[YUNJAE] An Idol’s Love – Chapter 7 (End)


Annyeong haseyoooo

finally this cute fanfic come to and end…

Ini chapter terakhir dari an Idol’s Love

hope you enjoy it…

kamsa hamnida *bows*

Title : An Idol’s Love

Chapter: 7 of 7

Chapter Title : In Love with Idol

Original Author: Sherly

Completer Author: nTiiiee

Summary: “Kau mempunyai banyak fans dan pasti banyak di antara mereka yang cantik… Pilih saja salah satu, minta ia menjadi pacarmu, dan BOOM! Kau mempunyai kekasih…” kalimat yang seenaknya keluar dari mulut manajernya membuat Jung Yunho mengumumkan Kim Jaejoong sebagai kekasihnya. Bagaimana Kim Jaejoong yang tidak mengenal Jun Yunho menjalani hidupnya yang mendadak berubah karena kehadiran si Idol??

IN LOVE WITH IDOL

Jaejoong membuka matanya perlahan. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha beradaptasi dengan sinar matahari yang menerpa wajah cantiknya. Tangannya meraba sebelah tempat tidurnya mencari ponselnya yang sedang berbunyi. Beberapa saat kemudian sudut mata bulat miliknya menemukan ponselnya di atas meja disebelah tempat tidurnya. Jaejoong menggerakkan badannya berusaha menggapai ponselnya. Namun sesuatu diatas perutnya menahannya. Dengan bingung, Jaejoong menatap perutnya.

‘Tangan?’ Jaejoong menatap tangan kekar yang memeluk pinggang rampingnya dengan bingung. Jaejoong menoleh, menatap namja tampan yang sedang tidur disebelahnya. Seketika senyumnya merekah di bibir merah cherry nya beserta semburat pink di pipi mulusnya.

Jaejoong menatap wajah kekasihnya yang sedang tidur. Menurut Jaejoong, wajah tidur Yunho imut sekali. Dengan mulut terbuka, wajah tampan Yunho tampak seperti bocah. Jaejoong tidak bisa berhenti tersenyum.

Ponsel Jaejoong kembali berbunyi. Membuat Jaejoong mengalihkan perhatian dari wajah Yunho. Jaejoong menggeser sedikit tangan Yunho, agar dia bisa bergerak meraih ponselnya.

“Yeoboseyo?” Jaejoong mengangkat telepon tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“JOONGIIIIEEEEE HYYUUUUUUUNNGG!!!!!!!!” suara melengking mirip lumba-lumba seketika memehuni setiap sudut kamar tidur Yunho, sukses membuat sang pemilik kamar terbangun dari mimpi indahnya. Yunho duduk di tempat tidur, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar, mencari sumber suara menggelegar barusan.

Sesungguhnya Jaejoong juga terkejut dengan lengkingan suara adik semata wayang nya. Tapi melihat tingkah Yunho yang gelagapan bangun karena terkejut, membuat Jaejoong berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.

“Apa apa?? Siapa?? Kenapa??” Yunho meracau sambil terus menoleh ke kiri dan kanan.

Jaejoong tidak tahan lama-lama melihat Yunho yang amat terkejut. Kasihan juga kekasihnya itu, tidurnya terganggu. Jaejoong menangkap tangan Yunho, kemudian mengelus lembut tangan kekasihnya.

“Gwencana Yun. Itu Junsu.” Jaejoong tersenyum menatap Yunho yang sedang menatapnya dengan bingung.

“Junsu?” Yunho masih tidak bisa mencerna perkataan Jaejoong.

“Junsu, adikku, dia menelepon.” Jaejoong menunjukkan ponselnya pada Yunho. Butuh beberpa detik sampai akhirnya Yunho ber-oh dan mengangguk.

“Tidur lagi sini.” Jaejoong menepuk bantal disebelahnya, memberi isyarat agar Yunho kembali merebahkan badannya. Yunho menurut, tangannya kembali memeluk pinggang ramping milik Jaejoong, sedangkan wajahnya dibenamkan di bahu Jaejoong.

“Suie,” Jaejoong kembali menjawab telepon yang sempat diabaikannya. Yunho memberi isyarat pada Jaejoong untuk menekan tombol loud speaker.

“Hyung!! Hyung kemana aja? Kenapa gak memberi kabar kalau tidak pulang?” Junsu yang sudah cukup sebal karena hyung nya semalam tidak memberi kabar, semakin gondok saat teleponnya diabaikan sang hyung karena kekasihnya itu.

“Mian Suie-yah.” Jaejoong menghela napas. Sejujurnya dia tidak berencana menginap tadi malam, sehingga dia lupa memberi kabar pada adiknya yang bawel itu.

