[YUNJAE] An Idol’s Love – Chapter 6


Mianheeeeeeeeeeeeee

baru update sekarang,,

biasa anak kece bantuin emak didapur mulu

hehehe

Nah, langsung aja ya

silakan menikmati si FF imut ini

 

Title : An Idol’s Love

Chapter: 6 of 7

Chapter Title : An Idol’s Problem

Original Author: Sherly

Completer Author: nTiiiee

Summary: “Kau mempunyai banyak fans dan pasti banyak di antara mereka yang cantik… Pilih saja salah satu, minta ia menjadi pacarmu, dan BOOM! Kau mempunyai kekasih…” kalimat yang seenaknya keluar dari mulut manajernya membuat Jung Yunho mengumumkan Kim Jaejoong sebagai kekasihnya. Bagaimana Kim Jaejoong yang tidak mengenal Jun Yunho menjalani hidupnya yang mendadak berubah karena kehadiran si Idol??

AN IDOL’S PROBLEMS

Yunho menyandarkan tubuhnya pada dinding ruang latihan dance nya. Napasnya tersengal-sengal setelah satu jam berlatih menari untuk pertunjukkannya yang akan datang. Setelah meneguk jus jeruknya, Yunho mendudukkan dirinya dilantai. Badannya masih bersandar pada dinding dibelakangnya. Hari ini tepat 2 minggu setelah kejadian Yunho mencium Jaejoong dihotel malam itu. Dan belum sekalipun mereka bertemu setelahnya. Yunho menghela napas panjang, sebelum menutup matanya. Mengingat.

 

Flashback

Entah sudah berapa lama Jaejoong menangis dalam pelukan Yunho. Ketika Jaejoong berhasil menghentikan aliran air matanya, langit sudah kembali hening. Kembang api yang dipersiapkan Yunho untuknya sudah tidak lagi menghiasi langit malam dihadapannya. Jaejoong diam dalam pelukkan Yunho, mengatur napasnya yang sedikit tersengal setelah menangis. Yunho masih setia mengusap-usap punggung Jaejoong. Berharap tindakan kecilnya dapat menenangkan namja cantik yang menangis dalam pelukannya itu.

“Yunho…” Akhirnya Jaejoong bersuara walaupun sangat pelan.

“Iya sayang?” Yunho tidak melepaskan pelukannya.

“Aku mau pulang.”Jaejoong melepaskan dirinya dari pelukan Yunho.

Yunho tidak berkata apapun setelahnya, bahkan saat mereka sampai didepan rumah Jaejoong. Yunho hanya mengecup ujung kepala Jaejoong, sebelum Jaejoong masuk ke dalam rumah.

***

 

“Hyung… Masih disini?” Changmin yang baru datang, duduk disebelah Yunho. Di rebutnya botol jus jeruk yang sedang dipegang Yunho, kemudian diteguknya jus jeruk itu hingga tidak bersisa.

“Hyung,, gwencana?” Changmin menatap Yunho heran. Biasanya jika Changmin merebut jus jeruk miliknya, Yunho akan langsung merebut kembali sebelum memukul kepala Changmin dengan botol jus jeruk itu. Tapi hari ini Yunho tidak melakukannya.

“Hyung,, kau baik-baik saja?” Changmin mengibas-ibaskan tangannya didepan muka Yunho.

“Hah? Eh? Kamu disini dari tadi Min?” Yunho tampak baru sadar dari lamunannya.

“Kamu kenapa hyung? Hari ini tampak tidak fokus dan tidak semangat. Tidak seperti Jung Yunho yang ku kenal.” Changmin bertanya perhatian. Secuek apapun dongsaeng nya ini, Changmin tetaplah manajer yang peduli akan kondisi artisnya.

“Apa masih tidak ada kabar dari Jaejoong?” Yunho bukan tipe orang yang biasa menceritakan masalahnya, namun untuk yang satu ini hanya Changmin yang bisa Yunho andalkan.

“Kenapa hyung terus menunggu? Kenapa bukan hyung yang menghubunginya duluan?” Changmin tidak sepenuhnya mengerti masalah yang terjadi. Namun melihat wajah Jaejoong yang sembab setelah menangis malam itu, Changmin tau ada yang tidak beres.

“Changmin-ah, apa berada disisiku benar-benar menyusahkan?” Yunho menghela napas.

