YUNJAE/ VANISH / CHAPTER 1 – ITS FATE


VANISH 
CHAPTER 1 – ITS FATE 
CREATED BY AMEE 


WARNING: 
SHORT, BELUM JELAS, LESS MOMENT 

 

Pasir itu lembut katanya, meski sebenernya kasar karena ia adalah kerikil yang hancur. 

Aku tidak tahu. 

Mungkin aku sedang bermimpi atau terjebak di dalam suatu dimensi yang tidak kutahu apa namanya. Aku merasa sendiri. Atau memang sejak awal aku hidup sendiri, tanpa orangtua. Aku seperti pemuda pengantar susu dalam dongeng dongeng pengantar tidur, hanya saja aku lebih beruntung. Jika dalam dongeng sang pengantar susu harus berusaha melukis dengan arang untuk membiayai sekolahnya, maka aku hanya cukup belajar giat untuk mempertahankan beasiswa yang kudapat. 

Ketika aku menutup mata, aku berada di sini. Dan ketika aku membuka mata, aku tetap berada di sini. 

Aku tengah memasukan botol botol susu ke dalam kotak untuk kuantarkan. Pagi ini udara terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Aku merapatkan mantel tuaku yang telah menipis. Jauh lebih hangat. 

“Yun, kau belum berangkat?” tanya Tuan Kim. 

“Belum, Shunin. Aku sedang merapikan botol-botolnya,” jawabku. 

“Biar kubantu. Bukankah kau harus pergi sekolah setelah ini?” 

“Ah, daijoubu. Aku bisa melakukannya, bukankah Shunin masih memiliki pekerjaan lain?” 

“Baiklah, kau harus berjanji padaku untuk tidak terlambat,” 

Aku membungkukan tubuhku memberi hormat. “Aku berjanji,” kataku. 

Tuan Kim kembali masuk ke dalam toko. Aku menengadah menatap papan kayu tua bertuliskan kanji yang menggantung kokoh di dinding toko. ‘白執事’, shiroshitsuji. Di sini aku tinggal, dan di sini pula aku bekerja. Dan di sini pula aku bertemu dengannya. 

Aku melihatnya lagi. Dia malaikat cantik. Dia sedikit gila kurasa, adakalanya ketika musim panas, ia menggunakan mantel tebal, dan ketika musim dingin dia hanya menggunakan sehelai kaos tipis. Tapi aku juga gila karena aku tetap mencintainya ketika aku tahu bahwa ia seorang laki-laki. 

Jaejoong, itu namanya. Ia sedang bergelantungan di atas pohon, dengan posisi kaki menggantung di dahan pohon sementara kepala berada di bawah. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya, sesekali aku ingin berlari ke arahnya lantas memeluknya dengan erat ketika merasa ia akan terjatuh. Tapi itu tidak pernah terjadi. Kakiku kelu dan aku tidak mampu melangkah. 

Pernah suatu ketika Jaejoong terjatuh. Punggungnya menghantam tanah dengan sangat keras, mungkin tulang punggungnya nyaris patah. Aku hampir berlari ke arahnya tapi tuan Kim menahanku. “Biarkan saja,” katanya. Dan pada detik berikutnya Jaejoong kembali bangun lantas bersiul siul saja seperti tak ada yang terjadi. 

“Astaga, aku harus segera pergi,” gumamku pada diri sendiri. Lantas segera kukayuh sepedaku, setelah tersenyum pada Jaejoong, meski kutahu Jaejoong tidak melihatnya. 

-AMEE- 

Jangan bayangkan Iwakura sebagi Tokyo, pusat metropolis Jepang. Iwakura hanya menyajikan keindahan dan kenyamanan. Aku bersekolah di sini dengan beasiswa, Iwakura Sogo Senior High School, sebuah sekolah umum. 

Aku menopang dagu, menatap keluar jendela, mengamati dedaunan yang bergoyang tertiup angin. Anak-anak dalam balutan jarsey berlari mengelilingi lapangan. Dan aku tersenyum. 

“Yunho-kun, kau melamun lagi?” seseorang menepuk pundakku. 