“Hyung ini bagaimana sih? Tega banget bikin aku khawatir!” Junsu memang kalau lagi ngomel suka panjang.

“Jangan berlebihan deh Kim Junsu. Jelas-jelas Changmin sudah meneleponmu semalam.” Kali ini jawaban keluar dari mulut sang idol. Yunho sebal Junsu mengganggu tidurnya.

“Iya tapi kan si tiang itu bukan manajernya hyung ku. Lagian Joongie hyung yang harusnya memberi tahuku, bukan lewat orang lain.” Junsu tidak mau kalah.

“Yang penting kan kamu tau hyung mu dimana dan dengan siapa. Jangan berlebihan deh khawatirnya. Joongie aman bersamaku.” Yunho semakin gondok.

“Justru karena aku tau Joongie hyung bersama mu, aku jadi makin khawatir. Katakan!! Apa yang kau lakukan pada hyung ku semalam?” Junsu semakin kencang berteriak.

“Kami hanya mengobrol, Suie-yah. Ada hal yang harus kami diskusikan.” Jaejoong menjawab.

“Benarkah? Lalu kenapa kalian tidur berdua?” Pertanyaan Junsu seketika membuat Jaejoong menyadari maksud sang adik.

“Suie, jangan berpikir yang aneh-aneh. Semalam kami mengobrol. Kemudian kami tertidur.” Jaejoong buru-buru menjawab.

“Benarkah?” Junsu bertanya sangsi.

“Kim Junsu apa kamu tidak percaya pada kakakmu sendiri?” Jaejoong mulai sebal.

“Aku percaya padamu, Joongie hyung. Tapi aku tidak percaya pada beruang mesum disebelahmu itu.” Junsu frontal.

“Kim Junsu, tidak ku sangka kamu mulai sama pervertnya dengan orang itu. For your information, kami tidur masih dengan pakaian lengkap. Tidak seperti bayangan di otak mesummu itu.” Yunho tidak kalah frontal. Jaejoong buru-buru menarik selimut menutupi wajahnya yang memerah. Demi apa ini kekasih dan adiknya malah membahas hal “itu”.

“Aiisshh kamu membuat kakakmu malu, Stupid Junsu!!” Yunho tidak bisa menahan senyumnya melihat Jaejoong salah tingkah.

“Yak! Kim Junsu! Berhentilah mengganggu pagi ku dan Joongie. Atau aku tidak akan menutup mulutku tentangmu dan makhluk …” Yunho belum menyelesaikan kalimatnya.

“Baiklah aku tidak akan mengganggu kalian. Jadi diamlah kau beruang mesum!” Junsu berteriak sebelum memutuskan sambungan telepon. Yunho tersenyum penuh kemenangan. Jaejoong mengintip dari balik selimut.

“Kenapa sayang? Mau melakukan seperti yang dibayangkan adikmu tadi?” Yunho tersenyum jahil. Jaejoong kembali menutupi wajahnya dengan selimut.

“Dasar beruang mesum!!” teriakan Jaejoong tertahan selimut. Yunho tertawa terbahak-bahak. Jaejoong kembali menyibak selimutnya, namun Yunho tak kunjung berhenti tertawa.

“Bisakah kamu berhenti tertawa? Kamu menyebalkan!” Jaejoong cemberut, sebal ditertawakan. Jaejoong baru saja akan turun dari tempat tidur, namun Yunho kembali menariknya ke dalam pelukannya.

“Menggodamu sungguh menyenangkan. Wajah malu-malu mu imut sekali, sayang.” Yunho mengecup lembut kening Jaejoong.

“Jahat!” Jaejoong memukul pelan dada Yunho. Bahagia, itu yang dirasakan Yunho saat ini, senyum tidak bisa lepas dari wajah tampannya. Ditariknya tubuh Jaejoong agar semakin merapat pada tubuhnya.

“Mianhe baby.” Yunho membenamkan wajahnya dilekukan leher Jaejoong, berusaha merekam wangi tubuh Jaejoong dipagi hari.

“Yun…”

“Hem…”

“Sudah waktunya bangun, kamu ada schedule kan pagi ini?” Jaejoong melonggarkan pelukkan mereka.

“Suruh Changmin batalin aja, aku malas.” Yunho kembali membenamkan wajahnya di lekukan leher Jaejoong.

“Aku harus ke kantor Yunho-yah.” Jaejoong mencoba mendorong tubuh Yunho menjauh.

“Bolos aja baby, aku masih pengen bareng kamu.” Yunho berkata dengan manja.

BRAAKK

Jaejoong baru akan membalas ucapan Yunho, saat pintu kamar Yunho menjeblak terbuka. Sesosok pria separuh baya berdiri dipintu kamar Yunho.