“Hal ini sudah pernah kita bahas dulu hyung. Kenapa hyung kembali menanyakan hal yang sama?” Changmin ikut menghela napas. Susah payah dulu Changmin membuat Yunho menjadi namja yang optimis, setelah semua perlakuan yang hyung nya dapat dari ayahnya sendiri. Tapi hari ini Changmin kembali mendapati pesimistis sang hyung.

“Bohong kalau aku tidak mengerti kenapa Jaejoong menangis malam itu. Aku memaksanya ada disisiku. Bahkan tanpa bertanya dia siap atau tidak.” Yunho menekuk kakinya, memendam wajahnya dilututnya.

“Hyung, kamu benar-benar mencintai Jae-hyung?” Changmin berkata, entahlah ini sebuah pertanyaan atau pernyataan. Satu sisi Changmin ingin bertanya, namun sebagian dari dirinya menyadari kebenaran dari kalimatnya.

“Entahlah. Aku tidak pernah merasa seperti ini pada siapapun selain Jaejoong.” Yunho menghela napas untuk kesekian kalinya. Menatap Changmin dengan tatapan butuh pertolongan.

“Jangan bertanya padaku. Kau tau kan seumur hidupku aku cuma pernah bercinta dengan makanan. Mana aku mengerti urusan seperti ini.” Changmin berdiri.

“YAH!! Shim Changmin!! Setidaknya bantu sedikit!!” Yunho cemberut liat dongsaengnya itu kembali cuek.

“Kalau maksudmu menghubungi namja cantik itu, aku tidak mau. Tidak mau. Hyung, kamu seperti tidak pernah pacaran saja sih. Urus sendiri masalahmu. Kamu kan yang memulai semua masalah ini.” Changmin melangkah meninggalkan Yunho yang sedang frustasi. Namun baru beberapa langkah meninggalkan Yunho, tiba-tiba Changmin kembali memandang Yunho dari balik pintu.

“Hyung, yang satu ini juga urus sendiri ya. FIGHTING!!” Changmin buru-buru melarikan diri. Yunho hanya menatap punggung Changmin, bingung. Namun tak lama kebingungannya terjawab.

“Oppaaaaaaaaaaa…” suara cempreng bin genit itu kembali memenuhi udara disekitar Yunho. Yunho refleks menutup telinganya. Setelah beberapa minggu berhasil menjauhi makhluk pengganggu itu, kenapa harus hari ini dia kembali.

“Oppa, bogoshipoooo….” Go Ahra, makhluk genit pengganggu yang sangat dibenci Yunho, bergelayut manja ditangan Yunho.

“Kenapa kau datang lagi?” Yunho bertanya frustasi.

“Oppa pasti merindukanku kan? Kita sudah berminggu-minggu tidak bertemu. Salahkan Soo Man Ajusshi yang memberiku perkerjaan diluar negeri. Membuat kita susah bertemu.” Ahra cemberut.

“Aku malah berterima kasih padanya.” Yunho berkata datar.

“Ah sudahlah jangan dipikirkan. Yang penting sekarang kita bersama lagi. Aku merindukan mu oppaaaa….” Ahra terus saja bergelayut manja. Tidak peduli Yunho yang bertampang siap muntah kapan saja.

“Ahra-yah, aku tidak tau kamu hilang ingatan atau memang bodoh. Tapi aku sudah punya pacar, dan pacarku bukan kamu.” Yunho melepas paksa tangan Ahra yang menempel seperti benalu di tangannya.

“Memangnya kenapa kalau oppa punya pacar? Toh orang itu tidak ada disini. Kau milikku sekarang.” Ahra benar-benar bebal. Yeoja genit itu bahkan mencoba memeluk Yunho.

“Ahra-yah, berhentilah bermimpi. Aku bahkan tidak suka dengan keberadaanmu.” Yunho mendorong Ahra agar menjauhi tubuhnya. Suara ketukan pintu mengalihkan mereka sebelum Ahra sempat menempelkan dirinya lagi pada Yunho. Seorang namja cantik yang memenuhi setiap sudut pikiran Yunho selama 2 minggu terakhir, melongokkan kepalanya dari balik pintu.

“Yunho…” Sapaannya terhenti saat melihat Yunho berdiri tidak jauh dari yeoja genit yang selalu mengganggu Yunho. Sebersit rasa cemburu bergelayut dihati namja cantik itu. Senyumnya seketika lenyap dari bibir merah cherrynya.

