YUNJAE/ VANISH / CHAPTER 2- I LOVE YOU MORE


VANISH 
CHAPTER 2- I LOVE YOU MORE 
CREATED BY AMEE 


Aku terperangkap oleh waktu yang mempermainkanku, oleh ruang yang membatasiku, dan oleh perasaan yang terus mengolok-olokku.

Aku menatap Tuan dan Nyonya Kim secara bergantian. Aku berusaha melihat jauh ke dalam mata mereka, tapi yang kudapat di sana hanya sebuah keseriusan. Menikahi Jaejoong di usia semuda ini? Tanpa penghasilan? Aku tidak bisa.

“Aku akan memikirkannya,” ujarku kemudian.

“Semoga itu jawaban yang terbaik,” ujar Tuan Kim.

“Ya, Shunin. Aku akan mengupayakan yang terbaik,”

Dan aku merasa menyesal telah mengatakannya, karena kulihat raut kekecewaan terpancar dari wajah Nyonya Kim. Wanita cantik itu tersenyum ke arahku, namun penuh kegetiran.

Tuhan, jika mencintai Jaejoong adalah suatu kesalahan. Maka jadikanlah rasa sayangku pada Jaejoong sebagai sebuah pembenaran. Kupikir cinta bisa membuat seseorang yang logis menjadi melankolis.

Untuk beberapa saat kami terjebak dalam suatu keheningan, hingga terdengar bunyi pintu yang dibuka lantas kembali ditutup dengan cepat dari arah genkan.

Suara gesekan antara alas geta dengan lantai terdengar cukup jelas. Berselang kemudian, kulihat Jaejoong berjalan memasuki washitsu dengan pandangan yang sulit kuartikan. Matanya tampak kosong tapi bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Pandanganku kemudian teralih pada tetesan darah yang menodai lantai. Pemandangan itu mendadak melemahkanku.

“Jae, tanganmu!” pekikku keras, lantas segera berdiri begitu menyadari bahwa lengan kiri Jaejoong dipenuhi luka.

“Aku baik-baik saja,” jawab Jaejoong.

“Tapi tanganmu?”

“Bukan apa-apa. Aku harus mandi,” balasnya cepat dan segera meninggalkan kami.

Aku terus mengamatinya hingga Jaejoong menghilang dari pandanganku. Dan begitu kusadari bahwa pisau yang ia genggam adalah penyebab luka di tangan kirinya, mendadak aku merasa lemas. Lagi, Jaejoong melukai dirinya sendiri demi sebuah kesenangan yang tak akan pernah kumengerti.

Aku membalikan tubuhku, setelah membungkuk hormat pada Nyonya dan Tuan Kim, cepat-cepat aku meninggalkan tempat itu. Aku masuk ke dalam kamar, lantas menyandarkan diri pada tembok. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya.

Jaejoong, aku mencintainya, tapi aku merasa tidak siap untuk menikahinya. Ada begitu banyak hal yang terus kupertimbangkan dalam pikiranku. Menikahi Jaejoong bukanlah sesuatu yang mudah. Pernikahan sesama jenis adalah hal yang sulit diterima, selain itu aku tidak cukup mapan untuk menghidupi istriku nanti.

Jaejoong, ia sama sepertiku, seusiaku. Namun, ada kalanya aku tidak mengerti di dunia mana ia tinggal. Jaejoong berdiri di hadapanku tapi seolah kami berjarak ribuan mil jauhnya sehingga aku tak dapat menyentuhnya.

Apa kau percaya? Terkadang aku merasa jauh lebih beruntung dari Jaejoong, bukan karena aku lebih berharta atau bertahta, tapi karena aku bersekolah sementara Jaejoong tidak. Laki-laki cantik itu hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, setelah itu ia meninggalkannya. Tentu saja, untuk alasan yang tak pernah kumengerti mengapa.

Aku menghirup udara dengan rakus. Semuanya terasa mendadak dan aku belum sempat menyiapkan apapun. Kamar tidurku yang berukuran sempit terasa jauh lebih sempit karena beban dalam pikiranku.

Pintu kamarku diketuk tiga kali, lantas kudengar decitan pintu yang terbuka.

“Boleh aku masuk?” tanya Nyonya Kim, dan aku hanya mengangguk mengiyakan.

Kami duduk bersisian di tepi tempat tidur. Untuk beberapa lama kami saling terdiam, hingga aku mendengar isakan halus wanita Jepang cantik itu.

“Okaa-san,” gumamku pelan. Aku terbiasa memanggilnya seperti itu. “Ada apa?” tambahku.

“Mungkin aku sudah gila karena memintamu menikahi putraku, tapi tak ada pilihan.” ujar Nyonya Kim.

Aku menatapnya dalam diam. “Apa maksudnya?”