“Jadi ini yang kau lakukan hingga tidak sempat mengangkat telepon dari ku?” Pria tua itu berkata dengan nada yang sedikit membentak. Yunho dan Jaejoong langsung bangun dari tidurnya.

“Bisakah kau tidak masuk rumah orang seenaknya? Kau sungguh mengganggu.” Yunho duduk dipinggir tempat tidur, menatap tajam pada pria tua itu.

“Aku punya hak untuk masuk rumah anakku kapanpun aku mau.” Ayah Yunho menjawab datar.

“Rapikan badan kalian, aku tunggu di ruang tamu. Segera! Jangan buang-buang waktuku.” Ayah Yunho berkata ketus sambil berlalu.

“Sorry baby. Orang tua itu selalu seenaknya sendiri.” Yunho tersenyum dengan terpaksa pada Jaejoong. Jaejoong hanya mengangguk, dia terlalu terkejut.

***

Jaejoong meletakkan secangkir kopi dihadapan Ayah Yunho, sebelum Yunho menariknya untuk duduk disebelahnya.

“Secangkir kopi tidak akan mengubah pandanganku tentang mu anak muda.” Tuan Jung berkata seraya menatap Jaejoong tajam. Jaejoong menundukkan kepalanya.

“Tidak ada yang bertanya pendapatmu tentang kekasihku, tuan Jung.” Yunho membalas ketus. Yunho meraih tangan Jaejoong dan menggenggamnnya erat.

“Bisakah kau sopan sedikit Yunho. Aku ini ayahmu.” Tuan Jung berganti menatap Yunho.

“Oh ya? Aku tidak ingat kalau aku punya seorang ayah.” Yunho balas menatap ayahnya.

“Berhenti bersikap kekanak-kanakan Yunho!” Tuan Jung terdengar lelah.

“Akan ku lakukan jika kau berhenti mengganggu hidupku.” Yunho meremas tangan Jaejoong, mencoba mencari kekuatan untuk mengontrol diri.

“Sudahlah, aku tidak ingin memperburuk pagiku. Sebaiknya kau pergi dari sini.” Yunho menarik tangan Jaejoong, hendak beranjak ke kamarnya.

“Aku belum selesai bicara Jung Yunho. Duduk!” Tuan Jung berkata tegas.

“Sudah ku bilang aku tidak ingin bicara denganmu.” Yunho tidak kalah tegas.

“Diam! Dan duduklah!” Tuan Jung membentak.

“Oh ayolah Tuan Jung. Berhenti bertingkah seolah-olah kau peduli pada hidupku. Bukankah kau yang selalu bilang aku ini hanya membawa kesialan untukmu?” Yunho balas membentak. Yunho sungguh sudah muak dengan segalanya. Amarah yang sedari tadi ditahannya nyaris meledak, namun sebuah tamparan dari sang ayah membuatnya terdiam. Pekik tertahan dari Jaejoong menyadarkan Yunho untuk kembali mengontrol emosinya.

“Wae? Tidak suka? Aku membuatmu ingat semua kesialan yang kau terima?” Yunho berkata datar, sorot matanya tampak terluka.

“Tunjukkan rasa hormatmu! Aku AYAHMU!” Tuan Jung menekankan.

“Kau pikir sebuah tamparan akan mengembalikan rasa hormatku? Kau salah Tuan Jung. Kau malah membuatnya semakin lenyap.” Yuhno beranjak meninggalkan ayahnya yang terdiam mendengar perkataannya.

“Jung Yunho aku belum selesai bicara!” Tuan Jung memanggil Yunho saat Yunho sudah didepan pintu kamarnya. Yunho tidak menoleh, kakinya terus melangkah masuk kamarnya, kemudian membanting pintu kamarnya hingga tertutup.

“YAK JUNG YUN…” Tuan Jung hendak berteriak saat sepasang tangan menahan lenganya.

“Saya mohon  biarkan Yunho tenang dulu. Percuma bertengkar dengannya sekarang.” Jaejoong memohon pada Tuan Jung.

“Kau Kim Jaejoong kan?” Tuan Jung memutar badannya menghadap Jaejoong.

“Nde. Saya Kim Jaejoong.”

“Bukankah kau sudah mendapatkan yang kau inginkan? Untuk apa kau masih disini?” Tuan Jung berkata ketus. Jaejoong tidak mengerti maksud Tuan Jung.

“Maaf, apa yang anda maksudkan?”

“Kontrakmu dan Yunho. Aku sudah tau semuanya.” Jaejoong terkejut mendengar perkataan Tuan Jung.