“KIM JAEJOONG!!!” Yunho menjerit semangat dan dengan cepat menarik Jaejoong kedalam pelukannya, sebelum namja cantik itu bisa bergerak dari tempatnya. Sesaat tadi Yunho sempat melihat perubahan dari wajah seseorang yang amat dirindukannya itu.

“I miss you baby, I miss you so much.” Yunho mempererat pelukkannya.

“Yunho-ya… sesak…” Jaejoong tidak bisa bernapas karena pelukan Yunho terlalu erat.

“Oh maap sayang, aku kangen banget sama kamu,” Yunho melepaskan pelukannya, kemudian mencubit pipi Jaejoong, gemas.

“Sakit bodoh!” Jaejoong cemberut.

“Hehe, kamu imut sih, apa mau ku cium saja?” Yunho memajukan bibirnya, mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejoong. Jaejoong buru-buru menutup bibir Yunho dengan kedua telapak tangannya, kemudian mendorong wajah Yunho menjauh.

“Mesum!” Yunho tertawa melihat wajah cemberut Jaejoong.

“Oppa…” Uppss, sepertinya Yunho melupakan si makhluk pengganggu yang sedang berdiri bengong, melihat kemesraan Yunjae.

“Ahra, kamu masih disini? Betah amat. Oh iya, kamu belum kenalan sama pacarku yang cantik ini ya. Ahra Ini Jaejoong pacarku tercinta. Jaejoong ini Ahra si cewek pengganggu.” Santai Yunho memperkenalkan keduanya. Tidak mempedulikan wajah keduanya yang sudah memerah. Jaejoong karena malu dipuji cantik. Sedangkan Ahra karena marah disebut pengganggu, ditambah kehadiran Jaejoong yang membuatnya muak. Dan yeoja itu makin emosi saat melihat tangan Yunho yang dengan santainya melingkar dipinggang ramping namja cantik itu.

“Kalian masih ada urusan ya? Aku tunggu diluar aja kalau gitu.” Jaejoong yang sedari tadi merasa terganggu dengan kehadiran Ahra, merasa lebih baik dia yang keluar dari ruangan itu. Tatapan Ahra pada Jaejoong juga membuat Jaejoong risih. Baru beberapa menit bertemu muka, Jaejoong langsung tidak menyukai yeoja dihadapannya itu. Tipe penjilat dan arogan. Jaejoong tidak menyukainya.

“Hum, aku tidak punya urusan dengan si pengganggu ini kok baby. Kita pergi saja dari sini. Aku lapar.” Yunho yang masih memeluk tubuh Jaejoong, mengarahkan tubuhnya dan Jaejoong keluar dari ruangan itu. Tidak peduli si yeoja pengganggu itu berteriak-teriak memanggil dirinya.

***

“Gomao Jaejoong-ah. Kamu menolongku menjauh dari yeoja pengganggu itu.” Yunho duduk di sofa di ruang ganti pribadinya. Tanggannya mengisyaratkan Jaejoong untuk duduk disebelahnya.

“Ku pikir kalian sedang mesra-mesraan berdua diruangan tadi.” Jaejoong cemberut saat mendudukkan dirinya agak jauh dari Yunho.

“Wae? Cemburu?” Yunho menyeringai, jahil, sambil menggeser duduknya mendekati Jaejoong.

“Mimpi saja!” Jaejoong melipat tangannya kesal.

“Ayolah Jaejoongie, akui saja kalau kamu cemburu.” Yunho semakin semangat menjahili Jaejoong, tangannya mencolek-colek pipi Jaejoong yang dikembungkan karena sebal.

“Berhentilah bersikap konyol! Kamu menyebalkan!” Jaejoong cemberut. Bibirnya mengerucut sebal. Jung Yunho sedang berusaha keras mengontrol dirinya agar tidak menyerang bibir merah cherry yang menggoda itu.

“Aigooo, pacarku ini imut sekali jika sedang cemburu.” Yunho mencubit ujung hidung Jaejoong. Refleks Jaejoong menepis tangan Yunho. Dilemparkannya tatapan membunuh pada idol itu.

“Baiklah baiklah, aku tidak akan menggoda mu lagi. Kenapa kamu kesini? Ku pikir kamu sudah lupa kalau aku pacarmu.” Yunho melipat tanggannya, memandang Jaejoong dengan satu alis terangkat.

“Mianhe. 2 minggu ini aku sibuk, proyek dengan Fukutaro-san menghabiskan banyak waktuku.” Jaejoong menatap Yunho, memelas.