Aku menoleh lantas tersenyum begitu melihat Miyu, yang kini duduk di atas meja. “Aku tidak melamun,” 

“Lalu apa yang sedang kau lihat?” tanyanya. 

“Tidak ada.” jawabku. “Ah, Miyu..” 

“Ya, ada apa?” balas gadis itu cepat. Miyu terlihat sangat cantik dan elegan. Dan mendadak saja aku merindukan Jaejoong. 

“Kau pernah merasa jatuh cinta?” tanyaku. 

Cepat-cepat Miyu menutup mulut dengan kedua tangannya. “Kau sedang jatuh cinta?” tanyanya. 

“Aku tidak tahu,” 

“Aku ingin tahu,” 

“Aku tidak akan memberi tahumu,” 

“Baka!” pekik Miyu, lantas turun dari meja dan berjalan menjauh. 

“Miyuki-chan, matte yo!” ujarku namun tetap diam di tempat. 

“Aku tidak peduli padamu. Urus saja urusanmu sendiri,” katanya, dan aku hanya tertawa tawa saja mendengarnya. 

Matsunaga Miyuki. Aku bersyukur pada Tuhan karena memilikinya sebagai seorang sahabat. Aku ingin bercerita banyak hal padanya, tapi mungkin bukan saat ini. 

-AMEE- 

Aku menengadahkan kepalaku menatap langit. Indah. Sekolah cukup menyenangkan hari ini. Kukayuh sepedaku dengan kecepatan sedang, menikmati setiap embusan angin yang menyentuh kulit dan mengibarkan rambutku. 

Jalanan Iwaku selalu membuatku terpesona. Sejuk dan menenangkan. Akhir musim gugur menyebabkan udara jauh lebih dingin, kelopak kelopak sakura yang berguguran memenuhi jalanan, seperti sisa sisa hujan ringan. Aku mempercepat kayuhan sepedaku untuk menambah kehangatan tubuh. Aku ingin bertemu Jaejoong. 

Aku memarkirkan sepedaku di bagasi. Toko sudah tutup, tidak seperti biasanya, tapi aku tidak terlalu banyak ambil pusing. Aku masuk ke dalam, dan kulihat di sana Nyonya dan Tuan Kim tengah duduk berhadapan dengan rona serius. Aku nyaris kembali keluar karena merasa menganggu, namun panggilan Tuan Kim menghentikanku. 

“Yunho!” panggil Tuan Kim, tepat ketika aku membalikan badan. 

“Ya, Shunin. Ada apa?” tanyaku. Mendadak atmosfer di sekeliling ruangan terasa menyesakkan. 

“Kemarilah, ada hal serius yang ingin kami bicarakan.” jawab Nyonya Kim. 

Aku menyeret kakiku ragu-ragu, lantas duduk bersimpuh di atas zabutto menghadap keduanya. Hal serius apa yang ingin dibicarakan, pertanyaan itu terus berputar dipikiranku, hingga akhirnya Tuan Kim berdehem untuk mencairkan suasana. 

“Aku ingin mengajukan suatu penawaran padamu, dan kau boleh menolaknya. Aku tidak akan memaksa, tapi tolong jangan membenciku.” ujar Tuan Kim. 

Aku mengangguk tapi tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Mendadak saja aku merasa tegang. 

“Ini soal anakku, Jaejoong.” ujar Tuan Kim. 

“Aku tahu anakku laki-laki, dan mungkin ini terdengar sangat gila. Tapi apa kau mau menikah dengannya? Aku membutuhkan sosok sepertimu untuk Jaejoongku.” pertanyaan Nyonya Kim membuatku membatu seketika. Aku seakan kehilangan semua kata kata, sehingga hanya diam di sana. Mungkin aku benar benar sedang terjebak di dalam sebuah mimpi. 

Tapi aku mencintai Jaejoong. 

TBC 

GLOSARIUM: 
Shunin = Direktur/Penanggungjawab 
Daijoubu = baik baik saja 
Baka = bodoh 
Zabutto = bantal untuk duduk 
Shiroshitsuji = white buttler

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s