“Itu…” Jaejoong bingung harus menjelaskan apa. Disatu sisi dia sudah tidak lagi memikirkan kontrak itu. Setidaknya perasaan Jaejoong pada Yunho tulus, bukan karena kontrak itu. Namun Jaejoong masih sedikit bingung dengan Yunho. Yunho belum menyatakan cinta walau sudah banyak hal yang dilakukannya untuk Jaejoong.

“Jika kau hanya ingin mempermainkan Yunho, sebaiknya kau tinggalkan dia secepatnya!” Tuang Jung berkata tegas sebelum melangkahkan kaki hendak meninggalkan apartemen Yunho. Jaejoong memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.

“Saya tidak sedang mempermainkan Yunho. Saya mencintainya.” Jaejoong membuka mata, menatap ayah Yunho, membuat pria tua itu berhenti berjalan dan balas menatap.

“Tolong jangan minta saya meninggalkan Yunho. Saya tidak bisa melakukannya.” Jaejoong menegaskan.

“Terserah. Lakukan apapun yang kalian inginkan. Tapi aku tidak akan memaafkanmu jika kau mempermainkan anakku. Ingat itu!” Kemudian Tuan Jung meninggalkan apartemen Yunho.

***

Jaejoong membuka pintu kamar Yunho perlahan. Yunho sedang duduk dipinggir tempat tidurnya, kedua tangannya mengepal diatas pahanya, kepalanya menunduk. Jaejoong menghampiri Yunho, meletakkan tangannya dibahu Yunho, membuat Yunho mengangkat kepalanya memandang Jaejoong yang tersenyum lembut. Satu tarikan, Yunho membuat Jaejoong berada dalam pelukkannya. Jaejoong balas memeluk Yunho, mengusap-usap punggung Yunho, menenangkan.

Entah berapa lama mereka berpelukan, hingga Jaejoong menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Yunho. Tangan lembut Jaejoong membelai pipi Yunho yang beberapa saat lalu ditampar oleh ayahnya sendiri.

“Appo?” Jaejoong bertanya pelan, matanya memandang pipi Yunho yang masih sedikit memerah akibat ditampar.

“Umm..” Yunho menatap Jaejoong sendu. Tanpa berkata apapun, Jaejoong mencium pipi Yunho. Cukup lama Jaejoong menempelkan bibir merah cherry nya di pipi Yunho.

“Merasa lebih baik?” Jaejoong tersenyum menatap Yunho yang tampak terkejut dengan tindakan Jaejoong.

“Pabo!” Jaejoong tertawa kecil melihat wajah bengong Yunho, kemudian kembali memeluk Yunho.

***

Jaejoong duduk diruang kerjanya. Pekerjaannya baru saja selesai beberapa menit yang lalu, namun Jaejoong belum ingin pulang. Jaejoong menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya yang cukup empuk. Jaejoong memejamkan matanya. Beberapa hari ini dia belum bertemu kekasihnya. Jadwal Yunho yang padat dan pekerjaan Jaejoong yang tidak pernah sedikit membuat mereka sulit punya waktu untuk bersama.

Jaejoong menghela napas. Hatinya merindukan sang kekasih.

‘Apa Yunho juga merindukanku?’ tiba-tiba sebuah pikiran melintas dibenaknya.

‘Apa kau juga mencintaiku Jung Yunho?’ Cemas kembali mendera hati Jaejoong. Semanis apapun perlakuan Yunho padanya, Jaejoong tetap menginginkan kepastian tentang hubungan mereka. Dan yang Jaejoong butuhkan dari Yunho hanya 3 kata. 3 kata yang bisa membuat berani mengucap sumpah untuk terus ada disebelah Yunho.

‘Aku mencintai mu, Yunho-yah.’ Jaejoong menghela napas.

“Apakah mengurus perusahaan ini sangat berat, hingga membuat Kim Jaejoong berkali-kali menghela napas?” Jaejoong menoleh pada seorang pria yang sedang bersandar dipintu ruang kerjanya.

“Chunnie? Sejak kapan kamu berdiri disitu?” Jaejoong tersenyum, memberi isyarat kepada Yoochun untuk duduk.

“Cukup lama untuk bisa menghitung berapa kali hyung menghela napas.” Yoochun tersenyum.

“Sedang ada masalah?” Yoochun bertanya.

“Hanya sedang bingung.” Jaejoong menjawab lemah.

“Soal Yunho hyung?” Yoochun bertanya tepat sasaran. Jaejoong membalas dengan anggukan.

“Dia belum bilang kalau dia mencintaimu?” Yoochun ini semacam cenayang tampaknya.

“Apa dia mencintaiku?” Jaejoong meletakkan kepalanya dimeja kerjanya.

“Apa kau ragu padanya?” Yoochun tersenyum.