“Ya ya ya. Aku tau Kim Jaejoong selalu mementingkan perusahaannya daripada pacarnya ini.” Yunho membuang muka. Sebenarnya dia hanya akting. Pura-pura marah. Padahal dalam hati senang setengah mati, Jaejoong tidak membencinya. Mengingat terakhir kali mereka bertemu, Yunho membuat namja cantik itu menangis.

“Mianhe, Yunho-yah. Aku tidak bermaksud melupakanmu. Tapi perusahaan sedang membutuhkanku.” Jaejoong menarik-narik ujung kaos Yunho.

“Aiisshh, perusahaan memang lebih penting kan. Ah, salah aku memang tidak penting kan.” Sebenarnya ini tidak sepenuhnya akting. Dalam hati Yunho memang merasa Jaejoong tidak menganggapnya penting. Mengingat Jaejoong setuju berpacaran dengannya juga demi perusahaan. Ada sedikit sakit di hati Yunho ketika mengingatnya.

“Hei hei hei, jangan ngambek dong. Ini buktinya hari ini aku datang untukmu. Hari ini aku berencana menemanimu seharian.” Jaejoong menarik tubuh Yunho. Membuat idol tampan itu menatapnya.

“Kau benar-benar akan menemaniku seharian?” Yunho bertanya, berusaha keras menahan senyum yang sebentar lagi mengembang dibibir berbentuk hati miliknya. Jaejoong menganggukkan kepalanya. Tersenyum imut.

“Bener-bener seharian?” Yunho bertanya, sedikit tidak percaya hari ini dia bakal dapat rejeki nomplok. Ditemani namja cantik nan imut dihadapannya ini. Jaejoong kembali menganggukkan kepalanya. Wajahnya tampak seperti anak kecil yang bersemangat.

“Oke kalau gitu aku gak jadi ngambek.” Yunho berusaha keras menutupi kegirangannya.

“Senyum dong kalau gak ngambek.” Jaejoong menarik tangan Yunho. Membuat wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Yunho. Senyum imut menempel diwajah Jaejoong. Maksud Jaejoong adalah agar Yunho meniru senyumnya. Sayangnya otak Yunho yang mesum itu malah mengurusi jarak wajah mereka yang super dekat. Mata Yunho menatap intens bibir merah cherry milik Jaejoong. Setelah beberapa detik, Jaejoong baru menyadari posisinya yang terlalu dekat dengan Yunho, ditambah tatapan intens Yunho pada bibirnya. Jaejoong menarik tubuhnya menjauh dari Yunho. Namun tangan Yunho cepat menahan tubuh Jaejoong.

“Ehmm, Yunho…” Jaejoong berusaha mengembalikan kesadaran Yunho. Tapi bukannya sadar, Yunho malah membelai pipi Jaejoong. Kemudian tangannya mengusap bibir merah cherry milik Jaejoong.

“Yunho…” Nada suara Jaejoong memperingatkan. Jaejoong menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai menatap bingung pada Yunho. Membuat Yunho seketika tersadar. Yunho menjauhkan tubuhnya dari Jaejoong. Mengalihkan tatapannya dari Jaejoong.

“Mian.” Yunho berkata pelan. Tiba-tiba suasana menjadi canggung.

“Hemm,,” Jaejoong menundukkan kepalanya.

“Ayok kita pergi makan, aku lapar.” Yunho baru akan beranjak dari duduknya. Namun tangan Jaejoong cepat menahan Yunho.

“Aku bawain kamu makan siang. Tadi aku sengaja masak buat kamu.” Jaejoong menyerahkan bingkisan yang dibawanya.

“Wooaahhh, kamu masak sebanyak ini untukku??” Yunho menatap takjub pada bingkisan yang dibawa Jaejoong.

“Iya, tadi kata Changmin, jadwalmu hari ini cukup melelahkan, dan karena aku tidak tau apa makanan kesukaanmu, jadi ku buatkan apa yang ada di kulkasku.” Jaejoong menggigit bibir bawahnya, imut.

“Aku gak punya makanan kesukaan. Aku suka semua. Apalagi kalau kamu yang masak.” Yunho berkata tulus. Pipi Jaejoong seketika memerah. Jaejoong kembali menundukkan wajahnya.

“Eh, tunggu. Berarti kamu menghubungi si Changmin?” Yunho bertanya.

“Err,, sebenarnya aku baru akan menghubunginya, tapi dia sudah menelpon duluan.” Jaejoong menatap Yunho.

