan yang tinggi. Tapi Changmin Kecil tak menyerah, terus saja menyerukan ibu. Berharap semakin keras dia menangis, Ibunya akan mulai membuka mata. Sebagian orang bisa menilai Changmin cengeng, tapi sebagian lain akan berfikir seberapa anak kecil itu berduka. Mereka melihat sosok anak yang tak mengerti apa itu kepergian selamanya adalah kematian.

…one year and a half month later…

Matahari pagi menerawang dari balik serat hitam kaca jendela, jatuh di wajah  ibunda. Changmin tersenyum ringan, seakan melihat di wajah beku sang ibu juga terlukis senyuman yang sama. Kemudian matanya beralih ke rerumputan yang terpapar surai mentari di halaman luar.

Bunyi mesin pencatat detak jantung bagaikan ciak burung setelah setahun lamanya Changmin mendengar nada yang sama. Bau antibiotik, bising troli pembawa obat-obatan dan bahkan pemandangan lumut menjijikan di luar jendela terlihat indah dan Changmin mulai menyukainya. Hal yang selalu sama selama satu tahun ibunya berbaring di rumah sakit.

“Halo, Changmin! Gimana keadaan Mama?”

Changmin menoleh ke sumber suara, menemukan Dokter Junsu baru saja di ambang pintu berjalan masuk mendekatinya yang sedang duduk di sebelah ibunda.

Changmin tak menjawab sapaan Dokter Junsu dan dengan itu Dokter Junsu mengerti jawaban yang tak ingin Changmin katakan; “Masih beku.”

Dokter Junsu tertawa garing. Bukan benar-benar tawa, tapi sandiwaranya cukup sempurna untuk menipu Changmin bahwa semuanya dalam keadaan baik-baik saja.

Lewat sudut mata, Changmin melirik ujung sepatu hitam Dokter Junsu yang mengkilap sampai rambut Dokter Junsu yang ujung-ujungnya berdiri tegak. Di pertemuan pertama, rambut itu membuat Changmin berdecak kagum terkesima; bagaimana bisa rambut itu berdiri tak tergoyahkan? Mengingatkannya pada pemain sepak bola yang Changmin lupa namanya  siapa.

Oh tidak, Changmin lupa karena telah lama tak menonton aksi pemain bola tersebut. Sudah lama dia tidak pulang ke rumahnya sendiri. Tak lagi banyak bermain, apalagi pergi bersama teman-temannya. Bahkan bagi Changmin mungkin semua sahabat-sahabatnya sekarang sudah melupakannya dan mulai bermain dengan anak yang lebih keren.

Changmin pulang ketika dia kehabisan uang jajan dan mengabari ayahnya tentang biaya dadakan atau tambahan yang dibutuhkan untuk perawatan ibunya. Sang Ibu yang terbaring koma semenjak tragedi malam itu.

Beberapa hari setelah tragedi itu, Changmin pergi ke tempat yang terdapat banyak polisi. Duduk lama mendengarkan orang-orang dewasa beradu mulut. Ayahnya banyak bicara di tempat itu melawan seseorang yang Bibi Changmin sebut sebagai Pengacara. Changmin juga memperhatikan seseorang yang selalu mengetuk-ngetuk meja dengan palu terbuat dari kayu. Setelah rasanya berjam-jam duduk membosankan, Changmin akhirnya pergi meninggalkan tempat itu bersama bibinya dan tak pernah bertemu dengan ayahnya satu bulan kemudian.

Hidup Changmin berubah sejak saat itu. Tak tahu apa yang sebetulnya terjadi. Dari hari itu, Changmin mulai tinggal bersama sepupu dan bibinya. Setiap hari diantar-jemput ke sekolah, pulangnya mengunjungi ibu sampai larut malam. Waktu bermain Changmin hanya di rumah sakit, bersama para suster, Dokter Junsu dan beberapa pasien lain. Teman yang tidak benar-benar mengerti pola pikir Changmin dan membuat Changmin enggan membuka mulut. Changmin lebih senang menonton Ibunya yang tak melakukan apapun. Duduk diam di samping ibunda sampai ketiduran terdengar jauh menyenangkan, dari pada bersama orang-orang yang senang mencubit pipinya.

Tapi entah sejak kapan, tiba-tiba Changmin banyak bicara pada ibunya. Sekalipun sang ibu tak menjawab atau sekedar menganggukkan kepala. Changmin akan bercerita serentetan kejadian yang telah dilewatinya hampir tanpa jeda, seperti yang  biasa dia lakukan ketika mata Ibu masih terbuka.

Dokter Junsu menyadari kebiasaan baru Changmin. Itu membuatnya sering mengunjungi kamar pasien yang dihapalnya betul-betul. Pasien terlama yang pernah ditanganinya dan memiliki seorang putra yang sangat setia. Juga satu-satunya pasien yang dia ketahui kehidupan pribadinya.