“Aku tidak tau Chunnie-yah.” Jaejoong merengek.

“Aku tau kau tau yang sebenarnya.” Yoochun berkata santai.

“Aku butuh kepastian Chun.” Jaejoong menatap Yoochun.

“Kau terdengar seperti wanita Hyung.” Yoochun nyengir. Jaejoong langsung melempar pulpen dimejanya dan tepat mengenai jidat lebar milik Yoochun.

“Hyung!! Kenapa sih kalian suka menyiksa jidat ku?” Yoochun cemberut sambil mengusap-usap jidatnya yang teraniaya.

“Kalau kau kemari hanya untuk mengejekku, sebaiknya kau pergi saja, dasar jidat lebar.” Jaejoong cemberut.

“Aiisssh, aku kesini disuruh Junsu. Katanya mobilmu dia yang bawa jadi dia menyuruhku menjemputmu, Jae-hyung.” Yoochun masih bergumam jidatnya sakit.

“Aku bisa pulang naik taksi kok. Kamu gak perlu repot-repot.”

“Tapi Junsu menunggumu di tempat konser. Memangnya hyung gak mau nonton konsernya Yunho hyung?” Pertanyaan Yoochun membuat Jaejoong bengong.

“Memangnya konsernya sekarang ya?” Jaejoong bingung.

“Ya gak sekarang juga sih. Setengah jam lagi.” Yoochun menjawab santai, sambil melirik jam tangannya.

“Mampus aku lupa. Ayo kita kesana sekarang. Sebelum Jung Yunho ngamuk.” Jaejoong langsung menarik Yoochun.

***

Sampai di tempat konser, Jaejoong langsung berlari ke belakang panggung. Beruntung Yunho pernah mengumumkan siapa Jaejoong, sehingga Jaejoong mudah melewati penjaga dipintu masuk ke belakang panggung. Yunho langsung memeluk Jaejoong saat melihat namja cantik itu.

“Ku pikir kamu gak akan datang.” Yunho cemberut tanpa melepaskan pelukkannya.

“Mianhe, aku sedikit terlambat.” Jaejoong balas memeluk Yunho.

“It’s okay, yang penting kamu datang.” Yunho mengecup kening Jaejoong.

“Yunho ssi, stand by! 5 menit lagi.” Seorang staff memberi tahu Yunho.

“Baik.” Yunho menjawab semangat.

“Aku pergi dulu baby, aku sudah suruh Changmin memberimu kursi yang paling depan agar dekat denganku.” Yunho berkata pada Jaejoong. Baru satu langkah meninggalkan Jaejoong, Yunho kembali berbalik. Dengan satu tangan melingkar dipinggang ramping Jaejoong, Yunho mendekatkan tubuhnya kemudian mengecup ringan bibir merah cherry milik kekasihnya.

“Bekal untuk penambah semangat.” Yunho tersenyum jahil sebelum pergi ke bersiap dibawah panggung.

“Awww, so sweet.” Komentar Changmin berhasil membuat wajah Jaejoong semakin memerah, malu. Beberapa staff yang melihat adegan barusan juga tersenyum penuh arti.

“Kau tau Jae-hyung. Dia hampir membatalkan konser ini karena kau tidak kunjung tiba.” Changmin melingkarkan tangannya dibahu Jaejoong.

“Mianhe.” Jaejoong menundukkan kepalanya. Changmin hanya tersenyum, kemudian mendorong Jaejoong untuk segera menuju tempat duduk yang sudah disediakan untuknya. Tanpa menyadari sepasang mata yang memandang benci pada Jaejoong.

***

“Yoo Yunho hyung… Sedang sangat semangat rupanya.” Yoochun menyapa Yunho yang kembali ke belakang panggung. Sesi pertama konser sudah selesai, ada beberapa menit untuk Yunho beristirahat sebelum melanjutkan sesi kedua dari tiga sesi yang ada.

“Jelas saja dia semangat, Joongie hyung ada disini.” Junsu menimpali judes.

“Hei duckbutt… Sepertinya sekarang kamu kesal pada Yunho hyung. Bukannya kamu fans nya?” Changmin bertanya.

DULU aku fans nya. Sekarang aku membencinya.” Junsu melipat kedua tangannya didepan dada.

“Suie, jangan begitu.” Jaejoong berusaha menenangkan adiknya.

“Suie-yah, kenapa kamu kesal pada Yunho hyung?” Yoochun bertanya bingung.

