[YunJae] What Should I Do? | Part B (END)


Title: What Should I Do?

Author: Shin YJ

Pair: YunJae

Genre: Romance, Random, BL, Oneshoot

WARN: Fanfic ini murni hasil imajinasi liar penulis semata.

image

 

Chapter B

.
.
.

Yoochun tidak habis pikir dengan kelakuan sajangnimnya.
Yoochun merasa, Yunho sedikit sinting.

Baru beberapa bulan yang lalu Yunho ditinggal menikah oleh wanitanya, sekarang Yunho berencana untuk menikahi lelakinya.

What the hell?!

Yang jadi pikirannya adalah, kenapa Yunho harus menikahi Jaejoong?

Yeah, memang awalnya Yoochun sendiri yang mengenalkan Yunho dengan Jaejoong. Tapi demi Tuhan! Tidak ada niatan lain selain menjadikan Jaejoong hanya sebagai tempat penyegar dari pelampiasan kekecewaan Yunho kepada Hyeneul.

Tidak kalau untuk menikah.

Dari pengetahuan Yoochun, Jaejoong memang tipikal kekasih idaman bagi pasangan homoseksual.. Kepintaran dan kelembutan serta pembawaan yang tenang menjadi daya tarik kuat seorang Kim Jaejoong.

Tapi untuk dijadikan sebagai kekasih sehidup semati dengan ikatan pernikahan, Yunho harusnya berpikir dulu. Buka mata lebar-lebar.

Yakinkah ia akan menikahi orang dari latar belakang yang demikian?
Biar bagaimana pun masa lalu akan mempengharui apa yang akan terjadi di masa depan.

“Aku tetap pada keputusanku Yoochun-ah! Hidupku aku sendiri yang menjalaninya. Aku sangat berterima kasih karena kau sangat memperhatikanku. Tapi bukan berarti kau juga harus ikut campur urusanku kan!”

“Tapi hyung, sebrengsek apapun seseorang dia pasti akan mencari pendamping hidup dari kalangan baik-baik! Pikirkan itu!”

“Ya. Dan itu hanya untuk orang munafik yang tidak tahu diri. Jika seorang bajingan mengharapkan pendampingnya adalah orang yang baik, maka dia harusnya berkaca pada dirinya sendiri.” Yoochun mendelik. Ia tidak menyangka Yunho bisa berkata sefrontal itu.

“Hyung kau berubah!”

“Jangan melawak Yoochun-ah? Kau ingin menyalahkan dirimu sendiri hnn? Aku berubah karena Jaejoong, seseorang yang telah kau kenalkan padaku.”

Ada alasan tersendiri kenapa Yunho bersikap demikian. Yunho sangat yakin bahwa ia sudah benar-benar menjadikan Jaejoong sebagai candunya.
Rasa posesif dan protektif membuat dirinya harus sesegara mungkin untuk menarik Jaejoong dari dunia liarnya lalu mengikat laki-laki cantik si perebut hati tuan Jung itu untuk menjadi milik Yunho seutuhnya.

Yunho cemburu. Sangat cemburu jika dengan atau tidak sengaja dirinya memergoki Jaejoong sedang bercumbu dengan parternya.

Hatinya panas. Yunho jijik melihat bibir-bibir busuk itu melumat bibir merah kekasihnya.

XXX

Jaejoong sengaja pulang cepat malam ini. Dia keluar dari club tepat pukul setengah sebelas malam tadi. Padahal biasanya dia akan pulang jika jarum jam sudah menunjukan waktu dini hari menjelang subuh.

Alasannya adalah karena Yunho sudah tujuh kali menghubungi posel miliknya dan menyuruh Jaejoong pulang sekarang juga atau Yunho sendiri yang akan menyeret Jaejoong dari dalam club.

“Kau terlihat ganjil belakangan ini Yun. Waeyo hmm?” setelah sampai di flat miliknya Jaejoong bergegas menuju satu-satunya kamar tidur yang ada dan mendapati Yunho sedang sibuk mengotak-atik iPadnya.