“Hey, Nak,” Dokter Junsu memulai sambil menarik salah satu kursi mendekat ke sebelah Changmin. Duduk di sana lalu merangkul bahu mungil Changmin. “Kadang ada hal-hal tidak masuk akal akan membantumu.”

Changmin mendongak, mencari mata Dokter Junsu. Kening Changmin mengernyit, sama sekali tak paham apa yang dibicarakan dokter ini.

“Pernah dengar bintang jatuh?”

Changmin mengangguk.

“Percaya tidak, bintang jatuh bisa mengabulkan permintaan kita?”

Changmin terdiam. Dia pernah mendengar hal itu, tapi tak pernah mencobanya.

“Ketika kamu bermimpi, berharap dan menginginkan sesuatu menjadi kenyataan, maka jagad raya akan mendukungmu.”

Jagad raya? Apa itu?

Ketika Changmin hendak menanyakan arti kata jagad raya, mulutnya tiba-tiba terkunci rapat. Teringat bagaimana ayahnya selalu menggeram tiap kali Changmin banyak bertanya.

Dokter Junsu menepuk-nepuk pundak Changmin. Lalu dia bernyanyi dengan mulut tertutup. Melantunkan sebuah lagu dengan satu lirik; “Emm…”. Tapi melodi lagu tersebut dikenal Changmin betul-betul dan berhasil membuat anak SD itu tersenyum. Lagu yang sama yang pernah dinyanyikan Ibunya. Entah kenapa, ketika mengingat saat-saat ibunya menyanyikan lagu itu, kedua mata Changmin terasa panas.

Sebelah tangan Changmin meraih tangan sang ibu, menggenggamnya kuat, tapi tak cukup kuat untuk menyakiti. Lalu ikut bernyanyi bersama Dokter Junsu. Sekalipun suara sumbang dan bergelombang yang dia keluarkan. Suara parau menahan bulir-bulir air di sudut mata. Kenangannya bersama Ibu mulai menyeruak masuk tanpa permisi.

…a star then fell…

Malam itu, langit terlihat hitam tanpa taburan bintang. Cahaya di permukaan bumi terlalu menyilaukan dan asap kendaraan menjadi tabir penghalang mata untuk meraih bintang di atas sana. Di antara bentangan horison, Changmin beristirahat sejenak dari pencariannya; mencari bintang jatuh. Matanya menangkap pemandangan yang selalu sama, cahaya lampu. Apakah itu lampu menara pemancar gelombang sinyal maupun lampu di kedua sayap pesawat terbang. Semua pemandangan lampu-lampu malam terlihat jelas dari atas sini, di ruang inap ibunya. Tapi tak ada satu pun bintang yang pernah dia temui.

“Bintang jatuh, kamu dimana?”

Changmin lebih rajin mencari sambil menunggu sesuatu berpendar di langit sana, cahaya yang asalnya dari antariksa yang jauh dari tempatnya berada. Tapi bulan pun dia tak berhasil temukan. Mungkin bintang-bintang itu sedang tidur, pikir Changmin.

Changmin berputar, mencari sosok bibinya yang tertidur di sofa, lalu beralih kepada Jaejoong, ibunya, yang tak pernah berubah posisi tidur. Lama Changmin memperhatikan Jaejoong, berharap sepasang mata itu terbuka walau sedikit.

Changmin melirik jam dinding, sudah lewat dari jam sembilan dan itu melanggar janjinya kepada Bibi. Seharusnya Changmin berhenti mencari dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Melihat sang bibi tertidur, Changmin merasa ini kesempatannya untuk mencari bintang lebih lama lagi.

Ketika Changmin berbalik lagi, kembali pada langit hitam, dia tak tahu bahwa ada banyak pasang mata diam-diam memperhatikannya sedari awal dia mencari bintang. Bahkan bibinya, yang melipat kedua tangan di depan dada, menunduk dalam dengan tubuh miring berpura-pura jatuh tidur, sebetulnya tengah mengintip di antara bulu-bulu mata, berusaha keras untuk tidak menjatuhkan setetes pun air mata. Sementara di balik pintu, Dokter Junsu dan para suster hampir membanting pintu untuk menarik Changmin pulang. Pemandangan ini bukan sesuatu yang bagus.

“Maaf Dok, mungkin saya tidak sopan mengatakan ini. Tapi Dokter harusnya tidak bercerita hal aneh-aneh lain kali.” Salah seorang suster berbisik.
“Saya melihat Changmin seperti ini sejak tiga hari lalu. Apa tidak sebaiknya Dokter bertindak? Changmin masih kecil, tidak baik untuk kesehatannya.”