“Beruang mesum ini sering menyusahkan Joongie hyung. Bahkan membuatnya menangis. Aku tidak suka padanya.” Jaejoong sudah menceritakan semuanya pada Junsu, karena anak itu terus-terusan memaksa Jaejoong. Sejak tau yang sebenarnya, Junsu jadi tidak menyukai Yunho. Sebenarnya Junsu tidak suka pada semua orang yang membuat hyung nya bersedih apalagi menangis. Junsu bahkan sempat mogok bicara pada orang tuanya saat dia melihat Jaejoong menangis karena perbuatan orang tuanya. Butuh berminggu-minggu hingga Jaejoong mampu membuat Junsu berhenti memusuhi orang tua mereka.

“Mianhe Junsu-yah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku juga tidak suka melihat Jaejoongie menangis.” Yunho berkata lembut pada Junsu. Jaejoong hendak menghampiri Yunho, namun Junsu menahannya. Sikap protective pada hyung nya terkadang suka berlebihan dan menyusahkan. Namun Jaejoong hanya tersenyum melihatnya. Jaejoong tau adiknya itu sangat mencintainya.

“Ahhh Jidat hyung, ayo kita seret keluar MANTAN fans nya Yunho hyung ini. Dia mengganggu saja.” Changmin langsung menarik Junsu saat Yunho menatapnya dengan tatapan ‘bantu aku Changmin-ah’. Junsu jelas berontak. Namun dengan Changmin mengapit tangan kanannya dan Yoochun mengapit tangan kirinya, Junsu tidak bisa melawan. Tapi mulutnya masih berteriak memarahi Yunho.

Yunho merebahkan dirinya disofa, dengan paha Jaejoong sebagai bantalnya.

“Mianhe Yunho-yah. Junsu suka kekanak-kanakan.” Jaejoong membelai kepala Yunho.

“Aku mengerti dia ingin menjagamu. Karena aku juga akan melakukan hal yang sama.” Yunho tersenyum, matanya terpejam menikmati belaian tangan Jaejoong.

***

Break setelah sesi kedua selesai tidak sepanjang sesi pertama. Yunho harus langsung berganti baju untuk sesi berikutnya, membuatnya tidak bisa menemui kekasihnya.

“Suie, hyung ke toilet dulu ya.” Jaejoong pamit pada adiknya. Mereka duduk di kursi VVIP yang disediakan Changmin.

“Butuh ditemani?” Junsu menawarkan.

“Tidak usah. Kamu disini saja bersama Yoochun.” Jaejoong melangkahkan kaki ke toilet, tanpa menyadari ada seseorang yang mengikutinya.

“Kamu benar-benar gak tau diri ya.” Seseorang menunggu Jaejoong didepan toilet. Jaejoong yang baru keluar dari toilet menatap bingung wanita dihadapannya.

“Go Ahra-sshi?”

“Aku muak melihatmu cari muka didepan Yunho oppa.” Go Ahra memasang tampang jijik pada Jaejoong.

“Bukankah itu seharusnya kalimatku? Yang berpacaran dengan Yunho itu aku bukan kau.” Jaejoong berkata tegas.

“Kau merebutnya dari ku, lelaki rendah!” Ahra sedikit berteriak.

“Ya ya ya, terserah kau mau bilang apa. Aku malas berdebat dengan mu.” Jaejoong memutar bola matanya, kemudian pergi meninggalkan Ahra. Namun Ahra menahan lengannya, kemudian mendorong Jaejoong hingga menabrak dinding.

“YAH! APA YANG KAU LAKUKAN YEOJA GILA?” Junsu yang baru datang langsung berteriak.

“Siapa kau? Jangan ikut campur!” desis Ahra.

“Kau yang harusnya enyah dari sini yeoja gila.” Junsu menarik Ahra agar tidak menyentuh Jaejoong.

“Hyung gwencana? Apa yeoja gila ini menyakitimu?” Junsu bertanya pada Jaejoong, yang dibalas dengan gelengan kepala.

“Sudahlah Suie, tidak usah mengurusi dia, tidak penting.” Jaejoong mendorong Junsu menjauhi Ahra.

“Tapi yeoja gila ini harus diberi pelajaran hyung, agar dia segera lenyap.” Junsu menatap Ahra dengan tatapan siap membunuh.

“Cih, apa semua orang didekatmu sama rendahnya dengan mu Kim Jaejoong?” Ahra menyindir.

“Kau yang lebih rendah yeoja gila.” Junsu membalas sengit.

“Berani sekali kau memfitnahku!” Ahra berteriak.

“Aku tidak fitnah. Aku tau kelakuan busukmu selama ini.” Junsu menjawab santai.

“Apa maksudmu?” Ahra tampak marah.