“Kau tahu Jaejoong? Putraku seorang masokis. Dia tidak punya masa depan…” Nyonya Kim berhenti sejenak, ditekannya isakan keras yang keluar dari mulutnya lantas mengambil nafas dalam dalam. “Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak bahagia. Aku hanya ingin ia mengalami pernikahan sebagaimana orang normal lainnya,”

“Menikah dengan gender yang sama? Kaasan, Jaejoong bukan seorang homoseks, aku yakin itu,”

“Tapi aku tidak memiliki pilihan!” pekik Nyonya Kim. Punggungnya bergetar hebat, aku tahu ia tengah menahan isakan.

Aku benar benar tidak tahu apa yang sebaiknya kukayakan saat itu, sehingga aku hanya menunduk saja.

“Gadis mana yang mau menikah dengan putraku? Aku hanya berpikir, jika Jaejoong denganmu, kau bisa melindunginya, kau bisa menjaganya. Hanya itu harapanku,”

“Aku…”

“Yunho, kumohon dengan sangat padamu. Terima putraku. Kau boleh menikah dengan wanita lain setelah kau menikah dengan Jaejoong. Aku membebaskanmu,” sela Nyonya Kim, ia terisak semakin keras, sehingga aku bisa mendengar getar di setiap katanya.

“Aku tidak akan melakukan itu,” jawabku tegas.

Nyonya Kim menoleh dengan cepat ke arahku. Raut kekecewaan segera terpancar dari wajah lelahnya. “Aku mengerti,” katanya.

Aku menarik nafas dalam, mencoba untuk meyakinkan apa yang akan kukatakan. “Kaasan, aku akan menikahi Jaejoong. Tapi aku tidak akan menikahi orang lain, aku tidak akan melakukannya,”

Nyonya Kim segera merangsek masuk dan memelukku dengan sangat erat. Ia menangis haru di dadaku. Aku balas memeluk wanita itu, aku menyayanginya, seperti menyayangi ibuku sendiri.

Aku akan menikahi Jaejoong. Tuhan, semoga ini pilihan yang terbaik.

–AMEE–

Aku duduk bersisian dengan Jaejoong di kursi taman. Kami tidak saling berbicara, hanya mencoba mencari ketenangan.

Berkali-kali aku mencoba melirik ke arah Jaejoong, melirik lengannya yang tak lagi mengeluarkan darah namun meninggalkan bekas di sana. ‘Bakaneko’ itu yang kulihat berbekas di lengannya. Aku tahu ia yang mengukirnya di sana.

“Kalau kau mau, batalkanlah,” ujar Jaejoong, sehingga aku menoleh ke arahnya dengan cepat.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Kalau kau merasa tersiksa. Maka batalkan pernikahan ini,” katanya.

“Aku tidak merasa tertekan sedikit pun. Kau mengatakan hal seperti itu, apa kau merasa tertekan Jae? Jika ya–”

Jaejoong cepat cepat menyela. “Rasa tertekan adalah bayaran dari sebuah baktiku kepada orangtua dan itu terasa menyenangkan bagiku. Kau tahu Yunho, aku ini gila,”

“Kau tidak gila,”

“Ya, tapi sangat gila,”

“Kumohon Jae, berhentilah mengatakan hal-hal semacam itu. Aku merasa perih mendengarnya.”

Jaejoong menelusiri tulah rahangku dengan telunjuknya. “Maka jangan dengarkan apa yang kukatakan!” katanya. Lantas berlalu dari hadapanku.

Tatapan dingin Jaejoong benar-benar menekanku hingga aku merasa ketakutan. Aku merasa ada sesuatu yang terlewatkan. Ya, sebuah kata cinta, aku melewatkannya. Aku harus segera mengungkapkan perasaanku padanya.

Aku terlalu banyak berpikir, ya, terlalu banyak berpikir dan itu membuang buang waktu. Aku berlari mengejar Jaejoong, dan kudapati ia tengah duduk di atas sebuah ayunan dengan kedua kaki yang bergoyang-goyang.

“Kim Jaejoong, aku mecintaimu,” ujarku setengah berteriak.

Jaejoong mengangkat kepalanya lantas menatap ke arahku. “Terimakasih,” jawabnya datar. Hanya itu yang ia katakan.

Tuhan, aku memaksakan perasaanku. Aku telah mengungkapkannya. Maka jagalah Jaejoong untukku. Jika kau perlu menghukum seseorang, maka itu adalah aku.

TBC 

GLOSARIUM: 
Okaasan : Ibu
Genkan : Bagian depan rumah Jepang, tempat menaruh sandal
Geto : sandal kayu Jepang
Washitsu : Bagian dalam rumah Jepang.

2 thoughts on “YUNJAE/ VANISH / CHAPTER 2- I LOVE YOU MORE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s