“Aiisshh, anak itu. Tetap saja suka pura-pura.” Yunho tersenyum, Jaejoong menatapnya bingung. Tidak mengerti apa yang dimaksud Yunho. Yunho melihat kebingungan diwajah Jaejoong, kemudian Yunho mengacak rambut Jaejoong tanpa menjelaskan apa maksud perkataannya tadi.

“Mari makan, aku sudah sangat lapar.” Yunho semangat sekali membuka bingkisan makanan yang dibawa Jaejoong.

“Kamu belum makan berapa hari sih?” Jaejoong takjub melihat cara makan Yunho yang tampak seperti beruang kelaparan.

“Gak inget. Gara-gara kamu sama sekali tidak menghubungiku 2 minggu ini, aku jadi gak selera makan.” Yunho menjawab cuek. Mulutnya penuh, mengunyah makanan yang terasa sangat nikmat dilidahnya.

“Mianhe.” Jaejoong menundukkan kepalanya. Merasa bersalah.

“Gwencana, makanan ini sudah cukup membuatku tidak jadi marah pada mu.” Yunho terus saja mengunyah makanan dengan semangat. Wajahnya seperti anak kecil yang mendapat mainan yang paling diinginkannya. Bahagia dan imut sekali. Tanpa sadar Jaejoong tersenyum.

“Aigoo, umurmu berapa sih, makan sampai berantakan seperti ini? Pelan-pelan saja, gak ada yang akan ngambil makananmu.” Jaejoong membersihkan makanan yang menempel dipipi Yunho dengan jempolnya.

“Gak bisa, kalau ketahuan Changmin bisa gawat.” Yunho nyaris tersedak.

“Hati-hati dong, nanti kamu bisa tersedak.” Jaejoong menyodorkan minuman pada Yunho.

“Dan jangan khawatir, aku sudah memberi makanan pada Changmin. Jadi dia tidak akan merebut makananmu.” Jaejoong menambahkan.

***

 

Yunho keluar dari kamar mandi, setelah menghabiskan makanan yang dibawa Jaejoong, Yunho membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya.

“Apa jadwalmu setelah ini?” Jaejoong bertanya.

“Syuting CF,” Yunho berusaha merapikan kemejanya.

“Serius deh Jung Yunho. Umur mu berapa sih? Make kemeja aja gak bener-bener daritadi.” Jaejoong melipat tangan memandang Yunho yang sibuk mengancingkan kemejanya, tapi bukannya rapi, kemejanya malah awut-awutan.

“Daripada bawel aja, kenapa gak bantuin aku nih. Kemeja ini menyebalkan.” Yunho cemberut. Jaejoong menggelengkan kepalanya, kemudian berdiri menghampiri Yunho yang tampak frustasi dengan kemejanya.

“Kamu ini bodoh ya? Ini harusnya dikancingkan seperti ini. Rapikan dulu diluar, setelahnya baru masukkan ke dalam celanamu.” Jaejoong fokus merapikan kemeja Yunho, tidak memperhatikan jarak tubuh mereka yang hanya beberapa senti. Yunho nyengir. Sebenarnya dia bisa memakai kemejanya sendiri, dia hanya sedang modus, agar Jaejoong membantunya. Yunho hapal sekali kebiasaan Jaejoong yang tidak memperhatikan hal lain, jika sedang fokus pada satu hal. Yunho dengan senang hati memanfaatkan kesempatan untuk melingkarkan tangannya di pinggang ramping Jaejoong.

“Selesai. Kalau rapi begini kan kamu jadi tampak seperti idol beneran.” Jaejoong mendongakkan kepalanya menatap Yunho. Seketika Jaejoong sadar apa yang sedang terjadi. Cengiran di wajah Yunho menjelaskan banyak hal.

“Aiisshh, kamu sengaja mengerjaiku ya?? Menyebalkan!!” Jaejoong memukul dada Yunho, bibirnya mengerucut sebal.

***

 

Seharian menemani sang idol tidak lagi menjadi hal yang menyebalkan bagi Jaejoong. Beda dengan pengalaman pertamanya dulu, kali ini Jaejoong malah menikmatinya. Jung Yunho sendiri? Jangan ditanya. Idol tampan itu tidak berhenti tersenyum setiap melihat namja cantik yang sedang menungguinya. Namun idol tampan itu seketika cemberut saat melihat beberapa staff dilokasi syuting mendekati Jaejoong. Walaupun sesungguhnya mereka hanya menawari minum atau sekedar mengajak Jaejoong berbincang agar tidak bosan. Sindrom Jae-lousy cibir Changmin, yang berhadiah botol minuman terlempar ke kepala manajer tiang itu.