“Kamu kira kamu bisa menutupi semua kelakuan busukmu? Ayolah, aktingmu itu biasa aja, bahkan bisa dibilang buruk. Tapi anehnya kamu bisa dapat peran, bahkan peran utama. Siapapun pasti akan tau apa yang kau “lakukan”. Atau kau mau memberi tahu ku berapa banyak pria yang kau layani demi mendapatkan peran-peran itu?” Junsu menatap Ahra yang tampak terkejut dengan yang baru saja dikatakannya.

“Jangan sembarangan bicara kau!” Suara Ahra terdengar lemah walaupun dia berusaha tetap jutek.

“Aku tidak bicara sembarangan. Aku punya bukti.” Junsu santai.

“Kau berbohong!” Ahra mendesis.

“Oh kau mau aku menanyakannya langsung pada salah satu pria yang kau layani? Itu mudah saja, mengingat aku kenal baik dengan salah satunya.” Junsu mengutak atik ponselnya.

“Awas kalau kau berani menyebarkannya!” Ahra mengancam, namun sebenarnya yeoja itu ketakutan. Junsu tersenyum sinis, dia berjalan mendekati Ahra, dengan satu tangan Junsu menarik dagu Ahra, membuat yeoja itu mendongakkan wajahnya.

“Enyahlah dari hidup Yunho hyung dan Jaejoong hyung! Jika sekali saja kau menunjukkan wajah jelekmu dihadapan kami, ku pastikan kau kehilangan semua fans mu. Oh jangan lupa dengan segala terror yang akan kau dapat dari fans nya Yunho hyung. Kami akan mengirimkan terror yang lebih dahsyat dari yang sudah-sudah. Ingat itu!!” Junsu melepas cengkramannya pada dagu Ahra dengan sedikit membuangnya kesamping. Ahra sedikit terhuyung dari tempatnya berdiri. Yeoja itu ketakutan.

“Hyung gak tau kalau kamu mencari bukti kelakuan Ahra.” Jaejoong berkata saat Junsu menariknya menjauh.

“Aku gak punya bukti apa-apa. Aku bahkan gak tau apa yang sudah dilakukan yeoja gila itu. Gak penting amat ngurusin itu orang.” Junsu menjawab santai.

“Lah yang tadi kamu bilang padanya?” Jaejoong menatap bingung.

“Aku hanya mengarang, eh ternyata dia memang melakukannya. Dasar yeoja gila.” Junsu nyengir.

***

Jaesu kembali menikmati konser dari kursi VVIP. Keduanya terlihat ceria. Berteriak bersama fans-fans Yunho yang lain. Junsu bahkan tidak ingat kalau beberapa saat yang lalu dia bilang dia membenci Yunho.

Yunho berdiri diatas panggung, mengatur napasnya yang terengah setelah intens dance yang dilakukan sebelumnya.

“Apa kalian senang hari ini?” Yunho bertanya pada semua fans yang hadir.

“Lagu selanjutnya adalah lagu yang spesial. Jika orang ini tidak hadir dalam hidupku, aku tidak berdiri disini, membawakan lagu ini untuknya.” Yunho berkata sembari tersenyum. Fans yang hadir seketika berteriak riuh.

“Ahh kalian pasti sudah tau siapa yang ku maksud. Benar sekali. Lagu ini untuk kekasihku tercinta, Jaejoongie. Saranghae do dwel gayo.” Yunho tersenyum lembut, menatap langsung ke arah Jaejoong, yang menggigit bibir bawahnya, malu-malu.

The door is opening and you come in
I knew at first sight that you were mine
Your face shone as you came toward me
You are so beautiful you can make me go blind

I don’t know why, but it’s not strange
Yet my heart is fluttering
You took all of my heart

I want to tell you carefully
I want to be brave
Can I love you from today?
It’s the first time
I don’t want to lose this obvious feeling
I think love is going to come
I’ll give only good things to you

Yunho berjalan menuju kursi VVIP. Seorang dancer menyerahkan buket mawar. Yunho menerimanya sambil terus berjalan dengan mata lurus menatap satu titik. Kekasihnya yang cantik. Penonton bergemuruh terpesona.


I don’t know why, but it’s not strange
Yet my heart is fluttering
You took all of my heart

Yunho berjongkok menyerahkan bunga pada Jaejoong. Jaejoong menerimanya dengan wajah bersemu merah. Yunho berdiri, mengulurkan tangannya untuk digenggam Jaejoong.

I put up with a lot of goodbyes and lots of tears
So it’s a little late, but I think I’ve finally met the one
Can I love this person that’s sitting in front of me?
I’l
l confess to you with my beating heart

I want to tell you carefully
I want to be brave
Can I love you from today?

Yunho membawa Jaejoong ke tengah panggung utama. Tangannya terus menggenggam tangan kekasihnya.