Jangan bertanya kenapa Yunho bisa berada disana malam-malam begini?
Itu karena dia sudah merampok kunci serep flat Jaejoong agar kapan saja ia ingin menyambangi flat kekasihnya, Yunho tidak perlu mengetuk pintu dulu layaknya tamu.

“Aku senang akhirnya kau mau pulang juga. Aku merindukanmu Jae..” Jaejoong berdecak karena Yunho malah sengaja membelokkan pertanyaannya.

“Kau selalu merindukan kapanpun dan dimanapun. Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa sikapmu yang begini mirip sekali seperti remaja labil yang sedang mabuk cinta.”

“Aku memang sedang dimabuk cinta oleh Kim Jaejoong.”

“Kau menyedihkan!”

Yunho menatap Jaejoong tepat di kedua matanya.
“Jae, jujur aku belum pernah terlihat semenyedihkan begini sebelumnya.”

“Lalu?”

“Aku mencintaimu.”

Jaejoong tersenyum kecut mendengar perkataan Yunho.
Cinta?
Hah~ Yunho adalah orang kesekian yang mengatakan bahwa ia mencintai Jaejoong. Sebelumnya entah sudah berapa puluh kali kata-kata seperti itu keluar dari mulut laki-laki yang menjadi partnernya.

“Kau menelponku berulang kali, menyuruhku segera pulang hanya untuk mengatakan itu, Yunho-ya?” Yunho menatap sendu Jaejoong. Sudah ia tebak reaksinya akan seperti ini.

“Aku serius Jae, bisakah kau mendengarkan dulu penjelasanku?” Langkah kaki Yunho menghampiri Jaejoong yang sejak tadi hanya berdiri sambil bersedekap di ambang pintu kamarnya.

Tepat selah jarak mereka saling berhadapan, Jaejoong mengulurkan tangan kanannya menyentuh wajah tampan Yunho. Mengelusnya, membiarkan sang partner memejamkan mata menikmati sentuhan jermari lentik miliknya.

“Kau tahu Bear, aku sudah bosan sekali mendengar kata-kata seperti itu.” bibir cherry Jaejoong mengecup pelan bibir bawah Yunho.

“Dan kau tahu kenapa aku selalu mengabaikan mereka? Itu karena pada kenyataannya mereka tidaklah mencintaiku. Yang mereka cintai adalah tubuh dan pelayananku semata.” Yunho segera bertindak cepat ketika ia merasa Jaejoong akan menyudahi kecupannya. Laki-laki bermarga Jung itu segera meraih tengkuk Jaejoong dan melumat bibir kekasihnya dengan ciuman basah.

XXX

Siang itu matahari musim panas membakar aktivitas lalu lalang masyarakat Seoul.

Sebuah Lexus hitam melaju cepat di jalan beraspal ibu kota negara Korea Selatan tersebut.

Dibalik kaca gelap mobil, seorang laki-laki dua puluh lima tahunan duduk memegang stir dengan mata sipit yang menajam fokus melihat lalu lintas.

Laki-laki itu mengenakan jas resmi khas kantoran. Pakaian ala penguasa berduit ditambah mobil mewah yang sedang ditumpakinya, kentara sekali bahwa dia salah seorang penghuni gedung-gedung mewah yang bernama perusahaan.

Lantas apakah yang membuat laki-laki itu keluyuran di siang panas terik yang seharusnya masih menjadi jam kerjanya?

“Aku tahu kau juga tertarik padaku Jaejoongie… Aku harap dia mau meruntuhkan egonya itu demi perasaan yang sebenarnya.” Yunho mendesah berat mengingat kejadian semalam.

Jaejoong menolaknya.

Yeah, meskipun ia sudah berbicara bahkan sampai mulutnya berbusa menjelaskan bahwa betapa Yunho sangat serius ingin menjadikan Jaejoong sebagai pasangan hidupnya. Memohon pada sang kekasih hati untuk berhenti dari pekerjaan kotornya karena Yunho bersedia menanggung dan memenuhi segala kebutuhan baik jasmani maupun rohani untuk Jaejoong seumur hidupnya. Tapi jawaban yang ia dapatkan selalu sama. Jaejoong hanya tersenyum sambil berkata bahwa Yunho hanya menuruti nafsu sesaat saja.