Semua yang menyaksikan bagaimana perkembangan Jaejoong dari hari ke hari hampir kehilangan kepercayaan bahwa suatu hari nanti Jaejoong bisa berdiri kembali. Changmin, tanpa satu detik keputusasaan, mencari harapan yang tersisa di balik batu sekalipun. Orang dewasa bisa keras kepala, Changmin jauh lebih keras kepala dari mereka.

Orang dewasa hanya jago dalam membuat sikap perihatin. Mereka memang pernah menjadi anak kecil dan mereka melupakan bagaimana rasanya. Changmin Kecil masih dipenuhi keyakinan kuat keajaiban pasti akan datang kapanpun hal itu akan terjadi. Itu kenapa, Changmin tak pernah lelah berharap dan menunggu dalam satu waktu— sekalipun tanpa ada kepastian. Karena di pihak orang dewasa, mereka mengetahui fakta yang merobohkan keyakinan mereka sendiri.

Dokter Junsu meraih gagang pintu. Menggenggamnya erat sebelum kemudian melepasnya pasrah. “Besok. Akan aku nasehati besok. Sekarang biarkan saja dulu.”

Orang-orang dewasa itu merapat, mendekatkan telinga ke arah dimana Changmin berada. Ada suara parau yang sangat lemah berkata, hampir seperti bisikan.

“Bintang, kamu dimana? Bisa dengar do’aku nggak? Aku mau ibuku sembuh… dan tolong bahagiakan ibuku… Aamin.”

Sebaris do’a terakhir untuk hari ini sebelum anak itu beranjak merangkak naik ke ranjang ibunya. Tidur di salah satu sisi kosong sambil berhati-hati tidak mengganggu kabel dan selang-selang yang melilit sang Ibu. Perlahan Changmin pun jatuh ke suatu tempat dimana dia bisa bertemu sang Ibu yang berdiri segar tanpa masker oksigen dan jarum infusan.

Beberapa orang dewasa di luar pintu segera bertolak pergi. Tak tahan menonton drama kehidupan nyata ini tanpa suara isak. Dokter Junsu memilih tetap berdiri di sana, tak berbalik, menunggu semua suster pergi dan dia bisa mengusap air matanya sendiri. Bibi Changmin yang berada di dalam ruangan, membungkuk mencium lutut, menekan tangis yang ingin segera meledak keluar. Antara tangis haru dan amarah kebencian terdalam pada Jung Yunho, seseorang yang dengan licik terbebas dari jerat hukum atas semua yang terjadi pada Kim Jaejoong.

Di negeri ini, semua yang kita harapkan bisa terkabul adalah sebaris kalimat yang Changmin baca dari salah satu buku dongengnya.

*When you wish upon a star, you’re a few million lightyears late.

That star is dead.

Just like your dreams.

 

 

*note: Annyeonghaseyo~~ Anemone_sea imnida, semacam editor dari Sarah Anna Kiko^^” (ya, ‘semacam editor’) pendatang baru di FFYJ ini. Mohon respon membangun dari reader semua~~😀

Ada yang berminat vote supaya dibikin sekuel?🙂

8 thoughts on “[FF] Wish Upon A Star

  1. Anyoeng chinggu salam kenal ne.
    Arrrrrggghhhh nih ff sumpah bikin aq nangis kejerr. Hiksss yesek bgt Angst dpt bgt feel y DEABAK…

    Yunppa di sini sadis bgt#getok yunppa#. Sebenary knp sih yunppa brubah? Pliss Lanjut ne thx…

  2. hueeeee…..
    nangis berat nih
    sekuel dong,yg happy end
    walo gak sama yunho tp hidup lagi
    yaaaa….
    yaaaa….
    hajar tuh yunho*bawa mercon*

  3. lanjut dong thor, sedih bgt ni ff yunjae nya harus happy ending yayaya…
    Daebakkk ff nya, bikin sequelnya ya author ^^

  4. sedih deh sumpah…untung bacanya dah buka puasa.
    Yunpa ja’at bangeeeeet kejaaaam #manacluritgolok#
    thor lanjut ya, yang happy end😉

  5. aaahhh~
    nyesek bacanya..
    jadi susah napas gara2 idung kesumbat..
    air mata juga g brenti2nya ngalir..
    ayo author, dbuat sequelnya biar g gantung gini..
    kalo kasusnya kayak gini, asalkan jaejoongnya sadar aja uda bikin seneng. g usah pake acara kmbali ke pelukannya yunho juga gp2..
    kasian sama changmin yg harus kehilangan kesenangan d masa kecilnya gara2 tindakan2 yunho..
    cept ya dilanjutnya.. ditunggu loo.. :))

  6. Annyeong~
    q reader bru
    thor, kok crita.a sdih banget?
    Kasian changmin.a. Gak bsa dibikin happy end? Q pengen yunjaemin bareng bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s