Namun ada satu hal yang mengganggu Jaejoong. Hal itu terjadi saat break syuting. Yunho sedang meneguk minumannya, saat Jaejoong menghampiri namja tampan itu. Senyum yang selalu melekat dibibir berbentuk hati milik Yunho, mendadak lenyap saat namja tampan itu menggenggam ponsel miliknya.

“Hei, ada apa?” Jaejoong bertanya, saat melihat ekspresi Yunho berubah.

“Tidak apa-apa.” Yunho mengalihkan padangannya dari layar ponselnya kepada namja cantik yang menghampirinya.

“Ponselmu berbunyi Yun, kenapa tidak diangkat?” Jaejoong bertanya.

“Tidak perlu, tidak penting.” Yunho menjawab sambil lalu.

“Ayahmu…” Jaejoong melirik layar ponsel yang berpendar menampilkan kata “aboji”.

“Jangan hiraukan dia Joongie!” Yunho memaksakan tersenyum.

“Tapi sepertinya penting. Ayahmu tidak berhenti menelpon walaupun tidak kamu angkat.” Jaejoong mengerutkan keningnya, menatap bingung namja tampan dihadapannya.

“Orang tua itu hanya ingin mengguruiku. Aku sedang tidak ingin bicara padanya.” Yunho tampak kesal. Tepat saat ayahnya menghentikan sambungan teleponnya, Yunho mematikan ponselnya, mencabut baterainya, kemudian melempar asal ponselnya ke dalam tasnya.

“Apa yang terjadi?” Jaejoong bertanya hati-hati. Namun Yunho memilih untuk diam, tidak menjawab. Yunho bahkan tidak menatap Jaejoong.

“Walaupun cuek dan suka memaksa, Jung Yunho yang ku kenal selalu sopan dan menghormati orang yang lebih tua.” Jaejoong menangkup wajah kecil sang idola, memaksa namja tampan itu untuk memandang wajah cantiknya.

“Katakan Yunho, apa yang membuatmu menolak telepon darinya?” Jaejoong menatap lembut pada Yunho. Perhatian Jaejoong membuat Yunho luluh.

“Dia tidak pernah mengharapkan kehadiranku.” Jawab Yunho setengah berbisik.

“Baginya, aku anak pembawa sial. Dia akan sangat bahagia jika bisa membuat hidupku bagai kutukan.” Yunho tidak pernah menampakkan sisi lemahnya dihadapan siapapun, bahkan kepada Changmin yang selalu bersamanya. Namun perhatian dan kehangatan yang ditawarkan Jaejoong mampu meruntuhkan pertahanan Yunho.

Terkejut? Tentu itu yang dirasakan Jaejoong. Walau Jaejoong sangat ingin mengetahui alasan Yunho menjadi pribadi yang dingin, Jaejoong tidak pernah menyangka ayahnya lah penyebabnya. Jaejoong memeluk tubuh Yunho. Membiarkan Yunho menenggelamkan wajah tampannya dibahu Jaejoong. Jaejoong mempererat pelukkannya, berusaha menyalurkan hangat, agar Yunho tidak lagi merasa sendiri.

***

 

“Gomao Jaejoongie, sudah menemaniku seharian.” Yunho menggenggam tangan Jaejoong saat mereka berada dimobil menuju rumah Jaejoong. Jaejoong hanya menanggapinya dengan tersenyum.

“Thanks to Jae-hyung, aku tidak harus menanggap si monster moody hari ini.” Changmin menarik napas lega.

“YAH!! Diam kau manajer bawel!!” Yunho menggetok kepala Changmin.

“Aisshh, jangan pukul kepalaku! Aku sedang menyetir, bodoh!” Changmin ngomel.

“Makanya kau diam saja, menyetir yang benar, jangan ganggu kami bermesraan!” Yunho balas mengomeli Changmin.

“Makanya jangan mengeluarkan kalimat-kalimat menyeramkan. Aku bisa muntah kapan saja nih.” Changmin ini benar-benar tidak mau kalah.

Jaejoong hanya tertawa kecil. Dia mulai terbiasa dengan pertengkaran homin. Mereka berdua memang jarang akur.