It’s the first time
I don’t want to lose this obvious feeling
I think love is going to come
I’ll give only good things to you

Yunho memutar badannya menghadap Jaejoong. Dilepaskan genggaman tangannya sebentar untuk mengangkat wajah kekasihnya yang tertunduk malu-malu. Yunho manatap langsung ke mata Jaejoong.

Can I love you?

            (Yurisangja – Saranghae do dwel ga yo / Can I love you)

Penonton bersorak ramai, bertepuk tangan.

“Yeorobeun, harap tenang sebentar. Ada yang ingin saya katakan langsung pada kekasih saya yang cantik ini.”

Seketika sorak sorai mereda, walau tak sepenuhnya berhenti.

“Kim Jaejoong, mianhe, selama ini kamu pasti menantiku mengatakan ini. Karena itulah aku membawamu kemari. Agar semua orang disini bisa menjadi saksi, bahwa aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku.” Yunho tersenyum lembut. Yunho mendekatkan bibirnya pada telinga Jaejoong.

“Kim Jaejoong, I love you.” Yunho berbisik. Jaejoong menggigit bibit bawahnya, menatap Yunho tidak percaya.

“Kenapa sayang? Tidak percaya? Baiklah, aku akan mengatakan lagi, hingga semua orang yang ada disini mendengarnya.” Yunho mundur sedikit menjauhi Jaejoong. Yunho menempatkan mic agak jauh dari bibirnya.

“KIM JAEJOONG SARANGHANDA!!!” Yunho berteriak berasa rocker. Penonton kembali bersorak sorai. Jaejoong masih berdiri diam ditempatnya.

“SARANGHAEYO KIM JAEJOONG!!!” Yunho kembali berteriak. Matanya tak lepas menatap wajah cantik kekasihnya. Sebulir air mata menetes dari mata besar milik Jaejoong, sebelum namja cantik itu bergerak cepat membenamkan wajahnya didada Yunho. Tepat saat Yunho balas memeluk Jaejoong, sorak sorai penonton semakin menjadi-jadi. Tepuk tangan datang dari setiap sudut tempat konser itu.

Jaejoong menumpahkan segala kecemasannya dan kebingungannya selama ini didada Yunho. Tidak peduli jika air matanya membasahi kostum panggung Yunho. Kebahagiaannya saat ini terlalu besar, membuatnya meledakkan segala rasa didalam hatinya dalam bentuk air mata.

Yunho mendekap tubuh mungil yang tengah gemetar itu. Banyaknya kebahagiaan yang memenuhi rongga dada Jaejoong, sebanyak itu pula yang Yunho rasakan memenuhi hatinya yang terbiasa kosong.

“I love you Jaejoongie. Saranghae.” Yunho membisikkan kalimat itu ditelinga kekasihnya. Jaejoong mengangkat wajahnya dari dada Yunho. Menatap mata almond milik namja tampan dihadapannya.

“Na do. Saranghaeyo Jung Yunho.” Jawaban yang lebih dari cukup untuk membuat Yunho menghilangkan jarak diantara keduanya, menempelkan bibirnya pada bibir merah cherry yang paling manis dalam hidup Yunho.

***

Fin

 

terima kasih buat yang sudah mengikuti fanfic imut ini,,

buat semua yang udah komen makasih banget ya,,

maap gak balas satu persatu,,

tapi pasti saia baca kok

thanks banget buat apresiasi kalian

hug hug hug

gomao udah bacaaaa

sampai bertemu di fanfic fanfic selanjutnya

salam kecup dari umma appa

^.^v

10 thoughts on “[YUNJAE] An Idol’s Love – Chapter 7 (End)

  1. Heloo..
    Aku readers baru..

    Mianhae baru Komen dichap akhir..

    Ini so sweet banget deh.. Akhirnya Happy end,,,, LOVE LOVE YUNJAE deh…

    Kyaaaa,bikin lagi ne.. Yg ceritanya berbeda.. :3

  2. Wah, happy ending. Akhrnya yunppa bilang ‘saranghae’ juga. Tp msih kurang, bikin sequel thor yayaya…..
    Klo bsa sampai yunjae nikah + punya anak ya thor #ehehehe

    Ditunggu ne.

  3. kyaaaaaa akhirnya so sweet bngeeeettt~~~

    mian ne author nim baru komen lagi, aku baca ngebut dari chapter 1. ga ngebut2 banget sii hehe~~~

    sebenernya lagi ga mood banget buat komen /ko curhat?/ tapi tetep nih pengen ninggalin jejak di ff ini, hwaiting ne author nim ditunggu ff2 selanjutnya, tentang yunjae pastinya~~~

    humm kayanya udah kepanjangan nih komennya hehe,, pokoknya tetep semangat oke author nim *kecupbasah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s