Oh God~
Harus dengan cara bagaimana lagi Yunho meyakinkan si Kim itu bahwa ia serius dengan niat dan ucapannya?

Oleh karena itu hari ini, tepatnya siang ini Yunho sengaja membatalkan rapat perusahaannya demi mencari cincin untuk melamar Jaejoong nanti malam.

.
.
.

Jaejoong berguling malas di ranjangnya. Ia tidak peduli pada selimut bersih yang sekarang sudah jatuh tergelatak diatas lantai kayu kamar miliknya.

Malam nanti dia berniat untuk tidak pergi ke club. Ia ingin absen. Menenangkan sejenak kemelut pikiran yang ditimbulkan oleh Yunho padanya akhir-akhir ini.

Jujur saja ini pertama kalinya Jaejoong dihinggapi perasaan asing yang menekan dadanya.
Ia paham betul bahwa ia telah terbuai oleh rasa suka yang menjurus pada Yunho.

Jaejoong sadar itu.

Ia telah jatuh cinta.

Seperti ucapannya kepada Jino kemarin lalu,
‘bagaimana ia tidak tertarik pada Yunho jika laki-laki Jung itu punya segala kesempurnaan yang mampu meluluhkan hatinya.’

Sepanjang lima tahun lamanya Jaejoong bekerja sebagai penghibur laki-laki kaya, ini pertama kalinya Jaejoong terpikat oleh sang partner.

Selama ini laki-laki kaya yang selalu menghampirhnya adalah sekumpulan keturunan berduit hidung belang yang sudah beristri dan gemar perselingkuhan.

Kontras sekali dengan Yunho yang masih muda dan polos.

Benar kan?
Yunho itu polos. Ia tidak akan terjerumus kepada Jaejoong kalau tidak karena ajakan sahabatnya yang bermarga Park itu.

“Apa yang harus aku lakukan, Yunho-ah?”

XXX

Jarum jam menujuk diangka delapan malam tepat ketika Yunho memarkirkan asal Lexus hitam miliknya di tanah lapang yang terletak seratus meter dari flat Jaejoong berada.

“Aku sudah bulat Jaejoongie, aku serius dan aku siap menerima apapun jawabanmu nanti.” Yunho bermonolog seraya melangkahkan kakinya lebar-lebar menaiki dua anak tangga sekaligus berharap dirinya cepat-cepat sampai di lantai tiga tempat flat Jaejoong.

Yunho yakin Jaejoong belum keluar bekerja menuju club karena ia hapal jika jam kerja Jaejoong dimulai pukul jam sembilan malam nanti.

“J-Jae?” Yunho menghentikan langkahnya ketika ia melihat Jaejoong sedang kesusahan memasukan kunci ke lubang pintu flat karena kedua tangannya sibuk menenteng empat kantong plastik besar dengan merk nama sebuah swalayan.

Ah, rupanya Jaejoong baru saja pulang belanja.

“Eoh? Yunho-ya.. Bisakah kau menolongku memasukan kunci ini? Aku sudah mencobanya berkali-kali tapi selalu gagal!”

Yunho menatap Jaejoong tidak percaya? Apa yang terjadi dengan Jaejoongnya? Bukankah ia bisa meletakan dulu semua plastik belanjaan di bawah kakinya lalu ia bisa dengan mudah membuka pintu tanpa harus susah-susah seperti itu.

Sepertinya telah terjadi sesuatu di kepala Jaejoong sampa-sampai ia bisa berbuat konyol demikian.

Jaejoong meletakan empat kantong plastik besar yang ditentengnya pada sebuah keranjang besar di samping dispenser. Yunho mengekor di belakang Jaejoong dengan tatapan menyelidik.

“Jae-”

“Yun, tolong ambilkan gunting di laci kedua di lemari kecil itu. Aku harus memasukan beberapa ikan segar ke dalam kulkas agar dagingnya tidak membusuk.”

Yunho menuruti perintah Jaejoong dan sesudahnya ia menarik salah satu kursi ruang makan, duduk disana, membiarkan mata sipitnya memperhatikan Jaejoong yang sedang menyusun ikan dan buah-buahan.