“Aiiss. Abaikan saja dia Joongie! Dia hanya iri, gak punya pacar.” Yunho meletakkan tangannya melingkar dipinggang ramping Jaejoong, kemudian menjulurkan lidahnya pada Changmin yang melirik lewat cermin rearview. Jaejoong tersenyum melihat Changmin cemberut tidak bisa membalas.

“Sudahlah Yun, jangan ganggu Changmin, dia sedang menyetir.” Jaejoong mengusap tangan Yunho yang berada diatas perutnya. Entah sejak kapan, Jaejoong mulai nyaman dengan pelukan possessive Yunho.

“Baby, apa kamu bener-benar harus langsung pulang?” Yunho meletakkan kepalanya dibahu Jaejoong.

“Wae?” Jaejoong menoleh pada Yunho.

“Dia belum ingin berpisah denganmu Jae-hyung.” Changmin nyeletuk.

“Aku sedang tidak butuh juru bicara, manajer bodoh!” Yunho cemberut.

“Kita bisa mengobrol dulu dirumahku. Kamu gak harus langsung pulang kan?” Jaejoong berkata lembut.

“Dia maunya hanya berdua denganmu Jae-hyung. Di rumahmu ada Junsu.” Changmin kembali nyeletuk sebelum Yunho bisa berkata.

“Terima kasih manajer. Kau sungguh menyebalkan!” Yunho menyindir sadis, yang hanya dibalas Changmin dengan mengangkat bahunya, cuek.

“Hum, baiklah. Changmin-ah, bisa kah kamu mengantar kami ke apartemen Yunho?” Jaejoong memutuskan setelah berpikir sejenak.

“JINJJA??!!” Bukan hanya suara terkejut Yunho yang terdengar, tapi Changmin juga meneriakkan hal yang sama.

“Aduh, kalian kompak banget, bikin kuping aku sakit nih.” Jaejoong cemberut sambil mengusap-usap telinganya.

“Baby, kamu serius mau ke apartemen ku?” Yunho bertanya takjub. Changmin terdiam, shock.

“Seriuslah. Emang aku keliatan bercanda?” Jaejoong masih cemberut, telinganya sakit.

“Hyu..hyung, apa hyung gak takut diterkam beruang kalau masuk apartemen itu?” Changmin akhirnya menemukan suaranya.

“YAH!! Diam kau manajer bodoh!” Yunho siap ngamuk.

“Sesungguhnya aku sedikit takut sama beruang mesum ini.” Changmin langsung menganggukkan kepala, setuju. Yunho langsung melempar tatapan membunuh pada Changmin.

“Tapi kami butuh bicara. Kita harus bicara kan Yun?” Jaejoong menatap Yunho. Yunho hanya mengangguk menatap wajah Jaejoong.

***

 

Jaejoong duduk di sofa, di ruang tamu, saat Yunho ke dapur mengambil jus jeruk untuk keduanya.

“Kamu tinggal sendiri? Apa tidak sepi?” Jaejoong bertanya saat Yunho sudah duduk manis disampingnya.

“Aku memang selalu sendiri.” Yunho menjawab santai.

“Orang tua mu?”Jaejoong menatap namja tampan yang tampak santai bersandar disofa.

“Ibuku sudah meninggal.” Yunho menatap langit-langit ruangan.

“Mianhe..” Jaejoong menundukkan kepalanya.

“Haha, bukan salahmu sayang, kenapa harus minta maaf.” Yunho mengacak rambut Jaejoong.

“Maaf, hari ini aku bikin kamu sedih, tadi soal ayahmu, sekarang ibumu.” Jaejoong menggigit bibir bawahnya.

“Ya udah peluk aku sini! Biar aku gak sedih lagi.” Yunho nyengir jahil.

“Ihhh, modus. Dasar mesum!” Jaejoong mengerucutkan bibirnya.

“Haha, tapi beneran sini, peluk dongggg.” Yunho mendekatkan badannya pada Jaejoong, tangannya direntangkan, pengen banget peluk Jaejoong. Jaejoong meletakkan telapak tangannya di jidat Yunho, kemudian mendorong tubuh Yunho menjauh.

“Dasar beruang mesum!” Jaejoong semakin mengerucutkan bibir merah menggodanya. Yunho tertawa melihat pipi Jaejoong yang merona.

“Yun….” Jaejoong memanggil pelan.

“Hmm,” Yunho menyandarkan badannya pada sofa, mencari posisi yang lebih nyaman.

“Mianhe…” Jaejoong menundukkan kepalanya.

“Untuk?” Yunho mengerutkan alis menatap Jaejoong.

“Soal malam itu di taman hotel…” Jaejoong memainkan ujung cardigannya.

“Oh, itu salahku kok, bukan salahmu.” Yunho berkata pelan. Jaejoong mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu.

“Aku pasti membuatmu bingung. Tiba-tiba menangis.” Jaejoong kembali menundukkan wajahnya. Yunho menggerakkan badannya, menghadap Jaejoong. Satu tangannya menggenggam bahu Jaejoong, tangan yang satunya diletakkan didagu Jaejoong, mengangkatnya agar Jaejoong menatap wajahnya.

“Dengarkan aku, Jaejoong! Aku mungkin bukan orang yang sensitive. Tapi sungguh, aku tau kenapa kamu menangis malam itu. Kamu pasti bingung dengan segala tindakanku. Kamu takut aku hanya akting, karena kontrak yang kita buat. Tapi percayalah Joongie, aku mungkin hanya akting saat aku mengumumkan ke semua orang kalau kita pacaran. Tapi semua perlakuanku ke kamu, semua hadiah yang ku berikan, semua surprise yang ku buat untukmu, itu semua tulus dari dalam hatiku. Aku hanya ingin membuatmu bahagia Joongie. Aku hanya ingin melihat senyum tulusmu.” Yunho tidak sedetikpun melepas tatapannya dari mata bulat dihadapannya.

“Yun…” Jaejoong tidak tau apa yang harus dikatakannya. Hatinya mempercayai setiap kata yang terucap dari bibir berbentuk hati sang idola. Namun rasa takut menyelimuti logikanya. Takut jika namja dihadapannya ini melakukan semuanya hanya karena kasian atau mungkin karena rasa terima kasih. Bukan cinta.

“Jaejoong-ah, maapkan aku karena memaksamu berada diposisimu sekarang. Sungguh aku mohon maap. Tapi ku mohon percayalah, perasaanku padamu tulus. Bukan akting, seperti yang kau takutkan.” Jung Yunho membelai lembut pipi mulus namja cantik dihadapannya. Jaejoong masih terdiam ditempatnya, matanya tak lepas menatap namja tampan dihadapannya. Namun pandangannya kabur. Air matanya mendesak untuk keluar, membuat pandangannya terhalang oleh butiran-butiran bening.

“Joongie-yah, ku mohon percayalah aku hanya ingin membuatmu bahagia.” Yunho menghapus air mata yang jatuh dipipi mulus namja cantik dihadapannya. Air mata Jaejoong terus mengalir, saat Jaejoong mengulurkan tangannya memeluk namja tampan dihadapannya. Jaejoong menenggelamkan wajah cantiknya didada Yunho. Menumpahkan segala rasa yang memenuhi dadanya hingga sesak.

“Kamu percaya padaku kan sayang?” Yunho bertanya lembut saat merasa tangis Jaejoong mulai mereda. Namja cantik itu mulai tenang dalam pelukkan hangat dari Yunho. Sebuah anggukan kecil dari namja cantik yang masih menenggelamkan wajahnya didada Yunho cukup untuk membuat Yunho merasa amat bahagia.

“Terima kasih sayang. Terima kasih.” Yunho mengecup ujung kepala Jaejoong.

***

tbc

jujur saia gak ngerti saia nulis apa iniiiiiii, hahaha

semoga kalian menyukainya

silakan komen apapun yang kalian mau

tenang saia pasti baca semua komen walaupun gak saia balas

apa ada yang sadar, kalo si imut ini tinggal 1 chapter terakhir lagi??

so, see you soon in the next chapter

gomao udah bacaaaa

salam kecup dari umma appa

^.^v

6 thoughts on “[YUNJAE] An Idol’s Love – Chapter 6

  1. aaaa…akhir nya update juga…^^
    gggyyyaaa…yunpa sosweettt…!!
    yaeeyy…akhir nya yunjae jadian juga..!
    dtunggu kelanjutan nya…!!

  2. Akhir na update jg ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ “̮
    Jaema psti nyesel klo nga nrima yunpa😀

  3. Author kapan lanjut nya? Aku udh gak sabar nih liat lanjutannya.
    Dan jangan biarkan nenek sihir (Ahra) merusak hubungan mereka, ne!
    Ayo fighting! YUNJAE IS REAL!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s