Dua puluh lima menit kemudian, setelah mencuci tangan di wastafel dapur, Kim cantik itu menghampiri Yunho yang masih setia memandanginya.

“Kenapa heum?” jemari lentik Jaejoong mengusap perlahan tatanan rambut Yunho.

“Jae…. Ada hal serius yang ingin aku katakan padamu.” Yunho meraih pinggang Jaejoong menyuruh laki-laki cantik tersebut untuk duduk di pangkuannya.

“Katakan apa itu my Bear?” sebuah kecupan kecil mendarat di bibir bawah Yunho.

Mata sipit seorang Jung menatap mata bulat seorang Kim.

Jika memang takdir memperbolehkan Jung dan Kim untuk berjodoh, maka Tuhan akan membiarkan Yunho memiliki Jaejoong.

Tanpa sepengetahuan laki-laki yang berada di pangkuannya, Yunho menyematkan sebuah cincin di jari manis tangan kiri Jaejoong. Awalnya Yunho dapat menangkap reaksi terkejut yang Jaejoong timbulkan. Namun ekspresi itu hanya terjadi sepersekian detik saja karena Jaejoong tiba-tiba tersenyum sangat manis kepadanya.

“Apa maksudnya ini Yun?”

“Menikahlah denganku, Jaejoongie..”

Jika mata bisa berbicara, maka saat ini pandangan mata Jaejoong mengatakan: ‘apa kau sudah gila?’

“Aku tidak main-main.” seolah mengerti Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat.

“Kau tahu Yun? Meskipun aku pernah mendengar banyak sekali laki-laki mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tapi ini pertama kalinya ada laki-laki bodoh yang berani mengajakku menikah.” Yunho mengerang ketika Jaejoong meremas sesuatu di balik celananya secara tiba-tiba.

“Lalu? Apa jawabanmu?” ucap Yunho tersendat. Good!
Ia baru saja di rangsang.

“Why not?”

Suara tawa lewas Yunho membuat Jaejoong merengut tidak suka.

“Yah! Jawaban macam apa itu?!” Yunho menjepit gemas hidup Jaejoong dengan jempol dan telunjuknya.

“Memangnya kau ingin aku menjawab bagaimana?” Jaejoong menepis tangan Yunho sedikit kasar.

“Kau sungguh tidak romantis, sayang.”

“Kau pikir lamaranmu ini romantis eoh?” tangan Jaejoong membuka satu persatu kancing kemeja Yunho.

“Jadi, kapan kita menikah Yunho sayang?”

Yunho tergelak.
“Kau sudah tidak sabar ya?”

“Aku serius bodoh!” Tangan yang sedang membuka kancing itu refleks bergerak menjambak rambut Yunho.

“Aish, sakit Boo! Kau tenang saja, minggu depan kau sudah akan menyandang status nyonya Jung.. Tapi ngomong-ngomong, apa yang membuatmu menjadi berani menerima lamaranku?”

“Karena kau bodoh tentu saja. Dan karena kebodohanmu itulah aku percaya bahwa kau pasti akan menurutiku selamanya!”

Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ya, ya, ya.. Biarkan saja Jaejoong puas memakinya.
Karena ia tahu, Jaejoong itu hanya sedang menujukan gengsinya saja.

Yunho paham kekasihnya itu memiliki ego segede gunung.

Namun di balik itu semua Yunho sangat bahagia karena Jaejoong ternyata mau menerima keseriusan cinta darinya.

Alasan kenapa Jaejoong selalu menolak semua cinta yang ditawarkan laki-laki selama ini adalah karena mereka hanya memberikan cinta tanpa menjanjikan apa-apa.
Dan sekarang Yunho membawa cinta dalam komitmen untuk hubungan mereka. Jadi, dari sini saja sudah diketahui mana itu cinta dalam hati dan mana itu cinta dalam mulut.

.
.

E. N. D

Seperti yang sudah di jelaskan di part sebelumnya kalo ff ini ceritanya random ^^v
Hahaha
Aku juga tidak tahu intinya apa?😄
Yang jelas ini tangan lancar ngetik dan hasilnya begini.

Terima kasih untuk yang sudah membacanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s